Title
Belongs to Both of Us
Chapter :2
Author : Nae
Rate : T
Genre : Brothership
Main Cast
Cho Kyuhyun. Kim Kibum. Park Jungsoo. And Other
Summary
"Ah, padahal mereka lahir dan tumbuh bersama. Tapi kenapa seperti ini?"/ "Jungsoo Hyung adalah Hyung terbaik yang kumiliki. /"Kau menyedihkan, Hyung." / "Mwo? Hanya karena itu? Aiisshh… Jinjja. / "Kyu, aku begitu ingin seperti dirinya."/ Sekarang beritahu bagaimana caranya aku membencimu, Kyu."/ "Anak ini, kenapa berpikir untuk memberiku benda seperti ini? Pabbo!"/
Warning : Typo berserakan di mana-mana
.
.
"Apa yang terjadi?"
Ini adalah suara pertama yang Jungsoo keluarkan setelah beberapa menit terbuang percuma untuk mengamati Kyuhyun yang masih tampak lemas. Saat ia tiba di sekolah dongsaeng-nya itu, Kyuhyun masih tertidur di ruang kesehatan. Baru ketika ia hendak membawa Kyuhyun pulang, adiknya itu membuka mata dan menahan pergerakannya.
"Hyung, aku masih pusing. Dadaku juga masih sakit. Tunggu sebentar, ne? Aku sedang tidak ingin melakukan pergerakan berat apa pun."
Jungsoo hanya bisa mengangguk paham saat itu. Berjalan menuju parkiran sekolah yang lumayan jauh, belum lagi melakukan perjalanan menuju rumah, meski dengan mobil, tetap saja bukan hal yang bisa dibilang ringan untuk kondisi Kyuhyun yang masih lemah. Walaupun dokter sekolah bilang Kyuhyun hanya mendapat serangan ringan, tetap saja kondisinya memprihatinkan.
"Apa yang terjadi, Kyu?" Jungsoo mengulang pertanyaannya begitu tak juga mendapat respon dari Kyuhyun. Adiknya itu malah sibuk menatap dan memerhatikan dirinya.
"Aniya, Hyung…" jawab Kyuhyun serak.
"Kau ikut pelajaran olahraga? Waeyo, Kyunie? Sekolah sudah memberikan dispensasi untukmu."
Aku hanya ingin memastikan Kibummie baik-baik saja selama pelajaran olahraga berlangsung. Tapi ternyata dia jauh lebih kuat dari yang kubayangkan. Atau mungkin aku yang terlalu lemah di sini? Wajar saja jika aku semakin lemah. Kibum, saudara kembarku, kekuatan terbesarku selama ini bahkan sudah tidak peduli lagi padaku. Dia benar-benar sudah tidak peduli padaku, Hyung.
Kyuhyun membatin sedih. Kejadian beberapa jam yang lalu ter-reply kembali dalam benaknya. Kibum memilih untuk berlari dan meninggalkannya dalam segala kepayahannya. Entahlah, melihat hal itu Kyuhyun merasa seperti seluruh dunia meninggalkannya. Perasaannya begitu sakit sekarang. Kibum tidak tahu kalau ia begitu terluka saat itu. Kyuhyun bahkan berani bersumpah kalau ia lebih baik ditolak atau ditinggalkan puluhan kali oleh yeoja daripada harus ditinggal pergi oleh Kibum. Rasanya lebih buruk dari patah hati.
"Di mana Kibum? Dia harusnya melindungimu saat aku tak ada." Jungsoo berujar kesal. Ia tidak menemukan Kibum di ruang kesehatan saat ia tiba di sana. Hanya ada Changmin, Donghae, dan dokter sekolah yang langsung membubarkan diri saat ia tiba. Terkecuali Donghae yang ia suruh untuk mencari Kibum dan membawanya ke ruang kesehatan.
"Hyung…" Kyuhyun tiba-tiba saja memeluk Jungsoo. Meluapkan segala kesedihan dan kekecewaannya di pundak Hyung pertamanya itu. Berharap dengan begitu segala penat yang mengikat dadanya selama ini melonggar. Sungguh ia sudah tidak tahan lagi dengan semua rasa yang membebani perasaannya selama ini. Ia benci keegoisan hatinya juga keegoisan Kibum yang membuat tembok super tinggi memisahkan mereka.
"Wae? Waeyo, Kyuhyunnie?" Meski rasa bingung masih mengerubuni isi kepalanya, Jungsoo tetap membalas pelukan Kyuhyun. Membawa adiknya yang paling lemah itu dalam dekapan protektifnya.
Kyuhyun terisak. "Hyung, kau tahu? Saat ini aku begitu membenci Kibummie. Sangat membencinya hingga rasanya aku tidak ingin melihatnya. Kau… hanya kau satu-satunya Hyung-ku. Kau—" Jeda sebentar. "—Jungsoo Hyung adalah Hyung terbaik yang kumiliki." Kyuhyun mengeratkan pelukannya. "Tak ada Hyung yang lain dalam hidupku. Tidak ada lagi."
Mendengar hal itu, membuat Jungsoo mengambil kesimpulan bahwa ada sesuatu yang terjadi antara Kyuhyun dan Kibum. Maksudnya, hari ini. Karena sebenarnya sudah terjadi sesuatu yang lebih kompleks beberapa tahun yang lalu hingga membuat kedua dongsaeng-nya itu berubah menjadi orang asing untuk satu sama lain.
"Kibum-ah, waeyo?"
Jungsoo terkesiap begitu suara yang ia yakini suara Donghae itu bertepi di telinganya. Ia menatap Kyuhyun sejenak dan melepaskan pelukan Kyuhyun dengan perlahan. "Kyu, bagiku, kau juga Dongsaeng terbaik yang kumiliki. Jadi lebih kuat, arrachi?" Jungsoo menepuk-nepuk pipi Kyuhyun pelan. Memberi kekuatan sebelum akhirnya ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu yang masih tertutup.
Jungsoo yakin kalau Kibum dan Donghae sudah ada di depan ruangan. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk melempari Kibum ribuan pertanyaan tentang kenapa Kyuhyun bisa collapse seperti sekarang. Setahunya, meski Kibum dan Kyuhyun tidak lagi dekat seperti dulu, Kibum masih bisa memerhatikan Kyuhyun meski dalam diam. Jika sampai Kibum membiarkan Kyuhyun mengikuti pelajaran olahraga, itu berarti permasalahan yang terjadi sudah benar-benar klimaks. Kata-kata benci yang Kyuhyun lontarkan untuk Kibum, semakin membuat Jungsoo yakin kalau Kibum melakukan kesalahan yang benar-benar fatal.
"Park Kibum!" Jungsoo membuka pintu Ruangan Kesehatan dengan tak sabar. "Apa yang se—" Bola mata namja fakultas hukum itu sontak melebar begitu melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya. "A-ada apa ini?" tanya Jungsoo bingung. Ia berlutut di samping Donghae dan juga Kibum. Diraihnya bahu Kibum yang masih tertunduk dalam. Donghae memilih untuk bergeser dan memberi ruang yang cukup untuk kedua kakak beradik itu.
"Hyung…" panggil Kibum lirih. "Aku sebenarnya—" Kepala Kibum terkulai di bahu Jungsoo. Rasanya ia sudah tidak mampu lagi mempertahankan kesadarannya. Kenyataan kalau Kyuhyun membencinya, Kyuhyun tidak ingin melihatnya lagi, membuat ia merasa kesadarannya memang tidak dibutuhkan lagi.
"Kibummie… YA! Park Kibum, Ireona!"
"—sebenarnya… aku sakit, Hyung." Kibum hanya mampu melanjutkan kalimatnya dalam hati. Kegelapan menguasai dirinya saat ini.
"YA! Kibummie!"
.
.
"Kyu, kau baik-baik saja?" Jungsoo melirik Kyuhyun sekilas sebelum kembali fokus pada kemudinya.
Kyuhyun yang saat ini duduk di jok belakang bersama Kibum yang masih tak sadarkan diri, mengangguk singkat. "Gwaenchanha, Hyung. Fokuslah menyetir, jangan banyak menengok ke belakang. Aku lebih suka mati dalam damai karena komplikasi jantung dan paru-paruku daripada mati penasaran karena kecelakaan," sarkastis Kyuhyun. Ia merasa risih dengan aksi ceroboh hyung-nya yang berkali-kali menengok ke belakang hanya untuk memastikan ia baik-baik saja.
Jungsoo bergidik ngeri mendengar kata-kata Kyuhyun. Padahal beberapa jam yang lalu ia bilang Jungsoo Hyung adalah hyung terbaik yang kumiliki. Tapi bagaimana bisa ia bicara sepedas itu padaku. Aisshh… Kau hanya membual, Park Kyuhyun. Lagipula, siapa yang bisa menggantikan Kibum dalam hatimu, huh? Aku memang Hyung pertama di keluarga kita. Tapi Kibum tetap Hyung juara pertama di hatimu. Jungsoo mendumel dalam hati.
Dan keduanya mulai diam. Hanya bunyi bising keramaian kota yang dibiarkan menguasai keheningan di antara mereka. Jungsoo memilih untuk memerhatikan Kyuhyun dari balik kaca spion. Adiknya yang saat ini menyandang gelar siswa kelas 2 Senior High School itu tampak sedang menatapi Kibum yang masih terpejam di sampingnya. Ia mengernyit melihat wajah pucat itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Kyu?" tanya Jungsoo tanpa mengalihkan fokus kemudinya.
Kyuhyun menatap belakang kepala Jungsoo. "Sebenarnya sejak pagi, aku ingin bilang kalau Kibummie sakit, Hyung." Kyuhyun terdiam setelahnya. Kalimatnya menyadarkan dirinya akan satu hal. Apa terjadi sesuatu denganmu saat aku kumat tadi? Ia melirik Kibum kembali. Wajahnya yang terlihat teduh membuatnya lupa kalau hyung-nya itu sedang pingsan. Bukan tidur biasa. Kyuhyun mulai berspekulasi kalau Kibum tidak benar-benar meninggalkannya tadi. Pasti terjadi sesuatu hingga membuat Kibum meninggalkannya begitu saja. Bagaimanapun juga, meski jarak mereka cukup renggang selama beberapa tahun ini, Kibum tidak akan meninggalkannya saat ia berada dalam kondisi yang buruk.
"Mwo? Kenapa kau tak bilang, huh?" Jungsoo menepikan mobilnya dan segera berbalik untuk menengok ke arah Kibum sebelum akhirnya menatap Kyuhyun meminta penjelasan.
"Barusan aku bilang, Hyung…"
"Maksudku sejak awal, pabbo!"
"Kukira Hyung itu mempunyai perasaan yang cukup peka," ketus Kyuhyun memalingkan mukanya ke arah Kibum. "Kau menyedihkan, Hyung." Dalam satu gerakan Kyuhyun menyentuh kening Kibum. Jungsoo yang melihatnya hanya mengernyit. Tidak tahu kata menyedihkan yang Kyuhyun maksud itu tertuju untuk siapa sebenarnya. Entah itu dirinya atau Kibum. Ia memperhatikan Kyuhyun yang masih memeriksa suhu tubuh Kibum dengan rinci. Seketika senyumnya melebar. Itu hal yang tidak pernah dilihatnya selama beberapa tahun ini.
"Kenapa Jungsoo Hyung diam saja, huh? Badan Kibummie terasa begitu panas dan dia harus segera diobati. Cepat jalankan mobilnya!" sungut Kyuhyun kesal. Buru-buru ia menarik tangannya. Semuanya terasa refleks begitu saja. Sekian lama Jungsoo tidak melihat Kyuhyun dan Kibum saling sentuh. Jadi wajar jika apa yang terjadi barusan membuat Jungsoo tersenyum bahagia. Ternyata Siwon benar. Meski mereka terlihat jauh dan saling diam, dalam hati mereka tetap saling sayang dan memperhatikan.
"Ah, keurae… kau ini pemarah sekali. Itu tidak baik untuk jantungmu. Kau harusnya bisa lebih santai seperti hyung kesayanganmu itu!" Jungsoo mulai membalikan badannya setelah sebelumnya menunjuk Kibum dengan dagunya. Lantas segera memacu mobilnya. Tidak memedulikan Kyuhyun yang mulai menggerutu karena ejekanya. Ia tertawa pelan. Entah kenapa ia bahagia melihat aksi Kyuhyun menyentuh Kibum tadi. Meski hanya hal kecil, tapi itu cukup membuktikan kalau ternyata, dalam hati mereka tidak benar-benar ada rasa benci.
.
.
"Kyu…" Jungsoo menghempaskan tubuhnya di samping Kyuhyun yang masih asyik dengan PSPnya.
"Ye," respon Kyuhyun singkat tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jungsoo. Ia tidak begitu suka diganggu ketika sedang ngedate dengan PSPnya itu.
Jungsoo menarik nafas panjang. Satu setengah jam yang lalu mereka sampai di rumah. Dan baru saja Yesung Uisa beranjak setelah memeriksa keadaan Kibum. Demam Kibum benar-benar tinggi. Sampai sekarang ia bahkan belum sadarkan diri. Jungsoo benar-benar cemas, dan ia tidak tahu kenapa Kyuhyun malah terlihat santai dengan PSPnya. Apa adiknya benar-benar menuruti kata-katanya untuk santai seperti Kibum? Aisshh, maksudnya kan bukan di saat seperti ini juga.
"Kyu… Hyung kesayanganmu sedang sakit dan kau te—"
"Dia bukan Hyung kesayanganku. Aisshh…!" Kyuhyun menghentikan permainannya dan menatap Jungsoo sengit.
"Geuraeseo? Kau mau bilang aku Hyung kesayanganmu, hn? Tidak ada Dongsaeng yang berbicara sekasar kau pada Hyung kesayangannya." Jungsoo menyandarkan punggungnya lebih dalam ke punggung sofa. Ia merasa begitu lelah hari ini. Dipejamkannya matanya, mencoba membuat rileks seluruh anggota tubuhnya.
"Aku tidak bilang kau Hyung kesayanganku." Kyuhyun berujar sebal. Ia kembali fokus pada PSPnya. Tidak ada gunanya meladeni Jungsoo Hyung-nya.
"Keurom. Aku tidak berharap untuk itu juga. Aku sadar selama ini aku bukan Hyung yang baik untukmu dan juga Kibum. Mian, ne?" Jungsoo kembali membuka matanya, ditatapnya langit-langit putih ruang keluarga itu dengan tatapan hampa. "Kyu… apa yang sebenarnya terjadi, huh?"
Kyuhyun menoleh ke arah Jungsoo yang masih belum mengalihkan tatapannya. "Nde? Aku kan sudah menceritakannya padamu, Hyung. Apa kau tidak bisa merespon dengan baik sehingga aku harus mengulanginya beberapa kali? Kibummie sakit dan kau tidak peka. Aku mengikuti pelajaran olahraga untuk memastikan dia baik-baik saja, tapi ternyata malah aku yang kumat. Dan di saat aku kambuh, Kibummie malah berlari meninggalkanku padahal aku benar-benar kesakitan. Itu adalah kejadian sebenarnya kenapa aku begitu membencinya."
"Ani. Aniya, Kyunie. Bukan kejadian itu. Tapi kejadian beberapa tahun yang lalu. Kejadian sebenarnya kenapa kau dan Kibummie menjadi serenggang ini? Jebal, beritahu Hyung ada apa sebenarnya. Jebal…" Jungsoo merubah posisinya dan menatap Kyuhyun penuh harap. Ia benar-benar berharap Kyuhyun mau berbaik hati meringankan beban hatinya selama ini.
Kyuhyun tertegun. Ditatapnya wajah namja penyuka warna putih itu dengan seksama. Ia ingin saja memberitahu hyung-nya itu. Ia juga sudah tidak tahan dengan beban perasaan canggung yang selama ini ia tanggung sendiri. Namun ia segera menggeleng. Ia terlalu malu untuk mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi hingga sekat pemisah antara ia dan saudara kembarnya itu semakin tumbuh dan kokoh menghalangi mereka. Mungkin awalnya terasa konyol, namun semakin mereka tumbuh semuanya terasa begitu rumit. Tentu itu hanya dalam pemikiran Kyuhyun saja.
"Kyu…" panggil Jungsoo membuyarkan lamunan Kyuhyun. "Jebal… kau tidak tahu kalau setiap hari melihat kalian diam seperti ini membuatku merasa seperti mati setiap harinya. Kalian seperti telah meninggalkanku begitu jauh. Dan aku merasa mati itu sendiri jauh lebih baik. Jinjja…"
Kyuhyun menatap lekat wajah memelas hyung-nya itu dengan prihatin. Ia mengerti bagaimana perasaan Jungsoo. Karena sesungguhnya ia pun merasakan hal yang sama. Selama ini ia merasa setiap hari yang ia lalui adalah musim dingin dengan suhu minus nol derajat. Begitu dingin. Dan di setiap detik yang ia lewati ia merasa rasa dingin itu menusuk-nusuk sadis relung hatinya. Rasanya begitu menyesakan hingga Kyuhyun pun merasa keegoisan dan kesepian itu akan menang telak membunuhnya lebih dulu ketimbang penyakit yang bersarang dalam tubuhnya sejak ia lahir. Mengingat hal itu, perasaannya berantakan. Ia tidak ingin melewati detik-detik terakhir dalam hidupnya tanpa Kibum di sisinya. Tidak, ia benar-benar tidak bisa membayangkan seberapa menyedihkan tubuh lemahnya jika itu terjadi.
Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepala membayangkan hal itu. Ia tidak ingin hanya karena masalah sepele, ia akan menanggung beban yang begitu berat di sisa hidupnya. Sebentar ia menarik nafas dalam dan memandang Jungsoo yang masih setia menunggu jawaban dari dirinya.
"Sebenarnya ini sedikit konyol, Hyung…"
-flashback-
"Jungsoo Hyung itu milikku!"
"Dia milikku, Kyunnie. Kau tidak bisa mengklaimnya milikmu saja. Dia sangat rajin mengecek buku-buku tugasku dan dia tidak pernah melakukannya untukmu. Sudah jelas dia lebih menyayangiku."
"Aniya! Dia selalu memberiku banyak hadiah setiap kali aku sakit."
"Itu karena dia hanya ingin kau cepat sembuh dan tidak merepotkan Eomma dan juga Appa."
"YA! Park Kibum! Jungsoo Hyung itu hanya menyayangiku. Dia tidak menyayangimu. Dia selalu ada untukku. Dia selalu menjagaku. Dia selalu menemaniku. Dia selalu memerhatikanku. Dia—"
"Itu karena kau lemah, Park Kyuhyun! Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu."
"Ani! Jungsoo Hyung benar-benar menyayangiku! Sekarang mari kita bertaruh!"
"Mwo?"
"Saat Jungsoo Hyung kembali dari Kanada, yang dapat hadiah paling bagus itu berarti dongsaeng kesayangannya."
"Keurae…"
-flashback end-
"Mwo? Hanya karena itu? Aiisshh… Jinjja." Jungsoo tertawa renyah mendengar penjelasan Kyuhyun. Benar. Benar-benar konyol seperti yang Kyuhyun bilang. "Bagaimana mungkin kau bermusuhan selama enam tahun lamanya hanya karena hal konyol seperti itu?" Bagaimana mungkin kalau hal yang sejak dulu ingin ia ketahui itu hanya hal sepele seperti yang Kyuhyun ceritakan. Tapi dalam hati Jungsoo bertepuk tangan bahagia dengan hal itu. Asal muasal permasalahannya ternyata dirinya. Ia merasa menjadi orang yang begitu berharga untuk kedua dongsaeng-nya itu. Lagi pula wajar saja, mereka masih anak-anak saat itu.
"Ani, Hyung. Kami tidak bermusuhan selama itu. Kami hanya sedikit canggung. Dan menurutku, yang jadi permasalahannya adalah PSP ini." Kyuhyun menunjukan PSPnya. Jungsoo mengernyit. "Kenapa saat itu kau tidak membelikan Kibummie PSP juga? Kenapa kau hanya memberinya buku?"
Untuk sepersekian detik Jungsoo terdiam. Mencerna pertanyaan Kyuhyun. Dan di detik berikutnya, ia tertawa keras. Meskipun sudah mulai beranjak dewasa, adiknya yang sejak lahir memiliki jantung lemah itu ternyata tetap saja begitu polos dan menggemaskan. "Jadi? Kau berpikir kalau PSP itu yang membuat Kibum mendiamkanmu?" tanya tanpa menghentikan tawanya.
"Keurom. PSP jauh lebih bagus daripada buku dengan tebal lima senti meter. Kibummie benar-benar merasa kalau kau hanya menyayangiku. Dia mendiamkanku sejak saat itu." Kyuhyun menunduk sedih.
Jungsoo menarik nafas dalam. Berusaha menghentikan tawanya begitu melihat raut sedih tergurat di balik wajah pucat Kyuhyun. Dirangkulnya bahu Kyuhyun dengan kuat. Jelas tergambar di balik wajah tampan adik bungsunya itu kesedihan, kehilangan, dan kerinduan yang mendalam. "Kyunnie, dengarkan hyung, ne?" sedikit mengacak rambut ikal Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk pendek. "Tidak semua hal yang menurutmu bagus, bagus juga di mata orang lain. Tidak semua hal yang di matamu itu buruk, buruk juga di mata orang lain. Hyung yakin kalau buat Kibum, buku yang hyung belikan adalah hadiah terbaik untuknya. Hyung merasa, ada alasan lain kenapa Kibum menjadi diam padamu. Kau melakukan kesalahan yang tidak kau sadari padanya, eoh?"
Kyuhyun mulai berpikir. Berusaha menggali kembali memorinya. Berusaha mengingat apa-apa yang telah dilakukannya hingga membuat Kibum marah. Namun ia tidak ingat sama sekali.
"Sadar, tidak sadar, ketika kita merasa ada yang salah antara kita dan orang lain, minta maaflah lebih dulu. Jangan pedulikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Karena kesalahan sesungguhnya adalah membiarkan permasalahan berlarut-larut tanpa ada yang mau mengalah."
Kyuhyun diam. Berpikir. Lama.
"Hyung… ugh!" Kyuhyun tiba-tiba melenguh. Ia meremas dadanya. Dadanya tiba-tiba saja terasanya nyeri. Ia membungkukan tubuhnya dalam-dalam. Berusaha menekan sakit untuk tidak menyerangnya lebih banyak. Sejak kambuh di sekolah tadi, Kyuhyun memang merasa keadaannya tidak begitu baik. Ia berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin Jungsoo Hyung terlalu repot mengurusnya. Hyung-nya itu pasti sudah repot mengurus Kibum.
"Kyunnie? Wae?" Wajah Jungsoo memucat.
"Appo, hyung. Argh…" Kyuhyun mengerang. Semakin dicengkramnya bagian dadanya hingga kaus merah polos yang tengah digunakannya kusut di bagian itu.
"Kita ke rumah sakit, ne?"
"Hajima, hyung. Aku tidak mau. Nae gwaenchana, hyung. Jebal…" Kyuhyun menahan gerakan Jungsoo yang hendak menggendongnya. Ia mulai terbatuk. Penyakitnya selalu berkoalisi untuk menyerangnya secara bersamaan. Batuknya yang menyakitkan terdengar begitu menyiksa di telinga Jungsoo. Memaksa penerus perusahaan keluarga Park itu untuk membujuk Kyuhyun lebih keras. Ia benar-benar panik sekarang. Dan di saat panik seperti ini, ia tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Kyu, jebal. Untuk kali ini turuti hyung, ne?" Kepanikan Jungsoo semakin menjadi ketika batuk Kyuhyun semakin kerap tanpa jeda.
"Ani, hyung—uhuk!"
"PARK KYUHYUN!" Jungsoo marah. Ditariknya lengan Kyuhyun untuk berdiri. Ia benar-benar panik dan ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan rasa sakit yang Kyuhyun rasakan selain membawa Kyuhyun ke rumah sakit.
"Andwae, Hyung. Aku tidak mau ke rumah sakit! Kau panggil dokter saja ke sini. Jebal, hyung…" Kyuhyun menghempaskan tubuhnya kembali. Jungsoo luluh, ditariknya oksigen di sekitarnya sebanyak mungkin, mencoba untuk tidak panik. Ia mulai sibuk menghubungi Yesung Uisa untuk kembali ke rumah. Dan setelah beberapa menit menunggu, tidak ada jawaban sama sekali.
"KYU! Tidak bisa! Kajja…" Jungsoo kembali menarik Kyuhyun yang kali ini menatapnya sengit. Kenapa di saat sakit seperti ini Kyuhyun masih bisa memberikan tatapan seruncing itu padanya?
"Shireo, Hyung. Tidakkah Hyung ingat Kibummie sedang sakit juga? Dia bahkan belum sadarkan diri sejak tadi. Tidakkah Hyung berpikir kalau ada yang tidak beres dengan Kibummie juga? Aku tidak bisa meninggalkannya, Hyung. Ani…"
Jungsoo terdiam. Ia benar-benar bingung sekarang.
"Kibummie tidak pernah meninggalkanku saat aku sakit. Jadi jangan paksa aku meninggalkannya saat dia sakit, hyung!"
Kyuhyun merekatkan matanya. Untuk kedua kalinya di hari ini ia merasakan hal yang serupa. Kali ini bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Jantungnya terasa dicengkram dengan begitu kuat dari dalam. Ia merasa sebentar lagi pemompa darahnya itu akan meledak saat itu juga. Nafasnya juga mulai terasa begitu sesak seolah paru-parunya dipenuhi karbondioksida. Kyuhyun mengerang semakin kuat.
"Kyu…" lirih Jungsoo. "Di mana obatmu, hn?"Jungsoo baru ingat kalau masih ada obat yang bisa menyelamatkan Kyuhyun kali ini.
Kyuhyun tak menjawab. Ia sibuk menghalau segala nyeri yang kembali bermain-main dalam tubuhnya. Jungsoo semakin panik. Ia segera bangkit, berniat mengambil obat milik Kyuhyun yang ia yakini berada di kamar adiknya itu. Dan tepat ketika ia membalikan badannya…
"Jungsoo-ah… Mian, aku meninggalkan handphoneku di kamar Kibum. Aku kembali untuk mengambilnya."
Bola mata Jungsoo berbinar dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya begitu sosok itu berdiri beberapa meter saja di hadapannya. Yesung Uisa, dokter pribadi keluarganya yang juga saudara jauhnya seketika membuat perasaannya begitu lega. Dokter muda bermarga Lee, Kakak sulung dari Lee Donghae itu berjalan mendekatinya. Menghapus jarak di antara mereka.
"Wae, Jungsoo-ah?" Yesung memegang bahu Jungsoo yang langsung terduduk lemas di hadapannya. Dan ketika tubuh Jungsoo tidak lagi menghalangi pandangannya, bola mata namja penyuka musim gugur itu langsung membulat sempurna. Tanpa memedulikan Jungsoo yang melafalkan kalimat 'Kau akan baik-baik saja, Kyu…' berulang kali, Yesung segera menyerbu tubuh Kyuhyun yang sudah terlihat lemas. Kesadaran Kyuhyun sudah di ambang batas. Ia menangani Kyuhyun dengan segera. Membiarkan Jungsoo tetap dengan kalimat serupanya.
.
.
Serat-serat tipis yang menyelinap masuk dari balik jendela yang sedikit kordennya terbuka, tampak usil mengusik namja yang masih terlelap damai dalam tidurnya. Namja yang dianugerahi wajah tampan itu menggeliat tak nyaman. Terganggu oleh sinar penguasa siang yang menyorot tepat permukaan wajahnya yang masih tampak menyimpan rona pucat. Ia mengubah posisinya menyamping ke arah kiri. Membelakangi serangan sinar matahari.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Ia merasa tidak bisa terus melanjutkan mimpinya yang terasa indah. Entahlah, perasaannya mengatakan kalau saat ini ia merasa tengah diperhatikan oleh seseorang. Perlahan ia membuka matanya yang rasanya seperti telah direkat oleh lem super lengket. Ia merasa begitu berat untuk membuka mata sipitnya. Namun, terlanjur penasaran, akhirnya mata itu terbuka juga dan dengan jelas melihat sosok namja tengah berbaring di sampingnya. Menatapnya dengan raut wajah berbinar.
"Kibummie… Mianhae, ne?" Kyuhyun menatap mata Kibum yang masih tampak sayu. Di balik bola mata hitam sekelam langit malam itu tersorot ketidakpercayaan. Kyuhyun membiarkan matanya beradu dengan mata Kibum. Meyakinkan saudara kembarnya kalau apa yang baru saja ia lafalkan itu benar-benar tulus dari dalam hati.
Kyuhyun tidak tahu kenapa saat ia terbangun, ia menemukan dirinya tidur di samping Kibum. Yang pasti, ia yakin kalau ia tidak tidur sambil berjalan dan pindah tidur ke kamar Hyung keduanya itu. Karena ia masih ingat kalau semalam penyakit dalam tubuhnya kembali protes hingga ia harus kehilangan kesadarannya. Mungkin itu kerjaan Jungsoo Hyung. Kyuhyun tidak memprotes apa pun, karena ia tahu kalau Jungsoo Hyung sengaja melakukannya agar ia bisa lebih mudah mengurus mereka yang entah kenapa bisa kompakan sakit seperti sekarang.
Kasihan Jungsoo harus bolak-balik antara kamar Kyuhyun dan Kibum jika ia menempatkan kedua dongsaeng-nya itu di kamar mereka masing-masing. Faktanya ia cukup repot dan juga kelelahan hingga sampai saat ini ia masih tertidur lelap di salah satu sofa di kamar Kibum. Jungsoo pasti sudah bekerja keras semalaman.
"Mimpi memang jauh lebih indah. Tapi kalau ini bukan mimpi, kau tahu?—" Kibum kembali menutup matanya. Ia masih berpikir kalau keberadaan Kyuhyun di sampingnya itu hanya sebatas mimpi."—Kyu, aku begitu ingin seperti dirinya." Dan Kibum kembali melelapkan dirinya dalam bunga tidurnya.
"YA! Kibummie… kau jangan tidur lagi!" Kyuhyun mengguncang tubuh Kibum dengan agak keras. Kibum tidak terusik sama sekali dan kembali bermain dengan fantasi dalam mimpinya. "Kau tidur lama sekali hingga aku berpikir kau itu mati. Aku begitu takut kehilanganmu, Hyung…" Kyuhyun melirih panjang.
Kyuhyun bangun lebih dulu dari Kibum dan Jungsoo. Ia terpaksa membuka matanya karena sakit di dadanya mengganggunya. Tidak separah semalam, tapi tetap saja itu sungguh mengganggu dan membuat ia tidak bisa memejamkan mata kembali. Alhasil, ia memilih untuk tetap terjaga dan mengamati Kibum yang tengah terlelap di sampingnya.
Ia ingat kalau Kibum pingsan jauh lebih dulu dari dirinya. Dan ia tidak tahu kenapa saudara kembarnya itu tidak membuka mata lebih dulu darinya juga. Hingga berbagai kemungkinan berdesak-desakan dalam kepala Kyuhyun. Ia berpikir kalau ada yang tidak beres dengan Kibum. Apa yang terjadi denganmu, huh? Kau ini tidur, pingsan, koma, atau mati? Kyuhyun menggeleng cepat. Ia benar-benar cemas. Aura negatif mulai menyebar luas di sekitarnya. Tiba-tiba saja ia merasa begitu takut Kibum benar-benar tidak membuka mata lagi. Dan ia mulai mengikrarkan janji tidak tertulis.
Kalau Kibum bangun, ia berjanji kalau ia yang akan menghapus kecanggungan dan spasi yang tengah tercipta di antara mereka lebih dulu. Ia janji akan meminta maaf lebih dulu. Ia berjanji akan menjadi dongsaeng yang baik untuk Kibum. Ia berjanji akan memanggil Kibum dengan panggilan Hyung. Ia tidak apa-apa jika Jungsoo Hyung tidak memperhatikannya lagi dan menyerahkan seluruh sayangnya pada Kibum. Ia tidak akan memikirkan egonya lagi. Kata-kata Jungsoo Hyung semalam, semakin meyakinkan dirinya.
"Hyung, ireona! YA! Kibum Hyung! Bangunlah… jebal!"
Namun Kibum tampaknya tidak terusik sama sekali dengan jeritan dan guncangan kasar yang Kyuhyun ciptakan. Dan itu membuat Kyuhyun begitu panik. Ada apa dengan Kibum? Dadanya berdebar hingga sesak. Air matanya meluncur begitu saja.
"Hyung… Ireona! Jangan seperti ini. Aku takut…"
Jungsoo yang mendengar teriakan-teriakan tidak jelas, akhirnya terbangun. Sebentar ia menatap Kyuhyun dengan bingung. "Kenapa kau berteriak di pagi-pagi seperti ini, Kyu? Kau butuh sesuatu?" tanya Jungsoo. Ia mengucek matanya sebentar.
"Hyung, bagaimana bisa Kibummie mati lebih dulu dan meninggalkanku?"
"MWO?!"
.
.
To be continue…
.
.
Sebelumnya, Terimakasih yang udah nyempetin baca dan kasih review di chapter sebelumnya. Saya senang sekali hingga rasanya ingin memeluk Hae Oppa. #ups!
Dan maaf kalau chapter ke 2 ini mengecewakan. Tapi saya berharap kalian tetap menikmatinya. Dan maaf juga, saya tidak bisa membalas reviewnya satu persatu.
Buat yang nanya ini main castnya siapa? Aku juga bingung. Aku juga niatnya Kyuhyun, tapi kenapa malah fokus ke Kibum? Aku gak sadar dengan hal itu. Hahaha… pokonya, keduanya berperan penting deh.
Terus buat yang udah ngoreksi cara menulisku. Makasih lohhh. Bener aku makasih banget! Aku seneng banget kalau ada yang mau ngoreksi kesalahan yang aku buat. Tapi, boleh gak ya, kasih tahu bagian mana cara penulisanku yang salah dan bagaimana cara aku memperbaikinya?
Seperti yang saya bilang sebelumnya, ini fanfic pertama saya. Yang artinya, saya benar-benar pemula di sini. Saya banyak tidak tahunya, jadi mohon bimbingan dan bantuannya ya.. terlebih untuk kosakata bahasa Korea saya yang amburadul gak karuan. Kalau ada yang salah boleh protes. Dengan senang hati saya menerima semua komentar dan kritikan kalian semua.
Gomawo.
