Title

Belongs to Both of Us

Chapter : 3

Author : Nae

Rate : T

Genre : Brothership

Main Cast :

Cho Kyuhyun. Kim Kibum. Park Jungsoo. And Other

Disclaimer : All of you know

Summary:

"Ah, padahal mereka lahir dan tumbuh bersama. Tapi kenapa seperti ini?"/ "Jungsoo Hyung adalah Hyung terbaik yang kumiliki. /"Kau menyedihkan, Hyung." / "Mwo? Hanya karena itu? Aiisshh… Jinjja. / "Kyu, aku begitu ingin seperti dirinya."/ Sekarang beritahu bagaimana caranya aku membencimu, Kyu."/ "Anak ini, kenapa berpikir untuk memberiku benda seperti ini? Pabbo!"/

Warning :

OOC,typos, ide pasaran dan mudah ditebak, geje, tidak nyambung dan berbagai hal gak penting lainnya.

.

.

"Ani! Eomma, Appa! Jebal… aku tidak mau."

"Aku takut. Jangan paksa aku…"

"Jangan lakukan ini padaku. Aku mohon..."

"Eomma… Appa…"

"Tolong, aku takut sekali."

"Hyung, kau di mana? Bantu aku!"

"Hiks…"

Namja itu bergerak gelisah dalam tidurnya. Potongan masa lalu itu tiba-tiba hadir dalam mimpinya. Bagai roll film yang sengaja diputar kembali untuk mengingatkan kenangan terburuk yang selama ini berusaha dilupakannya. Dadanya tiba-tiba saja terasa begitu sesak, seperti dihimpit berton-ton beban. Ia menangis dalam tidurnya. Air mata bercampur dengan keringat dingin yang berlomba keluar dari pori-pori tubuhnya.

"ANDWAE!"

Mata itu terbuka bersamaan dengan tubuhnya yang refleks terduduk sempurna di atas ranjang berseprai putih itu. Kesunyian yang menguasai ruangan pucat itu seketika pecah oleh deru nafas cepat namja berbaju pasien rumah sakit itu. Pun mengusik tidur tidur lelap kedua namja yang sejak pagi menjadi penghuni lain ruang beraroma obat-obatan kimia itu.

"Kibum Hyung…" Kyuhyun yang sejak tadi tertidur di kursi di samping ranjang Kibum, sontak berdiri dan meraih pundak Kibum. Jungsoo yang tertidur di salah satu sofa ruang rawat itu, bergegas mendekati kedua dongsaeng-nya itu. Kibum sendiri masih sibuk menstabilkan syaraf-syaraf tubuhnya yang tiba-tiba saja menegang.

"Waeyo?" tanya Kyuhyun cemas.

Kibum tidak merespon pertanyaan Kyuhyun. Ia memilih untuk mengamati keadaan ruangan yang menjadi tempatnya saat ini. Ia tidak ingat apa pun selain senyum Kyuhyun yang terlontar begitu tulus untuknya—tentu dalam benak Kibum—hanya sebuah mimpi. Setelah itu ia tidak ingat apa pun selain kegelapan yang menguasai penglihatannya. Dan yang kemudian berakhir dengan mimpi buruknya barusan.

"Kau di rumah sakit, Hyung…" Kyuhyun kembali bersuara. Mencoba mencuri perhatian Kibum yang sejak tadi terlihat tidak mengindahkan kehadirannya. Kibum seolah tidak melihatnya dan malah sibuk menatapi Jungsoo yang masih terpaku bingung di tempatnya. Harusnya Kibum menatapnya terlebih dahulu.

"Hyung, kenapa aku ada di sini?" Kibum menuntut jawaban dari Jungsoo. Namja yang biasanya terlihat kuat itu terlihat lemah saat ini. Sorot takut dan gelisah terpancar dari bola mata hitamnya yang tampak sayu.

Jungsoo menarik nafas dalam. Kibum benar-benar tidak tahu kalau sejak pagi—tepatnya sejak kemarin—kesadarannya ditarik ulur tak jelas. Kyuhyun bahkan sempat berteriak histeris mengira Kibumnya telah meninggal. Dan pagi tadi, kepanikan Kyuhyun menular pada Jungsoo saat Hyung kedua saudara kembar itu merasa suhu badan Kibum kembali panas padahal semalam demamnya sudah mulai reda. Jungsoo kembali menghubungi Yesung dan berakhirlah dengan membawa Kibum ke rumah sakit mengingat adik pertamanya itu tak juga sadarkan diri hingga siang hari.

"Hyung, apa ada yang sakit?" Kyuhyun mencengkram bahu Kibum lebih erat. Ia yang paling panik sejak tadi. Ia bahkan sampai rela menahan sakit di dadanya hanya untuk memastikan kondisi saudara kembarnya itu baik-baik saja.

"Aku ingin pulang, Hyung…" Kembali tidak merespon kata-kata Kyuhyun, Kibum memeluk Jungsoo dengan erat. Tubuhnya yang bergetar ketakutan tampak memohon perlindungan dari Hyung tertuanya itu. Jungsoo dengan segala kebingungannya itu mengusap pelan rambut Kibum yang tampak lembab karena keringat.

Kyuhyun yang merasa tak dihiraukan, perlahan menjauhkan tangannya dari pundak Kibum. Ditatapnya tubuh itu dengan nanar. Hyung, apa kau tak melihatku? Kyuhyun membatin sedih. Ribuan pertanyaan berderet-deret layaknya soal ujian yang sulit dalam kepalanya. Tiba-tiba saja sesak menghujam keras dadanya. Jantungnya berdenyut nyeri dan refleks ia mencengkram dadanya dengan erat. Ia berusaha meredam sakit dengan mengigit bibirnya kuat-kuat. Jungsoo yang menyadari ada yang tidak beres dengan Kyuhyun, berusaha melepaskan pelukan Kibum.

"Bawa aku pulang, Hyung. Aku takut. Aku mau pulang…" Kibum kembali melirih. Mengeratkan pelukannya seolah melarang Jungsoo untuk membantu Kyuhyun. Biarlah sekali ini saja ia bersikap egois. Sekali ini saja ia ingin mendapat perhatian lebih dari Jungsoo. Sekali ini saja ia ingin tidak hanya Kyuhyun yang jadi pusat segala perhatian dan kecemasan. Sekali ini saja…

"Baiklah, Kibummie. Kita pulang. Uljima, ne?" Jungsoo melirik Kyuhyun yang masih sibuk dengan kesakitannya.

"Gwaenchanha, Hyung… aku akan menemui Yesung Hyung…"Namja berambut ikal itu kemudian beringsut meninggalkan ruangan. Dengan segala nyeri yang kembali bermain-main dengan jantungnya. Diperparah dengan perih di hatinya yang baru saja tergurat sempurna. Niatnya untuk menghapus jarak yang pernah terbentang itu tiba-tiba ciut begitu saja.

.

.

Jungsoo menggeliat tak nyaman begitu dering ponselnya terdengar nyaring hingga telinganya. Mengganggu tidur lelapnya. Dengan ogah-ogahan, namja pemilik ruangan serba putih itu mengangkat tubuhnya. Seketika hawa dingin terasa mengusap lembut kulit putihnya begitu tubuh itu tak lagi terbungkus selimut tebalnya. Ini pengujung musim gugur dan sebentar lagi Seoul menyambut musim dingin. Hawa dingin sudah mulai terasa.

Tak lantas bangkit berdiri, Jungsoo memilih untuk duduk sebentar di tepi tempat tidurnya. Diraihnya ponsel full touchscreen di atas nakas, dan menatap sayu layar ponselnya.

Remainder!

Saengil Chukhahae, Kyuhyunie and kibumie!

Seulas senyum tersemat rapi di balik bibir tipis Jungsoo. Namja yang baru dua minggu yang lalu dinyatakan lulus dari fakultas hukum itu, tertawa kecil mengingat ia masih saja memasang remainder padahal ia sudah hafal di luar kepala ulang tahun kedua adiknya itu. Tidak terasa sudah satu bulan lebih sejak kejadian di rumah sakit itu ia lewati. Meski cukup berat mengingat hubungan Kyuhyun dan Kibum tak kunjung membaik dan malah semakin renggang, Jungsoo tetap bersyukur masih bisa melihat kedua dongsaeng-nya—terlebih Kyuhyun—masih berada di sisinya saat ini. Sejak Kibum menjadi lebih dingin dan tampak tak menganggap Kyuhyun ada, kesehatan Kyuhyun semakin memburuk. Adik bungsunya itu jadi lebih sering kambuh. Sudah beberapa kali ia nyaris kehilangan Kyuhyun.

Tapi lupakan dulu masalah Kyuhyun dan Kibum. Hari ini Jungsoo ingin berbahagia dan memberi banyak hadiah untuk kedua adiknya. Ia sedang tidak ingin memedulikan seberapa kokoh tembok penghalang antara Kyuhyun dan Kibum. Ia hanya ingin kedua adiknya bahagia karena dirinya hari ini. Lupakanlah kesedihan, dan berbahagialah dengan memberi banyak kebahagiaan. Setidaknya ia selalu ingat moto hidup seorang Choi Siwon.

Sedikit menengok ke arah jam dinding, Jungsoo menghela nafas. Ia sudah menyusun jadwal hari ini. Mandi, berangkat kerja lebih pagi, pulang lebih awal, pergi membeli kue dan banyak hadiah, lalu menyambut senyum kedua dongsaeng-nya dengan pesta meriah. Ah, betapa indahnya rencana hari ini. Jungsoo tak bisa berhenti tersenyum membayangkan hal itu.

"Kau sudah bangun, sayang?"

Baru saja Jungsoo hendak masuk ke dalam kamar mandi saat kepala Eomma-nya menyembul di balik pintu kamarnya. Wanita cantik yang begitu Jungsoo sayangi itu tampak tersenyum lembut padanya. Sejak Jungsoo lulus kuliah, Eomma memutuskan untuk menghabiskan waktu di rumah dan membiarkan Jungsoo membantu Appa. Jungsoo sebenarnya keberatan harus terjun ke perusahaan keluarga. Ayolah, ia kuliah jurusan hukum, dan cita-citanya adalah menjadi polisi, detektif, atau agen FBI. Jungsoo selalu membayangkan betapa gagah dan kerennya ia jika mendapat pekerjaan berseragam resmi seperti itu.

"Eomma mau pergi. Kau urus kedua adikmu, ne?"

"Tapi, Eomma aku—"

"Jangan lupa ingatkan Kyunie minum obat. Dan ingatkan dia juga supaya menutup pintu lemari. Aigoo, kebiasaannya lupa menutup pintu lemari lama-lama membuatku frustasi. Oya, sarapan sudah Eomma siapkan di meja makan. Kau tinggal membuat susu. Ingat! Kibum tidak suka susu, jadi beri dia air putih saja. Arraseo?"

"Eomma! Tap—"

BLAM!

"YA! Eomma tapi aku juga—aiishh, jinjja!" Jungsoo mendumel begitu pintu kembali tertutup rapat. Masih dengan tampang kesalnya, Jungsoo masuk ke dalam kamar mandi. Eomma menghancurkan rencana awalnya.

.

.

"Eomma mana, Hyung? Sejak bangun aku tak melihatnya. Apa ia kembali sibuk membantu Appa?"

Kyuhyun datang paling akhir pagi itu. Ia mendudukan dirinya di tempat biasa, di samping Kibum berhadapan dengan Jungsoo. Namja berkulit pucat itu menatap Jungsoo sebentar sebelum menikmati sarapan paginya. Tak ada niat untuk menyempatkan diri memandang hyung-nya yang lain. Sejak kejadian di rumah sakit, yang berlangsung hingga ia dirawat seminggu lamanya dan Kibum tak menjenguknya sama sekali, entah kenapa membuat perasaan Kyuhyun begitu terluka dan kecewa. Ia kembali melupakan niat baiknya untuk memperbaiki hubungan mereka.

"Jangan bersikap seolah kau tidak biasa tanpa kehadirannya. Makan yang baik dan habiskan susumu." Jungsoo nyerocos di sela kunyahannya.

"Aisshh… aku kan cuma bertanya. Kau sensitif sekali!" Kyuhyun mendumel tak suka.

"Jangan banyak komentar. Makanlah!"

"Ne, ne, Hyung. Kau cerewet, tau!"

Jungsoo berdecak kesal dan Kyuhyun mulai sibuk dengan roti berselai strawberry di hadapannya. Keadaan dibiarkan hening sampai ketiga namja bermarga Park itu menyelesaikan sarapannya.

"Aku akan pulang terlambat, Hyung." Kyuhyun memberi laporan saat langkah mereka berhenti di depan rumah.

"Cuaca sedang tidak baik. Pulanglah lebih cepat." Jungsoo membenarkan posisi syal yang melilit leher Kyuhyun. Dan tak lupa merapikan mantel yang Kyuhyun kenakan. Ia tidak peduli dengan gerutuan Kyuhyun yang tak mendapat respon baik darinya.

"Kau harus ingat kesehatanmu. Kau membawa obatmu?" Jungsoo biarkan kedua tangannya membingkai di wajah Kyuhyun. Pipi adiknya yang mulai tirus itu terasa begitu dingin.

"Ne, Hyung. Tapi aku benar-benar akan terlambat pulang hari ini."

"Kau harus pulang lebih cepat!" Jungsoo keukeuh. "Jangan buat Hyung khawatir. Hyung tid—"

Uhuk! Ugh!

Ucapan Jungsoo terpotong. Suara batuk dan lenguhan itu seketika mengalihkan perhatian kedua namja itu. Baik Jungsoo mau pun Kyuhyun sama-sama menoleh ke arah Kibum yang masih berdiri di ambang pintu. Namja itu tampak menunduk dalam sembari mencengkram sisi pintu dengan kuat. Mata Kyuhyun memicing, dan tak lama setelah itu ia mendelik tak suka. Sejak keluar dari rumah sakit waktu itu Kibum terlihat jadi lebih pandai berakting.

Kyuhyun tahu kalau saudara kembarnya itu hanya berpura-pura. Ia selalu terlihat kesakitan setiap kali Jungsoo memberi perhatian padanya. Seolah Kibum ingin perhatian Jungsoo berpaling padanya. Di mata Kyuhyun saat ini, Kibum terlihat begitu menyebalkan. Meski tidak sampai ada rasa benci yang benar-benar tertanam dalam hatinya.

"Kau sakit?" Jungsoo berjalan mendekat ke arah Kibum dan segera meraih tubuh adik pertamanya itu. Melupakan Kyuhyun yang tampak mendengus tak suka. Dasar Jungsoo Hyung Pabbo! Mau saja kau dibodohi olehnya!

"Gwaenchanha, Hyung…" Kibum melirik Kyuhyun sebentar dan menatap Kyuhyun. Kyuhyun tidak tahu apa arti tatapan saudara kembarnya itu. Rasanya begitu aneh. "Hanya sedikit tak enak badan," lanjut Kibum yang langsung disusul dengan sentuhan lembut di keningnya. Setelah kejadian waktu itu, Jungsoo selalu lebih cemas jika Kibum demam. Dan ia bersyukur suhu tubuh Kibum tidak benar-benar panas.

"Aku berangkat!" ketus Kyuhyun berjalan memasuki mobil yang sejak tadi terparkir di depan rumah. Jung Ahjussi tampak sudah bersiap-siap membuka pintu untuk majikannya itu. Kyuhyun benar-benar sebal melihat pemandangan di hadapannya. Harusnya jika Kibum memang benar-benar mengharapkan perhatian Jungsoo, bukan seperti itu caranya. Kyuhyun tidak keberatan Jungsoo memerhatikan Kibum. Lagipula, Kyuhyun selalu yakin kalau Kakak pertamanya itu begitu menyayangi mereka berdua. Meski ada kata lebih untuknya.

"Kau mau istirahat di rumah, atau sekolah?" tanya Jungsoo meyakinkan. Ditatapnya Kibum dengan serius.

"Aku sekolah saja, Hyung…" Kibum menegakan tubuhnya.

"Jaga Kyuhyun kita, eoh?" Jungsoo tersenyum dan menepuk pundak Kibum pelan. Memberi kepercayaan sepenuhnya pada adiknya yang paling pendiam itu.

Kibum terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk samar. Lantas ia segera berjalan menuju mobil. Kyuhyun sudah duduk di jok depan yang artinya ia harus duduk di jok belakang. Selama ini, setelah hubungan mereka memburuk, baik Kyuhyun maupun Kibum tidak pernah ingin duduk bersampingan saat berangkat sekolah. Jung Ahjussi yang selama ini selalu mengantar mereka sampai menghela nafas lelah. Pria yang hampir menginjak usia tuanya itu tidak pernah menyangka persaudaraan yang dulu begitu manis, bisa menjadi seburuk saat ini hanya karena alasan tak jelas. Memperebutkan Jungsoo yang jelas-jelas menyayangi mereka berdua secara rata.

.

.

Kyuhyun pulang terlambat. Kibum juga sama. Dan Jungsoo menunggu dengan cemas selama lima jam penuh.

Apa mereka ada pelajaran tambahan? Tidak, Jung Ahjussi bilang sekolah sudah benar-benar sepi saat ia menjemput si kembar. Atau mereka merayakan pesta ulang tahun di rumah teman mereka? Mungkin saja. Tapi itu tidak pernah terjadi selama tujuh belas tahun hidup mereka. Atau… terjadi sesuatu yang buruk dengan mereka. Mungkin diculik, disekap di sebuah bangunan kotor penuh debu? Ya Tuhan… Aniya! Itu bahkan tidak baik untuk paru-paru Kyuhyun!

Jungsoo mulai berpikir macam-macam. Ia terus mondar-mandir di tengah-tengah ruang depan kediaman keluarga Park itu. Berbagai kilasan film-film action berbau sadistic yang pernah ditontonya kembali bermain-main dalam kepalanya.

Bagaimana kalau Kyuhyun dan kibum dihadang orang jahat dan dipukuli hingga tewas, lalu mayat mereka dimasukkan ke dalam koper seperti dalam film Horror yang dulu begitu ramai dibicarakan di kampus? Atau, mereka diculik oleh sindikat tertentu untuk dibedah dan dipreteli seluruh organ tubuhnya? Sumpah demi Tuhan, bahkan jantung dan paru-paru Kyuhyun itu sudah rusak dan tidak berfungsi dengan baik. Atau bisa saja mereka diculik oleh wanita gila untuk dicongkel kedua matanya seperti dalam film horror yang kemarin ditontonnya. Atau… jangan-jangan mereka…

"Aisshh… Jungsoo-ah, jangan berpikir yang macam-macam!" Jungsoo mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Berusaha mengusir pikiran buruk yang ia ciptakan sendiri.

Berhenti mondar-mandir, namja tampan itu mendudukan dirinya kembali di atas sofa. Meminum segelas air di atas meja dan kemudian menatap kedua orangtuanya yang tampak terlelap di sofa, di hadapannya. Dengkuran halus pertanda tidur yang begitu lelap itu terdengar menguasai keheningan ruangan yang sudah mereka—Jungsoo dan Tuan juga Nyonya Park—sulap menjadi ruangan pesta yang begitu meriah. Tapi, kedua orang yang mereka tunggu untuk pesta meriah yang mereka siapkan, bahkan sampai pulang dari kantor lebih cepat itu belum juga nampak hingga jam sembilan malam ini.

Jungsoo frustasi. Ia sudah menelepon pihak sekolah dan juga teman-teman Kyuhyun dan Kibum, tapi tidak ada jawaban yang memuaskan dari mereka. Dan bagaimana ceritanya kedua orangtuanya masih bisa tidur dengan begitu lelapnya di saat kecemasan dengan seenaknya merajai hatinya. Jungsoo mendengus sebal, tapi kemudian menghela nafas lelah. Mencoba memaklumi keadaan Appa dan Eomma-nya yang pasti sudah bekerja dengan keras dan kelelahan.

"Apa salahnya kau percaya pada kedua adikmu, Jungsoo-ah?" Eomma berujar dengan suara serak khas bangun tidurnya. Ia mengubah sedikit posisinya. "Eomma yakin mereka baik-baik saja," lanjutnya dengan mata setengah terpejam.

"Bagaimana bisa Eomma bicara setenang itu? Ini sudah jam Sembilan malam dan mereka belum pulang. Eomma tak khawatir, eoh?" Suara Jungsoo naik beberapa oktaf. Ia tidak mengerti ada apa dengan wanita paruh baya di hadapannya itu. Apa Eomma-nya ini tipikal Ibu yang tidak perhatian, tak acuh, dan tidak peduli? Tapi selama ini Jungsoo tidak melihat Eomma-nya seperti itu.

"Jika kau tidak percaya pada Kyuhyun dan juga Kibum, percayalah pada Tuhan yang akan selalu menjaga mereka dan memberikan semua hal terbaik yang dimiliki-Nya untuk mereka." Kesadaran Eomma pulih sepenuhnya. Ia menatap Tuan Park yang masih terlelap di sampingnya sebentar sebelum menatap Jungsoo dengan penuh keyakinan. "Selama kalian jauh dari jangkauan Eomma, jangan berpikir Eomma dan Appa tak mengkhawatirkan kalian. Kami hanya selalu percaya pada Tuhan yang akan selalu menjaga kalian dengan cinta dan kasihNya."

Mendengar kalimat Eomma, Jungsoo membisu. Eomma beranjak dan berpindah posisi di samping Jungsoo. Mengelus lembut punggung anaknya yang sudah terasa begitu kokoh dan kuat itu. Begitu kokoh dan kuat hingga wanita berhati lembut itu percaya suatu saat nanti jika ia dan juga suaminya telah memasuki masa tua, punggung kokoh itulah yang akan menggantikan mereka untuk menanggung semua beban dan tanggung jawab. Ia percaya dengan itu. Peracaya pada Jungsoo. Dan percaya pada Tuhan yang akan senantiasa melindungi anak-anaknya.

"Mianhae, Eomma…" Jungsoo berujar tulus. Eomma mengangguk paham. Dan Tuan Park perlahan menggeliat dan membuka mata bersamaan dengan…

Klekk!

"Aku pul—mwo? Ada apa ini?"

BRUK!

"Auw… Appo!"

"Kenapa kau menabrakku, Kibumie?"

"Kenapa kau berhenti tiba-tiba seperti itu, Pabo?"

"Aku tidak tahu kau di belakangku! Aisshh… lihatlah, hadiahku jatuh. Kalau isinya hancur, aku tidak akan memaafkanmu. Kau tidak tahu seberapa ma—"

"DARIMANA KALIAN, HUH?!"

Pertengkaran yang sama sekali tidak mereka sadari telah menciptakan dialog yang cukup panjang itu seketika terhenti. Teriakan Jungsoo menahan semuanya. Baik Kyuhyun dan Kibum seketika menoleh ke arah sumber suara. Ketiga orang itu menatap mereka, menuntut jawaban.

"A-ah… ak-aku…" Kyuhyun gelagapan mencari jawaban yang pas.

Kibum hanya menatap tak percaya situasi di hadapannya. Ia baru menyadari keadaan ruang depan rumahnya itu benar-benar berbeda. Penuh dengan hiasan pesta ulang tahun. Appa, Eomma, dan hyung-nya pasti sudah membuatkan semua ini untuknya dan Kyuhyun. Atau sebenarnya hanya untuk Kyuhyun saja? Sejak kondisi kesehatan Kyuhyun makin memburuk, mereka selalu takut tidak bisa melakukan banyak hal lagi untuk Kyuhyun. Wajar saja.

"A-aku… pergi bersama Changmin dan ia menraktirku makan. Lihatlah, ia memberiku hadiah!" Kyuhyun berujar riang sembari menunjukan sebuah kotak berukuran sedang di tangannya. Jungsoo menarik nafas lega dan kedua orangtuanya hanya tersenyum maklum. Kyuhyun melemparkan cengirannya dan berjalan menghampiri Appa, Eomma, dan hyung-nya. Ketiga orang itu langsung menariknya untuk duduk di antara mereka.

"Aku curiga, jangan-jangan sahabatmu itu mencintaimu. Dia selalu memberimu hadiah tiap kau ulang tahun," suara Jungsoo.

"Ya! Hyung, dia itu namja!"

"Bagaimana kalau kita buka hadiah dari Changmin dulu sebelum kau membuka hadiah dari kami?" Appa menunjuk banyak hadiah di atas meja. Ada enam hadiah, dan tiga di antaranya pasti untuk Kibum.

"Aniya. Aku akan membuka hadiah ini di kamarku sendiri!"

Kibum masih mematung di tempatnya. Menatap adegan di hadapannya dengan tatapan terluka. Perlahan ia beringsut menuju kamarnya.

"Kau mau ke mana, sayang?" tanya Eomma yang baru sadar kalau ia melupakan Kibum. Ketiga pasang mata lainnya turut memandang Kibum.

"Aku akan ganti baju dulu sebelum berpesta. Besok masih sekolah dan aku tak ingin seragamku kotor karena krim kue ulang tahun." Kibum berujar santai sambil berjalan menaiki undakan tangga.

Kyuhyun menatap Kibum dengan sedih. Lantas ia menatap hadiah yang tadi sempat jatuh karena Kibum itu dengan tak kalah sedihnya. Selama tujuh tahun ini ia tidak pernah lagi mendengar ucapan selamat ulang tahun dari Kibum. Dan juga tidak pernah lagi Kibum memberinya hadiah. Rasa rindu itu semakin menusuk tajam relung hatinya.

Kibumie, saengil chukhahae! Kyuhyun membatin, tanpa tahu kalau di dalam hati namja yang saat ini tengah berdiri dan bersandar di balik pintu kamarnya, melafalkan kalimat yang sama. Kyuhyunie, saengil chukhahae.

.

.

"Ini!" Kibum melempar pelan sebuah kotak dengan bungkus kado yang tidak lagi rapi ke hadapan Donghae. Namja Lee itu sedang fokus menonton permainan basket beberapa temannya dan cukup terkejut dengan aksi Kibum. Untung saja ia mempunyai gerak refleks yang bagus, dan juga termasuk pemain basket yang cukup handal hingga bisa dengan mudah menangkap lemparan Kibum.

"Untukku lagi?" tanya Donghae sembari mengocok-ngocok pelan isi kado itu. Mencoba menebak apa isinya. "Sampai sekarang aku selalu penasaran dengan kado-kado yang kau berikan padaku."

"Buka saja!" Kibum mendudukan dirinya di samping teman dekatnya itu. Memerhatikan beberapa temannya yang tengah bermain basket di hadapannya.

"Ah, aniya. Aku tidak akan membukanya sekarang." Donghae tersenyum polos. Dibiarkannya kembali fokus matanya untuk melihat aksi teman-temannya di lapangan basket sana.

"Kau harusnya mengucapkan terimakasih." Kibum berujar dingin.

"Mwo? Kau pamrih sekali! Lagipula aku tidak pernah memintamu memberiku hadiah ini," sebal Donghae. Ia menyikut pelan pinggang Kibum yang langsung meringis. Namja berkulit putih itu menatap Donghae dengan tajam. Donghae hanya melemparkan cengiran lebarnya.

Dan di tempat lain, Kyuhyun hanya bisa memerhatikan adegan itu dengan sedih. Ia tidak tahu apa hari ini ulang tahun Donghae atau bukan, yang pasti ia selalu merasa ada sakit yang menelusup masuk ke dalam dadanya ketika ia tahu kalau Kibum bahkan jauh lebih senang memberi Donghae hadiah ketimbang dirinya. Jangankan hadiah, senyuman dan tatapan hangat pun tak pernah lagi Kyuhyun dapatkan dari Kibum. Kibumnya ada. Kibumnya dekat. Kibumnya dapat ia lihat. Tapi kenapa ia merasa sosok itu begitu jauh dan tak mampu ia jamah? Apa yang harus aku lakukan, Kibumie? Apa salahku? Pertanyaan itu yang kerap memenuhi ruang dalam otaknya.

.

.

Kyuhyun tidak tahu apa alasannya berdiri di ambang pintu lapangan basket indoor sekolah saat ini. Memerhatikan tiap gerakan Kibum yang hampir dua jam penuh ini tidak berhenti memainkan si bondar orange di tangannya. Beberapa temannya bahkan sudah tampak kelelahan dan terduduk lemas di sisi lapangan. Dan Kibum, sedetik pun tak ia lewatkan bahkan untuk menarik nafas sekali pun. Membuat mata Kyuhyun yang sipit semakin menyipit. Ada yang tidak beres dengan Kibum.

"YA! Kibum-ah… ada apa denganmu, huh? Berhentilah! Kau mau mati kehabisan nafas, eoh?" Donghae berteriak di sisi lapangan. Nafasnya masih terlihat belum stabil. Ia sudah mencoba menghentikan permainan Kibum, yang entah kenapa terlihat lebih hebat, sejak satu jam yang lalu. Tapi Kibum tampaknya tidak berniat menghakhiri permainannya barang sedetik pun. Bahkan saat teman-temannya yang lain sudah tidak ada yang sanggup melawannya, ia terus bermain sendiri. Tatapan dinginnya membuat Donghae sulit menebak apa yang sedang terjadi dengan teman baiknya itu.

"Setidaknya minumlah dulu. Kau tidak merasa dehidrasi, apa?"

"Kau ada masalah? Ceritakanlah pada kami. Jangan menyakiti dirimu seperti ini!"

"Kau berpikir ini cara bunuh diri yang unik, huh? Berhentilah!"

"YA! Park Kibum, berhenti! Kau membuat kami cemas!"

Donghae dan yang lain sudah tidak tahan lagi. Terlebih saat mereka menyadari Kibum mulai batuk-batuk dan kehabisan nafas, tapi ia masih keukeuh mendrible bolanya. Baru saja Donghae memberi kode pada teman-temannya untuk mengepung Kibum dan menghentikan namja itu saat tiba-tiba Kyuhyun berlari dan menarik Kibum dalam dekapannya. Ia memberi isyarat pada Donghae untuk pergi dan meninggalkannya berdua dengan Kibum. Donghae dan ketiga temannya yang lain itu mengangguk dan bergegas meninggalkan lapangan basket itu.

"Lepas!" Kibum memberontak dalam pelukan Kyuhyun. Namun tenaga Kyuhyun jauh lebih kuat saat ini.

"Ani." Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajah Kibum lebih dalam di dadanya. "Sampai kau mau bicara kenapa kau seperti ini, kenapa kau mendiamkanku seperti ini, kenapa kau tidak menjengukku saat aku dirawat di rumah sakit, aku tidak akan melepaskanmu, Kibumie." Karena hanya dengan cara ini Kyuhyun bisa memaksa Kibum untuk menjawab segala pertanyaan yang selama ini menyesaki hatinya.

"Kau marah padaku, huh? Karena apa? Karena Jungsoo Hyung lebih menyayangiku? Karena Eomma dan Appa jauh lebih memerhatikanku? Karena kau mendapat hadiah buku dan aku mendapat PSP saat Hyung kembali dari Kanada? KARENA APA, PARK KIBUM? KATAKAN PADAKU!" Kyuhyun melepaskan pelukannya. Memegang bahu Kibum dengan kuat dan mengguncang tubuh itu dengan keras. Berusaha menyadarkan Kibum dari segala kesalahpahaman yang terjadi.

"Apa salahkku, Kibumie? Apa salahku padamu?"

Kyuhyun dapat melihat cairan bening melesak keluar dari mata Kibum yang tampak lelah. Sementara air matanya sudah meluncur lebih dulu sejak beberapa detik yang lalu. Ia menjatuhkan dirinya saat tubuh Kibum terduduk lebih dulu. Kembali ditariknya tubuh itu dalam dekapannya. Seolah jika sedetik saja ia melepaskan sentuhannya, tubuh itu akan melebur dan tak mampu lagi dijamahnya.

"Salahmu. Karena aku tidak pernah bisa membencimu. Seberapa banyak pun kau mengambil semua hal yang kumiliki, aku tidak pernah bisa membencimu. Aku tidak pernah bisa membencimu. Aku tidak pernah bisa membencimu." Kibum berujar lirih. Dapat dirasakannya detakan jantung Kyuhyun yang berdegup lebih kencang. Dan setiap detakan itu terasa seperti pedang paling tajam yang menusuk-nusuk hatinya tanpa perasaan.

"Demi Tuhan, bahkan jika semua orang di dunia ini tidak memerhatikanmu, tidak menyayangimu, aku adalah orang pertama yang akan menyayangimu, memedulikanmu, dan melakukan apa pun untukmu. Kenapa kau selalu berpikir semua orang hanya menyayangiku, sementara aku, Park Kyuhyun, saudara kembarmu, bahkan lebih menyayangi dirimu ketimbang diriku sendiri!" Kyuhyun terisak hingga dadanya sakit. Dari awal ia sudah tahu kalau inilah alasan Kibum mendiamkannya selama ini.

"Kau mengambil segalanya dariku, Kyu. Kau mengambil segalanya. Dan aku tidak pernah bisa membencimu." Tubuh Kibum semakin melemas. Terkulai di bahu adik kembarnya. Nafasnya terdengar tak beraturan di telinga Kyuhyun. Sebisa mungkin Kibum mempertahankan kesadarannya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan pada Kyuhyun.

"Ani, Kibumie. Aku tidak pernah mengambil segalanya darimu. Tidak pernah! Kau salah paham."

"Kau mengambil segalanya, Kyu. Bahkan… kejadian di meja operasi enam tahun yang lalu, masih menjadi mimpi burukku selama ini. Kau tidak pernah tahu seberapa ketakutannya aku saat Eomma dan Appa memaksaku mendonorkan salah satu ginjalku untukmu. Kau tidak pernah tahu kalau selama ini aku kesakitan dan kau tidak pernah memedulikanku. Kau selalu mengira aku mencari perhatian Jungsoo Hyung padahal yang aku inginkan adalah perhatianmu."

Kyuhyun membisu. Jantungnya mulai terasa nyeri.

"Kau tidak pernah tahu apa-apa, Kyu. Tidak pernah tahu! Bahkan saat aku menunggumu di depan sekolah untuk merayakan hari ulang tahun bersama, kau malah pergi bersama Changmin. Paboya! Sekarang beritahu aku bagaimana caranya aku membencimu, Kyu?"

Kyuhyun tak mengeluarkan suara apa pun. Sakit di dadanya membuat mulutnya terkatup sempurna. Dapat di rasakannya bahunya yang mulai terasa berat pertanda kesadaran Kibum sudah menghilang sepenuhnya. Air mata Kyuhyun mengalir dengan deras saat itu.

"Apa maksud semua ini?"

.

.

To be Continue

Makasih yang udah kasih review di chapter sebelumnya. Mian, ne, saya tidak bisa membalas reviewnya satu persatu.

Oya, bagian summary-nya terpaksa saya edit ulang. Maaf bila membuat tak nyaman.

.

.

You can contact me at

nhyea1225

5467BAFB

Thankuuu… ^.^