Title
Belongs to Both of Us
Chapter : 4
Author : Nae
Rate : T
Genre : Brothership
Main Cast :
Cho Kyuhyun. Kim Kibum. Park Jungsoo. And Other
Disclaimer : All of you know
Summary:
"Ah, padahal mereka lahir dan tumbuh bersama. Tapi kenapa seperti ini?"/ "Jungsoo Hyung adalah Hyung terbaik yang kumiliki. /"Kau menyedihkan, Hyung." / "Mwo? Hanya karena itu? Aiisshh… Jinjja. / "Kyu, aku begitu ingin seperti dirinya."/ Sekarang beritahu bagaimana caranya aku membencimu, Kyu."/ "Anak ini, kenapa berpikir untuk memberiku benda seperti ini? Pabbo!"/
Warning :
OOC,typos, ide pasaran dan mudah ditebak, geje, tidak nyambung dan berbagai hal gak penting lainnya.
.
.
"Jungsoo-ah, bisa tolong bukakan pintu?"
Dengan malas, Jungsoo bangkit dari duduknya. Melepas jas kerjanya dan melonggarkan dasinya. Dengan ogah-ogahan ia melangkah mendekati pintu utama. Ia baru saja pulang dari kantor dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang nonton saat bel rumah ditekan berkali-kali dengan tak sabar. Membuat ia rasanya ingin melempari sosok—yang ia yakini salah satu dari kedua dongsaeng-nya—yang menekan bel dengan brutal seperti saat ini dengan jitakan tanpa henti.
"YA! Kau ini. Tidak bisa ya sa—Kyuhyun!" Refleks saja Jungsoo menahan tubuh Kyuhyun yang limbung ke depannya. "A-apa yang terjadi, huh?" tanya Jungsoo dengan suara bergetar panik. Diliriknya Kibum yang saat ini berada dalam gendongan adik bungsunya itu. Jungsoo cukup pintar untuk tahu kalau Kibum pingsan dan bukan tidur biasa. Dengan segera ia mengambil alih tubuh Kibum, mencoba meringankan beban Kyuhyun yang juga tampak begitu payah.
"Kyunie, waeyo?" Nyonya Park keluar dari dapur begitu gelombang suara Jungsoo yang ia yakini lebih dari 20 KHz itu merambat sampai telinganya. Segera mungkin ia memburu tubuh Kyuhyun. Jungsoo memilih untuk menangani Kibum, memercayakan Kyuhyun pada eomma-nya.
"Apa yang terjadi, sayang?" Nyonya Park merangkul Kyuhyun. Memeriksa suhu tubuh putra bungsunya itu.
Kyuhyun menarik nafas, mencoba meredam segala nyeri yang tengah berpesta-pora dalam tubuhnya. Ia berdiri tegak, meski tidak benar-benar tegak, dan melepaskan rangkulan sang Eomma. "Jangan sentuh aku…" Ia berusaha berbica dengan tegas. Namun, hanya suara parau nan lirih yang terdengar.
Nyonya Park menatap Kyuhyun tak mengerti. Berusaha meraih tubuh Kyuhyun yang langsung ditepis dengan kasar oleh putranya itu. "Wae? K-kau kenapa, Kyu?"
"Ja-jangan..hh… pernah menyentuhku! A-aku m…hh.. mem-bencimu!" Dengan susah payah Kyuhyun berjalan meninggalkan eomma-nya. Ia berusaha menggapai benda apa pun yang bisa dijadikannya tumpuan. Dadanya terasa begitu sakit, seperti dihimpit berton-ton besi. Jantung dan paru-parunya seakan akan meledak saat itu juga. Beberapa kali ia terbatuk dan beberapa kali juga ia merasa dadanya seperti dihujani peluru. Kyuhyun benar-benar tidak tahan lagi. Ia ambruk. Beberapa bingkai foto dan hiasan yang terpajang di atas lemari tesenggol tangannya, berjatuhan dan pecah.
"KYUNIE!" Nyonya Park panik. Buru-buru ia menghampiri Kyuhyun dan berhambur memeluk putranya yang ternyata masih mempertahankan kesadarannya itu dengan erat.
"Lepaskan aku! Jangan menyentuhku! Aku… ini… bukan manusia!" Kyuhyun kembali memberontak dalam pelukan eomma-nya. Nyonya Park semakin mengeratkan pelukannya. Ia menangis di sela kebingungannya.
"Ke-kenapa… hh…kau… mem-biarkan a-aku hidup, dan mengambil… apa.. yang jadi…hh… hak Kibumie, Eomma?"
Sesaat Nyonya Park tercengang mendengar apa yang baru saja Kyuhyun lafalkan. Pelukannya mengendur, dan Kyuhyun bisa dengan mudah melepaskan diri. Namja yang seluruh wajahnya sudah merah padam menahan nyeri itu mencoba berdiri. Mencoba melangkah menjauhi eomma-nya yang masih mematung tak percaya dalam posisi yang sama. Wanita paruh baya itu terdiam dalam tangisnya. Tanpa harus bertanya pada siapa pun, ia yang paling tahu dan paling mengerti apa yang Kyuhyun bicarakan, apa yang membuat Kyuhyun tak ingin disentuh olehnya, apa yang membuat Kyuhyun membencinya. Ia tahu, yang paling tahu alasan itu.
"Aigoo… apa yang terjadi? Eomma kenapa, Kyu?" Jungsoo berdiri di hadapan Kyuhyun. Ia berusaha meraih Kyuhyun yang tampak sibuk mencari pegangan. Matanya terfokus pada eomma-nya yang masih larut dalam tangisnya.
"Hyung… aku ingin mati saja…" lirih Kyuhyun. Ia terbatuk beberapa kali. Kali ini ada yang berbeda dengan batuknya. Sesuatu berwarna merah tampak memuncrat dari mulut Kyuhyun. Mengotori kemeja putih Jungsoo. Bola mata Jungsoo membulat sempurna melihat bercak merah itu. Dan di detik berikutnya, kepala Kyuhyun terkulai di dadanya. Dalam kepanikannya Jungsoo berusaha menahan berat badan Kyuhyun yang sudah sepenuhnya bersandar padanya.
"YA! EOMMA!"
.
.
"Katakan, Kibumie! Apa yang kau katakan pada Kyuhyun?!"
Langkah Jungsoo terhenti di depan pintu ruangan Yesung Uisa. Tangannya yang hendak memutar handle pintu tertahan seketika. Suara appa-nya yang keras menahan segala pergerakannya. Seluruh syaraf dalam tubuhnya hanya difokuskan pada telinganya. Otaknya yang meski tidak sejenius kedua adiknya dipaksa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi terus berderet-deret dalam kepalanya.
Tentang kenapa Kyuhyun dan Kibum pulang dalam keadaan kacau.
Tentang kenapa Kibum mengguman tak jelas, berkeringat dingin, dan bergerak gelisah dalam pingsannya beberapa jam yang lalu.
Tentang kenapa ia menemukan eomma-nya menangis pilu dan terduduk lemas di lantai.
Tentang kenapa Kyuhyun tiba-tiba berkata ingin mati saja.
Dan tentang kenapa Appa berteriak dengan begitu keras pada Kibum saat ini.
Apa Kibum alasan semua kejadian ini?
Jungsoo memasang telinganya baik-baik. Semakin dirapatkannya tubuhnya pada pintu. Di balik kaca pintu ia mengamati keadaan di dalam ruangan itu.
"katakan, Park Kibum!"
Tuan Park mengguancang tubuh Kibum dengan sedikit keras. Kibum sendiri tampak menunduk dalam dan larut dalam ketidakmengertiannya. Nyonya Park masih menangis di tiga jam terakhir ini. Terlebih begitu mendengar bahwa Kyuhyun berada dalam kondisi terburuk. Yesung Uisa—si pemilik ruangan—mencoba menghentikan aksi Tuan Park yang terbilang cukup kasar. Dokter muda itu mencoba melepaskan cengkraman tangan kekar Tuan Park di bahu Kibum yang ternyata begitu sulit.
"Aniya, Appa…" Kibum meringis. Cengkraman appa-nya terasa nyeri di bahunya. Ia menunduk dalam, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan appa-nya.
Emang ada apa dengan Kyuhyun? Apa yang sudah aku lakukan padanya? Kenapa Appa dan Eomma terlihat begitu marah padaku? Apa aku yang membuat penyakit Kyunie kambuh sampai kondisinya benar-benar kritis? Kibum membatin.
Sungguh! Kibum tidak tahu apa yang sudah terjadi. Seingatnya, saat itu ia berada di lapangan basket, berbicara banyak hal dengan Kyuhyun, dan setelah itu ia tidak ingat apa pun lagi. Saat terbangun, ia sudah menemukan Jungsoo di sampingnya. Dan saat itu juga Kakak satu-satunya itu mengajaknya ke rumah sakit, dan berakhir di sini. Di sebuah ruangan Yesung Uisa yang bagi Kibum tampak seperti ruang sidang, dan ia sebagai tersangka sidang itu.
"Bohong! Kau mengatakan soal donor itu, kan?" Nyonya Park tiba-tiba bersuara. Ia menatap Kibum yang masih tertunduk. Di balik pintu sana, Jungsoo tampak mengernyit tidak mengerti. "Kau mengatakan itu pada Kyuhyun, hn?!"
Kibum masih diam. Pertanyaan Eomma yang sarat akan tuduhan itu menampar hatinya. Karena itukah Kyuhyun seperti ini? Demi Tuhan, Kibum tidak bermaksud menyakiti Kyuhyun dengan memberitahu tentang donor itu. Tidak sama sekali.
"YA! Kibumie! Jangan diam saja! Katakan apa yang sudah kau lakukan pada Kyuhyun?!" Nyonya Park mengambil alih tubuh Kibum dan mengguncang tubuh itu dengan tak sabar. Melihat hal itu, Jungsoo tidak tahan lagi. Ia tidak suka Kibum ditekan seperti itu meski oleh kedua orangtuanya sendiri. Baru saja ia hendak masuk saat suara eomma kembali menahan pergerakannya.
"Waeyo, Kibumie? Kenapa kau mengatakannya? Itu bahkan sudah enam tahun yang lalu. Kenapa kau tidak melupakannya saja? Apa kau tidak ikhlas mendonorkan ginjalmu untuk saudara kembarmu sendiri, huh? Kenapa kau tidak mengerti juga apa yang Eomma katakan dulu? Kau senang bila Kyuhyun mati saat itu? Kau tidak ingin Kyuhyun hidup dan mengambil semua perhatian kami, kan? Kenapa kau berpikir sepicik itu? Kau begitu jahat, Kibumie!"
Jungsoo tercekat di tempatnya. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku tangan itu memutih. Tidak perlu IQ tinggi untuk mengerti kata-kata eomma-nya. Pertanyaan itu akhirnya terjawab juga. Bukan, bukan pertanyaan beberapa jam yang lalu. Tapi pertanyaan enam tahun lalu yang selama ini berkecamuk dalam dadanya. Pertanyaan yang kerap membuat perasaannya begitu berantakan. Tak terasa cairan bening itu terjun bebas dari balik matanya, menganak sungai di pipinya. Dengan lesu ia membuka pintu ruangan itu. Matanya yang penuh dengan air mata menatap kedua orangtuanya dengan sedih namun segala tuntutan tersorot kuat di balik mata bening itu.
"Eomma, Appa, aku mendengar semuanya, dan aku ingin kalian menjelaskan semuanya padaku sekarang juga."
Keadaan membisu. Semua mata, kecuali Kibum yang memilih untuk menunduk, menatap Jungsoo yang saat ini berdiri di ambang pintu. Suara Tuan dan Nyonya Park tercekat di tenggorokan. Mereka menatap Jungsoo gugup. Selama ini Jungsoolah yang paling mereka hindari untuk tahu tentang masalah yang satu ini.
"Kibumie, kau belum menemui Kyuhyun, kan? Kajja, temuilah dia. Hyung yakin ia akan cepat sadar jika kau menemaninya." Dengan sedikit memaksa, Yesung menarik tangan Kibum dan menariknya keluar ruangan. Ia tidak ingin sepupunya itu terlibat lebih jauh lagi ke dalam perdebatan—yang ia yakini—akan terjadi dalam hitungan detik ini. "Ruang 407. Ingat, ne?" Dan dokter muda itu menutup pintu segera setelah memastikan Kibum berjalan ke arah yang seharusnya. Rasa pilu seketika menyelimutinya begitu mengingat bahwa tanpa ada yang tahu, Kibum termasuk salah satu orang yang paling menderita di sini.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau Eomma dan Appa merahasiakan ini semua dariku!" Jungsoo menatap sengit kedua orangtuanya. Suaranya berada di nada normal, tapi tidak bisa dikatakan tenang.
Yesung memijit keningnya, ia yang paling tidak nyaman sejak tadi. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya menghentikan perdebatan yang mengarah ke arah pertengkaran itu.
"Enam tahun lalu, kalian memaksa Kibum mendonorkan ginjalnya, huh? Kenapa kalian melakukan ini? Waeyo, Appa, Eomma? Apa yang sudah kalian lakukan pada Kibumie? Kalian bahkan tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan mereka di enam tahun ini."
"Karena kami tidak punya pilihan, Jungsoo-ah. Dan sampai saat ini Kibum tumbuh dengan baik meski dengan satu ginjal. Kibum hanya belum paham, jadi ia mendiamkan Kyuhyun sampai saat ini." Itu suara Nyonya Park. Ia berujar lirih. Berjalan mendekati Jungsoo dengan tertatih. Perasaannya juga tidak kalah terluka saat ini. Dipeluknya tubuh putra pertamanya itu dengan erat. Berharap dengan pelukan itu ketenangan bisa menjamah hati Jungsoo. Meredamkan kemarahan di dalamnya. "Mianhae…"
"Tapi sayangnya tidak sebaik itu, Bibi." Yesung menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Kepalanya mendadak pening. Sontak seluruh mata berputar ke arahnya.
.
.
Kibum berdiri di depan pintu ruangan bernomor 407 seperti yang Yesung Uisa katakan. Memutar handle pintu dan berjalan pelan mendekati ranjang tempat saudara kembarnya terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai alat medis di tubuh kurusnya. Menarik kursi lebih dekat dengan ranjang dan terduduk kaku di sana. Bola matanya yang tampak redup dan kehilangan sinar, menatap kosong sosok pucat di hadapannya. Dan beberapa menit ia hamburkan hanya untuk menjerumuskan diri dalam kesunyian, dalam kebiusan, dan dalam kekosongan.
"Mianhae…" lirihan itu akhirnya Kibum lontarkan. Ia benamkan kepalanya di kedua tangannya yang terlipat di atas ranjang, di sisi tubuh Kyuhyun.
Kibum tidak tahu kenapa air matanya tak kunjung keluar meski sejak tadi ia begitu ingin menangis. Bahkan kata-kata eomma-nya yang berhasil merobek sadis perasaannya pun tidak mampu membuatnya menangis. Dadanya terasa begitu sesak. Sangat sesak hingga rasanya seperti ada yang menyumbat paru-parunya. Ternyata, menangis dalam hati jauh lebih menyakitkan.
"Kyu…" panggil Kibum parau tanpa mengubah posisinya
Rasanya ingin sekali ia mengadu banyak hal pada Kyuhyun tentang apa yang baru saja terjadi. Tentang seberapa lebar luka yang baru saja tergurat dalam hatinya. Ingin rasanya ia mengatakan pada adik kembarnya itu bahwa apa yang eomma-nya tuduhkan adalah kesalahan besar. Ia tidak pernah merasa tak rela mendonorkan salah satu ginjalnya. Tidak sama sekali. Ia sangat menyayangi Kyuhyun. Dan hanya Tuhan dan dirinyalah yang tahu seberapa besar rasa sayangnya pada Kyuhyun.
Saat itu, enam tahun yang lalu, Eomma dan Appa memintanya untuk mendonorkan salah satu ginjalnya untuk Kyuhyun. Tapi tidak ada di antara mereka yang menggenggam tangannya dan meyakinkan dirinya kalau ia akan baik-baik saja. Mereka terlalu fokus pada Kyuhyun tanpa tahu kalau ia juga masih bocah sebelas tahun yang begitu takut dengan alat-alat operasi. Meski begitu, ia tetap meyakinkan hatinya sendiri kalau ia akan bertahan semampunya. Demi keberhasilan operasi. Demi Kyuhyun, dongsaeng-nya yang paling ia sayangi.
Enam tahun yang lalu, selain Tuhan, tidak ada yang tahu kalau hatinya menjerit histeris, memohon perlindungan, berharap orangtuanya datang dan menenangkannya saat untuk pertama kalinya ia memasuki ruang operasi. Selain Tuhan, tidak ada yang tahu kalau ia berjuang dengan begitu keras untuk melewati detik-detik menyakitkan dalam hidupnya. Selain Tuhan, tidak ada yang tahu kalau ia berusaha terlihat baik-baik saja hanya untuk membuat perhatian semua orang terpusat pada Kyuhyun. Selain Tuhan, tidak ada yang tahu kalau alasannya menarik diri, memberi jarak antara dirinya dan Kyuhyun selama enam tahun ini adalah untuk menyembunyikan segala kerapuhannya, segala kelemahannya, dan membuat semua orang lebih memperhatikan Kyuhyun. Karena selain Tuhan, tidak ada yang tahu apa yang tersembunyi dalam hati kecil manusia.
"Kibumie…"
Mata Kibum yang sempat menutup selama beberapa detik refleks terbuka begitu suara itu menepi di telinganya. Dengan segera ia mengangkat kepalanya, menatap Kyuhyun yang tampak tersenyum lebar kepadanya. Saudara kembarnya itu terlihat baik-baik saja. Kibum bahkan tidak tahu sejak kapan Kyuhyun mengubah posisinya menjadi duduk, dan juga melepas masker oksigen yang digunakannya. Kibum rasa, apa yang Yesung Hyung katakan benar. Kyuhyun akan cepat sadar jika ia menemaninya.
Bola mata Kibum yang sempat redup, kembali berbinar begitu melihat senyuman rapi yang tersemat di balik bibir pucat Kyuhyun. Tanpa menunggu detik berikutnya, diterjangnya tubuh itu, dipeluknya tubuh kurus itu dengan erat. Meluapkan rindu yang selama ini terpasung kuat dalam dada. Air mata itu akhirnya membludak juga. Menyisakan sensasi lega dalam hatinya. Kibum menangis, meluapkan segala emosi, kesedihan, kebahagian, dan kerinduan yang sempat memadati sudut-sudut hatinya.
"Kyu… Kenapa kau begitu bodoh, huh? Kenapa kau berpikir kalau kau sudah mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku? Demi Tuhan, Kyunie… aku tidak pernah merasa keberatan mendonorkan ginjalku padamu. Bahkan jika saat itu Appa dan Eomma memintaku untuk mendonorkan seluruh organ tubuhku, aku tidak apa-apa, Kyu. Demi Tuhan…"
"Aku tahu, Kibumie. Aku tahu itu. Aku tahu kau begitu menyayangiku hingga jika saja nyawa bisa didonorkan, kau akan memberikan itu padaku." Kyuhyun tersenyum haru. Diusapnya punggung Kibum dengan lembut. Beberapa hari terakhir ini Kibum terlihat lebih cengeng dan manja padanya. Apa hyung-nya itu benar-benar sedang mencari perhatiannya, eoh? "Kau pasti kena marah Appa dan Eomma. Mian, ne?"
Kibum tak menjawab. Kyuhyun melepaskan pelukan Kibum dan menatap bola mata Kibum sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya ke arah jendela. Butiran putih tampak berjatuhan di luar sana.
"Kibumie, apa ini salju pertama yang turun?" tanya Kyuhyun.
Kibum menghapus air matanya, mengangguk pelan. Saat menuju rumah sakit tadi salju belum turun.
"Saat salju pertama turun, apa yang akan kau lakukan, huh?"
"Menemuimu dan menggenggam tanganmu. Tak akan melepaskannya sampai kau merasa hangat." Kibum berujar. Dulu ia selalu mengatakan hal itu saat salju pertama turun. Apa pun yang terjadi, saat salju pertama turun, Kibum akan menemui Kyuhyun, menggenggam tangan Kyuhyun dan membagi kehangatan untuk adiknya itu.
"Entah sudah berapa kali musim dingin yang kulalui tanpa genggaman tanganmu. Untuk musim dingin tahun ini, rasanya aku tidak ingin melepaskan tanganmu hingga waktu yang cukup lama." Kyuhyun meraih tangan Kibum, menggenggamnya dengan begitu erat. Seolah tidak boleh ada yang melepaskan tangan itu lagi.
Dan untuk beberapa saat mereka larut dalam diam. Menatapi butiran-butiran putih di balik jendela. Saling mentransfer kehangatan, saling melepas kerinduan. Tanpa ada niat untuk saling melepaskan genggaman. Rangkulan hangat menjemput kebahagiaan dan memenuhi relung hati kedua saudara kembar itu. Udara musim dingin tampak enggan menyapa kulit mereka. Salju-salju di luar sana turut tersenyum, ikut berbahagia seolah apa yang terjadi saat ini adalah hal yang paling dinanti.
"Kibumie, sebenarnya aku begitu merindukanmu. Tapi aku lebih merindukan teman kencanku. Bawakan PSP-ku, ne?" celetuk Kyuhyun setelah beberapa saat membiarkan kesunyian menyelimuti keadaan.
"Hn…" Entahlah tiba-tiba saja Kibum merasa begitu mengantuk. Ia sandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun.
"YA! Kibumie, kau pingsan, huh?" Kyuhyun mengedikan bahunya. Memaksa Kibum untuk membuka mata.
"Ani. Aku hanya ngantuk dan ingin tidur, Kyu." Mata Kibum terasa semakin berat. Ia benar-benar mengantuk.
"Kau tidak boleh tidur! Kau harus pulang dan membawakanku PSP."
Kibum tak menjawab. Ia merasa tubuhnya diguncang pelan. Tapi matanya terasa begitu berat untuk terbuka.
"YA! Kibumie!"
"Kibumie! Kibumie! Bangunlah!"
"Kibumie! Kau pingsan?"
"Kibumie, ireonna! Jangan buat Hyung cemas, jebal…"
"KIBUMIE!"
.
.
Kyuhyun terlahir dalam keadaan tidak sempurna. Seluruh organ penting dalam tubuhnya nyaris tidak berfungsi dengan baik. Seperti kebanyakan bayi kembar lainnya, di mana salah satu di antara mereka tumbuh dengan kesehatan yang buruk. Sampai sekarang Eomma tidak pernah mengerti kenapa semua itu terjadi.
Bagi Appa dan Eomma, Kyuhyun tumbuh dan bertahan hingga tujuh belas tahun ini adalah mukjizat terbesar yang Tuhan berikan pada kami. Pada keluarga kami. Itu alasan kenapa kami selalu percaya Tuhan menjaga kita. Karena sesungguhnya, Kyuhyun tumbuh dan bertahan, bukan karena Eomma berhasil merawatnya. Bukan karena Appa berhasil membesarkannya. Tapi karena Tuhan yang begitu menyayangi kita semua hingga menjaga Kyuhyun dan membiarkan ia tetap di sisi kami.
Demi Tuhan, Jungsoo-ah… kami tidak pernah bermaksud menyakiti Kibum. Waktu itu kondisi Kyuhyun kritis dan ia membutuhkan donor ginjal secepatnya. Dan saat itu, Kibumlah satu-satunya harapan kami. Kami berpikir, setidaknya Kibum masih memiliki jantung dan paru-paru yang sehat saat itu. Kami juga percaya Kibum akan tumbuh dengan baik meski hanya dengan satu ginjal. Kami tahu kami begitu egois dan tidak memedulikan perasaan Kibum. Tapi kami berharap kau mengerti bagaimana perasaan kami saat itu.
Jungsoo-ah, mianhae… jeongmal mianhae... kami tahu kami egois karena begitu menginginkan kedua anak kami hidup dan tumbuh bersama-sama hingga harus ada yang tersakiti seperti ini.
Kata-kata Eomma mengiringi langkah Jungsoo memasuki ruangan pucat itu. Mata sembabnya tampak memandang sayu kedua dongsaeng-nya yang saat ini menjadi penghuni ruangan itu. Salah satu dari mereka tampak terbaring lemah dengan berbagai alat medis di tubuhnya. Dan dongsaeng-nya yang lain tampak tertidur dalam posisi duduk di kursi, di samping ranjang.
Ia menghentikan langkahnya saat posisinya dengan Kyuhyun dan Kibum lumayan dekat. Ia mengusap pelan rambut Kyuhyun yang tampak lembab, kemudian bergantian mengelus rambut Kibum. Kesedihan terpancar dari balik wajah tampan Jungsoo. Demi apa pun, Jungsoo tidak pernah mengira kalau terbangunnya sekat pemisah antara kedua dongsaeng-nya itu adalah karena hal yang begitu kompleks seperti ini. Bukan hal konyol dan sepele seperti yang pernah Kyuhyun kira. Bukan karena PSP, bukan karena buku, bukan karena berebut perhatian, dan bukan juga karena dirinya. Tapi karena hal yang ternyata cukup rumit yang membuat perasaannya juga begitu terluka.
"Kibumie…" Jungsoo memanggil nama adik pertamanya itu. Air mata menggantung di balik mata sipitnya begitu kenyataan pahit yang beberapa jam lalu Yesung Uisa katakan ter-replay sempurna dalam ingatannya.
Aku mengira kalian melupakan Kibumie terlalu banyak. Kalian lupa memerhatikannya dan menjaga kesehatannya. Kalian lupa memantau apa saja yang dilakukannya selama enam tahun ini. Kalian lupa mengingatkannya untuk tidak beraktifitas terlalu banyak. Kalian lupa kalau Kibumie hanya memiliki satu ginjal dan tidak boleh beraktifitas terlalu berat. Tapi nyatanya, aku kira Kibumie melakukan banyak aktifitas yang begitu berat selama ini.
Waktu Kibum sakit, aku sempat mengambil sample darahnya dan melakukan beberapa tes. Dan dari hasil pemeriksaan itu, Kibum didiagnosa mengalami gagal ginjal yang cukup parah. Saat aku memberitahunya, ia hanya mengatakan akan memberitahu keluarganya sendiri dan melarangku memberitahu kalian. Dari awal aku sudah menduga kalau Kibum tidak akan memberitahu kalian soal ini semua.
Jungsoo memeluk Kibum dengan erat. "Kibumie…" Suaranya bergetar menahan tangis. Dipeluknya dengan protektif adiknya yang paling tertutup itu. Begitu tertutup hingga Jungsoo tidak pernah tahu kalau ada luka yang menganga lebar dalam hati adik pertamanya itu. Luka yang sampai saat ini masih membekas dan mungkin masih terasa nyeri.
"Mianhae, Kibumie… Mianhae… Hyung tidak pernah mencoba melihat lebih jauh apa yang ada dalam dirimu." Jungsoo mengeratkan pelukannya lebih kuat. Mencium puncak kepala Kibum dengan sayang. Kibum tampak tidak terusik dengan apa yang Jungsoo lakukan. Membuat Jungsoo mengernyit. Selama ini, Kibum bukan tipe orang yang susah dibangunkan seperti Kyuhyun. Adik pertamanya itu akan mudah bangun meski hanya dengan sentuhan kecil pun.
"YA! Kibumie!" Jungsoo melepaskan pelukannya. Dinguncangnya tubuh Kibum dengan lembut.
"Kibumie! Kibumie! Bangunlah!" Tidak ada respon apa pun dari Kibum.
"Kibumie! Kau pingsan?" Jungsoo cemas. Ia mengguncang tubuh Kibum lebih kuat.
"Kibumie, ireonna! Jangan buat Hyung cemas, jebal…"
"KIBUMIE!" Jungsoo mulai panik.
.
.
Kibum membuka matanya perlahan saat suara itu terdengar memekakan telinganya. Ia menggeliat tak nyaman. Bola matanya berputar untuk beberapa detik. Begitu menyadari posisinya saat ini, ia segera mengangkat kepalanya. Dan raut kecewa tercetak jelas di balik wajah tampannya saat menyadari bahwa Kyuhyun masih dalam kondisi yang sama sejak ia memasuki ruangan tadi. Hanya mimpi. Hatinya membatin pilu. Sesak yang sempat menguap itu kembali lagi. Ditatapnya wajah pucat Kyuhyun dengan sedih.
"Kibumie…" Jungsoo memeluk Kibum dengan erat. Kibum baru sadar kalau ada Jungsoo di dekatnya. "Hyung membangunkanmu, ya? Mian, ne?"
Kibum tidak merespon. Ia masih menatap wajah Kyuhyun dengan sejuta harapan bahwa saat inilah ia tengah bermimpi. Lantas setelah itu dilemparkannya tatapannya ke arah jendela. Ketiadaan butiran putih di balik jendela membuktikan bahwa ia berada dalam realita yang sesungguhnya. Rasanya Kibum ingin menangis mengakui bahwa Kyuhyun masih dalam kondisi yang sama. Tapi, entah kenapa air mata itu tidak mudah ia keluarkan, tak seperti dalam mimpinya tadi.
"Eomma pasti sedang panik. Jangan dipikirkan, ne?" Jungsoo kembali memeluk Kibum begitu tidak ada respon apa pun dari namja itu. Membuatnya begitu cemas. Ia takut Kibum benar-benar terpukul dengan kata-kata Eomma beberapa jam yang lalu.
Kibum menarik nafas panjang. Dengan perlahah ia melepaskan pelukan Jungsoo dan berdiri dari duduknya. "Hyung, aku mau pulang dan mengambil beberapa keperluan Kyuhyun. Kau mau nitip sesuatu?"
Untuk beberapa detik Jungsoo terdiam mendengar pertanyaan Kibum yang terdengar begitu dingin. Jangan lupakan ekspresi datar di balik wajahnya. Semuanya membuat Jungsoo merasa kesedihan dalam hatinya semakin memuncak. Kibum terlalu pandai menyembunyikan perasaannya. "Ani. Jangan lama-lama. Segera kembali dan temani Kyunie, arraseo?"
"Ne, Hyung…" Kibum mengangguk singkat dan segera berjalan meninggalkan ruangan. Tepat saat ia membuka pintu, tiba-tiba saja seseorang memeluk tubuhnya dengan begitu erat. Dari aroma dan halusnya tangan itu, Kibum tidak perlu repot-repot menebak siapa yang tiba-tiba saja menghangatkan jiwanya itu.
"Mianhae, Kibumie… jeongmal mianhae… Eomma benar-benar minta maaf. Eomma tidak pernah tahu kalau kau begitu menderita selama ini." Nyonya Park melirih panjang. Di usapnya punggung Kibum. Tuan Park tidak ingin melewatkan bagiannya. Ia mengusap rambut Kibum dengan sayang. Tangan kekarnya yang tadi sempat menyakiti Kibum mengatakan penyesalan tanpa ujung dalam usapannya. Jungsoo yang saat ini berdiri di samping ranjang Kyuhyun hanya tersenyum simpul melihat hal itu. Dan Changmin yang datang bersama Tuan dan Nyonya Park menatap bingung adegan di hadapannya.
"Aku mau pulang dan mengambil beberapa keperluan Kyuhyun. Kalian mau nitip sesuatu?" Kibum melepaskan pelukan eomma-nya dan melontarkan pertanyaan serupa seperti yang ia lontarkan pada Jungsoo. Dengan nada suara dan ekspresi wajah yang sama. Membuat Tuan dan Nyonya Park sesaat terpaku dan menggeleng kaku.
"Keurae…" Kibum melenggang pergi.
"Kibumie…" Nyonya Park menggenggam tangan Kibum. Menahan putra keduanya itu untuk pergi.
"Gwaenchanha. Aku akan pulang sebentar dan segera kembali untuk menemani Kyuhyun." Kibum menepis tangan Nyonya Park dengan pelan lantas melanjutkan langkahnya. Meninggalkan keluarganya plus Changmin yang masih terpaku di tempatnya.
"Apa dia marah pada kita?" Nyonya Park menatap Tuan Park dengan sedih.
Tuan Park menggeleng pelan dan merangkul istrinya itu dengan kuat. "Biarkan saja dia marah. Memang seharusnya seperti itu, sayang. Kita telah menghancurkan hidupnya selama ini. Jika dia tidak marah, kita akan menanggung penyesalan seumur hidup kita."
Changmin yang paling tidak mengerti apa-apa, menatap punggung Kibum yang semakin menjauh. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja langkhanya menuntun ia untuk menyusul Kibum. Ada sesuatu yang berbisik dalam hatinya dan menyuruhnya menemani namja yang saat ini menjadi teman sekelasnya itu.
"Kibum-ah, aku temani kau pulang, ne?" seru Changmin saat ia berhasil menyamakan langkahnya dengan langkah Kibum. Senyumnya tergurat dengan begitu lebar di wajahnya.
Kibum tak menjawab. Tidak menoleh juga.
"Aiissh, kau ini dingin sekali. Diam berarti setuju, eoh?" Changmin nyerocos. Kibum menghela nafas pendek, perasaannya masih diliputi kekecewaan dan ia terlalu malas meladeni Changmin. Jadi biarkan saja namja yang lebih tinggi darinya itu melakukan apa yang mau dilakukannya.
.
.
Kibumie… Sebenarnya aku lahir dalam keadaan kuat. Sangat kuat. Hanya saja, seluruh kekuatan yang kupunya kupercayakan padamu. Semuanya karena aku ingin kita selalu bersama. Aku ingin kau selalu menggenggam kuat tanganku. Aku ingin sejengkal pun tak ada jarak antara kita.
Kibum melangkah memasuki kamar Kyuhyun. Ruangan bernuansa biru itu tidak serapi kamarnya. Itu yang membuat Kibum tidak terlalu suka tidur di kamar Kyuhyun. Jika Kyuhyun ingin tidur bersamanya, Kibum lebih memilih untuk tidur di kamarnya meski pada akhirnya kamarnya yang menjadi berantakan karena ulah adik kembarnya itu.
Rasanya sudah sangat lama ia tidak memasuki kamar Kyuhyun. Tidak banyak berubah. Bahkan foto ia dan Kyuhyun masih terpajang kokoh di dinding di atas tempat tidur. Kyuhyun begitu lucu di foto itu. Membuat Kibum merasa kerinduannya semakin berakar kuat dalam dada. Ia melangkah mendekati meja belajar Kyuhyun, mengambil PSP yang tergeletak sembarang di atas tumpukan buku. Dalam mimpinya, Kyuhyun memintanya untuk mengambil hadiah pemberian Jungsoo itu.
Kibumie…
Ini salju pertama yang turun ke bumi. Butiran putih itu menghantarkan sejuta harapan hampa ke dalam dadaku. Kau tahu? Aku begitu merindukan dirimu. Merindukan dirimu dengan sangat banyak. Aku mengitung tiap detik yang terlewati, berharap kau menghapus jarak yang sudah tercipta dan kembali menggenggam erat jemariku yang sudah membeku.
Kibum membalikan badannya setelah puas membereskan meja belajar Kyuhyun yang tampak berantakan. Setelah itu ia berjalan mendekati lemari pakaian yang berada tidak jauh dari tempat tidur milik Kyuhyun. Seperti biasa, Kyuhyun selalu lupa menutup pintu lemari. Kibum hendak menutup pintu lemari itu saat bola matanya menangkap sesuatu di dalam lemari itu. Perlahan ia menyibakan beberapa pakaian yang menggantung di dalam sana. Dan sejurus kemudian ia mengeluarkan semua pakaian Kyuhyun dengan cepat. Tidak sabar ingin melihat apa yang ada di balik baju-baju itu.
Dan ia terpaku. Lama.
Kibumie…
Apakah ini benar-benar salju pertama yang turun, huh? Aku merasa tengah bermimpi saat ini. Tapi genggaman tanganmu terasa begitu nyata dalam jiwa. Memberi kehangatan yang selama ini tak lagi ada. Rasanya jika ini hanya mimpi, aku ingin tidur selamanya. Tapi, begitu banyak hal yang ingin aku tunjukan padamu. Tentang seberapa banyak aku menyayangimu…
"Sebanyak itulah…"
Kibum tersadar begitu suara cempreng itu bertepi di telinganya. Tidak berniat menoleh ke arah si pemilik suara, ia memilih untuk menyentuh apa yang sejak tadi membuatnya nyaris tak bergerak. Kotak dengan bungkus kado berbagai warna juga berbagai ukuran dari yang kecil, sedang, dan besar tampak bertumpuk di dalam lemari itu.
"Tiap hari ulang tahun kalian, tiap kali kau juara kelas, juara basket, juara olimpiade, hari natal, bahkan hari valentine, Kyuhyun selalu memaksaku untuk mengantarnya membeli hadiah untukmu. Dan besoknya ia selalu datang dengan raut wajah kecewa padaku sambil bilang, "Changmin-ah! Kau tahu? Aku gagal lagi. Aku selalu gugup saat mau memberikan hadiah-hadiah itu. Aigoo… kenapa aku pabo sekali! Waeyo? Dia bahkan bukan yeojachingu-ku". Dia selalu bilang seperti itu. Sama percis sampai aku hafal dialognya."
"Wae?" Kibum menjatuhkan tubuhnya. Dipeluknya salah satu hadiah itu. Hadiah yang Kibum ingat adalah hadiah yang Kyuhyun bawa malam itu. Hadiah berwarna biru yang sempat jatuh karena tanpa sengaja ia menabrak Kyuhyun. Sesak itu semakin mencengkram kuat dadanya.
Kibumie…
Janji kau akan menemuiku saat salju pertama turun, ne?
Perlahan, dengan tangan gemetar Kibum membuka kotak berukuran sedang itu. Changmin yang sejak tadi berdiri di ambang pintu berjalan memasuki kamar Kyuhyun dan duduk di tepi tempat tidur. Memerhatikan Kibum dalam diam.
"Anak ini, kenapa berpikir untuk memberiku benda seperti ini? Pabo!" Kibum menggumam pelan. Ditatapnya lekat-lekat baju hangat berwarna marun yang saat ini barada dalam genggamannya. Ia terkekeh sebentar sebelum akhirnya menangis pilu begitu tulisan di balik kertas yang terselip bersama hadiah itu dibacanya.
Kibumie… Kulihat akhir-akhir ini kau sering sakit. Sebentar lagi musim dingin, dan pastikan kau tidak kedinginan dengan baju hangat ini. Jangan sakit, arraseo? Saranghae, Kibumie…
Kibum menangis sampai dadanya nyeri. Air mata yang sejak tadi membendung di matanya akhirnya membludak juga. Mengalir membasahi wajahnya yang tampak pucat. Tak ada yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Begitu kacau dan berantakan. Bayang-bayang Kyuhyun yang saat ini tengah terbaring dengan berbagai alat medis di tubuhnya membingkai di mata Kibum. Kerinduan itu semakin membuat jiwanya sesak. Selama ini, terlalu banyak yang ia lewatkan. Selama ini, terlalu besar rasa gengsi dan egois yang menuhankan perasaan mereka. Padahal mereka saling sayang, mereka saling memerhatikan, mereka saling ingin menghapus spasi-spasi yang dengan begitu tega memisahkan mereka.
Changmin tersenyum di sela tangis Kibum. Perasaannya begitu lega. Ia menatap Kibum sebentar dan berjalan mendekati satu-satunya jendela di ruangan itu. Membuka tirainya dan ia mengguman pelan, "salju…"
Kibum terkesiap begitu mendengar kata itu. Matanya yang masih dipenuhi liquid bening itu ikut memandang keadaan di luar. Benar. Butiran putih tampak berjatuhan di luar sana. Itu adalah kode keras untuk ia mengambil langkah dan menghapus jarak itu, merobohkan benteng keegoisan yang memisahkan ia dan saudara kembarnya. Dengan tak sabar, meski tertatih, Kibum berdiri dan melangkah meninggalkan kamar Kyuhyun. Ia menanggalkan mantel yang sejak tadi dipakainya dan menggantinya dengan baju hangat pemberian Kyuhyun. Changmin dengan segera mengikuti Kibum dari belakang.
"Kyunie… Tunggu aku, ne? Saat salju pertama turun, aku akanmenemuimu dan menggenggam tanganmu. Tak akan melepaskannya sampai kau merasa ha—Ugh!" Kata-kata Kibum terpotong seiring langkahnya yang terhenti di ambang pintu utama kediaman keluarga Park itu. Satu tangannya memegang gagang pintu dengan erat, sementara tangan lainnya mencengkram perutnya dengan kuat. Sakit itu tiba-tiba menusuk di bagian perut sebelah kanannya.
"Kibum-ah? Gwaenchana?" Changmin merangkul tubuh Kibum yang sudah terduduk.
Kibum tak menjawab. Sibuk dengan segala sakitnya. Ia sudah ditemani penyakit ini sejak beberapa bulan ke belakang, tapi saat sakit seperti ini, gagal ginjal itu sama sekali tidak bisa diajak berteman olehnya. Ia selalu payah dan kalah oleh sakit itu. Keringat dingin berlomba keluar dari pori-pori tubuhnya seiring rasa nyeri yang semakin kerap menyiksanya. Nafasnya mulai terdengar tidak beraturan diiringi kegelapan yang perlahan mengambil alih seluruh cahaya dalam penglihatannya.
Changming menahan tubuh Kibum yang hampir tersungkur ke depan. "Kyu… harusnya kau yang menemui Kibum, bukan Kibum yang menemuimu. Kau mau membuat Jungsoo Hyung menangis dan ikut menyusul kalian juga, eoh?" Changmin nyerocos tak jelas dalam kepanikannya. Ia mengambil handphone-nya dan segera menghubungi seseorang.
.
.
To be continue…
.
.
Sebelumnya maaf ya, kalau aku selalu aja gak bisa membalas review-review yang masuk. Jujur aku suka bingung gimana balesnya. Hhehe…
Dan… meskipun aku gak begitu memaksa kalian untuk kasih review, aku tetap membaca review-reviewnya dan aku sangat senaaaaaaaanng sekali kalian mau menyempatkan untuk kasih review. Karena tanpa kalian—yang kasih review tentu saja—sadari kalian adalah alasan pertama yang membuat cerita super random ini tetap lanjut.
Jadi, thankuuuu untuk Review-nya… ^.^
.
.
Di chapter kemarin, ada yang salah. "Selama tujuh tahun ini ia tidak pernah lagi mendengar ucapan selamat ulang tahun dari Kibum." . Maksud aku itu enam tahun. Mian, ne kalau buat bingung.
.
.
Jika ada yang tidak dimengerti dan mau ditanyakan, you can contact me at (twitter : (et)nhyea1225 facebook: Nae (nhyea1225 (et) ) bbm: 5467BAFB )
.
.
Gomawo
