Title
Belongs to Both of Us
Chapter : Final
Author : Nae
Rate : T
Genre : Brothership
Main Cast :
Cho Kyuhyun. Kim Kibum. Park Jungsoo. And Other
Disclaimer : All of you know
Summary:
"Ah, padahal mereka lahir dan tumbuh bersama. Tapi kenapa seperti ini?"/ "Jungsoo Hyung adalah Hyung terbaik yang kumiliki. /"Kau menyedihkan, Hyung." / "Mwo? Hanya karena itu? Aiisshh… Jinjja. / "Kyu, aku begitu ingin seperti dirinya."/ Sekarang beritahu bagaimana caranya aku membencimu, Kyu."/ "Anak ini, kenapa berpikir untuk memberiku benda seperti ini? Pabbo!"/
Warning :
OOC,typos, ide pasaran dan mudah ditebak, geje, tidak nyambung dan berbagai hal gak penting lainnya.
.
.
"Changmin-ah…"
"Hn?"
"Kenapa kau malah menghubungiku? Kenapa tidak menghubungi Jungsoo Hyung atau Yesung Hyung saja?"
"Karena aku tidak punya nomor ponsel mereka. Wae?"
"Hanya saja, aku tidak suka melihat Kibum seperti ini. Rasanya, saat kau meneleponku dan bilang Kibum pingsan, aku benar-benar panik dan nyaris seperti ingin pingsan juga."
"Jangan terlalu dramatis begitu."
"Entahlah… tapi selama ini, aku yang paling tahu seberapa banyak Kibum menderita."
Dan keadaan menjadi hening untuk beberapa saat.
"Donghae-ah…"
"Hn?"
"Aku merasa mereka ditakdirkan untuk tidak bersama-sama."
"Mana mungkin? Mereka lahir dan tumbuh bersama. Aku yakin, saat ini Tuhan hanya sedang menguji kebersamaan mereka untuk mengetahui seberapa besar mereka saling menyayangi."
"Rasanya, hatiku turut terluka melihat kesedihan yang terpancar di balik wajah Kyuhyun."
"Jangan terlalu dramatis begitu."
"Jangan meniru kata-kataku, pabo!"
Percakapan dengan nada datar, ekspresi datar, dan pandangan datar itu terjadi di lorong rumah sakit sore itu. Baik Changmin mau pun Donghae sama-sama membiarkan bola mata mereka terfokus ke arah kaca ruangan yang saat ini dihuni oleh kedua teman mereka.
"Kenapa Kibum harus pingsan saat Kyuhyun sadar, eoh?" tanya Donghae tanpa mengalihkan tatapannya dari Kyuhyun yang saat ini tengah duduk di kursi roda, di samping ranjang tempat Kibum berbaring. Kyuhyun tampak menggenggam tangan Kibum dengan erat. Dia sama-sama sedang sakit, tapi sudah hampir tiga jam ini namja itu menemani Kibum dalam posisi yang sama.
"Karena mereka tidak ditakdirkan untuk bersama-sama." Changmin menjawab asal. Berhasil mengalihkan tatapan Donghae padanya.
Sebenarnya Donghae tidak ingin mengiyakan jawaban Changmin. Hanya saja, ia merasa—mungkin—memang seperti itu. Kyuhyun sadar saat Kibum meninggalkannya dan pulang ke rumah. Saat Kyuhyun menanti-nanti Kibum untuk menemuinya, seperti yang Jungsoo katakan, bahwa Kibum akan pulang cepat dan menemaninya, Kyuhyun malah dihadapkan pada kenyataan pahit kalau Kibumnya kembali ke rumah sakit dalam keadaan pingsan dan kondisi yang buruk. Apa memang yang Changmin katakan itu—Ani! Donghae menggeleng kuat-kuat. Kyuhyun dan Kibum pasti akan selalu bersama. Ia yakin itu.
"Kenapa kalian di luar? Kenapa tidak ikut jagain Kibum di dalam juga?"
Baik Donghae maupun Changmin sontak menoleh ke arah sumber suara. Nyonya park tampak berdiri di hadapan mereka. Matanya yang sembab hasil menangis seharian ini tampak memandang kedua teman anak-anaknya itu.
"Kyuhyun…" Donghae mengalihkan tatapannya ke arah Kyuhyun yang masih belum berubah posisi di dalam sana. "Hanya ingin berdua dengan Kibum. Kami tidak ingin mengganggunya." Changmin mengangguk setuju. Nyonya Park turut melemparkan pandangannya ke kaca ruangan itu. Demi Tuhan, kondisi Kyuhyun bahkan belum pulih sepenuhya. Ia juga harus banyak istirahat. Meski dokter bilang masa kritis Kyuhyun sudah lewat, tidak seharusnya orang sakit menjaga orang sakit.
Nyonya Park menarik nafas dalam dan segera berjalan memasuki ruangan tempat Kibum dirawat. Perlahan ia mendekati Kyuhyun yang saat ini tengah membenamkan wajahnya di balik tangan Kibum yang digenggamnya dengan begitu erat.
"Sayang…" Nyonya Park menepuk pelan pundak Kyuhyun. Kyuhyun hanya menggumam pelan. Setelah tahu kondisi Kibum seperti sekarang, sikap dingin Kyuhyun pada Eomma dan appa-nya semakin berkembang biak saja. Kyuhyun benar-benar marah pada kedua orangtuanya. Membuat Nyonya Park begitu sedih dan terpukul.
"Kau harus istirahat, Sayang…"
"Aku istirahat di sini saja," ketus Kyuhyun tanpa berminat mengubah posisinya dan menatap eomma-nya barang sejenak. Ia menggenggam tangan Kibum dengan erat. Menciumnya beberapa kali. Beberapa tetes air matanya jatuh membasahi tangan itu. Betapa kesedihan memeluk erat hatinya saat ini. Memeluknya hingga sesak dan perih. Ia bahkan sudah tersenyum bahagia begitu Jungsoo Hyung bilang kalau Kibum menunggunya sampai tertidur saat ia pingsan. Ia begitu senang saat Jungsoo Hyung bilang kalau Kibum pulang sebentar untuk membawa keperluannya. Kebahagiaannya buncah begitu tahu kalau ternyata Kibum masih memedulikannya, masih perhatian padanya. Dan kebahagiaannya semakin bersinar terang saat ia tahu kalau salju pertama benar-benar turun. Ia begitu berharap Kibum segera kembali menemuinya. Tapi tidak dalam keadaan seperti saat ini.
"Kyunie… Eomma butuh waktu berdua dengan Kibumie."
"Ani. Aku takut Eomma menyakitinya lagi." Kyuhyun semakin mengeratkan genggaman tangannya. Seolah menjaga Kibum dari segala hal yang bisa menyakitinya.
"Kyunie… Jebal! Eomma butuh waktu bersamanya."
"Ani. Tak akan kubiarkan siapa pun menyakitinya lagi. Tidak akan, Eomma."
"Demi Tuhan, Kyunie… Eomma ke sini bukan untuk menyakiti Kibumie. Demi Tuhan! Eomma hanya ingin menggenggam tangannya seperti yang kau lakukan. Jebal, Kyunie… kau boleh marah, kau boleh membenci Eomma, kau boleh memaki Eomma, kau boleh berkata apa pun tentang eomma-mu yang pabo ini. Kau—" Nyonya Park menjatuhkan tubuhnya di samping kursi roda Kyuhyun. Ditautkannya kedua tangannya di depan dada, tampak memohon di hadapan putra bungsunya itu. Ia terisak hebat. "–Kau boleh melakukan apa pun, asal Eomma mohon untuk kali ini saja beri Eomma waktu bersamanya. Eomma ingin menggenggam tangannya, eomma ingin mencium keningnya, eomma ingin membelai rambutnya, eomma ingin bernyanyi untuknya, eomma ingin melakukan apa yang selalu eomma lakukan padamu saat kau sakit, Kyunie. Eomma ingin melakukannya juga untuk Kibumie. Jebal, Kyunie…"
Kyuhyun diam. Mendengar penuturan eomma-nya membuat dadanya seperti dipenuhi polusi dengan jumlah yang tak sedikit. Perlahan tapi pasti, seluruh kenangan itu melesak keluar dalam ingatannya. Dipaksa untuk diputar kembali.
"Kyunie…"
"Ne?"
"Sebenarnya lagu apa yang eomma nyanyikan untukmu? Setiap kau sakit, eomma selalu menyanyikan lagu itu."
"Memangnya kenapa?"
"Suara Eomma sangat merdu. Ia tidak pernah bernyanyi untukku."
"Suara Eomma membuatku ngantuk."
"Itu karena suaranya bagus. Ah, rasanya aku ingin sakit juga biar eomma mau menyanyikan lagu itu untukku."
"Mwo? Jangan pabo, Kibumie!"
"Tapi… kalau aku yang sakit, apa Eomma akan melakukanya untukku juga?"
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan sampai aku kembali." Kyuhyun memutar kursi rodanya. Kenangan beberapa tahun silam itu mau tidak mau meluluhkan keegoisan hatinya. Tatapan polos Kibum dulu yang penuh dengan harapan tergambar jelas dalam ingatannya. Membuat ia rasanya tidak ingin menghancurkan harapan itu. Meski dalam hati, ia tidak ingin meninggalkan Kibum barang seinci pun. Rasanya ia terlampau takut jika harus pergi jauh-jauh dari Kibum. Padahal ruangan mereka hanya terpisah oleh tiga ruangan lainnya.
"Aku akan mengantarmu ke ruanganmu." Tanpa menunggu persetujuan, Donghae langsung mendorong kursi roda Kyuhyun. Namja yang entah sejak kapan memasuki ruangan itu tampak menatap sayu ke arah Kibum sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.
Kyuhyun hendak memprotes tindakan Donghae yang cukup mengejutkannya. Namun Namja Lee itu segera mungkin menghentikan protesannya dan berujar santai, "selalu ada alasan di balik sebuah kejadian, Kyu. Dulu aku berpikir Paman dan Bibi hanya menyangimu, tidak dengan Kibum. Tapi, sekarang aku mulai paham semuanya. Mereka menyayangi kalian berdua. Sangat menyayangi kalian. Apa yang mereka lakukan enam tahun lalu, semata-mata adalah untuk membuat kalian hidup dan tumbuh bersama. Jika mereka tidak melakukan itu, aku yakin Kibum tidak memiliki alasan untuk tetap hidup di dunia ini. Jika mereka tidak melakukan itu, aku yakin kau tidak akan pernah bisa menggenggam tangan Kibum seperti saat ini. Meski cara mereka cukup salah, tapi niat mereka murni, Kyu. Untuk membuat kalian hidup bahagia. Jadi, berhentilah marah pada mereka. Mereka sangat menyayangimu…"
Kyuhyun terdiam. Mencerna baik-baik kata-kata Donghae. Mereka memasuki ruangan berlabel 407 itu. Kyuhyun masih diam bahkan saat Donghae membantunya berbaring di atas ranjangnya.
"Hae-ah…" panggil Kyuhyun akhirnya. Ia menatap Donghae yang tengah menarik selimut hingga dadanya.
"Istirahatlah! Aku akan pulang sebentar dan kembali untuk menjagamu sampai Jungsoo Hyung datang. Oya, Changmin bilang dia pulang dan akan ke sini lagi besok sepulang sekolah." Dan setelah itu, namja yang sempat Kyuhyun kira begitu polos dan kekanakan itu meninggalkan ruangan. Meninggalkan Kyuhyun sendiri bersama ribuan pertanyaan dalam kepalanya. Ia tidak pernah menduga sebelumnya kalau Donghae ternyata begitu dewasa dan bijaksana.
.
.
Donghae pergi sekitar dua puluh menit, dan selama itu Kyuhyun memilih menatapi langit-langit ruangan dengan perasaan tak menentu. Ia dipaksa memikirkan banyak hal hingga kepalanya terasa penat dan dadanya kembali berdenyut sakit. Baru saja ia hendak menutup mata saat Donghae membuka pintu dengan setumpuk hadiah di tangannya. Kyuhyun mengernyit bingung melihat hadiah-hadiah di tangan Donghae.
"Jujur saja, aku selalu penasaran ingin melihat apa isi kado-kado ini." Donghae menaruh tumpukan kado itu di atas nakas. Kyuhyun menarik badan dan menyandarkannya di kepala ranjang. Sesekali ia meringis sambil memegangi dadanya. Kyuhyun tidak ingat kalau ranjang rumah sakit tempatnya berbaring saat ini sebuah electric bed.
"Hadiah-hadiah ini kenapa dibawa ke sini?" tanya Kyuhyun menatap tumpukan hadiah itu. Melihat itu semua membuat Kyuhyun ingat semua hadiah untuk Kibum yang ia simpan di balik lemari. Kyuhyun tahu kalau Kibum sudah menemukan hadiah-hadiah itu. Kibum mengenakan baju hangat pemberiannya saat Changmin dan Donghae membawanya ke rumah sakit. Kyuhyun cukup bahagia melihat baju hangat itu meski perasaannya tak karuan saat tahu Kibum dalam kondisi yang buruk.
"Tentu saja karena ini milikmu, pabo!"
"Milikku? Apa hadiah-hadiah ini yang selalu Kibum berikan padamu?" Kyuhyun mengangkat salah satu alisnya. Ia benar-benar tidak mengerti. Setahunya hadiah-hadiah itu yang pernah Kibum berikan pada Donghae.
"Kau pikir siapa aku? Yeojachingu-nya? Dia bahkan memberiku hadiah ini bukan di hari ulang tahunku."
Kyuhyun tertegun. Lama.
Melihat kebingungan di wajah Kyuhyun, membuat Donghae menghela nafas lelah. Ayolah, Kyuhyun itu memiliki IQ yang tinggi. Bagaimana mungkin ia tidak mengerti apa yang dikatakannya. "Kyuhyun-ah…" Donghae duduk di tepi ranjang Kyuhyun. Di raihnya bahu namja itu, dan ditatapnya lekat-lekat mata caramel itu. "Dengar baik-baik, arra?"
Kyuhyun mengangguk samar.
"Selama ini aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Dan aku baru tahu alasan Kibum menjauhimu selama ini adalah karena kejadian enam tahun yang lalu. Meski aku yakin bukan itu alasan Kibum sebenarnya."
"Kyu… Kibum sangat menyayangimu. Benar-benar menyayangimu! Dalam diamnya, ia selalu memerhatikanmu, selalu memedulikanmu, selalu mencemaskanmu, dan selalu menomorsatukanmu. Kibum selalu berusaha memberikan hadiah-hadiah ini padamu meski pada akhirnya selalu gagal dan ia berikan hadiahnya padaku. Beruntung aku begitu peka dan cukup pintar untuk tahu kalau sebenarnya hadiah-hadiah itu untukmu hingga aku tidak membukanya begitu saja. Aku selalu berpikir akan ada waktu yang tepat untuk menunjukan ini semua."
Keadaan hening untuk beberapa saat. Donghae meraih kado terakhir yang Kibum berikan kemarin padanya. "Awalnya aku berpikir kalau Kibum akan berhasil memberikan hadian ini padamu." Ia menghadapkan kotak dengan bungkus kado yang tidak terlalu rapi itu pada Kyuhyun yang langsung menerimanya dan menatap baik-baik hadiah itu. Mencoba menebak apa yang ada dalam kotak berukuran sedang itu.
"Kalau saja waktu itu aku tahu ia sedang menunggumu, mungkin aku akan mencegahmu pergi bersama Changmin dan menyuruhmu menemuinya. Aku benar-benar tidak tahu dan meninggalkannya begitu saja karena aku berpikir dia sedang menunggu Jung Ahjussi. Kau tahu? Ia menunggumu sampai malam, Kyu. Jika saja waktu itu aku tidak disuruh menjemput Yesung Hyung, aku tidak akan melewati sekolah dan tidak akan tahu kalau dia masih berdiri di sana. Ia berhasil dibujuk pulang setelah aku bilang bahwa kau sudah pulang bersama Changmin. Tubuhnya dingin dan wajahnya begitu pucat. Dan… ia menangis. Seumur hidupku itu adalah pertama kalinya aku melihatnya menangis. Seandainya kau melihat betapa sedihnya ia saat itu, Kyu…" Donghae jeda sejenak. Mengambil nafas sedalam mungkin. Bayangan wajah Kibum melintas dalam benaknya.
Kyuhyun tak bersuara. Matanya yang sudah basah masih menatap hadiah di tangannya.
"Dia bilang, "Padahal aku ingin minta maaf dan berbicara lebih dulu padanya. Aku hanya ingin memperbaiki semuanya. Aku hanya ingin memberinya kado ulang tahun. Tapi kenapa rasanya begitu sulit, hae-ah?" Sumpah, Kyu… itu adalah pertama kalinya aku menangis untuk Kibum."
Kyuhyun menangis lebih pilu. Ia mencengkram kado itu dengan erat hingga kado itu tampak kusut. "Hae-ah… bawa aku ke ruangan Kibumie. Bawa aku ke sana."
"Tapi kau harus istirahat, Kyu…"
"Ani. Bawa aku ke sana. Aku ingin menemuinya. Aku tidak ingin jauh-jauh darinya lagi." Kyuhyun berusaha turun dari ranjang dengan tak sabar. Tidak memedulikan sakit yang sejak tadi terasa menusuk-nusuk dadanya.
"Ne, Kyu… pelan-pelanlah." Donghae menyerah, dibantunya Kyuhyun untuk duduk di kursi roda.
.
.
Snowflake… snowflake…
Little snowflake… little snowflake…
Falling from the sky…
Snowflake… snowflake…
Little Snowflake… Little snowflake…
Falling… falling… falling… falling
Falling… falling… falling…falling…
Falling on my head…
Snowflake… snowflake…
Little sno—
Nyanyian itu terhenti seiring terbukanya pintu ruang VIP itu. Si pemilik suara sontak bungkam, melepas genggaman tangannya di jemari Kibum, dan berdiri dengan tergesa. Kehadiran namja di hadapannya memaksa ia untuk menghentikan aktifitasnya. Padahal ia belum puas. Tidak akan pernah puas berada dekat-dekat dengan putranya. Penyesalan itu seolah tak ada ujungnya dan membuat ia rasanya ingin menebus semua khilafnya dengan senantiasa menemani putra keduanya itu.
"Kyunie…" panggil Nyonya Park begitu Donghae mendorong kursi roda Kyuhyun mendekati ranjang Kibum.
"Aku ingin istirahat di sini dan tidur bersama Kibumie." Kyuhyun berdiri dari duduknya, mencoba naik ke atas ranjang tempat Kibum berbaring. Di sela kebingungannya, Donghae membantu Kyuhyun menaiki ranjang dan sedikit menggeser posisi Kibum dengan sangat hati-hati. Nyonya Park menggantung infus yang Kyuhyun gunakan di tiang yang sama dengan tiang insfus Kibum, dan meletakkan kado yang Kyuhyun bawa di atas nakas. Beruntung ranjang itu cukup besar dan muat untuk tubuh kedua saudara kembar itu. Lagipula tubuh mereka sama-sama kurus dan kecil.
Kyuhyun langsung saja menghempaskan tubuhnya di samping Kibum yang sama sekali tidak terusik dengan kehadirannya. Ditatapnya wajah pucat yang saat ini ditemani masker oksigen itu dengan rinci. Tak pernah ia duga sebelumnya kalau Kibum akan mengalami hal yang sama sepertinya. Berteman dengan alat-alat medis yang kerap membuatnya begitu frustasi.
"Kyu… kami keluar, ne?" Nyonya Park bersuara. Ia hendak melangkah dan meninggalkan ruangan saat tiba-tiba Kyuhyun menggenggam tangannya, menahan langkahnya. Donghae terdiam sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar lebih dulu.
"Eomma… mianhae," tutur Kyuhyun tulus. Dipandangnya wajah sayu eomma-nya dengan penuh penyesalan. Kyuhyun sadar tidak seharusnya ia bersikap kasar pada eomma-nya. Kyuhyun sadar kalau perkataan Donghae benar. Eomma begitu menyayanginya, begitu menyayangi Kibum. Jika donor itu tidak dilakukan, mungkin baik Kibum maupun dirinya, tidak akan pernah punya alasan untuk hidup. Karena untuknya, alasan ia bertahan selama ini adalah Kibum. Dan ia yakin Kibum juga sama.
Nyonya Park tak mengucapkan apa pun, tapi senyum dan anggukannya menandakan bahwa ia bahagia mendengar apa yang Kyuhyun katakan.
"Jangan pergi. Bernyanyilah untukku dan Kibumie, ne?"
Nyonya Park kembali mengangguk. Kali ini lebih semangat. Ia mendudukan dirinya di sisi ranjang yang tersisa. Dibelainya rambut Kyuhyun dan Kibum secara bergantian. Dan di sela isak tangisnya, ia mulai bersenandung kembali. Mengiringi kedua jagoannya ke alam mimpi yang mungkin jauh lebih menenangkan. Meski setiap kali mata kedua putranya itu tertutup, ia selalu merasa berdiri di tengah-tengah gelombang ketakutan.
Snowflake… snowflake…
Little snowflake… little snowflake…
Falling from the sky…
Snowflake… snowflake…
Little Snowflake… Little snowflake…
Falling… falling… falling… falling
Falling… falling… falling…falling…
Falling on my nose…
Disela nyanyian serak Eomma yang diiringi isak tangis, Kyuhyun melingkarkan salah satu tangannya di perut Kibum. Ditatapnya kembali wajah itu sebelum akhirnya ia benamkan seluruh wajahnya di pundak Hyung-nya itu. Menikmati wangi khas namja itu. Air matanya meleleh menyadari ketidaktahuannya tentang Kibum. Ribuan hingga jutaan maaf ingin rasanya ia lafalkan untuk saudara kembarnya itu.
"Mianhae, Kibumie… selama ini aku selalu menyusahkanmu. Mianhae… cepat bangun, ne? Kau janji akan menemuiku jika salju pertama turun. Kau jangan seperti ini. Hadiahmu sudah ada padaku. Bangunlah, dan kita buka bersama. Kalau hadiahnya jelek, akan kupukul kepalamu. Kajja… bangunlah, Kibumie…" Kyuhyun melirih dalam tangis. Baju pasien yang Kibum kenakan sampai basah karena air matanya. Eomma tidak berujar apa pun dan terus bernyanyi meski, kata-kata Kyuhyun yang sempat bertepi di telinganya membuat hatinya begitu sesak, dan air matanya melesak semakin banyak. Lagu yang dinyanyikannya bahkan sudah tak berirama, berlomba dengan isak tangisnya yang pilu.
"Aku menunggumu di sini, Kibumie. Pulanglah ke sini… jangan menungguku di tempat yang tidak aku ketahui. Kubilang jangan pernah lagi menungguku seperti tempo hari… pulanglah dan temui aku, Kibumie. Aku mohon…" Tangis Kyuhyun semakin pecah hingga dadanya benar-benar nyeri.
Nyonya Park akhirnya menyerah. Tidak tahu harus berbuat apa. Ia berlari keluar ruangan bersamaan saat pintu ruangan terbuka. Jungsoo yang baru saja membuka pintu cukup tersentak mendapat pelukan tiba-tiba dari eomma-nya. Ia mafhum dan segera mengajak eomma-nya keluar dan duduk di kursi di depan ruangan itu. Membiarkan kemeja putihnya menyerap air mata wanita yang paling disayanginya. Dua hari terakhir ini eomma-nya benar-benar kacau. Air matanya seperti tak henti berproduksi. Dan mirisnya, ia sama sekali tidak bisa menghentikan itu semua.
"Jungsoo-ah... Seberat inikah hukuman Tuhan untuk orang jahat sepertiku? Kenapa kedua jagoanku harus ikut merasakan penderitaan atas dosa-dosa yang kulakukan? Waeyo, Jungsoo-ah? Kenapa dulu tak aku saja yang memberikan seluruh organ tubuhku untuk putraku? Mungkin mereka tidak akan semenderita ini. Waeyo, Jungsoo-ah? Kenapa aku begitu jahat?" Nyonya Park menangis pilu di dada Jungsoo. Meluapkan segala kesedihan yang mencengkram kuat perasaannya.
"Ani, Eomma. Aniya. Kau adalah Eomma yang baik. Kau malaikat milikku, milik Kyunie dan juga Kibumie. Kau wanita nomor satu untuk kami. Berhentilah menangis, Eomma. Kau sudah menangis begitu banyak. Berhentilah dan berdirilah lebih kuat untuk Kyuhyun dan Kibum yang sedang membutuhkan kekuatanmu. Jangan seperti ini. Yakinlah pada Tuhan seperti eomma biasanya. Dia akan menjaga kita dan memberikan yang terbaik untuk kita."
.
.
Kyunie…
Eomma bilang, semua hal yang kita miliki saat ini adalah milik kita berdua. Apa yang aku punya adalah milikmu, dan apa yang kau punya adalah milikku. Eomma, Appa, Jungsoo Hyung, mereka adalah milik kita berdua. Bahkan nafas dan kehidupan yang Tuhan limpahkan adalah milik kita berdua juga. Tidak ada alasan untuk kita berbangga hati dengan kesempurnaan yang kita miliki jika salah satu di antara kita bahkan tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Kyunie…
Kita sudah berbagi bahkan sebelum kita lahir. Karena apa yang kita punya adalah milik kita berdua. Jadi, tidak ada alasan untuk aku tidak membagi kehidupan untukmu. Tidak ada alasan untuk aku tidak memberikan apa yang ada dalam tubuhku untukmu. Bahkan jika saat itu aku harus kehilanganmu, tidak ada alasan untuk aku tetap bertahan dan hidup di dunia ini. Karena Eomma bilang, aku hidup adalah untuk menjagamu, untuk menggenggam tanganmu, dan untuk membuatmu hidup.
Kyunie…
Saat salju pertama turun, ingin rasanya aku menemuimu. Menggenggam tanganmu dengan sangat lama. Mengganti waktu enam tahun yang kita lewati. Tapi aku tidak tahu di mana aku terdampar saat ini. Di sini begitu putih dan dingin. Aku tidak menemukanmu di mana pun. Rasanya ini bahkan lebih buruk dari menunggumu di depan sekolah waktu itu.
Kyunie…
Aku ingin pulang. Setidaknya aku ingin menemuimu sekali lagi saja. Aku ingin mengucapkan maaf sebanyak mungkin padamu. Maaf karena aku tidak bisa berbuat apa-apa saat kau sakit. Maaf karena faktanya aku tidak bisa menghilangkan semua rasa sakitmu. Maaf karena aku kau tumbuh dengan kesehatan yang buruk. Maaf karena aku terlalu serakah mengambil jatah nutrisi yang harusnya kubagi padamu sewaktu dalam kandungan. Mian, Kyu… Mianhae… Jeongmal mianhae…
Kibum menggeliat pelan dalam tidurnya. Terasa begitu sempit hingga ia susah bergerak. Perlahan, bola matanya terbuka. Silau yang berasal dari lampu ruangan seketika menusuk penglihatannya, membuat ia refleks kembali menutup matanya. Cukup terganggu dengan cahaya itu. Namun tak lama kemudian ia kembali membuka kelopak mata itu, menyesuaikannya dengan penerangan yang ada. Sedikit merasakan beban di bagian perutnya, Kibum memaksa tangannya untuk menyentuh beban itu. Tangan seseorang. Tanpa harus sibuk menebak-nebak siapa pemilik tangan berinfus itu, Kibum sudah tahu siapa yang saat ini tertidur di sampingnya hingga ia benar-benar sulit bergerak.
Dengan susah payah Kibum merubah posisinya menjadi menyamping. Ditatapnya wajah pucat Kyuhyun yang tampak damai dalam tidurnya. Sakit di beberapa bagian tubuhnya saat ia bergerak, meyakinkannya kalau saat ini ia tidak berada di alam mimpi. Perlahan ia menggerakan tangannya untuk menyentuh pipi Kyuhyun, terus menyentuh dada Kyuhyun. Ia selalu melakukan hal itu setiap kali Kyuhyun tertidur pulas. Bukan apa-apa, ia hanya terlalu takut kalau Kyuhyun terpejam bukan karena tidur biasa. Bernafas lega begitu tangannya masih merasakan detakan di dada itu. Ia juga baru bisa menangkap nafas pendek Kyuhyun saat membenarkan posisi tidur Kyuhyun menjadi sepenuhnya berbaring.
Menyentuh kening Kyuhyun. Merapikan rambut dongsaeng-nya yang agak berantakan. Dilemparkannya pandangannya ke arah jendela yang masih tertutup, lantas segera menatap jam dinding yang menggantung di hadapannya. Masih pukul tiga pagi. Pantas masih begitu sepi. Desisan angin musim dingin bahkan terdengar hingga telinganya. Kibum meringis pelan sembari memegang perutnya saat ia mencoba untuk duduk.
"Aissh…" Ia mendumel saat nyeri itu tak mereda. Malah terasa merambat dan menekan dadanya. Erangannya tertahan saat ia menangkap pergerakan Kyuhyun. Dongsaeng-nya itu pasti terusik karenanya. Sebisa mungkin ia meredam segala sakit yang mulai mendemonya saat ia melihat Kyuhyun membuka matanya.
"Kibumie…" Suara Kyuhyun terdengar serak. Kibum tersenyum lebar. Senyum yang begitu Kyuhyun rindukan.
"Mianhae, sudah membangunkanmu. Istirahatlah, ini masih terlalu pagi."
Kyuhyun menggeleng. Bagaimana bisa ia tertidur lagi di saat sesuatu yang paling dinantinya berada tepat di depan matanya. Bahkan, untuk waktu yang lama, ia ingin tetap terjaga untuk menghabiskan seluruh waktunya bersama orang yang saat ini begitu dirindukannya. "Ani, Kibumie… aku takut saat aku menutup mata, kau kembali meninggalkanku." Kyuhyun berujar parau. Ia mencoba bangun dari tidurnya. Dadanya terasa begitu sakit saat ia melakukan itu. Ia terbatuk dan melenguh.
"Gwaenchanha, Kyu?" Melihat hal itu, Kibum bertanya khawatir. Direngkuhnya tubuh ringkih Kyuhyun. Melupakan dirinya yang juga tengah menahan sakit.
Kyuhyun mengangguk pelan. "Gwaenchanha," ujar Kyuhyun. Ia biarkan tangannya melingkar di pinggang Kibum. Memeluk saudara kembarnya itu dengan begitu erat. Tidak memedulikan tangannya yang mulai berdarah karena infusnya ditarik ke sana-sini sejak sore tadi. Rasa rindunya terbayar lunas saat ia yakin kalau apa yang terjadi saat ini bukanlah mimpi.
"Kau ingin melihat salju?" tanya Kibum setelah beberapa saat hening melanda.
"Aku hanya ingin melihatmu."
Kibum terkekeh pelan mendengar jawaban Kyuhyun. "Kita seperti pasangan kekasih."
Kyuhyun tak merespon. Tenggorokannya terasa gatal dan ia terbatuk-batuk. Setiap kali ia terbatuk, ia merasa seperti ditikam pisau dewa kematian. Jantungnya seolah ditarik keluar dari rongga dadanya oleh tangan tak kasatmata. Kyuhyun mengaduh pelan.
"Perlu kupanggilkan dokter?" Kibum mulai cemas melihat batuk-batuk Kyuhyun yang bersambung terus-menerus seperti itu.
Kyuhyun menggeleng. "Apa kau akan tetap di sisiku jika aku tidur? Dadaku sakit dan aku ingin istirahat sebentar."
"Tidurlah dan jangan berpikir yang macam-macam. Aku akan menjagamu dan membangunkanmu untuk melihat salju pagi nanti." Kibum membantu Kyuhyun berbaring.
"Janji tidak akan meninggalkanku, ne?"
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Kyu. Kau hanya boleh tidur, tidak lebih dari itu. Arraseo?"
"Jika lebih dari itu, segera temui aku dan jangan biarkan aku menunggu lama seperti enam tahun ini." Kyuhyun mengubah posisinya, mencari posisi yang nyaman. Tangannya meraih tangan Kibum dan menggenggamnya dengan erat. Tidak ingin Kibum pergi sejengkal pun dari sisinya. Bahkan jika ia harus pergi, ingin rasanya ia menarik tangan itu dan menemaninya. Sungguh ia tidak suka kesendirian.
Kibum terenyuh mendengar kata-kata Kyuhyun. Ditatapnya wajah Kyuhyun dengan intens. Digigitnya bibirnya sekuat mungkin. Menahan tangis dan menahan sakit yang menggempur tiap persendian tubuhnya. Dengan perlahan ia mengelus rambut Kyuhyun, memainkan surai cokelat itu dengan perasaan gundah. Dan tiap detik ia lewati dalam diam. Memerhatikan Kyuhyun tanpa henti sampai ia merasa matanya memberat, dan sakit di tubuhnya semakin menyulitkannya untuk bernafas.
Kita bertemu dan melihat salju di tempat yang lebih indah. Aku yakin salju di sana jauh lebih indah dari salju di dunia ini…
.
.
"Sebenarnya kita bisa menyelamatkan salah satu dari mereka. Mendonorkan jantung dan paru-paru Kibum untuk Kyuhyun, atau mendonorkan ginjal Kyuhyun untuk Kibum. Kondisi mereka benar-benar buruk dan menunggu donor dari orang lain sangat tidak mungkin."
"Jangan tempatkan kami di posisi dilematis seperti ini, Yesungie. Kami tidak bisa mengorbankan salah satu dari mereka."
"Hyung… cari cara yang lebih bijak dari kedua pilihan itu. Jebal... Atau, apa perlu aku saja yang mendonorkan semua organ tubuhku untuk mereka?"
"Ani! Ani, Jungsoo-ah… tidak perlu ada lagi yang berkorban di sini. Biarkan saja…"
"MWOYA? Apa maksud Eomma, huh?"
"Biarkan saja. Jika memang ada yang perlu di pertahankan di sini. Itu adalah dirimu. Dirimu, Jungsoo-ah."
"YA! Eomma! Kau gila, huh? Kau menyerah untuk hidup Kibum dan Kyuhyun? Begitu?"
"Ne…"
"Eomma… Mwoya? Ada apa denganmu?"
Nyonya Park berjalan lesu memasuki ruangan pucat itu. Kejadian semalam yang membuatnya nyaris tidak bisa tidur hingga pagi ini terekam sempurna dalam ingatannya. Membuat dadanya begitu sesak. Perdebatan yang terjadi antara ia dan juga Jungsoo, putra pertamanya, seolah memaksa ia menelan pil pahit kehidupan untuk ke sekian kalinya. Tidak ada ibu yang ingin mengorbankan salah satu dari anak-anaknya. Tidak ada. Jika saja ia bisa mengorbankan dirinya, mungkin saja ia akan melakukan itu dari dulu. Tapi apa yang bisa ia lakukan selain pasrah pada kehendak dan kuasa Tuhan.
Melirik sebentar kedua putranya yang tampak tertidur di ranjang yang sama. Mereka tampak saling rangkul, membuat Nyonya Park tersenyum bahagia di sela kepiluan hatinya. Dengan satu gerakan wanita cantik itu menyibak tirai jendela. Butiran salju menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya. Tersenyum lirih. Kedua anak kembarnya begitu menyukai salju. Mereka harusnya sudah bangun dan melihat betapa indahnya pemandang putih di luar sana.
Berjalan mendekat ke arah ranjang. Ditatapnya kedua anaknya dengan rinci. Tangannya baru saja hendak mengguncang pelan bahu Kyuhyun saat ia kembali menarik tangan itu. Tanpa bicara, ia mendudukan dirinya di kursi di samping ranjang. Air matanya meleleh. Sepersekian detik ia terus menatapi tubuh kedua jagoannya yang tampak tak bergerak sedikit pun. Warna seputih salju tampak melukis diri di wajah mereka.
"Bukan Eomma yang menyerah, Jungsoo-ah. Tapi kedua dongsaeng-mu yang memutuskan untuk menyerah lebih dulu dari kami."
Diraihnya hadiah yang belum sempat di buka yang kemarin ia letakan di atas nakas. Dengan tangan gemetar, ia membuka hadiah itu. Dan ia terisak lebih keras saat kado itu sempurna dibukanya. Foto kedua anak kembarnya kini berada di genggamannya. Didekapnya foto itu di dadanya. Menangis sesegukan menyadari bahwa dari mulai sekarang hanya gambaran masalalu mereka yang akan memeluk erat perasaannya. Karena faktanya, keduanya sama-sama sudah meninggalkanya.
"Eomma…" Jungsoo dan Tuan Park tampak berjalan mendekati wanita yang sedang menangis lirih itu. Tanpa harus bertanya-tanya, mereka sudah tahu apa yang sudah terjadi. Jungsoo menatap nanar jasad adik-adiknya dalam diam. Liquid bening menepi di pelupuk matanya dan kemudian mengalir, menciptakan sungai kecil di pipinya. Seketika tubuhnya melemas, tak bertenaga, ia jatuh terduduk. Tuan Park, memilih untuk merengkuh istri dan anak pertamanya itu secara bersamaan. Tangan dan bahu kokohnya berusaha memberi kekuatan untuk jiwa-jiwa yang melemah. Meski sebenarnya jauh di dalam kegagahannya, kerapuhan dan kesedihan itu tengah memporak-porandakan hatinya.
Udara musim dingin tampak mengudarakan lagu perpisahan, mengiringi kepergian mereka yang tampak dramatis ke dunia yang lebih abadi. Isak tangis kehilangan seperti lagu tanpa irama yang menyayat hati. Merelakan, namun kesedihan itu tak akan ada ujungnya. Mereka lahir dan tumbuh bersama, tidak ada alasan untuk mereka tidak pergi bersama juga. Mereka telah berbagi banyak hal. Kehidupan mereka adalah milik mereka berdua. Dan mungkin kematian itu juga.
.
.
Fin
.
.
Akhirnya selesai juga…
Aku ucapkan terimakasih banyak yang udah mengikuti ff ini sampai sini. Mungkin ini cerita paling mengecewakan yang pernah kalian baca. Mian, ne...
Dan makasih juga yang udah kasih review. Aku tidak bisa membalas review kalian di chapter kemarin. Tapi, kalau sempet, review kalian di chapter ini bakal aku bales.
.
.
Untuk Ending cerita ini… sungguh ini karena Kibum dan Kyuhyun yang bilang sama saya ingin menyerah saja dan tidak ingin saya siksa lagi. Hehehe… jadi maaf ya, kalau endingnya bikin kecewa.
.
.
Ini ff –korea pertama saya, dan saya tidak tahu apa ini bakal jadi ff terakhir juga atau tidak. Pokoknya, terimakasih yang udah ngasih respon positif di fanfic pertama saya ini.
.
.
Finaly, buat yang minta THR berupa fanfiction-korea ini. Terimakasih, dan maaf jika hasilnya mengecewakan.
.
.
Jika ada yang tidak dimengerti dan mau ditanyakan, you can contact me at (twitter : (et)nhyea1225 facebook: Nae (nhyea1225 (et)yahoo..com) bbm: 5467BAFB )
.
.
Gomawo ^.^
