Blue Envelope 2

Warning! Typo bertebaran! BoysLove! Banyak kata-kata kasar yang tak patut ditiru.

Happy reading xoxo

ㅡBLUE ENVELOPEㅡ

Kai. Nama beken dari Kim Jongin. Pemuda yang selalu mendapat ranking satu paralel, yang memiliki wajah tampan dengan warna kulit yang berbeda daripada orang Korea pada umumnya ternyata bisa frustasi. Padahal, ia dikenal sebagai orang yang tenang dan tidak terburu-buru. Tapi kali ini, ia berkali-kali mengacak rambutnya frustasi, hanya karena pelajaran fisika. Sebetulnya fisika itu mudah, tapi entah kenapa, tadi itu Kai tidak bisa konsentrasi. Alhasil? Kai tidak mengerti. Mana ada PR pula!

Kai melempar tas biru donkernya ke lantai dan membaringkan tubuhnya dikasur. Mengatur nafas. Entah kenapa, ia begitu emosi. Kai berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air yang cukup dingin. Emosinya menurun, hanya saja frustasi-nya tidak.

"Kenapa fisika begitu susah?!" Ucapnyaㅡyang hampir bisa dibilang berteriak- didepan kaca.

Kai keluar kamar mandi. Ia memutuskan mengerjakannya sekarang, agar esok-esok ia tidak berkutat lagi dengan fisika yang susahnya bisa membuat orang setenang Kai bisa gelisah.

Kai membuka tasnya, danㅡ

"Shit!"

ㅡmerutuk sebal. Buku paket fisikanya masih ada dilokernya. Baiklah, Kai memang tidak terlalu suka ilmu hitung-menghitung. Buku matematikanya saja berada di loker. Dia mendecak frustasi. Mana jarak rumah ke sekolah lumayan jauh! Pemuda itu melirik jam dinding, 14:32. Masih ada sedikit waktu untuk mengambil buku paketnya sebelum pintu gerbang sekolah ditutup. Dengan sangat terpaksa, Kai menuju sekolahnya menggunakan motornya. Mengantisipasi tentang guru, Kai memakirkan motornya lumayan jauh dari sekolahnya.

ㅡBLUE ENVELOPEㅡ

Sesampainya di area sekolah, ia langsung bergegas ke lantai tiga. Dimana kelasnya berada. Sayangnya, saat ia berlari ditangga, tanpa sengaja ia menabrak seorang namja, hingga terjatuh. Namja yang ditabrak Kai memasang wajah kaget. Mungkin terlalu shock, tiba-tiba jatuh. Kai mendecak pelan lalu menghampiri namja itu.

"Kau tak apa? Eum... Oh Sehun?"

"Eh? Bagaimana kau tahu namaku?" Tanya namja yang ternyata adalah Sehun.

"Simpel. Name tag-mu." Kata Kai sambil menunjuk name tag di kemeja Sehun. Sehun mengangguk lalu berdiri. Menunduk sedikit lalu melanjutkan perjalanannya menuju lantai bawah. Kai agak kesal. Tapi, kesal untuk apa?

Kai memandang punggung Oh Sehun itu. Lalu melanjutkan perjalanannya ke lantai tiga, kelas 8 C.

Sesampainya dikelas, ia langsung membuka lokernya dan menarik buku fisika yang sampulnya berwarna mencolok, ungu tua. Mudah dilihat kan? Seiring tarikan buku fisika itu, sebuah amplop cokelat terjatuh. Kai memandangnya sebentar, lalu mengambil amplop itu.

"Punya siapa, ya?" Tanya Kai. Dengan ragu, ia membuka amplop tersebut dan membaca isinya.

Hai, Jongin.

Aku tahu kau tidak terlalu menyukai jika ada orang asing yang memanggilmu Jongin. Aku hanya ingin memanggilmu Jongin, itu saja.

Oke, tadi itu tidak penting. Direspon atau tidak, aku tidak peduli. Tapi aku menyukaimu. Tidak, aku mencintaimu.

Dibalas? Aku bersyukur. Tidak juga tidak apa-apa. Jika dibalas, taruh saja di tempat dimana aku mengirim ini.

S

Kai kaget. Bagaimana bisa ada orang yang menyukainya? Oh tidak, bahkan mencintainya? Author gregetan deh, rasanya pengen nepok jidat Kai. Iyalah, banyak kali yang suka sama lu-_- oke abaikan.

Pemuda tan itu membaca surat itu berkali-kali, hingga pada akhirnya ia merobek kertas dari buku tulis yang tersedia dilokernya dan mengambil pulpen yang sudah tersedia di atas meja guru.

Hai juga S

Jongin

Kai melipat kertas nya dan menaruhnya dilokernya lagi. Menutup lokernya dan berjalan keluar kelas. Kai berhenti lagi, sepertinya ada yang kelupaan.

"ASTAGA! BUKUNYA JANGAN KETINGGALAN LAGI!"

Baiklah, Kai. Imej mu sebagai orang yang tenang telah hancur, karena pelajaran fisika.

ㅡBLUE ENVELOPEㅡ

Sehun merebahkan dirinya dikasur. Memikirkan Kai. Ini pertama kalinya Sehun memikirkan Kai sebegitu dalamnya(?). Padahal, sebelumnya Sehun enjoy-enjoy aja. Semua karena novel sialan itu, gerutu Sehun sambil menatap Novel berkofer biru itu. Lalu membacanya ulang. Cerita di Novel ini sungguh asik. Happy Ending. Tapi jika cerita di kehidupannya jadi ngenes? Dan berakhir nyesek? Pooryou, Sehun.

Sehun mencuci wajahnya dan menatap pantulan dirinya dari cermin. Entah kenapa kantung matanya semakin besar. Sehun mendengus. Kai itu makhluk Tuhan yang bisa membuat ia jatuh cinta, gila, dan rela merubah orientasi seksualnya.

Sebenarnya ia bingung harus apa. PR matematikanya sudah selesai sedari tadi. Apa ia harus ke perpustakaan? Untuk apa? Akhirnya Sehun memutuskan membuka laptopnya, lebih baik ia melihat video idolanya tercinta, Justin Bieber dan Super Junior.

Sehun melirik jam dinding dikamarnya. 16:32. Sebaiknya ia mandi, menyegarkan pikirannya yang entah kenapa agak error kali ini.

ㅡBLUE ENVELOPEㅡ

Selesai mandi, ia berfikir. Tidak enak jika ia selalu meminta kertas dari Krystal dan amplop dari Hyelyn. Kesannya, Sehun kayak orang ga mampu, dan parahnya, mungkin saja ia dikira agak berkepribadian wanita karena meminta kertas bermotif untuk wanita dengan warna mencolok yang menurut wanita sungguh lucu.

Sehun membuka laptopnya lagi. Mencoba membuat sebuah kertas warna warni yang ia desain sendiri. Jika berhasil, maka kertas tersebut akan dipakainya terus untuk mengirim surat ke Kai. Ia juga mencoba-coba merangkai amplop yang lucu-lucu. Berhubung Kai suka warna biruㅡSehun adalah stalker. Ingat. Sedingin-dinginnya ia juga ia pernah menjadi seorang stalker. Jadi ia tau segala yang disuka oleh Kaiㅡ, jadi ia memutuskan menggunakan amplop berwarna biru donker dan biru cerah.

Setelah memikirkannya matang-matang, Sehun beranjak dari kasurnya dan mencari kertas karton, pensil, pensil warna, spidol warna, lem, gunting, dan beberapa aksesoris Hayoung yang masih tertinggal di lacinya. Ia mencoba membuat satu amplop. Karena ia pikir, kertas tidak perlu terlalu hippy. Kertas dari buku tulis saja sudah cukup. Sehun menggaris diatas permukaan kertas, menggunting dan mengelemnya, lalu ia hias dengan spidol. Ia juga menggunting dengan lucu untuk penutup amplopnya. Di amplop yang satu itu, ia gambar dengan bentuk hati dan dihias dengan pita dari aksesori milik Hayoung. Sehun mengangkat amplop biru itu tinggi-tinggi dan tersenyum.

Pada akhirnya Sehun tersenyum manis, hanya karena sebuah amplop yang ia buat sendiri, yang nantinya akan dikirim ke seorang bernama Kai.

"Kak? Kakak ngapain?"

Sehun menarik amplop biru yang ia buat itu dan mengumpatinya. Ia takut, takut amplop itu Hayoung minta.

"Ngerjain tugas prakarya." Jawab Sehun tenang, dengan wajah yang datar. Hayoung ber-oh-ria sambil mengangguk. Wajah gadis kelas 4 sekolah dasar itu begitu imut, walau kelakuannya kayak macan yang digigit semut. Pikir Sehun.

"Dipanggil mama." Ucap Hayoung lalu pergi dengan membawa barbie yang tadi ia bawa. Sehun beranjak menuju dapur, dimana mamanya pasti akan berkutat dengan buku resep dan juga minyak dimana-mana.

"Apa mama?"

"Gak jadi deh. Mungkin besok saja."

Sehun berdecak lalu kembali ke kamarnya.

Sehun kembali berkutat dengan laptopnya, menyetel lagu yang sekiranya asik dibuat menari. Genre hip-hop misalnya? Sehun suka sekali menari. Hanya saja ia tidak pernah menunjukan bakatnya didepan umum. Ikut ekskul saja menari saja tidak. Sehun malah memilih masuk PMR. Hadeuh.

Setelah menari dan cukup lelah, ia mematikan laptopnya dan langsung terbang ke alam mimpinya.

ㅡBLUE ENVELOPEㅡ

"Sehun, dipanggil Kai di UKS." Panggil anak kelas II B, Eunji. Sehun yang sedang menulisㅡentah menulis apaㅡlangsung menghentikan kegiatannya lalu beranjak ke UKS dengan wajah yang datar. Sejujurnya, jantung Sehun berdetak tak karuan. Tapi, karena wajahnya yang emang tercetak dingin, jadi ya, mau gimana lagi?

Cklek.

Sehun membuka pintu UKS dan betapa kagetnya ia saat Kai menarik tangannya dan memojokkannya ke tembok. Tangan satunya ia gunakan untuk mengunci UKS dan mengantunginya. Sehun menatap bingung Kai. Sehun merasa takut sih. Hanya saja, Sehun bingung.

"Kai, kenapㅡhmpfftㅡ"

Kai melumat bibirnya basah. Sehun kali ini benar-benar kaget. Hey! Ciuman basah pertama nya direngut oleh Kai?! Haruskah ia senang? Atau malah sebal?

Sehun hanya bisa memukul-mukul dada Kai sekuat tenaga hingga Kai melepas ciumannya. Sehun mengatur nafasnya dan mengusap bibirnya yang basah. Menggumam tak percaya.

"Kai..?"

Tiba-tiba, ia merasakan ada bunyi ponselnya. Berkali-kali Sehun lihat ponselnya, tapi layar tersebut tidak memperlihatkan adanya seseorang yang menelepon.

"Ngghh~?"

Sehun mengucak matanya dan melihat kesekeliling. Jadi, tadi itu hanya mimpi?

Lalu Sehun melirik jam dinding dan memasang wajah 'damn!'

"YA TUHAN JAM TUJUH KURANG!"

ㅡBLUE ENVELOPEㅡ

Untung saja jarak dari rumah ke sekolahnya tidak terlalu jauh. Jadi ia tidak perlu mendapat hukuman dari para anggota osis yang menyebalkan itu.

Sehun segera menuju kelasnya yang berada dilantai tiga. Didalam perjalanan menuju lantai tiga, ia tak berhenti menggerutu. Bagaimana tidak sebal? Dua tahun tidak pindah kelas. Dan parahnya kelasnya dilantai teratas. Capek sebetulnya. Mungkin karena kelas dua ini, wajah datar Sehun akan sedikit berubah.

Ia menatap lelah ruang kelasnya dari depan pintu. Untungnya Chen belum berpatroli untuk murid yang terlambat. Bisa-bisa ia harus mengepel kelas ini. Huh.

Sehun mengambil buku coret-coretan yang baru untuk menulis-nulis apapun dipikirannya. Sebetulnya ia bosan tidak memiliki teman dekat. Ia juga bingung, kenapa ia terkadang memiliki rasa kesal jika didekati orang lain. Makanya, ia selalu menjawab ketus. Mungkin trauma masa sekolah dasar?

KRING!

Bel masuk berbunyi. Para siswa masuk kelas. Luhan yang tadinya mengobrol dengan Taemin juga Suga langsung duduk lagi ditempatnya. Tepat disebelah Sehun. Mm.. Ngomong-ngomong soal Taemin dan Suga, sebetulnya mereka berdua adalah sahabat di SD-nya. Tapi entah kenapa, saat SMP ini, mereka berdua agak berjaga jarak dengan Sehun.

"Good morning guys!" Ucap Kristine seonsaengnim. Guru bahasa Inggris yang berdarah Kanada-Korea.

"Morning miss Kristine!" Koor seluruh murid.

"Okay. Eum. Hari ini cuaca cukup cerah. Dan saya tidak membawa bahan ajar hari ini. Jadi, kita bermain saja. Mau?" Ucapnya. Murid sekelas langsung berteriak 'Iya'. Jam kosong atau tidak belajar adalah satu diantara hal-hal favorit para pelajar.

"Baiklah.. Satu jam kita untuk bermain, satu jam lagi free time saja. Lagipula sepertinya akan ada rapat susulan. Biasalah, urusan para guru." Miss Kristine tertawa kecil yang dibarengi oleh teman sekelas Sehun.

"Eum, Sehun-ah. Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" Tanya miss Kristine.

"Saya kurang tidur." Jawab Sehun sedikit jujur. Karena sebenarnya ia kesal. Masa diberi mimpi seperti itu? Hft.

"Oh baiklah. Mungkin kau bisa ke UKS dan tidur disana."

Miss Kristine yang terbaik! Batin Sehun senang. Sehun langsung berdiri dan berpamitan pada Miss Kristine. Setelah itu ia berjalan menuju UKS. Berhubung kuncinya ada sama dia.

Alangkah terkejutnya Sehun saat melihat murid yang menyender di pintu UKS sambil memijati pelipisnya. Terlihat sekali wajah murid itu pucat. Dan Sehun tau pemiliknya. Dilihat dari bentuk rambut dan warna kulit, itu adalah Kai. Sehun jadi ragu ingin tidur di UKS atau tidak. Sepertinya tidak usah, tapi yang jelas pintu UKS harus dibuka sekarang.

"Hey. Maaf, aku ingin membuka pintu UKS. Aku tahu kau pasti sakit." Ucap Sehun basa-basi sambil memutar kunci UKS yang sudah tertancap di lubang kuncinya.

"Aku juga minta maaf, kunci UKS selalu kupegang. Lain kali jika kau sakit, temui guru atau anggota PMR." Lanjut Sehun. Kai mengangguk. Lalu segera masuk dan menduduki pantatnya pada sofa.

"Kai. Tiduran saja dikasur." Suruh Sehun.

"Ya." Jawab Kai singkat lalu tiduran dikasur dan tak lama, ia terlelap.

Sehun tersenyum. Ia senang bisa melihat wajah Kai dari dekat. Kai, adalah orang yang bisa membuat senyum Sehun mengembang.

Setelah itu, Sehun merebahkan dirinya di sofa UKS dan tertidur juga.

ㅡBLUE ENVELOPEㅡ

Kai terbangun dari tidurnya dan melihat kesekeliling. Dan pandangan utamanya ia tujukan pada pemuda yang tengah meringkuk disofa. Sehun. Entah kenapa, Kai tersenyum melihat wajah Sehun yang damai.

Pemuda tan itu menggendong Sehun ke tempat tidur dan menyelimutinya. Sehun terlihat pulas sekali. Tiba-tiba, pintu UKS terbuka dan Kai cukup terkejut. Ternyata itu Lim seonsaengnim. Petugas UKS.

"Kai? Apa yang kau lakukan?"

"Sehun sakit, saem. Aku hanya menemaninya." Jawab Kai sambil tersenyum. Lim seonsaengnim mengangguk sambil mencari berkas yang ia perlukan.

"Kau sahabat yang baik, Kai-ah. Baiklah saya tinggal, nde? Annyeong"

Kai mengangguk saat pintu UKS kembali tertutup, dan pandangannya kembali memandang wajah Sehun yang terlihat manly dan imut disaat yang bersamaan. Secara tidak sadar, Kai merapihkan poni Sehun yang menutupi kelopak matanya.

"Eunghh~"

Kai menarik tangannya terkejut saat melihat Sehun mulai membuka matanya. "Kai? Sedang apa kau disini?"

"Menemanimu." Jawab Kai sambil tersenyum.

Pipi Sehun menghangat. Kai menemaninya? Sungguh? Apa ini mimpi? Tanpa diketahui Kai, Sehun mencubit perutnya sendiri dan meringis sakit. Ini bukan mimpi. Sehun berusaha untuk tidak tersenyum.

"Ohh.. Kau tidak ikut jam pelajaran?" Tanya Sehun. Kai menggeleng.

"Saat ini jam sejarah dikelasku. Kau mau ke kelas?" Sehun menggeleng.

"Aku temani kau disini."

Sehun menguap lagi. Jujur saja ia masih ngantuk.

"Kai, aku tidur lagi boleh?"

"Tentu saja."

Tak lama, Sehun kembali terlelap.

ㅡBLUE ENVELOPEㅡ

Kai melirik arlojinya. Tiga puluh menit lagi, bel pulang berbunyi. Dan Kai mungkin membolos seharian. Tapi ia cukup bersyukur. Bukankah, tidak belajar satu hari itu termasuk refreshing? Untung saja PR nya sudah dititipkan ke Chanyeol.

Sehun ternyata tidur cukupㅡoh mungkin, sangat lama. Dari jam setengah 11 tadi hingga jam dua siang. Kai mengelus surai lembut Sehun. Entahlah, ia juga bingung kenapa ia begitu perhatian pada Sehun. Padahal, secara mereka belum kenal.

KRING!

Bel pulang berbunyi dan tepat beberapa detik setelahnya, Sehun membuka mata. Dan pintu UKS kembali terbuka.

"SEHUN KAU MEMBOLOS ATAU... Eh? Kai?.."

Kai menatap tajam perempuan ituㅡNaeun. Naeun itu mantan pacarnya. Tapi Kai tdk pernah punya rasa sedikitpun pada perempuan itu.

"Aku kesini bawain tas Sehun. Tolong bilangin ke Sehun ada PR bahasa Korea. Makasih."

Setelah Naeun pergi, Kai menatap Sehun yang baru sepenuhnya sadar dan membulatkan matanya spontan saat melihat jam.

"Kai, kita sudah pulang?" Kai mengangguk. "Aku membolos seharian..." Ucap Sehun dengan nada tak percaya. Kai tertawa kecil.

"Aku juga. Sudahlah tak apa. Ayo pulang. Aku sudah menyuruh Chanyeol mengambilkan tasku."

Taklama, pria tinggi bernama Chanyeol itu memasuki UKS.

"Tasmu serasa bawa bom, Jongin Kim! Berat banget uh..." Keluh Chanyeol. Kai melirik Sinis Chanyeol. Sehun hanya diam menatap pandangan yang ditangkap oleh matanya.

"Yak! Ayo pulang!" Teriak Chanyeol senang. Kai masih melirik sinis ke Chanyeol sedangkan Sehun hanya terkikik kecil. Wajah Kai tampan, tapi menggelikan saat menatap Chanyeol seperti itu.

Setelah Sehun menggendong tasnya, mereka pulang bersama. Tapi hanya sampai pintu gerbang sekolah. Karena rumah mereka berbeda arah.

ㅡBLUE ENVELOPEㅡ

Sehun berdiri didepan pintu rumahnya, menghela nafas lalu membuka pintu rumahnya. Entah kenapa ia merasa sangat kecapekan. Padahal ia sudah tidur seharian. Apa karena efek seharian dengan Kai? Tidak mungkin. Harusnya ia malah senang. Tapi, kenapa firasatnya agak buruk seperti ini ya?

"Ah Sehunnie! Kau sudah datang!" Kata nyonya Oh saat Sehun membuka pintu. Sehun mengerutkan keningnya, melihat Ayah, Ibu, serta Hayoung berpakaian rapih dan membawa koper.

"Kalian mau kemana?" Tanya Sehun pada akhirnya, dengan wajah andalannya. Dingin namun datar.

"Appa akan ada tugas di Kanada selama 6 bulan kedepan, mungkin akan menetap disana. Karena Hayoung masih SD, ia akan sekolah disana juga. Dan kau tetap disini." Kata Appa Sehun yang membuat Sehun terkejut.

"Bagaimana bisa kalian meninggalkanku sendiri? Hey! Dirumah sudah tidak ada pembantu! Siapa yang akan mencuci pakaianku, huh?" Kesal Sehun. Hayoung malah tertawa, pertama kalinya melihat kakaknya yang dingin dan datar berwajah kesal, dan marah. "Kau jangan ketawa jelek!" Lanjut Sehun.

"Sehunnie.. Mungkin 6 bulan kedepan, kau akan tinggal dirumah teman dekat eomma dan appa. Keluarga Kim."

"Kau kira aku anak macam apa dititip-titipkan seperti itu?! Aku tidak mau!" Ujar Sehun jengkel. "Pokoknya aku mau ikut!"

"SEHUN!"

Sehun diam dan mendesah kesal. "Yayayaya aku menurut apa kata eomma appa saja."

"Just for your information, oppa. Tuan Kim yang datang kesini sendiri dan memohon agar kau tinggal dirumahnya. Katanya anaknya kasihan selalu sendiri kalau dirumah. Jika ada kau, mungkin anaknya akan terhibur." Kata Hayoung sambil terkikik kecil. Sehun mendengus.

"Dan kau akan dijemput keluarga Kim. Malam ini. Atau bahkan sore ini. Persiapkan dirimu anak manis! Jangan lupa bawa buku pelajaranmu! Nurutlah sama Nyonya dan Tuan Kim!" Kata eomma Sehun sambil memegang pipi Sehun. Sehun menggangguk ketus.

"Baiklah, kami berangkat. Annyeong."

Setelah kecupan dari appa dan juga eomma ia terima, kedua orang tuanya langsung pergi dengan taksi yang baru saja datang.

"Bye bye oppa~" kata Hayoung sambil memeletkan wajahnya.

"Ish! Dasar anak manja!" Sehun menggerutu sebal. Setelah itu Sehun masuk kamarnya dan menyiapkan langsung seragam bersihnya, buku-buku pelajaran dan beberapa perlengkapan untuk membuat amplop biru. Ngomong-ngomong soal amplop biru...

"ASTAGA! KENAPA TADI LUPA NGECEK LOKER KAI LAGI?!"

Sehun mengacak rambutnya sebal. Rasa penasaran sudah bergumul di dadanya. Kai balas suratnya atau enggak ya? Ah, berarti besok harus berangkat lebihㅡbahkan sangat pagi!

Setelah Sehun siap dengan baju yang akan dibawanya kerumah keluarga Kim, ia segera mandi dan ganti baju. Lalu menonton televisi, menunggu orang dari keluarga Kim menjemputnya.

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan singkat. Dari eomma.

From: Mommy3

To: Sehun Oh

Sehun-ah~ aku lupa bilang. Nanti berikan kepada keluarga Kim bungkusan biru yang ada dimeja makan. Jangan lupa ya! Ibu juga membuatkanmu kue kering setoples. Saranghae Sehun!

"Nado Saranghae, eomma"

ㅡBLUE ENVELOPEㅡ

"Ah selamat datang Jonginna~!" Sambut eomma Kai saat Kai masuk ke dalam rumahnya. Kai melongo. Eommanya kenapa jadi seperti ini?

"Jonginna~ dirumah kita akan ada tamu spesial~" kata eomma Kai.

"Iyakah?"

"Nde, Jonginna~ kau segera mandi lalu bersiap. Kau akan ikut kami menjemput tamu spesial itu~ Oh iya! Dia akan menginap dirumah kita selama kurang lebih enam bulan~" kata eomma Kai.

"HAH? ENAM BULAN? YANG BENAR SAJA! MEMANG ORANG TUANYA KEMANA?!" Teriak Kai spontan. Eomma Kai menggeleng-geleng.

"Orang tuanya itu teman eomma sejak SMP hingga saat ini... Dan teman eomma itu ada dinas di Kanada. Karena anak pertamanya sudah SMP, jadi ia tidak boleh ikut ke Kanada. Appa-mu sendiri loh, yang minta anaknya menginap dirumah kita saja." Jelas eomma Kai. Kai mendengus kesal.

Ia memang seringkali kesepian. Tapi bukan berarti ada orang yang boleh menginap dirumahnya, dong! Enam bulan pula! Dirumahnya juga tidak ada kamar tamu!

"Sudah sana mandi! Lalu bersiap!"

Kai mendengus lalu menjalankan perintah dari eommanya. Percuma saja mengelak, setuju atau tidak setuju, anak gak jelas itu tetap akan menginap disini, Kan?

ㅡBLUE ENVELOPEㅡ

Ting! Tong!

Sehun segera beranjak dari sofa dan membuka pintu. Muncul-lah pria dan wanita asing yang terlihat sudah agak tua. Sehun jadi takut. Menurut film yang ia pernah tonton, biasanya itu semacam penipuan.

"Wah, Sehun-ah~ Kau tumbuh dengan pesat. Tidak kukira kau sudah sebesar dan setampan ini~" kata sang wanita tua tersebut. Sehun bergidik. Siapa sebenarnya orang ini?

"Ahh... Pasti kau bingung. Aku teman ibumu semasa kecil. Dan kau akan menginap dirumahku, Sehun-ah~" kata wanita tersebut. Sehun menghembuskan nafas lega. Ternyata ini Nyonya keluarga Kim.

"Ah, mianhae ajhumma. Aku memang orangnya sedikit parno. Hehe." Kata Sehun sedikit menyengir. Wah, sepertinya Sehun sudah bisa mengendalikan mimik wajah, ya?

"Ehn, Ajhumma dan Ajhussi Kim. Lebih baik kalian masuk dulu."

"Nde~"

Sehun mengambil setoples kue kering yang dibuatkan eommanya untuk dirinya lalu diletakkan diatas meja diruang tamu. Sehun juga tak lupa membawa bungkusan biru yang dititipkan mamanya untuk keluarga Kim.

"Ajhumma dan Ajhussi Kim.. Ini ada titipan dari ibuku. Eum. Aku tidak ada makanan. Hanya ada kue kering ini." Ucap Sehun. Ajhumma Kim tersenyum manis.

"Kau baik sekali, Sehun-ah. Terimakasih banyak."

Sehun membalas tersenyum sambil mengusap tengkuknya.

"Sayang, mana Jongin? Dia itu menyebalkan sekali sih." Ucap Ajhumma Kim pada Ajhussi Kim. Sehun membulatkan matanya. Jongin? Apakah itu Kim Jongin? Apakah itu Kai? Astaga. Semoga saja, bukan Kim Jongin anak 8 C yang ia suka.

"Akan kupanggil lagi." Kata Ajhussi Kim. Jantung Sehun berdegup kencang. Entahlah, ia memiliki firasat yang kuat bahwa Jongin yang mereka maksud adalah Kim Jongin atau yang dikenal dengan nama Kai.

"YAK APPA! AKU TIDAK MAU TURUN!" Teriak seseorang dari luar.

"Kau harus masuk, Kim Jongin! Jagalah sopan santun!" Bentak Ajhussi Kim.

Keringat Sehun mengalir bertambah banyak. Dan betapa shocknya dia saat melihat namja berkulit tan yang masuk kerumahnya. Itu Jongin.

"Jongin! Jaga sikapmu!" Bisik Ajhumma Kim pada Jongin yang sudah duduk disofa, tepat disebelahnya. Tapi Sehun mendengarnya dengan tepat.

"Hm, jadi Sehun. Perkenalkan ini anakku. Kim Jongin. Sekolah di Seoul Art Junior High School."

Sehun tersenyum. Mencoba membuat perasaannya tidak canggung.

"Hai Jongin-ssi. Namaku Oh Sehun."

"Aku sudah tau." Jawab Kai dengan nada ketus.

"Jadi kalian sudah saling mengenal? Bagus kalau begitu. Kalian akan lebih akrab lagi."

Hanya harapanmu, eomma. Batin Kai jahat.

ㅡTBCㅡ

A/n:

Hai. Akhirnya lanjut juga.

Aku minta maaf banget soalnya telat update pake banget. Huhuhu. Biasalah, anak sekolah. Banyak tugasnya. Kemarin juga baru lewatin pekan ulangan. Huks. Alhamdulilah sih, nilainya lewat kkm semua. Tp ada beberapa yg ga lulus /potek/

Nah, gimana chapter 2 ini? Menarik / makin membosankan? Lanjut / discontinued? Aku perlu voting kalian hehe:3

Terus, ada masukan/saran/kritikan? Masukin aja ke kotak review^^

Akhir Kata,

Mind to review?^^

25 Januari 2014

byuncrackers