BLUE ENVELOPE - chapter 5
The Reality - 2
END Chapter bagian 1
KaiHun fanfiction
Happy reading xoxo
ㅡBLUE ENVELOPEㅡ
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Kai langsung berlari menghampiri kelas Sehun. Menarik tangannya dan segera membawanya entah kemana. Ia déja vu. Kemarin ia baru saja melakukan ini pada Sehun. Hari ini terjadi lagi. Dengan suasana yang berbeda. Ia tidak suka Sehun dekat-dekat dengan Luhan.
"Aish Jongin! Sakit!"
"Jangan panggil nama asliku, idiot!"
Sehun menutup mulutnya kaget. Bagaimana ia bisa keceplosan gini, heh? Ia merutuk dirinya sendiri.
Sekarang, Sehun dan Kai ada di gudang taman belakang sekolah. Kai memastikan bahwa tidak ada orang yang ingin kesini. Namja Tan itu membanting Sehun ke dinding dan didempetkannya tubuhnya pada tubuh Sehun. Sehun bergidik. Apa yang akan Kai lakukan?!
"Jawab aku, ada hubungan apa kau dengan Luhan?"
Wajah takut Sehun berubah menjadi wajah malas dan kesal. "Memang apa pedulimu?" Entah Sejak kapan Sehun yang berwajah datar menjadi seperti ini. Kai makin gencar mengunci tubuh Sehun.
"Jawab aku!"
"Apa urusanmu tentang aku dan Luhan?! Lagipula, aku tak ada hubungan apa-apa dengannya."
Kai langsung menggigit bibir Sehun kasar. Sehun tentu saja terkaget. Bagaimanapun juga, Sehun masih menyukai Kai. "Kenapa kau berciuman dengannya dikoridor depan heh?"
Perkataan Kai tadi membuat Sehun semakin bungkam. Kai melihatnya? Astaga, Sehun jadi takut.
"JAWAB!"
"Dia tidak menciumku, idiot! Jangan memarahiku!" Jawab Sehun pada akhirnya. Wajahnya ia palingkan kearah lain. Kai mendengus lalu melepas cengkramannya. Lalu, namja tan itu berjalan pergi meninggalkan Sehun yang masih berusaha menetralkan detakan jantungnya.
Hatinya sakit sekali, walaupun perlakuan Kai padanya sangat terbilang intim, tapi, tidak dalam keadaan romantis. Sehun menghela nafas. Kapan ia akan dekat dengan Kai dengan keadaan yang normal?
Sehun akhirnya keluar dari gudang taman belakang sekolah itu. Dan betapa terkejutnya bahwa didepan sudah ada Luhan menunggunya. Sehun mendengus. "Aku sedang tidak ada mood untuk meladenimu, Xi Luhan."
"Kemana sosok manismu hm? Kenapa kau jadi galak?"
"Hilang dibawa cintaku pada Kai."
Luhan tertawa. "Aku sudah berpacaran."
"Oh-uh? Lalu? Kau ingin pamer?"
"Tentu saja! Dengan begitu, aku bisa menjadi temanmu lagi. Sungguh. Aku tidak mempermainkan hati Yixing. Aku tidak ada niatan munafik." Kata Luhan sebelum Sehun membuka mulutnya. Sehun terdiam. Ini seperti... Pengorbanan, kah?
Sehun mendengus lalu memeluk Luhan. "Kau benar. Aku tidak punya teman curhat selain kau, Luhan." Sehun menyembunyikan wajahnya dibahu Luhan. Luhan mengacak surai kecokelatan Sehun dan tersenyum.
"Sekarang, ceritakan. Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Kai? Kenapa tiba-tiba seluruh warga sekolah bisa mengetahui hal tentang kau menginap dirumah seseorang? Lalu, kenapa ia marah?"
Sehun mengangkat bahunya lelah. "Mana kutahu. Tentu saja ia marah. Rumah yang kutumpangi itu rumah Kim Jongin hitam itu." Kata Sehun. Tangan putihnya segera menutup mulut Luhan sebelum anak itu berteriak dengan kelebayan yang dimilikinya.
"Jadi kau menginap dirumahnya?! Astaga Sehun! Pantas saja ia marah! Lalu, kenapa semua orang bisa tahu?" Luhan mulai berbicara dengan berlebihan. Sehun menghela nafas. "Kukira kau yang menyebarkannya."
Luhan membulatkan matanya, lalu mendengus. "Aku gak mungkin ngebocorin rahasia sahabat plus orang yang akuㅡ"
"Mantan. Mantan orang yang kau suka, Luhan."
"Ya apalah itu. Lagian juga aku kan gak tau kalau orang yang kau maksud itu si Kㅡ"
Sehun menutup mulut Luhan lagi. "Jangan keceplosan."
"Ergh! Bisa gak sih tinggal bilang ssst aja? Tanganmu itu berair!" Luhan mendengus kesal sambil menepis tangan Sehun dari mulutnya. Sedangkan Sehun memutar matanya. Luhan itu seme apa uke sih?
"Yaa.. Bisa aja kan kau yang nyebarin? Mungkin balas dendam gara-gara aku nggak nerima cintamu. " Sehun ikut-ikutan nyolot. Luhan mendengus lagi.
"Yasudah. Intinya bukan aku yang ngasih tau ke penjuru sekolah. Aku bakal bantuin nyari orang yang nyebarin hal ini. Pasti ada orang yang ga sengaja dengar kau berbicara tentang hal itu. Well, sudah pasti orang-orang tukang gosip yang terkenal." Ucap Luhan asal.
"Hush! Gaboleh seudzon tau! Kalau kau seudzon, mending gak usah bantuin deh!" Sehun membalas perkataan Luhan yang asal ceplos. Luhan membelakangi Sehun dan berjalan pergi. Lagipula, ia hanya menyelidik, kan? Apa itu salah?
Dan feeling Luhan saat ini yang menyebarkannya adalah...
Byun Baekhyun.
Orang yang pernah menyukai, bahkan mencintai Kai, walaupun ia sudah mempunyai pacar.
"Huh terserah kau Sehun. Aku mau ke kantin. Mau ikut?"
"Tentu."
ㅡo00oㅡ
Kai lagi-lagi menggeram kesal melihat Sehun dan Luhan dengan senangnya memakan snack bersama dikantin. Diantara mereka ada pertengkaran kecil yang bisa dibilang cukup romantis.
Kai menghela nafasnya, meredakan emosinya. Ini bukan salah Sehun atau salah Luhan. Ini salah dirinya sendiri. Gengsi dan egonya terlalu tinggi. Ia menyesal karena pernah marah pada Sehun. Ia menyesal karena telah tidak menerima Sehun dikehidupannya.
Ia mengingat kejadian dimana ia bisa memeluk Sehun. Sungguh, pelukannya terasa nyaman. Ia mengusap rambutnya keatas. Apa ia benar-benar sudah menjadi gay? Hanya karena seorang Oh Sehun?
Kalau saja waktu itu Kai dengan senang hati menerima keberadaan Sehun. Kalau saja waktu itu emosi Kai tidak terpancing. Kalau saja waktu itu Kai menyapa Sehun dengan baik. Kalau saja... Kalau saja... Dan begitu banyak Kalau saja dihati Kai saat ini.
"Kai?"
Kai menoleh. Itu Sehun. Wajahnya otomatis berubah menjadi dingin. Kai merutuk dirinya sendiri. Ayo tersenyum pada Sehun! Ayo ajak ia pulang bersama! Ayo Kai! Ayo!
"Belum pulang?" Tanya Sehun hati-hati. Hati Kai tergores. Sehun benar-benar takut padanya?
"Kau bisa lihat kan? Aku masih disini. Berarti aku belum pulang." 'Oh shit kenapa kau begitu kasar padanya Kai!'
Didalam diri Kai seakan ada dua arwah. Satu arwah yang menyayangi Sehun, dan satu arwah lainnya yang egois, dan emosian.
Sehun mengatur nafasnya yang tersendat. "Oh, kalau begitu aku pulang duluan ya."
Sehun berjalan menjauhi Kai pelan. Kai menatap punggung Sehun dengan sendu. Setelah Sehun menghilang dari pandangannya, ia baru sadar. Sehun tidak bersama Luhan. Lantas, Luhan dimana?
Kai mengintip ke arah kantin. Disana tidak ada tanda-tanda adanya Luhan. Kai mengangkat bahunya dan berjalan pulang.
ㅡo00oㅡ
Kai membaringkan tubuhnya diatas kasur. Tangannya memijat pelipisnya. Sehun tidak berada di sudut rumah manapun. Padahal, ia pulang duluan tadi.
"Annyeong."
Samar-samar, Kai mendengar suara Sehun dari depan pintu rumah. Ia juga mendengar ibunya yang langsung menghampiri Sehun dan menyuruhnya makan siang. Kai mengambil bantal dan menutup wajahnya dengan bantal itu.
Kriek.
Pintu kamar dibuka. Kai otomatis melihat orang yang masuk kekamarnya, walaupun dirinya sudah tau kalau itu adalah Oh Sehun.
"Pulang duluan, kan? Kenapa baru sampai? Pacaran mulu kerjaannya!" Kai langsung beroceh dengan kata-kata yang menusuk perasaan Sehun. Sehun menunduk. Kesempatannya untuk dekat dengan Kai pupus sudah. Yang ia tahu sekarang adalah Kai yang akan membencinya, dan selalu membencinya.
"Aku jalan kaki dari sekolah."
"Oh."
Kai tidak mengerti pada dirinya sendiri yang selalu bersikap ketus pada Sehun. Ia ingin sekali menjadi sandaran Sehun.
"Kai. Tadi kata eomma, kau disuruh makan."
"Eomma? Kau pikir itu eommamu? Itu eommaku! Kau disini hanya menumpang."
Sehun menunduk. Ia mengangguk kecil. Kai berjalan keluar kamar untuk makan, berhubung perutnya sudah menari-nari mencari makan.
Sehun terduduk. Air matanya mengalir. Tangannya memegang dadanya sendiri. Sakit. Akhir-akhir ini perkataan Kai begitu menusuk hatinya. Dimana Kai yang waktu itu memeluknya erat? Dimana Kai yang baik dan ramah seperti sebelum mengenal dirinya?
Sehun jadi merasa bersalah. Ia yakin, yang membuat Kai jadi lebih arogant adalah dirinya. Kai sekarang jadi dingin disekolah. Bukan Kai yang dulu.
"Mianhae." Lirih Sehun pelan.
Tak lama, ia tertidur dilantai kamar Kai yang dingin.
ㅡo00oㅡ
Kai berdiri didepan pintu kamarnya bersama dengan ibunya yang sedang mencubit lengannya. Ia menatap kesal plus sendu pada Sehun yang tertidur pulas dilantai yang sudah pasti sangat dingin. Badan Sehun meringkuk seperti bayi yang kedinginan. Ia kesal karena ibunya selalu membela Sehun. Lalu, ia juga merasa kasihan pada Sehun. Kenapa ia harus tidur di lantai kalau ranjangnya kosong?
"Apa yang kau lakukan hah? Jawab aku Jongin!" Ibu Jongin mengeraskan cubitannya karena kesal. Entah pertanyaan yang sama keberapa kali ini.
"Aku tidak melakukan apapun! Tanya saja padanya jika ia sudah bangun!" Kai menjawab pada akhirnya. Ajhumma Kim mendengus kesal lalu mendorong pelan pundak anaknya. "Angkat ia ke ranjang, Jongin. Dan jika ia sakit, kau harus bertanggung jawab."
"Ya." Satu kata. Singkat, padat, nan jelas. Ibu Jongin menutup pintu kamar Jongin lalu kembali ke ruang tv untuk menonton gosip-gosip dan entahlah, Kai tidak terlalu memikirkannya.
Sedangkan Kai menatap Sehun lagi. "Bodoh. Gara-gara kau, aku jadi dimarahi."
Kai menghampiri tubuh Sehun. Ia menyentuh kening Sehun dengan punggung tangannya. Ia mendesah lega mendapati tubuh Sehun tidak dingin dan tidak panas. Lalu, ia mengangkat tubuh kecil itu ke ranjangnya.
Setelah itu, ia menatapi wajah manis Sehun. Begitu damai dan tenang. Ia lagi-lagi merasa bersalah. Kenapa sih, ia selalu bertingkah arrogant didepan Sehun?
Jongin membuka tas sekolahnnya, ia membaca ulang surat-surat dari manusia berinisial S itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman manis yang hampir tak pernah Sehun lihat itu. Ia jadi penasaran siapa itu S.
Cklek.
Jongin cepat-cepat membereskan suratnya itu lalu menoleh kearah ibunya yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk pintu.
"Eomma seharusnya mengetuk pintu dulu." Kata Jongin, protes. Ibunya melotot. "Jangan seenaknya mengaturku! Aku hanya melihat apakah Sehun masih dilantai atau tidak. Untungnya saja ia sudah kau pindahkan, Jong."
Jongin mendecih lalu mengambil buku PRnya. Tidak mempedulikan ibunya yang terlalu memperhatikan Sehun.
"Syukurlah ia tidak demam. Jongin bodoh."
Sakit hati tentu saja. Orang mana yang mau dikatai bodoh oleh ibunya sendiri? Ibu kandungnya sendiri? Jongin menghela nafas tanpa menjawab kata-kata ibunya yang baru saja menutup kembali pintu kamarnya. Lalu ia mulai mengerjakan PRnya.
ㅡo00oㅡ
"Ih berani-beraninya dia numpang tinggal di rumah Kai."
"Kalo gak punya rumah mah, gak usah numpang juga. Nyusahin amat."
"Ditinggal orang tuanya ya.. Pasti malu punya anak kayak dia."
"Sudah jelas dia bakal nyusahin banget. Buktinya aja orang tuanya gak pengen ngajak dia."
Sehun mati-matian menahan emosi dan tangisannya. Ia berjalan cepat-cepat menuju kelasnya. Kemarin, ia tidak mendapat cemoohan apa-apa seperti hari ini. Ia kira tidak akan terjadi hal seperti ini. Nyatanya... Its all begin.
Sehun menarik Luhan buru-buru untuk ke rooftop dari jendela kelasnya.
"Sehun apaan sih jangan narikㅡeh SEHUN?! KENAPA?! KOK KAU MENANGIS?!"
Sehun menangis dibahu Luhan. Tangannya memegangi dadanya yang terasa sesak. "Masalah semua sekolah yang tahu kalau kau tinggal dirumah Kai?"
Sehun mau tidak mau mengangguk. Dan perasaannya lebih lega daripada tadi. Luhan mengelus puncak kepala Sehun.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan. Mereka tidak tahu apa-apa. Tadi aku dilabrak sunbae. Aku di suruh menjauhimu. Katanya kau jalang lah, apalah. Tapi, Yixing segera memarahi sang sunbae."
Sehun mengusap air matanya. "Sungguh? Aku tidak mengenal Yixing, Lu."
"Dasar. Makanya jangan dikelas mulu. Dua tahun disini juga. Masa gak kenal sama temen seangkatan. Idiot."
"Heh, sembarangan aja kalo ngomong." Sehun mendecih. Taklama ia tertawa kecil. "Luhan, terimakasih."
"Untuk?" Luhan masih sibuk menikmati hiliran angin yang menerpa wajahnya. Sehun tersenyum tipis lalu mengecup pelipis Luhan. Luhan tersentak lalu menatap Sehun yang masih tersenyum.
"Untuk semuanya. Kau sahabat terbaikku."
"Tentu saja. Kau juga sahabat terbaikku." Luhan ikut tersenyum dan merangkul pundak Sehun.
Mereka bercanda ria seperti biasanya. Sampai akhirnya Luna, teman satu kelas mereka mengulurkan tangannya tanpa menunjukan wajahnya kearah mereka. Ia memberikan sebuah kertas entah apa isinya. Apa sudah masuk? Pikir Sehun dan Luhan. Tapi tidak mungkin. Bel pasti terdengar dari sini.
Sehun membuka kertasnya dan betapa terkejutnya ia saat membaca deretan kalimat disana.
Kai kelas 8C mencarimu, Sehun. Wajahnya merah padam. Sepertinya ia marah. Chen sama Xiumin sudah ku suruh untuk membawa Kai keluar kelas. Kau cepat keluar dari sana sebelum Kai mengetahui kau ada disana.
Sehun mengintip dari celah-celah gorden putih itu. Dirasa Kai masih berdebat dengan Xiumin juga Chen, ia cepat-cepat masuk ke kelas melewati jendela dan meninggalkan Luhan yang masih mengernyit bingung. Tentu saja. Luhan tidak membaca surat dari Luna tadi.
Sehun segera keluar dari kelas dan mendapati Jongin yang... Errr.. Tidak bisa berbohong. Seram sekali. Giginya bergemelutuk. Matanya menatap tajam Sehun. Terlihat benar-benar marah.
Tangan Jongin terangkat, menunjukan sebuah kertas A4 dengan artikel disana.
Oh Sehun (8A) tinggal dirumah Kim Jongin (8C)
Begitulah headline di kertas tersebut. Sehun tentu saja terkejut.
"Apa maksud dari semua ini, Oh Sehun?"
Pengucapan Jongin terdengar begitu mengintimidasi. Memojokan Sehun yang malah bingung untuk menjawab apa. Sungguh, ia takut sekali.
"Ap-apa? A-aku t-tidak tahu t-tentang artikel itu!". Sehun berusaha menjawab.
"Hah! Omong kosong! Lihatlah kalimat apa yang kutemukan disini, cantik."
... Sehun berkata dengan jujur pada seseorang waktu itu. 'Ya, aku tinggal dirumah Kai sekarang. Orang tuaku pergi ke Kanada karena ada dinas' ucapnya sambil tersenyum...
Sehun menggeram kesal. Ia tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Ia hanya bercerita pada Luhan! Ia juga tidak menyebutkan nama Kai! Astaga, ia rasa ingin mati.
"Kau mengatakan ini ke semuanya hah? Begitukah? Senang ya satu rumah denganku? Hah? Kau pikir aku akan menerimamu dirumahku?"
Nafas Sehun tak beraturan menahan tangis. Ia tidak sanggup seperti ini.
"SEHUN!"
Sehun melirik kebelakang, mendapati Luhan ditahan oleh Krystal. Sehun menghela nafas.
"Sudahlah jujur saja Sehun. Kau kan memang tinggal dirumah Kai."
Baekhyun datang dengan tiba-tiba dengan wajahnya yang tersenyum meremehkan. Sehun menatap lirih Jongin dan Baekhyun dihadapannya.
"Oh Sehun. Jawab."
"Malu kali, dia kan cuma numpang." Baekhyun mengompori perkataan Kai.
"YAK! ITU SEMUANYA BENAR! BENAR DAN TEPAT! AKU MEMANG MENUMPANG DIRUMAH JONGIN! AKU TIDAK PUNYA RUMAH! AKU HANYA MENYUSAHKAN JONGIN SAJA! PUAS?!"
Air mata Sehun mengalir. Jongin menggeram lagi lalu menampar Sehun. "KENAPA KAU UMBAR HAH?!"
"KENAPA? KAU KEBERATAN? KAU KAN TIDAK MENGANGGAPKU! JADI ANGGAP SAJA AKU SETAN! PERMISI, TUAN-TUAN YANG TER-HOR-MAT!"
Sehun menghentakkan kakinya untuk masuk ke kelas, merapihkan seluruh barang-barangnya lalu berlari ke arah meja piket. Meminta izin pulang duluan. Lalu ia pulang sambil menangis. Parahnya, ia lagi-lagi lupa membawa uang, jadi ia pulang sambil berlari. Memalukan. Ia terlihat seperti anak sekolah yang membolos daripada anak sekolah yang meminta izin pulang, mengingat sekarang masih pukul setengah tujuh kurang lima.
Ia membuka pintu rumah Kai dengan pelan. Mengusap air matanya agar tidak ketahuan ia habis menangis.
"Sehun? Tidak sekolah?" Tanya ajhumma Kim. Sehun tersenyum tipis lalu menggeleng. "Aku agak tidak enak badan, jadi aku izin pulang, mmm.. Ajhumma."
"Ajhumma? Panggil aku eomma sayang..."
"Maaf, Sehun gak bisa ajhumma Kim. Ajhumma Kim punya uang buat beli tiket ke Kanada tidak?"
"Eh? Sepertinya ada. Memangnya untuk apa?"
Sehun mengusap tengkuknya. "Boleh Sehun pinjam tidak? Sehun mau menyusul eomma, appa dan Hayoung disana."
Ajhumma Kim terkejut bukan main. "Apa?! Kenapa begitu tiba-tiba? Keluargamu akan balik empat bulan lagi Sehun~ kau bisa tinggal disini~." Kata ajhumma Kim. Sehun menggeleng.
"Anniya.. Aku ingin ke Kanada, sekalian belajar bahasa Inggris disana." Kata Sehun. Ajhumma Kim menghela nafas lelah. Ia yakin sekali bahwa ada faktor eks dibalik semua ini.
"Baiklah, nanti eomma pesankan. Sehun mau kapan berangkatnya?"
"Besok. Apakah bisa ajhumma?"
"Baiklah."
Sehun menuju ke kamarnya setelah mencium kening ajhumma Kim. Ia menghela nafas lalu mulai merapihkan baju-bajunya lagi. Tiba-tiba, matanya menangkap satu pak sepidol berwarna. Ia pun membuat surat untuk Jongin. Sebelum ia menuju Kanada dan tidak lagi menumpang dirumah Kai.
Sehun tak lupa membuat satu amplop lagi dari karton biru yang masih sisa di kopernya. Setelah jadi, ia memasukan salah satu flashdisk kosong miliknya kesana. Ia juga memasukan surat ke amplop itu.
Akan ia menitipkan amplop tersebut pada Luhan.
Sehun mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat pada Luhan.
Luhan, ke perpustakaan tengah kota ya. Nanti sepulang sekolah.
ㅡo00oㅡ
Kai memutuskan untuk membolos hari itu. Ia kabur ke rooftop. Kali ini ia sendiri, tanpa mengajak Chanyeol. Ia masih berusaha meredam emosinya yang sampai sekarang tidak kunjung mereda.
Angin yang bertiup memainkan surai lembut Kai membuat Kai cukup lebih tenang. Tiba-tiba, pikirannya menyambungkan kepada sosok Sehun.
Kemana perginya anak tadi?
Kai menghela nafas. Kalau tidak di perpustakaan, pasti ia pulang. Itu pemikiran Kai, karena tadi Sehun membawa tas sekolahnya.
Ia melirik arloji di tangannya. 10 menit lagi bel istirahat terakhir berbunyi. Ia akan pulang saat itu juga.
"Hoi tuan Kim Kai."
Kai menoleh kearah suara. Itu Chanyeol. Dengan senyuman giginya, terlihat tanpa dosa. Bahunya menyelempang dua tas sekolah. Seperdetik kemudian, ia menyeringai, seakan mengejek Kai. Ia menaruh kedua tas itu lalu menghampiri Kai.
"Baiklah, aku memang sudah tahu lebih dulu kalau Oh Sehun tinggal dirumahmu. Tapi sumpah, aku tidak menyebarkannya."
"Bisa berhenti membahas itu sekarang? Aku muak dengannya."
"Mau membolos sekarang?"
Kai menoleh pada Chanyeol, lalu ia mengangguk. Lalu, mereka kabur lewat pintu gerbang utama. Untung saja si satpam sekolah pak Shindong yang kelewat galak dan sensi itu tidak berjaga. Paling lagi ngopi bareng guru-guru malas.
Kai sebetulnya agak bingung kenapa Chanyeol dengan santainya mengajak ia lewat pintu depan. Padahal, Chanyeol dan Pak Shindong itu bisa dibilang musuhan.
"Aku ngecek keadaan dulu tadi. Makanya aku tau kalau Shindonghee itu tidak berjaga."
Sudah terjawab pertanyaan Kai itu.
"Aku akan pergi ke toko Sooyoung nuna. Kau mau ikut?"
Kai menggeleng lalu segera pulang kerumahnya. Ia sebetulnya merasa bersalah pada Sehun. Tapi bagaimana lagi? Ia juga merasa kesal pada pemuda putih itu. Gengsi nya masih terlalu tinggi untuk sekedar menyapa Sehun.
Kai menggenggam handle pintu rumahnya dan perlahan memutarnya. Ia cukup terkejut karena ibunya ada didepan pintu.
"Kai. Apa yang kau lakukan pada Sehun?"
Lagi-lagi Kai menggeram marah. Sehun mengadu? Pengecut.
"Apa?"
"Dia pulang ke rumahnya!"
"Ya sudah. Bagus kalau begitu."
Plak!
Kai menatap datar ibunya yang baru saja menamparnya.
"Ibu lebih sayang Sehun, ya? Daripada anak kandungnya sendiri?" Ucap Kai, lalu berlalu dari ibunya yang masih terdiam kesal.
tbcㅡ
Demiapapun bukan keinginan gue buat nge tbc-in lagi. Ini aslinya 5000+ word tp gue ga ngerti kenapa my ffnet is so kampret. Dia cuma bisa nginput maks 4100 word GUE KESEEEL ASDFGHJKL
Lanjutannya di publish besok malem kawaaan!
Review ditunggu biar aku ngepublishnya cepet2 :3
DAN SORRY BANGET AI TELAT. THE REASON YANG SEBENERNYA AKAN ADA DI CHAPTER SELANJUTNYA. SARANGHAE READERS /emang ada yg mau baca-_-/
tjoysuyanq, 19 April 2014
