BLUE ENVELOPE - chapter 5
The Reality - 2
END Chapter bagian 2
KaiHun fanfiction
Happy reading xoxo
ㅡBLUE ENVELOPEㅡ
"Sehun. Kenapa?"
Luhan memeluk pundak Sehun yang menunduk. Sehun memeluk Luhan. "Lu.. Aku akan ke Kanada."
"HAH?! JANGAN BERCANDA!"
"Nggak. Aku nggak bercanda. Besok aku ke Kanada. Ajhumma Kim sudah membelikan aku tiket. Sudahlah aku hanya ingin memberikan ini." Sehun memberikan amplop biru yang sudah ia persiapkan tadi.
Luhan mengernyit bingung. "Ini apa?"
"Idiot. Ini amplop."
Luhan menjitak kepala Sehun. "Aku sudah tau kalau itu amplop. Maksudku, untuk apa?"
"Ini surat buat Kai... Ada flashdisk disana. Sebelum kau kasih, aku akan mengirimi mu email videoku untuk Kai. Setelah kau memasukkan videoku kedalam flashdisk yang ada disana, kau segera kasih ke Kai.. Arraseo?"
Luhan mengangguk paham. "Kau menyukai Kai ya?"
Sehun mengangguk pelan. Luhan tersipu. "Ciyee~ yasudah. Aku boleh pulang tidak?"
"Tentu saja. Sana pergi kau! Hush!"
"Anak mama tidak sopan!" Kata Luhan yang membuat keduanya tertawa keras.
ㅡo00oㅡ
Chanyeol menunggu kedatangan Kai dengan gelisah. Tangannya masih bergetar memegang recorder kecil yang ia dapatkan dari Luna, salah satu sahabat Sehun.
Cklek.
"KAI!"
"Astaga Chanyeol apaan sih lebay banget!" Kai mendengus lalu mendudukan dirinya disebelah Chanyeol. Chanyeol memberikan recorder itu pada Kai dan memencet tombol merah tanda 'play'.
Mata Kai membelalak terkejut. Ia menatap Chanyeol. "Darimana kau dapatkan ini?"
"Luna Park. Teman sekelas Sehun. Kau tahu aku sungguh terkejut akan hal ini. Aku masih tdk percaya bahwa orang semanis Baekhyun bisa berbuat hal kayak gini."
"Ergh!"
Kai beranjak dari duduknya lalu berjalan kearah kelas Baekhyun. Matanya mendapati Baekhyun yang sedang tertawa bersama teman-teman seperjuangannya.
"Byun Baekhyun."
Baekhyun menoleh. Lalu, ia tersenyum ramah pada Kai. "Hai Kai."
"Kau yang menyebarkan berita Sehun tinggal dirumahku, hm?"
Kai mendekat pada Baekhyun. Jari Kai membelai pelan pipi putih Baekhyun yang entah kenapa keringat dingin. Kai menyeringai.
"I-iya."
"Kenapa kau lakukan itu?" Nada suara Kai terdengar mengancam. Baekhyun menghela nafas.
"Loh, emang kenapa? Itu kan berita yang bagus."
"Berita bagus apanya, idiot?!"
Entah sejak kapan Chanyeol berada dibelakang Kai.
"Lagian kenapa sih, kalo semuanya tau Sehun tinggal dirumah Kai? Nggak ngefek juga ke aku."
Jongin menggeram kesal. Percuma saja berbicara dengan orang sekeras kepala Baekhyun. Jongin pun berbalik dan kembali menuju rooftop, diikuti dengan Chanyeol dari belakangnya.
"Kau tau? Sehun pindah ke Kanada hari ini."
"IYA?!"
"Yaa. Gatau deh nasib dia gimana."
"Kau nggak ngerasa kehilangan? Bukankah ia masuk kedalam orang yang kau cintai?"
"Omong kosong. Aku nggak cinta sama dia." Kata Kai membantah. Tapi jantungnya berdegup. Entahlah, hatinya merasa tidak rela mengatakan kalimat terakhir tadi.
"Masa sih?"
Kai mendengus. "Masa bodo Yeol. Sudahlah aku mau ke kelas."
"Tunggudulu. Tadi kata Luna, Sehun nggak masuk."
"Oh ya? Ya sudah kalau begitu. Aku ga akan ketemu dia lagi."
"Yaampun Kai..."
"Apa?!"
"Ngga. Yaudah ayok ke kelas."
Kai berjalan menuju kelasnya. Setelah menaruh tas dikursinya, ia menuju ke lokernya. Memeriksa apakah ada surat dari si S itu. Ia menghela nafas lelah karena tidak ada surat beramplop biru lagi tiga hari ini. Ia tidak mengerti kemana perginya manusia berinisial S itu.
ㅡo00oㅡ
Lagi-lagi Kai menghela nafas. Ini sudah dua minggu ia tidak mendapat surat didalam lokernya. Tak jarang ia menaruh surat darinya diloker. Berharap manusia berinisial S itu mengambilnya dan membalasnya dengan kata-kata yg dapat membuatnya nyaman. Alhasil? Lokernya penuh dengan kertas-kertas tak penting itu. Kai menghela nafas, dan mulai berfikir untuk membuang semua suratnya dan surat dari orang berinisial S itu.
"Kim Jongin."
Kai menoleh dan mendapati Luhan berdiri tegap dengan wajah inosen, namun dengan tatapan mata yang serius. Kai mendecih. Ia membenci Luhan. Ia membenci Sehun. Ia membenci kedua orang itu.
"Apa kau?"
"Aku hanya ingin menyampaikan amanat dari seseorang." Kata Luhan dengan nada mengejek. Wajahnya yang inosen memancing Kai untuk menonjoknya hingga babak belur.
"Apa?"
"Orang yang selama ini mengirimimu surat. Aku tahu. S itu siapa. Dia orang yang baik. Bahkan benar-benar ada didekatmu. Sangat dekat." Ucap Luhan dengan suara yang membuat semua orang penasaran. Kai mengernyitkan dahinya. Dekat? Sejak kapan? Setahunya, ia tidak terlalu senang berbaur. Ya pengecualian Chanyeol.
"Oh Sehun."
"Hah?! Maksudmu?"
"S untuk Sehun. Yang mengirimi kau surat itu, Sehun." Kata Luhan yang membuat Kai tiba-tiba blank. Ia merasa kewarasannya hilang dalam sekejap.
"Jangan ngelantur." Jongin berusaha bersikap waras. Tapi, Luhan malah tersenyum yang membuat Jongin semakin merasa tidak waras.
Luhan menghampiri Kai lalu memberikan Kai amplop biru yang tak asing lagi dimatanya. Kai bisa menebak bahwa didalam amplop itu ada beberapa kertas dan satu flashdisk. Dan Luhan tiba-tiba pergi tanpa memberikan petunjuk yang lebih detail lagi. Apa hal yang ada didalam amplop inilah petunjuknya? Kai tidak berfikir lagi. Pikirannya berkecamuk. Bagaimana tidak?
Ia belum bisa percaya bahwa orang yang mengirim surat-suratya adalah Oh Sehun. Ia baru menyadari, orang yang berada disampingnya saat ia berada dalam masa terpuruknya adalah Sehun. Namun, Kai malah memasang wajah benci pada Sehun. Sehun. Sehun. Dan Sehun. Dua minggu lalu Sehun pindah ke Kanada.
Tunggu.
Apa?!
Dua minggu?
Dada Kai bergemuruh. Jantungnya berdenyut perih. Ia segera menutup lokernya dan berlari kerumah, membawa amplop biru berhiaskan glitter warna-warni itu.
Setelah sampai rumah, Kai tanpa memberi salam pada Ibunya langsung berlari kekamarnya, menyalakan laptopnya untuk mengecek isi flashdisk yang ada diamplop tersebut. Sambil menunggu loading, Kai mengambil tumpukan kertas yang ada di amplop tersebut.
Ada sekitar lima kertas dengan nomor yang berbeda disetiap kertasnya. Kai belum membukanya. Ia hanya menatap sendu kertas itu. Matanya melirik ke layar laptopnya.
Isinya hanya satu video. Ya satu video. Kai membukanya. Didalam video itu, ada Sehun yang sedang mengelap air matanya. Kai mendengarkannya secara saksama.
"Oh-eh? Annyeong Jongin. Yak, Hayoung bodoh! Kenapa kau mem-play videonya duluan! /aku tidak tahu kalau kau masih menangis, bodoh/ terserahmu Hayoung. Hehe maaf Jongin. Hayoung! Please jangan kasih tau siapa-siapa yang aku katakan sehabis ini. /yayaya Oh Sehun cepatlah aku belum membereskan pernak-pernikku/ idiot. Geez. Maaf Jongin."
Jongin terkekeh kecil melihat Sehun yang marah-marah pada Hayoung di video itu.
"Jongin, aku sadar aku begitu menyusahkanmu. Aku terlalu mengganggumu. Tapi sungguh, Jongin. Aku mencintaimu dari awal aku berada disekolah itu. Aku ingat dimana pertama kali aku dan kau tidur dalam satu kamar. Aku sungguh senang. Namun aku juga sedih karena kau terlihat tidak menerimaku. Dan selamat kau sudah mempunyai orang yang disukai! Semoga kau bisa memacarinya. Kabari aku jika kau sudah pacaran. Aku akan meminta 10 gelas bubble tea! Aku sayang padamu, Jongin. Jangan lupakan aku walaupun aku sangat menyebalkan. Hiks. YAK HAYOUNG CEPAT MATIKAN! /tidak ah! Air matamu keluar, Sehun. Aku senang melihatmu menangis/ HEY JANGAN MEMPERMALUKAN AKU DIDEPAN JONGIN! /biar saja! Haha lihat air matamu Sehun!/ Panggil aku oppa, idiot! Hahahaㅡhiks."
Sehun tertawa sambil menghapus air matanya. Kai terdiam mendengarnya. Walaupun video itu masih menyalaㅡdan Kai yakin itu hanyalah suara pertengkaran Sehun dengan Hayoung. Sampai Sehun betul-betul menangis sambil menyebutkan namanya dengan parau, hingga Hayoung tersentuh dan mematikan videonya. Kai sungguh tidak menyangka bahwa Sehun mencintainya.
Kai beralih pada kertas-kertas itu. Ia menghela nafas sebelum mulai membaca kertas-kertas sesuai nomornya. Pertama dari nomor satu.
Kim Jongin.
Maafkan aku sudah menjadi sampah di lokermu.
Kau tahu? Anggap saja aku idiot. Aku mengirimimu surat karena membaca novel Blue Envelope dan melakukan apa yang dilakukan tokoh utama dalam novel tersebut.
Kau tahu, Jongin?
Aku baru sadar hidup itu seperti drama. Seperti novel. Kita sebagai tokoh utama yang menjalankannya.
Kai menghela nafasnya pelan. Airmatanya mulai menggenang. Sehun benar. Hidup itu seperti drama. Ia kembali menghela nafas, lalu memulai membuka kertas kedua.
Dari sini aku belajar pelajaran yang berharga. Cinta tak harus memiliki. Aku mencintaimu dan kau tidak tahu.
Oh iya, bagaimana pendapatmu tentang surat-surat yang kau balas? Hahaha. Siapa sih, orang yang kau suka yang kau maksud itu? Beruntung sekali ya orang itu haha.
Kai mendengus. "Orang itu kau, idiot! Sehun idiot!" Kai terkekeh kecil lalu membuka kertas ketiga. Tangannya mengusap kasar air matanya. Ia tidak tahu kenapa ia menangis sekarang.
Omong-omong tentang hubunganku dan Luhan dan kesalahpahaman tentang aku dengan kau tertangkap basah...ngg... Ya you know lah masalah itu. Aku minta maaf sekali. Aku dan Luhan hanyalah teman. Luhan menyukaiku. Ia tidak pernah menciumku tepat dibibir. Ia selalu mengecup hidungku. Jongin, aku harap ciuman pertamaku itu denganmu. Dan waktu dirooftop itu.. Aku tidak menganggapmu sebagai ciuman pertamaku karena kau tidak mencintaiku! Hahaha.
Kai tertawa. Sehun disini mulai tidak nyambung. Kai membuka kertas keempat.
Kim Jongin. Aku sekarang ada di Kanada. Kau yang menyuruhku pergi kan? Aku sudah pergi, Jongin. Terimakasih untuk semua moment-moment jelek yang kau berikan untukku. HAHAHA. Sampaikan salamku pada Chanyeol yang berisik itu.
Kai benar-benar menangis sekarang. Ia menyesal telah menyuruh Sehun pergi. Itu hanya sebuah kesalah pahaman. Ia benar-benar bodoh. Penyesalan selalu datang terakhir. Kai mulai membuka kertas kelima.
JONGIN SEHUN SAYANG PADAMU!
Tertanda, Oh Sehun yang suka kau bilang idiot.
Kai tertawa lagi. "Aku juga sayang padamu, Sehun idiot."
Kai mengusap air matanya yang lagi-lagi mengalir. "Aku akan menunggumu, atau bahkan mungkin menyusulmu kesana, Sehun idiot! Aku mencintaimu."
ㅡo00oㅡ
Hari-hari Kai di sekolah biasa saja. Persis seperti ia belum mengenal Sehun. Persis saat ia mengenal Sehun. Dan persis setelah Sehun pergi ke Kanada. Yang berbeda hanyalah perasaannya.
Perasaannya cukup tidak senang. Tidak ada Oh Sehun yang menyebalkan. Tidak ada surat beramplop biru yang menjadi hiasan di lokernya. Tidak ada omelan ibunya karena suka memarahi Sehun. Oh, ia rindu masa-masa itu.
Kai menghela nafas pelan lalu berjalan ke kelasnya. Entahlah, ia jadi merasa sepi. Padahal kelas begitu ramai. Memang sih, dikelasnya ia tidak terlalu akrab dengan teman sekelasnya. Ia jadi, menyesal?
Ia baru sadar bahwa hidup memang membutuhkan teman untuk menjadi sandarannya. Bukan tipe seperti Chanyeol. Bahkan, Kai saja tidak merasakan aura nyaman berteman dengan orang seperti Chanyeol.
Ngomong-ngomong tentang Chanyeol, ia jadi mengingat percakapannya tempo lalu. Tentang si Idiot yang selalu tersenyum itu ingin membuat dirinya jadi gay. Sebelum Chanyeol bertindak, bahkan ia sudah menyayangi Sehun duluan.
Ia membutuhkan Sehun untuk mewarnai harinya.
Ia butuh Oh Sehun.
Kai kembali menghela nafas dan mulai membaca salah satu buku pelajaran hari ini. Ia mendapat buku catatan prakarya. Sekelebat ingatan tentang Sehun yang sangat rajin mengerjakan tugas prakaryanya.
Kertas biru dengan banyak origami juga beberapa pernak-pernik yang dibentuk menjadi amplop.
Itu bukan tugas prakaryanya. Itu amplop yang ia selalu gunakan untuk mengirim surat pada Kai.
Ngomong-ngomong, apa kabar Sehun disana, ya?
Kai menatap awan-awan biru yang berlarian dari luar jendela kelasnya. Hari ini terasa begitu sepi, walaupun memang selalu sepi. Entahlah, Jongin jadi berimagine sendiri.
"Tentu saja, Sehunnie~ aku sungguh merindukanmu. Baiklah, nanti kitaㅡ"
Itu suara Luhan yang terputus tiba-tiba. Dan tunggu dulu. Sehunnie? Ada apa dengan Luhan kali ini. Kai menutup buku pelajarannya dan keluar kelas. Ia mendapati Luhan yang baru saja menekan tombol di ponselnya, seperti mematikan sambungan telepon.
"Xiao Luhan."
Luhan menoleh lalu tersenyum manis pada Kai. Hal itu membuat Kai tersentak. Kai bingung. Luhan kenapa? Tumben sekali ia tersenyum padanya semanis itu.
"Kenapa Jongin?"
"Tadi kau menelepon siapa?"
"Oh, itu sahabatku yang mengajakku ketemuan di perpustakaan umum." Kata Luhan. Kai mengangguk mengerti. Well, mungkin Sehunnie yang ditelpon bukanlah Oh Sehun. Ia cukup kecewa sebetulnya. Kapan ya kira-kira ia bertemu Sehun lagi? Baru hari ketiga tanpa Sehun saja, ia sudah rindu seperti ini.
Kai berjalan balik ke kelasnya. Ia sungguh tidak memiliki mood untuk belajar. Semua karena Sehun, Sehun, dan Sehun. Ia masih dendam pada Baekhyun yang secara tidak langsung memutus silaturahmi antara dirinya dengan Sehun.
Chanyeol menepuk bahu Jongin yang terlihat sangat menyedihkan. "Jadi...?"
"Ya Chanyeol. Aku mencintainya. Dan aku terlambat."
Chanyeol terkekeh lalu merangkul pundak temannya itu. "Tidak ada kata terlambat untuk hal se semu cinta. Kau bisa menunggunya lalu hilangkan gengsimu. Katakan perasaanmu dan cepatlah menikah."
"Sumpah apapun, lo itu idiot apa gimana sih Chan? Kita tuh masih esempe! Kelas dua lagi! Dodoll!" Kai mulai OOC-_-
"Hehe.. Kan lucu kalo anak SMP nikah. Apalagi laki-laki sama laki-laki."
"PARK CHANYEOL! ASDFGHJKL!"
ㅡo00oㅡ
Kai berjalan pelan bersama Chanyeol yang tiba-tiba saja mengajaknya pulang bareng. Tumben sekali ia tidak ke toko Sooyoung nuna.
"Eh-eh!" Chanyeol tiba-tiba menepuk pundak Kai dengan keras.
"Apaan?"
"Tadi! Sehun!"
"Apaan? Sehun di Kanada tau."
"SEHUN BARUSAN MASUK KE PERPUS UMUM!"
"Hah? Jangan ngaco. Sehun di Kanada. Titik. Ayo pulang."
"Nggak mau! Sumpah Kai! Aku lihat Sehun masuk ke sana sama Luhan."
Kai terdiam. Luhan ya? Tiba-tiba, ia jadi ingat percakapannya tadi pagi bersama Luhan.
"Sahabatku mengajak ketemuan di perpustakaan."
Kai tersenyum lebar lalu berjalan ke perpustakaan, meninggalkan Chanyeol yang meneriaki namanya.
Didalam perpustakaan begitu hening. Ukurannya tidak terlalu luas. Mata Kai menyipit, menyusuri setiap sudut perpustakaan, berusaha mencari sosok Sehun ataupun Luhan.
Itu Luhan! Baru saja tangan mungilnya mengambil buku novel bersampul biru. Blue Envelope.
"Sst! Luhan! Luhan!" Panggil Kai mendesis. Ia sadar kalau ini berada diperpustakaan. Harus hening.
Kai mendecak pelan karena Luhan tidak mendengarnya. Akhirnya ia berjalan menghampiri Luhan.
"Luhan!"
"Kai?!" Kaget Luhan.
Kai tersenyum lebar. "Kesini sama Sehun?"
Luhan terdiam. Kai menatapnya dengan tatapan memohon. Meminta Luhan menjawab jujur.
"Luhan kenapaㅡlam...lama."
Kai menoleh mendengar suara Sehun yang terbata. Kai terkejut. Rambut Sehun berubah blonde dan ia beribu-ribu lebih manis dan keren disaat yang bersamaan.
"Oh Sehun."
Kai segera menarik Sehun kedalam pelukannya. Menyalurkan rasa rindu luar biasa pada pemuda didekapannya. Sehun masih terdiam. Beribu kupu-kupu berterbangan diperutnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Pipinya memanas. Namun perlahan, ia membalas pelukan Kai.
Kai mengecup kening Sehun sebelum melepas pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu, Sehun.."
ㅡo00oㅡ
Sehun dan Kai sekarang sedang duduk dibangku taman kota. Tangan mereka tertaut satu sama lainnya dengan Sehun yang sedari tadi memainkan jari-jari mungil Sehun.
"Sehun.. Aku merindukanmu."
"Aku tidak bercanda kan? Atau kau sedang mabuk?" Sehun berkata dengan hati-hati. Ia takut menyinggung perasaan Kai.
Kai menggeleng lalu kembali memeluk Sehun. "Makasih sudah mau mencintaiku. Aku juga mencintaimu, Sehun."
Sehun membelalak kaget. "Kau pasti ngelantur."
"Apa wajahku terlihat aku sedang membohongi dirimu?"
Sehun menatap mata Kai, berusaha mencari kebohongan didalamnya, namun sayangnya nihil. Sehun menunduk. Ia ingin menangis. Apa, akhir kisahnya akan sama seperti yang ada di novel Blue Envelope?
Sehun memeluk erat Kai, dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kai.
"Aku sangat sangat mencintaimu, Kim Jongin."
ㅡENDㅡ
HAHAHAHAHAHAHA AKHIRNYA END CHAPT KE PUBLISH JUGA!
Well. Aku tau aku terlambat banget. Hampir dua bulan ga nge update. Malah ngepost fic lain. Hiks.. Sorry banget. Saat aku punya mood buat ngetik, baru ngetik kurang lebih 300 kata, aku ngantuk. Terus ketiduran... Pas aku lagi senggang, buka file ini tuh mager banget buat ngetik sekedar satu dua kata haafft! Udah gitu dihambat juga sama tugas-tugas dan ulangan kampret dari sekolah huhuhu.
Maaf banget ya... Aku jadi kapok bikin chapter/?
Ohiya, mau ngejelasin. Bagian Kai yang marah2 ke baekhyun tuh gaje banget. Aku gatau kenapa ngetik itu. Aku udh nyoba menghilangkan bagian itu.. Tapi malah jadi ga nyambung. Yaudah deh aku input aja.
Terus masalah rooftop yang masuk dari jendela itu... Well, disekolahan suyanq rooftopnya gitu. Jadi, ngaburnya digenteng disebelah kelas2. Kalau ngga ngerti, dateng kesekolahan suyanq(?)
Sorry ya kalau banyak typo sumpah apapun mager ngebaca ulang dan ngeedit kalo ada character yang dobel2 dan beda sifat.. Maap juga. Kebiasaan aku. Aku pelupa banget huehehee ;3;
Yaudah deh... Makasih ya yg udh mau nungguin fic ini /emang ada/ dan maaf udh ngecewain bgt.. Makasih yg udh ngereview chapter2 sebelumnya. Aku ga nyangka banyak yg minat/?
Okay dech! Skrg suyanq mau ngemis review terakhir. Bodo deh kalo dikit juga /nangis dipelukan sang ibunda/
Dadah, sampe jumpa di fic kaihun lainnya.
Btw mau curhat dulu. Masa fic2 suyanq yg kaihun akhir-akhir ini reviewnya gak nyampe 15-an deh. Sumpah ya sakit ati bgt /emot lope patah(?)/ aku ga ngerti kenapa hfff
Babai~
20 April 2014
tjoysuyanq
Sorry a/n di chapter terakhir bagian pertama terkesan cuek bikos ai kesal sekali bungh!
