Feminim ㅡchapter 4
EXO
Kim Jongin x Oh Sehun
Warning! SUPER OOC! Perubahan nama, genderswitch pula. AAAHH MIANHAE! Typos, alur membosankan, humor gagal banget + renyah dan super alot.
Happy Reading! RnR~!
ㅡo00oㅡ
Jongin menatap Sehun yang memakan makanannya lahap sekali. Saat ini, mereka berdua sedang makan ditempat makanan cepat saji. Sehun memilih banyak jenis makanan, tapi ia tidak memesan nasi.
Sekarang, Sehun membuka cheese burger ke tiganya. Sebelumnya, ia meminum coke miliknya.
"Ya Tuhan, Sehun. Kau itu kurus tapi porsi makanmu banyak sekali." Ujar Jongin sambil mengunyah kentang gorengnya. Sehun seolah menulikan pendengarannya. Tidak peduli sama sekali. Ia tetap mengunyah cheese burgernya diselingi dengan menyeruput coke-nya.
Sehun mengambil kentang goreng Jongin dan mengunyahnya. Tapi kunyahannya perlahan-lahan melambat. Ia menelannya dengan susah payah.
"Jong...in?"
"Ya?"
"Aku baru sadar. Aku belum mengeluarkan uang sepeserpun. Apa tidak apa-apa? Gaun tadi kan, mahal, Jong. Sepatunya juga."
Jongin mendengarkan penuturan Sehun tadi sambil meminum coke-nya. "Sudahlah. Tidak apa-apa."
"Berarti aku berhutang padamu lagi, dong?"
Jongin menggeleng. "Tidak. Sudahlah aku tidak mempermasalahkan uang."
Sehun mengangguk canggung dan kembali melahap makanannya.
Setelah beberapa lama, akhirnya Sehun selesai makan juga. Ia menghabiskan coke nya dan bersendawa dengan suara besar. Membuat semua orang disana memandang Sehun aneh. Jongin langsung menelungkupkan wajahnya kemeja. Memalukan.
"Park Sehun kau memalukan." Gumam Jongin, yang mungkin bisa dibilang geraman. Sehun terkekeh. Ia berdiri dan menarik kausnya kebawah.
"Jongin! Let's go homey! Hoaaam~!" Sehun menguap keras dan lagi-lagi membuat Jongin merutuk kesal. Kenapa sih, ada perempuan sememalukan Sehun?
"Yayaya ayo pulang."
Jongin menarik Sehun menuju parkiran mobilnya. Ia juga benar-benar lelah hari ini. Lagipula, ia mengantuk. Ingin tidur secepatnya. By the way, besok libur, kan ya?
"Sehun, besok libur kan?"
"Nggak tau. Lagian libur gak libur aku gak bakalan masuk. Mager." Ujar Sehun yang sedang mengunyah permen, yang entah darimana asalnya.
"Oh begitu. Besok mau ke taman bermain, kan?"
"Taman bermain? Wah! Asik tuh! Sipsip! Aku bakalan siap-siap! Tapi kau harus memberi tahu ibuku untuk memperingatiku tentang janji ini. Arraseo?"
Jongin mengangguk dan tersenyum lebar. Entah darimana ide 'ke-taman-bermain' itu berasal. Ya tapi ia bersyukur deh. Setidaknya, ia tidak perlu berdebat lagi dengan perempuan mengesalkan itu.
"Jongin, terimakasih banyak. Aku sayang padamu!" Kata Sehun sambil keluar dari mobil Jongin. Oh, jangan lupa tangannya yang sibuk membawa dua tas kertas.
"Ya sama-sama Sehun. Aku juga sayang padamu!" Ujar Jongin.
Jongin tersenyum tipis. Entahlah. Tapi ia merasakan sesuatu yang tidak biasanya. Dan ia setengah yakin bahwa ia sedang jatuh cinta. Sedihnya, ia jatuh cinta pada perempuan abnormal menyebalkan. Yah.
Jongin jatuh cinta pada Sehun?
Jawabannya. Masih mungkin.
ㅡo00oㅡ
"Ibuku marah-marah sampai rumah. Katanya aku pulang terlalu malam-lah. Apa-lah. Nyebelinn!" Cerita Sehun panjang. Jongin hanya terkekeh.
"Dia semakin murka saat aku membawa banyak tas belanjaan. Hah! Semua gara-gara kau, Jongin! Memangnya kau tidak bilang kalau kita bakal beli gaun dan semacamnya?" Tanya Sehun mulai kesal. Jongin menggeleng. Ia memang lupa bilang tentang hal itu. Ia hanya bilang akan mengajak Sehun berjalan-jalan.
"Tsk. Teganya kau." Sehun melipat tangannya. "Asal kau tahu ya, Jimin mengejekku habis-habisan! Aaah menyebalkaaan!" Sehun menjambakki rambutnya sendiri sedangkan Jongin terkekeh.
Hari ini, rambut berantakan dan berwarna yang memiliki panjang sebatas pantat milik Sehun itu digerai. Ya terlihat sekali kalau rambutnya itu masih setengah basah. Mungkin ia keramas. Jongin mengangguk-angukan kecil kepalannya. Ternyata, si tomboi Sehun masih tahu caranya keramas?
"Jongin, kita mau ngapain?"
"Entahlah. Aku juga bingung."
Sebenarnya Jongin hanya pura-pura tidak tahu apa yang akan mereka lakukan di taman bermain ini. Karena sebenarnya, hari ini Jongin akan membawa Sehun ke tempat para wanita suka berkunjung. Salon.
Sebelum ke salon, Jongin mengajak Sehun bermain di taman bermain agar bocah itu tidak langsung marah jika ia tau akan dibawa ke salon. Menurut Sehun, salon adalah neraka dunia. Dimana para orang-orang menyebalkan memegang-megang rambutnya dan paling parah adalah saat si tukang salon menyisir rambutnya.
Sehun tampak senang dengan wahana yang sedari tadi ia naiki juga beberapa mainan yang ia pegang setelah memenangkan game di stan yang berjejeran disana. Sehun sebetulnya agak bingung, jelas-jelas ia punya hutang ke Jongin. Tapi, Jongin malah nraktir Sehun dari kemaren. Ya sudahlah. Rejeki emang nggak kemana.
Sambil makanin gulali, Sehun berjalan riang kearah mobil Jongin, diikuti Jongin dibelakangnya yang diam-diam tersenyum manis karena tingkah Sehun yang cute overload.
"Jongin-ah, kita mau kemana setelah ini?" Tanya Sehun. Matanya tidak lepas dari layar ponselnya, berniat mengetake selca bersama gulalinya dan juga Jongin.
"Ke Saㅡ"
"Jongin! Senyum!"
Jpret!
Sehun tertawa terbahak-bahak melihat hasil selcanya. Jongin memang tersenyum, tapi matanya terlihat absurd. Jongin hanya merengut karena ditertawakan.
"Sial. Akan kuhukum kau."
"Hukum saja kalau berani. Wle!"
Jongin memeluk tubuh Sehun erat. Bukan, bukan erat karena sayang. Melainkan gemas dan feel wanna bejek-bejek Sehun hingga gadis itu remuk. Sayangnya, wajah cantik Sehun membuat Jongin tidak rela melakukan itu pada Sehun.
"AH YAK UGH JONGIN LEPASKAAAANN!"
"Menyebalkan. Kita akan ke salon. Dan kau jangan protes." Ujar Jongin langsung tanpa basa-basi.
"OkayㅡEH WHAT THE HELL! KIM JONGINNN!"
ㅡo00oㅡ
Sehun merengut. Salah satu tangannya digenggam erat oleh Jongin yang sedang berbicara pada tukang salon. Ia tidak mengerti apapun yang Jongin dan tukang salon itu bicarakan. Yang jelas, ia mau keluar dari tempat ini. Aah!
"Sehun berbalik!"
Sehun tetap diam. Bete. Kesal. Semuanya bercampur aduk. Baru saja ia senang karena ditraktir ditaman bermain, eh ujung-ujungnya salon. Maksudnya apa coba?
"Sehun!"
"Yeyeye."
Sehun berbalik, memperlihatkan rambut berantakan nan panjangnya yang digerai begitu saja kepada Jongin dan si tukang salon itu.
"Nah agasshi. Jadi nanti dipotong sepanjang itu, dan usahakan agar rambut anak menyebalkan ini berwarna cokelat yang indah."
Sang tukang salon mengangguk mengerti. "Tapi, mungkin membutuhkan proses yang sangat lama. Tidak apa-apa tuan?"
"Ya tidak apa-apa asalkan rambut anak ini menjadi rapih."
"Arraseo. Nona, mari masuk ke dalam."
Sehun menurut saja. Ia berjalan mengikuti tukang salon itu ke dalam ruangan bertirai merah. Jongin tersenyum manis. Untung saja, Sehun tidak bertingkah memalukan.
"AAAAH JANGAN PEGANG-PEGANG!"
"OH MY GOD! SISIR!"
"AAH RAMBUTKU SAKITTT!"
Mungkin Jongin harus menarik kata-katanya tadi. Sehun bertindak sangat memalukan. Pada akhirnya, Jongin memutuskan menunggu Sehun di sebuah kafe didekat salon ini. Tangannya sibuk menyentuh-nyentuh layar ponselnya.
To: Hunna baby
Sehun, jaga sikapmu, idiot. Aku akan menunggumu di coffee toffee.
Send.
Lalu, ia juga mengirim pesan pada Wufan, temannya.
To: Tiang Kanada
Oi tiang, ke coffee toffee sekarang. Aku tidak menerima alasan apapun apalagi penolakkan.
Send.
Jongin menghela nafas dan berjalan menuju coffee toffee.
ㅡo00oㅡ
Sehun tertawa-tawa karena para tukang salon yang akan melayaninya menutup telinga. Sebetulnya mereka belum sama sekali menyentuh Sehun. Hanya saja, Sehun ingin menggoda Jongin.
"Agasshi, silahkan lakukan apa yang Jongin si menyebalkan itu suruh." Kata Sehun.
Alasan lain kenapa Sehun berteriak tadi adalah, ia mempersiapkan mentalnya agar hal-hal memalukan beberapa tahun lalu disalon tidak terulang. Oh, Sehun masih punya malu ya? Suyanq kira urat malunya di maling anjing tetangga-coret-.
Sekarang, Sehun sedang menikmati pijatan dari para karyawan disini. Sungguh, rasanya sangat nyaman. Sepertinya, salon bukanlah hal yang benar-benar buruk.
"Nona, apakah tuan tampan yang tadi itu kakakmu?"
Sehun sedikit tersentak akan ucapan salah satu orang yang tengah memijat lengan kanannya. Aneh. Untuk apa ia menanyakan Jongin? Apalagi dengan sebutan tuan tampan. Oh please. Jijik. Dan apa? Jongin? Kakaknya? HELL NO!
"Aku sangat bersyukur karena tidak mempunyai kakak sepertinya. Hitam, pesek, buluk, menyebalkan, cerewet. Err!"
"Jadi, dia kekasihmu?" Tanya seorang yang lain.
Sehun terdiam. Sudah jelas Jongin bukanlah kekasihnya. Tapi kenapa ia mesti harus berfikir dahulu?
"Tentu saja bukan."
"Tapi nona, wajahmu memerah."
Sehun terkejut dan baru merasakan pipinya memanas. Oh sial. Apa yang terjadi padanya?!
"Nona, aku akan mengeramasi rambutmu. Kumohon jangan berteriak. Arraseo?"
"Aku tidak janji." Ujar Sehun.
Tangannya menggenggam kuat bagian kanan dan kiri kursi yang didudukinya. Ia berusaha merilekskan badannya. Dan ia bersyukur karena selama proses pengeramasan(?) rambut, ia tidak berteriak sama sekali. Dan tahap ini yang ia takutkan.
Sisir. Gunting. Potong.
"Ku kira cat rambut yang kau gunakan adalah permanen. Ternyata satu jenis dengan hairchalk." Ujar salah satu staff disana. Sehun tersenyum tipis. Mana berani ia mengecat rambut dengan cat permanen. Bisa-bisa, Chanyeol mencoret namanya karena merusak nama baik keluarga Park.
"Hehe." Sehun terkekeh garing.
"Aku akan mulai menyisir rambutmu."
Sehun mempersiapkan mentalnya.
Dan...
"AAAAA SISIR JANGAAAAANNN!"
tbcㅡ.
Sebenernya pengennya diselesain sampe sehun selesai nyalon tp seketika mood suyanq down dan jadilah ff gembel pendek kayak gini :(
Ini last apdet sebelom ukk. Ntr ukk ku update cepat koq :3
Btw, review nya menurun :( bikin aku kurang semangat :( yaudah deh gapapa woleth.
SEKARANG SUYANQ NGEMIS REVIEW KBYE.
YANG MAU UKK SEMANGAT YA.
MWAH.
1 juni 2014
suyanqtjoy.
