© Kakagalau proudly present
.
.
.
DESPERATE
(Fall For You)
.
.
.
ChangKyu Couple
.
.
This story inspired from Ilana Tan's and Alia Zalea's Novel.
.
.
Feel free to drop a line about my story.
.
-Boys Love-
.
Plagiarism is not allowed.
Chapter 2 : Behind The Issue
Baiklah, kenyataannya si pria tiang nan tampan yang ditemui Kyuhyun tempo hari di lift dan di kedai kopi milik Sungmin itu memang merupakan rekan kerjanya. Ia benar-benar seorang manager di departemen pemasaran. Satu lantai dengan Donghae –kekasih Eunhyuk-.
Saat pertemuan pertama mereka di lift hari itu, itu adalah hari pertama Changmin –nama pria tiang itu- bekerja. Ia baru saja menemui Kim sajangnim, saat itu.
Kenyataan kedua, tebakan Kyuhyun saat pertama bertemu dengan pria itu memang benar. Changmin memang merupakan pria yang bodoh berbasa-basi. Sarkastik dan dingin. Es balok. Ia benar-benar takkan mau untuk ber-repot-repot ria memulai pembicaraan jika itu tidak menguntungkan dirinya. Hal ini sudah dikonfirmasi oleh Donghae. Menurut namja penyuka nemo itu, Changmin memang jarang omong dengan orang yang tidak begitu di kenalnya. Bahkan jika ia dilibatkan dalam sebuah percakapan, pemuda itu akan merespon dengan anggukkan atau kalimat singkat. Tuh kan! Menyebalkan sekali.
Dan kenyataan ketiga; betapapun menyebalkannya si namja tiang bermarga Shim itu, setidaknya hampir separuh staff perempuan di perusahaan menggilainya. Setiap makan siang, pasti akan ada saja yang repot merecoki ruang kerjanyanya. Sekedar mengirim makan siang, atau ajakan minum kopi bersama.
Tapi ada satu hal yang orang-orang tak tau mengenai Shim Changmin. Itu merupakan kenyataan keempat. Kenyataan yang selalu disembunyikan Kyuhyun dari seluruh staff di kantornya. Terutama staff perempuan. Kenyataan apa? Ah, kenyataan bahwa Changmin merupakan tetangga flat-nya!
Kyuhyun mengetahui hal ini ketika ia pulang dari kantor hari itu. Seingatnya, pemuda tiang itu kembali menghampiri Kyuhyun saat si pucat itu berniat menuju halte untuk pulang.
.
"jadi, dimana rumahmu?" tanya Changmin. Sedikit melempar senyum kikuk.
"Wae?"
"ani. Hanya saja, kupikir, jika kita searah... maksudku... eum..." Kyuhyun nyaris terbahak saat ia melihat betapa kikuknya pemuda dihadapannya itu. Namun ia hanya mengulum senyumnya. Mencoba untuk tidak se-sarkastik beberapa jam lalu. Menunggu makhluk Tuhan yang paling seksi itu selesai dengan kegagapannya.
"aku ingin berterimakasih karena kau memberiku tempat duduk di cafe tadi." Sambung Changmin dengan kalimat yang lebih lancar.
"eung... memangnya kau akan pulang ke arah mana?" Kyuhyun balik tanya.
"Chundam-dong." Jawabnya singkat.
Kyuhyun nyengir, "aku juga tinggal di kawasan itu."
"jeongmal?" Changmin nampak tersenyum lebar. Memamerkan deret giginya yang putih bersih. Manis sekali. "apakah jauh dari apartement sapphire?" tanya Changmin antusias. "aku tinggal di apartement Shappire." Tambahnya.
Kyuhyun mengernyit. Merasa tak asing dengan nama itu. "tunggu! Aku juga tinggal disana."
"wah? Bukankah ini kebetulan yang menyenangkan?"
"kebetulan?" ulang Kyuhyun tak yakin, "kau yakin ini kebetulan, atau kau sedang menguntitku?"
"hey... kita bahkan baru kenal." Changmin terlihat tak terima. Bagaimanapun, Changmin merasa bahwa dirinya terlalu tampan untuk dijadikan penguntit. "lagipula kau itu seorang namja. Untuk apa aku menguntitmu?"
Kyuhyun manggut-manggut. Benar juga –batinnya.
"jadi?"
"apa?"
"astaga, Kyuhyun-ssi. Jadi, kau mau pulang denganku atau tidak?"
Ya, hari itu mereka pulang bersama. Saat itulah Kyuhyun benar-benar percaya bahwa Changmin benar-benar tetangga flat-nya. Pemuda itu tinggal di unit tepat didepan milik Kyuhyun. Pintu mereka bahkan saling berhadapan.
Kenyataan yang menyebalkan, kan?
Kyuhyun bersumpah bahwa ia takkan mengatakan ini pada siapapun di kantor. Kyuhyun tak ingin menjadi salah satu kurir antar paket cinta untuk Changmin dari beberapa staff yeoja di kantor. Kyuhyun terlalu manis untuk itu.
.
.
.
"bagaimana Kim sajangnim?" tanya Eunhyuk. Hari masih menunjukkan pukul sebelas pagi –atau siang (?), dan namja anchovy itu sudah merecoki kubikel Kyuhyun. Memainkan vas bunga yang ada disana.
"dia masih hidup." Jawab Kyuhyun seadanya. Menarik kacamata tanpa frame miliknya yang sedikit melorot dari hidung. "ku kira divisimu begitu senggang hingga salah satu asistennya berkeliaran di divisi HRD seperti ini." Sindir Kyuhyun tanpa mengalihkan atensinya sedikitpun dari monitor tabung dihadapannya. Jemarinya masih cekatan untuk melompat kesana kemari.
"hey, bukankah kalimatmu terlalu kasar?" omel Eunhyuk. "lagipula aku punya asisten. Tak ada salahnya kan aku melempar sedikit tugasku padanya sedangkan aku bersantai sebentar sebelum makan siang?"
"yeah, whatever you say!" ujar Kyuhyun tak peduli. Meskipun dalam hati ia iri sekali. Ia ingin bersantai juga. Sekedar menarik nafas dan menjaga kewarasannya. Berkutat dengan setumpuk dokumen ini nyaris membuatnya gila.
Tapi tak bisa. Kyuhyun cenderung begitu perfectionist dan sedikit idealist. Ia tak begitu percaya dengan orang lain –termasuk asitennya sendiri. Makanya, Kyuhyun lebih suka dan lebih nyaman mengerjakan tugasnya sendiri dibanding dibantu orang lain. Itulah sebabnya, asisten di divisi HRD lebih senggang daripada yang lain.
"hey Kyu." Sapaan hangat mengganggu gendang telinga Kyuhyun. Bahkan Eunhyuk sedikit berjengit kaget.
Kyuhyun mengangkat kepalanya. Sekadar untuk melihat siapa yang sedang mengganggunya selain anchovy –kekasih si ikan Nemo.
"eung." Ujar Kyuhyun. Kemudian kepalanya kembali jatuh pada layar monitor.
Sebuah pemandangan langka terhampar di depan mata Eunhyuk. Ada seorang God Greek di depan matanya.
Okay, Eunhyuk memang sudah tahu bahwa ada manusia yang cukup tampan di lantai dua belas B. Dan orang itu sudah jadi bahan pembicaraan semenjak beberapa pekan terakhir. Eunhyuk juga sudah hafal dengan wajah itu. Secaraaaaa~ si God Greek dan kekasih Eunhyuk bekerja di lantai yang sama. Dan Eunhyuk juga tau sepak terjang si God Greek itu. Betapa sombong dan anti sosialnya orang itu.
Tapi apa ini? Orang itu datang ke kubikel Kyuhyun secara tiba-tiba dan kemudian menyapa. Hell! Menyapa. Bahkan ia menyapa dengan senyum cerahnya yang setara jutaan volt itu. Ini aneh. Seorang antisosial – menyapa? Atau gosip itu yang tidak benar?
Eunhyuk memilih untuk lebih mempercayai bahwa gosip itu yang tidak benar.
"dari ruangan Kim sajangnim?" tanya Kyuhyun pada Changmin –sekali lagi; tanpa mengangkat wajahnya dari layar monitor-.
Changmin mengangguk –yang sayangnya tidak dilihat Kyuhyun, "mengantar beberapa berkas. Mood-nya sedang bagus hari ini." Terang si God Greek itu.
"benarkah?" Eunhyuk ikut nimbrung. Sedangkan Kyuhyun tidak tertarik untuk menimpali informasi dari Changmin.
"ya... bukankah itu bagus?" Changmin tersenyum.
"sangat bagus!" Eunhyuk tertawa riang hingga gusi-gusinya kelihatan jelas. "setidaknya Kim Sajangnim bisa menghentikan seseorang yang nampak begitu autis dengan layar monitor." Sindir Eunhyuk.
Changmin tertawa membenarkan. "Kyuhyun memang selalu nampak tenggelam dengan pekerjaannya."
Seketika Changmin mematikan monitor tabung di hadapan Kyuhyun itu. Eunhyuk sendiri langsung kaget dibuatnya.
"YAK!" Kyuhyun berteriak nyaring hingga beberapa orang di ruangan itu melirik ke arah Kyuhyun. "Kau gila? Itu semua belum disimpan, bodoh!"
"kau kan tinggal menyalakannya lagi saja." Tawa Changmin. Ia tahu bahwa Kyuhyun tidak sebodoh itu untuk mengetahui bahwa file-nya takkan hilang setelah Changmin mematikan layar monitor Kyuhyun.
Iya. Beruntung saja PC milik Kyuhyun bukan add-on. Dimana PC dan monitornya bersatu padu seperti laptop. Jadi, tinggal menyalakan kembali layar monitornya, benda kotak itu akan memunculkan kembali worksheet yang beberapa detik lalu sedang ditekuni Kyuhyun.
"tetap saja aku kaget, bodoh!" kesal Kyuhyun sambil bangkit berdiri dan mengeplak kepala Changmin dengan dokumen perusahaan yang nampak setebal kamus John Echols – Hassan Shadily.
Changmin dan Eunhyuk meringis bersamaan. Namun untuk alasan yang sedikit berbeda. Changmin meringis karena sakit, sedangkan Eunhyuk meringis karena membayangkan kesakitan yang dialami Changmin. Eunhyuk mencatat dalam hati untuk tidak bermain-main dengan si pucat bernama Cho Kyuhyun.
"aku hanya ingin kau tidak terlalu terfokus pada layar monitormu itu." Terang Changmin. "tidak baik untuk kesehatanmu."
Kyuhyun memutar bola matanya malas. Ia merasa kalimat Changmin terlalu cheesy untuk diucapkan pada namja lainnya. Tapi Kyuhyun tidak menyela. Ia hanya berujar "eung, arra." Sebagai respon bahwa ia mendengarkan Changmin.
"jadi, kita akan makan siang dimana kali ini?"
"terserah." Kata Kyuhyun.
"kau tau, ada restoran italia yang baru buka di sekitar sini. Bagaimana jika kita makan pasta?"
"ya... asal kau yang bayar."
Changmin tersenyum, "ku tunggu kau di lobby saat jam makan siang nanti." Ujar Changmin tanpa meng-iya-kan pernyataan Kyuhyun sebelumnya. Ia kemudian berlalu begitu saja.
Ada yang aneh disini. –batin Eunhyuk seraya mengendus bau imajiner. Ia menatap ke arah Kyuhyun. Kemudian menatap ke arah dimana Changmin pergi. Menatap ke arah Kyuhyun lagi. Beralih ke arah Changmin pergi. Begitu terus sampai beberapa kali.
"apapun yang kau pikirkan, itu tidak benar." Sela Kyuhyun yang merasa risih dengan gerak-gerik Eunhyuk. Namja pucat itu menyela, bahkan sebelum Eunhyuk sempat bertanya tentang apapun.
"memangnya aku memikirkan apa?" kata Eunhyuk dengan nada menggoda.
"entahlah." Kyuhyun menghentikan gerakan jemarinya. Kemudian menatap Eunhyuk tajam. "pokoknya, itu tidak benar."
"huh...?" Eunhyuk pura-pura bingung.
"ya... pokoknya itu tidak benar." Ketus Kyuhyun. "apapun yang kau pikirkan tentangku dan Changmin, itu tidak benar."
"aku bahkan tidak sedang memikirkanmu dan Changmin. Aku sedang memikirkan Donghae." Terang Eunhyuk.
Kyuhyun mati kutu, sedangkan Eunhyuk tertawa menang. Kena kau Cho... –ujar Eunhyuk dalam hati.
.
.
.
"bolehkah kami bergabung?" Eunhyuk bertanya dengan nada manja. Namja anchovy itu menggandeng si ikan badut dengan begitu posessive ketika menghampiri Changmin dan Kyuhyun yang sedang melintas di lobby.
"ku kira kau lebih suka makan siang romantis berdua saja dengan si ikan Mokpo." Sindir Kyuhyun. Bola matanya nampak memutar dengan jengah.
"aku kan ingin mencoba restoran italia itu juga." Balas Eunhyuk.
"kalian bisa kesana lain kali. Tak perlu menguntili kami, kan?"
"memangnya kenapa kalau kami ingin bergabung?" Eunhyuk bertanya dengan nada menyelidik. "kau terganggu, Cho?"
Kyuhyun mendesis tak suka. "iya!" jawabnya tanpa sadar.
Changmin yang sedari tadi anteng-anteng saja memperhatikan perdebatan si namja Cho dan Lee itu seketika menoleh ke arah si pucat Kyuhyun. Menaikkan alis dengan bingung.
"kau kira kau sedang kencan, eoh?" ledek si Donghae sambil tertawa. "sebegitu terganggunya dengan keberadaan kami yang ingin bergabung."
Skak. Kyuhyun membatu dengan kalimat itu.
Iya... kenapa? Kenapa Kyuhyun begitu terganggu dengan keinginan Eunhyuk untuk ikut bergabung di makan siangnya dengan Changmin?
Katakan alasanmu, Cho! Ayo katakan...!
Tapi otak Kyuhyun tak menemukan jawaban yang tepat.
Kyuhyun mendesah. "kalian pergi saja. Aku tak jadi ikut." Katanya tiba-tiba. Melenggang pergi sendirian. Meninggalkan Changmin bersama pasangan ikan.
Changmin mencoba memanggil Kyuhyun kembali. Tapi sayang, Kyuhyun malah sibuk dengan ponsel pintarnya untuk mendial satu nomor.
"ye, Sungmin Hyung... aku ke coffee shop mu ya?"
.
.
.
.
Usai mandi dan berganti pakaian di flatnya sendiri, Changmin datang ke flat Kyuhyun sepulang dari kantor. Selepas Kyuhyun pergi di jam makan siang itu, Changmin memang belum bertemu lagi dengan si namja manis itu. Jadi, si pemuda tiang itu memutuskan untuk mengunjungi flat tetangga sekaligus rekan kerjanya. Sekedar untuk bertanya kenapa pemuda manis itu memutuskan pergi siang itu.
"aku tau kau didalam! Cepat buka pintunya!" seru Changmin saat menekan bel intercom apartemen milik Kyuhyun.
Usai terdengar bunyi klek –tanda pintu sudah terbuka- otomatis Changmin mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar. Pemuda tiang itu masuk begitu saja. Mengenakan sebuah sendal rumah berwarna hitam polos yang berjejer di rak sepatu. Sendal itu disimpan berderet dengan sendal rumah lainnya yang bermotif pikachu ataupun pororo.
Changmin selalu tersenyum dengan sendal rumah milik Kyuhyun itu. Menurutnya, benda-benda itu terlalu manis untuk seorang laki-laki dewasa. Dan Changmin tak mau menggunakan benda manis itu. Makanya Changmin menyimpan miliknya sendiri di apartement Kyuhyun. Sebuah sendal rumah berwarna hitam polos. Beruntung sekali Kyuhyun tak keberatan dititipi sepasang sendal manly diantara benda-benda manis miliknya itu.
"sedang apa?" tanya Changmin yang nyelonong masuk ke area ruang duduk.
Pemuda jangkung itu dapat melihat TV 21 inch yang tengah dalam keadaan menyala. Menampilkan sebuah film drama kolosal. Di meja duduknya, ada sebotol wine setengah kosong dengan gelas kaki tinggi yang berisi cairan merah pekat ke-ungu-an. Satu cangkir kopi hitam dengan asap yang masih mengepul. Laptop yang tengah menyala. Dan sederet dokumen yang Changmin yakini bahwa sebundel kertas-kertas itu berasal dari kantor. "kau benar-benar multi tasking." Ujar Changmin. Entah benar-benar kagum atau malah sedang mengejek Kyuhyun.
"diamlah." Kata Kyuhyun sambil meraih kacamata yang sebelumnya ia tanggalkan disamping laptop.
Changmin hanya menggeleng saja. Toh, setelah dua minggu berkenalan dengan Kyuhyun, ia tak terlalu heran dengan kelakuan ajaib teman kantornya ini.
Niat awalnya untuk bertanya tentang masalah tadi siang pun lenyap seketika.
"biar ku tebak, kau pasti belum makan malam." Changmin mengarahkan tubuhnya ke dapur kecil milik Kyuhyun. Dapur itu masih bersih. Tak aja jejak basah atau kotor bekas memasak. Ia juga membuka lemari pendingin milik namja pucat itu. Memperhatikan benda kotak itu yang hanya berisi beberapa air mineral dan roti yang sudah berjamur. Mengerikan –pikir Changmin. "atau bahkan kau belum makan sejak tadi siang?"
"aku menghabiskan sepotong ice cake tiramisu tadi siang." Jawab Kyuhyun seadanya, "Kim sajangnim memberikan banyak tugas untuk diselesaikan besok. Jadi aku tak sempat makan malam." Namja pucat itu menunjuk sebundel kertas di hadapannya. "tapi setidaknya wangi kopi masih bisa membuatku tetap waras." Lirih Kyuhyun.
"tapi wangi kopi dan wine tidak bisa membuatmu terhindar dari maag!" geram Changmin. Ia menarik Kyuhyun tiba-tiba untuk menjauh dari layar laptopnya. Menekan beberapa tombol sebelum layar empat belas inch itu ter-shut down dengan sempurna.
Ia kemudian mendorong Kyuhyun ke kamar. "ganti pakaianmu!" titah namja jangkung itu.
"kenapa?"
"aku lapar."
"lalu?"
"temani aku makan."
"kenapa harus?"
Changmin menghela nafas kesal karena Kyuhyun masih dengan mode bertanya. "kau membatalkan janji makan siang kita, tadi. Dan kukira, sekarang saat yang tepat bagimu untuk kau melunasi hutang."
"aku tak merasa berhutang,"
"janji itu adalah hutang, Kyuhyun-ssi."
"tapi aku masih banyak tugas..."
Changmin menghela nafas kesal untuk yang kedua kalinya. "kau tak perlu takut pada Kim sajangnim. Aku bisa memecatnya nanti." Gerutu Changmin.
Kyuhyun tertawa. Memecat Kim Heechul? Oh, yang benar saja. Memangnya Changmin itu siapanya? Pemuda jangkung itu bahkan masih karyawan baru.
"jangan tertawa Cho! Cepat ganti baju sana!" Changmin mendorong Kyuhyun untuk segera masuk ke kamarnya.
.
Kyuhyun dan Changmin kini berada di salah satu restaurant Jepang. Sesekali Kyuhyun menatap lucu pada beberapa aksara hiragana yang tertempel di dinding kayu restaurant itu.
"tempat ini menarik." Puji namja manis itu. "aku bahkan tak tau ada restaurant seperti ini di wilayah Chundam-dong."
"itu karena kau terlalu sibuk dengan laptop dan monitor mu di kantor."
"ah, benarkah?" Kyuhyun tertawa. "mungkin lain kali aku akan mengajak Sungmin Hyung kesini."
"eh?"
Kyuhyun yang sedikit terkejut dengan respon Changmin balik menatap dengan alis berkerut, "apa?"
"kenapa mengajak Sungmin Hyung?"
"memangnya kenapa?"
Changmin nampak berfikir sejenak. Namun pemuda tiang itu masih belum menjawab hingga seorang pelayan datang mengantarkan udon pesanan Kyuhyun dan tendon tori rice serta cuttlefish tempura milik Changmin
Kyuhyun menatap ngeri ke arah udon miliknya. "maaf, bisakah aku meminta sebuah piring kecil?"
Pelayan itu menaikkan alis. Begitu juga Changmin yang melempar pandangan bertanya ke arah Kyuhyun.
"aku tak bisa memakan pohon dan rumput." Cicit Kyuhyun seraya menunjuk brokoli dan beberapa irisan panjang kucai di atas sajian udon miliknya.
Pelayan itu masih mengernyit saat Changmin mulai terbahak.
"itu tidak lucu, Shim." Kesal Kyuhyun.
"baiklah, baiklah. Kata Changmin sambil masih berusaha kuat menetralkan tawanya. "kami tak membutuhkan piring kecil lagi, nona." Kata Changmin pada sang pelayan. "terimakasih."
Pelayan itu membungkuk sembilan puluh derajat sebelum berlalu. Sedangkan Kyuhyun memandang Changmin dengan wajah kesal.
"kau tak perlu menyingkirkan pohon dan rumput itu." Kata Changmin yang berhasil mengartikan tatapan tak menyenangkan dari Kyuhyun. "pindahkan saja semua makanan yang tak ingin kau makan ke dalam piringku. Aku akan memakannya untukmu."
Kyuhyun tersenyum cerah. "gomawo." Dengan semangat Kyuhyun memindahkan makanan hijau itu ke piring Changmin. Namja manis itu juga memindahkan kuning telur miliknya ke piring Changmin. "selain sayur, aku juga tak bisa memakan kuning telur." Jelas Kyuhyun tanpa diminta.
"terimakasih telah mengajakku ke tempat ini." Kata Kyuhyun lagi sebelum menyuapkan mie tebal itu ke dalam mulutnya. "dan Changmin, kau tak perlu memecat Kim sajangnim." Tawa Kyuhyun mengingat ucapan Changmin sebelum mengajaknya ke restaurant Jepang ini tadi. "kau bahkan masih karyawan baru."
Changmin tertawa kecil. "dan sebaiknya kau bersama yeojachingu-mu jika kesini lagi nanti. Jangan bersama Sungmin Hyung." Lirih Changmin.
"eoh?"
Namun Changmin tak mau membahasnya lebih lanjut.
.
.
.
.
Sejak pertemuan mereka yang pertama kali, Changmin memang suka sekali nimbrung di kantor Kyuhyun di lantai lima belas. Sekedar mengajak makan siang atau ngobrol. Dan jika mereka tak bisa ketemu selama jam makan siang, Changmin akan menyempatkan diri untuk mampir ke flat Kyuhyun. Mereka juga suka hang out bersama untuk menghabiskan sebotol wine atau menyesap kopi. Atau jika memungkinkan, mereka akan makan malam bersama. Seperti yang mereka lakukan saat ini.
Changmin –yang dulu disebut balok es oleh Kyuhun, menjelma menjadi orang yang berbeda. Jika di kantor ia adalah orang yang dingin, tapi saat bersama Kyuhyun, ia bertransformasi menjadi matahari yang bersinar cerah. Changmin yang dikenal Kyuhyun selama beberapa pekan ini adalah orang yang suka sekali bicara. Berdiskusi atau sekedar bercerita. Changmin suka sekali mengomentari lagu dan politik Korea Selatan. Ia suka sekali jalan-jalan untuk sekedar berwisata kuliner. Ia suka sekali menyanyi. Dan bagian terbaiknya, Changmin benar-benar pria yang sopan, pengertian dan perhatian. Seperti saat ini, Kyuhyun tau bahwa Changmin mengajaknya keluar untuk mencari makan karena Kyuhyun belum makan malam. Kyuhyun rasa, inilah bagian yang membuat para staff yeoja di kantor jatuh hati.
Tapi itu semua hanya sebatas teman ngobrol. Maksudku, jika kalian mengira bahwa ada aroma cinta diantara mereka, ku kira itu salah besar.
Oke, mungkin Kyuhyun bisa saja menjadi seorang pecinta sesama jenis. Maksudku... Kyuhyun –sekalipun beberapa mantan kekasihnya baru-baru ini adalah seorang yeoja, namun cinta pertama Kyuhyun adalah namja. Itu terjadi ketika Kyuhyun masih di junior high school. Oleh karenanya Kyuhyun cukup terbuka dengan orientasi seksual orang lain. Bahkan Kyuhyun bersikap biasa saja ketika Eunhyuk dan Donghae menjalin hubungan. Ya, meski hingga detik ini orang tua Kyuhyun masih sulit menerima bahwa putranya mengidap kelainan seks.
Namun Changmin? Changmin itu pure straight. Selama dua pekan mengenal Changmin, Kyuhyun tau bahwa Changmin benar-benar lelaki. Ia sexually active. Changmin punya selera seks yang bagus dan punya yeojachingu yang juga bagus –cantik. Kalian bahkan bisa menemukan savety sex dengan berbagai merk di medicine cabinet yang ada di kamar mandi Changmin. Dan rata-rata box savety sex itu hanya tinggal berisi separuh.
Jadi, jika kalian masih berpikir ada sesuatu yang berhembus diantara Changmin dan Kyuhyun, itu bukan cinta. Namun hanya sebatas rasa nyaman. Berapa banyakpun orang yang mengatakan bahwa itu adalah cinta, Kyuhyun akan cepat-cepat menyangkalnya.
Ya... setidaknya itu yang selalu Kyuhyun rafalkan dalam hati. Mereka hanya saling merasa nyaman. Itu bukan cinta...
Bahkan jikapun Kyuhyun benar-benar seorang gay, Kyuhyun tetap enggan jatuh cinta pada Changmin. Atau bahkan ia akan menyembunyikan fakta itu. Alasannya?
Alasannya sederhanya... Itu karena Changmin, membenci seorang gay. Dan Kyuhyun, ada sudut dalam hati Kyuhyun yang tak ingin dibenci Changmin.
TBC
Kakagalau is hereeeeeeee~
Special Thanks for :
AkaSunaSparkyu | melani . s . khadijah | SNCKS |widiantini9|little Dark Wolf 99| Kim Nayeon | rikha-chan | skyfive | laxyovrds | FiWonKyu0201 | Dangkuk |Caramel Macchiato | restu tiana | elferani | naminara | Chohyun
Thanks for support my debut FF in FFN ^^
Still promote my social media.
Please visit : celotehkakagalau . wordpress . c o m
Twitter at imaya74 and Facebook u/n Lilyana Yasmin
Regards,
Kakagalau
