© Kakagalau proudly present
.
.
.
DESPERATE
(Fall For You)
.
.
.
ChangKyu Couple
.
.
This story inspired from Ilana Tan's and Alia Zalea's Novel.
.
.
Feel free to drop a line about my story.
.
-Boys Love-
.
plagiarism and readers under fifteen is not allowed to read this story.
Chapter 2 : Untold Story (Changmin Version)
Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Aku baru saja menyambangi kantor uncle Kim di lantai enam belas ketika dua orang namja itu menekan tombol lift di lantai lima belas untuk masuk kedalamnya. Memotong perjalananku untuk segera sampai ke bawah.
Pemuda manis dengan pupil mata sewarna malam itu sukses menyedot perhatianku. Tidak hanya itu. Gaya berbicaranya yang cepat –sarkatis – ketus – dan nyaring seperti ahjumma-ahjumma yang ada di pasar pagi itu membuatku mengulum senyum. Tidakkah itu nampak manis? Dia... di mataku dia tak nampak seperti laki-laki pada umumnya.
Dan saat namja manis itu tersenyum ke arah ku... DAMN! Aku bahkan tak bisa menarik sudut bibirku untuk membalas senyumnya. Aku bertransformasi menjadi batu. Seperti puing fosil peninggalan jaman purbakala. Aku meruntuk dalam hati atas kekonyolanku ini.
Well, aku adalah Shim Changmin. Si Cassanova saat jaman senior high dan kuliah dulu. Aku bahkan mampu menaklukan hati yeoja hanya dalam hitungan kelima. Tapi kenapa sekarang aku seolah ranting kayu hanya karena berhadapan dengan dengan seorang namja? Ini gila!
.
Aku mendapat telepon dari Daddy saat perjalanan pulang sepersekian detik setelah aku tiba di basement. Perdebatan panjang harus ku lewati via telepon. Entah kenapa, rasanya hal sepele pun bisa jadi besar saat bersama Daddy. Aku selalu saja tak mampu mengontrol emosi setiap kali kami –aku dan Daddy- terlibat dalam sebuah percakapan. Seringan apapun topik yang kami ambil, perbincangan itu tak pernah berakhir baik.
Aku tidak membenci Daddy, meski aku menolak marga Kim miliknya dan memilih menggunakan marga ibuku, Shim. Tapi rasanya ada setumpuk kekecewaan pada Daddy saat Mom dan Dad memutuskan untuk berpisah. Ditambah sebuah kenyataan yang menyakitkan yang harus kuterima. Daddy, namja tampan dan berwibawa yang selalu ku hormati itu memutuskan untuk menjadi seorang gay pasca perceraiannya dengan Mommy. Ia menikah dengan seorang namja bermarga Jung di Belanda, tiga tahun lalu. Kekecewaan itu semakin bertumpuk ketika Daddy memaksaku pulang dari Jepang dan bergabung di perusahaan keluarga yang dipimpin uncle Kim bahkan sebelum aku menyelesaikan desertasi untuk study doktor-ku. Di usiaku yang sudah melebihi seperempat abad, aku merasa hidupku berada dibawah tali kekang Daddy seutuhnya.
Aku memutuskan untuk membanting steer ke arah kedai kopi yang terletak tak begitu jauh dari kantor uncle Kim. Mengambil antrean untuk memesan secangkir kopi.
Dan itulah saat tak terduga... rasanya, aku seperti baru saja menang lotere dengan jackpot double bonus.
Ya... aku bertemu dengan namja itu lagi di coffee shop itu. Ia sedang duduk manis. Menatap sebuah jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Wajah manisnya yang berwarna putih pucat itu terang terpendar cahaya lampu cafe. Rautnya lelah. Seolah segala beban dunia ada di pundaknya.
Ia kemudian tertawa saat seorang namja dengan apron hitam menghampiri kursinya dan menyodorkan sebuah mug jar yang kuyakini isinya sebuah es cokelat. Aku, menyukai caranya tersenyum. Namun sudut hatiku –entah mengapa- merasa tak terima saat melihat tawanya untuk namja itu. Perasaan asing ini membuatku gerah. Namun aku tak bisa berbuat banyak, kan? Aku bahkan tak mengenal namja manis itu.
Aku mendapatkan segelas caramel macchiato-ku pada akhirnya. Namun sayang, kursi disana sudah penuh dan aku tak mendapat tempat. Sebelum aku memutuskan keluar untuk menyesap caramel machiato-ku di mobil, ekor mataku mendapati pemuda manis itu duduk sendirian. Aku bertanya-tanya kemana namja sebelumnya itu pergi. Namun tanpa ku sadari kakiku sudah melangkah ke arah kursi itu. Aku, mencoba untuk memulai peruntunganku.
"mian... Apa aku boleh bergabung?" tanyaku. Namja manis itu mendongak dengan pupil mata menyipit tajam. Membuatku sedikit was-was bahwa ia akan mengusirku dari meja-nya dengan kasar. "meja lain penuh... Eum, ku kira aku bisa bergabung denganmu."Tambahku.
Ia nampak mengedarkan pandangannya sebelum akhirnya menyetujui untuk berbagi meja dengannya.
Awalnya aku hanya memperhatikannya saja. Aku tak berniat untuk memulai percakapan panjang karena kukira ia tak mengenaliku. Namun nyatanya aku salah. Dia mengenaliku dengan baik usai matanya menyipit tajam. Namja manis itu bahkan sudah memberikanku julukan. Es balok. Entah hal itu bagus atau tidak. Namun kedengarannya itu cukup manis di telingaku. Aku mencoba bergurau dengan menyebutnya cerewet. Tapi namja itu langsung cemberut. Jelas bahwa namja itu tak suka. Dan lagi-lagi perasaan asing itu menyusup. Aku, merasa menyesal membuatnya sedih.
Di perbincangan kami, aku baru mengetahui bahwa namja manis itu bernama Kyuhyun dan bermarga Cho. Seorang manager di department HRD tempat uncle Kim bekerja. Mengetahui hal itu, aku tanpa sadar berkata bahwa aku juga bekerja di kantor itu. Di bagian marketing. Hahaha... aku sungguh ingin tertawa karena hal ini. Pasalnya beberapa detik lalu aku baru saja ribut dengan Daddy karena menolak bekerja di perusahaan itu. Dan sekarang, aku dengan mudahnya berkata bahwa aku bekerja di perusahaan yang sama dengan namja itu. Ingatkan aku untuk menelepon uncle Kim setelah ini. Aku harus memastikan padanya bahwa aku diterima di perusahaan itu.
Kau tahu bagian apa lagi yang menyenangkan? Namja manis bernama Kyuhyun itu juga tinggal di tempat yang sama denganku. Apartement Shapphire di kawasan Chungdam-dong. Unit apartement kami ternyata saling berhadapan. Ah... aku benar-benar harus berterimakasih pada dewa-dewa di surga mengenai hal ini.
.
.
.
Aku tak tahu apa yang terjadi padaku dan Kyuhyun. Namja itu, dengan sejuta pesonanya benar-benar menyeretku masuk ke dalam dunia anehnya.
Kyuhyun yang gila kerja. Kyuhyun yang suka sekali bernyanyi di kamar mandi. Kyuhyun yang tak pandai memasak. Kyuhyun yang begitu menyukai pororo dan pikachu. Kyuhyun yang nge-fans berat pada Sung Si Kyung. Kyuhyun yang maniak game dan drama. Kyuhyun yang jarak makan. Kyuhyun yang begitu suka wangi kopi tapi tak suka dengan rasa pahit dan getir dari minuman hitam itu.
Ya... aku rasa aku bisa menghafal semua tentang Kyuhyun hanya dalam dua minggu. Bahkan hari ini aku tau, bahwa Kyuhyun tidak menyukai sayuran dan kuning telur.
Kau tau, ada sesuatu yang aneh setiap kali aku mengetahui sesuatu yang baru tentang Kyuhyun. Aku, merasa bangga. Dan berharap bahwa aku menjadi satu-satunya yang tahu tentang Kyuhyun. Tidakkah itu terdengar lucu?
Aku bahkan sempat merasa bersalah ketika Kyuhyun menemukan beberapa safety sex milikku di medicine cabinet saat Kyuhyun numpang mandi di flat-ku. Rasanya seperti aku baru saja ketahuan selingkuh dari teman kencanku. Padahal Kyuhyun hanya seorang rekan kerja. Dan ia adalah namja. Bukankah ini terdengar gila?
Aku benci menjadi menjijikan begini. Aku benci jika aku harus menyukai sesama jenis. Meskipun aku bersikap baik-baik saja terhadap orientasi seksual Donghae dan Eunhyuk, uncle Kim dan Tan ahjussi ataupun Daddy dengan suami barunya – , tapi aku tak ingin menjadi seperti mereka. Aku tak sanggup jika harus menghadapi cemoohan dunia jika mereka mengetahui ada lagi satu manusia abnormal di dunia ini. Selain karierku akan hancur, aku tak ingin mengecewakan Mommy dengan menjadi seorang gay.
Aku... ingin berhenti dengan semua perasaan aneh yang melelahkan ini.
Tapi aku tak bisa...
Namja manis bernama Kyuhyun itu seperti candu bagiku. Jika aku tak bisa bertemu dengannya di kantor, maka rasanya segala sesuatu yang aku lakukan tidak ada yang benar. Aku harus bertemu –setidaknya lima menit- dengannya agar otakku berjalan lancar lagi. Okay, ini memang kedengaran agak tidak masuk akal. Tapi sungguh, begitulah kenyataannya. Aku sendiri tak mengerti kenapa. Kekasihku bahkan tak bisa menimbulkan perasaan seperti itu dihatiku.
Aku, dan hidupku... rasanya semua tentangku jadi berporos pada Kyuhyun sejak hari pertama kami bertemu.
.
.
.
Kyuhyun masuk begitu saja kedalam flatku ketika aku sedang sibuk berperang di dapur dengan beberapa saus bulgogi yang hampir gosong. Ia masih dengan kemeja lengkapnya yang ia kenakan ke kantor tadi pagi. Sangat kontras denganku yang sudah mengenakan celana pendek dengan polo shirt berwarna putih.
Jika kau bertanya kenapa Kyuhyun bisa masuk ke dalam flatku begitu saja, jawabannya adalah karena kami baru saja bertukar kunci serep dan password flat minggu lalu. Oh, Kyuhyun bahkan menyimpan salah satu sendal rumah bermotif pikachu di flatku. Tidakkah itu manis? Beberapa benda milik Kyuhyun ada di flat-ku. Dan benda-benda milikku ada di flat Kyuhyun. Kadang aku berfikir bahwa sebaiknya kami berbagi kamar saja sekalian. Selain untuk menghemat biaya hidup, ku kira akan lebih menarik jika aku bisa selalu memperhatikan wajahnya setiap hari.
Hahaha, lupakan pemikiran konyolku barusan!
"kau baru pulang dari kantor?" tanyaku.
"eung." Aku bisa mendengar jawaban malas darinya.
"lembur lagi?"
"kerja rodi, lebih tepatnya." Gerutu Kyuhyun. "Kim Heechul sajangnim benar-benar berniat membunuhku sepertinya."
"aku numpang mandi, Min-ah. Sepertinya keran air di flat-ku macet lagi." Keluh Kyuhyun yang malah menjatuhkan dirinya di kursi bar dapurku dibanding menuju kamar mandi. "hm, sepertinya aku lagi-lagi harus menghubungi ahjussi penjaga flat untuk memberi tahu tentang ini."
Aku mendongak menatap Kyuhyun. Mengamati namja manis dihadapanku yang nampak begitu kering. "kau baik-baik saja?" tanyaku sambil mematikan kompor. Mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin dan menyodorkannya pada Kyuhyun
"eung-"
"kau ya..."
"biarkan aku tidur sebentar, Min-ah." Potong Kyuhyun. "aku lelah dan bahkan hanya tidur dua jam dalam tiga hari terakhir. Biarkan aku tidur sebelum mati karena serangan jantung. Hhhh,,,, rasanya jantungku memang akan berhenti jika terus bekerja dengan monster bermarga Kim itu."
Aku tertawa. Tidakkah namja manis itu nampak lucu? Dia menggerutu tentang uncle Kim pada salah satu kerabatnya. Jika uncle Kim tau, beliau pasti akan mengomel panjang pendek.
.
Dalam hitungan ketiga, Kyuhyun benar-benar jatuh tidur. Melipat tangannya di meja untuk ia jadikan bantal. Aku mengamatinya baik-baik. Ya, wajah Kyuhyun memang nampak lelah. Dan kupikir, tubuhnya akan semakin sakit jika ia tidur dalam keadaan seperti itu.
Jadi, aku menanggalkan apronku. Mencoba memindahkan Kyuhyun untuk berebah di kamar tidurku saja. Mengangkat tubuhnya dengan posisi bridal style. Aku yakin bocah pucat itu belum mandi –mengingat ia masih mengenakan seragam kantornya lengkap- tapi aku bisa mencium aroma vanilla dan apel dari tubuh pucat namja manis itu. Manis. That smell can driving me like crazy.
Kenapa aroma Kyuhyun begitu manis? Seperti yeoja... tak ada aroma musk atau hugo boss layaknya lelaki dewasa. Lamat-lamat ku amati wajah manis Kyuhyun. Mata, hidung, bibir... dia nampak begitu sempurna. Seolah Tuhan benar-benar memahatnya tanpa cela.
Satu
Dua
Tiga
Tanpa ku sadari aku memperpendek jarakku dan Kyuhyun. Mengikis inch demi inch. Hingga akhirnya dapat kurasakan nafas kami beradu. Aku, menyesap bibir merah cherry itu dalam. Aku hilang kendali. Hingga akhirnya aku sadar dengan apa yang aku lakukan ketika Kyuhyun terdengar melenguh keras. Namja manis itu menggeliat dalam tidurnya meski tak membuka mata. Astaga... juniorku bahkan sedikit tegang dibawah sana.
Aku berlari ke kamar mandi. Rasanya aku butuh air dingin. Tidak hanya untuk meredakan otakku yang mulai tak waras. Tapi juga untuk si junior yang menegang dibawah sana.
Ini salah...
Ini salah...
Aku terus merafalkan kalimat itu dalam hati. Sudut hatiku merasa berdosa karena telah menghianati Victoria –teman kencanku. Namun bayangan tentang manisnya bibir Kyuhyun terus berkelebat begitu saja. Bersama harum semerbak wangi dosa yang menguar.
Tuhan... kumohon enyahkan rasa ini. –batinku, ditengah dinginnya guyuran air shower.
.
.
.
Aku terbangun keesokan paginya dengan seluruh tubuh terasa patah dan pegal. Ya, aku memilih tidur di sofa di sudut kamarku –yang pada kenyataannya tidak mampu menampung tinggi tubuhku. Hal ini kulakukan karena aku tak ingin ambil resiko membiarkan juniorku menegang lagi karena menghabiskan malam diatas ranjang yang sama dengan Kyuhyun. Namun ketika aku mengedarkan kepalaku ke arah ranjang, ku dapati tempat itu telah kosong dan rapi. Huh... bagaimana bisa aku hanya mendapati secarik kertas bertuliskan deretan huruf hangeul di nakas samping tempat tidurku?
Aku kembali ke flat-ku. Maaf karena membuatmu tidur di sofa.
-Kyu-
Haish... namja manis itu benar-benar mempermainkan emosiku. Kenapa ia harus pergi tanpa pamit begini?
Aku bergegas keluar dari kamar untuk menuju flat Kyuhyun. Setidaknya aku harus mendapat penjelasan tentang alasannya kabur begitu saja. Tapi tidak. Karena aku, mendapati Victoria ada didalam flatku. Yeoja itu sedang sibuk di dapur kecilku. Sedang apa dia?
"kau membiarkan bulgogimu di atas pan, sayang..." yeoja itu berujar manja. "sedikit mengherankan mengetahui kau mengabaikan makanan begitu saja mengingat kau adalah seorang food monster."
Benar. Aku lupa bahwa aku meninggalkan bulgogi-ku begitu saja semalam. Gaaaahhh~ Kyuhyun benar-benar mengalihkan duniaku, kan?
"eung, sepertinya semalam aku ketiduran." Jawabku seadanya. "dan... bagaimana kau bisa masuk?" tanyaku heran. Berbeda dengan Kyuhyun, Victoria tak mengetahui password apartementku. Jadi, sedikit aneh jika ia bisa masuk tiba-tiba seperti ini.
"ah, Kyuhyun-ssi yang membukakan pintu. Apa namja itu menginap?"
"ya." Jawabku sekenanya. Berjalan menuju lemari pendingin demi sebotol air mineral.
"tidakkah itu lucu?" yeoja itu tertawa. Membuatku dengan otomatisnya mendelik heran. "jarak flat-nya dengan flatmu hanya selemparan batu. Tapi dia menginap?"
"dia berniat numpang mandi semalam." Jelasku.
"tapi dia masih mengenakan pakaian kantor."
"Kyuhyun ketiduran sebelum sempat mandi."
"sepertinya kau membelanya." Sindir Victoria. Aku sungguh tak menyukai nada suaranya.
"membela apa?" kilahku. "aku hanya mengatakan kebenarannya, Vic."
"Vic?" yeoja itu mengulang kata terakhir yang aku ucapkan. "sudah lama sekali kau tidak memanggilku dengan sebutan Vic. Seingatku, saat kita memutuskan untuk berkencan, kau memanggilku dengan sebutan honey, darling, atau chagi."
"apakah panggilan seperti itu begitu penting?" tanyaku sedikit tak sabaran.
"tidak-" yeoja itu menggantung kalimatnya. "hanya saja kau mulai berubah akhir-akhir ini, Min-ah."
"Victoria Song..." aku mencoba melembut padanya. "kau sedang merajuk? Cemburu, eoh?"
Yeoja itu menggendikkan bahu. Membawa langkahnya satu-satu untuk menuju ke arahku. "kau tau kan bahwa aku mencintaimu?" tanyanya seraya melingkarkan lengannya di pinggangku.
Aku mengangguk saja.
"apa kau juga mencintaiku, Min-ah?"
Aku mengangguk lagi, "tentu saja."
Victoria memulai ciumannya padaku. Tentu saja aku membalasnya dengan menjadi si pendominasi dalam ciuman kami.
Tapi rasanya berbeda. Bibir Vic tak semanis bibir Kyuhyun. Astaga... apa yang harus ku lakukan?
Setiap detik aku memulai untuk menghisap bibir Victoria, rasanya aku baru saja menghianati Kyuhyun.
Ya Tuhan... perasaan asing ini benar-benar menjengkelkan!
TBC
Special Thanks for :
Kim Nayeon | Cho loekyu07 | little Dark Wolf 99 | Awaelfkyu13 | cuttiekyu | widiantini 9 | sofyanayunita1 | sheehae89 | melani . s . khadijah | Desviana407 | hyunnie02
Still promote my social media.
Please visit : .com
Twitter at imaya74 and Facebook a.n. Lilyana Yasmin
Love,
Kakagalau74
