© Kakagalau proudly present
.
.
.
DESPERATE
(Fall For You)
.
.
.
ChangKyu Couple
.
.
This story inspired from Ilana Tan's and Alia Zalea's Novel.
.
.
Feel free to drop a line about my story.
.
-Boys Love-
.
Plagiarism is not allowed.
Chapter 5 : Mistake
Awalnya Eunhyuk akan mengajak kekasihnya untuk makan bersama, beberapa detik setelah tiba di hotel. Pasangan hyperaktif itu bahkan belum membuka isi koper mereka dan langsung berniat menuju restaurant. Berjalan beriringan dengan cengiran-cengiran bodoh mereka. Namun saat melewati kamar rekannya –Kyuhyun- Eunhyuk berpikir akan lebih baik mengajaknya ikut serta juga. Suasana akan jadi ramai dan menyenangkan.
Entah beruntung atau sial, pintu kamar hotel Kyuhyun itu tak benar-benar terkunci. Eunhyuk yang pada dasarnya adalah orang yang suka seenaknya langsung membuka pintu kamar hotel itu tanpa aba-aba. Donghae hanya mengekor di belakang namja uke itu tanpa banyak bicara.
Begitu pintu terbuka dan Eunhyuk masuk beberapa langkah ke dalam kamar itu, Eunhyuk langsung disuguhkan pemandangan yang membuatnya bertanya-tanya. Kyuhyun terduduk di hadapan Changmin dengan gemetar dan mata yang basah. Sedangkan Changmin sendiri nampak bingung dengan apa yang terjadi. "Kalian... apa yang terjadi?" tanya Eunhyuk.
Oh, namja itu sedikit menduga bahwa baru saja terjadi kekerasan seksual disini. Namun ia teringat akan pernyataan Kyuhyun yang mengatakan bahwa Changmin itu straight dan sedikit homophobic. Mengingat bahwa Changmin bukanlah seorang gay, rasanya agak aneh berpikiran bahwa seorang namja normal baru saja menyerang namja lainnya. Jadi, ada apa sebenarnya?
Beberapa detik berlalu dan tetap tak ada jawab. Donghae dan Eunhyuk langsung saling melempar pandangan bingung.
Kyuhyun nampak bangkit berdiri meski tubuhnya nampak sedikit diseret dan bertumpu pada dinding. Namja manis itu menyambar sweater wol blaster kuning biru yang masih tergeletak pada tumpukan baju yang tadi sedang dibereskannya.
"Kyuhyunnie, ada apa?" tanya Eunhyuk saat melihat Kyuhyun berniat pergi begitu saja.
Kyuhyun tak menjawab. Melewati Eunhyuk dan Donghae tanpa banyak suara. Eunhyuk menatap Donghae. Melalui pandangannya, namja pemilik gummy smile itu minta izin untuk mengikuti Kyuhyun. Donghae mengangguk untuk menyetujui. Menyisakan dua pria dalam kamar hotel itu.
.
Changmin cukup pasrah dengan pandangan mengintimidasi dari Donghae. Nampaknya namja tiang listrik itu cukup sadar diri bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal kali ini. Menyerang rekan kerjanya sendiri. Oh dear~ yang benar saja! Changmin itu normal! Straight.
"apa yang baru saja kau lakukan Shim?"
Changmin mengalihkan padangannya. Enggan menjawab pertanyaan Donghae. Dan enggan meladeni tatapan menusuk itu. Changmin sudah cukup lelah dengan isi kepalanya sendiri. Cukup lelah dengan hatinya yang dengan seenaknya mempunyai perasaan yang tak sesuai dengan otaknya.
"kau... memperkosa Kyuhyun?" tuduh Donghae.
Changmin menatap Donghae dengan pandangan tidak suka. Tuduhan itu terlalu kasar meskipun apa yang dikatakan Donghae bisa jadi benar adanya. Mengingat Changmin mencetak ciuman di bibir ranum Kyuhyun tanpa izin terlebih dahulu. Bahkan jika Kyuhyun tak melayangkan cap lima jarinya di pipi Changmin, mungkin Changmin sudah menunaikan kebutuhan biologisnya. Tapi Changmin tetap tidak suka dengan kalimat tuduhan dari Donghae itu. Tuduhan itu terlalu benar untuk diakui.
"apa maksudmu?" ketus Changmin. "aku masih normal untuk memilih perempuan sebagai partner seks-ku." Kilah Changmin. "dan Kyuhyun? Oh, demi alpha centauri yang meledak di galaksi sana... kau kira aku seperti dirimu?"
Kalimat Changmin terdengar menyindir dan sarkastik. Donghae sungguh tidak suka itu. Normal. Well... Donghae sedikit alergi dengan kata itu. Karena normal tidak cocok untuk menggambarkan cintanya pada Eunhyuk. Dan apa kata Changmin tadi? Kau kira aku seperti dirimu? Hell! Kau pikir seberapa buruk Donghae itu hingga kalimat bernada merendahkan itu bisa terujar dari bibir tipis Changmin?
"apa maksudmu?" Donghae balas menggunakan nada dingin, "si tuan yang maha sempurna ini mencoba untuk mendiskreditkanku?"
Changmin membatu.
"ah... aku lupa bahwa kau seorang straight dan homophobic." Sindir Donghae. "tapi kau terlihat lebih menyedihkan, Shim." Ejek Donghae. "dan kalau sampai terjadi apa-apa pada Kyu gara-gara kejadian ini, aku yang akan menghajarmu!" tambah Donghae sambil berlalu. Membanting pintu kamar hotel itu hingga meninggalkan bunyi bedebum keras.
Apa yang baru saja kulakukan pada Kyuhyun? –batin Changmin. Meneteskan sebulir air dari sudut matanya. Jadi, sebenarnya bagaimana perasaanmu itu Shim Changmin?
.
Kyuhyun masih duduk dengan gemetar diatas kasur di kamar hotel milik Donghae dan Eunhyuk. Kepalanya berdenyut sakit. Membuatnya pusing –hingga namja itu harus memejamkan matanya berkali-kali-. Berbagai potongan kejadian itu terputar ulang di kepalanya. Dan Kyuhyun merasa mual. Jijik.
Kyuhyun kembali mengingat bagaimana Changmin menyentuhnya. Menyentuh dengan kasar; hingga Kyuhyun merasa trauma karenanya.
Menggelikan bukan? Ketika kau begitu mencintai seseorang, namun justru sentuhan orang yang kau cintai itu yang membuatmu takut hingga trauma. Huh... tidak adil! Kyuhyun harusnya merasa bahwa Changmin sedang menyalurkan rasa cintanya, tadi. Tapi kenapa Kyuhyun malah justru takut?
"Kyuhyunnie... gwaenchana?" Eunhyuk memandang khawatir pada rekan kerjanya itu. Demi Tuhan, sekalipun namja pucat dihadapannya itu seringali membuat Eunhyuk naik pitam –bahkan nyaris ingin menyambit bocah pucat itu-, namun keadaan Kyuhyun yang seperti ini sungguh membuat Eunhyuk tak tega.
Eunhyuk mencoba menyentuh ujung jemari Kyuhyun. Namun Kyuhyun langsung menarik dirinya. Beringsut menjauh dari jangkauan Eunhyuk. Kyuhyun persis seperti gadis yang baru saja mengalami pelecehan seksual. Dan Eunhyuk menjadi miris karenanya.
Sebenenarnya apa yang si tiang itu lakukan padamu, bodoh? Eoh? –Eunhyuk meruntuk dalam hati.
"dia baik-baik saja?" tanya Donghae yang baru masuk ke kamar hotelnya sendiri. Lelaki itu memandang intens pada sosok namja pucat yang meringkuk di sudut ranjang.
"dia menjauh ketika ku sentuh." Adu Eunhyuk menjawab tanya kekasihnya. "sebenarnya apa yang dilakukan si tiang itu?"
"kekerasan seks?" Donghae malah balik melempar tanya.
Eunhyuk mengernyit. "he is normal. Straight."
"aku bahkan rela untuk menjadi tidak normal karena aku mencintaimu." Ujar Donghae. "mungkin dia juga mulai tidak normal karena jatuh pada pesona bocah pucat itu." Donghae menunjuk Kyuhyun dengan dagunya.
"hishhhhh... ini rumit." Gerutu Eunhyuk sambil mengibaskan tangannya. Sebuah kode bahwa ia tak ingin terlibat lebih jauh dengan segala kerumitan ini.
.
.
.
Changmin mengusap wajahnya kasar. Menatap detak detik jarum jam. Ini sudah nyaris tiga jam dari kejadian tadi, dan Kyuhyun belum juga kembali. Changmin sendiri masih membatu di titik yang sama sejak tiga jam ini. Menatap kosong pada ruangan itu. Jengah. Sudah jutaan kali ia bertanya pada dirinya sendiri mengenai alasannya melakukan itu semua. Terlebih, mencium Kyuhyun... oh, Changmin yakin ia sudah gila.
Ponsel Changmin nampak menyala. Ini yang ketiga kalinya sejak sejam terakhir. Dari Victoria –dan Changmin sama sekali tak berhasrat untuk mengangkatnya. Bagaimana ia bisa mengangkat telepon dari kekasihnya kalau seluruh isi kepalanya hanya berfokus pada Kyuhyun. Memikirkan Kyuhyun. Tak ada celah yang tersisa untuk memikirkan hal lainnya.
Changmin beranjak. Ia memeriksa sebuah setiap pocket travel bag-nya. Semuanya masih lengkap. Dan tanpa pikir panjang, Changmin meninggalkan kopernya begitu saja di kamar hotel. Pemuda itu hanya mengenakan kaos polo yang dilapisi jaket berwarna biru dongker dan celana jeans pendek selutut seraya membawa travel bag kecil yang berisi passport, dompet dan beberapa benda penting lainnya. Changmin bahkan tak peduli dengan tampilannya yang berantakan dan tubuhnya yang berontak minta istirahat. Well, Changmin baru saja tiba di Inggris beberapa jam yang lalu sebelum akhirnya –tanpa pikir panjang- memutuskan untuk terbang lagi ke Jepang. Entah ironman atau apa –yang jelas, memutuskan untuk melakukan penerbangan maraton seperti itu terdengar seperti sebuah keputusan yang gila.
.
Secangkir green tea disuguhkan oleh nyonya Shim pada putra tersayangnya itu. Shim Changmin sendiri nampak menghela napas lelah seraya memandang ke arah ponsel. Wajahnya nampak tak tenang sama sekali.
"uncle Kim?" tanya nyonya Shim. "atau Victoria?"
Changmin menatap ke arah ibunya. Cukup heran karena ibunya menyebut nama kekasihnya. Pasalnya, ibunya jarang ikut campur mengenai masalah percintaan Changmin. Bahkan Changmin kira ibunya tidak tahu menahu perihal siapa nama kekasihnya. Jadi, agak aneh ketika sang ibu menyebut nama Vict dengan pandangan mengerling seperti itu. Namun Changmin tak berniat membahas masalah Victoria kali ini.
"Uncle Kim." Kata Changmin sambil menghembuskan napas panjang. "dia marah karena aku kabur dari training."
Nyonya Shim memasang tawa kecil. "tentu saja Heechulie akan marah." Timpal nyonya Shim. "dia cukup ketat mengenai segala sesuatu tentang perusahaan. Dan kalau sampai Appa-mu tau..."
"dia sudah menelepon." Potong Changmin. "maksudku, Appa sudah menelepon. Dan... ya~ dia sudah tau, dan sudah mengomel habis-habisan di telepon karena hal itu." Gerutu Changmin. "gayanya benar-benar seperti ahjumma penjual chicken stewer di ujung jalan dekat kantor uncle Kim. Cerewet! Tipe uke sekali."
Nyonya Shim nampak agak sendu saat Changmin mengucapkan kalimat terakhirnya. Bagaimanapun, lelaki itu adalah ayah Changmin. Lelaki itu dulu pernah dicintainya, ani –bahkan sampai detik ini nyonya Shim masih mencintai ayah kandung Changmin itu. Dan ketika Changmin menyebut ayahnya sendiri seperti itu, rasanya cukup sakit untuk nyonya Shim.
"baik-baiklah dengan Appamu, Changminnie..." tegur yeoja paruh baya itu.
Changmin menunduk saja. Ya,,, hubungannya dan sang ayah tidak pernah baik, kan?
"sekalipun kau kecewa pada ayahmu... namun dia..."
"mengapa Umma mencintai Appa?" potong Changmin. Ia sudah hafal dengan ceramah panjang yang akan diberikan sang Umma –dan Changmin tak berniat untuk mendengarkan itu semua. Disisi lain, ada hal yang selalu menarik perhatiannya. Makanya Changmin memilih untuk melemparkan pertanyaan barusan. Euh... Anak kurang ajar itu benar-benar...
"eoh?"
"mengapa Umma mencintai Appa?" ulang Changmin. Ia sungguh ingin tahu mengapa ibunya masih mencintai ayahnya yang jelas-jelas sudah menebar luka dan membuat kecewa.
Nyonya Shim nampak menaikkan alisnya. Berfikir sejenak, "karena Umma mencintai ayahmu." Jawabnya.
"maksud Umma?"
"apakah mencintai seseorang itu membutuhkan alasan?" nyonya Shim balik bertanya.
Changmin menggeleng. Ia tak tau jawabannya. Jadi, apakah cinta memerlukan alasan? Changmin bingung sendiri.
"jika kau punya alasan mengapa kau mencintai seseorang, maka kau akan punya alasan untuk berhenti." Ujar nyonya Shim. "namun, jika kau bersikukuh bertanya mengapa Umma mencintai Appamu, ya... karena dia Kim Jaejoong." Ujar nyonya Shim .
Changmin mengernyit bingung. "aku tak mengerti."
"umma mencintainya karena namja itu adalah Kim Jaejoong. Aku mencintai apa adanya ia."
"kau tak kecewa padanya?"
"aku kecewa. Ya..." nyonya Shim nampak tertawa. "tentu saja aku kecewa padanya. Aku mencintainya, menyerahkan hidupku untuknya. Bahkan aku sudah memberikannya seorang putra. Lalu dengan mudahnya ia menceraikanku. Dan menikah lagi dengan namja."
"tapi kecewa dan mencintai adalah dua hal yang berbeda..." sambung nyonya Shim. "sekalipun aku kecewa karena ia meninggalkanku, aku tetap mencintainya. Dan aku ikut bahagia dengan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini."
Changmin menerawang langit saat ibunya menyelesaikan kalimatnya. Bingung. Mencintai itu tak memerlukan alasan. Apakah semua itu benar?
Hatinya merasa bahwa ia mencintai Kyuhyun. Namun otaknya selalu mengajaknya berpikir logis. Memikirkan mengenai segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika Changmin sungguh-sungguh dengan perasaannya. Jadi Changmin selalu menuntut alasan kenapa ia bisa jatuh cinta pada Kyuhyun. Otaknya selalu meminta alasan kenapa ia jatuh cinta pada namja itu.
"umma..."
"eum?"
"sejak aku menjejakkan lagi kakiku di Jepang, kau tak pernah bertanya padaku mengenai alasan mengapa aku ada disini sekarang ini."
Nyonya Shim tersenyum. Ia paham maksud dari pernyataan Changmin barusan.
Ya, saat melihat Changmin muncul di depan rumahnya beberapa hari lalu, nyonya Shim hanya mengernyitkan dahi sebentar, lalu tersenyum dan membentangkan tangannya dengan lebar untuk menyambut Changmin ke dalam pelukannya. Nyonya Shim tak pernah bertanya mengenai alasan Changmin muncul di Jepang dengan keadaan berantakan seperti itu. Dan Changmin sendiri hanya berujar singkat bahwa ia kabur dari training di Inggris –tanpa menjelaskan lebih lanjut.
"lalu?" nyonya Shim mencoba untuk menggoda Changmin.
"kau tak ingin tau?"
Yeoja paruh baya itu tertawa renyah. "aku percaya –bahwa suatu hari nanti; ketika kau sudah siap- kau akan menceritakannya padaku. Umma tak ingin mendesakmu untuk menceritakan masalahmu. Tapi kau harus tau, bahwa Umma akan selalu ada disini untuk mendengarkan keluh kesahmu."
Changmin menghembuskan napas lega. Cukup senang untuk mengetahui sebuah kenyataan bahwa ia selalu bisa mengandalkan sang umma untuk menjadi tempat berkeluh kesah.
"umma..."
"eum..."
"bagaimana jika... aku mencintai seseorang?" tanya Changmin. suaranya terdengar gamang. Berbanding terbalik dengan nyonya Shim yang nampak tersenyum.
"itu terdengar bagus. Apakah kali ini serius?" goda wanita paruh baya itu. "kau sering sekali berkata bahwa kau sedang mencintai seseorang. Tapi gadis yang kau bawa tak ada satupun yang benar-benar waras."
Changmin tertawa. Teringat bahwa terakhir kali gadis yang dibawa Changmin ke rumah adalah seorang gadis yang doyan dandan. Gadis itu terus saja memainkan rambutnya yang panjang hingga akhirnya tanpa sengaja rambut itu malah tercelup ke mangkuk sup. Menggelikan!
"yang ini berbeda... dia begitu manis dan aku selalu merasa nyaman dengannya. Aku selalu bisa menjadi apa adanya aku tiap kali bersama dengannya." Terang Changmin. Namun raut wajahnya kembali sendu. "aku pikir, aku menyukainya. Namun aku ragu dengan perasaanku sendiri..."
"apakah yeoja yang kau maksud itu Victoria?"
"aniya... bukan yeoja itu."
"kau mendua?"
"Umma..." Changmin merengek. "aku tidak menduakannya." Atau mungkin tidak menduakannya secara terang-terangan. –batin Changmin.
"huh?" nyonya Shim mengejek. "jangan menyakiti hati perempuan, Minnie-ah."
"aku... aku baru saja menyakitinya, Umma."
Nyonya Shim memperhatikan raut wajah putranya dengan seksama. "mwo?"
"itulah alasannya kenapa aku kabur kesini. Aku baru saja menyakiti orang itu dan aku tak sanggup bertatap muka dengannya. Aku tak sanggup memohon maafnya."
"apa yang kau lakukan padanya Minnie?" nyonya Shim penasaran.
Changmin menggeleng. Cukup malu untuk mengatakan yang sebenarnya. "Umma, apakah kau akan kecewa padaku jika aku berkata bahwa aku mungkin seperti Appa?" tanya Changmin ragu.
Nyonya Shim menarik napas dengan keras. Menatap bola mata Changmin dengan intens. "apa maksudmu? Seseorang yang kau cintai adalah seorang namja?"
Changmin, dengan segenap kekuatannya mengangguk. Ia ingin mengaku. Dihadapan ibunya, ia ingin mengaku. Bahwa ia mencintai seorang namja. Kyuhyun. Changmin ingin mengaku bahwa ia mencintai Kyuhyun. Sekalipun hingga detik ini Changmin tak bisa menemukan alasan mengapa ia bisa jatuh dengan mudahnya pada pesona namja pucat bersurai brunette itu. Changmin hanya ingin jujur pada dirinya sendiri.
Namun nampaknya, nyonya Shim terlalu terkejut dengan pengakuan Changmin. Wanita baya itu memalingkan wajah ketika Changmin mengutarakan isi hatinya dengan jujur.
Ini akan semakin rumit.
. . . .
Annyeong ^^ lama gak update~
ff ini saya update barengan sama EOR.
Monggo di cek di wordpress :D
Love,
Kaka.
