© Kakagalau proudly present
.
.
.
DESPERATE
(Fall For You)
.
.
.
ChangKyu Couple
.
.
This story inspired from Ilana Tan's and Alia Zalea's Novel.
.
.
Feel free to drop a line about my story.
.
-Boys Love-
.
Plagiarism is not allowed.
Chapter 5 : The One I Love
Nyonya Shim kembali mencoba menatap lekat putra semata wayangnya. Berharap menemukan kebohongan dari iris bamby itu. Berharap bahwa Changmin tengah melemparkan lelucon atau gurauan april mop –padahal yeoja itu tau jelas bahwa ini bukan bulan april. Namun nyonya Shim masih berusaha keras untuk menemukan kebohongan dari pengakuan Changmin. Tapi tidak. Rupa-rupanya Changmin begitu jujur dengan pengakuannya. Changmin, anak lelakinya memiliki orientasi seksual yang menyimpang. Astaga... Demi Aprodith yang dicintai Michael... Apakah dosa di masalalu berhubungan dengan ini semua? Changminnie, sepertinya kau sukses membuat ibumu nyaris terkena serangan jantung karena pengakuanmu!
"Umma..." Changmin memanggil lembut sang ibu. "aku bukan gay." Sambung Changmin.
"lalu apa maksudmu dengan mengatakan bahwa kau menyukai namja, eum?" tanya nyonya Shim tak mengerti. "kau tengah bercanda? Atau baru saja mengikuti kelas acting sehingga kau menjajal kemampuanmu dihadapan Umma?"
Changmin gelagapan. Sungguh, jika dikatakan bahwa ia seorang gay, Changmin jelas akan menolaknya mentah-mentah. Karena hingga detik ini, ia sendiri masih seseorang homophobic meskipun bukan dari golongan yang frontal. Ia masih tak habis pikir bagaimana bisa Donghae jatuh cinta pada Eunhyuk, uncle Kim jatuh cinta pada uncle Han, dan ayahnya sendiri jatuh cinta pada pria bermarga Jung. Itu semua diluar nalarnya. Dan ia masih tak bisa memaklumi hubungan mereka. Lalu bagaimana sekarang? Changmin mengakui bahwa ia jatuh cinta pada namja –namun menolak disebut sebagai gay. Well, mukinkah otak Changmin bergeser atau tercecer disuatu tempat? Bisa jadi.
"katakan pada Umma, Shim Changmin!" marah nyonya Shim. Yeoja itu cukup geram dengan lelucon ini. "Apa yang sebenarnya kau maksudkan dengan pengakuanmu yang berkemungkinan seperti neo Appa, eoh?"
Changmin menghela nafas panjang. Berdiri dari duduknya, sebelum akhirnya menjatuhkan dirinya dengan lutut menyentuh tanah. Namja tiang itu berlutut di hadapan ibunya. "aku kecewa pada Appa karena keputusannya menikah dengan sesama namja." Changmin membuka kalimatnya. "Lalu ketika aku bertanya pada Appa tentang keputusannya –dan apakah ia tak pernah takut dengan kecaman dunia mengenai keputusannya menjadi homoseks, ia berkata bahwa Cinderella tak membutuhkan restu seluruh dunia untuk bersanding dengan sang pangeran."
"..."
"ya, Cinderella tak membutuhkan restu seluruh dunia untuk meraih kebahagiaannya bersama sang pangeran. Karena tak setiap manusia di dunia ini akan menyetujui cintanya terhadap pangeran. Namun aku tak cukup percaya diri seperti Cinderella dan Appa, Umma..." sedih Changmin. "aku tak cukup percaya diri untuk meraih kebahagiaanku, jika Ummaku sendiri mengatakan bahwa aku tengah bercanda dengan pengakuanku ini."
Nyonya Shim masih dalam mode bisu miliknya.
"aku... aku mencintainya, Umma." Lagi –Changmin mengakui perasaannya. "aku tak membutuhkan restu seluruh dunia untuk mengakui ini. Aku akan mencoba mengabaikan cemoohan dunia dengan pilihanku ini. Namun aku tak bisa mengabaikan restumu. Hanya restumu. Dan semuanya akan terasa cukup untukku."
Nyonya Shim terdengar menghela napas panjang. "kau tau kan, bahwa ini menyalah kodrat?"
Changmin mengangguk lesu.
"kau tau kan, bahwa ini salah?"
Changmin mengangguk lagi.
"kau yakin dengan pilihanmu?"
Changmin diam. Ia sendiri masih ragu. Terlebih, ia baru saja menyakiti hati namja manis itu. Membuat namja itu terluka karenanya. Tapi... ia tak bisa jika Kyuhyun benar-benar tak disampingnya. Ia merasa bahwa ia akan gila tanpa Kyuhyun disisinya.
"kau yakin dengan pilihanmu?" ulang nyonya Shim.
"a-aku,,,,"
Nyonya Shim lagi-lagi menghela napas lelahnya. "bawa namja itu ke hadapan Umma. Umma harus cukup mengenal namja itu sebelum membiarkan kalian berdua berkencan atau semacamnya."
Changmin mendongak menatap iris bulat milik ibunya. Apa itu tadi? Sebuah persetujuan? Hell! Ini benar-benar sebuah persetujuan? Ah... terimakasih Tuhan! Changmin memeluk erat ibunya tanpa sadar. Mengucapkan terima kasih berkali kali.
Dalam kepalanya ia tengah menyusun rencana. Ia harus menemui Kyuhyun dan meminta maaf pada namja manis itu sebelum memulai pengakuannya. Tunggu, tapi bukankah Changmin tidak tau Kyuhyun itu seorang gay atau bukan? Ah,,, benar. Changmin harus memastikan dulu orientasi seksual Kyuhyun. Dan langkah pertama yang harus dilakukannya sebelum menemui Kyuhyun dan melakukan penyelidikannya adalah, memutuskan Victoria. Ia takkan bisa memulai hubungannya dengan Kyuhyun jika Victoria masih memegang status sebagai teman kencannya. Jadi, Changmin mengambil ponselnya. Mendial nomor gadis teman kencannya itu.
"Yeoboseyo, Vic. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu."
.
.
.
.
Kyuhyun sudah kembali dari trainingnya di Inggris. Namun ia tidak memutuskan untuk kembali ke apartemennya di Chundam-dong. Ia mengungsi di apartemen milik kakak sepupunya –seperti biasanya-. Kyuhyun masih membereskan dokumen-dokumennya hasil dari training selama seminggu kemarin. Menumpuk dan menjejalkannya bersama berkas-berkasnya yang lain. Iris karamelnya kemudian beralih menatap kosong pada pemandangan malam di kota Seoul. Hiruk pikuk jalanan tak nampak akan lengang dalam beberapa jam kedepan. Benda besi itu bergerak manis terpendar cahaya lampu jalanan. Ia juga kemudian menatap kerlap-kerlip lampu gedung dan bintang yang sedang beradu terang. Kontras sekali dengan hatinya yang sendu kelabu. Seolah hujan badai akan segera turun di hatinya. Dan Kyuhyun akhirnya jatuh pada renungannya sendiri. Ia merenung sampai bosan di dalam kamar kecil di apartemen itu.
Kyuhyun sadar, bahwa sejak hari itu, ia belum pernah bertemu dengan Changmin lagi. Changmin tak pernah kembali ke kamar mereka. Bahkan, hanya orang suruhan Kim sajangnim yang membereskan barang-barang Changmin di kamar hotel mereka. Mempaketkan koper itu ke Korea. Sedangkan Changmin sendiri, Kyuhyun tak tau Changmin ada dimana. Hingga akhirnya Kyuhyun dan rekan-rekannya yang lain menyelesaikan trainingnya, Changmin tak pernah menampakkan batang hidungnya.
Sebenarnya apa yang diinginkan Kyuhyun? Namja manis itu sendiri tak mengerti akan hatinya. Ia merindukan Changmin –meskipun dirinya sendiri tak yakin jika ia takkan menarik diri ketika Changmin berada dihadapannya. Kyuhyun pernah sempat dibuat trauma gara-gara ahjussi mesum yang grepe-grepe tangannya saat ia bekerja di kafe Sungmin beberapa waktu lalu. Dan sekarang Changmin membuat ketakutannya terhadap sentuhan lelaki semakin parah. Tapi ia tak bisa menampik rasa rindunya terhadap namja tiang itu.
Kyuhyun, masih dengan pandangan kosongnya menerawang langit. Menapaki ulang, apa yang sesungguhnya ia inginkan.
"kau melamun lagi." Tegur Sungmin yang menyelonong masuk ke kamar adik sepupunya itu. "masih soal Changmin?"
Kyuhyun mengulas senyum kecut.
"harusnya aku menampar bocah tiang itu!" kesal Sungmin. "lihat? Si namja normal itu menyakiti adik sepupuku."
"aku baik-baik saja, Hyung."
"baik-baik saja apanya?"
Kyuhyun mengibaskan tangannya. Pertanda bahwa ia enggan membahas hal itu lebih lanjut. Huhhhh... rasanya, Kyuhyun harus menenangkan diri. Ya... benar. Namja manis itu rasanya memang harus benar-benar menenangkan diri.
"Hyung..."
"hm?"
"aku ingin pulang."
"sekarang?"
Kyuhyun nampak berpikir sebelum akhirnya menggeleng, "mungkin besok atau lusa."
"baiklah." Kata Sungmin malas. Merasa Kyuhyun sedang membuat lelucon atasnya. "aku akan mengantarmu besok pagi. Jadi malam ini kau istirahat saja dulu disini."
"maksudku... aku ingin bertemu Appa dan Umma."
Sungmin membulatkan matanya. "kau bersungguh-sungguh?"
Mengunjungi Appa dan Umma Cho adalah sebuah perkara serius. Kedua tetua Cho itu berada di Amerika sekarang ini. Dan Kyuhyun mengatakan bahwa ia ingin pulang? Well~ bukankah itu tandanya bahwa Kyuhyun akan ke Amerika?
Kyuhyun mengangguk.
"tunggu, bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"aku akan mengajukan cuti." Kata Kyuhyun seraya menggendikkan bahu. "atau mungkin resign?"
"mwo?" kaget Sungmin. "kau akan resign gara-gara masalah ini? Wae? Wae? Wae?"
"itu 'kan belum pasti, Hyung..." ujar Kyuhyun. "saat ini aku hanya akan mengajukan cuti. Butuh liburan."
"kenapa harus ke Amerika, eoh?" rajuk Sungmin. "kenapa tidak ke Jeju saja? Aku bisa menemanimu liburan."
"aku merindukan Appa dan Umma, Hyung. Sudah lama sekali tak bertemu dengan mereka. Aku juga sudah lama tak bertemu dengan Noona."
"apa ini salah satu caramu untuk kabur dari Changmin?"
Kyuhyun menggeleng. "aku tak punya alasan untuk kabur dari namja itu. Well, lagipula aku tak tau dia ada dimana sekarang."
"Kyu..." Sungmin memasang wajah memelasnya, "kau yakin akan melakukan ini?"
Kyuhyun mengangguk seraya tersenyum. "aku akan berada disana untuk satu atau dua minggu. Mungkin..." Kyuhyun terdengar tak yakin dengan kalimatnya.
Sungmin terdengar menggeram. "sepertinya aku memang harus menampar bocah tiang itu!" desis Sungmin yang kemudian mengenyahkan diri dari kamar Kyuhyun. Membanting pintu dengan cukup anarkis.
Kyuhyun mengamati kepergian Sungmin. Tersenyum kecut. Kenapa bisa sampai seperti ini? –tanya Kyuhyun dalam hati. Namja manis itu kemudian mengambil ponsel pintarnya. Mendial nomor internasional milik keluarganya di Amerika Serikat.
"Hallo, Bu." Sapa Kyuhyun. Menampilkan nada ceria yang dibuat-buat.
Hai sayang... bagaimana kabarmu disana, eum? Tumben sekali kau menelepon ibu, hm? Kau tidak terkena demam dan semacamnya, kan?
"aku baik..." dusta Kyuhyun.
Benarkah? Ah, ibu sangat merindukanmu...
"aku juga..." balas Kyuhyun. "bagaimana jika aku pulang, besok?"
Eoh? Kau bersungguh-sungguh? Tumben sekali. Yeoja di seberang terdengar heran. Apa terjadi sesuatu disana Kyu?
"tidak ada, Bu. Semuanya baik-baik saja. Aku hanya sedang merindukanmu." Lagi-lagi Kyuhyun berdusta.
Kyu, kau yakin kau baik-baik saja? Ada sesuatu yang terjadi?
Kyuhyun menghapus air matanya yang nyaris meluncur. Menetralkan suaranya sebelum akhirnya berujar, "semuanya baik-baik saja, Bu... jangan khawatir. Aku akan berangkat besok."
.
.
Changmin tiba di Korea sejak kemarin. Ia bahkan langsung menemui Victoria usai pesawatnya mendarat di bandara Gimpo. Mengajak bertemu dan meminta untuk mengakhiri hubungan mereka. Semuanya berakhir dengan baik dan lancar. Tanpa ada adegan cakar mencakar ataupun tampar-menampar. Victoria cukup berlapang dada menerima keputusan Changmin. Meskipun yeoja itu sempat meminta pelukan dan satu ciuman manis dari Changmin sebelum benar-benar mengakhiri hubungan mereka. Tapi Changmin bisa bernapas lega karena dirinya tak perlu jadi tontonan gratis di hadapan orang-orang usai menghakhiri hubungannya dengan Victoria.
Hari ini, Changmin memutuskan untuk ke kantor. Selain untuk setor muka pada uncle Kim yang tak lain adalah bosnya sendiri, ia juga berniat untuk menemui Kyuhyun. Pasalnya, namja manis itu tak kembali ke apartemennya. Changmin mengetahui hal itu karena sejak pulang dari Jepang, namja itu sengaja tidur di kamar Kyuhyun agar bisa bertemu dengan namja manis itu.
Changmin memasang senyum satu juta volt nya saat berpapasan dengan Donghae di lobby utama. Berbanding terbalik dengan Changmin, Donghae justru mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangan. Jemari kekar namja yang nampak lebih pendek itu nyaris saja melayang ke pipi Changmin jika saja Eunhyuk tak menahannya.
"Hai... lama tak bertemu." Changmin mencoba menyapa seramah mungkin. Meski pada kenyataannya, si namja tiang itu tetap saja tidak bisa menyembunyikan suara gugupnya.
"aku kira kau sudah resign." Eunhyuk mencoba sarkas. Menyelipkan tawa sumbang dalam kalimat itu.
Changmin tersenyum hambar menanggapi Eunhyuk. "aku akan ke atas." Ujar Changmin mencoba untuk memutus pembicaraan.
"jika kau keatas untuk mencari Kyuhyun, bocah itu tak ada." Kata Donghae. Eunhyuk melempar tatapan sinis pada kalimat Donghae. Kesal sekali pada seme nya itu. Untuk apa memberitahu Changmin tentang Kyuhyun?
"kemana dia?"
"cuti – resign." Ketus Donghae. "memang apa pedulimu, huh?"
Changmin menunduk usai mendapat tatapan mengintimidasi dari Donghae. "aku... ingin meluruskan masalah ini padanya."
Eunhyuk melangkah maju. Menyentuh dagu Changmin –untuk memaksa kepala itu terangkat. "aku rasa Kyuhyun sudah cukup tau bahwa kau adalah seorang yang lurus, Changmin-ssi." Tutur Eunhyuk yang lembut itu menusuk. Menikam ulu hati. "jangan sakiti bocah sarkas itu lagi."
"kalian salah paham..."
"apanya yang salah paham, Shim?" Donghae terdengar kesal. "kau ingin mengolok-ngolok kaum kami dengan kelakuanmu beberapa waktu lalu pada Kyuhyun?"
"kalian salah paham..." ulang Changmin dengan nada yang kian lirih.
"atau mungkin kau yang salah paham pada perasaanmu sendiri." Ujar Eunhyuk.
Changmin merenung sejenak, ya... aku salah paham terhadap perasaanku sendiri. Aku terlambat mengetahui, bahwa perasaanku terhadap Kyuhyun tidak hanya sebatas rasa nyaman. Namun, aku juga... mencintainya...
.
Donghae benar. Kyuhyun memang tak ada dikantor. Uncle Kim sudah mengkonfirmasi semua itu. Sajangnim yang kelakuannya serupa Adolf Hitler itu mengatakan bahwa manager kesayangannya dari divisi HRD itu mengajukan cuti untuk jangka waktu yang lama. Dua minggu. Bahkan uncle Kim sendiri sempat menyembur Changmin dengan ceramah panjangnya. Lelaki cantik itu murka karena Changmin kabur dari training di Inggris. Terlebih, dana kantor jadi overbudget karena harus mengirimkan koper bocah tiang itu ke Korea. Menyusahkan sekali.
Tapi si tiang itu nampak tak acuh. Usai mendapat keterangan bahwa Kyuhyun tak ada di kantor, Changmin melengos begitu saja. Tempat terakhir yang bisa ditujunya untuk mengetahui keberadaan Kyuhyun hanya satu. Sungmin. Jadi, Changmin memutuskan untuk mengunjungi kedai kopi milik kakak sepupu Kyuhyun itu.
Disinilah Changmin berdiri. Di sebuah kedai mungil yang nampak cozy. Dimana wangi harum kopi sudah menyeruak ketika pintu kedai itu dibuka. Changmin sudah siap dengan segala resikonya ketika memasuki kedai kopi itu –termasuk jika Sungmin menyerangnya dengan matrial art-. Asalkan ia bisa mengetahui dimana Kyuhyun dan bertemu dengan namja manis itu, Changmin tak keberatan jika harus dihajar Sungmin terlebih dahulu.
Dan... dugaan Changmin tak meleset. Sungmin memang memandang nyalang pada namja tiang itu sesaat setelah Changmin memasuki kedai kopinya.
"mau apa kau kemari?" ketus Sungmin saat menatap Changmin yang baru saja memasuki kedai kopinya.
"aku... perlu bicara denganmu."
"tak ada yang perlu dibicarakan diantara kita." Namja bunny itu masih mencoba menahan emosinya untuk tidak membanting Changmin didepan pegawai dan pelanggannya.
"Hyung!"
"sejak kapan aku mengizinkanmu memanggilku Hyung?"
"Sungmin Hyung..." Changmin nampak memelas.
"pergilah." Ketus Sungmin. "pergilah! Sebelum aku kehilangan kendali dan membantingmu disini."
"aku hanya ingin tahu dimana Kyuhyun sekarang."
"kau kira aku akan memberitahumu?"
"jebal... ada sesuatu yang harus kukatakan padanya, hyung..."
"apa?" Sungmin sedikit meninggikan suaranya. "sudahlah. Lebih baik kau pergi saja." Sungmin berbalik. Berniat meninggalkan pemuda tiang itu, kalau saja si pemuda tiang itu tidak berkata,
"aku menyukai adik sepupumu." Aku Changmin. "aku mencintai Cho Kyuhyun."
Sungmin berbalik menatap iris bamby pemuda jangkung itu. Dan membulatkan matanya –tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "kau...?"
"awalnya aku memang menganggap bahwa aku hanya menyukainya sebagai teman. Namun semenjak hari itu aku sadar. Aku membutuhkan Kyuhyun lebih dari apapun."
"kau?" Sungmin masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"bantu aku, Hyung... aku harus bertemu dengan Kyuhyun dan meluruskan kesalahpahaman ini."
"..."
"bahkan jika pada akhirnya Kyuhyun akan menolak perasaan bodohku ini, aku tetap ingin Kyuhyun mendengar pengakuanku."
"kau bersungguh-sungguh?"
"aku tak pernah seyakin ini terhadap perasaanku, Hyung."
"tapi..."
Baru saja Sungmin akan mengatakan sesuatu, ponsel di saku celananya berdering nyaring. Menginterupsi percakapannya dengan Changmin. Namja kelinci itu sempat mengernyit sebentar saat melihat nomor internasional milik sang Imo di display ponselnya. Tanpa pikir panjang, namja itu menekan tombol accept untuk menerima panggilan itu.
"yeoboseyo, Imo..."
Sungminnie...
"ye Imo... ada apa?"
Sungminnie...
Sungmin kian mengernyit saat sang Imo tak jua bicara dengan jelas. Malah, namja kelinci itu bisa mendengar suara isak tangis yang kian mengeras.
Bagai tersambar petir di siang bolong, kabar tak menyenangkan itu menelusup masuk ke gendang telinga Sungmin. Sebaris kalimat itu membuat Sungmin tak mampu menarik napas. Melepaskan ponsel dalam genggamannya begitu saja.
Changmin yang berdiri di hadapan Sungmin memungut ponsel itu. Mendekatkannya ke telinga. Menangkap sebagian obrolan dari seberang.
...terlibat kecelakaan beruntun... uri Kyuhyunnie, kritis...
Namja jangkung itu meneteskan air mata dengan tiba-tiba. Dadanya terasa nyeri seketika. Seolah separuh rohnya melayang dijemput malaikat maut.
"maldo andwae..."
-TBC-
