Just You
Exo official pairing
Sulay (GS for Lay)
Oneshoot/angst/romance
DLDR
Happy Reading
.
Lay mengusap keringat yang mengalir dipelipisnya dan memandang sendu kearah pemuda yang sedang tertidur lelap. Dia merapikan selimut pemuda itu dan memegang lembut tangan pemuda itu lalu menciumnya. Kemudian dia melangkah keluar dari ruangan itu dan tersenyum saat melihat perempuan cantik dengan keriput tipis diwajahnya yang tengah menghampirinya cemas.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Lay mengusap lembut tangan rapuhnya yang sedang menggenggam tangannya.
"Suho hanya menngalami serangan kecil. Dia hanya belum kuat menahannya. Tapi sekarang dia sudah tenang," Lay tersenyum saat melihat wajah lega perempuan itu.
"Syukurlah. Tapi... apakah anak saya bisa sembuh dok?" wajah perempuan itu kembali resah.
"Kami akan berbuat semampunya. Banyaklah berdoa," Lay tersenyum. "Kau beristirahatlah nyonya. Sebelum kau kelelahan. Aku permisi dulu," Lay membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan perempuan itu sebelum dirinya menatap pintu ruangan yang baru saja di tinggalkannya.
.
.
Lay tersenyum menatap nampan yang berada ditangannya. Dia membuka pintu bercat putih dan tersenyum melihat pemuda dengan kupluk hitam sedang memandang kearah luar jendela.
"Selamat pagi Suho-ya. Bagaimana tidurmu?" Lay tersenyum saat pemuda itu malah terkaget karena kehadirannya.
"Ah dokter Lay. Tidurku nyenyak dan mimpiku indah," Lay tersenyum semakin lebar saat pemuda itu tersenyum juga kearahnya. "Dan dimimpiku aku bertemu seorang bidadari yang sangat cantik sepertimu," Lay menatap malu kearah Suho yang sedang tersenyum jahil.
"Sebaiknya kau sarapan Suho-ya. Setelah itu aku akan membawakanmu susu," Lay menyerahkan nampan berisi sarapan kepada Suho. Pemuda itu hanya menggangguk dan menatap kearah makanannya.
"Apakah aku tidak boleh makan selain bubur?" Suho mengaduk malas bubur ayamnya tanpa minat. "Aku bosan dok," ucapnya lirih.
"Setelah keadaanmu membaik kau boleh makan yang lain Suho-ya," Lay memandang pemuda itu sedih.
"Tapi kapan? Aku rindu jajanan diluar. Aku rindu teman-temanku. Aku rindu anjingku. Aku rindu semua yang berada diluar rumah sakit ini," Lay mendekati Suho dan mengusap lembut bahu bergetar pemuda itu. "Aku... ingin sembuh dok."
"Kau pasti akan sembuh. Jadi, sebaiknya kau makan dan minum obatmu," Lay mengusap sayang rambut pasiennya itu.
"Baiklah. Tapi bisakah kau suapi aku dok?" Suho tersenyum lembut dan menatap penuh harap kearah Lay.
"Baiklah," Lay mengambil alih bubur ditangan Suho dan mulai menyuapi pasiennya itu.
Suho dengan lahap memakan tiap suapan dari dokter cantik didepannya. Umur mereka memang terpaut lima tahun dengan Lay yang lebih tua darinya. Tapi itu tidak membuat kecantikan dokter didepannya ini terlihat tua. Dia memang menyukai Lay. Bukan! Dia mencintainya. Lay yang merawatnya dan memberikannya semangat saat dia terpuruk terhadap penyakitnya. Lay yang menguatkannya. Dan dia berjanji akan melawan penyakitnya ini. Dia akan bertahan demi dokternya.
"Suho-ya? Mengapa melamun?" Suho mengalihkan pandangannya dan tersenyum menatap Lay.
"Tidak dok. Aku hanya memikirkanmu," dan Suho tersenyum senang saat pipi dokter itu merona.
"Kau ini. ayo cepat habisan," Suho mengangguk dan memakan habis buburnya dengan lahap.
.
.
Hari demi hari Suho habiskan waktunya bersama Lay. Lay pasti akan selalu keruang inapnya saat dia tidak ada pasien. Suho sangat senang. Setidaknya dia tidak sendiri dirumah sakit ini. walaupun eomma dan teman-temannya sering berkunjung, tapi semua terasa berbeda jika Lay yang datang keruangannya dan membawakannya makanan ringan. Walaupun hanya sedikit yang dimakannya. Tapi dia senang. Lay sangat mengerti dirinya.
Hari ini dokter cantiknya itu sedang ada operasi. Dan Suho sangat kesepian sekarang. Dia mengambil handphonenya dan membuka galeri. Dia tersenyum saat melihat foto dirinya dengan dokter tercintanya. Dan Suho langsung merindukan dokternya itu.
"Ah dokter Lay, cepatlah kesini," Suho memeluk handphonenya dan mencium layarnya yang terdapat foto Lay dengan wajah meronanya. Suho memandang kesal layar handphonenya yang berganti dari wajah cantik dokternya ke wajah menyebalkan teman pirangnya. Dia menggeser layar yang berwarna hijau dan mendekatkan handphonenya kearah telinga.
"Ada apa Kris?" dia merebahkan tubuhnya saat dirasa pusing dikepalanya.
"Aku dan yang lain akan berkunjung. Ada yang ingin kau titipkan?" Suho tampak berfikir. Dan senyum lembut hadir dibibirnya.
"Ada beberapa yang ingin ku beli. Aku akan mengirimnya lewat pesan nanti."
"Baiklahh. Cepat kau kirim pesan itu. jangan bermesraan dengan doktermu itu," Suho terlalu malas membalas ucapan temannya itu. Dia mematikan sambungan telpon dan langsung mengirimkan pesan ketemannya itu. dia tersenyum kecil kemudian memejamkan matanya saat rasa pusing yang sangat kembali menyerang kepalanya.
.
.
Lay berlari panik saat mendengar kabar kalau Suho kembali mendapat serangan. Dia tidak mendengarkan seruan protes dari orang yang telah ditabraknya. Yang terpenting adalah dia harus segera sampai di lantai tujuh dan langsung ke ruangan nomor 171. Perasaannya tidak enak. Dia takut terjadi apa-apa dengan pasien kesayangannya itu. Setelah sampai dia diserbu oleh tangisan eomma Suho.
"Tolong anak saya dok," wanita itu menangis dan menutup wajahnya agar menahan isaknya.
"Aku akan berusaha nyonya," Lay dengan langkah terburu memasuki ruang inap yang sudah sangat dihapalnya. Tapi-
DOR
"KEJUTAN!" Lay memekik pelan saat banyak kertas berterbangan kearahnya dan suara terompet yang mengejutkannya. Dia melihat dengan seksama siapa yang sudah berani menghalanginya untuk mengurus pasiennya itu. Tapi dia bingung saat melihat Suho malah berdiri dihadapannya dan tersenyum kearahnya. Dan Lay sangat terpesona saat Suho memakai setelan tuxedo berwarna putih dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Tak akan ketinggalan topi kupluk yang menutupi kepalanya yang sudah mulai botak.
"Apa kau terkejut dok?" Suho mendekati Lay. Dan memegang tangan dokter itu. "Maafkan aku," dia tersenyum dan mengusap lembut kepala dokternya itu.
"Ehem... setidaknya jangan melupakan kami," Suho menolehkan kepalanya dan tersenyum lebar menatap teman-temannya.
"Sorry. Tapi bisakah kalian meninggalkan kita berdua?" Suho menandang satu persatu temannya dan mereka mengangguk.
"Ya kami mengerti hyung. Semangat," Suho mengangguk senang.
"Thanks Yeol. Thanks semua. Kalian teman terbaikku."
"Ya kami tau hyung. Kau jangan berbuat macam-macam ya," Suho hanye menggelengkan kepalanya setelah kelima temannya itu sudah keluar dari ruang inapnya. Dia kembali menatap Lay yang sedaritadi hanya diam.
"Dok?" dia menatap Lay yang hanya diam. "Kau marah padaku?" Suho mendadak ciut saat Lay menatap tajam dirinya.
"Ya aku marah. Kau kenapa berbohong dengan bilang kau mengalami serangan?!" Lay sedikit berteriak. Dia tidak habis sangka kenapa pemuda dihadapannya ini bermain seperti itu. "Padahal aku sudah sangat khawatir. Aku takut terjadi apa-apa padamu," Suho tersenyum lalu memeluk tubuh dokternya.
"Maafkan aku. Aku hanya bercanda," dia mengusap air mata yang jatuh mengenai pip mulus sang dokter. Dia sangat menyesal, karena idenya dokter ini malah menangis.
"Kau jangan lakukan itu lagi," Lay menatap Suho yang menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk tubuh Suho.
"Iya aku berjanji."
Suho menuntun Lay untuk memasuki ruang inapnya lebih dalam. Lay menatap takjub ruang inap yang sudah disihir menyerupai sebuah restoran mahal. Walaupun hanya ada satu meja makan disana, tapi Lay akui. Ini romantis.
"Silahkan duduk dok," Suho menarik bangku dan mempersilahkan Lay untuk duduk disana. dan Lay hanya menurut.
"Sejak kapan kau menyiapkan semua ini?" Lay menatap Suho yang sudah duduk dihadapannya.
"Sejak kau sedang sibuk dengan operasimu," Suho menggenggam tangan Lay dan tersenyum lembut kearah dokter cantik didepannya. Lay hanya diam dan menunggu apa yang akan dilakukan Suho setelah ini. Dia merasakan lembutnya tangan Suho yang meremas lembut tangannya membuat jantungnya semakin berdetak cepat.
"Dokter..." Suho mendadak gugup. "Aku... aku menyukaimu. Aku tau, aku tidak pantas untukmu. Tapi... aku sangat nyaman bersamamu. Kau yang selalu menyemangatiku. Maaf aku sudah lancang menyukaimu," Lay tersenyum melihat Suho yang menundukkan kepalanya. Dia menggenggam tangan Suho malu-malu.
"Kau tidak perlu minta maaf Suho-ya. Kau tidak salah," Lay masih asik menundukkan kepalanya. "Dan... aku juga menyukaimu."
Hening.
"Apa kau serius?" Suho menunjukkan senyumnya dan dibalas anggukan oleh dokter cantiknya. Suho bangkit dari duduknya dan berlutut didepan Lay. Dia mengambil sebuah kotak dari saku jasnya dan menunjukkannya didekat Lay.
"Dokter, maukah kau menjadi kekasihku?" dia mengambil sebuah cincin perak dari kotak yang diambilnya lalu memegang lembut telapak tangan Lay.
"Tentu aku mau," Lay tersenyum bahagia saat Suho melingkarkan cincin perak itu dijari manisnya.
"Aku mencintaimu," Suho memeluk tubuh wanitanya dan mencium kening dokternya sayang.
"Aku juga mencintaimu," Lay memejamkan matanya dan balas memeluk tubuh rapuh Suho.
"Aku janji akan sembuh. Lalu aku akan menikahimu. Aku janji dok," Lay menangis terharu apa yang didengarnya. Dia hanya mengangguk dan memejamkan matanya saat Suho melumat bibirnya pelan.
'Aku pegang janjimu Suho."
.
.
Tanpa memikirkan penampilannya yang sangat acak-acakan. Lay berlari tanpa tentu saat dia mendapatkan telpon dari rumah sakit yang mengganggu mimpi indahnya. Dia terenggah saat sampai didepan pintu berwarna putih dengan tulisan 171 dan mendekati seorang wanita yang sangat dikenalnya.
"Nyonya Kim? Apa yang terjadi dengan Suho?" Lay memegang pundak perempuan itu dan sedikit mengguncangnya. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya dan menangis semakin keras. Lay menolehkan kepalanya saat pintu berwarna putih itu terbuka dan retina matanya melihat ranjang yang didorong oleh suster menunjukkan kain putih yang menutupi tubuh seseorang. Dia menatap kosong kearah gundukan itu.
"Dokter Zhang?" dia menoleh dan mendapati seorang lelaki berambut pirang. "Ini pesan terakhir untukmu," dia menatap surat itu. "Dari Suho," dia mengambil surat itu dan langsung membukanya.
'Selamat pagi dokter Zhang. Oh atau aku boleh memanggilmu dengan sebutan dokter Kim?
Kau tau? Malam ini adalah malam yang tidak akan aku lupakan. Ini adalah malah terindah dalam 21 tahun aku hidup. Aku tidak akan melupakan wajah meronamu dan tidak akan melupakan segalanya yang ada padamu. Semuanya. Tapi setelah kau pulang, entah apa yang aku pikirkan sampai aku menuliskan surat ini ditengah rasa sakitku. Aku tau, mungkin batasku sampai disini.
Aku minta maaf kepadamu. Aku meninggalkanmu. Aku tidak sembuh. Kita tidak menikah. aku tidak menepati janjiku. Apa kau setelah ini akan marah? Apa kau setelah ini akan mencubitku seperti biasa karena aku berbohong kepadamu?
Terima kasih dokter. Kau telah memberikan semuanya kepadaku. Kau yang mengisi hari-hariku. kau yang selalu menemaniku dan memberiku semangat. Kau telah membuatku jatuh cinta untuk yang pertama kali. Terima kasih.
Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Kumohon jangan lupakan aku. Bolehkah aku selalu berada dihatimu? Karena aku takut... sangat takut kau akan melupakanku. Aku mencintaimu dok. Sangat.
Your Love,
Kim Suho
Lay menjatuhkan kertas yang sudah berlumur darah. Dia menatap kosong dinding didepannya yang seketika menjadi warna hitam.
.
.
Lay hanya diam saat mengdengar suara pintu yang dibuka. Dia dapat mendengar. Tapi dia malas menoleh. Dia juga dapat merasakan kalau ranjangnya diduduki oleh seseorang. Tapi sekali lagi. Dia malas untuk menoleh.
"Lay?" dia hanya diam. "Kumohon. Bicaralah. Kembalilah seperti dulu," dia masih diam. Melirikpun tidak. "Aku yakin, kalau Suho melihatmu dia akan sangat sedih," seketika dia menoleh dan menatap kosong kearah Luhan.
"Kumohon. Ini sudah setahun. Dan kau..."
"Diam. Kau keluarlah."
"Tapi Lay..."
"Kubilang keluar," Lay menunjuk kearah pintu tanpa melihatnya.
"Baiklah. Setidaknya aku senang, kau sudah mau bicara," dan Lay dapat mendengar suara pintu yang tertutup.
Dia kembali tidur dan menatap secarik kertas yang ternoda. Dipeluknya kertas itu dan dia kembali terisak.
"Aku merindukanmu Suho. Aku mencintaimu," tanpa disadarinya Luhan menangis didepan kamarnya.
END
Yosh! Ini dia Chapter buat Sulaynya. Ayo siapa SuLay Shipper! Disini gak ada NC? Memang. Aku sengaja, karena kemarin sudah ada Ncnya. Dan sekarang tidak ada hoho. Lagipula Suho kan lagi sakit. Kasian kalo dia nanti kecapekan. Gimana noh? Berasa ga angstnya? Atau malah jadi garing? Maaf ya kalo jelek banget wkwk. Dan dari chapter HunHan sampe Chapter SuLay, cerita yang mana yang paling kalian suka dan berasa banget angstnya? Dan siapa uke yang paling sengsara menurut kalian? Kalo menurutku sih ya si Luhan. Dan satu lagi. FF ini semua OneShoot ya, jadi gada lanjutannya dan juga setiap Chapter ga berhubungan.
Dan maaf kalo emang septi lama updatenya. Maklum lagi mau UN. Dan ini aja ditengah kesibukan US bikinnya. Ini semua untuk kalian semua. Muah wkwk.
Okelah segitu aja. Bersediakah kalian Review? Buat bocoran. Chapter depan adalah Chapternya KrisTao hoho. Jadi yang mau cepet dipost review yang banyak yak. Thankseu~
