Just You

Exo official pairing

ChenMin (GS for Xiumin)

Oneshoot/angst/romance

DLDR

Happy Reading

.

Dengan langkah riang, Xiumin menenteng bekal ditangannya lalu memasuki kantin. Dengan sedikit berjinjit dia mengedarkan pandangannya kearah seluruh kantin mencari kekasihnya. Senyum terlukis dibibirnya saat matanya menangkap sosok yang sedang meminum kopi dipojok kantin. Kaki pendeknya melangkah mendekati orang itu lalu duduk didepannya.

"Hei Chennie~" dia tersenyum manis kepada lelaki didepannya.

"Hai sayang," Chen balas tersenyum lalu mengelus pelan surai panjang Xiumin.

"Ayo kita makan Chennie," Chen hanya mengangguk lalu menatap Xiumin yang sedang membuka bekalnya. "Buka mulutmu Chen," Xiumin mengarahkan sumpitnya kearah Chen lalu disambut dengan mulut terbuka Chen. "Enak?" Chen mengagguk lalu menelan cepat makanan didalam mulutnya.

"Masakanmu paling enak sayang," Chen kembali mengelus rambut Xiumin. Membuat wanita itu merasa sangat disayang.

"Gomawo," dengan lucu Xiumin memainkan jarinya.

"Haha jangan sungkan kepadaku baby. Ayo lanjut makannya," Xiumin hanya mengangguk. Sumpitnya kini sudah berpindah tangan kearah Chen yang kini sedang menyuapinya.

.

"Bagaimana?" Chen menatap teman-temannya mengalihkan pandangannya dari I-Phonenya.

"Apanya?" dengan wajah bingungnya dia menyahuti pertanyaan Kai.

"Taruhannya bodoh. Kau sudah membuat wanita itu sangat mencintai?" Chen menyeringai dan kembali sibuk dengan I-Phonenya.

"Tentu. Dan kalian tinggal siapkan saja uangnya," dia terkekeh saat mengdengar dengusah dari ketiga temannya.

"Kapan kau memutuskannya?" Chen berfikir saat suara bass Chanyeol bertanya.

"Hm... besok."

BRAK

"Kau tidak perlu memutuskanku. Kita putus sekarang!" pintu gudang tidak bersalah itu terbanting cukup keras. Membuat debu disekitarnya menjadi menyebar.

Chen menatap tidak percaya pintu yang baru saja tertutup keras. "Xiumin!" dia berniat mengejar wanita itu. Tapi langkahnya berhenti saat dia menyadari ada ketiga temannya disana. Dia kembali duduk ditempatnya.

"Kau menyukainya?" Chen terkekeh dan menatap remeh ketiga temannya disana.

"Tentu tidak," Chen kembali duduk bersandar dan memainkan I-Phonenya. Mengalihkan jantungnya yang berdetak tidak karuan.

.

Dua bulan sudah berlalu, ujian tengah semester semakin dekat. Tapi tidak ada satupun pelajaran yang masuk otak Chen. Dia merasa kalau... hidupnya tidak berwarna semenjak kejadian digudang dua bulan lalu. Walaupun dirinya dan Xiumin belum memiliki waktu yang lama, tapi wanita itu selalu datang kepadanya, selalu menyemangatinya. Dan dia merindukan itu semua.

Tapi dia malu. Malu oleh teman-temannya. Malu kepada Xiumin. Dan malu kepada dirinya sendiri. Dia yang sudah memainkan perasaan Xiumin, menjadikan wanita itu taruhannya, tapi dia sendiri yang termakan mainannya sendiri.

"Hey Chen? Kau tidak bersemangat sekali," dia menolehkan kepalanya menatap Sehun lalu menepis pelan tangan Sehun dipundaknya.

"Aku hanya tidak enak badan," dia berdiri lalu memandang teman-temannya. "Aku ke UKS dulu," tanpa mendengar jawaban teman-temannya, dia melangkah keluar gudang yang menjadi tempat kumpul mereka.

"Dia menjadi aneh."

.

Seharusnya jalan menuju UKS itu lurus, tapi Chen berbelok kearah kanan. Dia berjalan pelan memasuki kantin. Setelah menemukan tempat yang dirasanya pas, dia mendudukan dirinya didekat pintu, kemudian matanya terus mengawasi beberapa wanita yang berkumpul yang berada sedikit jauh dari tempatnya.

Dia tersenyum kecil saat seorang perempuan yang dipandanginya sedang tertawa dengan teman-temannya.

"Syukurlah kalau kau baik-baik saja Min," gumamnya. 'Aku sangat merindukanmu.'

Dia tau, bahwa kegiatan rutinnya ini sangat membuang-buang waktu. Dia tidak makan saat istirahat, saat pelajaran hanya memperhatikan gadis yang duduk dibangku paling depan, pulang sekolah harus mengikuti Xiumin, memastikan bahwa perempuan itu sampai dengan selamat dirumah. Tapi... dia akan senang walau hanya bisa melihat perempuan itu dari jauh.

"Aku... maafkan aku Min," bisiknya saat xiumin melewati meja yang ditempatinya.

.

"Min?" Luhan menatap sahabatnya yang hanya diam setelah mereka keluar dari kantin.

"Ya Luhan, aku mendengarnya. Tidak perlu dibahas," Xiumin tersenyum dan menepuk pundak Luhan. "Tidak perlu mengkhawatirkan aku."

"Baiklah-baiklah," Luhan menggandeng tangan Xiumin memasuki ruang kelasnya. "Jadi Min, kau benar-benar tidak mau ikut jalan-jalan?"

"Tidak Lu, aku sedang tidak enak badan."

Luhan menghela nafasnya kemudian mengelus kepala Xiumin yang sedang tertidur diatas meja.

"Semoga kau berubah pikiran Min."

"Tidak akan Lu," keduanya terdiam saat bel masuk berbunyi dan ketika Chen melewati meja mereka.

Xiumin menenggelamkan wajahnya dilipatan tangannya. "Chen..." desisnya.

.

"Kau langsung pulang? Tumben," Kai merangkul pundak Chen, menahan lelaki itu agar lebih lama.

"Sudah kubilang, aku sedang tidak enak badan."

"Kau ini sebenarnya kenapa?"

"Tidak, aku pulang dulu."

Setelah mengangkat tangannya keudara, Chen melangkahkan kakinya kearah gerbang sekolah dengan tergesa-gesa saat matanya melihat Xiumin yang sudah keluar terlebih dahulu. Setelah berjarak sekitar lima meter, dia mulai menstabilkan langkahnya. Matanya tidak pernah lepas dari gerakan yang dibuat Xiumin.

Langkahnya berhenti saat Xiumin membalikkan badannya secara tiba-tiba. Tubuhnya membeku saat matanya bertemu dengan mata Xiumin. Dan tanpa disadarinya, Xiumin sudah berada tepat didepannya.

"Berhenti, berhenti mengikutiku."

Xiumin menatap menusuk. Chen tersenyum.

"Tidak, aku tidak akan berhenti."

Keduanya terdiam, tidak mempedulikan orang-orang yang berlalu-lalang disekitar mereka.

"Kenapa? Bukankah aku hanya taruhanmu?"

"Ya tadinya. Tapi..."

"Tapi apa? Kau menyesal? Berharap aku kembali kepadamu? Tidak akan!" Xiumin membalikkan badannya kemudian berjalan cepat meninggalkan Chen. Tapi langkahnya kalah cepat dibandingkan tangan Chen yang menarik dirinya.

"Aku memang menyesal! Aku memang mengharapkan itu! KARENA AKU MENCINTAIMU KIM MINSEOK!"

Xiumin menatap lama mata lelaki didepannya, mencari kebohongan disana. tapi mata itu berkata jujur, menatapnya penuh harap dan penuh dengan penyesalan. Mata itu seakan memuja dirinya, menyayanginya, mencintainya sepenuh hati. Tapi...

"Aku sudah tidak percaya padamu lagi. Kumohon, lepaskan aku," dia menatap kembali mata itu, yang sekarang menyiratkan kesakitan.

Dan saat tubuh keduanya tidak menempel lagi, saat Chen melepaskan pelukkan dipinggangnya, entah karena apa dirinya merasa kosong.

"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu," Xiumin menahan wajah tanpa ekspresinya. "Tapi... aku akan tetap mencintaimu."

Xiumin membalikkan badannya cepat saat setetes air mata jatuh kepipinya. "Terima kasih," dan setelah itu dia berjalan cepat.

Dengan kelopak mata yang berkaca-kaca, dia melirik tanda penyebrang yang menunjukkan lanpu hijau, dengan sedikit berlari dia menyebrang tanpa memperhatikan mobil yang berlaju kencang kearahnya.

BRAK

"Aw!" Xiumin mengelus sikutnya yang tergesek dengan aspal. Dia menatap orang-orang yang berlarian kearahnya.

"Nona? Anda tidak apa?" Xiumin hanya mengangguk. "Beruntung anda hanya lecet, tapi sepertinya kekasih anda cukup parah," dengan cepat dia menoleh dan seketika matanya membola saat melihat tubuh tidak berdaya yang berada satu meter darinya.

"Oh Tuhan! Chen!" dengan merangkak, dia mendekati Chen tanpa mempedulikan lututnya yang bergesekkan dengan aspal. Dia mengangkat pelan kepala Chen kemudian menaruh dipahanya.

"Chen! Bertahanlah! Cepat telepon ambulance, kumohon!" masih dengan wajah yang berurai air mata, dia memohon kepada paman yang berada disampingnya.

"Tenang nona, sudah kami telepon."

"Tenang apanya?! Ya Tuhan Chen, sadarlah!" dia menepuk cukup kencang pipi lelaki dipangkuannya. "Kumohon hiks.."

"Uhuk!"

"Chen!" tangannya mengelus rambut Chen, menatap wajah lelaki didepannya. "Kumohon bertahanlah Chen hiks..."

"Sstt jangan menangis," Chen mengangkat tangannya lemah dan mengusap air mata dipipi Xiumin. "Aku tidak akan bisa bertahan."

"Kau ini bilang apa? Kau harus bisa bertahan!"

"Coba lihat kakiku, sudah 'tipis' seperti itu," Chen terkekeh pelan. "Lagipula, untuk apa aku hidup tanpamu."

"Tidak Chen! Aku... aku mencintaimu! Jadi bertahanlah!" Xiumin memeluk lelaki dipangkuannya dan menangis sejadinya disana.

"Aku juga mencintaimu Min," Chen tersenyum senang lalu mengelus pipi Xiumin dan mencium bibirnya sekilas sebelum dirinya diangkat memasuki ambulance.

.

"Hai Chen aku datang!" senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya sampai dirinya sudah mendudukan bokongnya. "Hai ini adalah hari kelulusan. Nanti malam ada party disekolah. Seandainya kau bisa ikut," dia menundukkan kepala sedih.

"Bangunlah, aku merindukan suaramu, tawamu, semua yang ada didirimu," tangannya mengelus kaca didepannya. "Aku ingin sekali menyentuhmu."

"Cepatlah bangun Chen... sebelum orangtua mu menyerah. Aku tidak ingin itu terjadi," bibirnya melukiskan senyum sedih. "Aku akan menerimamu apa adanya Chen, aku... aku sangat bersalah kepadamu, aku... aku mencintaimu hiks... jadi bangunlah, aku mohon Chen, bangunlah."

Xiumin menundukkan kepalanya sambil menepuk dadanya menghilangkan sesak didadanya. Tanpa menyadari garis panjang yang tertampang dilayar.

.

.

.

Yuhu~ ini versi ChenMinnya. Gimana? Ga ngena ya? Kurang greget? Hoho maaf ya buat kelambatan aku ngeupdate ini, tapi semoga bisa bikin kalian nangis(?). Jadi... Chapter depan versi ChanBaek dan jadi Chapter terakhir!

Review please~