DIARY OF ONYX AND EMERALD

Summary : Sakura yang ngidam, Sasuke hampir pingsan/ Bagaimana kisah Sasuke Uchiha, seorang dosen yang killer dalam menghadapi Sakura, mahasiswi sekaligus istrinya yang lagi ngidam/Sekuel of Ujian & Anniversary/one chapter one story/Chap 2. Ngidam/

.

.

Special Thanks to :

mantika mochi, Kumada Chiyu, Hijau, Kagura, suket alang alang, haruchan, azriel kanhaya, Cherry philein, Kazama Sakura, Ayu 07, NdaYamada, Shinma hanasaki, Nafidah, Jeremy Liaz Toner, Animea-Khunee-Chan, GaemSJ, Mikaela Williams, , undhott, iya baka-san, Rii ashari, hevy lovato, Pinky Haruno, Queenshila, Uchiha nura, Zul, , Guests.

.

Chapter 2 : Ngidam

Disclaimer : Naruto Milik Masashi Kishimoto.

Rate : T

Pair : SasuSaku

Genre : Family/romance

Warning : AU, OOC, garing, dan lain sebagainya.

.

.

Gelap.

Sepi.

Pengap.

Hal itulah yang pertama kali tertangkap oleh inderanya. Sasuke berjalan perlahan sembari meraba-raba tempat apakah ini. Seberkas cahaya, makin lama makin terang, tampak terlihat di ujung sana. Ia berlari menggapai cahaya itu dan tubuhnya tiba-tiba tersedot ke dalam dimensi lain. Sasuke mengusap matanya yang pedih, mencoba meneliti setiap sudut ruangan yang kontras dengan tempat tak bercahaya tadi. Tak lama ia terkejut demi melihat sosok yang tak lain adalah dirinya sendiri sedang mendekap seorang wanita, sementara di hadapannya, wanita bersurai merah muda menangis sambil mengarahkan senjata api ke bayangan dirinya yang lain.

"Aku akan bunuh diri jika kau tetap bersama dengan selingkuhanmu itu, Sasuke!" Wanita itu mengancam sambil berlinangan air mata. Diacungkannya revolver itu.

Diri Sasuke yang lain makin mengeratkan pelukannya pada sosok yang sedari tadi didekapnya. "Maafkan aku, Sakura. Aku tak bisa meninggalkannya. Karena aku sangat mencintai—Oro-ku."

Sosok itu berbalik menampakkan wajah ular Orochimaru yang tersenyum manja pada Sasuke. Mereka pun saling mendekatkan wajah dan—

'DORRR'

Sasuke terlonjak dari kasurnya sambil memegang dadanya yang berdebar kencang. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.

"Sialan! Kenapa mimpiku laknat sekali," maki Sasuke dengan nafas tersengal-sengal sembari memijat pelan kepalanya. Sepertinya ia harus mandi pasir plus kembang tujuh rupa. Ia merasa dirinya berlumur dosa setelah memimpikan hal terkutuk tadi.

Tangannya terjulur mengambil segelas air putih di atas meja untuk menenangkan dirinya. Sasuke melirik Sakura yang sedang terlelap di sampingnya.

Kosong.

Kemana istri merah mudanya?

'CKLEK.'

Umur panjang. Kepala pink Sakura muncul dari balik pintu. Wajahnya ditekuk.

"Ada apa?"

"Aku ingin makan sesuatu," sahut Sakura lirih.

Sasuke mengacak rambut istrinya yang sedang cemberut. "Kumasakkan bubur?"

Wanita itu menggeleng.

"Sup tomat?" tawarnya lagi.

Tetap saja menggeleng.

"Jadi mau makan apa?"

Sakura memandang suaminya dengan tampang bak orang tak makan tujuh hari. "Nasi jollof."

"Apa? Nasi jenglot?" Jidat Sasuke praktis berkerut-kerut. Apakah itu sejenis nasi yang dimasak oleh sesosok jenglot? Pikirnya tak mengerti.

Sakura mendelik. "Nasi jooolllloooffff. Itu makanan paling enak dari Afrika, Sasuke-kun," tukasnya sebal.

Pria bungsu Uchiha itu menaikkan alisnya. "Makanan Afrika? Dimana dicari? Ini tengah malam, Sakura. Besok saja ya. Akan kumasakkan bubur."

Namun istrinya malah mengerucutkan bibir. Merajuk. Ia mengelus-ngelus perutnya sendiri. Sasuke memperhatikannya dengan heran namun sedetik kemudian ia mulai paham.

"Kau ngidam?"

"Sepertinya. Aku sangat ingin makanan itu sekarang, Sasuke-kun," pinta Sakura memelas. Mata hijaunya membulat menatap suaminya.

Sasuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bisakah kau mengidam hal yang lebih mudah? Ngidam air putih misalnya?"

Kontan Sakura memukul suaminya dengan bantal. "Kau tidak sayang padaku!" jeritnya makin keras. Sasuke gelagapan mendiamkan istrinya. Gawat jika didengar tetangga. Dipikirnya ia melakukan KDRT lagi.

"Oke... Oke... Akan kucari. Aku pergi."

Sasuke bergegas mengambil ponselnya lalu keluar untuk mencari masakan afrika untuk istrinya yang sedang mengidam. Bungsu Uchiha itu menjalankan mobil menyusuri jalan meneliti setiap sudut kota.

Tetapi disinilah Sasuke sekarang. Berdiri di pinggir trotoar pukul satu malam dengan masih memakai piyama bermotif kelinci kebingungan bagai anak ayam kehilangan induknya. Ia menggigit bibirnya gusar. Sudah hampir satu jam ia berkeliling namun tak ada hasil. Kalau begini bisa sampai pagi ia terlunta-lunta di jalan. Harus minta bantuan.

OoO


'TING TONG'

Kakashi berjalan gontai ke arah depan. Orang bodoh mana yang berani bertamu ke apartemennya tengah malam begini. Dengan sedikit kesal ia membuka pintu dan terkejut saat melihat orang bodoh yang berani mengganggu tidurnya.

"Sasuke? Ada perlu apa?"

Sasuke langsung masuk ke ruang tamu Kakashi alih-alih menjawab. Ia menyandarkan punggungnya yang kelelahan. "Aku butuh bantuan."

Pria berambut perak itu manggut-manggut dengan wajah mengantuk setelah mendengar penjelasan dari Sasuke. "Kalau begitu buat sendiri saja." Kakashi mencoba memberi usul agar mantan muridnya ini cepat pulang. Pengusiran terselubung.

Sasuke membuang nafas bosan. "Bagaimana caranya? Dari namanya saja sepertinya makanan itu terbuat dari bahan yang hanya muncul seratus tahun sekali," keluhnya. Jujur ia sudah sangat mengantuk. Capek level dewa. Mana esok pagi harus memberikan kuliah. Terkutuklah engkau wahai nasi jenglot.

"Liat saja di internet, Bodoh. Kalau bahannya susah kan tinggal dimodifikasi."

Sasuke sweatdrop. Memangnya mobil apa dimodifikasi. Ia makin gusar.

Melihat rekan sesama dosennya ini kebingungan, akhirnya Kakashi pun merasa iba. Ia menyalakan laptopnya lalu mulai membrowsing tentang masakan khas Afrika tersebut. Setelah dapat, ia menyodorkannya ke hadapan Sasuke.

"Hidangan nasi jollof diracik dengan beras, tomat, pasta tomat, bawang bombay, garam, pala, jahe, cabai, sayuran, dan daging sesuai selera. Sigh. Kalau ini sih buat di rumah juga bisa," ujar Sasuke sebal. Dalam pikirannya semua masakan Afrika itu adalah masakan eksotis yang terbuat dari daging singa atau bunga anggrek hitam yang tumbuh di pinggir jurang. Efek terlalu banyak nonton sinetron.

"Aku buat di sini ya?"

Kakashi cuma bisa manggut-manggut. Tak ada pilihan lain.

OoO


Seporsi nasi jollof kini berada manis di tangan Uchiha. Sebenarnya ia telah membuat dua porsi nasi jollof untuk Sakura dan dirinya –karena terkena angin malam dapat membuatnya keroncongan-. Namun Kakashi yang pelit telah menyita satu porsi nasi tersebut sebagai ganti rugi karena telah mengganggu istirahatnya yang berharga.

Sasuke membuka pintu kamar dengan perlahan dan melihat istrinya yang sedang ngidam bersandar di tempat tidur seraya membaca novel Inferno yang kemarin dipinjamnya dari perpustakaan. Sakura tersenyum menyambut suaminya yang baru pulang dari perjuangannya mencari sesuap nasi jollof.

"Kenapa lama sekali, Sasuke-kun?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa seolah permintaannya pada suaminya tadi adalah suatu hal yang sepele.

"Kecuali kalau permintaanmu bukan makanan Afrika baru kau boleh bertanya begitu." Dengan setengah dongkol Sasuke menyerahkan sepiring nasi ke hadapan Sakura. Wanita itu mengamati makanan yang telah berada di tangannya, mengendus-ngendusnya sedikit, tersenyum manis, lalu menyerahkan kembali makanan tersebut pada suaminya.

"Nih."

Sasuke menautkan alisnya. "Apanya?"

"Aku sudah puas, tidak menginginkannya lagi. Aku ngantuk sekali Sasuke-kun. Capek menunggumu. Kau lama sekali sih. Aku tidur duluan ya." Sakura berbaring dan mematikan lampu kecil di sampingnya.

Hidung Sasuke kembang kempis.

Sabar...

OoO


"Semester depan kau sudah harus mengerjakan tugas akhir, Sakura. Kau sudah mengisi data tentang dosen pembimbingmu nanti? Siapa yang kau tulis?" tanya Sasuke ketika ia dan Sakura sedang menikmati makan siang di rumah makan yang terletak di sudut jalan tak jauh dari kampus.

Sakura membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map biru lalu menyodorkannya pada suaminya. Pria itu membaca kalimata demi kalimat yang tertera dan itu kontan membuatnya mengernyitkan dahi.

'PEMBIMBING I : MINATO NAMIKAZE'

'PEMBIMBING II : TOBIRAMA SENJU'

"Kenapa bukan namaku yang kau tulis? Memangnya mereka sudah setuju sebagai pembimbingmu nanti?" tanyanya tak terima bahwa fakta istrinya lebih memilih dosen lain sebagai pembimbing. Mana dosennya ganteng pula. Tobirama-sensei dengan rambut perak, mata yang tajam, serta paras yang menarik pernah di dapuk sebagai Lecturer of the year lima tahun yang lalu. Sementara Minato-sensei tidak perlu dijelaskan lagi. Ia adalah salah satu dosen saingan terberat Sasuke dari segi ketampanan.

"Aku tidak mau memilih dosen killer sebagai pembimbingku walaupun itu adalah suamiku sendiri. Lagipula sepertinya aku ngidam Minato-sensei dan Tobirama-sensei sebagai pembimbingku. Hihihi." Sakura ngikik sendiri.

Sasuke memutar bola matanya. Istrinya ini memang ngidam atau sengaja cari kesempatan. Kalau Sakura setiap hamil akan mengidam aneh seperti ini, mungkin ia akan berpikir dua kali jika ingin punya anak lagi. Makan hati.

"Engg... Lagipula Sasuke-kun..." Sakura tampak agak ragu melanjutkan kalimatnya.

"Ada apa lagi?" Sasuke langsung siaga satu. Was-was jika wanita kepala merah muda ini mulai meminta hal yang akan membuatnya semaput lagi.

"Jangan marah ya. Sepertinya calon anak kita sedang tidak ingin dekat-dekat denganmu. Entah kenapa setiap melihatmu aku jadi kesal," jelas Sakura tidak enak. Ia menggigit bibirnya sendiri, menunggu jawaban apa kiranya yang akan keluar dari mulut suaminya ini.

Sasuke menatap wanita di depannya dengan ekspresi datar. "Ngidam macam apa itu?"

Sakura menggeleng-gelengkan kepala merasa terintimidasi dengan tatapan suaminya. "Aku tidak mengada-ngada, Sasuke-kun. Kata Ino, bibinya juga merasakan hal yang sama. Kau tidak mau kan aku menahan kesal. Kalau aku keguguran bagaimana?" jelasnya sambil memainkan jari-jari lentiknya.

Ekspresi Sasuke masih datar. Jika dalam dunia anime mungkin kini matanya sudah berubah menjadi sharingan saking gondoknya. Sekilas ia melirik perut istrinya, tempat dimana calon anaknya berada. Baru dalam kandungan saja, sudah durhaka pada ayah sendiri. Bagaimana nanti jika telah lahir. Mungkin Sasuke akan menjadi perkedel tampan.

"Jadi kau mau aku bagaimana?" tanyanya malas.

Sakura tersenyum hambar. "Untuk beberapa hari ini kau tidur di tempat lain dulu ya, Sasuke-kun. Di apartemen Kakashi-sensei saja. Tapi jangan di penginapan atau hotel. Nanti orang akan salah sangka denganmu," jelasnya lagi dengan mimik muka yang sengaja dibuat se-unyu mungkin.

Sasuke merasa otaknya mulai sembelit. Ia mencoba untuk tersenyum meskipun kenyataannya ia sudah ingin lari ke tengah lapangan sambil menggaruk-garuk tanah. Dan Sakura langsung pasang kuda-kuda. Siap-siap lari jika suami juteknya ini emosi dan ngamuk di restoran.

Pria itu menarik nafas sejenak. "Baiklah." Akhirnya ia mengalah juga walaupun hati kecilnya meronta-ronta.

Sakura menggenggam tangan suaminya lalu berkata. "Terima kasih sudah mengerti aku, Sasuke-kun. Kau suami terbaik yang pernah ada. Kau seperti malaikat."

Sasuke mendengus kesal. Gombal. Semanis apapun dipuji tetap saja dirinya akan tidur di luar.

Sekali lagi sabar Uchiha...

OoO


Setelah mengantar Sakura pulang ke rumahnya, Sasuke segera meluncur ke apartemen Kakashi. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Entah dirinya sedang sial atau sedang diuji Tuhan, saat ia berada di depan pintu apartemen ia baru sadar bahwa Kakashi saat ini sedang mengikuti seminar di luar kota.

Asem.

Sasuke mulai menimbang-nimbang dimanakah kira-kira tempat yang aman sejahtera untuknya menginap.

Di rumah Tobirama-sensei? No way. Anjingnya galak.

Di rumah Asuma-sensei? Malas. Bisa mati sesak kena asap rokok.

Di rumah Suigetsu? Ogah. Giginya tajam. Ia benci orang yang giginya tajam.

Di rumah Kabuto? Tidak, terima kasih. Dia imbisil.

Di rumah Orochimaru? Lebih baik bunuh diri.

Di rumah Minato-sensei? Boleh juga.

OoO


Minato hanya tertawa pelan setelah mendengar maksud dan tujuan Sasuke bertandang ke rumahnya. "Aku mengerti perasaanmu, Sasuke. Aku pernah merasakan hal yang sama," katanya lagi. Mantan rektor termuda se-Konoha itu tersenyum agak geli. Tak disangka Uchiha yang terkenal dingin kayak kulkas ini punya problematika hidup yang sama dengan manusia normal lainnya. Ternyata selama ini Minato menganggap Sasuke manusia abnormal.

Sasuke membalas senyum Minato dengan canggung. Agak malu juga rasanya menceritakan masalah tidak jelas yang sedang dialaminya. Namun ia tak khawatir sedikitpun. Minato bukan tukang gosip seperti Kakashi.

"Tapi aku minta maaf ya, Sasuke. Kamar tamu sedang direnovasi. Kau tidak keberatan tidur di kamar anakku kan?"

Sasuke menggeleng. Asal bisa istirahat nyenyak malam ini tentu saja ia tidak keberatan.

Tapi tunggu dulu. Anaknya? Perasaan Sasuke mulai tidak enak.

"Halo Sensei. Aku senang kau menginap di rumahku." Sebuah suara bernada ceria langsung menyeruak ke telinganya. Sesosok pemuda pirang bermata biru cerah sedang tersenyum lebar ke arahnya.

'Cabut nyawaku Tuhan.'

OoO


"Mau kutambah kuenya lagi, Sensei?"

"Tidak. Terima kasih." Sasuke menggeleng kaku. Kini ia sedang berada di kamar pribadi milik putera Namikaze. Siapa lagi kalau bukan Naruto. Pria Uchiha itu meneliti sekelilingnya. Kamar bernuansa biru muda ini sebenarnya tertata rapi dan nyaman jika saja foto-foto Naruto dalam berbagai pose tidak tersebar ke seluruh dinding. Tingkat kenarsisan Naruto sudah tidak tertolong lagi rupanya.

Sasuke membuang nafas. Menyesali keputusannya untuk datang ke rumah ini. Mengapa bisa ia melupakan fakta penting bahwa Naruto adalah anak Minato. Hancur sudah martabatnya. Si kepala duren ini pasti akan dengan senang hati menyebarkan ke seluruh universitas tentang hal ini.

"Jangan khawatir. Aku tidak akan menyebarkan hal ini," ujar Naruto seolah paham jalan pikiran Sasuke.

Sasuke berdehem. Jaga image. "Siapa juga yang khawatir?"

"Kau tidak perlu jaga image padaku, Sensei. Santai saja." Naruto cengar-cengir membuat Sasuke menatapnya dengan bringas. Bocah ini turunan dukun pasti. Bisa membaca pikiran orang. Jika setelah pulang dari sini Sasuke muntah paku, sudah bisa dipastikan siapa yang telah menyantetnya.

Naruto tertawa lagi. Namun hambar. Sesungguhnya ia bingung ingin bicara apa lagi. Dosennya ini memang tampak kurang bersahabat sedari dulu kala. Ia takut jika salah bicara, Sasuke akan memberinya nilai E. Sasuke kan tukang ancam. Tetapi Naruto paling benci suasana yang terlalu sepi seperti ini.

Mau tanya tentang kunci jawaban ujian nanti, mustahil. Itu namanya cari mati.

Terus mau tanya apa? Naruto garuk-garuk kepala seperti orang ketombean akut. Sasuke melihatnya dengan curiga. Pria Uchiha itu memang phobia ketombe. "Ada apa denganmu?"

"Tidak kenapa-kenapa. Sensei apa kabar?" tanya Naruto mencoba mencairkan suasana.

"Naruto, kita baru bertemu beberapa jam lalu di kampus. Perlukah kau menanyakan itu?"

Naruto tertawa garing. "Oh, iya. Lupa. Hehehe. Kalau Nyonya Uchiha apa kabar?"

"Untuk apa tanya-tanya ibuku?" Sasuke malah balik bertanya dengan jutek. Sensi seperti ibu-ibu yang lagi demo menentang kenaikan harga cabe.

Lubang hidung Naruto membesar. Untuk apa juga ia menanyakan ibu Sasuke. Bertemu saja belum pernah. Namun jika Tuhan mempertemukan mereka, hal pertama yang akan dikatakan Naruto adalah 'Maaf Nyonya Uchiha. Tolong anak anda dibakar sedikit. Dia terlalu dingin.'

"Maksudku kabar Sakura-chan, sensei." Putera Namikaze itu menjelaskan.

"Baik," jawab Sasuke singkat seraya menyeruput teh hitamnya yang mulai dingin.

Naruto tersenyum tipis dan matanya menerawang tampak membayangkan sesuau. "Aku jadi ingat saat di sekolah dulu, aku dan Sakura-chan sering perg—" Kata-kata Naruto terhenti saat melihat Sasuke yang sedang meliriknya dengan sangar. Naruto mengkeret.

"Itu kan cuma masa lalu, Sensei. Lagipula Sakura-chan dan aku sudah bersahabat sejak dulu," kilahnya memberi alasan. Dosen muda ini betul-betul tak bisa diajak bercanda.

"Masa lalu atau bukan aku tidak ingin mendengarnya."

Pemuda bermanik blue saphire itu cemberut.

"Kalau begitu apa sensei sudah makan malam?" tanya Naruto tak putus asa. Ia memang tipe pemuda hyperaktif yang tidak bisa berada dalam suasana sepi. Sangat kontras dengan Sasuke. Ia mungkin hanya bisa diam jika dimasukkan dalam karung dan dibuang ke tengah hutan.

"Sudah."

"Tadi sensei makan apa?"

Oke cukup. Di titik ini Sasuke merasa percakapan mereka sudah seperti dua orang pasangan yang sedang kencan buta. Sekali lagi Naruto bertanya, Sasuke akan menebasnya dengan rambut unggasnya.

"Bisakah kita langsung tidur Naruto?" ucap Sasuke tak sabar. Naik darah karena dalam sehari saja ketenangan hidupnya sudah sangat terusik oleh berbagai hal paling tidak penting semacam ini. Naruto memandangnya dengan tatapan tak terdefinisikan, antara geli, ngeri, campur takut mendengar perkataan pria di hadapannya.

Sesaat Sasuke sempat bingung melihat respon muridnya sebelum menyadari bahwa ucapannya tadi benar-benar sangat membahana dan mengesankan bahwa ia adalah serigala tua-tua keladi yang sedang mencari mangsa pemuda lugu nan polos seperti Naruto. Bayangkan baru setengah jam berduaan di kamar Naruto, Uchiha bungsu itu langsung memaksanya untuk tidur bersama. Sasuke sudah benar-benar akan semaput sekarang.

"Tolong jangan salah paham, Naruto. Aku benar-benar lelah sekarang. Aku ingin tidur." Sasuke berkata dengan susah payah. Kalau begini terus, bukanlah Sakura yang akan keguguran, namun dirinya yang akan gugur alias tewas di tempat.

"Tidurlah di kasur sensei. Aku akan tidur di sofa," tawar Naruto tak enak hati karena sempat berpikiran nista pada dosennya sendiri.

Sasuke menggeleng lalu merebahkan diri di atas sofa. Entah apa dosanya di masa lalu sehingga ia bisa sampai sial seperti ini. Ia memejamkan matanya sambil membaca doa sebelum tidur agar tidak mimpi buruk seperti tempo hari.

Beratnya kehidupan.

OoO


"Ngg..."

Sasuke melenguh pelan merasakan sebuah sentuhan lembut di dahinya.

"Naruto, aku tidak akan meluluskanmu kalau kau macam-macam dan mengganggu tidurku," ancamnya masih dengan keadaan setengah sadar.

"Ini aku, Sasuke-kun."

Sasuke mengucek-ngucek matanya dan terkejut melihat sesosok makhluk merah muda yang sedang balik memandangnya dengan senyum iba.

"Kenapa kau bisa sampai kemari?"

"Naruto memberitahuku. Katanya kondisimu sangat memprihatinkan." Sakura membelai rambut suaminya dengan sayang. Merasa bersalah saat melihat Sasuke yang kelelahan dan semrawut seperti habis terkena bencana alam.

Pria itu mendengus sebal. "Dasar bocah itu."

"Ayo kita pulang. Lanjutkan istirahatmu di rumah, Sasuke-kun." Sakura menggamit lengan Sasuke agar ikut dengannya.

"Bagaimana dengan ngidammu? Kau sudah tidak kesal denganku?"

Sakura tertawa lalu mengelus-ngelus perutnya. "Tidak Sasuke-kun. Lagipula sepertinya anak kita rindu padamu. Aku ingin dekat-dekat denganmu sekarang."

Sasuke menghela nafas lega. Setelah nasib sial yang terus menerus menderanya sehari penuh kemarin, tampaknya Tuhan juga sudah iba melihat kondisinya yang menyedihkan. "Ya. Cepat selamatkan aku dari tempat ini."

Ia kemudian menggandeng istrinya dan bergegas pergi meningggalkan kediaman Namikaze. Tak lupa pula mengucapkan terima kasih kepada keluarga Namikaze yang bersedia menampung pria malang ini, walaupun ia nyaris stroke karena semalaman bersama Naruto.

Sungguh ngidam yang merepotkan.

OoO


Author's note :

Hai minna. Saya kembali lagi dengan chapter terbaru. Tidak bosan-bosannya saya mengucapkan terima kasih banyak pd reviewers luar biasa yang mau meluangkan waktu untuk mereview. Meskipun sy belum sempat balas satu-satu (karena lg sibuk kerjain TA jg), saran dan kritik dr kalian selalu sy tampung, sebagai penyemangat biar tetap lanjutin chapternya #peluk kalian satu-satu :D

Bagi yang minta prekuel sebelum mereka menikah, sabar ya.

Untuk chap ini, kalau kalian merasa ceritanya tambah aneh, ya udah. Terima aja #dibakar massa. Dan untuk Sasuke, maafkan diri ini yg selalu menyiksamu. Itu cm tuntutan peran XD.

Akhir kata,

Mind to review? ^_^