"Sasuke-kun, tolong ambilkan bedak bayi."

"Iya, Sayang."

"Sasuke-kun, ambilkan pakaian Rensuke."

"Iya, Sakura."

"Sasuke-kun, tolong siapkan air hangat untuk Rensuke."

"Hn."

"Sasuke-kun, tolong ambilkan popok."

"Nih."

"POPOK! BUKAN ROKOK!"

"ARGHHHH!"


DIARY OF ONYX AND EMERALD

.

Summary : Hanya sekelumit kisah absurd tentang sang dosen killer yang sedang terkena baby blues syndrome. Chapter 4 : Baby Blues

Special Thanks to :

suket alang alang, YoktfNavy, Nafidah, Naya aditya, mantika mochi, Al khayla, Cherry philein, Ore no Hana, haruchan, GaemSJ, AngGi cherryblossom, Animea-Khunee-Chan, Noer, Dedew, ss, Mira Cahya1, Shinma hanasaki, Namuchi, Jheinchyeon, Queenshila, Airis chun, Azriel Kanhaya, Manda Vvidenarint, Kagura, Hayashi hana-chan, Daffodila, Hanazono yuri, Zul, Coretan hikari, NdaYamada, hesty47eclair, Hijau, Lhylia kiryu, Aorizuki, Shivatand, Guests

.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto.

Saya hanya meminjam karakternya saja tanpa mengambil keuntungan apapun

Chapter 4 : Baby Blues

Warning : AU, OOC, garing, dan lain sebagainya.

.

.

Langkah kaki tegas menggema di seluruh koridor membuat seluruh mahasiswa terdiam. Sasuke Uchiha, sang dosen killer yang kerap menjadi korban penindasan dari lingkungan sekitarnya ini kini tampak lebih sangar dibanding biasanya. Rambut ekor merpati miliknya yang biasanya tertata rapi sedikit terlihat berantakan dengan lengan kemeja putih yang digulung hingga mencapai siku membuat pria itu terlihat menyeramkan dan (uhuk) sexy. Para mahasiswi dengan tingkat kepubertasan yang tinggi otomatis menatapnya dengan wajah penuh nafsu birahi. Namun tak ada yang berani mendekat, menegur, apalagi mencoleknya. Mereka masih sayang nyawa, takut mati muda. Tak perlu menyuruh Ki Joko Bodo ataupun Ki Kusumo untuk menganalisa ada apa gerangan dengan dosen muda ini. Siapapun yang melihatnya pasti tahu satu hal. Sang Uchiha tengah kesal stadium akhir.

"Yo, Sasuke!" sapa Kakashi saat Sasuke masuk ke dalam ruangannya. Kakashi menyandarkan dirinya di kursi tanpa mengalihkan pandangan dari arah tablet yang dipegangnya. Wajahnya terlihat serius, entah sedang menonton apa. Yang pasti terdengar suara tak senonoh dari gadget itu. Sasuke memutar bola matanya. Pantas saja mantan gurunya ini jadi bujang lapuk. Wajah rupawan Kakashi tak berbanding lurus dengan ahklak dan moralnya dari segi kemesuman. Mesumnya tak ketulungan. Wanita mana yang tahan dengan pria yang lebih dari dua puluh kali sehari menikmati tayangan semacam itu. Ingatkan Sasuke untuk membawa pria itu ke pusat rehabilitasi kapan-kapan.

"Ini dokumen yang Sensei minta." Sebuah map hijau diletakkan begitu saja di atas meja kaca milik Kakashi. Pria itu memandang map tersebut lalu beralih ke seseorang yang telah duduk bersebrangan tepat di depannya. Alisnya bertaut.

"Ada apa denganmu?"

Sasuke tak menjawab. Hanya wajah tampannya yang terlihat semakin menekuk.

"Soal Sakura? Atau Rensuke?" Kakashi menduga-duga. Hal apa lagi yang bisa membuat lelaki ini gundah gulana gelisah galau merana selain istri berambut permennya dan junior Uchiha yang baru saja hadir ke dunia ini. Haruskah Kakashi mengajak Sasuke untuk goyang dumang, biar hatinya senang dan pikirannya tenang? Impossible. Sasuke lebih senang goyang itik daripada goyang dumang. Ini rahasia. Cuma Kakashi yang tahu aib terbesar pria dingin ini.

"Hn," jawab Sasuke singkat.

Kakashi mengangguk-angguk paham. "Coba ceritakan padaku apa masalahmu," ucapnya dengan gaya bak psikiater profesional.

Sasuke menarik napas sesaat sebelum membuka suara. Kakashi deg-degan menunggu saat-saat paling emosional ini.

"Ku pikir anakku mencoba membunuhkku."

"HAH?!" Kakashi terkejut. "Maksudmu Rensuke membawa pisau dan mencoba menikammu?" tanyanya lagi meminta penjelasan.

Sasuke menatap malas Kakashi. Ragu apakah harus melanjutkan curhatannya atau tidak. Si bujang ini lama-lama makin drama queen. Lebay. Ini pasti efek karena terlalu mesum.

"Mana ada bayi berumur tiga bulan berkeliaran membawa-bawa pisau dan berusaha membunuh orang. Memangnya anak setan?"

"Makanya bicaralah yang jelas," komplain Kakashi.

Bungsu Uchiha ini mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. "Akhir-akhir ini aku merasa depresi, mudah kesal, lelah jika menyangkut tentang Rensuke. Sepertinya anakku ingin melihatku mati. Ingat kejadian saat istriku mengidam Rensuke? Ia menyiksaku kan? Sekarang aku merasa kejadian itu terulang lagi," ungkapnya jujur. Sasuke mulai stres. Untung saja Rensuke adalah anaknya. Jika anak Kakashi pasti sudah ia buang dari dulu. Kejam.

Mendengar cerita Sasuke yang tragis, tak disangka-sangka Kakashi malah tertawa geli. Membuat lelaki malang yang baru saja mencurahkan isi hatinya tersebut menjadi tersinggung. Menganggap Kakashi adalah manusia hentai tak berperasaan yang tega menertawai kisah memilukannya yang mengharu biru.

"Kenapa tertawa?"

"Kalau aku juga punya ayah sepertimu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Sudah ku bilang, Rensuke lebih senang jika ayahnya Sasori atau Neji. Sepertinya itu kode untuk ibunya agar segera mencarikannya ayah yang baru."

"Tidak lucu!" Sasuke melemparkan gulungan tisu bekas ke arah Kakashi.

Pria berambut silver itu tertawa puas lalu mulai memasang mimik muka serius.

"Apa mungkin kau terkena baby blues syndrome? Sindrom stres dan gundah saat wanita selesai melahirkan. Suami juga bisa mengalami hal itu. Apa kau juga menangis tanpa sebab akhir-akhir ini?"

Sasuke menerawang, mengingat momen saat-saat ia menangis di kamar mandi saking depresinya menghadapi Rensuke. Hidungnya mendengus. "Tentu saja aku tidak menangis. Itu hal yang memalukan," kilahnya berdusta. Jangan sampai ada yang tahu jika ia pernah meneteskan air mata hanya karena sindrom sialan tersebut. Ia tak mau mempertaruhkan reputasi kejantanannya. Pria paling cool(-kas) sejagat raya ini menangis? Hell no!

"Aku tak bisa membayangkan wajah jutekmu itu kalau menangis. Mengerikan. Amit-amit," celetuk Kakashi sembari melakukan gerakan mengetuk-ngetuk kepalanya kemudian mengetuk meja seolah wajah menangis Sasuke adalah sesuatu yang tabu, aneh, dan bisa membawa kutukan.

"Sialan."

"Siapa yang baby blues?" Sebuah suara baritone yang khas menyapa pendengaran Kakashi dan Sasuke. Kedua pria absurd itu menoleh memandang rekan sejawat mereka yang sedang berjalan mendekati mereka berdua.

Kakashi menunjuk Sasuke sebagai jawaban atas pertanyaan rekannya tadi. Pria bermata biru jernih itu tersenyum dan menepuk bahu Sasuke.

"Sabarlah. Dulu saat Naruto masih bayi, aku juga mengalami hal tersebut. Anak itu benar-benar menyebalkan." Minato memberi nasehat –sekaligus curhat sepertinya-. Sasuke menatap iba pria Namikaze itu. Bisa ia bayangkan beratnya menjadi ayah seorang anak hyperaktif seperti Naruto. Minato bisa ia calonkan sebagai kandidat tujuh ayah tersabar versi on the spot.

Pemuda bermata kelam itu hanya bisa tersenyum tipis.

"Oh, ya. Tadi Naruto mencarimu," lanjut Minato.

"Ada perlu apa?"

"Kau lupa? Kau kan dosen pembimbing Naruto. Ia minta bimbingan."

"Haduh." Sasuke memukul pelan kepalanya. Kenapa di saat-saat yang tidak menyenangkan seperti ini, ia selalu harus berhubungan dengan bocah itu. Otaknya serasa ingin rontok jika teringat tentang Naruto. Mungkin ini virus penyakit baru, Narutos phobiarthritis. Penyakit dimana jika kau berhubungan, teringat, atau berinteraksi dengan anak pirang bernama Naruto, kau akan mengalami kram otak, vertigo berkepanjangan, impotensi kronis, dan bisa menyebabkan mati suri.

"Baiklah. Tolong katakan padanya aku tunggu di rumah." Sasuke berdiri dari duduknya, bersiap untuk pergi.

"Sudah mau pulang?" tanya Kakashi.

"Hn."

"Oke. Salam untuk 'Sakura en Sasuke', ya? Hahahaha." Lelaki jomblo itu tertawa hingga wajahnya memerah. Minato pun tampak tersenyum geli.

Sasuke mengacungkan tinjunya kemudian bergegas meningggalkan ruangan sebelum ia menjadi objek bully-an mantan gurunya yang durhaka itu.

OoO


Sasuke baru saja akan memasukkan sedan hitamnya ke garasi saat seorang wanita berambut putih –sebut saja namanya Shion- yang tinggal tepat di depan kediaman Uchiha itu memanggilnya. Ia menoleh ke asal suara tersebut dan melihat Shion berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya sambil membawa sebuah gulungan selimut.

"Uchiha-san, syukurlah kau sudah pulang. Sakura-san tadi pergi dan menitipkan Rensuke kepadaku. Maaf aku buru-buru karena aku dan suamiku harus pergi sekarang. Permisi." Shion menyerahkan gulungan selimut tersebut –yang ternyata adalah Rensuke- lalu berlalu begitu saja meninggalkan pria itu. Sasuke melongo, masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Onyx-nya memandang Rensuke yang kini berada dalam gendongannya. Bayi mungil itu balik menatapnya, memperlihatkan mata cerahnya yang menawan.

"Jangan tatap ayah seperti itu."

Setelah masuk ke dalam rumah, Sasuke memindahkan anak semata wayangnya di dalam sebuah keranjang bayi yang memang sengaja diletakkan di ruangan tengah. Ia kemudian mengambil ponselnya dan dengan kekuatan kingkong ia menyentuh-nyentuh touch pad-nya, mencari kontak istrinya lalu menelponnya.

"Halo." Suara di seberang sana menyapa.

"Kau pergi ke mana, Sakura?" tanya Sasuke tak sabar.

"Maaf, Sasuke-kun. Aku buru-buru. Ibu menyuruhku pulang ke Suna. Ada hal penting."

"Kenapa tidak bilang padaku? Kenapa meninggalkan Rensuke di sini?"

"Tolonglah, Sasuke-kun. Aku akan pulang malam. Aku tak bisa membawa Rensuke dengan mobil."

Sasuke memijat pelipisnya. "Aku mengalami baby blues dan kau meninggalkanku berdua saja dengan Rensuke? Bagaimana jika dia menangis atau mengamuk?"

"Baby blues apanya? Kau galak di kampus tapi kenapa menghadapi satu bayi saja tidak bisa? Jangan cari alasan."

'TUUTTTT.'

Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Sakura.

Sasuke mengacak rambut hitamnya kemudian melemparkan pandangan memohon pada Rensuke. "Rensuke, anakku yang tampan. Tolong bekerja samalah dengan ayah. Jangan menangis sampai ibumu yang kejam itu pulang. Cukup diam dan bernapaslah dengan tenang. Oke?"

Bayi mungil itu cuma bisa mengerjap-ngerjapkan matanya.

Sasuke serasa ingin lari ke hutan, belok ke pantai, lalu santai sambil minum air kelapa muda. Sindrom ini lama-lama akan membunuhnya. Ia membaringkan tubuhnya di sofa, mencoba tenang dan mensugesti diri sendiri jikalau baby blues yang melanda dirinya ini hanyalah cerminan perasaan lelahnya semata sebagai ayah yang baru memiliki bayi. Jangan terbawa perasaan.

'TING TONG.'

Mata Sasuke yang baru saja akan terpejam terbuka kembali demi mendengar lantunan suara bel dari arah depan. Ia bangkit dan melenggang ke ruang tamu.

"Halo, Sensei." Sebuah kepala kuning menyambut Sasuke ketika ia membuka pintu. Di belakangnya, terlihat kepala merah, kepala nanas, kepala bulat, kepala mangkok, kepala pucat, kepala gondrong, dan beberapa kepala menyebalkan lainnya yang sukses membuat mood Sasuke makin hancur sehancur-hancurnya.

"Cuma kau yang kusuruh datang, kenapa membawa gerombolan penjajah ini?"

Naruto tersenyum lebar. "Kupikir jika cuma aku yang datang akan membuat Sensei tidak nyaman. Maka dari itu aku mengajak geng Sutarman-ku kemari." Pemuda itu melirik kawan-kawannya.

Sasuke mengerutkan dahi. "Sutarman? Berani sekali kalian memberi nama geng aneh kalian dengan nama pahlawan pencipta lagu Indonesia Raya WR. Sutarman,"

"Itu WR. Supratman. Sensei garing nih."

"Kampret."

Sasuke langsung melempar bunga –beserta potnya- ke arah Lee. Untung saja anak itu juragan bajaj. Sehingga membuatnya jago ngeles seluwes bajaj dan akhirnya terhindar dari lemparan maut Sasuke.

Naruto buka suara lagi. "Sutarman itu singkatan dari super tampan, rame, dan membuat nyaman," katanya memberi penjelasan tanpa ada yang meminta.

Sasuke melirik aneh para pemuda norak bin labil yang mengklaim diri mereka tampan. Super tampan katanya. Cuih! Ingin rasanya ia meludahi otak miring mereka satu persatu.

"Kalian mengatai nama anakku, sementara kalian sepuluh kali lipat jauh lebih alay," ucapnya berusaha menyudutkan Naruto dan kawan-kawan. Masih dendam rupanya.

Pemuda pirang itu mengedikkan bahu. "Paling tidak aku tidak akan menamai darah dagingku sendiri dengan singkatan tak jelas," jawab Naruto polos, tak sadar dosen di hadapannya sudah ingin mengeluarkan chidori.

"Ya sudah. Bimbing dirimu sendiri, Naruto." Sasuke yang bete langsung bersiap menutup pintu rumahnya jika tak dihalang oleh tangan Naruto yang memelas.

"Ampun, Sensei. Biarkan aku masuk," bujuknya. Urat di jidat Sasuke berkedut. Jika tak ingat tentang kebaikan Minato mungkin ia akan membiarkan bocah duren ini tergeletak terlunta-lunta di halaman rumahnya.

"Masuk. Tapi jangan bicara macam-macam lagi. Ingat nasib kelulusanmu di tanganku," ancam pria itu pada mahasiswa di belakangnya. Naruto manggut-manggut sementara Sasori, Sai, Shikamaru, Neji, Chouji, Lee, Kiba, dan Shino tutup mulut. Tak berani komentar lagi. Sepertinya dosen tersayang mereka sedang memiliki tingkat kesensitifitasan yang luar biasa tinggi saat ini. Sekali lagi mencari gara-gara, bisa dipastikan mereka tidak akan melihat ayam jantan berkokok esok harinya.

Setelah duduk tanpa dipersilahkan, Naruto mengambil sebuah map dari dalam tasnya lalu menyerahkannya pada Sasuke. Pria itu mulai membaca lembar demi lembar kertas di genggamannya, mulai mencari hal-hal apa yang perlu diperbaiki dari proposal milik pemuda itu. Namun keseriusannya tiba-tiba diinterupsi oleh suara tangisan melengking dari ruang tengah.

"Rensuke!"

Sasuke segera menghampiri anaknya diikuti oleh geng Sutarman.

"Ada apa lagi, Rensuke?" Sasuke mulai panik. Ia mengeluarkan bayinya dari dalam boks, menggendongnya untuk membuat anaknya tenang, namun yang ada tangisannya malah semakin kencang. Pria itu meletakkan kembali Rensuke dan mengacak surai ravennya frustasi.

"Sepertinya Rensuke haus, Sensei. Lihat gaya tangisannya." Naruto memberikan pendapat.

"Kelopak matanya berkedip tiga kali. Ku pikir dia lapar. Berikan dia nasi."

"Chouji, Bodoh. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau popoknya minta diganti."

Sasuke makin depresi mendengar asumsi sok tahu dan menyesatkan dari para mahasiswanya. Ia melirik Neji yang tampangnya paling meyakinkan. "Neji, apa yang harus dilakukan?"

Ditodong seperti itu, pemuda Hyuuga itu hanya bisa geleng-geleng kepala tak tahu apa-apa. Sasuke gemas. Ke mana kemampuan baby sitter pemuda itu saat dibutuhkan. Karena suasana semakin memanas dan tidak kondusif, Sasuke memutuskan untuk mengambil alih komando demi memuluskan misi menghentikan tangis Rensuke untuk kemasalahatan dirinya.

"Chouji, Shino, Lee pergi ke supermarket beli popok! Neji dan Shikamaru siapkan susu Rensuke! Sasori, Kiba, Sai siapkan perlengkapan bayi! Dan kau Naruto—" Sasuke menunjuk batang hidung pemuda itu. "Bantu aku mendiamkan Rensuke."

"Aye, aye Captain!"

Maka jadilah kediaman Uchiha sore itu penuh dengan tangis dan keriuhan terdengar di mana-mana.

OoO


Sakura memasukkan mobil merah mudanya ke dalam garasi kemudian meneliti keadaan rumahnya yang sangat lengang. Pukul delapan malam. Dengan perlahan ia membuka pintu ruang tamu dan terkejut melihat onggokan tubuh pemuda-pemuda tak berdosa berisitrahat dengan nyenyaknya di atas sofa.

"Kenapa Naruto dan yang lainnya tidur di sini? Ke mana Sasuke?"

Wanita itu kemudian naik ke lantai dua menuju kamar miliknya. Mengecek keberadaan suami serta anaknya di tengah kondisi rumah yang mencurigakan. Ia membuka pintu kamar dan sekali lagi terperangah sekaligus terenyuh melihat pemandangan di atas ranjang.

"Ohh... Manis sekali. Tumben kalian akur." Sakura menatap penuh sayang dua jagoannya yang sedang terlelap. Tampak Rensuke yang tengah tidur tertelungkup di dada ayahnya.

Dengan hati-hati, Sakura menggendong Rensuke kemudian memindahkannya ke dalam boks bayi. Pandangan wanita itu kemudian beralih pada sang suami. Ia tersenyum tipis melihat raut lelah yang masih terlihat di wajah rupawannya. Ia lalu mendekat, menunduk, dan memberi sebuah kecupan lembut di bibir sang pangeran. Sasuke membuka matanya.

"Hai, Sleeping handsome." Sakura mengulum senyum.

Sasuke langsung menarik istrinya kemudian mendekap wanita merah mudanya dengan erat.

"Kenapa baru pulang?" tanya pria itu pada Sakura yang sedang berada di atas dadanya.

"Macet. Kau sudah makan? Aku membawakan makanan titipan dari Ibu. Kita makan yuk? Akan kubangunkan Naruto dan yang lainnya." Sakura bersiap bangkit tetapi lengan kekar suaminya menahannya dan semakin memeluknya hingga ia terhimpit di atas dada bidang Sasuke.

"Kenapa? Kau tidak mau makan?" gerutu Sakura.

Sasuke menyeringai. "Aku akan menghukummu karena membuat aku dan bocah-bocah di bawah sana kewalahan membujuk Rensuke. Aku ingin memakanmu," bisiknya dengan suara yang dibuat semenggoda mungkin tepat di telinga Sakura.

Wanita itu melotot. "Hey, Sasuke. Jangan macam-macam. Rensuke dan teman-temanku di bawah bisa terbangun," jawabnya gugup seraya sedikit berjengit. Suara sensual Sasuke membuat bulu kuduknya merinding.

"Kalau begitu mari kita lakukan dengan lembut."

"APA?!"

"Sstttt..."

Dan akhirnya baby blues sang pangeran diakhiri dengan indah di bawah selimut yang hangat ditemani oleh dengkuran halus mahkluk-mahkluk polos yang tengah merajut mimpi dengan tenteram.

OoO


Author's note :

Cerita macam apa ini?! *digampar pake popok bekas.

Maafkan kegaringan fic ini ya. Saatnya membalas review,

Haruchan : Halo Haruchan :) Emang sengaja dibikin alay namanya kayak bapaknya. Hehehe... Makasih concritnya ya. Jarang nge-cek KBBI soalnya :D

Noer : Halo Noer :) makasih reviewnya...

Dedew : Halo Dedew :) Kamu review dua kali ya? Kamu juga luar biasa kok *kisshug. Makasih reviewnya :D

Ss : Halo SS :) seneng kalo kamu bisa suka fic saya. Makasih reviewnya :D

Shinma Hanasaki : Halo shinma :) Saya ga nge-dzolimi dia kok. Cuma disiksa dikit aja *dicum Saskey. Kita sama ya, seneng liat yg imut-imut pake pakaian dalam *dirajam. Makasih reviewnya ya.

Namuchi : Halo Namuchi :) Ga nyangka ada yang bisa ngakak baca fic nista saya *peluk Namuchi. Makasih reviewnya :D

Guest : Halo guest tanpa nama :) hehehe. Makasih reviewnya...

Kagura : *nyodorin Sasuke ke hadapan Kagura. Silahkan dicubit ampe pingsan XD makasih reviewnya...

Zul : Halo Zul :) Maafkan ya. Kalo untuk rate M yang eksplisit bgt gitu kayaknya saya belum sanggup ngebuatnya. Takut mimisan kalo ngebayanginnya. Jadi untuk sekarang cuma bisa buat cerita yang nyerempet-nyerempet gini *plakkk. Makasih reviewnya :D

NdaYamada : Halo NdaYamada :) Masa sih sampe ngakak? Makasih reviewnya :D

Untuk yg Log in, Silahkan cek PM ;)

Tak lupa untuk reviewer yang mau capek-capek nulis di kolom review. Yang udah klik pilihan fav & follow. Yg udah mau baca. Terima kasih semua...

Akhir kata,

Mind to Review?