.

DIARY OF ONYX AND EMERALD

Summary : Uchiha senior dan Uchiha Junior sekarang punya saingan!/"Aku sudah bercerai Sasuke-san."/Sekuel of Ujian & Anniversary/1 chapter 1 story/Chap 5. Jealous/

.

.

Special Thanks to :

Manda Vvidenarint, Nafidah, Hanazono yuri, Anggi Cherryblossom, Caesarpuspita, Fuji Seijuro, NdaYamada, Guest, Hayashi Hana-chan, Nur 520, Wowwoh Geegee, suket alang alang, YoktfNavy, Daffodila, Airis chun, DRIKK, Pinky Haruno, Chika Dragneel, Shivatand, Mira cahya1, AoRizuki,mantika mochi, Azi-chan, Zul, Sgiariza, Lhylia kiryu, Heramardian123, Cherry philein, Vicko.

.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto.

Saya hanya meminjam karakternya saja tanpa mengambil keuntungan apapun

Chapter 5 : Jealous

Warning : AU, OOC, garing, dan lain sebagainya.

.

.

"Ayah..."

"Ngg..."

"Ayah..."

"Enggg..."

"Ayah!"

"..."

"Ibu, Ayah tak mau bangun!" jerit seorang bocah berumur 5 tahun seraya memencet hidung mancung seorang pria yang sedang asyik terlelap di atas kasur. Pria yang ia sebut ayah itu sontak terkejut dan terbangun. Pertama, karena jeritan anak itu yang memanggil ibu –yang tak lain adalah istrinya sendiri- (Ia tak mau berurusan dengan kemurkaan istri tercintanya di pagi hari). Kedua, karena pencetan keras di hidung kecenya yang nyaris membuat ia pergi ke pangkuan Illahi. Lebay? Tentu saja tidak! Salahkan ibu anak itu yang menurunkan kekuatan gorilla pada si anak. Satu pencetan saja bisa membuat hidungnya rata dengan wajah.

"Jangan lakukan itu, Ren!" Sasuke terbangun sambil misuh-misuh. Memandang sang anak dengan kening berkerut-kerut. Seminggu yang lalu, Ren mencipratkan air ke wajah Sasuke agar dirinya terbangun menyebabkan tiga hari penuh ia dalam keadaan bete luar biasa. Memang cuma air. Tapi yang dicipratkan anak gantengnya ini adalah air panas yang nyaris membuat pipinya melepuh. Hari ini, sang anak memencet hidung mancungnya dengan kasar. Mungkin minggu depan, Rensuke akan menggorok lehernya dengan golok. Ingatkan ia untuk membuat surat wasiat sesegera mungkin.

Rensuke cuma balas menatapnya dengan mata bulat beserta wajah polos tanpa dosa khas bocahnya seolah perlakuannya tadi tidak membahayakan jiwa ayahnya. Sasuke agaknya mulai luluh. Ah... Emerald itu selalu membuatnya kalah.

Mirip ibunya. Kelakuan seperti siluman, tampang seperti malaikat. Sasuke membatin.

"Ada apa, Rensuke?" tanyanya lagi dengan nada lebih lembut.

"Ibu yang menyuruhku. Ayah disuruh turun. Sarapan. Ada tamu."

Sasuke memijat pelipisnya yang berdenyut. Tamu macam apa yang datang di pagi hari seperti ini. Waktu sarapan pula. Pasti mau numpang makan. Dan tamu seperti itu kemungkinan cuma beberapa orang. Pasti mereka. Pikirnya mengira-ngira.

Sasuke mendesah. "Ya sudah. Turunlah. Ayah akan bersiap-siap."

"Baik, Ayah," jawab Rensuke singkat kemudian keluar meninggalkan ayahnya yang sudah melenggang masuk ke kamar mandi.

Setelah mandi, keramas, menggosok badan dari ujung rambut hingga ujung kaki, memakai parfum, berpakaian santai dengan kaos putih dipadukan dengan celana hitam selutut, Sasuke mematut-matut dirinya di depan cermin. Perfect. Pagi yang tampan untuk jiwa yang keren seperti Uchiha Sasuke.

Pria itu kemudian turun ke bawah, menemui tamu pengacaunya, dan mendapati empat orang pria yang sudah sangat familiar sedang duduk rapi mengelilingi meja makan.

Ada Uchiha Itachi, kakak sulungnya yang sok ganteng. Umur : Paruh baya. Status : Jomblo terhormat.

Di sampingnya ada Deidara, teman kakaknya yang sok manis. Umur : Tidak lama lagi. Status : Jomblo kurang terhormat.

Lalu ada Pein, teman kakaknya yang sok sexy. Umur : Akil balig. Status : Jomblo sedikit lebih terhormat dibanding Deidara.

Dan yang terakhir ada Tobi, teman kakaknya yang sok imut. Umur : Tidak diketahui. Status : Forever alone.

Keempat pria tersebut menoleh, menyambut Sasuke dengan senyuman.

"Halo, Sasuke. Lama tak berjumpa," sapa Deidara girang. Yang disapa hanya bisa mengangguk kecil lalu duduk bergabung bersama mereka di samping Sakura.

Sasuke menyeruput secangkir teh hitamnya yang masih mengepulkan sedikit asap. Ia menatap Itachi. "Apa keperluan kalian sampai harus datang sepagi ini?"

Tobi terkekeh. "Numpang makan." Tangannya mencomot selembar roti panggang di atas meja.

Itu kan. Sudah Sasuke duga sebelumnya.

"Kami ingin menjenguk keponakan kami. Memangnya tidak boleh?" lanjut Itachi. Tangannya mengusap rambut hitam Rensuke yang tengah menyantap sarapan paginya dengan diam. "Anak ini cool dan tenang seperti aku," ujarnya lagi membuat Sasuke memutar mata mendengar kata narsis itu.

"Kalian berdua tidak kasian padanya? Sudah saatnya memberi adik untuk Ren. Apa perlu aku yang buatkan?" Sakura kontan tersedak mendengar ucapan Pein. Sementara urat di dahi Sasuke membentuk persimpangan. Pein ini orangnya pendiam, tetapi sekali berucap, kata-katanya bisa membuat orang terkena serangan jantung mendadak. Pria ber-pierching yang mirip dengan tukang palak di sekolahan SD ini pantas disebut Triple G. Ganteng-ganteng Gila.

"Haruskah membahas ini di meja makan?" Bungsu Uchiha itu mulai jengah.

"Kalau tidak bisa membahas itu di meja makan, mari kita bahas di kamar. Ayo, Sakura."

Sasuke langsung melempari Deidara dengan serbet. Sedangkan pria pirang itu tertawa puas. Dari zaman orok sampai sekarang, adik Itachi yang satu ini memang sasaran paling empuk untuk dikerjai.

"Ren, kalau punya adik, ingin laki-laki atau perempuan?" tanya Itachi pada bocah di sebelahnya.

Rensuke mendongak menghentikan aktifitas makannya. "Terserah Tapi kata Ayah, kalau perempuan akan dinamai Sarada."

Itachi mengernyit. "Sarada? Apa lagi itu Sarada?"

Deidara dan tobi pun saling sikut dengan kening berkerut. "Jangan bilang singkatan dari 'Sasuke sakuRa Damai selamanyA'? Pffftt. Konyol. Sssttt... Jangan katakan padanya," bisik Tobi dengan suara melengking hingga semua penghuni ruangan bisa mendengar suaranya yang cempreng.

Kuping Sasuke memerah. Panas. Tobi ini turunan siput mungkin. Otaknya kecil. Cuma seperdelapan sendok teh. Berbisik tetapi suaranya nyaring. Kenapa tidak sekalian pakai toa dan umumkan di alun-alun kota.

"Atau 'Sasuke sakuRa Diam-diam sukA'?" sambung Pein.

Hening sesaat sebelum...

"BAHAHAHAHAHA."

Tawa seketika meledak di ruangan itu. Itachi, Deidara, dan Tobi terlihat tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Pein tak bergeming. Diam namun wajahnya merah padam. Sasuke yakin pasti ia ketawa dalam hati. Sasuke memutar-mutar garpu yang ada di tangannya. Sekali lagi menghina dirinya, garpu perak ini akan menancap di salah satu jidat dari keempat tamu tidak waras ini.

"Tunggu saja jika kalian menikah, aku akan menghina anak kalian habis-habisan," rutuk Sasuke geram.

Itachi memegang perut, menahan sisa-sisa tawanya. "Maaf Otouto. Kami cuma bercanda."

Pria berambut raven itu mendelik. "Bercanda keriputmu! Ini sudah masuk kategori pelecehan!" serunya kesal.

Sakura mengelus-elus dada suaminya, mencoba meredakan tensi darah Sasuke yang mulai naik. "Sudahlah, Sasuke-kun. Itachi-nii dan yang lainnya kan cuma bercanda."

Dedara manggut-manggut. "Suamimu ini sensitif sekali," katanya diiringi anggukan setuju dari Tobi.

Sasuke mendengus. "Apa kalian ke sini cuma untuk berbuat semena-mena padaku?"

Itachi menggeleng, jari telunjukknya digerakkan ke kiri dan ke kanan. "Sebenarnya aku ke mari untuk menyerahkan ini," tukasnya sambil menyodorkan selembar undangan berwarna putih keemasan. "Ini acara amal. Sakura, paksa Sasuke untuk datang, ya. Perusahaan Uchiha salah satu penyelenggaranya. Adikku yang bodoh ini harus hadir." Itachi beranjak dari duduknya diikuti oleh Deidara, Pein, dan Tobi. Siap-siap berpamitan untuk pulang.

Sasuke memandang kakaknya dengan kesal. Ia bersidekap. "Kalau cuma ingin antar undangan, kenapa sampai berlama-lama dan mengolok-olokku?"

Itachi mengulum senyum manis. "Sengaja. Suatu kepuasan untuk kami bisa menghinamu."

Dan sesi sarapan pagi itu diakhiri dengan lemparan vas bunga yang dilakukan oleh Sasuke ke arah Itachi dan kawan-kawan.

OoO


Keluarga kecil itu berjalan memasuki salah satu gedung termewah di kawasan Konoha. Sakura mengamati sekelilingnya. Puluhan bahkan mungkin ratusan mobil berjejer di sepanjang parkiran. Sakura mendesah. "Ramai sekali, Sasuke-kun," keluhnya.

"Itu sebabnya aku malas kemari," katanya sambil melirik istrinya. Tiba-tiba alisnya bertaut, memandangi wanita di sampingnya dari atas sampai bawah. "Gaun merahmu itu terlalu mencolok. Dan kenapa panjangnya di atas lututmu? Dadamu agak terlihat dan lengan atasmu kelihatan. Kenapa tidak pakai blazer dan stocking?" protes Sasuke tak suka.

Sakura berdecak kesal. "Kau yang menyuruhku buru-buru." Bibirnya meruncing.

"Merepotkan. Lain kali akan kubelikan sarung untuk menutupi seluruh tubuhmu." Pria Uchiha itu lalu melepaskan jas hitamnya, menyampirkan di bahu istrinya. "Awas saja kalau dilepas," titahnya tegas.

Sakura cemberut. Kadang Sasuke ini terlalu over. Gaun pendek, protes. Gaun berwarna terang, protes. Dandanan tebal sedikit, protes. Rempong.

Wanita itu mengeratkan genggaman pada anak laki-lakinya. "Rensuke, jangan jauh dari Ayah dan Ibu. Jangan kemana-mana, hm?"

"Iya, Ibu."

Ketiganya kemudian melangkahkan kaki ke dalam gedung. Bangunan mewah itu terlihat dipenuhi oleh berbagai kalangan yang cukup terpandang dari berbagai wilayah. Beberapa orang terlihat asyik mengobrol, tertawa dengan gaya dibuat-buat seraya memegang gelas wine dan bertukar cerita tentang saham, jabatan, dan segala tetek bengek lainnya yang menurut Sasuke itu sangat absurd dan tidak penting seperti tampang Itachi. Meh! Itulah sebabnya ia lebih memilih bergelut di bidang pendidikan daripada mengikuti jejak kakak sulungnya yang dzalim itu.

"Kita cari Itachi dan langsung pulang," ucapnya.

"Ayah..." Rensuke tiba-tiba menarik ujung lengan kemeja Sasuke. Pria itu berbalik.

"Kenapa Ren?"

Bocah itu menggigit bibirnya gusar. "Aku ingin pipis."

"Sakura, Ren ingin ke toilet." Sasuke menyentuh pundak istrinya. "Aku akan mengantarnya. Tunggu di sini."

"Baiklah," kata Sakura sambil melihat punggung suami dan anaknya hingga menghilang di suatu belokan ruangan. Ia membuang napas dan mengedarkan pandangan hingga ke sudut-sudut. Mungkin saja kakak iparnya nyempil di situ.

"Sakura?"

Wanita itu memalingkan badan dan terkejut melihat seorang pria beriris jade sedang menatapnya. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahunan yang juga memandang ke arahnya. Keduanya mengulas senyum.

"Gaara!" Sakura melonjak girang. "Sudah lama kita tak bertemu. Ini anakmu?" Wanita itu mengalihkan pandangan ke bocah yang terlihat serupa seperti Gaara dengan surai senada dengan warna darah dan manik seperti zamrud.

Anak itu membungkukkan tubuhnya memberi hormat. "Salam kenal, Bibi. Aku Toneri."

Sakura memekik gemas dan mendekap anak itu. "Kau manis sekali. Aku teman lama ayahmu."

Toneri menunduk malu membuat Sakura makin gemas. Ia mengusap kepalanya dengan halus. "Mirip sekali denganmu, Gaara. Oh, ya. Sekarang kau sibuk apa?"

Pria kalem itu tertawa pelan. "Hanya mengurus usaha keluarga. Aku senang bertemu denganmu."

"Aku juga senang. Kau tidak berubah sama sekali." Sakura nyengir. "Dan aku sangat menyukai anakmu," lanjutnya lagi sembari menggenggam tangan mungil Toneri.

Mata hijau anak itu menengadah melihat Sakura. "Aku juga menyukai Bibi. Bibi sangat cantik seperti Ibuku."

Wanita itu tersipu malu. "Pintar sekali. Kau mengajarinya merayu, Gaara?"

"Anakku cuma berkata jujur." Bibir Gaara terkulum. "Kau bersama siapa ke sini?" tanyanya.

"Aku bersama suami dan anakku."

Gaara mengernyit. "Maksudmu mereka?" katanya sambil menunjuk ke arah belakang Sakura. Wanita berambut merah jambu itu berpaling. Tampak sepasang ayah dan anak berdiri tegap dengan tampang datar dan dingin melihat tepat ke arah mereka. Sang pria kecil melihat tak suka pada Toneri yang sedari tadi lengket pada ibunya. Sementara sang pria besar menghujamkan tatapan menusuk pada Gaara yang sedari tadi tersenyum pada istrinya.

Sakura tersenyum dan mengayunkan tangannya menyuruh dua Uchiha itu mendekat. Tak sadar dengan aura suram yang dimiliki keduanya. Sasuke dan Rensuke berjalan ke arah Sakura. Menatap ayah dan anak berambut merah itu dengan intens dan seksama.

"Gaara, ini Sasuke, suamiku, Dan ini Rensuke, anakku. Beri salam, Sayang."

Rensuke membungkuk memberi salam pada paman di depannya, kemudian dengan enggan menyalami Toneri. Sedangkan Sasuke hanya mengangguk kecil.

"Aku Gaara. Dan ini anakku, Toneri."

"Ponari? Dukun cilik Ponari?"

"Toneri, Sasuke-san," ralat Gaara dengan sabar. "Aku teman dekat Sakura saat sekolah dulu," tambahnya.

"Oh... Teman sekolah rupanya." Sasuke melihat istrinya dengan tatapan 'Kenapa tak pernah menceritakan tentang orang ini padaku?' Yang langsung dibalas dengan senyuman kikuk dan tatapan 'Maaf aku lupa' pada suaminya.

"Bagaimana kalau kita berbincang-bincang dan duduk di meja sebelah sana?" tawar Gaara.

"Boleh," sahut Sakura.

"Tidak!" sambar Sasuke cepat dengan suara yang agak keras. Nyaris bersamaan.

Seketika tamu lainnya yang berada dalam radius 5 meter dari mereka menoleh sambil bisik-bisik dengan pandangan aneh ke arah Sasuke. Suasana menjadi canggung. Sasuke menarik napas, mencoba berpikiran jernih. Dan untuk menyelamatkan harkat dan martabat Uchihanya di sini akhirnya ia mengalah –meski dongkol setengah mati-. Ia tak ingin mengambil resiko dihapus dari silsilah keluarga karena telah membuat skandal di tempat ini. Headline di surat kabar akan menuliskan 'Seorang Uchiha yang tampan dan penuh pesona terlibat aksi saling jambak dengan seorang pria aneh sok keren tak beralis'. Tidak. Bukan itu yang ia inginkan.

Sasuke menarik ujung bibirnya, mencoba mengulas senyum yang pada akhirnya membuat ia lebih terlihat seperti orang yang terkena sembelit menahun. "Tidak—masalah. Dengan senang hati," ujarnya dengan nada yang dibuat sewajar dan senormal mungkin.

Dan di sinilah mereka sekarang. Berkumpul bagai keluarga besar dan harmonis di sebuah meja bundar. Merah muda diapit oleh dua hitam dan dua merah. Dua hitam beraura dingin diimbangi dengan dua merah beraura hangat. Cocok. Sakura kini terlihat seperti perempuan berpoliandri alias bersuami ganda.

"Jadi Uchiha Itachi -san adalah kakak anda?" Gaara membuka percakapan.

'Bukan. Itachi anak pungut!' batin Sasuke. "Hn. Itachi adalah kakak sulung yang paling aku—sayangi." Ucapan nistanya membuat Sasuke ingin mencuci mulutnya sendiri saat itu juga.

"Aku ingat saat bertemu dengan Itachi-san, ia berkata punya adik yang polos dan lugu." Gaara tersenyum kecil –yang Sasuke anggap sebagai bentuk pengejekan pada dirinya-. "Aku tak menyangka yang dimaksud adalah suami Sakura."

"Benarkah Itachi mengatakan itu?"

Gaara mengangguk. "Ia sangat menyayangi adiknya—maksudku anda."

Sasuke mendengus. Menyayangi dari Hongkong. Menyiksa, baru iya. Dasar Itachi pendusta. Ingin rasanya ia menarik rambut Itachi hingga cepak, sebelum manusia tukang bully itu menyebarkan gosip fitnah pada seluruh koleganya.

"Kalau boleh tahu, kalian berdua bertemu di mana awalnya?" Gaara menatap pasangan suami isteri itu secara bergantian.

Sakura terkekeh. "Awalnya ia adalah dosenku. Kau tahu Gaara, ia adalah dosen killer yang selalu mengancam —." Perkataan Sakura perlahan tenggelam karena lirikan tajam dari sang suami.

"Kami bertemu, menikah, punya anak. Selesai." Kali ini sang Uchiha yang menjawab dengan singkat, padat, dan tak jelas sama sekali.

"Saat aku tahu Sakura menikah, aku juga memutuskan menikah."

Pernyataan pria itu sontak membuat wajah Sasuke makin masam. Memutuskan menikah saat Sakura menikah? Maksudnya apa itu? Sepertinya si pria merah ini ingin mengajaknya berkelahi. Hayuk! Lapangan di depan luas!

Pura-pura tak mempedulikan omongan Gaara, Sasuke mengangkat gelas anggurnya, menempelkan ke bibir, dan mengecapnya sedikit. "Ngomong-ngomong, istri anda di mana, Gaara-san?" tanya Sasuke sebelum Gaara mengeluarkan komentar yang membuat darahnya naik lagi hingga ubun-ubun.

Gaara berdehem sejenak sebelum membuka mulut. "Aku sudah bercerai, Sasuke -san." ujarnya tanpa menghilangkan senyuman tipis yang menghiasi wajahnya.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya mendengar pengakuan itu. Duren ternyata. Duda keren. Fakta mematikan ini makin menyulutkan api dalam dada pria itu. Ia siaga satu. Duda keren ini harus diwaspadai. Karena seorang duda apalagi yang bertampang dan berpenampilan seperti Gaara jauh lebih berbahaya dibanding seorang perjaka single macam Pein, Sasori, atau Neji. Apalagi Tobi. Itu tak masuk hitungan. Sasuke mendecih. Salah langkah secuil saja, pernikahannya akan berakhir di pengadilan agama.

"Maaf aku tidak tahu. Tapi aku punya kenalan di Universitas yang mungkin sesuai dengan seleramu," tawar Sasuke yang langsung ditanggapi oleh cubitan pelan istrinya di lengannya.

"Sasuke-kun..." tegur Sakura tak enak. Namun Sasuke tak peduli. Pria merah ini harus segera dinikahkan kembali agar tak mengganggu stabilitas rumah tangga orang lain khususnya rumah tangganya. Karena entah mengapa, ia merasa Gaara sengaja mendekati istri merah mudanya tersebut.

"Apa ada yang seperti Sakura?"

Pertanyaan Gaara yang tak disangka-sangka sempat membuat Sasuke tertegun namun masih mempertahankan lengkungan bibirnya membentuk senyuman yang amat tipis meskipun dengan latar belakang api yang berkobar-kobar. "Wanita ini wanita langka." Ia merangkul wanita di sampingnya. "Cuma satu-satunya di alam nyata. Stoknya sudah habis."

"Ahh..." Gaara mendesah kecewa. "Padahal aku dan Sakura sangat dekat ketika di sekolah. Sejujurnya aku suka tipe wanita seperti istri anda. Ia bisa menjadi ibu yang baik bagi Toneri. Benar kan?" Gaara meminta persetujuan anaknya yang langsung disambut senyuman lebar dari Toneri.

"Hemm... Bibi Sakura sangat baik." Bocah bersurai merah itu merangkul lengan Sakura dengan manja.

'Gyut.'

Empat siku muncul di dahi kedua Uchiha beda generasi itu. Rensuke yang sedari tadi diam tiba-tiba merengut sebal. "Ibu, aku ingin pulang," rengeknya sambil menarik lengan ibunya untuk berdiri. Sasuke yang melihat ini sebagai kesempatan dan celah untuk mengakhiri segala kekampretan ini langsung turut berdiri.

"Maaf, Gaara-san. Anakku sudah lelah. Kami permisi," pamit pria bermanik onyx itu sembari menggandeng Rensuke dan Sakura untuk segera hengkang dari acara terkutuk ini tanpa membiarkan istrinya sempat berpamitan lagi.

Gaara memandangi mereka hingga sosok keluarga itu tak tampak lagi.

"Ayah, kenapa aura paman itu sangat mengerikan? Membuatku merinding," tanya Toneri. Ia menelengkan kepala bingung.

Gaara tersenyum geli. "Itu tanda bahwa ia sangat mencintai Bibi Sakura."

Toneri mengangguk paham. "Berarti sama seperti Rensuke, ya Ayah? Dia memelototi aku dari tadi."

"Hm. Like father like son." Pria bermarga Rei itu mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Ia menahan tawa. Sebenarnya ia telah mendengar kabar dari Ino, bahwa Sakura menikahi pria yang memiliki tingkat kecemburuan di atas rata-rata. Dan setelah bertemu, ia ingin membuktikannya langsung. Ternyata jauh lebih parah dari perkiraan sebelumnya. Gaara menggeleng pelan. Paling tidak teman lamanya berada di tangan yang tepat. Meskipun sikap cemburunya membuat orang ingin lompat dari lantai empat saking kesalnya.

"Kapan-kapan bolehkah kita berkunjung ke rumah mereka, Ayah?"

Gaara tersenyum penuh arti. "Itu ide yang bagus."

OoO


Sunyi, senyap, hening. Tiga kata itulah yang menggambarkan situasi dan kondisi keluarga Uchiha sekarang. Saat ini mereka bertiga dalam perjalanan pulang. Sang anak tengah duduk di kursi mobil bagian belakang dengan wajah manyun. Sedangkan sang kepala keluarga menyetir mobil dalam diam, tak bersuara sama sekali. Bahkan ketika istrinya mengajaknya bicara dan ketika mereka telah tiba di rumah, Uchiha senior dan junior ini langsung menerobos masuk, tanpa berkata apa-apa menuju kamar masing-masing.

Sakura menghela napas melihat tingkah suami dan putera semata wayangnya ini. Namun Sakura sadar satu hal. Mereka sedang ngambek. Dan kemungkinan besar karena kejadian tadi.

Sakura bergegas menuju kamar Rensuke. Puteranya ditangani terlebih dahulu. Bapaknya diurus belakangan. Karena suaminya tersayang mempunyai kepala yang jauh lebih keras dari batu akik. Intinya, Sasuke itu bebal.

Wanita bermata emerald itu membuka pintu kamar perlahan, melihat Rensuke yang langsung menutupi wajahnya dengan bantal saat sang ibu masuk. Sakura tersenyum dan mendekati puteranya. "Belum tidur, Sayang?" tanyanya sambil menepikan bantal kecil itu agar dapat menatap langsung anaknya.

Rensuke menggeleng dan cemberut.

"Marah pada Ibu?"

Bocah itu menggeleng lagi.

Sakura mengelus rambut puteranya dan menciumnya. "Maaf ya. Ini untukmu," bujuknya seraya memberikan sebatang cokelat putih pada Rensuke yang langsung diterimanya dengan senyum terkembang.

"Ikut Ibu ke kamar, yuk." Sakura menggamit tangan anaknya, mengajak pria kecil itu ke kamar dimana bayi tuanya bersembunyi.

Saat kamar itu dibuka, tampak Sasuke yang sedang berbaring memunggungi mereka. Namun Sakura yakin, suaminya ini tidak sedang terlelap. Pria jutek itu cuma melancarkan ngambek no jutsu-nya. Wanita itu duduk di ranjang diikuti Rensuke di sebelahnya.

"Sasuke-kun..." panggilnya pelan.

Tak ada respon.

Sakura memegang pundak suaminya, memajukan kepalanya demi melihat wajah si sleeping handsome menyebalkan itu. "Masih ngambek? Tidak malu dengan Rensuke?"

Sasuke membalikkan badan. Alisnya bertaut serius. "Kenapa membawa Rensuke kemari? Mau mengeroyokiku?"

Sakura memajukan bibir. "Dasar sensitif!" Ia lalu bergerak ke tengah kasur, ikut berbaring, dan merangkul Sasuke dan Rensuke masing-masing di sebelahnya hingga dirinya diapit di tengah ranjang berukuran king-size tersebut sehingga cukup untuk menampung mereka bertiga.

"Maafkan atas kejadian tadi, Sayang-sayangku." Sakura menggenggam tangan suami dan anaknya dengan penuh sayang. "Mereka cuma bercanda. Seharusnya kalian berdua bisa bersahabat dengan mereka."

Sasuke mendecih. "Bersahabat? Dengan Gaara? Lihat tingkahnya tadi. Apa-apaan itu?" tukasnya sebal. Masih bete dengan pertemuannya dengan duo merah tadi.

"Aku tak mau bersahabat dengan Toneri. Dia ingin merebut Ibu," sambung Rensuke merajuk.

Sakura terkikik dengan sikap dua jagoannya ini. Sepertinya Sasuke telah menularkan sifat pencemburu beratnya pada anak mereka. "Mereka cuma menggoda kalian. Cukup tahu satu hal. Cuma kalian berdua yang paling aku sayangi." Sakura mengecup suami dan anaknya secara bergantian "Aku bersedia melakukan apa saja."

"Benarkah? Kalau begitu aku minta koleksi buku baru, Ibu," pinta Rensuke. Matanya mengerjap-ngerjap senang. "Kalau Ayah minta apa?"

Sasuke mengangkat alisnya tampak berpikir, tak lama berselang, sebuah seringai terbentuk di wajahnya. "Mungkin Ayah dan Ibu akan mulai merancang proyek pembuatan Sarada malam ini. Rensuke, kembali ke kamarmu."

Rensuke menurut walaupun ia tak begitu mengerti apa maksud dari perkataan ayahnya. Dengan perlahan ia keluar dari kamar orang tuanya tanpa menyadari bahwa ibunya terancam akan 'diserang' malam ini.

"Kau selalu membuatku kesal, Sakura," bisik Sasuke tepat di sebelah telinga istrinya. "Tapi aku suka. Karena setelah itu aku bisa menghukummu sepuasku."

Bibir Sakura terkulum membuat pria di hadapannya mengernyit bingung. Tumben-tumbennya istrinya tidak melawan saat ia mulai bertingkah mesum seperti ini. Wanita itu malah mengalungkan lengannya di leher Sasuke serta mendekatkan wajah mereka. "Kali ini aku tidak akan berontak," katanya sambil mengecup pipinya Sasuke dengan kilat. "Akan kubayar kekesalanmu hari ini."

Seringai Sasuke makin lebar. "Bersiaplah, Sayang."

Hah... Dan pada akhirnya hari yang melelahkan bagi sepasang ayah dan anak Uchiha itu terbayarkan oleh sebatang cokelat putih dan layanan cinta yang menyenangkan.

OoO


Athor's note :

Nama Toneri hasil nyolong dari film Naruto the last movie. Untuk Tobi, anggep aja bukan Uchiha. Di sini dia cuma sesosok pria aneh yang suka memakai topeng lolipop *digorok Obito. Trus apa lagi ya... Ya sudahlah. Saya ga bisa ngomentarin apa-apa lagi tentang fic ini T_T *ngumpet di jamban.

Balas review non-login dulu.

Guest : Rensuke emang nyeremin kayak bapaknya. Makasih reviewnya ya ;)

Chika Dragneel : Iya Chik *sok akrab. Panggil noa aja. Asal jangan anoa. Baguslah kalau emang ga garing. Yang paling mengkhawatirkan bikin cerita ini kalau readers mukanya malah asem pas baca fic humor saya. Kan ga lucu tuh T_T Karena yang lucu buat saya belum tentu lucu buat orang lain. Makasih reviewnya ya ;)

Zul : Maapin zul. Saya ga maksud bikin kamu kelihatan mesum ;p Ini Rensuke udah lima tahun belum terlalu gede kan. Kalo kamu protes, saya langsung buat Ren jadi kakek-kakek *digampar pake panci XD Makasih reviewnya ya ;) *kedipkedip

Vicko : Hai Vicko. Mudah-mudahan chapter ini masih ada komedinya walau seiprit ya... Makasih reviewnya ;)

Yang log-in, cek pm ya...

Tak lupa makasih buat yang review, fav, atau follow, ataupun yang mau baca :D

Jadi gimana chap ini Minna?

Akhir kata,

Mind to review? ^_^