DIARY OF ONYX AND EMERALD

.

Summary : Sakura ngidam (lagi!)/ "Ngidam atau tidak, aku tidak suka!" /Sekuel of Ujian & Anniversary/1 chapter 1 story/Chap 6. Ngidam (lagi)/

.

.

Special Thanks to :

Caesarpuspita, Hayashi Hana-chan, Ore no Hana, mantika mochi, Fuji Seijuro, NdaYamada, suket alang alang, Heramardian123, Jheinchyeon, Manda Vvidenarint, Imee-chan Uchiha, IndahP, Cherry philein, Haru Sasusaku, YoktfNavy, Shinma hanasaki, Sasara chan, DRIKK, NKN0624, Kuro shiina, Lhylia kiryu, Hanazono yuri, Kazuran, Itousisca, Anggi Cherryblossom, Zul, reader, ave maurie, Wulanz Aihara, Aitara futuharu, coretan Hikari, Mochachocolata, NikeLagi, Azi-chan, Nafidah, Sasusaku, Haruchan, Guest 123, Ichi54n, Nensaku.

.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto.

Saya hanya meminjam karakternya saja tanpa mengambil keuntungan apapun

Chapter 6 : Ngidam (lagi)

Warning : AU, OOC, garing, dan lain sebagainya.

.

.

Langit telah kelam ketika seorang wanita cantik dengan iris hijaunya tengah berdiri di halaman belakang, bersidekap seraya memejamkan kedua mata. Menghirup udara malam yang dingin dalam-dalam. Ia mengelus pelan perutnya yang kian hari kian membesar. Damai.

"Sedang apa?" suara berat itu tiba-tiba terbawa angin, sampai ke telinganya, diikuti lingkaran lengan kekar di tubuh rampingnya. Ia terkekeh geli saat sang pemilik suara menenggelamkan wajah tampannya di leher wanita itu, menyesapi aroma tubuhnya, sambil sesekali nakal menggigit kecil tengkukya.

"Sasuke-kun... Itu geli," tukasnya seraya mencubit pelan tangan suaminya.

Sasuke tersenyum tipis. Dengan hati-hati ia mengeratkan pelukannya agar tak menyakiti wanita beserta bayi dalam kandungannya itu. "Lalu sedang apa di sini?" tanyanya lagi.

"Hanya mencari angin segar sebelum tidur. Tidurlah lebih dulu."

Pria berambut gelap itu meletakkan dagu di pundak istrinya. "Aku akan menemanimu."

Sakura menyelipkan jemarinya di sela-sela jari Sasuke serta menyandarkan diri di dada bidang pria itu. Beberapa tahun menikah tak pernah memudarkan rasa ini. Masih sama ketika awal kisah mereka. Tetap tak berubah. Selalu aman di pelukannya.

"Aku senang kehamilan keduamu tak serepot saat hamil Rensuke dulu." Sasuke berucap lagi. Ia turut memejamkan mata onyxnya. Pikirannya sedikit melayang ke kejadian beberapa tahun silam saat putera pertamanya akan lahir. Tahun-tahun paling membahagiakan sekaligus paling menyiksa di sepanjang hidupnya.

Sakura nyengir lalu membalikkan badan. Mengalungkan kedua lengannya ke leher sang pria. "Semoga saja bayi ini tidak menyiksamu lagi, Sasuke-kun."

"Hn. Kuharap." Sasuke mengelus pipi istrinya lembut dengan punggung jarinya. Kemudian menempelkan dahinya sendiri pada dahi Sakura, membuat wanita itu menutup kedua belah kelopak matanya lagi. Merasakan nafas pria yang paling dicintai menerpa kulitnya. Bungsu Uchiha itupun makin memeluk erat Sakura, mendekatkan wajahnya untuk mengecap manis bibir wanita itu.

"Ayah dan Ibu sedang apa?" Sakura sontak menjauhkan badannya ketika suara khas anaknya tiba-tiba muncul dari belakang. Tampak Rensuke tengah berdiri dengan tampang datar khas bocahnya sedang memegang segelas cokelat hangat di tangan kanannya dan sebuah buku bergambar di tangan kirinya. Sasuke mendengus. Anak sulungnya ini memang terkadang suka merusak suasana. Situasi romantis langsung hancur seketika.

"Kenapa belum tidur, Ren?" tanya pria itu pada pemuda kecil di hadapannya.

"Belum mengantuk. Aku hanya turun untuk mengambil minumanku sampai aku mendapati Ayah dan Ibu berdempetan seperti itu."

"Kami hanya melihat bintang." Sakura menjawab sambil tergagap. Risih karena anak polosnya sendiri nyaris melihat orang tuanya berbuat mesum di taman belakang.

Rensuke menjulurkan kepalanya, menegadah ke atas melihat langit yang gelap. "Mata Ibu sangat tajam. Aku sama sekali tak melihat bintang," katanya. Namun tiba- tiba mata emeraldnya membulat. "Apakah Ayah dan Ibu sedang membuat Sarada lagi?"

Sasuke tersedak. "Kenapa bicara seperti itu? Siapa yang mengajarimu?"

Uchiha junior itu hanya mengangkat bahu. "Kata Paman Kakashi aku harus mengawasi Ayah dan Ibu jangan sampai terlalu sering membuat Sarada. Nanti Ayah bangun kesiangan. Aku juga tak mengerti," ujarnya panjang lebar.

Sasuke memijit pelipisnya. Dasar Kakashi bujang lapuk. Sepertinya ia harus menjauhkan puteranya yang masih suci dari Kakashi sebelum pria berambut silver itu mengontaminasi Rensuke dengan virus gilanya.

Sasuke bergerak maju, berjongkok tepat di hadapan anaknya lalu memegang bahu kecil itu. "Jangan dengarkan kata-kata Kakashi. Dan jangan panggil dia paman. Panggil dia kakek. Dia sudah tua. Paham?"

Rensuke manggut-manggut. Ayah muda itu kemudian mengulas senyum dan mengacak pelan rambut gelap anaknya. "Bagus. Naik ke kamarmu. Tidurlah yang nyenyak," titahnya.

Rensuke mengangguk lagi lalu menggamit tangan Sakura. "Bacakan aku buku sebelum tidur, Ibu," ujarnya sembari mengangkat tangannya sebagai isyarat agar wanita beriris sama seperti dirinya tersebut agar menggendongnya. Sakura tertawa lalu menggendongnya dengan sayang, membuat Sasuke mengangkat alis.

"Manja. Cepat kembalikan Ibumu ke kamar Ayah nanti." Pria Uchiha itu mengecup kepala Rensuke dan Sakura bergantian, lalu menatap punggung istri dan anaknya hingga menghilang dari balik tangga. Sasuke lalu memegang dadanya. Mengapa tiba-tiba sesuatu yang tak enak menyergap hatinya. Perasaan gusar ini seperti tak asing lagi baginya. Sepertinya ia pernah merasakan hal yang sama dulu tetapi ia tak tahu itu apa. Ia pun menarik napas, mencoba mensugesti diri sendiri bahwa tak akan terjadi apa-apa. Sasuke kemudian melenggang ke arah ruang tamu, mengecek beberapa pintu dan jendela, kemudian naik ke kamar pribadinya dengan langkah ringan, tak sadar dengan kemalangan yang sedang mengintainya.

.

.


.

.

Sakura membuka pintu kamar dan pandanganya langsung menangkap sosok seorang pria yang telah dinikahinya tengah tertidur lelap. Wanita itu lalu berjalan dan langsung berbaring tepat di sebelahnya dengan raut wajah cemberut seraya mengelus perut. Sakura membolak-balikkan tubuhnya. Ingin mencoba tidur namun tak bisa. Matanya tak sama sekali tak mau terpejam Perasaan gelisah makin menjadi-jadi. Bulir-bulir kristal beningpun jatuh dan mulai membasahi pipinya.

Sasuke yang sedang terlelap perlahan mulai terbangun saat mendengar isak tangis yang berasal dari wanita yang tengah berbaring memunggunginya. Pria itu kontan membalikkan badan Sakura demi melihatnya langsung. "Ada apa?" tanyanya dengan nada khawatir.

Sakura mengigit bibir. "Aku ingin sesuatu, Sasuke-kun..." ucapnya sambil memegangi perutnya sendiri.

'DEG.'

Sasuke menelan ludah. "Jangan bilang kau... Ngidam?" tanyanya was-was. Berharap dugaannya salah. Bukan apa-apa. Ia jujur sudah trauma dengan selera ngidam istrinya yang abnormal dan nyaris menghilangkan nyawanya. Dengan gugup ia memandang wajah istrinya yang sendu, dan dunia serasa runtuh ketika kepala Sakura mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan tadi. Pantas saja perasaannya sedari tadi tidak enak. Cobaan apa lagi ini Tuhan.

Dosen killer itu lalu mengusap peluh di pelipisnya. "Oke. Kau ingin nasi jollof? Akan kubuat—"

Sakura langsung memotong. "Aku tidak mau nasi jollof!"

"Lalu kau ingin apa?" Sasuke mulai frustasi. Jangan-jangan istrinya ini akan meminta dirinya untuk melompat dari Gunung Fuji atau Tokyo Tower. Atau bahkan memintanya untuk memeluk Orochimaru. Tidak! Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Mengapa di saat-saat genting seperti ini, ia malah mengingat dosen berambut Raisa tersebut.

"Aku ingin beberapa hal. Pertama-tama, aku ingin makan ramen," kata Sakura yang langsung disambut helaan napas lega dari sang Uchiha. "Kalau cuma ramen, di dapur ada."

Wanita itu menggeleng. "Aku tidak ingin ramen instan. Aku ingin ramen yang seperti dijual Paman Teuchi."

Sasuke bersidekap. "Kau tidak pernah membuat ngidammu ini jadi lebih mudah, ya?"

"Jangan salahkan aku," sanggah Sakura.

Pria bersurai raven itu membuang napas. "Baiklah. Tunggu sebentar. Akan kubeli," ujarnya. namun belum sempat ia bangkit, lengannya telah ditahan oleh Sakura. Iris hijaunya menatap Sasuke. "Aku ikut. Aku ingin makan di luar."

Kening Sasuke praktis berkerut. "Lalu siapa yang akan bersama Rensuke di rumah?"

"Kita bawa saja Ren. Besok kan libur." Ucapan istrinya makin membuat pria itu mengernyit. Namun tak urung diikuti juga keinginan Sakura. Ia tak mau ambil resiko cari perkara dengan wanita itu saat hamil. Hormon wanita hamil memang mengerikan. Ia bisa saja di usir ke rumah Kakashi atau Naruto untuk beberapa hari ke depan. Atau yang paling parah, istri tercintanya akan mengeluarkan air matanya yang berharga jika kesal tak dituruti. Dan ia paling benci itu.

"Hn."

Sakura sumringah dan langsung menyambar mantel putihnya lalu melenggang ke luar menuju kamar anak mereka. Membuat sang kepala keluarga yang malang itupun cuma bisa mengelus dada.

Sabar...

.

.


.

.

Entah sudah kesekian kalinya, decakan kesal keluar dari mulut Sasuke. Ia menyetir mobilnya dengan pelan. Hampir setengah jam mereka berkeliling, namun tak ada satupun batang hidung penjual ramen yang terlihat. Paman teuchi sang legenda penjual ramenpun tutup untuk beberapa hari ke depan. Liburan ke Prancis katanya. Ini baru namanya tukang ramen naik pangkat.

"Kita sebenarnya mau ke mana, Ayah?" tanya Rensuke bingung. Dagunya ditopangkan ke tangan dengan bosan.

"Tidur saja kalau kau mengantuk, Sayang," bujuk Sakura. Bocah itu menggeleng dengan tampang cemberut. "Main game saja." Sang Ayah yang sedari tadi diam, menyerahkan ponsel hitamnya kepada Rensuke. Bisa gawat jika putera tampannya ini mengamuk. Masalah ngidam belum kelar, ia tak mau menambah masalah lagi. Bisa mati muda lama-lama.

Sakura mengedarkan pandangan ke arah jalan, lalu berseru tiba-tiba ketika melihat sebuah bangunan warung ramen sederhana tampak masih terbuka. Dengan sigap Sasuke menepikan mobilnya, lalu turun dengan raut muka tak enak menatap warung sederhana yang terletak nyempil di antara bangunan megah di pojokan jalan. Dari tampilan visualnya saja sudah mencurigakan. Tapi sebagai penganut pepatah 'dont judge a book by its cover', ia segera melangkahkan kaki masuk bersama keluarga kecilnya. Tak ada rotan akar pun jadi. Yang penting dapat ramen. Titik.

Dan disinilah mereka sekarang. Duduk manis di hadapan seorang lelaki bermuka abstrak yang sedang menyambut mereka dengan senyum hangat yang membuat langit semakin mendung. Ia mengelap jemari berkuteks hitamnya ke atas apron merah jambu bermotif bunga yang nangkring di tubuhnya. "Halo Pelanggan. Selamat datang," sapanya seramah mungkin. Mata hijaunya berkilat jenaka membuat Sasuke bergidik ngeri. Ramah memang. Kelewat ramah malah. Sama sekali tidak sinkron dengan penampilan fisiknya yang mirip pembunuh bayaran. Dan sangat mengerikan ketika kau bertemu dengan manusia bertampang sangar bertubuh kekar memakai celemek bunga dengan wajah yang sok diimut-imutkan. Demi rambut gondrong Madara, itu menggelikan.

"Mau pesan apa?"

Sasuke menatap malas sang penjual. Sudah jelas ini warung ramen, masa iya pesan pecel lele. "Ramen, tiga," jawabnya sedikit jutek.

Penjual itu terlihat menuliskan sesuatu di notes yang sedang dibawanya. "Tidak sekalian pesan pecel lele?" tawarnya lagi.

Sasuke kontan memijat pelan kepalanya yang mulai berdenyut. Menyesali keputusannya untuk singgah ke tempat ini dan harus menghadapi tingkah penjualnya yang tak normal. Warung ramen macam apa ini.

"Tidak."

"Yosh. Harga per porsi dua ratus ribu."

Sasuke menaikkan alis. "Kau ingin merampok kami?" tanyanya makin jutek.

Penjual itu mengikik seperti kuda. "Tergantung dari sisi mana Tuan melihatnya," tukasnya sembari mengangkat bahu. "Kalau tidak jadi, aku sudah ingin tutup," lanjutnya sok jual mahal.

Manik Emerald Sakura memelas. "Ini saja ya?"

Hidung Sasuke mendengus lagi. Kalau bukan karena sayang istri, tentu saja ia tak sudi berlama-lama bersama perampok berkedok pedagang ini. Sudah aneh, matre pula. "Hn. Kami jadi memesan."

"Oke. Cabenya berapa?"

"Satu."

Penjual manggut-manggut seraya mencatat –entah apa yang dicatat- dalam sebuah note. "Oke. Ramen tiga, cabenya satu." Kemudian dengan terampil si penjual itupun mulai menyiapkan pesanan. Tetapi tiba-tiba ia berhenti lalu memandang keluarga Uchiha secara bergantian.

"Tadi pesan cabenya berapa? Satu?"

"Hn. Satu."

"Masa sih cuma satu?"

"Iya. Cukup satu." jawab Sasuke lagi. Masih dengan sabar, walau jari-jemarinya sudah gatal ingin mencolok biji mata tukang ramen sekaligus tukang cari gara-gara ini.

"Satu ya?" Pria itu bertanya lagi. Sasuke menatap datar sang penjual. Ini orang belum pernah kelilipan golok mungkin. "Situ mau jualan atau ngajak berantem?"

Sang penjual cengengesan. "Mau jualan lah." sahutnya tanpa dosa.

Ia lalu bertanya lagi. "Yakin cuma satu nih?"

Sasuke tak menjawab. Namun ia melayangkan tatapan 'sayang' sembari menyisingkan lengan bajunya. Penjual itu pun tercekat. Merasakan gejala-gejala akan adanya pertumpahan darah di warungnya ia langsung mengkeret. Takut kena tonjok.

"Oh, iya. Satu." penjualnya paham sambil mundur cantik pelan-pelan. Ngeri sendri. Baru kali ini dapat pelanggan bringas.

Sakura menggenggam tangan suaminya dengan halus. "Jangan emosi, Sasuke-kun."

"Biarkan saja," sahutnya singkat. Jika tidak dibegitukan, mungkin penjual itu akan terus bolak-balik menanyainya hingga hari kiamat tiba. Sasuke mulai depresi. Pukul sebelas malam, terdampar di warung ramen jahanam bersama penjualnya yang ramah dan bikin hipertensi, ditemani oleh istri cantiknya yang sedang menyiksanya dengan ngidam anehnya beserta putera semata wayangnya yang mulai rewel karena mengantuk. Sempurna.

Beberapa menit kemudian, tiga mangkok ramen pun telah tersaji di hadapan mereka bertiga. Sasuke meneguk ludah memandang ramen di depannya dengan penuh kecurigaan. Ramen dengan kuah mengepul berwarna merah kental dan mencolok mirip kepala Gaara terpampang nyata di matanya.

"Kau mencampurnya dengan pewarna tekstil?" tanya Sasuke dengan tatapan mengintimidasi agar sang penjual mengaku. Pria itu pernah melihat tayangan di televisi tentang investigasi mengenai penjual bakso boraks yang sedang diwawancarai denggan menggunakan penutup kepala dan suara yang disamarkan sehingga suaranya mirip cicipan ayam. Pasti ini pelakunya. Lihat wajahnya kriminalnya. Mirip pembegal. Jangan-jangan ramennya dicampur dengan daging tikus. Pikiran lebay Sasuke makin menjadi-jadi.

"Sumpah demi dewa jashin-nya Hidan. Ini halal barokah." Penjual bermuka unyu –untuk ukuran kaum selain manusia- yang belakangan diketahui bernama Kakuzu itu mengangakat tangan seraya membentuk jarinya menjadi huruf V. "Trust me," katanya sok english.

"Terus kenapa warnanya begini." Kecurigaannya belum pudar. Penjualnya saja bentuknya abstrak seperti itu, bagaimana dengan ramennya. Pasti lebih berantakan.

Kakuzu memajukan kepala, melihat apa ada yang salah dengan ramen yang disajikan. "Memang begini kok. Kan pakai cabe. Dijamin enak." Kakuzu menggaruk pelipisnya yang kurapan. Tidak mungkin ramen supernya ini berasalah. Menurut lembaga survey nasional, 9 dari 10 orang mengatakan puas dengan ramennya. 9 dari 10 itu adalah keluarganya. Sementara satu orang lagi koma sebelum sempat ditanyai.

Sakura dan Rensuke menatap Sasuke penuh harap. "Kau dulu yg cicipi ya, Sasuke-kun. Kalau aman, baru kami berdua memakannya."

Hidung sasuke reflek kembang kempis. Mengapa selalu dirinya yang jadi tumbal di sini. Mengapa selalu ia yang menjadi pihak yang paling tersakiti di sini. Tidak cukupkah dengan kutukan wajah tampan yang berlebihan ini. Pria itu meronta-ronta dalam hati. Ia berdecak kecal. Namun dengan ketetapan dan ketangguhan hati, ia menganggkat sumpit dengan gagah berani. Sebagai kepala keluarga yang baik dan benar serta berbakti, ia harus menjadi figur ayah yang sempurna dan rela berkorban apa saja. Contohnya ya seperti memakan makanan setan ini.

Ibu dan anak itu berdebar-debar bak melihat terdakwa yang akan dieksekusi mati. Sasuke mengambil sejumput mie dalam mangkok kemudian dengan ragu mulai memasukkannya ke dalam mulut.

'Hap.'

Tampang Sasuke langsung memucat. Meringis. Ingin mencret. Gila! Ini ramen apa racun?! Satu suapan saja sudah mampu untuk mengirim orang ke alam baka.

"Kau bilang cabenya cuma satu!" Tampang Uchiha mulai horror. Awan hitam beserta petir-petirnya menggelayut di atas kepala ayamnya.

"Iya. Memang cuma satu. Satu pohon." Kakuzu masih sempat-sempatnya tersenyum ramah kayak miss universe.

"Sasuke-kun, kau baik-baik saja?" Sakura bertanya pelan melihat air muka suaminya yang sukar diinterpretasikan. Antara marah campur ingin muntah bersatu padu di wajahnya.

Kakuzu sumringah. Menganggap ekspresi gado-gado Sasuke sebagai gambaran hasil luapan kebahagiaan karena telah mencicipi ramen iblisnya. "Bagaimana? Enak kan?"

Sakura memandang aneh Kakuzu. Pria tua ini pantas disebut lubang. Lugu bangsat. Saking polosnya, ia tak bisa membedakan mana wajah gembira, mana wajah sekarat.

Wanita muda itu memegang tangan suaminya. Sedikit menahan agar suaminya tak melakukan aksi nekat nan menantang karena tersulut emosi oleh kelakuan sang tukang ramen. "Sasuke-kun... Jangan mar—"

"Chidori!"

Belum sempat kalimat selesai terucap, sang penjual ramen yang malang (tapi geblek) itu pun terkapar pingsan dengan pose indahnya karena terkena setruman dari kabel korslet yang sengaja di lemparkan Sasuke ke arahnya.

.

.


.

.

"Kau keterlaluan," tegur Sakura saat keluarga kecilnya telah berada dalam perjalanan pulang. Wanita itu melirik pria di sampingnya. Menyetir dengan diam. Masih tampak sisa-sisa kejengkelan dari raut wajah stoicnya. "Kau dengar aku, Sasuke-kun?"

"Kau hampir saja menjadi janda karena makanan neraka itu. Bukan aku yang keterlaluan," sahut Sasuke. Masih dendam atas tragedi ramen barusan. Di spanduknya memang sudah tertulis, 'Ramen pedas, panas, dan ganas'. Sasuke memang sekilas melihatnya. Namun dipikirnya itu cuma tipuan belaka. Biasalah. Tak tik penjual untuk menarik pelanggan maka dibuatlah semboyan yang semenarik dan seunik mungkin. lagipula ia sudah memesan cabe CUMA SATU. maksudnya SATU BIJI. bukan SATU POHON. Memangnya lagi debus. Kenapa tidak sekalian akar, batang, daun, beserta orang yang nanam juga diletakkan dalam mangkok ramennya. Biar ia makan semuanya. Si tukang ramen durjana itu memang pantas di beri pelajaran karena tidak sengaja menyabotase makanannya. Nyawa dosen tertampan se-Konoha ini nyaris melayang hanya karena semangkok ramen.

"Lebih baik kita cari di area—"

Sakura langsung memotong. "Aku sudah tak ingin makan ramen, Sasuke-kun."

"Baguslah. Kalau begitu kita langsung pulang."

"Tidak bisa. Aku kan sudah bilang aku ingin beberapa hal," ujarnya sedikit merajuk. Wajah cantiknya cemberut. Sementara Sasuke hanya bisa menghela napas. Lagi. Sungguh kejam duniamu, nak.

"Jadi mau makan apa sekarang?"

"Kita ke rumah Pein."

Mata Sasuke praktis melebar. Pein? Istrinya ngidam si tukang jagal itu? Pria itu mengernyit tak suka. "Apa bagusnya dia sehingga kau harus ngidam bertemu dengannya?" tanyanya tak terima. Merasa kalah saing.

"Entahlah. Aku cuma ingin menyentuh tindiknya."

Bungsu Uchiha itu mendecih. Ternyata calon anak keduanya ini jauh lebih mengerikan dibanding Rensuke dulu.

"Jangan lama-lama."

"Kau suami terbaik, Sasuke-kun."

.

.


.

.

'TING TONG.'

Pemuda berambut jingga itu berjalan ke arah pintu sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya langsung menyipit heran ketika menangkap tiga sosok anggota keluarga Uchiha yang tengah berdiri tepat di depan pintunya.

"Ada apa kalian berkunjung tengah malam begini?"

Alih-alih menjawab, sang kepala keluarga langsung menerobos masuk, duduk dan menyandarkan diri di sofa. Capek. Ia memberikan isyarat dengan dagunya pada Pein agar mengikutinya duduk. Pein kontan misuh-misuh. Tidak kakak, tidak adik, sama-sama tidak sopan. Bertamu ke rumah orang seenaknya. Gayanya bak tuan rumah pula.

"Istriku sedang ngidam," jelas Sasuke singkat demi melihat tanda tanya yang tersirat di raut wajah Pein.

Pein melongo. "Hah?" Ia masih tak mengerti. Sulit mencerna penjelasan sasuke di tengah rasa kantuk yang masih bersarang di kepalanya. "Terus apa hubungannya denganku?"

Sakura maju dan mendekati dirinya. "Gomen Pein-san. Aku cuma ingin memegang pierching-mu. Boleh ya?"

Pein mengangguk setuju. Meskipun ia masih tak habis pikir dengan selera ngidam Sakura, tapi tetap diiyakan sajalah. Masalahnya ada suami ganasnya di sini yang sedang memandangnya dengan tajam. Berani bilang tidak, mungkin adik Itachi ini akan mencabuti pierching-nya satu persatu dengan paksa.

Bibir tipis Sakura menyunggingkan senyum. Jari lentiknya mulai menyentuh tindikan di wajah Pein. Mula-mula lembut. Tetapi makin lama makin anarkis. Pein berdehem, sedikit khawatir dengan kekuatan moster wanita itu. "Sakura, tindikan di hidungku ini masih sangat rentan. Pelan-pel—"

'Bret.'

"Wow." Sasuke dan Rensuke terpana, terdiam, dan terpaku. Sementara Sakura menatap takjub tindik karatan yang telah berada di tangannya. Selamat tinggal hidung kece Pein. "Pein-san, daijobu desu ka?"

"Aku baik-baik saja." Pein masih mempertahankan tampang coolnya di sela-sela cucuran darah yang terus mengalir dari hidungnya. "Sebaiknya kalian pulang. Aku ingin ke klinik sebelum aku mati kehabisan darah."

"Pein-san biar kami mengantarmu," tawar sakura sembari meringis. Saking gemasnya, tak sengaja ia menarik pierching pemuda itu hingga keluar jalur. Lecet, lecet deh tuh muka. Hilang sudah kegantengan Pein yang sudah ia jaga selama bertahun-tahun.

Sahabat kepompong Itachi itu menggeleng kaku. "Tak apa. Pulanglah."

Sakura membungkukkan badan. Meminta maaf dengan wajah menyesal. "Kami permisi. Cepat sembuh."

Sasuke menggandeng istri dan anaknya keluar dari apartemen Pein. Namun saat di ambang pintu, pria itu berbalik dan menyeringai. "Itu karmamu karena senang menghina orang, Pein. Akhirnya ada yang membuatku senang hari ini. Turut berduka cita atas hidungmu."

"Ayam brengsek."

Dan kemalangan Pein malam itu ditutup oleh tawa puas dari Sasuke. Tamu kurang ajar.

.

.


.

.

Sasuke masuk ke dalam mobil dengan hati riang gembira. Dendam kesumatnya atas Pein yang gemar menghina dirinya terbayarkan sudah pada malam hari ini. Kejam. "Ayo pulang. Tubuhku sudah kedinginan."

"Masih ada satu tujuan lagi, Sasuke-kun."

Alis pria itu bertaut serius. "Ke mana?"

Wanita di sampingnya memainkan jari-jarinya lalu nyengir. Sasuke meliriknya curiga. Indranya langsung mengendus tanda-tanda tak baik dan terkutuk.

"Orochimaru-sensei."

'JDUARRR.'

Orochimaru. Orochimaru. Orochimaru. Orochimaru. Orochimaru. Orochimaru. Orochimaru. Bagai tersambar petir di siang bolong, nama laknat itu terus terngiang-ngiang di telinga Sasuke. Tiba-tiba bayangan orochimaru yang sedang tersenyum manis padanya dengan rambut panjang tergerai menyerang kepalanya. Bulu kuduknya langsung merinding. Pein ini anak dukun santet mungkin. Baru menertawainya saja, sudah terkena sial kronis seperti ini.

"Oro—chimaru yang itu?" tanyanya ragu. Mencoba mengklarifikasi. Berharap yang dimaksud bukan Orochi yang ia kenal. Walau itu sama saja dengan melihat Kakashi insyaf nonton hentai. Mustahil. Berapa nama Orochimaru di Konoha ini. Cuma satu-satunya di dunia ya si titisan ular putih itu.

Anggukan sakura sudah cukup membuat napas Sasuke berhenti sesaat. Dengan kemantapan hati, ia mulai menata puing-puing perasaannya kembali yang luluh lantak seketika karena mendengar nama ghaib Orochimaru.

"Ini yang terakhir kan?"

"Aku janji ini yang terakhir, Sasuke-kun."

"Baiklah.'

Dengan kecepatan super ia menyetir agar cepat tiba di kediaman Orochi yang terhormat dan tak butuh waktu lama mereka sampai dan dengan enggan ia langsung menekan bel kematian tersebut.

'TRING TUNG.'

"Ayah, aku takut," keluh Rensuke. Tangan mungilnya menggenggam erat lengan Sasuke.

"Sabar, Ren. Kuatkan hatimu."

Sakura mengerutkan dahi. "Kenapa kalian berdua sangat berlebihan. Ini cuma Orochimaru-sensei," ucapnya bingung.

'CKLEK.'

Sesosok mistispun hadir ke hadapan mereka bertiga. Dengan surai hitam panjang sepinggang dan piyama berwarna putih polos, Orochimaru sukses membuat jantung Sasuke hampir pindah ke lutut. Horor. Bahkan kuntilanak pun akan lari terbirit-birit jika melihat penampilan Orochimaru saat ini.

"Sensei, boleh kami masuk?"

Dosen ter-angker se-universitas ini mengangkat kedua alisnya. Tampak menimbang-nimbang sesaat sebelum memutuskan untuk mengizinkan keluarga kecil itu agar masuk ke dalam rumahnya.

"Silahkan."

Dan di sinilah mereka. Di ruang tamu bernuansa merah gelap, bunga kamboja terletak di sudut ruangan, alunan musik sedih sayup-sayup terdengar perlahan. Bagus. Sasuke merasa sedang mengikuti uji nyali. Terlebih lagi raja silumannya sudah muncul di hadapan mereka. Mana kamera? Ia ingin segera melambaikan tangan pertanda menyerah.

"Apa urusan kalian bertandang ke mari?" suara seksi Orochimaru memecah keheningan. Ia meneliti Sasuke dari ujung jari kaki hingga ujung rambut buntut ayamnya.

"Istriku sedang... ngidam."

"Hah?" Orochimaru menyipitkan mata ber-eye shadownya. "Apa hubungannya denganku?"

"Sebelumnya aku minta maaf, Sensei. Sebenarnya aku tiba-tiba ngidam ingin... emm.. Ingin... Menciummu..."

"Apa?!" Sasuke menarik lengan istrinya agar menghadap dirinya. "Sakura, ini sudah keterlauan! Kau ingin mencium ular tua ini? Ngidam atau tidak, aku tidak suka!" bentaknya.

"Hoy!" Orochimaru sebagai objek pembicaraan langsung tersinggung. Enak saja mengatainya ular tua. Sudah ular, tua lagi. Kelewatan. Namun ayah muda itu tak ambil pusing. Makan ramen setan Kakuzu, oke, dirinya ikhlas lahir batin. Ke rumah Pein, fine, malah dia gembira saat tindik Pein terlepas dari wajahnya. Tapi ini? Yang benar saja!

"Ayo pulang!" Sasuke berniat menggandeng tangan istrinya jika saja suara isakan tak terdengar dari wanita itu. Sakura menunduk. Telihat gumpalan kristal berkumpul disudut matanya, bersiap untuk jatuh. Pria Uchiha itu kembali duduk seraya mengacak rambutnya. Orochimaru sendiri tampak memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Ikut stres melihat drama pertengkaran suami istri ini. Mengapa dirinya yang lugu ini harus terseret dalam urusan yang bahkan sama sekali tak berhubungan dengannya. Orochimaru geleng-geleng kepala.

"Sudahlah, Sasuke. Kenapa kau berlebihan sekali? Apa salahnya istrimu menciumku? Memangnya aku ini bangkai." Orochimaru mulai mengeluarkan aspirasinya yang sedari tadi terpendam. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Bukan berarti dirinya akan berubah menjadi cinderella. Bukan itu. Tapi pantang bagi anak perjaka seperti dirinya tidur larut malam. Apalagi karena masalah rumah tangga orang lain. Please deh.

"Kalau kau tidak mengizinkan aku mencium Oro-sensei, gantikan aku menciumnya. Baru hatiku tenang."

'DOENG.'

Sasuke Uchiha, sang rupawan dari klan Uchiha yang terhormat mencium Orochimaru. Firaun bisa bangkit lagi kalau itu terjadi.

"Kau ingin membunuhku, Sakura?"

"Maka dari itu, aku sendiri yang akan melakukannya. Anak dalam perut ini yang menginginkannya. Jangan marah padaku."

Sasuke menatap kandungan sakura. 'Durhaka sekali kau, Nak. Bahkan lebih durhaka dibanding kakakmu,' batinnya miris. Ia lalu melirik Rensuke yang sedang asyik bermain game dalam ponsel Sasuke. "Ren?"

Rensuke menoleh. "Ya?"

"Gantikan Ayah mencium Paman Orochimaru."

Uchiha junior itu reflek memasang tampang jijik. "Tidak mau."

Sasuke menepuk jidatnya pelan. Itu kan. Bocah lima tahun saja sudah bisa membedakan mana yang haram, mana yang halal. Sedangkan lubang hidung Orochimaru membesar mendengarnya. Ayah dan anak sama saja.

Karena situasi semakin tidak kondusif, akhirnya dengan keterpaksaan dan keberanian yang sangat besar, ia memutuskan untuk mengalah demi kemaslahatan bersama. Ini benar-benar pengorbanan level tertinggi bagi seorang suami. Sasuke Uchiha akan mencium kening Orochimaru. Romantis.

Ia pun berpindah duduk mendekati Orochimaru yang sedang memasang tampang bete. "Cepatlah Sasuke. Aku benar-benar mengantuk," pintanya tak sabar.

Sasuke mendekatkan wajah ke arah Orochimaru. Namun baru beberapa centi, Sasuke menjauhkan wajahnya lagi. Tak tahan dengan aroma kemenyan dan kembang dari pria berambut indah itu. Ini manusia atau kuburan.

"Tunggu, aku baca doa dulu," kata sasuke yang kontan membuat Orochimaru makin bete.

"Bocah tengil. Kuhitung sampai tiga—"

"Oke. Oke."

Sambil menahan napas, Sasuke dengan cepat mendekatkan wajahnya pada jidat kinclong Orochimaru dan...

'CUP.'

'KLIK.'

"Mana kamar mandi? Aku mau muntah."

.

.


.

.

Sakura meletakkan secangkir teh hangat di meja kecil di samping tempat tidur mereka. Manik hijaunya menatap sedih suaminya yang kini bergelung dalam selimut. Demam. "Sasuke-kun, ini tehmu," katanya sambil membantu pria itu untuk bangun. Sasuke menyeruputnya sedikit, kemudian berbaring lagi.

Sakura menempelkan punggung tangannya ke kening Sasuke. Ia menghela napas. "Pasti karena tadi kau tidak memakai jaket. Udara malam membuatmu sakit."

"Pasti karena tertular Orochimaru. Sudah kuduga dia mengandung virus berbahaya."

Sakura tersenyum sendu. Ia naik ke atas kasur dan ikut berbaring di samping pria bermata kelam itu. Memeluknya dengan erat. "Aku benar-benar minta maaf. Hiks," ujarnya seraya terisak.

"Hey. Jangan menangis, Sakura." Sasuke merubah posisi tidurnya hingga saling berhadapan dengan istrinya. Meletakkan lengannya sebagai bantalan kepala wanita itu, mendekatkan tubuh mereka, dan mengusap air mata yang mulai mengalir di wajah Sakura dengan ibu jarinya. "Aku tidak apa-apa," lanjutnya lagi.

"Aku selalu menyusahkanmu."

Sasuke mengulas senyum kecil kemudian mengecup hidung Sakura. "Sama sekali tidak. Apapun untukmu."

Wanita itu menggigit bibir sembari menatap wajah suaminya yang pucat. "Tapi kau sampai sakit seperti ini."

Sasuke menggeleng perlahan lalu merengkuh tubuh istrinya makin erat. "Asal kau memelukku seperti ini dan mengusap rambutku hingga aku tertidur, aku akan segera sembuh."

Sakura mengangkat kepalanya, mencium kening pria itu dengan mesra, mendekapnya dengan hangat, kemudian mengelus surai hitamnya dengan lembut hingga sang pangeran jatuh terlelap dalam damai.

"Aku mencintaimu, Sasuke-kun. Terima kasih."

OoO


.

Author's note :

Gaje banget. Sumpah. Maafkan baru update sekarang. Sedikit ada urusan yang tidak memungkinkan saya untuk cepat update. Tapi saya betul-betul mengucapkan terima kasih banyak atas review yang masuk. Yang ngasih suntikan semangat biar lanjutin fic XD Saya senang sekali. Juga buat yang tiba-tiba nge-pm nyari saya. udah kayak debt collector aja (Lirik lirik GaemSj) :p.

Maaf baru fic ini yang bisa diupdate. itupun karena habis denger cerita aneh kakak saya tentang temennya yang lagi makan di rumah makan. Saya usahakan buat update fic lain. Pengen publish fic baru juga, tapi baru idenya aja. Eksekusinya belum bisa *ditampol.

Dan maaf sekali lagi *minta maaf mulu. Karena belum bisa ngebales reviewnya satu-satu. Tapi bener-bener makasih loh ya. Kalian luar biasa *pelukpeluk.

Akhir kata,

Thanks a Lot Minna...


Omake :

Mata Sasuke mengerjap-ngerjap saat semburat cahaya keemasan menyentuh wajahnya. Perlahan ia terbangun dan langsung disambut oleh putera sulungnya yang sedang berdiri dan tersenyum manis di tepi jendela. "Ayah sudah sembuh?"

"Masih lemas. Tapi Ayah tak apa-apa, Ren. Mana Ibumu?"

"Di dapur menyiapkan sarapan. Oh ya. Lihat. Aku kemarin memotret Ayah dan Paman Orochimaru menggunakan ponsel Ayah," tukas Rensuke sambil menunjukkan sebuah foto dalam ponsel Sasuke yang kemarin dipinjamkan kepadanya.

Sasuke menajamkan penglihatannya dan hampir pingsan ketika melihat potret romantis antara dirinya yang sedang mencium manja Orochimaru.

"Ren, hapus! Itu aib! Hapus sekarang juga," perintahnya tegas.

Rensuke mengutak-atik ponsel dalam genggamannya dengan wajah serius. "Mana hapusnya?' gumam bocah itu pada diri sendiri. "Ayah, share to twitter ini maksudnya disebarkan?" tanyanya lagi.

Mata Sasuke makin sisa-sisa tenaganya, Sasuke merengsek mendekati anaknya. "Jangan sentuh apapun, Ren." Ia menggapai-gapaikan tangannya untuk mengambil ponsel tersebut. Sedikit lagi... Sedikiiitt lagi... Sediikkiitt lagiiii...

"Yah. Kepencet."

Terlambat. Foto terkutuk itu akan segera tersebar di dunia maya. Hancur sudah masa depannya.

'Bruk.'

Dan Sasuke pun semaput di tempat.

Sungguh kehebohan tak pernah meninggalkan keluarga kecil Uchiha yang manis dan romantis.

OoO