DIARY OF ONYX AND EMERALD

.

Summary : Hanya sekelumit kisah indah seorang dosen killer yang terjebak reuni cantik bersama para murid tersayang hingga menghadapi detik-detik kelahiran sang puteri/Sekuel of Ujian & Anniversary/1 chapter 1 story/Chap 7. Halo Sarada/

.

.

Special Thanks to :

Fuji Seijuro, Sasara-chan, ave maurie, GaemSJ, Nikechaann, Caesarpuspita, Hezlin Cherry, Manda Vvidenarint, uchiharuno35, suket alang alang, Yoktf, Ly Melia, i d r love i m r, ichachan21, Wowwoh Geegee, JheinChyeon, Nurul can, Guest 1, Fellex, Cherry Philein, haruchan, NKN0624, Guest 2, Hayashi Hana-chan, AnGgi Cherryblossom, Guest 3, hanare chan, NdaYamada, sasusaku, an username, guest 123, shivatand, AoRizuki, Lhylia Kiryu, Hanzura96, ramadhani, Nox Atreider, Zulchan, Coretan Hikari, Shasa chan, heramardian123, ariyanata, The Deathstalker, Guest 4, cherryxsasuke, yantif390, sjxjs, Kiki RyuSullChan, Haruno Uchiha, sakura uchiha stivani, LeEdacHi aRdian Lau, Guest 5, DarkCrowds, Jessica d' little angel, chelsea angelika, Aka Midori.

.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto.

Saya hanya meminjam karakternya saja tanpa mengambil keuntungan apapun

Chapter 7 : Halo Sarada

Warning : AU, OOC, garing, dan lain sebagainya.

.

.

Hawa sejuk menyapa tubuh pria muda itu saat dirinya melangkahkan kaki ke arah balkon, membiarkan cahaya lembut keemasan menyentuh setiap jengkal indera perasanya sementara hidung bangirnya menghirup udara segar dalam-dalam. What a lovely monday. Sesekali ia mengusap surainya yang basah lalu meregangkan badan. Pagi-pagi dalam keadaan ganteng bin wangi seperti ini membuat mood dosen galak itu meningkat secara signifikan. Namun tiba-tiba waktu santainya terusik kala dirasakannya hawa-hawa negatif yang berasal dari balik tubuhnya. Tanpa menolehpun ia tahu bahwa ada sesosok mahkluk merah jambu sedang memandangnya dengan pose bak harimau lapar yang tengah mengintai mangsa. Sasuke menelan ludah. Entah kenapa hati kecilnya mengatakan ia harus segera bergegas ke kampus. Menunggu cukup lama akhirnya seulas senyum manis nan manja yang terpatri di wajah cantik wanita itu membuat sang objek yang terus menerus ditatap melirik dengan ujung mata tajamnya. Curiga.

"Kenapa?" tanya Sasuke waspada. Alisnya terangkat heran. Namun alih-alih menjawab, Sakura –istri sekaligus penyiksa suami jika sedang hamil- malah mendekat. Tangan halusnya mengambil alih handuk yang terkalung di leher lelaki kece itu kemudian mengusap helaian rambut hitam Sasuke yang masih lembab.

Sembari nyengir kuda, ia berujar. "Boleh tidak kalau—"

"Tidak boleh." Tanpa basa-basi, kata-kata yang bahkan belum selesai terluncur dari bibirnya langsung dipotong oleh sang lawan bicara yang kini memasang tampang asam seasam ketek Itachi. Perasaan yang mulanya riang gembira berubah menjadi duka nestapa dalam sekejap mata.

"Aku belum selesai bicara, Sasuke-kun."

Sasuke menghela napas. Agak gusar kiranya. "Kau ingin aku mengecup jidat Oro lagi?" tanyanya malas. Pikirannya langsung bernostalgia pada pengalaman terkampret seumur hidupnya yang terjadi beberapa bulan silam. Bagai ditabur garam, luka yang sudah lama ia kubur kini perih kembali. Dosen killer namun kerap tertindas itupun langsung mellow. Auranya berubah gloomy saat dirinya terkenang akan bibir tipisnya kala menyentuh kulit putih mulus Orochi. Ditambah lagi dengan tingkah polos puteranya sendiri yang sukses memperkeruh suasana dengan menyebarkan potret mesra tak senonohnya bersama siluman ular itu ke media sosial yang kontan membuat Universitas Konoha dan sekitarnya gempar dan geger. Sasuke mendengus. Ia teringat memori pahit ketika selama sebulan penuh menjadi bahan gosip panas di kampus. Bahkan mantan gurunya yang ubanan –siapa lagi kalau bukan Kakashi- tega mengeruk keuntungan dengan memalak Sasuke pasca tersebarnya foto-foto hot tersebut. Nista abis.

"Ih... Bukan Sasuke-kun." Sakura mengikik geli seolah-olah ngidam tempo hari tak membuat suaminya sendiri nyaris tewas keracunan kulit Orochimaru. "Aku ingin reunian bersama Ino di cafe pagi ini. Boleh ya?" lanjutnya lagi dengan antusiasme yang berlebihan.

Kening Sasuke berkerut-kerut. "Reuni?" tanyanya tak percaya. "Dua hari yang lalu Ino berkunjung ke mari, apanya yang reuni."

Sakura langsung menggaruk-garuk lengan suaminya dengan gemas. "Boleh ya? Ya? Ya?" bujuknya brutal.

"Ingat kandunganmu." Iris obsidiannya mengarah ke perut Sakura yang besar. "Katakan saja pada Ino untuk datang ke sini." Pria itu meletakkan telunjuknya di dahi lebar istri premannya kemudian berbalik badan, bersiap mangkir dari hadapan wanita hamil ini sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi. "Akan kuhubungi Shizune untuk menemanimu lagi di rumah selama aku di kampus. Jangan coba-coba keluar."

Sakura yang sudah terlatih untuk menghadapai situasi kala suami tersayang ingin minggat jika mendengar keinginan anehnya langsung pasang aksi. Dengan sigap ia memeluk punggung tegap Sasuke dengan gaya seperti penari klub, lalu mengecup perlahan kulit poreselen itu. "Tenang saja, Sasuke-kun. Kandunganku kan kuat. Lagipula ada kau yang menemaniku," rayunya lembut.

Pria itu menoleh. Raut judes terlihat jelas dari roman wajah dinginnya. Bete sumpah. "Aku harus mengajar jam satu," tolaknya langsung. Sangat bukan tipenya untuk ikut nimbrung dalam pembicaraan wanita. Apalagi wanita seperti Sakura dan Ino yang jika bertemu, merk celana dalam tetangga saja bisa menjadi gosip yang menyenangkan.

"Hanya satu jam, Sasuke-kun. Kami sudah merencanakan ini sejak lama."

"Sudah kubilang di rumah saja."

"Dasar pelit. Ino saja didampingi oleh Sai. Tidak malu istrimu yang hamil tua ini pergi tanpa suami di sampingnya?"

Wait... Sai? Jangan katakan si saiur busuk itu ikut juga. Wajah Sasuke makin masam. Bergosip ria bersama Ino saja malas, apalagi ditambah reuni cantik dengan Sai. Sudah cukup ia tersiksa batin bertahun-tahun bertatap muka dengan si mulut tak berperasaan itu. Intinya, no way. Hell no. Nehi. Ogah. Pria itu menggelengkan kepala.

"Tidak."

Simpangan siku-siku mulai muncul di dahi Sakura.

"Kutanya sekali lagi, Sasuke-kun. Kau mau kan?"

Sasuke menyilangkan tangan di dada. Ini saatnya menunjukkan sikap tegas seorang suami sejati demi mempertahankan harkat dan martabatnya sebagai pria Uchiha di depan istri. Dengan penuh wibawa, ia mengangkat dagu sebelum berucap lugas.

"Patuhi perintahku." Tatapannya tajam seperti elang. "Sekali tidak tetap tid—ARRGGHHH!"

.

.


.

.

"Tahu tidak Sasuke-kun. Di mall depan ada diskon untuk pakaian anak lho. Trus bla... bla.. bla..."

Lelaki bersurai kelam itu melirik sejenak ke arah wanita hamil di sebelahnya tanpa sedikitpun memperhatikan kata demi kata ocehan yang keluar darinya. Rasa pedih menggelayuiti lengan dan leher mulusnya yang kini lecet terkena gigitan maut Sakura. Maknyus sekali memang. Serasa digigit king kobra. Entah kutukan apa yang diturunkan oleh Madara sampai-sampai setiap kehamilan yang terjadi pada istrinya akan berdampak buruk pada kelangsungan hidupnya. Pelupuk matanya mulai memanas dan nyaris mengeluarkan kristal bening kesedihan jika saja Sakura tak menegurnya, membuyarkan lamunan absurdnya tentang betapa beratnya beban batin yang harus ia pikul sendirian. Uchiha mulai lebay.

"Kau tak apa-apa, Sasuke-kun?" tanya Sakura khawatir sembari mengelus lembut tangan suaminya yang malang. Sasuke menggeleng pasrah.

Ibu muda itu makin keki. Ia sadar sepenuh jiwa bahwa apa yang ia lakukan adalah hal yang tergolong durhaka untuk ukuran seorang istri. Tetapi apa daya, suami juteknya ini hanya bisa ditaklukan dengan menempuh jalan kekerasan. Toh ia cuma membela hak asasinya sebagai ibu hamil. Batinnya membela diri.

"Maaf ya. Nanti aku traktir jus tomat deh."

Sasuke makin bete. Sudah lecet, perih kena gigit, pembuluh darahnya hampir putus –oke, yang ini dusta-, terpaksa reunian dengan si gila Sai, dan pada akhirnya ia hanya disogok dengan segelas jus tomat. Gila. Murah amat tuh harga diri. Bunuh Sasuke di rawa-rawa, Bang.

"Mau atau tidak, Sasuke-kun?"

"Hn." Ia mengangguk juga. Bukan karena harga dirinya bisa ditukar dengan tomat. Tetapi karena memang tak ada pilihan lain. Mau membantah, bukan cuma jus tomat yang akan melayang, nyawapun bisa melayang.

"Ah... Itu mereka!" Tiba-tiba Sakura menjerit riang lalu berlari-lari kecil ke arah sekelompok mahkluk berkelakuan random yang sedang duduk di sebuah meja besar dalam sebuah cafe yang sekarang tengah mereka masuki. Sementara Sasuke langsung membeku tepat di ambang pintu. Matanya kontan menyipit saat pandangannya bersirobok dengan kepala kuning cerah yang sangat familiar. Ya ampun! Gang Sutarman! Dengan personil lengkap saudara-saudara! Dan apa pula kepala merah tak beralis di sebelahnya yang tengah senyam-senyum sendiri seperti orang kerasukan. Kesialan macam apa ini. Sasuke memutuskan untuk segera melakukan kaki seribu no jutsu (baca : melarikan diri), namun suara ultrasonik berfrekuensi tinggi bagai lumba-lumba milik Naruto menerjang gendang telinganya. Ikhlas tak ikhlas, ia berbalik. Mencoba bersikap normal dan cool layaknya manusia biasa.

"Ah, Sensei. Kami merindukanmu." Dengan penuh nafsu, Naruto merangkul pundak Sasuke dan mendudukannya dengan paksa di sebuah kursi mahoni berukir yang letaknya diapit oleh Sai dan Gaara. Duduk manis di antara dua setan ini tentu saja merupakan posisi yang sangat strategis dan paling berpotensi untuk membuatnya hipertensi. Semoga saja makhluk purba berkelakuan di luar nalar ini tak membuatnya terkena serangan jantung mendadak. Sasuke menarik napas, mencoba menahan diri untuk tidak menjambak bulu hidung Naruto yang dengan tidak sopannya meletakkan pantat seksi Uchihanya di samping pria ber-eye liner tebal yang kini menyambutnya dengan bibir tersungging. "Aku juga merindukanmu Sasuke-san," sapa lelaki itu hangat.

Lubang hidung Sasuke langsung membesar.

"Kenapa kau berada di sini, Gaara-san?"

"Kami semua teman saat di sekolah dulu. Lagipula, Shikamaru adalah kakak iparku." jawabnya seraya melirik Temari dan pria berambut nanas yang sedari zaman hittler pakai popok selalu saja memasang tampang pemabuk.

Sasuke manut dalam hati. Kini terjawab sudah misteri kemalangan dirinya. Ternyata si merah ini adalah salah satu dedengkot geng Sutarman. Pantas sama-sama bikin sial.

"Neji, bagaimana kabarmu bersama gadis dari Iwa itu? Lancar?" tanya Ino mencoba menggoda pria kalem yang sedari tadi asyik menyeruput kopi hitamnya tanpa bicara sepatah katapun.

Masih dengan gaya tenangnya, Neji bersidekap dan menyandarkan diri di kursi. "Kalian para wanita, jangan menjodohkan aku lagi. Aku masih ingin sendiri," putusnya sok tegar. Tiba-tiba terdengar backsound lagu Kunto Aji-Terlalu lama sendiri di belakang Neji.

"Kau ingin menjadi pria single seumur hidup seperti Shino dan Kiba?" Giliran Sakura yang angkat suara. "Ayolah Neji. Kau tampan dan banyak gadis yang menyukaimu." Sasuke reflek melirik ganas istrinya sebelum melemparkan pandangan ke arah Neji. Mengamati sang prodigy Hyuuga dari ujung muka hingga jempol kaki. Sedikit kaget juga menghadapi kenyataan bahwa muridnya yang gondrong itu ternyata seorang jomblo immortal. Tuhan memang adil. Tak selamanya rupawan menjadi jaminan dalam hal percintaan. Lelaki sekelas Lee yang bentuk dan perilakunya abstrak saja telah menikah. Ini baru namanya misteri Illahi.

"Daripada memikirkan pendamping Neji, lebih baik pikirkan kondisimu kehamilanmu, Sakura. Bagaimana bayi di dalam sana?" Gaara menyentuh perut besar wanira bermanik zamrud itu dengan lembut, tak sadar dengan delikan tajam dari bapak-bapak sentimen yang ada di sebelahnya.

"Gaara-san, daripada memikirkan kehamilan istriku, lebih baik pikirkan Neji. Kalian sama-sama single. Lebih baik menikah dengannya daripada mengganggu istri orang." sambar si bapak-bapak tak terima.

Pria bersurai darah itu tampak tak terpengaruh dengan serangan halus tapi mematikan dari Uchiha. Ia hanya memegang dagu dengan polos lalu menarik ujung bibir tipisnya. "Tapi aku lebih suka dengan Sakura."

Counter attack. Ingin rasanya Sasuke mengeluarkan pedang Kusanagi dan menebas rambut klimis belah samping milik Gaara. Sedangkan Naruto malah tertawa kegirangan melihat adegan pertikaian gaje dari dua pria tua tersebut.

"Aku tak menyangka kalian cepat sekali akrab."

Akrab mbahmu! Sasuke merutuk dalam hati seraya memijat kepalanya yang berdenyut hebat akibat berinteraksi dengan sekumpulan lelaki durjana ini. Mengabaikan ucapan Naruto, tangannya terulur meraih segelas jus tomat yang baru saja diletakkan oleh pelayan, menyicipinya sedikit, kemudian mengambil ponsel di saku celananya. Jauh lebih baik berkutat dengan benda mati daripada berbicara dengan sahabat-sahabat laknat istrinya. Lama-lama otaknya bisa diare.

"Jadi bagaimana kabar Orochimaru-sensei, Sensei?"

'JLEB.'

Sebilah golok tak kasat mata bagai menghujam tepat di relung jantungnya ketika seuntai nama cantik itu mengalun indah ke telinganya. Pasti ini ada hubungannya dengan foto aib tempo hari. Bagus. Mulai cari gara-gara lagi rupanya. Baru semenit, ketenangan hidupnya kembali terusik oleh pertanyaan tabu yang paling ia benci setengah mati. Dan jangan tanya siapa yang menanyakan hal terkutuk itu. Tentu saja personil Sutarman yang paling pucat sekaligus yang paling tidak berprikemanusiaan. Ucapkan terima kasih pada Sai.

"Kenapa tanya padaku? Aku bukan ibunya." jawabnya dengan nada santai namun terkesan emosi. Membuat Naruto dan kawan-kawan langsung mengheningkan cipta karena mulai merasakan aura-aura sangar dan berbahaya menguar dari diri mantan guru mereka. Baru mereka sadari bahwa satu nama mistis Orochimaru jika diucapkan di depan Sasuke Uchiha yang sedang sensi, minimal akan membuat mereka masuk ruang ICU. Salah bicara lagi mungkin akan terjadi pembantaian klan Sutarman di tempat ini.

"Oh ya, Naruto. Hinata mana?" Sakura mencoba mendinginkan suasana sebelum suami kecenya itu membacok salah satu sahabatnya. Ia bertanya pada Naruto yang sedang sibuk mencomot strowberry shortcake di atas meja. Pria rubah itu mendongak sembari menggaruk rambutnya yang kini cepak -tak seduren dulu, membuat roman kedewasaan terlihat jelas di rupanya.

"Hinata-chan belum bisa pergi, Sakura-chan. Boruto lagi rewel di rumah."

Sasuke mengernyit. "Apa itu Boruto? Nama peliharaan macam apa itu?"

Putera sulung Minato itu sontak melotot. "Boruto itu anakku, Sensei," sahutnya tak terima. Ia menggembungkan pipi. Enak saja nama keren anaknya dikatai nama peliharaan.

"Kau menamaimu anakmu dengan nama Boruto?" tanya Sasuke takjub. "Beberapa tahun lalu kau menghina nama anakku, dan nama anakmu ternyata jauh lebih parah," ujarnya lagi sambil mendecih.

Naruto menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan seraya memasang wajah songong minta ditabok. Ia terkikik. "No, no, no. Boruto punya makna yang jauhhhh lebih dalam," jelasnya dengan mata berbinar-binar. "Boruto. Bocah Rupawan, Tampan, dan Oke."

Jirrr... Bahkan Sasori yang sejak tadi adem ayem reflek menyemburkan teh panas yang baru saja ia minum tepat ke wajah datar Shino ketika mendengar singkatan konyol nama anak Naruto. Tak habis pikir kenapa para om-om setengah baya ini menamai anak mereka seenak jidat. Dengan singkatan pula. Pertama, Rensuke. Sekarang Boruto. Rusak sudah masa depan mereka.

"Aku tak masalah dengan nama Boruto sampai aku mendengar artinya." komentar Chouji yang diikuti anggukan setuju dari Kiba.

Naruto langsung monyong. Berharap pujian yang datang malah hujatan yang diterima. Sedangkan Sasuke tertawa terbahak-bahak dalam hati. Rasakan itu wahai Narutompel. Itu akibatnya pernah menghina nama puteraku. Inner Sasuke menari-nari.

Sai tersenyum kecil dan menepuk bahu pria blondie itu dengan pelan. "Tenang saja, Naruto. Walaupun sangat aneh seperti Rensuke, nama itu cukup layak untuk manusia."

Sehelai tisu beserta kotaknya pun melayang indah ke arah Sai.

"Jangan bawa-bawa anakku, Siluman," protes Uchiha kesal. Apapun dan siapapun yang menjadi objek pembicaraan, pasti dirinya juga akan ikut-ikutan tersenggol. Sedangkan Naruto makin manyun mendengar ucapan frontal Sai.

"Ngomong-ngomong, kata Gaara bayimu adalah perempuan, Sakura? Kau akan memberikannya nama apa?"

Sakura senyam-senyum sendiri mendengar pertanyaan Temari. Ia memegang perutnya dengan sayang."Begitulah... Rencananya kami akan menamainya Sarada," jawabnya dengan raut wajah berseri-seri.

"Sarada?" Keluarga Uchiha kini bagai miss Indonesia karena semua mata tertuju pada mereka. Sasuke yang masih dongkol soal urusan nama-namaan anak ini langsung pasang kuda-kuda. Siap-siap memeberikan tendangan putar jika ada yang meledek nama pemberiannya lagi. "Apa liat-liat?!" tanyanya galak.

Gaara menggeleng sembari menyunggingkan senyum geli. "Ada apa denganmu, Sasuke-san? Itu nama yang cantik."

Yang lainnya manggut-manggut. Sarada bukan nama yang buruk sebenarnya. Sebenarnya... Jika artinya tak seabsurd Rensuke tentu saja. Dengan hati-hati Naruto buka suara. "Arti Sarada apa?"

Belum sempat Sakura menjawab, suara pemalas milik Shikamaru menyahut. "Jangan katakan 'Sasuke dan Sakura Dilanda Asmara'." Si kepala nanas ini benar-benar minta dipanen rupanya.

"Pfftttt..." Naruto menutup mulutnya sebelum tawa kerasnya membahana ke seluruh ruangan.

"Itu nama atau judul lagu dangdut?" celetuk Sai lugu tanpa peduli akan sosok Sasuke yang mulai berubah menjadi Hulk.

Naruto dan kawan-kawan saling pandang sebelum...

"BWAHAHAHAHAHAH ." Dan tertawa berjamaahlah mereka demi mendengar statement kurang ajar dari Sai. Ajegile. Orang tua mana yang tega memberi nama darah dagingnya sendiri dengan singkatan lebay bin alay seperti itu. Jangan-jangan Sasuke Uchiha, dosen jenius, macho, tapi berhati sensitif ini adalah Caca Handika yang menyamar. Semua anaknya punya singkatan nama yang sangat unyu sekali.

Sakura tertawa pelan, berbanding terbalik dengan sang suami yang tak menampakkan ekspresi sama sekali. Mungkin sedang menimbang-nimbang siapa dari kelompok Sutarman yang akan lebih dulu ia kirim ke rumah sakit.

Di tengah situasi reuni yang semakin memanas, Ino tiba-tiba berdiri. Dengan wajah kesal ia berujar. "Tidak bisakah kalian tenang?!" Lantang ia bersuara. Semua diam. Tak ada yang berani menginterupsi wanita pirang tersebut jika tak ingin berakhir dengan tonjokan di wajah. Ino memang seperti boneka barbie. Tapi akan berubah menjadi boneka annabelle saat marah. Akhirnya situasi kembali kondusif. Sai langsung pura-pura mati. Takut kena gampar istri.

"Kalau tenang kan bagus," lanjutnya lagi sambil tersenyum ceria. Mata azure wanita itu mengerjap senang setelah sebelumnya mencubit 'halus' Sai yang notabene adalah otak pemicu kericuhan. Sementara lelaki pucat itu sendiri telah beristirahat dengan tenang di kursinya dengan tubuh merah, kuning, hijau seperti traffic light. Memar kayak pelangi.

Setelah puas melihat adegan penyiksaan suami yang dilakukan oleh Ino, Sasuke melirik jam di pergelangan tangannya. Tak terasa satu jam sudah ia menyia-nyiakan waktunya yang berharga untuk geng somplak de kampreto ini.

"Aku rasa aku harus pergi. Aku harus mengajar," pamitnya sopan. Meskipun dongkol setengah hidup –dan bahkan ingin menonjok para mantan muridnya yang kurang ajar-, kesantunan ala bangsawan Uchiha harus tetap dijaga. Kurang sempurna apa lagi coba ia sebagai laki-laki (narsisme tingkat kronis detected).

"Yahh..." Sahut Naruto kecewa dengan muka mengenaskan. Cih. Muna abis. Di sini ia bahkan hanya menjadi bulan-bulanan geng sinting mereka. Bola mata Sasuke berputar bosan.

"Ayo, Sakura. Aku akan mengantarmu pulang."

"Tunggu, Sasuke-kun. Nghh... Perutku..." Sakura melenguh kesakitan seraya memegangi perutnya. Sasuke merangkul pundak istrinya, merasakan tubuhya yang bergetar.

"Ada apa?" tanyanya khawatir. Ia terus mengusap pelipis Sakura yang mulai mengeluarkan keringat dingin.

"Kenapa aku seperti merasa deja vu ya," tukas Sasori. Lelaki imut itu menerawang. "Sakura, kandunganmu belum sembilan bulan kan?"

Mata Sasuke kontan membulat sempurna. Mengapa istrinya ini hobi melahirkan di tempat umum. "Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit!"

Semuanya panik namun sigap melakukan tugasnya masing-masing. Naruto, Kiba, dan Shino langsung lari menyiapkan mobil. Ino, Sasori, dan Sai sibuk mengipas-ngipas Sakura. Neji dan Shikamaru bertugas menghubungi rumah sakit. Lee dan Chouji bertugas membayar semua tagihan makanan, sementara Gaara yang selalu tangkas dalam setiap kesempatan langsung mendekat dan akan membantu menggendong Sakura jika saja tak dipelototi oleh Sasuke.

"Aku saja, Gaara-san."

"Tak ada waktu untuk cemburu, Sasuke-san."

'Jleb.'

Maka jadilah Sakura dibopong oleh dua bapak-bapak tukang debat ini.

Sesampainya di luar, Naruto yang telah menunggu langsung membuka pintu mobil sportnya. Sesudah membantu Sakura menaiki mobil, Sasuke berjalan ke arah Naruto yang berada di balik kemudi.

"Biar aku yang mengemudi, Naruto. Kau bawa mobilku."

"Harus ada yang memegangi, Sakura-chan, Sensei."

"Mobil sport cuma untuk dua orang, Dobe." Sasuke mengacak rambutnya gelisah. "Tak adakah dari kalian yang membawa mobil lain?"

Semua menggeleng kecuali Lee. Ia unjuk tangan dengan semangat membara. "Aku tidak membawa mobil sport, Sensei. Aku bawa motor."

"Monyet."

"Sasuke-kun... Sshh..."

Shikamaru mendorong pelan tubuh Sasuke. "Sensei, Tak ada waktu lagi. Pergilah bersama Naruto. Kami akan mengikuti dari belakang."

Mau tak mau, Sasuke langsung melompat dan duduk di belakang mobil Naruto. Memandang aneh penuh kecurigaan pada pria Namikaze di hadapannya yang sedang mengenakan kacamata hitam dengan wajah serius. Dengan tingkah bak pembalap F1, ia memasang seat belt dengan kencang lalu berucap. "Pegangan Sensei."

"Hey, Jangan terlalu ngebut, Baka Naru—"

'BROOMMMMM...'

Bahkan sebelum Sasuke sempat menyelesaikan kalimatnya, dalam hitungan detik, mereka telah melaju meninggalkan gang Sutarman yang menatap kepergian mereka dengan tampang sweatdrop.

.

.


.

.

Kemeja kusut, rambut acak, raut depresi, begitulah interpretasi dari kondisi sang Uchiha sekarang. Dengan cemas ia bolak-balik di depan pintu ruang persalinan rumah sakit bersama Naruto yang selalu setia setiap saat seperti Rexona. Jika tak ingat tentang istrinya yang baru saja mereka antar, ingin rasanya ia mencekik si kepala pirang ini karena telah seenak udelnya ngebut-ngebutan di jalan raya. Memang sangat meringkas waktu namun hampir membuatnya dijemput malaikat maut.

"Sensei, maaf. Tadi hampir terlempar dari mobil ya?" tanya Naruto takut-takut seraya memasang jarak aman. Berjaga-jaga jika dosen galaknya ini akan menghajarnya dengan bangku metal di ujung sana. Saking gugupnya mengendarai mobil, ia sampai tak sadar jika Sasuke nangkring di belakang dan terombang-ambing ke sana ke mari,

Yang ditanya cuma menoleh sebentar, lalu mengarahkan pandangan lagi ke arah pintu ruangan yang tadi dimasuki oleh Sakura. "Hn. Lumayan," jawabnya acuh tak acuh.

"Oy, Naruto!"

"Yang mana suami Nyonya Sakura?"

Bersamaan dengan kedatangan Ino dan yang lainnya, muncul seorang suster berbadan gempal keluar dari ruang persalinan. Sasuke merengsek maju. "Istriku sudah melahirkan?" tanyanya menggebu-gebu.

Si suster menautkan alis. "Memangnya kucing. Hehehe..." Ya Tuhan. Masih sempat-sempatnya bercanda. "Begini Tuan. Istri anda sebentar lagi—"

"Sasuke-san. Temani saja istrimu melahirkan." Dengan semangat 45 Gaara langsung mendorong tubuh Sasuke beserta suster berwajah jenaka tersebut masuk ke dalam ruangan. Ia menyumpahi-nyumpahi duda tak beralis itu karena dirinya nyaris terjungkang dan berpelukan seperti teletubies dengan si suster yang kini menatapnya dengan wajah malu-malu nafsu.

"Ehm... Ya sudahlah. Berhubung anda sudah masuk, pakai pakaian ini, Tuan. Aku hanya menanyakan kesediaan anda untuk ada di sini," tukas sang suster sembari memasang pakaian hijau pada pria di hadapannya.

Sasuke meneguk ludah. Wajahnya pucat pasi. Ini bukan kali pertama istrinya melahirkan. Namun merupakan pengalaman perdana baginya untuk menemani sekaligus menyaksikan secara live seorang wanita melahirkan bayi ke dunia. Ia mengembuskan napas dan mendekati Sakura yang terlihat letih di meja persalinan. Tak ingin terlihat panik, meskipun jantungnya bertalu-talu kencang bak bedug buka puasa, pria itu mengelus surai merah muda sang istri, mencoba menenangkan.

"Aku ada di sini. Jangan khawatir."

"Nyonya Sakura, kita mulai sekarang. Kuatkan diri anda."

"Sasuke-kun. Boleh aku pegang tanganmu?"

"Tentu saja bol—"

'GRAB.'

"—leh."

Sasuke menggigit bibir. Dalam keadaan darurat seperti ini, tak disangkanya power level Sakura ternyata makin membabi buta. Dengan ketegaran hati, ia mencoba tersenyum. "Sudah enakan?"

"Apanya yang enakan? Ini sakit sekali!"

'GRUK.'

"Sakura, tolong tenangkan dirimu. Lama-lama aku yang bisa mati."

'BUK.'

'BAK.'

"Ayo, Nyonya. Sedikit lagi."

'DUAK.'

'TRANG.'

"Sakura, rambutku..."

'DOENG.'

"Duh... Gusti..."

'CTAR.'

'DOR.'

12 cakaran, 7 tamparan, dan 6 gigitan kemudian

"Oeeeeeee..."

Tangisan bayi yang menggema membuat Sasuke menoleh. Hatinya berdegup kencang saat menatap suster gempal yang tengah berjalan ke arahnya. Apakah ini cinta? Tentu saja bukan. Ini adalah perasaan haru seorang ayah.

"Apakah itu anakku?" Ia menunjuk seorang bayi dalam gendongan suster tersebut.

"Tentu saja Tuan." Si suster mendekati pria berkulit putih itu. "Selamat. Kalian memiliki puteri yang sangat cantik."

Dengan mata penuh sinar kebahagiaan, Sasuke memandang bayi mungil itu dengan seulas senyum yang perlahan tapi pasti menghiasi wajah lelahnya. Onyxnya berkaca-kaca. Merasakan dan menyaksikan sendiri proses kelahiran menghadirkan rasa tersendiri bagi pria seperti dirinya. Semua permintaan dan perlakuan atas Sakura terhadapnya ternyata bukan apa-apa dibanding perjuangan istrinya untuk melahirkan buah hati mereka. Dengan lembut ia menyentuh hidung kecil itu lalu mengecupnya perlahan.

"Halo Sarada. Selamat datang, Nak."

.

.


.

.

"Wuah. Dia cantik."

"Jangan terlalu dekat, Tobi. Keponakanku akan tertular virusmu." Itachi mendorong pemuda lolipop di sebelahnya dengan penuh keprotektifan. Menjaga sang puteri kecil dari jangkauan orang-orang bermuka mesum seperti teman-temannya.

Pein mengamati bayi yang berada dalam gendongan ibunya dengan rasa penasaran. "Kalian harus berterima kasih padaku. Kalian telah mengorbankan hidungku saat mengandung Sarada. Itu yang membuatnya cantik," komentar pemuda berambut jingga itu tak nyambung. Apa hubungannya pierching karatan dengan wajah Sarada. Kadang si tukang begal ini bodohnya unlimited.

"Tapi dari Rensuke sampai Sarada, selalu saja lebih mirip denganmu, Otouto," ucap Itachi seraya terkekeh saat keponakan kecilnya menggenggam telunjuknya dengan pelan. "Bahkan dalam hal membuat anak, kau sangat egois."

Deidara sontak tertawa. "Tapi lihat rambutnya. Indah sekali seperti Orochimaru." Celetukan Dei membuat Tobi langsung menyentuh helaian surai tipis Sarada dengan seksama, kemudian terpingkal-terpingkal. "Ah... Benar. Kalian membuat Sarada secara gotong royong ya?"

"Jangan sampai aku melemparmu dari lantai tiga, Tobi." Sasuke menyandarkan diri ke sofa yang ia duduki. Memutuskan untuk tak terlalu menggubris segala macam tetek bengek yang keluar dari geng yang diketuai oleh kakaknya si keriput-man ini. Ia sudah menghabiskan separuh tenaganya untuk menghadapi geng Sutarman saat mereka berkunjung kemarin. Cukup sudah. Orang tampan pun butuh istirahat.

"Pulanglah, Itachi. Anak dan istriku ingin tidur."

"Oh... So sweet..."

Awan hitam menggelayut di atas kepala Sasuke.

"Oke... Oke... Kami pulang. Cepat Itachi. " Pein buru-buru menarik lengan Itachi sebelum adik bungsu sahabat sehatinya itu kehilangan kesabaran dan mencederai hidungnya lagi. Trauma berkepanjangan sepertinya.

"Baiklah... Paman pulang dulu ya, Sara." Itachi menciumi Sarada dengan gemas. "Kami pulang ya, Sakura, Otouto. Ayah, Ibu, dan Rensuke akan pulang besok pagi. Tunggu saja," pamit pria itu diiringi lambaian tangan dari Deidara dan Tobi.

Setelah memastikan para tamu tak diundangnya telah pergi, Sasuke mengambil alih puterinya dari gendongan Sakura lalu meletakkannya di keranjang khusus bayi berwarna merah jambu yang berada tak jauh dari ranjang istrinya. Ayah muda itu melangkahkan kaki dan duduk di tepi ranjang sambil membelai kepala wanita itu.

"Sebelum tidur, ingin kuambilkan sesuatu? Makanan? Atau apa?"

Sakura menggeleng dan menepuk area kosong di sampingnya, memberi isyarat agar sang suami lebih mendekat lagi. "Tidak usah repot-repot, Sasuke-kun. Kau pasti lelah. Istirahatlah."

Sasuke mendekat, berbaring tepat di sebelah Sakura kemudian merengkuh istrinya dengan sayang. "Kau yakin tak ingin apa-apa?"

"Aku yakin. Ada apa?"

Pria itu mengangkat bahu. "Tidak ada apa-apa. Aku cuma..." Saat-saat persalinan kembali berputar di kepalanya. Ia tersenyum kecil. "Kau sangat kuat... Terima kasih." Jarinya menyentuh dahi wanita yang telah dinikahinya selama bertahun-tahun. Yang telah membangun bahtera bersamanya. Yang telah memberikannya anugerah dua Uchiha junior yang sangat ia sayangi. Tiba-tiba secuil perasaan bersalah menyeruak di balik dadanya. "Maaf baru menyadarinya ketika menemanimu di ruang persalinan. Aku bisa ikut merasakan kesakitanmu."

Sakura cekikikan. "Tentu saja kau merasa sakit. Aku mencakarmu sepanjang waktu saat melahirkan. Maafkan aku."

"Itu bukan apa-apa." Sasuke mengecup dahi istrinya sebelum berujar lagi. "Tidurlah. Aku akan menjagamu—"

"Hmm..." Sakura menyamankan tubuhnya dalam pelukan Sasuke yang hangat. Dan akhirnya emerald itu pun terpejam dengan tenteram, siap berlayar ke alam mimpi ditemani oleh sentuhan dan usapan lembut dari suami tersayang,

"—selalu. Aku mencintaimu."

OoO


.

Authors note :

Uhuk... Tes 1, 2, 3...

Pertama-tama saya ucapkan terima kas—DORRR *ditembak readers

Halooo... Setelah beberapa bulan, saya kembali lagi *tebar confetti

Dari beberapa fanfic yang sementara ini masih dalam proses pembuatan (dan ujung-ujungnya selalu mentok), akhirnya setelah bersimbah keringat dan air mata, chapter ini berhasil saya selesaikan dengan tidak baik, garing, romance nanggung, dsb... Tapi saya cukup lega juga bisa kelarin 1 chapter ini. Harap utk fanfic lain, sabar menunggu ya *siapa juga yang mau nunggu T_T

Maaf karena belum bisa ngebales review satu persatu. Tapi ga bosen-bosennya sy ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk yang mau baca, yang mau follow, yang mau memfavoritkan fic ini, dan terutama bagi Reviewers yang mau repot-repot meninggalkan jejaknya di kolom review. Kisshug untuk kalian. Kalian penyemangat saya :"D

Jadi gimana dengan Chap ini?

Akhir kata,

Mind to Review ^_^?