LOVE ME UNTIL IT KILL ME, MY EMPRESS
Kuroko no Basuke milik Tadatoshi Fujimaki
Rate : T+ maybe buat chapter ini? Atau mungkin T?
Genre : secara keseluruhan romance
GJ,TYPO,OOC,dsb. DLDR `kay?!
Btw, ini sih pake OC. Tapi kalo mau diganti sama reader juga boleh kok~ ^^
ENJOY READING~~
Ariana's / reader's POV:
Aku duduk terdiam di atas tempat tidur. Aku mengamati keadaan kamar yang sedang kutempati ini. Tempat yang asing bagiku. Aku jadi teringat kejadian tadi siang.
Aku menyanggupi tawarannya. Ku lihat dia tersenyum senang. Dia segera memerintahkan pengawalnya untuk membebaskan rakyatku serta keluargaku dan mengutus orangnya untuk menawarkan perjanjian damai dengan kerajaan Rakuzan. Dan hari itu juga, utusan itu datang membawa persetujuan damai.
Ku dengar pintu terbuka dan sinar bulan yang menerangi kamar gelap ini, membantuku untuk melihat siapa yang memasuki kamar ini.
Hanamiya Makoto.
"Selamat malam istriku." Dia berjalan mendekati tempat tidur yang kutempati. "Bagaimana kabarmu? Pasti kau sangat senangkan, bisa menyelamatkan rakyat dan juga keluargamu?" dia duduk di tepi tempat tidur.
"Besok kita akan melaksanakan upacara pernikahannya dear. Dan kau akan menjadi milikku," dia memberi jeda sebentar pada kalimatnya. "Seutuhnya."
Dan diapun kembali melumat bibirku, seperti yang tadi dia lakukan di mansionku. Aku hanya menurut ketika dia memasukkan lidahnya ke rongga mulutku. Dan terima kasih akibat ciuman itu, aku kembali tersadar dari rasa shocku. Aku segera mendorongnya menjauh sekuat tenaga. Tapi sia-sia. Ciuman itu seperti menyerap semua tenagaku.
Dia pun melepaskan ciuman kami untuk mengambil nafas. Aku menatapnya tajam.
"Sepertinya kau sudah sadar." Dia pun tersenyum penuh maksud. Dia kemudian membelai pipiku pelan dan segera ku tepis. "Jaga kelakuanmu nona, atau kau tahu apa yang akan terjadi." Ucapnya sebelum pergi meninggalkanku sendirian di kamar yang gelap ini.
Karena aku sudah sadar dari shocku, aku memutuskan untuk memikirkan langkah selanjutnya. Besok aku akan menikah. Tapi sebelumnya aku.. aku sudah ditunangkan dengan Akashi denka! Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi dengan keluargaku? Aduh.. satu masalah belum selesai, sudah muncul masalah lagi.
Berarti jika aku memilih salah satu dari mereka, akibatnya juga sama saja. Tapi kalau aku menikahi Akashi denka, keluargaku mungkin akan mendapatkan suatu keuntungan. Entah kenapa. Firasatku yang bilang begitu.
Berarti aku harus pergi dari sini.
Bagaimana aku bisa pergi dari sini?
Dengan menyingkirkan Hanamiya.
Bagaimana aku menyingkirkan Hanamiya?
Dan aku tahu cara agar aku bisa keluar dari sini.
... Esoknya...
Hari ini, hari pernikahan ku. Aku sudah siap dengan gaun putih khas pernikahan yang melekat di tubuhku. Hmm, ntah kenapa aku merasa sangat sedih. Dan entah kenapa aku memikirkan apa yang akan dilakukan Akashi denka jika mengetahui tunangannya terpaksa harus menikahi orang lain. Dan itu membuatku semakin sedih.
Eh? Buat apa aku memikirkan pangeran mesum itu?! Lebih baik aku berkonsentrasi menjalankan rencanaku malam nanti.
"Ano, bolehkah aku melihat kamar pengantinnya?" tanyaku pada salah satu maid menemaniku di kamar sebelum prosesi pernikahan dimulai. Maid itu tersenyum penuh makna padaku. "Ojou-sama sudah tidak sabar ternyata~~ Hanamiya-sama pasti senang sekali nanti malam." aku menatapnya sambil tersenyum kikuk, tidak mengerti maksudnya.
"Jadi kamarnya dimana?" aku mengulang pertanyaanku. Maid itu menunduk, meminta maaf. "Gomennasai ojou-sama. Kami tidak diperbolehkan untuk memberitahu ojou-sama letak kamar pengantin."aku menghela nafas. Ternyata memang tidak boleh ya? Hmm, aku jadi penasaran tempatnya seperti apa. Aku berharap tempat nya nanti mendukung- sangat mendukung rencana ku.
Aku kembali menuju kamar ku. Duduk di depan meja rias. Menatap diriku yang berbalut baju pengantin ini dengan tatapan kosong. Aku berharap, setelah kejadian hari ini, aku tidak mengalami gangguan mental. Serta aku ingin berharap, tidak terlalu banyak. Aku berharap Akashi denka mau menerimaku dan menikahiku, dengan lapang hati.
Aku tersenyum, dengan mata kosongku. Mungkin ini terakhir kalinya untuk sekian lama lagi, aku melihat diriku yang suci. Meskipun tidak terlalu suci dalam artian tertentu. See you, Ariana Blackrose.
Tok tok tok
Ku dengar ada yang mengetuk pintu. Kalau begitu sebaiknya aku segera bersiap-siap. "Masuk!" aku menyuruh maid itu untuk masuk.
"Ojou sama, sudah waktunya." Aku menghela nafas. Baiklah mari kita mulai rencana ini.
Aku diantar kesebuah ruangan tempat pernikahan berlangsung. Di dalam sana, terdapat tidak terlalu banyak orang. Sepertinya hanya bangsawan dari kerajaan ini yang diundang. Aku berjalan mendekati altar dengan tempo yang tidak terlalu cepat. Di sana, sudah menunggu seorang pendeta dan Hanamiya yang tersenyum. Merinding aku dibuatnya.
Dan kami pun menjalankan upacara ini dengan lancar. Meskipun aku berharap sebalikanya. Setelah itu, aku dan Hanamiya berjalan berkeliling sambil berbincang dengan bangsawan yang kami temui.
"Hanamiya joou, selamat atas pernikahan anda. Sekarang Hanamiya heika sudah tidak terpuruk lagi. Terima kasih Hanamiya Ariana joou!" ucap salah satu bangsawan yang kami temui sambil menunduk dalam. aku hanya tersenyum. Dengan paksa.
Kami pun meninggalkannya. Dan kurasakan tangan Hanamiya menggenggam ku erat. "Panggil aku Makoto." Aku hanya mengangguk tidak peduli.
Setelah beberapa lama berada di pesta itu, Hana-Makoto mengajakku ke sebuah rumah yang terletak agak jauh dari gedung utama. "Untuk apa kita kesini?" tanyaku. Dia hanya tersenyum misterius. Di rumah itu kami naik kereta kuda.
"Hei Hana-Makoto! Kita mau kemana?" tanyaku untuk kedua kalinya. Dia melirikku sebentar. "Kau akan tahu nanti." Jawabannya itu, menambah rasa ke khawatiranku. "Lebih baik kau tidur dulu saja." Dia menyuruhku tidur. Tidur saat bersama dia? Berarti aku tidur di liang buaya. Tapi pada akhirnya aku pun tertidur.
Hari sudah beranjak malam ketika kami sampai di tempat tujuan. Ternyata kami pergi ke sebuah villa. Dan menurutku villa ini terletak sangat jauh dari istana. Di luar kerajaan kah? Tapi dimana ini? Ah sudahlah. Lebih baik aku masuk saja dulu.
"Makoto, ini dimana?" aku kembali bertanya. "Kau tidak perlu tahu ini dimana. Sebaiknya kau bersiap-siap saja untuk malam ini." Dia pun menghilang di ujung koridor. Aku beranjak dari pintu dan berjalan melewati lorong-lorong. Ku lihat villa ini terawat dengan baik. Bunga mawar putih menghiasi lorong tersebut. Lukisan-lukisan di dinding tampak dibersihkan setiap hari. Aku menyentuh permukaan meja. Tidak ada debu yang menempel di jariku. Lumayan.
Aku bertanya di mana letak kamarku kepada salah satu maid di sana. Mereka pun menuntunku ke kamar ku. Kamar yang tidak terlalu besar bagi seorang raja, tapi tetap terasa nyaman. Warna hijau dan putih mendominasi kamar itu. Aku melihat keluar dari jendela yang ukurannya hampir sebesar pintu. Aku pun membuka lemari besar, dan mengambil pakaian yang disediakan untukku. Masuk ke dalam kamar mandi yang bersih menurutku.
Karena memang hari sudah beranjak malam, aku segera membersihkan diri. Menikmati sensasi air hangat, merasakan busa-busa yang lembut yang sangat banyak, bahkan hampir menutupi seluruh permukaan bak mandi. Mencuci rambutku dan hal-hal kecil lainnya yang mungkin tidak akan kurasakan lagi.
Setelah selesai mandi, aku pergi ke kamar untuk mengganti pakaian ku. Kupilih dress untuk tidur putih ¾. Untuk luarannya, aku menggunakan mantel dari kain katun. Untuk menutupi lengan dan menghangatkan diri. Rambut ku biarkan tergerai, karena memang masih agak basah setelah mandi tadi. Setelah siap, aku pun keluar menuju ruang makan.
Di sana sudah menunggu Makoto. Aku menatapnya tajam, dan dia hanya tersenyum seribu makna. Kami pun makan malam dalam diam. Dan setelah dia selesai, dia pergi meniggalkan ku sendiri di ruangan itu. Sambil berlalu, dia berkata seakan berbisik, tapi cukup terdengar olehku. "Sampai bertemu nanti malam, Ana."
Aku segera menghabiskan makan malamku dan pergi menjelajah villa yang seperti nya sangat jarang Makoto datangi. Dan entah kenapa kaki ini membawaku kepada pintu paling ujung.
Ketika aku membuka pintu yang palling ujung itu, deretan rak-rak buku yang terawat menyambut ku. Di tengah-tengah nya, terdapat sofa panjang berwarna hijau dengan meja kecil di sebelahnya. Karpetnya terbuat dari harimu putih yang sudah dikuliti.
Aku menyapu rak-rak buku yang disusun mengelilingi sofa. Dan mataku terhenti pada sebuah buku tebal yang terletak diantara buku-buku sejarah. Aku mengmbilnya. Tidak ada judulnya. Aku pun membuka buku itu, kemudian membacanya.
Raja Hanamiya I diangkat menggantikan kakaknya, Raja Himuro IV, yang mati akibat jatuh dari jurang. Dan sejak meninggalnya ayahnya itu, Pangeran Tatsuya dikabarkan menghilang bersama Mibuchi Reo.
Oo, begitu. Baru tahu aku. Aku pun hendak melanjutkan membacanya lagi, tetapi ada sebuah tangan yang menutup buku itu. Aku pun menoleh, menatap orang yang menggangguku.
Makoto.
"Apa maumu?" aku mendesis tidak suka padanya karena telah mengganggu acara membaca ku.
"Aku hanya ingin mengajak istri ku untuk tidur kok." Dia tersenyum. Senyum busuk untuk menutupi maksud terselubungnya.
"Ha? Kita kan baru selesai makan? Nggak, nanti dulu aku tidurnya. Mending kamu duluan saja deh tidurnya." Iya, biar mempermudahkan aku nantinya.
"Hem begitukah?" dia pun segera menggendongku ala bridal style. Aku pun mendelik. Kaget dengan apa yang akan ia lakukan.
.
Dia pun menjatuhkan ku di kasur ukuran king sizenya dengan kasar.
"Hei!" aku proses atas perlakuannya yang kasar. Dia menindihku.
"Ariana" dia memanggil namaku dengan nada yang menjijikkan menurutku. "Sudah lama aku memimpikan, membayangkan first night ini bersamamu."
Cuping telingaku dijilatnya. Iuwh, jijik rasanya.
Oke, sepertinya sebentar lagi waktunya.
Dan, wait. Tadi dia bilang apa? Memimpikan dan membayangkan first night ini bersamaku?
Orang ini.. hanya memikirkan nafsu.
Tidak pantas jadi raja.
Tangannya mulai mengusap lembut kepalaku, turun ke leherku, dan agak menyentuh dadaku. Turun ke pinggang kemudian ke pahaku. Sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk menumpu badannya agar tidak menindihku.
Oke, cu-
"Ariana, kau kira aku tidak tahu bahwa kau menyimpan pisau di pahamu?"
Ha? HAH? Oh, crap! My only weapon!
Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahku. Mataku membulat. Ku lihat dia membuang pisau itu ke dekat jendela.
"Nah, sekarang kita bisa menikmati first night kita tanpa pertumpahan darah. Meskipun mungkin nanti akan ada sedikit bercak darah! Hahahahaha!"
Dia pun mencium bibirku dengan kasar. Nafsu sudah menguasai dirinya.
Tidak ada kita.
Bibirnya menjilat bibir bawahku, meminta ku untuk membuka mulut. Enak saja. Tapi dia mengelus dengan lembut dadaku, sehingga reflek membuatku membuka mulutku.
Sialan! Berani sekali dia menyentuhku!
Lidahnya pun memasuki rongga mulutku, menjilati setiap sudut dari mulutku. Tangannya juga sudah mulai bertindak, tapi tentu saja aku tahan.
Enough.
Ku gigit lidah pria brengsek itu hingga berdarah. Bagus, dia melepaskan ciuman kami.
Tidak kehilangan momen, aku pun memukul perutnya dan kemudian wajahnya dengan tanganku yang masih terbebas, sehingga ia terhempas jatuh dari tempat tidur. Dan syukurlah, ia tidak terhempas ke tempat dimana pisauku jatuh.
Aku segera turun dari tempat tidur dan mengambil pisauku kembali.
"Ana"
Berhenti memanggilku begitu. Seharusnya kau memanggilku Lady Ariana.
"Kau tidak berniat membunuhku kan?" Kau pikir?
Dia berjalan mendekatiku, mendekat, mendekat, hingga tersisa jarak 2 meter antara aku dengannya.
"Kalau kau membunuhku, kau akan menjadi seorang pembunuh." Hei, keluargaku sudah menjadi pembunuh. Dan aku juga sudah membunuh pengawal bejat pada umur 11 tahun.
"Kau akan menyesal." Kau juga akan menyesal jika mengetahui aku sudah bertunangan dengan Akashi denka.
Oke sekarang saatnya membuang semua penyesalan itu. Aku tidak boleh menyesal setelah melakukan hal ini.
Pembunuh.
Eh?
Seorang lady tapi tingkahnya seperti itu, memalukan!
Hm? Kenapa ini?
Kamu sudah membunuh kekasihku! Perempuan sialan!
Kenapa dengan pikiranku?
Pembunuh. Kamu sudah tidak suci lagi. Karena kamu pembunuh.
Diam.
Oh Lady Blackrose ya? Dia sudah menjadi pembunuh kan waktu kecil.
Diam!
Aku heran kenapa bayak yang terpesona olehnya. Padahal dia kan sudah menjadi seorang pembunuh. Mungkin dia merayu mereka ya? Ahahaha!
DIAM!
Apakah kau yakin?
"Aku yakin."
Benar,
"Aku akan membunuhmu. Aku tidak takut untuk membunuhmu."
Karena,
"Aku adalah pembunuh. Aku sudah menjadi pembunuh dari kecil. Nenek moyangku adalah pembunuh. Tidak ada yang perlu ditakutkan."
Aku mengarahkan pisau digenggamanku ini ke jantungnya, menusuknya. Tapi sialnya, pisau indah ini, berhasil ditahan oleh nya.
Darah mengalir dari tangannya.
Tidak sampai disitu. Aku ingin keluar dari sini dengan tanpa lecet yang tidak bisa hilang seumur hidup!
Ku tendang perutnya sehinga tangannya terlepas dan dia pun membungkuk, reflek karena perutnya ku tendang.
Crash!
Pisau ku kini berhasil menembus jantungnya. Dia pun jatuh dan menimpaku.
Tidak! Apa yang sudah kau lakukan?! Kau membunuhnya!
"Oh, tidak. Tidak tidak tidak! Apa yang sudah ku lakukan?! Aduh! Makoto!"
Air mata ku pun tumpah dengan sendirinya.
Seperti nya aku tidak bisa untuk tidak menyesal ketika aku sudah membunuh orang.
Apa yang sudah ku lakukan?! Ya ampun! Aku membunuh orang lagi!
"Ternyata kamu memang benar-benar tidak mau bersama ku ya?"
"Aku memang tidak mau bersamamu. Kau sudah menyandera rakyatku! Karena sifatmu yang begitu possesive, aku jadi membencimu! Tapi kini aku membunuhmu! Kenapa rasanya begitu sakit?! Makoto! Aku benci padamu! Tapi maafkan aku! Maaf! Maafkan aku!"
"Shih shih. Jangan begitu. Ini memang salahku juga karena memaksamu. Aku sudah hendak pergi, jadi.. berbahagialah dengan Akashi. Dan satu lagi.."
Dia mengulum bibirku dengan lembut. Tidak seperti tadi. Ciuman kali ini benar-benar seperti menceritakan atau mengatakan sesuatu.. seperti,
"Dan aku mencintaimu Ariana, selalu." Bisiknya di telingaku sebelum dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Seperti dia menyatakan perasaannya padaku..
Dan bagaimana bisa kau menyuruh seorang yang kau cintai berbahagia dengan orang lain?!
'Seharusnya kau menaklukkan hatiku! Bukan menaklukkan wilayah ku serta menyandera rakyatku bodoh!'
Maafkan aku Makoto, maafkan aku.
Air mataku tidak bisa berhenti mengalir.
Bodohnya kau Ariana! Ariana bodoh!
Kau tahu kau membenci Makoto karena pemerintahannya yang semena mena!
Kau membencinya karena itu!
Tapi ketika kau menjadi ratunya nanti kau bisa memperbaiki pemerintahannya itu!
Tidak perlu membunuhnya!
Aku pun berusaha membopong tubuhnya yang lebih berat ke atas tempat tidur. Membaringkannya, menyelimutinya, menutup matanya yang masih setengah terbuka, kemudian..
Mencium keningnya.
Setidaknya inilah hal terakhir yang bisa kulakukan untuk orang yang sudah berkerja keras untuk menjadikan ku ratunya.
Terima kasih, tapi maaf. Sepertinya aku menyukai orang lain Makoto.
Tunggu.
Tunggu dulu. Masih ada yang bisa ku lakukan.
Aku bisa membangun kembali sistem pemerintahannya! Tapi bukan aku sebagai ratunya tapi,
Himuro sebagai rajanya.
Oke! Aku akan menemukannya dan menjadikannya raja!
Aku pun menatap kembali wajah Makoto yang damai, menyeka air mata ku, kemudian tersenyum dan mengelus lembut surai hitamnya.
"Jangan khawatir, kerajaanmu akan kurawat. Tolong terima sebagai permintaan maafku ya?"
Baiklah ini waktunya untuk pergi.
.
.
.
Selamat tinggal Makoto.
Author's point of view:
Ariana memacu kuda yang ia dapatkan secara diam-diam dengan cepat. Menuju ke perkampungan kumuh, tempat para penyamun bersarang. Dan masuk ke dalam sebuah bar.
Bar yang paling ramai akan pengunjung dan tentu saja,
Penjahat.
Pembunuh.
Pencuri.
Dan sebangsanya.
Ariana pun duduk di kursi kosong dimeja bartender.
"Good night, miss. What can I do for you?" seorang bartender berambut hitam, berbulu mata lentik bertanya pada Ariana.
"I am looking for Himuro Tatsuya and Mibuchi Reo. Do you know them? And sorry I didn't bring some money with me."
Seketika raut wajah bartender itu berubah menjadi lebih serius.
"Do you want to meet them? Why?" bartender itu menyiapkan segelas cocktail dan memberikannya pada Ariana. "My treat."
"Oh, and I won't tell anyone. Don't worry." Tambah bartender itu.
Senyum tipis tercipta di wajah cantik Ariana.
"Well, I want to make Himuro Tatsuya The King of Kirisaki Daichi."
Senyum yang mempesona terbentuk diwajah bartender.
"If you want to meet them, wait here for 30 minutes." Kemudian bartender itu berteriak keras-keras, memberi pengumuman tentang ditutupnya bar 15 menit lagi.
Banyak yang mengaduh kecewa. Sambil menunggu bar ini tutup, Ariana berusaha menghabiskan cocktail itu pelan-pelan. Yah, karena dia tidak kuat minum alkohol.
.
15 menit kemudian..
.
Ariana baru meminum 1/10 gelas cocktail, tetapi kepalanya sudah agak pusing. Dan akhirnya bar itu pun sudah sepi. Ternyata bartender itu pergi memanggil seseorang dan waktu dibutuhkan dari sini kesana dan sana ke sini nya membutuhkan waktu 15 menit.
Hmm, ia memperhatikan seorang petugas kebersihan yang membersihkan tempat ini.
Ketika bartender itu pergi keluar, ia mulai bekerja. Dan ketika bartender itu datang, pekerjaannya selesai. Ooh, ternyata 15 menit sisanya itu untuk membersihkan tempat ini..
"Maaf membuatmu menunggu terlalu lama." Ucap sang bartender itu. "Name is Reo as Robin. Call me Robin. And he is Prince Himuro as Arkin. Call him Arkin."
"Hello miss.." laki-laki yang matanya tertutup satu akibat poninya itu menunduk hormat, memberi salam.
"Ariana Blackrose as Admirasilber. Call me Silber, or whatever except Ariana Blackrose."
"Hm, Miss Silber. Jadi kau ingin bergabung dengan ku untuk merebut kerajaan Kirisaki Daichi?" Arkin pun mengambil tempat duduk di sebelah Silber. "Tapi kau tahu kan kalau Hanamiya Makoto masih memegang pemerintahan?"
"Dia sudah mati." Jawab Ariana sambil tersenyum. Arkin dan Robin membulatkan mata mereka, kaget akan perkataan Silber barusan.
"Pardon?" Robin meminta pengulangan.
"Dia mati. Ku bunuh tadi malam saat hendak tidur."
"Dan kau ini adalah.. ah! Lady Blackrose! Bagaimana aku bisa lupa! Yang dipaksa menikah dengan Hanamiya Makoto!"
"Hmm, begitulah. Hei, bagaimana kau tahu?" silber terkejut mendengar pernyataan dari Robin.
"Mata-mata." Robin menjawab dengan enteng. Silber hanya ber 'oh' ria.
"Ok, jadi aku ke sini berencana untuk menjadikanmu," Silber menunjuk Arkin yang sedang menikmati segelas sampanye. "Raja dari Kirisaki Daichi. Jadi aku akan bergabung dengan aliansi mu. Dan meskipun Makoto sudah mati, dia punya antek-antek yang pasti menghalangi kita untuk menjadikanmu raja."
"Jadi kau sudah tahu apa yang harus dilakukan kan?" sampanye di dalam gelasnya tinggal setengah. Robin sibuk mengelap gelas-gelas.
"Ya, tentu saja. Kau tinggal memberiku daftar orangnya dan sisanya akan kuurus." Ariana berusaha mengahbiskan cocktailnya, meskipun baru habis 1/5 nya.
"Apakah kau bisa Silber? Melenyapkan mereka?" celetuk Arkin.
Tiba-tiba pisau tajam sudah berada di depan ujung hidung Arkin. Mata Arkin sekali lagi membulat.
"Jangan remehkan seorang Lady Blackrose. Kau tahu berita tentang ku kan? Ariana Blackrose, the Grimreaper. Aku yang paling berpengalaman dalam membunuh di keluargaku. Aku belajar langsung dari pasangan pembunuh paling hebat, kakek dan nenekku."
Seringai di wajah Arkin nampak mempesona dibawah temaramnya lampu bar.
"Hee, begitu. Kalau begitu kita bisa mulai besok. Dan ngomong-ngomong," Arkin menaruh gelas sampanye nya yang sudah habis, wajahnya terlihat agak memerah. Ia mengangkat dagu gadis itu.
"Kenapa kau ingin aku menjadi raja?"
Silber menepis tangan Arkin.
"Terakhir kali seorang pria menyentuhku, ia ingin berbuat macam-macam padaku."
Gelas bir yang hanya terminum 1/5 ia jauhkan kembali, kemudian menatap tajam pada Arkin.
"Aku hanya ingin .. memperbaiki kerajaanya, agar tidak ada penyesalan lagi setelah aku membunuhnya."
"Baiklah. Berangkat sekarang Robin? Kita akan membawa Silber ke markas kita." Arkin sudah berdiri, hendak pergi keluar dari bar itu. Mendengar ajakan sang calon raja, Robin segera mematikan lampu, dan mereka bertiga segera keluar dari bar. Tidak lupa Robin mengunci pintunya.
Jalanan sudah sepi.
Tapi tidak dengan pikiran Ariana atau harus kita panggil Silber mulai sekarang?
Aku harus membunuh orang lagi. Demi memenuhi janjiku.
.
Esoknya..
.
"Jadi kira-kira ada sekitar 20 antek-anteknya. Kami sudah membunuh 4, jadi tinggal 16 lagi. Silber apa kau bisa menghabisi mereka?"
Siang ini Arkin, Silber, Robin, dan anggota-anggota penting lainnya sedang berdiskusi di markas mereka.
"Hmm, bisa. Aku pernah bertemu orang-orang ini sebelumnya. Aku ambil yang mudah-mudah dulu ya? Berarti aku akan mengurus-"
"Tidak hanya kau yang mengurus mereka Silber, kami juga akan membantumu. Kau pilih yang mana saja yang ingin kau urus, sisanya berikan pada kami." Kata-kata Silber disela oleh Arkin.
"Hmm, begitukah? Baiklah, tapi sebelum itu aku ingin tahu kemampuan anggotamu yang bertugas melenyapkan antek-antek Makoto."
Senyum- atau lebih tepat disebut seringai terpampang jelas di wajah Arkin. Arkin menatap Silber dengan ketertarikan tersirat di tatapannya.
"This way miss."
.
Kemudian..
.
"Not bad. Ok, kau yang berambut seperti landak! Kau urus Sir Arpiar dan Sir Arvel! Kau yang botak! Kau urus Sir Azstrik dan Sir Audun! Kau yang mukanya berbintik! Kau urus Sir Bardo dan Sir Beck! Kau yang berambut panjang! Kau urus Sir Becse dan Sir Carr! Sisanya aku yang akan mengurusnya."
Berarti sekarang yang paling dekat dari sini yaitu.. Sir Einar.
"Arkin! Robin! Aku akan mengurus Sir Einar! Apakah kau tahu sesuatu tentangnya? Maksudku, jadwalnya atau dia sedang berada dimana?"
Silber mendekati Arkin dan Robin yang sedang mengurus kertas-kertas yang tidak diketahui isinya.
"Hmm, menurut informasi yang kami dapatkan dia sedang pergi ke pusat. Dan baru akan kembali besok." Robin menjawab pertanyaan Silber.
"Oo, mungkin mayatnya sudah ditemukan ya? Hmm, aku jadi seorang buronan pasti sekarang." Gumam Silber. "Jadi antek-anteknya sedang berkumpul ya?"
"Sepertinya begitu. Seperti yang kamu gumamkan tadi, mayatnya sepertinya sudah ditemukan." Arkin menyahut.
"Jangan khawatir. Aku akan membereskan mereka semua."
.
1 bulan kemudian..
.
"Arkin." Suara yang tegas tapi terkesan dewasa itu, memecah keheningan malam di markas besar Arkin.
"Kenapa Silber? Kau sudah membunuh mereka semua?" Arkin sedang membaca setumpuk dokumen.
"Hm, iya. Yang selanjutnya kita lakukan adalah pergi ke Kirisaki Daichi dan mendeklarasikan kekuasaanmu."
"Tidak. Sebelum itu ada dua hal yang harus kita lakukan. Membunuh seseorang .. dan kemudian menikahi seorang Lady." Arkin meremas kertas dokumen yang ia pegang saat mengatakan dua hal yang harus Silber lakukan.
"Hmm, baiklah. Tapi apakah harus membunuh seseorang itu? Dan, seseorang itu siapa sih?" Silber pergi ke salah satu sudut ruangan dan kemudian membuat 2 porsi Rooibos tea.
"Akashi Seijuurou."
Silber yang sedang mengaduk teh mereka itu pun berhenti seketika.
Aku harus membunuh Akashi Seijuurou? Tunanganku sendiri?
Suara di ruangan itu hanya dipenuhi oleh dentingan sendok akibat Silber yang sedang mengaduk teh. Silber membawa nampan berisi sepoci teh dan dua cangkir untuk nya dan Arkin ke meja kerja Arkin.
Yah itu pun kalau dia masih mau denganku.
Silber masih belum mengomentari kalimat Arkin. Ia malah menyeduhkan teh ke cangkir-cangkir kosong tersebut.
Arkin menggumamkan terima kasih dan hening kembali melanda.
"Dan kenapa aku harus membunuhnya? Agar kau bisa menikahi seorang Lady. Dan siapa Lady itu?"
Akhirnya Silber membuka mulutnya.
"Lady dari keluarga Blackrose." Arkin meminum tehnya. "Rooibos tea?"
"Yap, oleh-olehku dari membunuh Sir Bajnok dan Sir Balder yang sedang ekspedisi di Afrika Selatan. Jadi kau ingin menikahi adikku, Eliza?"
"Sepertinya ada kesalah pahaman di sini," Arkin berdiri dari kursinya kemudian mengambil sebuah cincin yang selalu menghiasi mejanya. "Lady Ariana Blackrose, would you be my queen?"
Silber- mari kita panggil dengan nama asli sekarang, tercengang dengan lamaran Himuro.
Tidak, tidak lagi.
"Himuro," Ariana menggenggam tangan Himuro, membantunya berdiri. "Pertama aku tidak bisa membunuhnya. Kedua, aku tidak bisa menikah denganmu."
"Kau tidak bisa menikah denganku karena sudah bertunangan dengannya kan? Oleh karena itu aku memintamu untuk membunuhnya, agar kau tidak membenciku."
Himuro memberikan nada menggantung di akhir kalimatnya.
"Tapi jika kau tidak mau membunuhnya, aku akan membunuhnya!" Himuro mengambil pedangnya yang tertata apik di keranjang di sebelah meja kerjanya, mengacungkannya pada Ariana.
"Katakan, kenapa kau ingin menikahiku?" Ariana sudah muak dengan lamaran yang datang, yang selalu memaksanya untuk menikah secepat mungkin.
"Karena Arkin(raja) butuh seorang Dronning(ratu)." Himuro berjalan mendekati Ariana, kembali menawarkan cincin lamarannya.
Ariana mendesah frustasi.
"Kalau begitu buat dia amnesia. Buat dia amnesia. Lalu, kembali lah ke sini dengan selamat. Dan ketika kau kembali, aku akan menaklukan hatimu, dronningen min.*" Himuro mengembangkan senyumnya kemudian mencium tangan Ariana. Senyum yang banyak menaklukkan kaum hawa. Dan mau tidak mau Ariana juga ikut tersenyum.
"Ok, listen! Aku akan membuat dia amnesia dan akan kembali ke sini. Saat aku kembali nanti, pasukanmu sudah harus siap untuk menduduki Kirisaki Daichi." Ariana menghabiskan tehnya yang tinggal sedikit itu dan kemudian beranjak ke pintu.
"See you!" Ariana melambai singkat pada Himuro.
"Ariana!" Ariana pun menoleh.
"Kenapa kamu mau membunuh mereka padahal harusnya aku yang membunuh mereka?" tanya Himuro. Ariana pun tersenyum.
"Karena aku yang lebih profesional dalam membunuh dari pada dirimu. Karena aku sudah terlanjur kotor. Karena aku, ingin kamu untuk tetap menjaga kesucian tanganmu."
Ariana mengambil nafas untuk melanjutkan kalimatnya yang belum selesai.
"Biarkan aku yang menjadi penjahatnya dan kau, jadilah raja yang mengubah sistem pemerintahan makoto yang kejam itu. Let me guess, never kill someone with your own hand? Dan aku punya janji yang harus ditepati."
Pintu pun tertutup, menyisahkan Ariana yang berdiam diri di lorong gelap nan sepi.
Ariana mengambil nafas dalam-dalam, berusaha berkonsentrasi dengan misi selanjutnya.
Kenapa hidup ku ini susah sekali ya masalahnya?
Ariana pun melangkahkan kakinya ke kamar nya, bersiap untuk penyerangan malam ini.
Pukul kepalanya, tapi jangan sampai meninggal. Hanya buat dia amnesia. Dan semua ini akan selesai.
.
.
.
TBC
*Bahasa norwegia untuk 'my queen'.
Nyaharooo~~ akhirnya ff yang ini update juga~~ tapi, maaf kalo chapter ini nggak ada fanservice sama sekali.. tapi mungkin bagi yang husbando nya Hanamiya, chapter ini ada fanservice nya yaa?
OK! Chapter depan kayaknya dimulai dengan Akashi POV, menceritakan tentang akashi selama 33 hari menghilangnya Ariana dari wilayah Blackrose~~
Dan kurang 3 chapter lagi mungkin..
Yosh! Arigatou sama review, fav, follow sama yang udah ngebaca juga makasih!
See you!
HikarinRin23
