MAGIC GIRL OR BOY?
.
.
.
A KaiHun fanfiction
Rated : M
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
CHAPTER 1
.
.
.
"Jongin, apa kau sudah menyiapkan perlengkapan untuk kemah nanti?" Tanya seorang lelaki berambut abu-abu yang kata orang yang dipanggil Jongin tadi mirip sekali seperti uban kakeknya. Laki-laki berambut abu-abu itu melepas earphone yang sedari tadi bertengger ditelinganya itu dengan gerakan sok manly -kata Jongin lagi-. Kau tahu? Mengibaskan rambutnya seperti di iklan-iklan sampo. Ckckck.
Pria tan yang dipanggil Jongin itu menarik-narik kerah baju olahraganya untuk membuat badannya yang berkeringat jadi tidak gerah lagi. Laki-laki itu baru saja selesai latihan basket dan saat sedang duduk santai di bangku tempat istirahat, teman berambut ubannya itu datang dan menanyakan hal yang menurut Jongin sama sekali tidak penting.
"Itu bisa diatur nanti. Kau terlihat seperti seorang anak berumur 7 tahun yang sangat antusias saat diajak ayahnya berkemah. Ada apa huh?" Tanya Jongin melirik pria bernama asli Park Chanyeol disampingnya sebelum meminum ar mineral ditangannya.
Chanyeol mendengus sebentar. Jongin memang bisa sekali menebak kelakuannya. Oh sebenarnya itu tidak mengherankan. Karena mereka berteman bahkan sejak memakai popok, kau tahu? Jadi bagaimana mungkin Jongin tidak mengerti sifat bahkan kelakuan pria disampingnya itu? Walaupun sebenarnya dia tidak berharap mengetahui itu semua.
"Kau selalu memahamiku." Pria itu memuta-mutar ponsel yang dipegangnya sedari tadi.
Jongin hanya tersenyum remeh tanpa menatap Chanyeol dan tetap fokus dengan air mineralnya.
"Kau pasti mengenal gadis yang ada di kelas X-6 itu."
Jongin melirik Chanyeol bingung. "Siapa yang kau maksud?" Tanya Jongin.
"Jangan pura-pura tidak mengenalnya. Si gadis bereyeliner dengan tinggi badan hanya sebatas dadamu itu."
Jongin menatap Chanyeol dengan alis terangkat sebelah. "Maksudmu si Byun itu?"
Chanyeol menatap seorang gadis yang terlihat baru saja memasuki ruangan latihan basket dengan seorang gadis lain yang lebih tinggi dengan tajam. "Kau benar."
"Jangan katakan jika kau tertarik padanya." Jongin berdecih remeh.
"Sayangnya kau benar."
Jongin menatap Chanyeol dengan wajah konyolnya. Padahal biasanya Chanyeol yang akan memasang wajah konyol.
"Hei, tidak mungkin!" Tawa Jongin pecah saat itu juga. Dia tidak percaya jika sahabatnya yang terkenal sangat pemilih soal wanita itu tiba-tiba tertarik pada seorang Byun Baekhyun? Hah.. Bahkan gadis itu tak ada sepersenpun dari tipe Jongin yang nyatanya memiliki tipe gadis lebih rendah 10 persen dari Chanyeol. Huh, walaupun dia sebenarnya tidak mengakui itu. Menurutnya tipe gadis idealnya lebih tinggi dari pria berambut abu-abu itu. Oh apalagi Byun Baekhyun adalah si gadis menyebalkan yang setiap hari ditemuinya di ruang latihan. Ya itu karena Baekhyun adalah ketua Chirleaders di sekolahnya. Padahal porsi tubuhnya tidak ideal sama sekali jadi bagaimana bisa dia menjadi pemimpin? Pasti karena kakaknya. Pikir Jongin.
Chanyeol memukul kepala Jongin dengan kesal. "Sudahlah. Kau mau dia mendengarnya?" Ucap Chanyeol sambil menatap dua orang ah lebih tepatnya seorang gadis berambut magenta yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki tinggi berambut blonde. Chanyeol mendengus sebentar kemudian mengalihkan pandangannya lurus kedepan.
Jongin yang menyadari hal itu hanya menyikut lengan Chanyeol pelan. "Hei, bodoh, jangan bilang kau cemburu dengan si ketua berwajah angry bird itu." Jongin tertawa pelan.
Sontak saja Chanyeol menoleh. "Apa maksudmu? Byun Baekhyun adalah incaranku, bodoh!" Chanyeol menjitak kepala Jongin menbuat si empunya hanya meringis kesakitan kemudian berteriak tak terima.
"Sialan kau!" Umpatnya.
Chanyeol hanya diam, pandangannya kembali mengarah ke Byun Baekhyun.
"Apa kau benar-benar bodoh?"
Chanyeol menoleh ke Jongin. Sial! Sedari tadi pria itu mengatannya bodoh. Padahal IQ nya bahkan lebih tinggi dari pria berkulit tan itu. Jadi bagaimana bisa dia disebut bodoh? Siapa si bodoh sebenarnya disini? Itu adalah pemikiran kolot Chanyeol.
Jongin menghela nafas. "Kau tidak tahu?"
"Apanya?" Chanyeol menaikkan sebelah alisnya.
"Ya Tuhan.. Dia itu kakaknya! Si Wu Yifan!" Teriak Jongin spontan. Sontak saja yang merasa terpanggil namanya di ujung sana menoleh ke dua orang itu dengan bingung. Tak terkecuali dengan dua orang gadis disana yang juga menatap Jongin dan Chanyeol aneh.
Chanyeol membelalak saat menyadari tatapan ketiga ofang itu kini benar-benar tertuju kepada mereka berdua. Aish! Dia merutuki kebodohan Jongin! Dasar si tan bermulut besar!
"Eum, hai.. Hehehe."
-Magic Girl Or Boy?-
"Kau lihat dua laki-laki tadi" Tanya seorang gadis berambut magenta pada seorang gadis lain berambut brunette. Mereka sedang berjalan menuju kelas mereka seusai dari ruang latihan basket.
"Ya, aku lihat." Jawab si gadis brunette dengan pandangan yang masih menuju ke note ditangannya.
"Bukankah mereka tampan?" Si magenta tersenyum penuh arti.
Sontak saja Sehun, atau si gadis brunette mengernyit. "Apanya yang tampan? Mereka sama saja."
Raut wajah Baekhyun -si gadis magenta- berubah cemberut seketika saat mendengar ucapan temannya itu. Sehun selalu saja begitu. Dia menganggap semua pria itu sama saja. Menurutnya tidak ada yang lebih tampan dari Leonel Messi. Oh astaga.
"Kau ini selalu saja begitu."
Sehun hanya mengendikkan bahunya mendengar ucapan sahabatnya itu.
-Magic Girl Or Boy?-
Seorang pemuda berkulit tan terlihat tengah bergulung di dalam selimut hangatnya dengan mata yang masih terpejam erat. Dia masih bergulat dengan alam mimpinya. Padahal ini sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Bahkan terdengar nada dering ponsek yang sedari tadi menggema di dalam kamar itu namun tak membuat pemuda itu terpengaruh sedikitpun. Namun tak beberapa lama terdengar suara pintu diketuk berulang kali dari luar sana disertai dengan teriakan memekakkan.
"Hei Pangeran tidur, cepat bangun! Kau mau kita terlambat, huh?" Orang itu terus mengetuk pintu kamar si pemuda tadi dengan rasa jengkel yang sudah mencapai ubun-ubun. Astaga, dia sudah menelpon pemuda tan itu berulang kali namun tak ada sahutan dari pemuda itu. Dan saat Chanyeol -orang yang mengetuk pintu- memutuskan untuk masuk saja kedalam apartemen si pemuda tan atau Jongin -Chanyeol tahu password apartemen Jongin-, ternyata pemuda tan itu masih tidur. Membuat Chanyeol benar-benar ingin menyiram pemuda menyebalkan itu dengan seember air. Padahal 1 setengah jam lagi mereka akan berangkat kemah.
"Jongin! Kuhitung sampai 3 jika kau tidak segera bangun akan kudobrak pintu kamarmu ini! Aku tidak peduli jika nanti ibumu akan memarahimu saat mengetahuinya! Satu... Dua..." Chanyeol sudah bersiap untuk mendobrak pintu bercat putih itu namun tiba-tiba saja pintu itu terbuka, dan...
BRUKKK
"Akh... Kakiku!"
.
.
.
.
.
.
Jongin mengendarai mobilnya dengan kesal karena mengingat insiden di apartemen nya tadi. Apa-apaan Chanyeol tadi? Ingin mendobrak pintu kamarnya yang berharga, huh? Tapi malah berakhir dengan tubuh besar tak tahu malunya yang menindih tubuh seksi dan berharga -menurut Jongin- miliknya. Bahkan setelahnya bukannya minta maaf, Chanyeol malah memarahinya karena katanya Jongin itu merepotkan sekali dan membuat dirinya hampir terlambat menuju tempat perkemahan. Jongin mendengus, Chanyeol ingin segera sampai ke tempat kemah karena ingin cepat-cepat bertemu dengan gadis bereyeliner tebal bernama Byun Baekhyun itu pastinya.
Chanyeol melirik Jongin yang menurutnya jelek sekali dengan wajah kusut dan tertekuk begitu. Jongin selalu saja membesar-besarkan sesuatu. Ia hanya tak sengaja membuatnya terjatuh kesakitan tadi. Bahkan dirinya tadi juga merasa kesakitan di bagian selangkangannya karena miliknya yang tak sengaja bertubrukan dengan milik Jongin. Astaga... Chanyeol menggeleng ngeri saat mengingat kejadian itu. Huft, lagipula, Jongin sendiri yang membuat semua ini terjadi. Kenapa juga sedari tadi dia suaah sekali dibangunkan?
"Hei, kau terlihat semakin jelek dengan wajah tertekuk seperti itu, kau tahu."
"Diam kau!" Bentak Jongin cepat membuat Chanyeol sedikit terlonjat karena terkejut. Wajahnya berubah datar seketika.
...
Tak sampai 30 menit akhirnya Jongin dan Chanyeol sampai di lokasi kemah yang diadakan oleh sekolah mereka. Oh, ini berkat cara menyetir Jongin yang tak bisa dianggap santai. Bahkan membuat Chanyeol berkali-kali harus berteriak untuk menghentikan Jongin karena pemuda itu hampir 7 kali akan menabrak pengendara lain dan sudah 11 kali diteriaki orang-orang karena menyetirnya yang ugal-ugalan. Oh, kumohon lupakan.
"Hai bro!" Sapa seseorang dengan sumringah kepada Jongin dan Chanyeol. Pria berwajah kotak itu menghampiri keduanya.
"Hai." Balas Chanyeol dan Jongin mau tidak mau.
"Wah wah wah.. Kim Jongin dan Park Chanyeol, ya? Tidak biasanya kalian datang di acara seperti ini. Apakah ada sesuatu yang menari, hmm?" Pria dengan name-tag Kim Jongdae itu merangkul bahu kedua pemuda itu dengan sok akrab. Membuat Chanyeol dan Jongin sedikit risih sebenarnya. Uh lelaki itu memang selalu sok akrab dengan mereka. Tidak di perpustakaan, kantin, kelas, bahkan saat bertemu di jalan. Padahal sebenarnya mereka sama sekali tidak dekat.
"Kami hanya sedang ingin." Jawab Chanyeol. Sedangkan Jongin memilih untuk diam.
"Kenapa aku merasa tidak percaya ya?" Ucap Chen dengan gaya sing a song.
"Terserah kau." Jawab Chanyeol malas.
"Hei hei hei.. Kau ini tidak asik sekali. Aku hanya bercanda!" Pria itu tertawa sambil memukul lengan Chanyeol. Chanyeol menggerutu pelan sambil mengelus lengannya.
"Sudahlah, lebih baik kita segera membangun tendanya, Chanyeol." Ucap Jongin final. Dia tedlalu malas mendengar perdebatan tidak penting dua orang itu.
"Hei, Jongin, kau tidak berniat untuk tidak mengajakku juga, kan?" Tanya Chen -tanpa tau malu-.
Jongin memutar matanya malas. "Terserah."
...
"Akhirnya berhasil juga." Ucap Chen dan Chanyeol bersamaan. Mereka baru saja menyelesaikan tugas membangun tenda, sedangkan Jongin entah kemana. Huh, anak itu selalu seenaknya sendiri.
Ditempat lain...
"Ouhhh... Kau ini pintar sekali, manis." Seorang pria berkulit tan melenguh nikmat saat dirasakannya gadis yang tadi dia temui -yang mengaku sebagai pengagumnya- saat sedang mencari kayu bakar kini berhasil membuatnya tak karuan karena blowjob yang dia lakukan. Itu terjadi begitu saja. Gadis itu berkata jika dia sangat mengagumi Jongin dan berharap jika Jongin mau melakukan seks dengannya. Katanya itu adalah impiannya. Dan ya, karena Jongin yang memang adalah pemuda berotak dan berkelakuan mesum, dengan senang hati pemuda itu mengiyakan permintaan gadis itu.
Dan kini, mereka tengah berada di balik tebing yang agak jauh dari lokasi perkemahan mereka. Dengan Jongin yang bersandar di tebing dan seorang gadis bermata bulat yang tengah berjongkok di depan Jongin dengan tangan yang menggenggam kejantanan pemuda tan itu. Oh astaga.. Maafkanlah mereka berdua, Tuhan.
"Hmm.. Kyungsoo-ssi, berhentilah." Ucap Jongin menyuruh gadis yang sedari tadi masih giat untuk menjilati miliknya itu untuk berhenti.
Gadis bernama Kyungsoo itu mendongak dengan kepala yang dimiringkan. Bingung.
"Wae Jongin-ssi? Aku belum selesai." Jawab gadis itu kemudian kembali fokus dengan kejantanan Jongin di genggamannya.
"Tidak, Kyungsoo-ssi. Sudah cukup. Hentikan sekarang juga." Entah kenapa Jongin merasa tidak bergairah lagi. Mood-nya untuk bercinta hilang menguap entah kemana. Padahal tidak biasanya dia seperti itu.
"Tapi.."
"Kubilang berhenti!" Bentak Jongin. Membuat gadis itu berjengit kaget dan dengan segera menarik tangannya dari kejantanan pemuda itu. Gadis itu menunduk ketakutan.
Jongin dengan segera merapikan celananya dan keadaan rambutnya yang tadi sempat berantakan karena ia jambak sendiri.
"Sekarang, sebaiknya kau pergi." Ucap Jongin datar.
Gadis itu menurut kemudian segera berlari meninggalkan Jongin.
"Kenapa gairahku tiba-tiba hilang? Sial!" Umpat pemuda tan itu setelahnya.
Pemuda itu menatap sekelilingnya dan merasa janggal. "Bukankah tadi disini ada jalan setapak? Kenapa sekarang tidak ada?" Pemuda itu bermonolog sambil berjalan pelan menatap semak-semak yang diyakininya tadi adalah sebuah jalan setapak. Bagaimana bisa sekarang berubah menjadi penuh dengan semak-semak tinggi?
"Ah tenggorokanku kering sekali." Tiba-tiba Jongin merasa tenggorokannya sangat kering. Dia benar-benar haus.
Ditatapnya sekelilingnya mencari sesuatu yang sekiranya bisa membuat rasa hausnya yang datang dengan tiba-tiba itu menghilang. Dan.. Aha! Jongin melihat sebuah apel yang tumbuh di atas tebing itu. Aneh, bagaimana bisa buah apel tumbuh menempel di atas tebing?
Namun masa bodoh dengan buah apel yang tumbuh di atas tebing, yang terpenting sekarang adalah rasa hausnya bisa menghilang. Jongin mencari benda yang bisa ia gunakan untuk mengambil buah apel itu namun tiba-tiba sebuah suara menginterupsi kegiatannya.
"Jangan sekali-kali kau mencoba untuk mengambil buah apel suci itu."
Jongin terkejut mendengar suara yang tiba-tiba melintas dipendengerannya. Siapa itu yang berbicara?
"A-apa? Buah apel suci?" Jongin tertawa keras pada akhirnya. Astaga lelucon macam apa itu? Bagaimana bisa di era modern seperti ini masih ada yang seperti itu? Dan darimana asalnya suara kakek-kakek itu? Ah pasti itu hanya orang yang iseng padanya.
Jongin menggeleng menghilangkan semua pikiran tentang datangnya suara aneh itu dan kembali mencoba untuk mengambil apel merah menggiurkan itu. Dilemparnya sebuah batu yang berukuran agak besar tepat kearah apel itu. Berhasil! Apel itu jatuh ke tanah.
Jongin dengan buru-buru mengambil apel merah itu dengan senyuman sumringahnya. Akhirnya dia berhasil juga mengambil apel itu. Kontan saja Jongin menggigit apel merah menggiurkan itu karena sudah tak tahan dengan rasa dahaganya.
"Astaga... Rasanya manis sekali. Belum pernah aku memakan apel seenak ini. Menakjubkan." Jongin berdecak kagum merasakan kenikmatan apel digenggamannnya. Digigitnya sekali lagi apel merah itu.
"Hei wahai pemuda, berani-beraninya kau melanggar larangan untuk memakan buah suci ini. Sebagai hukuman, terimalah kutukkan ini!"
Jongin terbelalak mendengar ucapan seseorang yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya.
Dan tak beberapa lama sebuah sinar menyilaukan berwarna biru muncul dari tongkat Pak Tua itu yang mengarah kearahnya.
"ARRGGHHH!"
Jongin merasakan tubuhnya seperti ditarik kesana kemari. Perutnya mual sekali.
"Itu adalah balasan atas kelancanganmu." Ucap Pak Tua itu setelahnya.
Jongin merasa tubuhnya terasa berbeda.
Ada apa dengan tubuhnya?
Jongin menatap tubuhnya untuk memastikan kenapa tubuhnya bisa terasa berbeda dan betapa terkejutnya Jongin melihat dirinya kini. A-apa yang didadanya itu? Dia menatap ngeri dua gundukan di dadanya.
"Hei Pak Tua! Apa yang kau lakukan dengan tubuhku?" Teriak Jongin histeris. Dia tidak bisa menerima keadaan tubuhnya saat ini! Dia... Berubah menjadi wanita!
Pak Tua itu tertawa. "Kau akan kembali menjadi pria pada pukul 1 pagi. Dan saat matahari terbit, tubuhmu akan kembali menjadi wanita. Kutukkan itu akan musnah jika kau berhasil menemukan cinta sejatimu."
Setelah mengucapkan itu, Pak ua itu menghilang.
Jongin mendelik horror melihat sosok Pak Tua itu yang menghilang dari pandangannya.
"AAAAAA... AKU TIDAK MAU MENJADI WANITA!"
.
.
.
.
To Be Continued...
.
.
.
Ya ampun.. ini apaan? Kkkk~ Sumpah ini gaje banget! Maafkan tulisan ancur gue ini readers T_T
Gue nulisnya disaat badmood gais.. jadi gini deh.. maafkan T_T sungguh ini diluar pemikiran gue :3
Tapi ah yasudah lah. Udah terlanjur di post :3 jadi seenggaknya gue minta review kalian yg udah baca ini epep yosh :" jan jadi SiDers mulu :" gue tau kok kalo ini jelek, tapi meskipun jelek pelis hargai gue :"
Cacian, pujian, kritik dan saran gue terima kok gais :3
So review ditunggu! :D
