MAGIC GIRL OR BOY?
PAIR : KAIHUN
WARNING! THIS GS FF, MATURE CONTENT, DIRTY TALK AND MANY TYPO INSIDE!
.
.
.
.
.
.
CHAPTER 3
HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
Seorang gadis berambut brunette berjalan dengan tenang saat melewati beberapa kamar terakhir menuju kamar miliknya. Gadis itu melirik sendal berbentuk kelinci dengan bulu-bulu putih yang sedang ia kenakan dengan senyum kecil di wajahnya. Oh Sehun, gadis itu terkikik kecil saat mengingat kejafian saat dimana ia dengan sengaja membawa kabur sendal kelinci berbulu putih itu dari telapak kaki eonninya, Xi Luhan ketika ia akan berpamitan untuk kembali ke kamarnya setelah ia menginap semalam. Sehun kemudian tertawa puas seperti orang tidak waras menyadari kepolosan eonninya yang hanya melongo saat Sehun merebut sendal miliknya. Namun tiba-tiba tawa Sehun terhenti saat melihat pemandangan di depan pintu kamar miliknya. Kai.. Gadis itu tertidur dengan sangat mengenaskan di sana dengan bersandar pada pintu kamarnya yang bercat hitam Gadis berkulit pucat itu segera menghampiri gadis tan yang bahkan kini berwarna lebih pucat darinya. Oh astaga... Bagaimana bisa Kai tergolek lemas disana?!
"H-hey.. Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Sehun sambil sedikit mengguncangkan bahu gadis itu. Kai perlahan membuka matanya dan menatap Sehun dengan nanar.
"Da-darimana saja kau?" Dan setelahnya, kesadaran Kai menghilang.
...
Sehun mengompres dahi Kai dengan mata yang terus menatap datar kearah gadis tan yang hingga kini belum sadarkan diri itu.
"Menyusahkan saja." Gumam Sehun masih tetap dengan kegiatannya menekan-nekan kompresan di dahi gadis tan itu. Saat Sehun akan beranjak dari duduknya untuk mengembalikan baskom air, tiba-tiba sebuah tangan menahan lengan Sehun.
"Terima kasih sudah merawatku." Ucap Kai pelan.
Sehun berbalik dan menatap Kai datar. "Aku melakukannya karena tidak mau nantinya kau malah merepotkanku." Jawab Sehun.
Kai melepas pegangan tangannya di lengan Sehun. "Aku seperti ini karena ulahmu, kau tahu."
Sehun menaikkan sebelah alisnya. "Karena aku?" Tanyanya tidak mengerti.
Sadar dengan ucapannya yang terkesan terlalu bukan seperti gayanya, Kai berdehem dengan cepat. "Maksudku, ya ini karena kau. Kenapa semalam kau tidak pulang, huh? Kau membuatku kerepotan." Ucap Kai tanpa menatap Sehun sedikitpun.
"Apa?"
"Semalam petugas datang kemari dan saat dia mendapati ada siswi lain belum memasuki kamarnya, dia segera menyuruhku untuk menunggu hingga siswi itu pulang. Terpaksa aku harus merelakan waktu tidurku yang berharga hanya untuk menungguimu. Kau itu benar-benar menyusahkan." Hell, what? Bahkan semalam hanya ada suara jangkrik di luar sana. Tidak ada satupun petugas yang datang. Itu hanya karangan Kai belaka agar memiliki alasan yang wajar untuk menunggui Sehun semalam. Tidak mungkin kan dia berkata jika dia sendiri yang dengan bodohnya menunggu Sehun pulang. Mau ditaruh dimana wajah tampan ehm maksudku cantiknya nanti? Well, semalam itu adalah murni inisiatif bodohnya sendiri.
Sehun mengernyit heran. Sejak kapan ada petugas yang mengecek kamar setiap siswi seperti itu? Bahkan sejak pertama kali Sehun ada di asrama ini, tak pernah sekalipun dia mendapati petugas asrama datang. Well, sekolahnya memang mengharuskan para murid wanitanya untuk tinggal di asrama sekolah, namun sejujurnya penjagaan di asrama tidak seketat itu. Bahkan terkesan semrawut. Sehun dulu bahkan pernah memergoki salah satu teman se-asramanya yang diam-diam membawa kekasihnya untuk menginap. Apa sebenarnya Kai hanya berbohong? Uh.. Baiklah.. Mari kita ikuti karangan cerdik gadis tan aneh itu.
Sehun menatap Kai dengan tatapan kaget. "Benarkah?" Dengan cepat, Sehun duduk di tepi ranjang.
Kai sedikit terhenyak dan segera menjauhkan badannya dari Sehun.
"B-benar." Kai gugup bukan main saat Sehun berada didekatnya begitu. Bagaimana tidak? Kai adalah laki-laki normal -uhm, kurasa-. Berada dalam jarak yang sedekat ini dengan wanita tentu saja bukan hal yang bagus untuk kesehatan hasratnya(?). Dengan sekuat tenaga, Kai mencoba menstabilkan tingkahnya dan yah, degup jantungnya.
Namun Sehun dengan cepat semakin maju ke hadapan wajah Kai dan menatap gadis itu tajam.
"Kau tahu? Cara berbohongmu itu benar-benar buruk."
Kai terkejut. Darimana Sehun tahu jika dia berbohong?
Saat Kai akan membuka mulutnya untuk berbicara, Sehun sudah mendahuluinya.
"Tidak usah sok peduli padaku. Kita bukanlah teman dekat dan urusanku bukanlah urusanmu.." Setelah mengatakan hal yang membuat hati Kai terasa tertohok, Sehun bangkit dan keluar dari kamar itu.
Kai terdiam sepeninggalnya Sehun disana. Otaknya sibuk mencerna ucapan terakhir gadis pucat itu. "Benar juga, itu memang bukanlah urusanku. Jadi, kenapa aku harus peduli?" Monolognya. Tapi dia sendiri juga tidak mengerti mengapa sekarang hatinya terasa sakit saat gadis pucat itu mengatakan yang barusan kepadanya? Memang seharusnya dia tidak usah sok peduli kan? Kai sendiri juga menyadari itu. Jadi perasaan macam apa yang ada di hatinya kini?
...
Kai terbangun dari tidurnya. Pagi tadi dia langsung tidur setelah Sehun menyuapinya bubur dan setelahnya berkata jika dia akan berangkat sekolah. Masih dengan kepala yang terasa berat Kai mengangguk dan setelahnya dia sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Perlahan gadis itu bangun dan menatap jam dinding yang berada di belakang ranjangnya. Ternyata sudah jam 3 sore. Dia tertidur cukup lama rupanya. Kai mengangkat tangannya keatas untung merenggangkan otot-ototnya. Setelah itu menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri untuk merenggangkan kepalanya yang terasa kaku. Hanya dengan istirahat sehari saja badannya sudah terasa membaik sekarang. Gadis itu tersenyum tipis saat menyadari jika kesembuhannya ini tidak lain berkat pertolongan teman sekamarnya juga. Ya walaupun Sehun merawatnya seperti tidak ikhlas juga tapi setidaknya dia masih berbaik hati.
Ngomong-ngomong soal Oh Sehun, kenapa gadis itu belum juga pulang? Seharusnya saat ini gadis itu sudah ada di asrama mengingat saat ini sudah memasuki jam pulang sekolah. Apa dia sedang keluyuran lagi? Ck, kebiasaan. Tapi, kenapa juga Kai harus kesal? Hei dude, Sehun bukanlah urusanmu jadi kau tidak perlu menghawatirkannya.
Kai segera bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Dia memutuskan untuk mencari hiburan di luar saja daripada mati kebosanan di dalam kamar asrama seperti ini. Tubuhnya sudah baikan dan sedikit jalan-jalan sepertinya oke.
Kai segera mengganti piyama tidurnya yang ugh girly sekali itu dengan pakaian casual yang terkesan tomboy. Jeans biru sobek-sobek dan t-shirt supreme hitam yang sedikit longgar namun tetap tak dapat untuk menyembunyikan dua gundukan besar didadanya. Mungkin itu akan terlihat macho sekali jika yang memakainya Kai dengan tubuh lelakinya, namun saat ini Kai masih dengan tubuh gadisnya. Jadi, yeah.. Sebaliknya. Dia terlihat sangat seksi dan menggairahkan.
Kai menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Matanya menelisik wajahnya sendiri dengan intens kemudian tersenyum miring.
"Ternyata wajah gadisku cantik juga. Pantas saja bocah-bocah di kelas banyak yang menyukaiku. Badanku juga tidak buruk. Jika saja diriku yang lelaki bertemu dengan diriku yang saat ini, pasti aku juga akan terpesona." Monolog Kai menilai dirinya sendiri dengan tersenyum bangga.
"Cih, bisa-bisanya si bodoh Chanyeol menatapku dengan pandangan mesum sialannya itu. Lihat saja kau Park, akan ku hajar kau jika berani menyentuhku." Kai jadi kesal sendiri mengingat kelakuan kurang ajar Chanyeol beberapa hari yang lalu.
Setelah menguncir kuda rambut coklat panjangnya dan memakai sweater putih gadingnya, Kai segera keluar dari kamarnya.
...
"Tumben sekali kau datang terlambat hari ini." Seorang gadis bertubuh mungil dengan eyeliner tebal di kedua matanya menatap Sehun yang sedang mencatat beberapa materi yang tadi telah diberikan oleh Kim Songsaengnim sebelum jam istirahat. Bel istirahat memang baru saja berbunyi.
"Hanya ada sedikit masalah di asrama." Jawab Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatan dengan tangan yang masih sibuk menuliskan rumus matematika yang membuat mata si gadis bereyeliner -Baekhyun- sakit seketika.
"Masalah? Apa ada kaitannya dengan roommate-mu si gadis sexy itu?" Tanya Baekhyun sedikit penasaran.
Luhan yang baru saja masuk kedalam kelas setelah selesai membantu Kim Songsaengnim membawakan kertas ulangan matematika yang barusan mereka hadapi sontak duduk di kursi yang berada didepan meja milik Sehun dan Baekhyun dan ikut bergabung dengan obrolan mereka.
Sehun sedikit melirik Luhan setelah itu kembali fokus dengan kegiatan menulisnya. "Memang ini karenanya.' Jawab Sehun datar.
"Jadi, apa yang telah ia lakukan hingga membuatmu terlambat ke sekolah, hm?" Tanya Baekhyun makin penasaran. Sedangkan Luhan yang tak mengerti apa-apa hanya diam mendengarkan obrolan kedua sahabatnya itu.
Sehun menghentikan kegiatan menulisnya dan menghembuskan nafasnya pelan. "Dia sakit dan yeah, aku merawatnya." Jawab Sehun.
Sontak Luhan maupun Baekhyun membelalak kaget. "Apa? Si gadis sexy sakit?" Tanya mereka berdua tak percaya.
"Hentikan panggilan itu. Aku risih mendengarnya." Sehun memasang ekspresi tak suka dan tak nyaman mendengar Luhan dan Baekhyun selalu menyebut-nyebut si gelap itu dengan sebutan 'gadis sexy'. Ugh.. Sexy darimananya? Bahkan dirinya jauh lebih sexy daripada gadis kulot gelap itu.
"Hei... Kau iri ya dengannya?" Goda Baekhyun dengan tatapan sangat menyebalkan -menurut Sehu-.
"Apa? Aku? Iri? Yang benar saja!' Sehun mendengus pelan dengan tatapan super datarnya.
"Ya! Ya! Ya! Sudah hentikan! Sehun-ah, tadi kau bilang Kim Kai sakit? Sakit apa? Ah aku baru menyadarinya.. Pantas saja aku sama sekali tak melihat gadis itu dikelas hari ini. Ternyata dia sakit." Luhan bergumam lirih di dua kalimat terakhir.
Sehun dan Baekhyun akhirnya kembali fokus pada topik ulasan mereka yang utama -lebih tepatnya Baekhyun yang fokus, sedangkan Sehun sedang memasukkan buku catatannya ke dalam tas.
"Masuk angin." Jawab Sehun acuh.
Luhan terbelalak ketika menyadari sesuatu. "Jangan bilang dia sakit karena..."
"Ya kau benar." Jawab Sehun sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Luhan.
Baekhyun yang tak mengetahui apa-apa akhirnya angkat bicara. "Hei hei hei.. Ada apa sebenarnya? Kalian curang sekali tidak memberitahu!" Baekhyun mempoutkan bibirnya sebal.
Sehun tetap diam tak menggubris Baekhyun. Luhan menghela nafas pelan sebelum menjawab.
"Semalam Sehun menginap dikamarku."
"Lalu apa masalahnya?" Tanya Baekhyun masih belum mengerti.
Luhan memutar matanya malas. "Aku tau kau tidak sebodoh itu, Baekhyun-ah. Kau pasti sudah tau kelanjutannya."
Baekhyun mengerutkan kening nampak berfikir dan sedetik kemudian..
"Kim... Kim Kai masuk angin karena sibuk mencarimu?" Tebak Baekhyun sedikit tak percaya.
"Ka-"
"Lebih tepatnya dia menungguiku di depan pintu kamar semalaman." Lagi-lagi Sehun memotong ucapan Luhan.
"MWO?"
...
Bunyi dentuman musik khas DJ menggema di seluruh ruangan itu. Tak lupa lampu-lampu beraneka ragam yang berkedip-kedip menyilaukan turut pula menyertai suasana penuh kebisingan yang ada disana. Orang-orang sibuk menggila disana sini, tak memperdulikan apapun yang berada disekitar mereka. Seorang laki-laki dengan jaket kulit hitam dan celana jeans biru dongker terlihat tengah duduk dengan nyamannya di sebuah sofa merah maroon panjang yang ada disudut ruangan dengan segelas campagne ditangan kirinya. Laki-laki itu sedang tertawa lepas sekarang. Menatap lawan bicaranya dengan pandangan tergeli yang pernah ia keluarkan sambil sesekali menggoyang-goyangkan gelas campagnenya dengan pelan. Sedangkan sang lawan bicara terlihat sedang menahan amarah karena seseorang yang baru saja menjauh dari tempat duduk disampingnya.
"Sialan tua bangka itu. Kalau tidak ingat keadaanku sekarang sudah kupatahkan leher keriputnya sejak tadi!" Makinya kesal setengah mati.
"Tidak usah kau pikirkan ucapan si bau tanah itu. Kita disini untuk bersenang-senang, oke." Lelaki disebelahnya menyarankan dengan sedikit kekehan geli yang masih tertinggal.
"Kalau begini aku tidak bisa rileks, bodoh! Tubuh sialan ini membuatku kesusahan!" Jawab gadis itu -Jongin- frustasi. Pasalnya, baru saja ada seorang lelaki paruh baya sialan yang mendatanginya dan mengatakan jika tubuh Jongin sangat bergairah dan membuat penis karatan miliknya terasa gatal ingin disentuh. Lalu pria tua itu memintanya untuk sedikit memberi service kepada miliknya itu dengan imbalan uang sejumlah 10 juta won. Wow, orang itu memang berani. Tapi karena dasarnya Jongin itu seorang laki-laki yang terjebak dalam wujud tubuh perempuan pastilah dia merasa terhina, dilecehkan dan benar-benar marah. Jongin langsung menendang penis kebanggaan pria itu dan memakinya habis-habisan. Pria tua itu awalnya tak terima dan berniat akan membalas perlakuan Jongin namun tak jadi karena.. ehm, sebut saja malaikat penolongnya -cih Jongin sebenarnya benci mengatakan ini- datang dan mengancam akan melaporkan pria itu ke pemilik bar ini -yang kebetulan adalah temannya- agar pria tua itu diusir dan dimasukkan kedalam blacklist orang-orang yang dilarang masuk kedalam bar ini. Pria tua itu tentu saja tidak mau sumber kebahagiaannya setelah pusing memeras otak dikantornya musnah begitu saja. Dengan terpaksa akhirnya dia mengalah dan pergi meninggalkan 'incarannya'
"Sudahlah Jongin-ah, kau jalanisaja kehidupanmu saat ini. Jangan banyak mengeluh. Bukankah ini semua juga karena kesalahanmu sendiri?" Ucap lelaki itu -Park Chanyeol-.
Jongin mendeathglare Chanyeol namun tak membuat lelaki jangkung itu takut. Pasalnya, wajah Kai saat ini terlihat lebih sexy daripada disebut menyeramkan. Diam-diam Chanyeol menyeringai. Tak menyangka jika si badboy Jongin ternyata ehm.. bisa juga membuatnya sedikit 'mengeras' seperti si pria tua tadi. Ouh, tapi Chanyeol tak mungkin berani mengakui itu terang-terangan seperti pria tua tadi atau wajah tampan kebanggaannya akan berakhir dengan lebam-lebam memalukan atau yang lebih parah dia tidak akan pernah bisa merasakan penisnya menusuk-nusuk vagina rapat Baekhyun. Ouh.. itu mengerikan sekali bagi Chanyeol.
Chanyeol sedikit berdehem menghilangkan pikiran itu.
"Em.. Bagaimana dengan kelas barumu?" Tanya Chanyeol mencari topik pembahasan dengan Jongin. Yeah, untuk memecah keheningan dan juga rasa canggungnya yang entah muncul darimana.
"Biasa-biasa saja." Jawab Jongin datar sambil menuang botol champagne Chanyeol kedalam gelasnya dengan raut wajah super datar.
"Gadis-gadisnya tidak ada yang lebih cantik dari Baekhyun?"
Dan tangan kanan Jongin yang terbebas pun mendarat di kepala Chanyeol.
"Dasar playboy!"
Chanyeol mengusap kepalanya dengan muka cemberut. "Mungkin saja ada yang lebih cantik. Kan aku bisa minta kau kenalkan nantinya."
Dan tangan Jongin sudah bersiap akan melayang kembali.
"Aish oke-oke, aku tutup mulut." Chanyeol akhirnya memilih diam daripada tangan lentik Jongin kembali mendarat di kepala yang berisi otak jenius miliknya. Ckckck...
"Oh ya, jadi siapa roomate-mu, hm? Apa seseorang berwajah cantik dengan dada besar juga?" Tanya Chanyeol sambil diam-diam melirik dada Jongin yang, yeah.. cukup besar dibalik kaos supreme nya.
"Ya, dia berdada besar dan lumayan cantik. Tapi dia galak sekali." Jongin sedikit mendengus mengingat perlakuan Sehun yang kemarin meneriakinya dan menjawab pertanyaannya dengan ketus. Namun setelahnya sebuah seringaian terbentuk dibibir tebal gadis itu.
"Hei hei hei.. Kenapa dengan senyummu itu, bung?" Chanyeol sedikit bergidik melihat seringaian Jongin. Apa yang sedang dipikirkan bocah itu sebenarnya, huh?
Kali ini Jongin menatap Chanyeol. "Bagaimana menurutmu jika kutiduri dia malam ini?" Tanya Jongin lemgkap dengan seringaian mesum miliknya yang sungguh terlihat sexy dimata Chanyeol. Astaga.. Dengan susah payah pemuda itu menelan ludahnya gugup. Sial! Jongin versi gadis benar-benar membuat gairahnya bangkit.
"D-dengan wujudmu yang sekarang?"
"Tentu saja tidak, bodoh! Bukankah sudah pernah kukatakan aku akan kembali menjadi namja saat tengah malam?"
"Yeah, maaf aku lupa." Chanyeol nyengir.
"Tapi ngomong-ngomong, siapa memangnya roomate-mu itu?" Sambung Chanyeol sambil menuang champagne nya.
"Oh Sehun." Jawab Kai datar.
Chanyeol hampir tersedak. "O-oh Sehun? Bukankah Oh Sehun itu... teman Baekhyun?" Tanya Chanyeol mendelik tidak percaya.
"Hei hei hei.. Kecilkan ukuran bola matamu itu. Kau membuatnya lepas sebentar lagi."
"Aish, jawab aku. Benarkah Oh Sehun yang itu?" Tanya Chanyeol tak menggubris ucapan Jongin.
"Ck. Ya benar, Sehun yang itu. Memangnya ada apa?"
"Jongin.. Kau tahu siapa Oh Sehun?"
"Tidak, memangnya siapa?" Jongin terlihat acuh.
"A-ah bukan siapa-siapa." Jawab Chanyeol tiba-tiba.
Jongin sontak mengernyit. Ada apa dengan bocah ini sebenarnya? "Kau ini kenapa?"
"Ah tidak, tidak. Kukira aku salah orang." Chanyeol terkekeh pelan.
Awalnya Jongin cukup curiga dengan gelagat aneh Chanyeol, tapi kemudian dia memilih untuk mengabaikannya saja. Toh tidak begitu penting menurutnya.
"Hampir saja aku kelepasan bicara."
.
.
.
.
.
Jongin baru saja pulang ke asramanya setelah pergi lumayan lama ke bar bersama Park Chanyeol. Tidak usah heran kenapa bisa Chanyeol yang notabene adalah murid SHS bisa berada di dalam bar bersama Kim Jongin yang sedang ijin karena 'sakit'. Well, dulu saat Jongin masih dalam keadaan normal, mereka memang sering membolos jam pelajaran untuk pergi ke bar, dan menghabiskan waktu disana hingga siang bersama para pelacur murahan yang kerap kali mereka sewa untuk memuaskan nafsu duniawi mereka.
Ngomong-ngomong, Jongin tadi mengalami apa yang biasa dialami wanita saat berada di bar. Dan dia benar-benar kerepotan karena hal itu. Park Chanyeol saja sampai tertawa terbahak-bahak karenanya. Dan dengan sok sukarekawan, Chanyeol menawarkan diri untuk membantu Jongin membeli pakaian dalam dan pembalut. Ugh, ingin rasanya Jongin meneriaki telinga lebar Chanyeol dengan kata-kaþa 'mutiara' miliknya. Tapi Jongin masih ingat tempat untuk tidak berteriak didalam bar yang sedang ramai begini atau dia akan diusir dari sana atau yang lebih parahnya menjadi santapan ahjussi-ahjussi hidung belang yang haus akan sentuhan. Ew, kemungkinan yang terakhir benar-benar membuat Jongin mual.
Ini sudah pukul setengah 5 sore, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda kepulangan murid-murid dari sekolah. Hmm.. Apa hari ini sedang ada jam bimbingan ya? Kalau tau begini lebih baik dia tadi datang ke sekolah saja daripada merasa bosan di asrama sendirian. Lagipula kepergiannya untuk 'menjernihkan pikirian' bersama Park Chanyeol rasanya juga sia-sia saja. Bukannya membantu, pria jangkung itu malah membuat suasana hati Jongin makin memburuk apalagi pasca insiden 'pelecehan' oleh seorang ahjussi hidung belang juga ditambah dirinya yang mendadak harus mengalami 'datang bulan' yang sama sekali belum pernah ia alami sebelumnya. Rasanya Jongin ingin berteriak sekeras mungkin dan mencari siapapun yang bersedia menjadi 'bantal tinjunya' untuk sasaran. Sial sekali hidupnya hari ini!
Tepat ketika Jongin selesai mandi, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Dengan buru-buru tanpa sempat mengganti handuk yang melilit tubuhnya gadis itu membuka pintu kamarnya dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah datar dan tatapan tajam seorang Oh Sehun.
"Sehun.. Kau sudah-"
Tanpa memperdulikan Kai, gadis brunette itu segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Kai? Tentu saja gadis itu merasa tidak percaya dengan tindakan Sehun yang mengacuhkannya itu. Ingin rasanya Kai menjambak rambut indah gadis itu, huh kalau saja dia tidak cantik.. pikirnya.
Sehun sedang duduk di pinggiran ranjang saat ini. Tas nya sudah ia taruh di samping lemari kayu bercat coklat. Sangat jauh dengan keberadaan tas milik Jongin yang diketakkan di dekat meja belajar. Sehun benar-benar tidak mau barang-barangnya berdekatan dengan barang miliķ Kim Kai. Sebegitu tidak sukanya kah gadis itu kepadanya? Kai sampai heran sendiri melihatnya.
Daripada ia memikirkan sikap Oh Sehun kepadanya, lebih baik ia segera mengganti bajunya dan yeah, mungkin sedikit bersenang-senang lagi dengan si brengsek Chanyeol di luar sana.
K
A
I
H
U
N
Ini sudah pukul setengah duabelas malam, namun ranjang yang berada di samping ranjang miliknya itu belum juga terisi oleh sosok berkulit tan yang baru dua hari ini menjadi roommate-nya. Berkali-kali gadis pucat itu berusaha menutup mata dan pergi melalang buana ke alam mimpi, namun entah kenapa ia tidak bisa melakukannya. Sesekali diliriknya kasur berseprei putih yang masih terlihat rapi tanpa bekas jejak badan seseorang diatasnya yang berjarak satu meter disamping kasurnya. Bukannya Oh Sehun mencemaskan gadis itu. Hanya saja, Sehun merasa tidak nyaman jika mengetahui ada apapun yang kurang dikamarnya. Sehun adalah tipe orang yang sekali dia melihat sesuatu yang seharusnya berada ditempatnya, maka seterusnya sesuatu itu harus berada ditempatnya. Dan jika tiba-tiba menghilang, ia akan merasa sangat aneh dan tidak nyaman. Yeah, tipe-tipe orang yang 'pembiasa'. Jadi walaupun Kai itu baru menjadi roommate nya, Sehun sudah merasa terbiasa dengan keberadaan gadia itu. Wajar jika gadis itu belum pulang, Sehun akan merasa tidak nyaman. Yeah begitulah.
Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Sehun tak mendengar suara pintu dibuka. Sehun baru sepenuhnya sadar ketika mendengar suara tawa khas orang mabuk yang baru saja muncul dari balik pintu. Matanya terbelalak ketika melihat siapa orang itu. Astaga! Kai mabuk?
Sehun buru-buru menaikkan selimutnya hingga dada dan berpura-pura untuk tidur ketika menyadari Kai berjalan sempoyongan dengan kepala menunduk ke arahnya. Kai tidak boleh tau jika dia belum tidur.
"Oh Sehun... Hei... Kau sudah tidur ya?" Sehun dapat mendengar dengan jelas suara Kai yang berada di depan wajahnya dan jangan lupakan bau alkohol yang begitu menyengat. Ugh, rasanya Sehun ingin muntah saat mencium bau alkohol dari mulut Kai.
"Hmm.. Kau tau tidak? Kau itu gadis cantik Sehunnie.. Tapi kenapa... Kenapa sikapmu kejam sekali kepadaku, huh?" Kai masih meracau tidak jelas. Efek alkohol membuat ucapannya menjadi blak-blakan dan tidak jelas.
Sedangkan Sehun terus mendengarkan ucapan Kai yang sedang mabuk itu.
"Sehunnie.. Kenapa aku selalu merasa panas ketika melihatmu ya? Terutama saat kau hanya memakai bra dan rok seragam pendekmu seperti kemarin itu. Huh.. Rasanya aku ingin menerkammu saat itu juga hahaha." Ucapan Kai semakin tidak jelas. Kesadarannya sepertinya tinggal beberapa puluh persen lagi hingga membuatnya ngelantur.
Bagaimana dengan Sehun? Tentu saja gadis itu merasa marah. Ya, marah sekali! Lagi-lagi ia merasa dilecehkan dengan ucapan Kai. Walaupun dia sedang mabuk dan kemungkinan kesadarannya hampir hilang. Tapi ucapan Kai itu benar-benar menyakiti perasaannya terlebih mereka itu sama-sama wanita. Ingin rasanya Sehun membuka matanya dan menendang tulang kering gadis itu hingga ia berteriak kesakitan dan membuat kesadarannya kembali. Tapi Sehun masih punya rasa kasihan. Lagi-lagi ia mengingatkan dirinya jika Kai itu sedang mabuk. Dan seburuk-buruknya sikapnya terhadap Kai, ia tidak akan mungkin tega menganiaya orang yang sedang mabuk. Sehun masih memiliki hati nurani, oke? Jadi, lagi-lagi Sehun hanya diam dan tetap berpura-pura tidur.
"Agh... Kenapa perutku terasa mual begini? Hoekk.." Sehun tiba-tiba merasa khawatir saat mendengar Kai mengatakan perutnya mual. Ini pasti karena dampak dari alkohol yang masuk kedalam tubuhnya yang masih belum pulih benar. Aish! Gadis itu kenapa ceroboh sekali sih?
Dan teriakan Kai tiba-tiba terdengar, membuat Sehun sedikit bergidik. Ya ampun.. Ada apa sebenarnya dengan Kim Kai? Apa sesuatu yang buruk terjadi padamya?
Beberapa saat kemudian, Sehun tidak lagi mendengar adanya suara kesakitan Kai. Kamarnya sunyi. Astaga! Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi kepada Kai? Aish sudah cukup! Kali ini ia akan benar-benar membuka matanya.
Dan yang terjadi ketika Sehun membuka matanya adalah..
"OMO!"
Gadis pucat itu berteriak sangat terkejut ketika melihat bukan sosok Kai yang ada dihadapannya melainkan.. Astaga!
"Siapa kau!" Teriak Sehun kepada orang itu.
Dan orang yang diteriaki Sehun itu masih meringis sambil memegangi perutnya. Perlahan ditatapnya gadis pucat yang astaga... Sehun bangun! Kai membulatkan matanya.
"Se-sehun..."
"Ya! Kutanya siapa kau?! Beraninya kau masuk kesini, huh? Dan dimana teman sekamarku? Apa kau menyembunyikannya? Atau jangan-jangan kau kekasih Kai yang menyelinap kesini?"
Kai baru sadar jika ia tengah menghimpit sesuatu dibawah sana. Astaga.. Jadi dia sudah berubah? Dan... Dan dia berubah di depan Oh Sehun. Sehun memergoki dirinya dengan wujud laki-laki. Oh astaga!
"Sehun... Aku bukan..."
"Ya! Mengaku saja kau!" Teriak Sehun lagi.
"Ck, kumohon jangan berteriak-teriak. Nanti seisi asrama bisa tahu!"
"Aku tidak peduli! Biar saja mereka tau! Yang jelas sekarang kutanya siapa kau?"
Kai meringis sekali lagi sambil mengacak rambutnya kasar. Tidak tahan dengan ini semua.
"Aish... Baiklah! Aku Kim Kai, kau puas?" Jelasnya.
Sehun mematap lelaki didepannya itu dengan tajam.
"Bodoh! Jangan berbohong kau! Kim Kai itu perempuan! Lagi pula ia hitam dan berdada besar tidak bidang dan tinggi sepertimu. Memang sih kalian sama-sama hitam." Ucap Sehun tidak percaya dan membanding-bandingkan keduanya.
Seketika Kai mendelik tidak suka. "Ya! Apa kau bilang?"
"Aish.. Selain sama-sama hitam, kalian juga sama-sama menyebalkan."
"Kau..."
Kai benar-benar dibuat kesal oleh perkataan gadis pucat itu. Pemuda itu berjalan mendekati Sehun yang berada beberapa senti darinya itu. Gadis itu sedikit takut melihat tatapan tajam Kai dan dengan segera memundurkan tubuhnya namun sual! Kakinya malah menabrak kolong kasur sehingga membuat tubuhnya jatuh di atas kasur. Kai a.k.a Jongin tentu saja tersenyum puas melihatnya. Pemuda itu kini sudah berada tepat di depan Sehun. Seringai yang menurut Sehun sangat menakutkan namun juga sangat tampan tercetak jelas dibibir tebal pemuda itu. Apa yang akan dilakukannya? Sehun takut..
"Kau benar-benar tidak percaya jika aku adalah Kim Kai, roommatemu, hmm?" Jongin berbisik lembut didepan wajah Sehun yang masuh menatapnya tajam itu walau tidak dipungkiri terbesit ketakutan juga diwajah cantik dan angkuhnya.
"Kim Kai seorang perem-"
Jongin segera memotong ucapan Sehun dengan menyumbat mulut gadis itu dengan bibir tebalnya. Sehun membelalak terkejut dan meronta agar Jongin melepaskan ciumannya namun pemuda itu tak menggubris perlawanan Sehun sedikitpun. Perlawanan Sehun itu tidak ada apa-apanya bagi dirinya yang saat ini dengan tubuh laki-laki. Pemuda tan itu sibuk menyecapi belahan bibir tipis milik Sehun dengan sangat bernafsu. Awalnya Sehun memang mengatupkan mulutnya namun dengan usaha Jongin yang meremas payudara kiri gadis itu membuat gadis itu membuka mulutnya dan kesempatan itu ia lakukan untuk bisa lebih mengeksplore rongga hangat Sehun. Cukup lama ciuman itu berlangsung hingga membuat saliva membasahi dagu keduanya. Kali ini Sehun hanya pasrah ketika Jongin memainkan rongga mulutnya ataupun bibirnya karena jika menolak, pemuda itu akan meremas payudaramya atau menjambak rambutnya dan itu sakit sekali. Sehun lebih baik pasrah saja.
Setelah cukup lama berciuman panas, akhirnya tautan bibir mereka terlepas. Keduanya terengah-engah. Bibir tipis Sehun kini terlihat membengkak dan berwarna semakin merah. Ditatapnya pria yang menurutnya sangat keterlaluan itu dengan mata berkaca-kaca. Dia sungguh tidak percaya, ciuman pertama yang ia jaga selama ini untuk orang yang benar-benar dicintainya dengan seenaknya diambil oleh pria yang mengaku sebagai roommate-nya itu! Rasanya Sehun ingin menangis! Namun airmatanya entah kenapa tidak mampu keluar. Rasa sesaknya hanya berujung didadanya saja.
"Sehunie.. A-aku minta maaf atas perlakuanku yang kasar tadi. Ini semua terjadi diluar kendaliku. Maafkan aku.."
Kai benar-benar menyesal akibat perlakuannya tadi. Ia tidak bermaksud menyakiti Sehun. Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya. Nafsu dan gairahlah yang menguasai tubuhnya.
Dilihatnya gadis itu yang menatapnya dengab kecewa.
Astaga Sehun, maafkan aku...
Jongin siap jika Sehun menampar atau bahkan menendangnya saat ini juga. Dia akan menerima kemarahan Sehun. Karena ia memang pantas mendapatkannya atas semua sikap keterlaluannya tadi.
Namun diluar dugaan. Bukannya menampar atau menendang laki-laki itu, Sehun malah terduduk lemas di lantai dan tangisnya pun pecah. Sehun menangis sesenggukan.
Jongin yang melihatnya merasa benar-benar tidak tega. Gadis itu terlihat begitu menyedihkan dengan terduduk lemas di lantai dan kepala tertunduk karena menangis. Hati Jongin rasanya sakit. Ini semua karenanya.
"S-sehun-ah.. Maafkan aku.." Jongin ikut terduduk di lantai dan dengan segera menarik tubuh lemah Sehun kedalam pelukannya. Tidak ada penolakan dari Sehun. Gadis itu tetap menangis tanpa berniat untuk membalas pelukan Jongin sedikitpun. Jongin jadi semakin sedih. Dibelainya rambut panjang gadis itu dan ucapan maaf terus keluar dari bibirnya.
"Sehun-ah, maafkan aku.."
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
yeeeyy akhirnya selesai juga garap chap 3 nya! Huhuhu udah pada lumutan yak nungguinnya? XD maaf ya gue lamaaaa banget ga apdet2, banyak urusan pribadi akhir-akhir ini. Apalagi gue udah kelas 3 jadi harua banyak-banyak belajar buat persiapan ujian kelulusan juga banyak banget PR jadi waktu buat garap nih ff itu ga ada :3 mianhaeyo...
Gimana? Chapter ini masih kurang hot? So pasti xD ini masih tahap 'poppo' belum ke intinya. Hehehe ditunggu aja lah ya ntar jg nyanpe kesitu wkwk.. oiya, maaf kalo masih banyak banget typo, males ngedit nih T.T
Oiya, ada sedikit alur yg gue rubah nih... huhuhu maklum lah ya, author nya masih labil jadi bikin cerita aja alurnya ga konsisten.
Pokoknya baca ndiri deh dari chapter prolog ampe chapter ini. Ntar juga kalian ngeh sendiri mana alur yg gue rubah /males nyeritainnya wkwk
Okedeh.. gue tunggu review kalian yg sangat sangat bermanfaat buat kelangsungan ff ini. Buat yg udah review, fav, follow, makasiiihhh banget^^ maaf ga bisa sebutin nama kalian satu-satu.. tapi percayalah, gue bacain semua review yg masuk kok^^ so terus review ya, tanpa partisipasi kalian, ff ini hanyalah butira debu /eakk
Dan juga buat SIDERS, ayo dong tunjukkin batang hidung kalian.. hargai author yg udah capek2 nulia ff ini.. kan enak tuh, gue dapet review atas kerja peres otak, readers dapet lanjutan ff setelah ngereview. Ngereview ga susah kok^^ lebih susah juga bikin D.O setinggi Chanyeol wkwk /apadah/ jadi ayo ayo sidersnya pada review :)
