Magic Girl Or Boy?
.
Pairing : KaiHun
Genre : Romance, fantasy.
WARNING! MATURE CONTENT INSIDE, EYD ANCUR, TYPO BERTEBARAN, ALUR NGALOR-NGIDUL, BAHASA AGAK ALAY, GAYA PENULISAN BERUBAH, DAN MASIH BANYAK LAINNYA. Tolong maklumi..
.
Percayalah, isi tidak seburuk bungkusnya/?.
This is 100% KaiHun FF, tolong jangan salah paham dengan isi Summary^^
.
And for the last
.
.
HAPPY READING!
.
.
.
.
CHAPTER 4
"Oh Sehun, ada apa denganmu?" Seorang gadis bersurai madu menatap temannya dengan heran. Gadis yang ternyata adalah Sehun itu masih diam. Entah dia sebenarnya mendengar suara temannya atau tidak.
Kesal karena sudah diabaikan, akhirnya Luhan, si gadis bersurai madu itu menghentakkan kakinya kesal dan menatap apapun disekitarnya, mencari benda apapun yang kiranya bisa ia pakai untuk menyadarkan Oh Sehun dari lamunan menyebalkannya.
Luhan menyeringai menatap Sehun yang masih saja diam di depannya. Perlahan, dibukanya kotak persegi yang tadi ditemukannya tak jauh dari tempat ia berdiri dan segera mendekatkan kotak yang isinya telah terbuka itu ke depan wajah Sehun. Tak butuh waktu lama, reaksi pun akhirnya ditunjukkan oleh sang gadis brunette.
"Hoekk... Luhan, apa yang kau lakukan kepadaku?!" Seru Sehun dengan berusaha keras menjauhkan kotak yang berisi benda yang menurutnya berbau busuk itu dari dirinya.
Luhan tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana? Apakah enak?" Luhan kembaIi mendekatkan kotak itu kepada Sehun. Salah satu bentuk balas dendamnya kepada Sehun yang sedari tadi tidak kunjung tersadar dari lamunan -atau mungkin memang sengaja mengabaikan Luhan?-. Luhan masih merasa kesal dengan temannya itu.
"Luhan, hentikan! Aku bilang hentikan!" Sehun masih berusaha menjauhkan dirinya. Ia benar-benar tidak tahan dengan bau makanan itu. Sehun mual sekali. Kimchi bawang adalah salah satu jenis makanan yang paling dibencinya karena baunya yang sangat menyengat seperti benda busuk. Walaupun sebenarnya Sehun adalah gadis penyuka kimchi, namun jika itu adalah kimchi bawang, ia menyerah. Tolong jangan pernah menyuruh Sehun memakannya walau hanya untuk kedua kali -setelah pengalaman pertamanya memakan makanan berbau menyengat itu 11 tahun yang lalu-.
Luhan akhirnya menurutinya. Ia menghentikan aksinya menyodori Sehun sekotak kimchi bawang entah milik siapa itu dan menutup kembali kotak tersebut hingga rapat. Kemudian menaruhnya kembali ke tempat semula.
Luhan masih terkikik geli ketika melihat Sehun yang tengah mengibas-ibaskan tangannya dengan muka cemberut berharap agar bau makanan itu cepat hilang dari penciumannya. Tidak tahan, akhirnya Sehun mengeluarkan parfume yang ada ditasnya dan segera menyemprotkannya ke seluruh area yang ada di sekitarnya. Seketika bau menyengat kimchi tergantikan dengan harum greentea dan lime yang begitu menenangkan. Sehun kembali duduk di kursinya dengan badan lemas.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanya gadis rusa di samping Sehun.
Sehun yang awalnya terlihat tak bertenaga akhirnya menatap gadis di sampingnya itu dengan tajam. "Kau berniat membunuhku, huh?"
Sedangkan Luhan, gadis itu terkekeh pelan. Nafasnya tertahan karena merasa ngeri dengan ekspresi Sehun sekarang. Bagaimana bisa rupa Sehun menjadi semenyeramkan ini ketika sedang marah? Alis dan tatapan matanya benar-benar tajam menusuk. Padahal disaat yang lain ketika sedang merengek, wajah Sehun akan terlihat begitu menggemaskan dengan eyesmile bulan sabit yang menjadi andalannya. Dan jangan lupakan aegyo-nya yang imut. Uh jika mengingat itu, Luhan pasti tidak akan tahan untuk tidak mencubit Sehun saking gemasnya.
Tapi kini Sehun memang benar-benar berbeda. Tidak ada aura menggemaskan sedikitpun. Entah penglihatan Luhan yang bermasalah atau bagaimana, saat ini Luhan melihat Sehun dengan tatapan tajam sangat menusuk dan sepasang sayap hitam legam berada di belakang punggungnya yang tengah mengepak-ngepak angkuh dihadapannya. Seperti siap untuk menelannya hidup-hidup. Luhan merasa ngeri. Mengapa Sehun jadi sangat menyeramkan?
"Hei, Luhan.. Jadi apakah kini aku juga harus membawakanmu bangkai agar kau bisa segera sadar, huh?" Luhan seketika tersadar mendengar pertanyaan sarkartis Sehun. Ternyata tadi itu hanyalah khayalan Luhan semata. Ia menggeleng ngeri. Bagaimana bisa otaknya melantur seperti itu.
Luhan akhirnya kembali menyadari sesuatu dan berdiri. "Hentikan leluconnya. Bukankah tadi aku yang bertanya kepadamu mengapa kau bisa jadi murung? Mengapa kita bisa berakhir dengan perdebatan bodoh ini? Sekarang fokus ke pertanyaan semula. Oh Sehun, apa yang telah terjadi kepadamu hingga tadi membuatmu murung?" Luhan menyelesaikan kalimat panjang itu dengan satu tarikan nafas. Wow, daebak.
Sehun terdiam. Otaknya tiba-tiba kembali memutar memori tentang kejadian semalam yang begitu membuatnya merasa sakit hati dan ingin menangis. Sehun sungguh tidak ingin kembali mengingatnya. Tentang apa yang dialaminya. Tentang dirinya yang dilecehkan oleh teman sekamarnya sendiri yang entah bagaimana bisa berubah menjadi seorang laki-laki. Yang sialnya sangat tampan dan membuatnya jadi gugup hanya dengan memikirkannya. Sial. Kenapa Sehun bisa seperti ini?
"Oh Sehun..?" Luhan mengibaskan tangannya di depan wajah Sehun.
"Ah, ya." Sehun kembali tersadar dari lamunannya.
"Sehun, kumohon. Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? Kau terlalu banyak melamun. Ini bukan dirimu sekali." Luhan yang frustasi akhirnya hanya bisa menatap temannya itu dengan wajah memelas berharap dengan begitu Sehun mau menceritakan masalahnya kepada Luhan.
Entah kenapa, mata Sehun jadi terasa panas. Bulir-bulir itu jatuh begitu saja tanpa bisa ia tahan.
"Luhan, bisakah kau antarkan aku ke ruang kesehatan?"
.
.
Magic Girl Or Boy?
.
.
Gadis dengan setelan seragam sekolahnya itu terlihat tengah duduk seorang diri di salah satu kursi penonton yang ada di ruang latihan basket. Matanya menatap orang-orang yang sedang saling berebut bola itu dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini hingga tak menyadari jika kini ada seorang pemuda dengan perawakan tinggi datang dan duduk di sebelahnya.
"Hei, dude, apa yang salah denganmu kali ini? Apakah ada seseorang yang telah melecehkanmu lagi?" Ucap pemuda itu dengan menepuk pundak gadis itu sok asik.
Gadis itu, -Kim Kai- hanya diam saja tanpa menanggapi ucapan pemuda tinggi disampingnya -Chanyeol-. Padahal, biasanya Kai pasti akan sangat marah jika Chanyeol sudah mulai meledeknya seperti barusan.
Chanyeol mengernyit melihat temannya itu hanya diam saja.
"Hei, Kim Jongin. C'mon.. Masalah apalagi kali ini, huh? Kau tak mau cerita?" Chanyeol bersumpah, jika sekali lagi Jongin mengabaikannya lagi, dia akan langsung mencium bibir gadis tan itu hingga bengkak.
"Aku bingung." Ucap Kai pada akhirnya. Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan. Terlihat lesu.
"Whats wrong?" Tanya Chanyeol.
"Dia pasti sekarang semakin membenciku." Kai mengacak rambutnya frustasi. Kemudian menghempaskan badannya begitu saja ke kursi yang sesungguhnya sangat keras di belakangnya.
"Siapa?" Tanya Chanyeol semakin bingung. Jongin daritadi terlalu bertele-tele. Sebenarnya ada masalah apa dengan dirinya hingga membuatnya harus sefrustasi ini? Ia mengenal pemuda -uhm, gadis- ini dengan baik dan Jongin tidak pernah merasa sekacau itu sebelumnya jika masalah yang dialaminya tidak begitu pelik. Tandanya, kali ini Jongin tengah menghadapi masalah yang cukup serius. Dan Chanyeol jadi penasaran sekarang.
"Dia.. Oh Sehun." Jawab Kai pelan. Pelan sekali. Kepalanya menunduk. Membuat tengkuknya yang jenjang semakin terekspos karena Kai yang mengikat rambutnya lumayan tinggi. Chanyeol menelan ludahnya kasar saat tak sengaja melihatnya. Jantungnya jadi berdetak lebih kencang. Sialan sekali, kenapa disaat-saat seperti ini ia harus merasakan gairahnya meletup? Tahan, Chanyeol, tahan.. Jangan sampai kau kelepasan dan akhirnya menyerang Jongin dengan brutal. Bisa-bisa kau mati konyol setelahnya. Chanyeol berusaha mengingatkan dirinya.
Chanyeol mengalihkan pandangannya. Berusaha mengusir pikiran mesum dari otaknya. Ia berdehem pelan.
"Apa kau telah berhasil menidurinya?" Tanya Chanyeol.
Seketika Kai mendongak, menatap sekumpulan orang yang tengah berkumpul di tengah lapangan.
"Belum. Dan sepertinya akan sangat sulit melakukannya setelah ini. Aku yakin dia sangat membenciku saat ini."
Chanyeol terdiam. Pasti telah terjadi sesuatu yang serius diantara sahabatnya dan Oh Sehun. Oh Sehun bukanlah gadis yang mudah diajak bergaul. Dia sangat tertutup dan pendiam. Apalagi dengan orang seperti Jongin. Tapi, tunggu. Bagaimana Chanyeol bisa tahu?
"Hei, kau mau tetap disini sampai kau dikeluarkan dari anggota klub basket, huh?" Ucap Kai tanpa menoleh.
Chanyeol? Pemuda itu tentu saja mendelik dan langsung memutar kepalanya ke arah lapangan yang ternyata sudah ada anggotanya beserta pelatih yang berkumpul dan kini tengah menatapnya tajam seakan mengatakan, 'hentikan-acara-kencannya-dan-cepat-kemari-atau-akan-kubuang-kau-dari-tim.'
Chanyeol mengumpat pelan dan akhirnya meninggalkan Kai untuk kembali bergabung dengan anggota tim basketnya.
.
.
oOOo
.
.
Setelah cukup lama duduk diam di ruang latihan basket, dengan Chanyeol yang mengganggunya. Kini Kim Kai memutuskan untuk pergi saja dan berniat untuk pergi ke tempat dimana ia bisa mendapatkan obat sakit kepala karena jujur, kepalanya sangat sakit.
Kai membuka pintu ruang kesehatan dengan malas dan begitu terkejut saat mendapati orang yang telah membuatnya jad pusing itu ada disini. Oh Sehun tengah tertidur di atas brankas. Oh, kejutan macam apa ini?
Kai menatap Sehun yang sedang terlelap itu dengan tatapan sulit diartikan. Gadis itu menghampiri Sehun. Berdiri di depannya dan hanya menatapnya.
"Oh Sehun.. Apa kau masih marah kepadaku?" Gumam Kai pelan. Kenapa Kai bisa memiliki detakan aneh di jantungnya ketika melihat wajah Oh Sehun yang sedang terlelap? Kai menatap seluruh lekuk wajah Sehun. Alisnya yang tegas, bulu matanya yang sangat lentik, hidung mungil mancung. Kai terpaku ketika menatap bibir tipis berwarna merah muda alami milik Sehun yang sedikit terbuka. Tanpa sadar, tangannya terulur untuk menyentuh bibir menggoda itu.
Dibelainya bibir Sehun lembut. Lembut sekali. Tidak ingin membuat pemiliknya bangun. Perasaan rindu tiba-tiba menghampirinya. Kim Kai rindu. Bagaimana bibir tipis itu bertemu dengan bibir tebalnya, mengulum dan menyecapi bibir semanis madunya hingga bibir itu membengkak. Entah kenapa ia jadi merindukan ciumannya dibibir Sehun. Ciuman yang menurutnya sangat manis. Bagaikan sebuah candu yang membuat seorang Kim Kai jadi meremang akan nafsu hanya dengan membayangkannya.
Perlahan namun pasti, Kai mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Oh Sehun yang sedang terlelap. Kai tersenyum. Dibelainya pipi seputih salju itu dengan lembut. Wajahnya kini sangat dekat dengan wajah Sehun. Ia bahkan bisa mencium harum tubuh Sehun yang memabukkan dan membuatnya sedikit 'basah'. Ini gila.
Kai akhirnya mempertemukan bibirnya dengan bibir Sehun. Tidak ada pergerakan yang dilakukannya selain hanya menempelkan bibirnya diatas bibir gadis pucat yang tidak terusik sedikitpun dari tidurnya itu. Kai memandang mata Sehun dengan tajam. Dan sedetik kemudian, bibir tebalnya telah terlepas begitu saja dari bibir Sehun.
Kim Kai lalu pergi begitu saja.
.
.
oOOo
.
.
Oh Sehun terbangun dengan perasaan aneh. Tentu saja aneh. Tadi saat tidur dia bermimpi Kim Kai datang menghampirinya kemudian menanyakan sesuatu yang membuat Sehun meremang lalu menciumnya. Sehun bahkan bisa merasakan bekas ciuman itu yang terasa sangat nyata. Ia memegang bibirnya tanpa sadar, kemudian menggelengkan kepalanya ngeri. Mengapa ia bisa memimpikan hal semenjijikkan itu? Apa otaknya mengalami gangguan? Dia bermimpi dicium seorang gadis! Astaga.. Kenapa dari sekian banyak pria di dunia ini, ia harus bermimpi dicium seorang gadis? Kim Kai?
Kim Kai.
Suasana hati Sehun kembali memburuk hanya dengan memikirkan nama gadis aneh itu.
Kim Kai adalah gadis aneh. Dia bisa menjadi seorang laki-laki hanya dengan sekejap. Sehun makin murung. Apalagi mengingat kejadian semalam. Untung saja dia bisa mengelak dari Luhan tadi siang sehingga gadis itu tidak menanyakan apapun lebih lanjut kepadanya.
Tapi tetap saja!
Apa yang harus Sehun lakukan nanti saat sampai di asrama? Dia tidak bisa mengusir Kai, apalagi melaporkannya ke Kepala Sekolah. Dia tidak memiliki bukti apapun untuk mengungkapkan semuanya. Hari ini bahkan dia melihat Kai yang sedang berada di cafetaria dengan tubuh gadisnya. Mengapa dia harus mengalami hal seperti ini?
.
.
.
.
Sehun memasuki kamarnya dengan lesu. Ditatapnya sekeliling kamar itu setelah ia berhasil membuka pintu. Kosong. Sehun menatap jam dinding yang tergantung tepat diatas ranjangnya. Ini sudah pukul 7 malam, namun belum ada tanda-tanda orang yang telah memasuki kamar sebelumnya. Sehun duduk di atas ranjangnya. Ditatapnya ranjang yang ada di samping ranjangnya itu lama. Gadis itu.. Ah mungkin, pemuda itu.. Mengapa sampai sekarang belum pulang? Pergi kemana dia?
Sehun terhenyak. Untuk apa dia memikirkan gadis menyebalkan itu? Bukankah seharusnya dia senang? Karena gadis itu tidak ada disini. Tidak mengganggunya, membuatnya marah, atau mungkin.. Sakit hati hanya dengan melihat wajahnya.
Wajahnya yang tampan saat dia seorang laki-laki.
Astaga..
Oh Sehun pasti sudah gila.
.
Magic Girl Or Boy?
.
.
"Jongin, kau yakin pergi ke acara balapan dengan keadaanmu saat ini?" Tanya Chanyeol tidak yakin sambil menatap Kai dari atas ke bawah.
"Bukankah sudah kubilang jangan panggil aku Jongin saat aku jadi wanita? Kau mau semua orang dengar dan menertawaiku?" Jongin menatap temannya yang tinggi itu dengan tajam.
"Hahaha.. Oke, maaf. Aku lupa. Baiklah, Kai. Jadi kau yakin ingin mengikuti balapan ini? Apa kau bercanda?" Chanyeol mengambil sebuah benda berbentuk tabung panjang berisi tembakau dari dalam jaketnya dan menaruh benda itu ke mulutnya kemudian mematikkan api ke ujungnya. Satu kebiasaan Chanyeol yang selalu ia lakukan di area balapan. Merokok. Menurutnya menghisap benda laknat itu di tempat ini sangat keren. Dengan begitu, gadis-gadis seksi akan datang mendekatinya. Ckckck..
"Berikan satu padaku." Ucap Kai yang terdengar seperti sebuah perintah kepada Chanyeol. Chanyeol yang sedang asyik menghembuskan asap rokok dari hidungnya itu seketika menatap Kai.
"Jangan buat dirimu terlihat seperti gadis nakal, bodoh. Tidakkah kau lihat tatapan mereka yang menatapmu dengan lapar?" Chanyeol mengisyaratkan Kai untul melihat ke arah sampingnya dengan mengarahkan puntung rokoknya yang sedang terapit ke arah samping.
Kai akhirnya menatap sekerumunan laki-laki yang berdiri agak jauh di sebelah kirinya itu melalui ekor matanya. Kemudian berdehem pelan. "Baiklah.."
"Lebih baik kau menonton saja. Jangan membuat dirimu dalam bahaya. Kau seorang gadis sekarang." Nasehat Chanyeol kemudian berjalan pergi meninggalkan Kai untuk bersiap-siap karena balapan motor akan segera dimulai.
Jongin mendengus kasar. Sial. Ucapan Chanyeol benar-benar membuat harga dirinya terasa jatuh. Walau sebenarnya ucapan lelaki itu ada benarnya dan juga untuk kebaikannya. Ini semua karena tubuh sialannya. Kai akhirnya memutuskan untuk duduk di atas motor balap -entah milik siapa itu- dan menonton balapan yang akan segera dimulai.
"Wah-wah.. Siapa ini yang sedang duduk dengan wajah kesal? Kim Kai eh?"
Kai menoleh saat mendengar ada yang berbicara kepadanya. Alis gadis itu berkerut tidak suka. Kurang ajar, si idiot ini. Mau apa dia menghampirinya?
"Wow.. Santai, sayang. Kau terlihat sangat menggoda dengan tatapan itu." Laki-laki itu tertawa. Diam-diam tangan kirinya merogoh sesuatu di dalam saku celananya.
"Apa yang kau inginkan brengsek?" Kai mengepalkan tangannya. Tanda jika ia sangat marah. Nichkhun, pria itu adalah musuh Kai dikala ia menjadi laki-laki. Kai sangat membenci laki-laki ini. Jadi mau apa dia datang dan merayunya? Tidak tahu saja dia jika Kai sebenarnya adalah Kim Jongin, musuhnya sendiri.
"Sstt... Kau terlalu galak, manis. Aku kesini hanya ingin menemanimu saja, kok. Bukankah kau sendirian?" Laki-laki itu menyeringai. Rasanya Kai ingin sekali memukul wajah brengsek itu sekarang juga. Tapi ia menahannya. Ia tidak mau membuat kekacauan disini.
"Pergi." Ucap Kai dingin syarat akan nada perintah. Mendengar usiran gadis itu sontak saja Nichkhun tertawa.
"Ternyata kau ini gadis yang cukup buas juga, ya?" Nichkhun diam-diam meneteskan sesuatu ke sapu tangan yang berada di belakang tubuhnya.
Tiba-tiba saja Nichkhun mendekatkan sapu tangan itu ke wajah Kai. Membuat gadis tan itu seketika ambruk ke dalam pelukan Nichkhun. Kai pingsan. Ternyata sapu tangan itu telah dibubuhi obat tidur sebelumnya.
Nichkhun menatap sekelilingnya memastikan keadaan area balapan itu. Bagus. Semua orang sedang fokus menonton balapan liar itu sekarang. Tidak akan ada yang melihatnya memberi obat bius kepada Kim Kai. Dengan segera lelaki keturunan Thailand itu menggendong Kai menuju mobilnya.
Nichkhun memasuki mobilnya setelah menidurkan Kai di kursi depan. Laki-laki itu menyeringai puas. Akhirnya Kai ada di genggamannya Dan sebentar lagi, ia akan tau kebenarannya.
.
.
.
.
Chanyeol tertawa lepas bersama teman-temannya. Balapan itu baru saja selesai. Dan tebak, siapa orang yang berhasil menjadi juara pertama? Tentu saja itu Park Chanyeol. Ia tidak pernah kalah dalam balapan motor. Kecuali jika lawannya adalah Kim Jongin.
Mengingat nama Kim Jongin membuat Chanyeol jadi teringat sesuatu. Dimana temannya yang satu itu? Kenapa sedari tadi ia tidak melihat batang hidungnya? Apa mungkin dia sudah pulang? Pertanyaan itu yang kini berada di benak Chanyeol. Laki-laki itu memutuskan untuk menelponnya saja.
"Hallo?"
"Ya, hallo?" Chanyeol mengernyit kemudian menjauhkan ponselnya dari telinganya. Memastikan apakah dia benar sedang menelpon nomor Jongin atau bukan. Nomornya benar. Tapi kenapa yang mengangkat telponnya seorang laki-laki?
"Siapa kau?" Tanya Chanyeol dengan geram. Pasalnya orang yang mengangkat telponnya bukanlah Jongin. Ini suara seorang pria. Chanyeol tentu masih ingat jika Jongin akan berubah jadi wujud aslinya jika hari sudah tengah malam. Jadi, siapa pria ini? Dan dimana Jongin?
Bukannya jawaban yang Chanyeol dengar, melainkan sebuah kekehan.
"Hei brengsek, cepat katakan siapa kau? Dimana Kim Kai?" Chanyeol meninggikan suaranya. Ia benar-benar marah sekarang.
"Kim Kai eh? Hahaha.. Kau tidak akan pernah menemukannya." Dapat Chanyeol dengar suara rintihan seorang wanita tak jauh dari pria itu. Itu.. Itu suara Jongin! Astaga... apa yang telah dilakukan pria brengsek itu kepada sahabatnya?
"Bukankah rintihannya terdengar sangat seksi?"
"Bajingan! Apa yang telah kau lakukan padanya?!" Chanyeol mengepalkan tangannya ketika menyadari sesuatu.. Dia kenal suara ini. Bukankah ini suara Nichkhun? Orang nomor satu yang paling dibenci olehnya dan Jongin. Musuh bebuyutan mereka berdua. Apa yang dilakukan laki-laki brengsek itu? Dia menculik Jongin? Chanyeol benar-benar cemas.
"Kami hanya sedang menikmati indahnya malam bersama-sama."
Chanyeol menggertakkan giginya penuh emosi.
"Jika kau berani menyentuhnya akan kupastikan kau tidak akan bisa menatap dunia lag."
Chanyeol langsung mematikan telponnya dan bergegas pergi dari arena balapan itu.
...
Sehun menatap jam dinding itu sekali lagi. Gurat-gurat kekhawatiran begitu kentara terlihat di wajah cantiknya. Ya, ia memang sedang mengkhawatirkan seseorang. Teman sekamarnya. Ini bahkan hampir pukul 12 malam dan dia belum juga pulang. Sebenarnya pergi kemana gadis itu?
Ditatapnya pintu kayu di depannya itu sekali lagi. Ini bahkan sudah ke 57 kali ia menatap pintu berbahan kayu mahoni itu. Menunggu pintu itu terbuka dengan sosok seorang gadis berkulit tan muncul dari baliknya. Sehun sendiri bingung, mengapa ia harus mengkhawatirkan gadis itu? Atau mungkin, gadis setengah laki-laki itu? Hah.. Sehun pusing. Terlalu banyak hal-hal yang terngiang di otaknya. Namun yang paling membuatnya frustasi adalah tentang gadis itu.. Tidak, gadis setengah laki-laki itu. Mengapa? Mengapa dia jadi selalu memikirkannya? Bahkan hingga kini. Ia sendiri malah dengan bodohnya mengkhawatirkan orang yang belum tentu mengkhawatirkannya. Tidak, Kai tidak mungkin khawatir padanya. Tapi kejadian saat Kai menunggunya hingga demam itu.. Apakah Kai benar-benar khawatir padanya?
Sudahlah! Sehun pusing.
Malam itu, Oh Sehun masih tetap menunggu Kim Kai entah sampai kapan. Mungkin sampai ia mengantuk dan akhirnya jatuh tertidur.
.
.
Magic Girl Or Boy?
.
.
"Lepaskan aku brengsek! Sshh.." Kai meringis kesakitan merasakan tangannya yang kian terasa semakin perih karena tali-tali itu yang mengikat kedua tangannya semakin kencang. Pasti tangannya sudah memar sekarang.
Sedangkan pria yang berada di depannya itu hanya melipat kedua tangannya di depan dada sambil menonton dirinya yang terikat mengenaskan di atas ranjang dengan keadaan hampir telanjang. Hanya berbalutkan bra dan dan celana dalam yang bisa membuat siapa saja bergirah ketika melihatnya.
"Tidak semudah itu, sayang." Nichkhun mendekati Kai dan memegang dagu gadis itu. Mendongakkan wajahnya agar menatapnya.
"Wajahmu.. Memang tidak asing." Pria itu menyeringai untuk kesekian kalinya. Ya, pasti ini dia.
Kai sudah benar-benar tidak sudi menatap wajah bajingan di depannya itu. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah memalingkan wajahnya kesamping dengan kasar.
Nichkhun menatap jam tangannya dengan sebuah senyuman. "Sudah pukul 11:45. Hahaha... Sebentar lagi. Akan kubuat semua orang mengetahui dirimu yang sesungguhnya, Kim Jongin."
Kai benar-benar terkejut. Bagaimana Nichkhun bisa tahu jika dia adalah Kim Jongin? Ini gawat! Ini tidak boleh terjadi!
Laki-laki itu langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Kai.
"Kamera itulah yang akan merekam semuanya, Kim Jongin." Kai sontak mendongak menatap meja yang berada cukup jauh didepannya yang terdapat sebuah kamera kecil yang telah memacarkan warna hijau tanda jika kamera itu telah dalam keadaan on, sedang merekam dirinya saat ini. Kai panik. Ini tidak boleh terjadi. Semua orang tidak boleh mengetahui rahasianya. Kai menatap ke segala arah berharap ada benda yang bisa ia gunakan untuk membebaskan diri, atau paling tidak untuk mematahkan leher pria brengsek yang tengah berdiri disampingnya itu. Namun nihil. Dia tidak bisa menjangkau apapun. Tangannya terikat di kepala ranjang sedangkan kakinya diikat ke sisi-sisi ranjang.
Nichkhun menatap tajam Kai yang masih saja berusaha melepaskan diri. Percuma saja dia memberontak. Kaki dan tangan itu tidak akan bisa terlepas.
BRAKKK!
Nichkhun terkejut mendengar dobrakan di pintu apartemennya dan ketika ia menoleh sebuah kayu sudah menghantam kepalanya dengan keras. Pria itu langsung ambruk di tempatnya dengan darah bercucuran. Ia pingsan.
Kai mendelik menatap Nichkhun yang sudah tak sadarkan diri di lantai, kemudian mendongak menatap siapa orang yang telah melakukan semua ini. Wu Yifan?
"Kau tidak apa-apa?" Pemuda tinggi yang ternyata Wu Yifan itu menghampiri Kai yang masih terikat di ranjang. Laki-laki itu langsung melepaskan seluruh ikatan di tangan dan kaki gadis itu kemudian menyelimuti tubuh hampir telanjangnya dengan selimut.
"Terima ka-argh.." Ucapan Kai terpotong saat rasa mual tiba-tiba menghampiri perutnya. Seperti ada sesuatu yang mengoyak isi perutnya. Kepalanya amat pusing dan badannya sakit sekali.
Yifan panik menatap Kai yang tiba-tiba kesakitan. Apa yang terjadi dengannya? Apa yang harus dilakukannya?
"ARRGGHH!"
Dan betapa terkejutnya Yifan saat melihat perubahan tubuh gadis didepannya itu. Dia... Kim Jongin?!
"K-kim... Kim Jongin?!" Mata Yifan membola menatap perubahan wujud gadis yang telah diselamatkannya itu. Kim Kai adalah Kim Jongin! Teman satu klub basketnya di sekolah. Bagaimana ini bisa terjadi?
Kai masih meringis memegangi perutnya yang terasa sakit. Belum sadar jika kini ada laki-laki di depannya yang menatapnya dengan pandangan shock.
"Jongin... Y-yifan?"
Jongin dan Yifan sontak menoleh ke arah pintu.
"Chanyeol."
.
.
Magic Girl Or Boy?
.
.
"Ini gila." Laki-laki tinggi memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pening setelah mendengarkan cerita dari kedua orang di sampingnya itu.
Sedangkan, dua orang itu, Chanyeol dan Jongin hanya menatap Yifan dengan perasaan menyesal.
"Ini memang gila, tapi semua ini nyata." Jongin akhirnya bersuara.
"Jadi... Berita jika kau hilang di perkemahan itu semuanya bohong? Kau..."
"Ya, aku terkena kutukan. Berita itu dibuat hanya untuk menghilangkan identitasku sebagai Kim Jongin. Karena Kim Jongin hanya akan ada saat tengah malam. Dan setelah mata hari terbit, aku akan kembali ke wujud perempuanku. Semuanya memang terdengar gila."
Yifan masih tak habis pikir dengan semuanya. Ia begitu bingung dan pusing dengan semua ini. Ternyata.. Ternyata gadis yang baru kemarin membuat dirinya tertarik itu adalah Kim Jongin.
Yifan tersenyum kecut.
"Terima kasih telah membantuku terlepas dari belenggu bajingan itu, Yifan. Aku tidak tahu lagi, jika tidak ada kau mungkin semuanya akan berakhir." Ucap Kai bersungguh-sungguh.
"Tidak masalah. Aku senang bisa membantu."
.
.
.
.
Sehun yang sudah hampir terlelap dikejutkan dengan suara pintu yang berdecit. Ditatapnya pintu kayu itu yang tak lama kemudian muncul seseorang dari baliknya. Digigitnya bibir bawahnya dengan gugup. Itu Kim Kai dengan tubuh laki-lakinya.
Kai masih belum sadar jika kini ada seseorang yang tengah menatapnya dengan kikuk. Ia membalikkan badannya dan terkejut mengetahui Sehun yang ternyata belum tidur.
"K-kau... Tidak tidur?" Tanya Kai gelagapan. Sial sekali, dirinya tiba-tiba jadi gugup seperti ini.
"Aku... Belum mengantuk." Jawab Sehun berbohong sambil membolak-balikkan buku yang sedari tadi memang dipegangnya, berpura-pura membaca buku agar Kai tidak mencurigai apapun. Tentu saja, ia tidak akan membiarkan Kim Kai tahu jika sampai sekarang ia belum juga tidur karena menunggunya. Padahal sedari tadi Sehun sudah sangat mengantuk dan berkali-kali hampir menjatuhkan kepalanya ke sisi ranjang karena tidak kuat menahan rasa kantuknya.
Jongin menatap Sehun lama. Namun setelahnya berjalan menuju ranjangnya sendiri.
"Oh.."
Mereka berdua memang jadi canggung sejak kejadian semalam. Perdebatan kecil yang sebelumnya selalu mereka lakukan kini tidak terjadi lagi. Sebenarnya keadaan ini membuatnya tidak nyaman.
Jongin memutuskan untuk pergi ke kamar mandi saja daripada harus menghadapi keadaan seperti ini. Sekalian untuk membasuh pergelangan tangannya yang memar karena kejadian tadi.
Sehun terdiam kembali. Buku itu sudah berpindah ke samping tubuhnya. Ia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Kai yang sekarang. Ini semua menyulitkannya. Ketika laki-laki itu menatapnya dengan intens, astaga.. Sehun bisa gila jika terus begini.
"Kau belum juga tidur, hmm?" Tanya Kai tiba-tiba membuatnya sedikit tersentak.
"Atau jangan-jangan kau sedang menungguku?" Pemuda itu menghampiri Sehun, berdiri di depan ranjang sempitnya sambil menatapnya dengan sebelah bibir terangkat keatas.
"Ingin tidur bersama?" Kai mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Sehun untuk membisikkan kalimat yang menurut Sehun sangat laknat jtu.
Sehun? Gadis itu menatap laki-laki didepannya tajam.
"Kau... Dasar-mmpphhh..." Ucapan Sehun terpotong karena bibir tebal Kai dengan cepat membungkam bibir tipisnya. Sehun mendelik kaget namun setelahnya tubuhnya melemas karena gigitan Kai dibibir bawahnya bersamaan dengan tangan laki-laki itu yang menahan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka.
Sehun pasrah. Dia tidak melawan sedikitpun laki-laki yang kini sedang memasukkan lidahnya kedalam bibirnya itu dan menginvasi seluruh rongga hangatnya dengan lidah miliknya.
Sehun tidak membalas ciuman Kai membuat laki-laki itu kesal. Tangan kirinya yang menganggur ia gunakan untuk meraba-raba punggung halus Sehun dibalik piyama tidurnya. Dengan handal Kai langsung melepas kaitan bra Sehun hingga benda itu kini tercampakkan dipunggung Sehun. Dielusnya lagi punggung sehalus kapas itu dengan lembut. Tanpa melepas tautan bibir yang bahkan kini telah menghasilkan saliva yang berceceran di dagu keduanya.
Kai melepas tautan bibirnya memberikan akses Sehun untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Pria berkulit tan itu mencium bibir Sehun sekali lagi, kembali melumat bibir tipis semanis madu itu tanpa ampun. Bibir Sehun bagaikan candu Kai. Membuatnya ingin menyesapnya terus dan terus.
Kai menelusupkan tangannya kedalam piyama depan Sehun kemudian meremas benda kenyal milik gadis pucat itu dengan cukup keras membuat Sehun memekik disela-sela ciumannya.
"Aahhh..." Satu desahan lolos begitu saja dari bibir Sehun. Ia sudah berusaha menahannya namun bibirnya tidak bisa diajak berkompromi. Sentuhan Kai membuatnya menggigil.
"Bagus. Tetap mendesahlah untukku, Sehun. Tidak perlu menahannya." Kai mengecup bibir Sehun kemudian berpindah menuju leher jenjang gadis itu. Jongin menghisap area itu hingga menimbulkan bekas keunguan.
"Mmhhh.." Sehun menggigit bibir bawahnya berusaha keras agar desahannya tidak keluar. Ini memalukan sekali.
"Call my name, baby.." Kai melepas kancing piyama Sehun tidak sabaran. Dan setelah semuanya terlepas, dibuangnya pakaian serta bra yang sangat mengganggunya itu ke lantai.
Kini terpampanglah tubuh atas Sehun yang benar-benar putih mulus tanpa cacat sedikitpun. Kai menatap dua benda pink mungil dipuncak payudara Sehun yang sudah menegang itu dengan tatapan lapar. Laki-laki itu pun mendekatkan wajahnya ke puncak payudara kanan Sehun dan menghisap benda itu layaknya bayi yang sangat kehausan. Tangan kirinya ia gunakan untuk memainkan puncak payudara Sehun yang satunya. Memilin benda itu kemudian mencubitnya gemas.
"Aasshhh... Terushhh... Mmmhhh.." Sehun meracau tak karuan ketika dirasanya hisapan Kai benar-benar membuatnya meremang akan gairah. Apalagi sensasi perih bercampur nikmat ketika Kai menggigit putingnya. Sehun bisa gila hanya dengan perlakuan pria ini.
Kai tersenyum puas. Setelah selesai menghisap dan memainkan payudara Sehun, pemuda tan itu menggeser tubuhnya kebawah dan kini berhadapan langsung dengan kewanitaan Sehun yang masih tertutup celana piyama serta celana dalamnya. Dengan cepat Kai menurunkan seluruh benda pengganggu kesenangannya itu dalam sekali tarikan. Dan kini, tubuh Sehun benar-benar sudah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun di depannya. Kai berdecak kagum melihat tidak adanya bulu sedikitpun diarea kewanitaan Sehun. Gadis itu pasti rajin membersihkannya.
Saat tengah asyik menatap surga duniawi itu, tiba-tiba ada sepasang tangan yang menutupi benda itu membuat Kai mendongak menatap sang pemilik.
"Aku malu. Jangan menatapnya seperti itu." Ucap Sehun pelan dengan wajah menunduk. Membuat Kai mengeluarkan senyuman manisnya tanpa bisa ia tahan.
"Tidak usah malu, hmm.." Kai menyingkirkan tangan Sehun dengan perlahan dari kewanitaannya. Sehun merasa sangat geli ketika Kai mengecupi kewanitaannya berkali-kali. Sungguh. Ia sangat malu.
Cukup puas dengan memainkan bibirnya di area luar kewanitaan Sehun, Kai pun akhirnya berhenti kemudian berdiri dari posisi awalnya. Melucuti seluruh pakainnya hingga kini mereka berdua sama-sama telanjang. Kai kembali menaiki tubuh Sehun. Dilebarkannya kedua kaki jenjang Sehun ke kanan dan kiri. Membuatnya bisa melihat area dalam kewanitaan Sehun yang berwarna merah muda dan sudah basah oleh cairan miliknya sendiri.
Perlahan namun pasti, Kai mendekatkan wajahnya ke area kewanitaan dalam Sehun dan mulai menciuminya. Membuat Sehun menggelinjang karena sensasi aneh yang baru pertama kali dirasakannya. Kai memasukkan lidahnya kedalam lubang kewanitaan Sehun, mengeluar masukkan lidahnya dengan tempo sedang. Membuat Sehun semakin meremang dan merasakan perutnya penuh dengan kupu-kupu yang beterbangan.
"Mmmhhh... Aasshhh..." Sehun kembali meracau tak karuan karena merasakan satu jari Kai yang memasuki kewanitaannya dan tengah dikeluar-masukk oleh laki-laki itu dengan tempo yang lebih cepat.
"Akkhh... nghh..." Sehun memekik karena kewanitaannya yang terasa perih akibat tiga jari Kai sekaligus memasukinya. Sungguh, ini perih sekali!
Kai memainkan payudara gadis itu untuk mengalihkan rasa sakitnya. Meremas dan mencubiti benda itu lumayan keras membuat Sehun menggelinjang kembali.
Dirasa cukup, Kai akhirnya mengeluarkan tiga jarinya kemudian mulai memposisikan kejantanan miliknya yang sedari tadi sudah menegang dan mengacung hingga mengeluarkan precum diujungnya ke depan vagina Sehun. Sehun menunduk malu karena tak sengaja menatap benda panjang itu. Astaga.. Ini adalah pertama kalinya ia melihat kemaluan seorang laki-laki. Dan sebentar lagi, benda itu akan berakhir di dalam tubuhnya. Sehun memanas, benar-benar tak kuasa membayangkannya.
Kai yang menyadari tingkah Sehun hanya menatap gadis itu maklum. Ia tahu, pasti ini pertama kalinya bagi gadis itu. Perlahan Kai menuntun sebelah tangan Sehun yang berada di samping tubuhnya untuk mengelus kejantanannya yang benar-benar sudah sangat keras itu. Jantung Sehun berdetak abnormal ketika kemaluan lelaki itu kini berada di genggamannya. Sangat keras dan besar.
"Manjakan dia, Sehun." Bagaikan terhipnotis, Sehun menuruti perintah Kai untuk memanjakan kejantanan lelaki itu. Diremasnya benda panjang itu perlahan. Tentu saja dengan degup jantung yang kian mengencang
Merasa jika remasan Sehun dimiliknya sangat kurang, Kai mengambil inisiatif untuk menuntun tangan Sehun agar meremas kejantanannya lebih kencang dengan bantuan tangannya sendiri. Tangannya yang berada di atas tangan Sehun itu menuntun untuk meremas-remas kemudian menaik-turunkannya dengan tempo cepat.
"Ngghhh... Yeah, ini nikmat sekali." Kai menggeram tertahan merasakan sensasi yang sangat nikmat dimiliknya. Tangan Sehun yang hangat benar-benar memanjakannya walaupun harus dengan bantuan tangan miliknya. Kai memakluminya. Sehun baru pertama kali melakukannya.
"Sehun, tahanlah. Aku akan mulai masuk sebentar lagi." Kai memposisikan kejantanannya di depan kewanitaan Sehun yang sudah terbuka. Dikocoknya sekali lagi benda itu menjaganya agar tetap keras. Yeah, dia harus membuat kesan pertama sex yang indah untuk Sehun.
Kai mulai memasukkan kepala kejantannya kedalam milik Sehun dengan perlahan. Pemuda tan itu menggertakkan giginya menahan nikmat yang menjalari ujung kejantanannya ketika merasakan dinding kewanitaan Sehun yang terasa meremas miliknya. Dia tidak boleh gegabah dan malah memasukkan miliknya dalam sekali hentakan yang pada akhirnya akan membuat Sehun kesakitan. Tidak. Ia akan membuat Sehun merasakan kenikmatan itu perlahan-lahan.
"Akkhh... Ssshhh... Ouhhh. Pelan-pelanhhh... S-sakithh..." Sehun meringis merasakan perih yang menyerang kewanitaannya ketika kejantanan pemuda tan itu telah masuk setengahnya kedalam vaginanya. Perih, panas, nyeri. Semua bercampur satu didalam miliknya yang berusaha ditembus oleh benda panjang dan keras itu.
"Aakkhhhh..!" Sehun menjerit kesakitan ketika milik lelaki itu telah masuk sepenuhnya di dalam dirinya. Perih sekali. Tanpa bisa Sehun tahan, setetes airmata jatuh kepipi mulusnya.
"S-sehun.. Aku minta maaf..." Kai merasa tidak tega melihat Sehun yang kesakitan hingga menangis seperti ini. Ia hanya ingin Sehun tidak merasakan sakit itu lebih lama hingga memutuskan untuk memasukkan benda panjang yang telah masuk sebagian itu dalam sekali hentakan.
"Sshhh... Hiks.. Ini sakit sekali, Kai." Kedua bahu gadis itu bergetar seiring dengan tangisnya yang masih terdengar. Kai benar-benar merasa bersalah.
"Jika kau ingin berhenti, maka aku akan menghentikannya." Kai telah bersiap untuk mengeluarkan kejantanannya dari kewanitaan Sehun namun segera ditahan oleh perempuan itu.
"Tidak, Kai. Sshh... Sudah tidak terlalu sakit." Sehun berusaha mengeluarkan senyumannya agar pemuda ini tidak mengkhawatirkan dirinya lagi.
"Tapi, Sehun.."
"Bergeraklah." Potong Sehun dengan menunduk malu. Membuat Kai menatap perempuan itu lama namun akhirnya tetap menuruti perkataannya.
Perlahan Kai mulai menggerakkan kejantanannya keluar masuk dari dalam milik Sehun. Membuat Sehun meremang seketika merasakan sensasi baru yang terasa sangat nikmat di titik tubuhnya itu. Rasa sakitnya sudah hilang dan kini tergantikan oleh rasa nikmat yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
"Aaahh... aahhhh... Kai..hhh.. lebih cepathh.." Kai menggeram menahan nafsunya ketika mendengar desahan Sehun yang mendesahkan namanya. Desahan yang sangat sexydan mampu membuatnya lebih giat untuk mengeluar-masukkan kejantanan panjangnya didalam Sehun.
"Kai... Akuhhhh... Mmmhhh hampirhh aahhh... sampaihhh..."
"Tunggu akuhh.. mmhh.. Sehun.." Kai semakin mempercepat gerakan pinggulnya menumbuk rectumSehun membuat perempuan itu ikut tersentak-sentak mengimbangi gerakan Kai. Sebentar lagi ia juga akan klimaks.
Kai buru-buru mencabut miliknya dari dalam Sehun ketika dirasa klimaks-nya sudah berada diujung kejantanannya. Kai mengarahkan penisnya ke mulut Sehun dan langsung mengeluarkan benihnya didalam rongga hangat perempuan itu.
Kai yang melihat gesture Sehun yang ingin muntah pun langsung mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Sehun dan berbagi cairan itu bersama-sama.
"Hahh.. Aku lelah sekali." Kai ambruk begitu saja di atas tubuh Sehun. Sehun yang sudah tidak berdaya pun akhirnya hanya bisa memeluk punggung telanjang pemuda tan itu dengan kedua tangannya. Sehun sedikit menggeser tubuhnya kesamping, ditatapnya wajah Kai yang berada di bahunya itu. Sehun tersenyum tipis menatap guratan peluh di wajah tampannya. Dibelainya wajah itu lembut. Mulai dari dahi, alis, mata, hidung, pipi hingga bibirnya. Sehun menatap dua belah bibir kissable itu dengan sayu. Dan untuk pertama kalinya, Oh Sehun mengambil inisiatif untuk mencium laki-laki itu terlebih dahulu.
"Aku menyukaimu, Kai."
.
.
.
.
TO BE CONTINUED.
.
.
.
HALOOO..
AKHIRNYA SAYA LANJUTIN FF ABSURD INI KAN? HAYO ADAKAH YANG MASIH INGAT SAMA FF INI?
MAAF YA KALO NC-NYA MASIH KURANG HUT. COBA DEH ENTAR BACANYA SAMBIL MAKAN KERIPIK BALSEM. DIJAMIN LANGSUNG HOOOTTT.. HAHAHAH..
MAKASIH YA BUAT READERS YANG UDAH MAU BACA FF INI. TANPA SUPPORT KALIAN FF INI GAK BAKAL JADI LOH. HIHIHI
MAAF GAK BISA NYEBUTIN NAMA KALIAN SATU-SATU. TAPI BENERAN DEH. REVIEW KALIAN SEMUA GUE BACAIN KOK 3
SO, NAMBAH REVIEW NYA LAGI BOLEH DONG YA..
P.S. : KIMCHI BAWANG ITU CUMA KARANGAN GUE DOANG. GAK TAU DEH BENERAN ADA APA KAGAK DI KOREA SONO. WKWK..
