Teman-teman, sebelumnya saya lupa memperingatkan, bahwa karakter beberapa tokoh di ff ini akan OOC alias beda sama yang ada di anime aslinya. Hal ini dilakukan supaya alur cerita jadi lebih berbeda dan (semoga saja) lebih menarik. Read and review ya! Komen apa puun sangat berarti. Happy reading~~
BAB III
Neon Nostrade
Aku menutup pintu dengan keras. Oke ralat. Aku membanting pintu kamarku dengan kasar di depan mukanya. Laki-laki menyebalkan yang dengan tidak tahu malunya mencoba menyebut-nyebut kata teman di hadapanku. Aku tidak butuh ditarik kembali menjadi teman setelah dia membuangku delapan tahun yang lalu.
Ya. Aku tidak butuh teman seperti dia. Aku membanting koperku ke lantai, membuka risletingnya dengan kasar dan mengeluarkan pakaian dan semua perlengkapan sehari-hariku ke lantai sampai menimbulkan suara gaduh. Aku tidak peduli.
Aku benci laki-laki itu. Aku juga benci diriku sendiri yang justru menangis karena dia. Aku benci diriku sendiri yang selalu menyia-nyiakan air mata cuma untuk laki-laki bodoh itu. Aku beringsut dan bersandar di pintu sambil membekap mulut dengan kedua tangan, menahan agar suara tangisku tidak terdengar.
Aku benci diriku karena ternyata aku masih sangat mencintainya.
Seorang gadis kecil berambut biru tersenyum girang di halaman belakang rumah mewah keluarga Nostrade. Sesekali ia tertawa bersama teman mainnya yang berambut pirang. Mereka sedang berlomba membuat istana pasir di halaman. Siapa yang membuat istana pasir paling tinggi, dialah pemenangnya.
"Kau pasti kalah, Kurapika. Lihat istanaku sudah tinggi." Gadis berambut biru tertawa-tawa sambil terus mencetak bongkahan pasir menggunakan ember kecil secara cepat di atas bongkahan pasir lainnya.
Kurapika menyahut dengan ringan, "Jangan sombong dulu. Kau lihat saja, Neon, pemenangnya pasti aku!"
Istana Neon sudah selesai dengan tinggi yang nyaris menjajarinya. Ia melonjak-lonjak kegirangan di dekat istananya sambil mengejek Kurapika yang belum selesai juga membuat istana pasirnya. Kurapika masih dengan tekun memadatkan pasir di dalam embernya dan dengan hati-hati meletakkan bongkahan pasir tersebut. Tentu saja, dia juga memperkirakan tinggi istana yang tepat dan di mana sebaiknya posisi bongkahan pasir itu diletakkan.
Tapi tepat ketika Kurapika meletakkan bongkahan pasirnya yang terakhir, istana pasir milik Neon ambruk di bagian atasnya, tetapi memberikan efek yang signifikan pada istana pasirnya secara keseluruhan. Istana pasirnya hancur dari bagian puncak sampai bagian tengah. Dan sudah kehilangan bentuknya yang seperti istana.
Neon terpaku sejenak menyaksikan bencana tersebut, tak lama kemudian muncul rasa sesak di dadanya dan matanya mulai berair. Ia duduk dan terisak di samping istana pasirnya yang sudah tidak berbentuk.
Kurapika terkejut dan mendatanginya. Saat itu ia masih terlalu kecil untuk tahu bagaimana sebaiknya memperlakukan anak perempuan yang menangis. "He..hei. Jangan menangis ya. Tenang ya. Jangan menangis," tergagap ia mengucapkan kalimat itu.
"Istana…ku. Is…tana…kku hhann…curr. Is..tanaku….rusaakk." Neon berbicara di tengah sesenggukkannya. Kurapika diam sejenak.
"Itu karena pasir yang kau cetak tidak kuat," sahut Kurapika. Ia menunjuk bagian bawah istana pasir milik Neon. "Lihat, fondasimu tidak kuat. Bongkahan pasirmu rapuh sekali. Selain itu…," Ia lalu berdiri dan mengulurkan tangannya di depan Neon, mengajak gadis itu untuk ikut berdiri. "Istanamu terlalu tinggi."
Neon mendongak dan menghentikan air matanya. Ia berdiri sambil memegang tangan Kurapika. Anak laki-laki itu menariknya mendekati istana buatannya sendiri. "Ambil saja istanaku, kalau kau mau."
"Eh? Tapi…tapi ini kan punyamu. Aku tidak mau mengambil punyamu."
"Aku memang membuat istana ini untukmu kok." Kedua bola mata gadis itu melebar. Kala itu ia terlalu kecil untuk memiliki perasaan suka pada lawan jenis. Tidak. Ia tidak menyukai anak laki-laki itu. Saat itu ia merasa terharu. Tapi kata-kata Kurapika selanjutnya membuatnya tak bergeming.
"Sekarang masih dibuat dari pasir." Kurapika menatap rumah Neon yang berdiri megah di belakang gadis itu. "Kalau aku sudah besar, akan kubuat istana yang lebih besar dari rumahmu. Kita akan tinggal di sana selamanya."
Tidak. Ia bukannya menyukai Kurapika. Ia jatuh cinta padanya.
Aku selalu merasa lebih tenang setelah menangis habis-habisan. Tapi kini efeknya terlihat pada mata yang bengkak dan merah. Aku mendengus kesal, lalu menyusun kembali barang bawaanku di dalam lemari yang disediakan, lalu mengambil beberapa helai pakaian dan handuk. Aku butuh mandi. Menangis benar-benar menguras tenaga. Dan satu-satunya hal yang kubutuhkan saat ini adalah mandi dan tidur untuk merenggangkan otot-ototk tubuhku yang kaku.
Kesedihan melahapku setelah menangis. Semakin aku mengingat kilasan delapan tahun lalu bersama Kurapika, semakin aku merasa sedih dan lelah. Cepat-cepat kusirami tubuhku yang penuh busa. Setelah berpakaian aku pun melangkah keluar.
Tepat setelah aku keluar dari kamar mandi, mataku terpaku pada sosok manusia di dalam kamarku. Perempuan? Atau laki-laki? Aku tidak bisa memastikannya karena rambut pirangnya digelung dan ditutupi topi. Tubuhnya langsing. Pakaiannya seperti pakaian anak laki-laki. Merasa diperhatikan, anak itu menoleh ke belakang menatapku. Ia punya segurat wajah yang manis.
"Oh, halo. Maaf kalau aku mengagetkan." Ia cepat-cepat berdiri dan berjalan sedikit ke arahku. "Aku sudah mengetuk pintu, tetapi tak ada yang menyahut. Jadi aku masuk saja." Suaranya juga manis sekali. Anak perempuan rupanya.
"Namaku Retz." Ia tersenyum sambil mengulurkan tangan.
Aku menjabatnya pelan dan sambil tersenyum lemah aku berkata, "Neon. Kau teman sekamarku ya?"
Gadis itu mengangguk. Lalu ia kembali menekuni barang bawaannya dan mulai merapikannya ke dalam lemari. Ia lalu melepas topinya dan memperlihatkan rambut pirang panjang yang indah.
Huh, rambut pirang. Aku harus segera berhenti memikirkan segala hal yang berhubungan dengan Kurapika. Kemudian aku mendengar suara tawa. Retz tertawa melihatku yang sedang menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa?" tanyaku sambil beringsut di tempat tidur.
"Ah, tidak. Tidak apa-apa." Retz kembali merapikan barang-barangnya.
"Omong-omong, tidak apa-apa kan kalau aku mengambil tempat tidur yang ini?" Aku sudah berbaring di atas tempat tidur yang dekat dengan jendela.
Retz menoleh, lalu mengangguk seraya menyunggingkan senyum, "Ya, Onee-chan. Aku tidak masalah dengan tempat tidur satunya."
Aku ikut tersenyum. Retz begitu manis dan ceria. Dia juga baik sekali. Kurasa aku memang ditakdirkan sekamar dengan Retz. Semesta masih berbaik hati padaku dengan memberikan teman sekamar yang menyenangkan.
"Retz," panggilku pelan. Mataku sudah terasa sangat berat. Tapi aku mau mengatakan ini padanya.
"Hm?" Gadis itu menoleh sedikit sambil tetap merapikan pakaiannya.
"Kurasa… kita akan menjadi teman yang menyenangkan."
Ia tersenyum lebar. "Aku setuju denganmu, Onee-chan."
"Retz," panggilku sekali lagi.
"Ya, Onee-chan?"
"Berhenti memanggilku onee-chan. Cukup 'Neon' saja."
Ia tertawa kecil. "Oke."
Kantukku mulai tak tertahankan. Dan kurang dari sepuluh detik aku sudah beranjak ke alam mimpi.
"Neon! Neon!" Aku merasa tubuhku diguncang-guncang.
"Hng?" Aku menyahut lemah dengan mata terpejam.
"Kau harus bangun. Ini sudah hampir jam 7 malam. Kita akan makan malam sebentar lagi, Neon. Ayo banguuun!"
Aku membuka sebelah mataku dan melihat seraut wajah manis di hadapanku. Retz.
Apa katanya tadi? Hampir jam 7?
Aku terkejut dan langsung terduduk dalam waktu kurang dari sedetik. "Hampir jam 7?!"
Kacau! Sudah berapa lama aku tidur? Aaaarghhh.
Aku menderap ke kamar mandi. Mencuci muka dan menyikat gigi dengan kecepatan kilat. Setelah berganti baju aku melangkah keluar kamar mandi.
"Lima menit," ucap Retz begitu melihatku.
"Apa?" sahutku tak mengerti.
"Waktumu berberes-beres. Lima menit. Keren sekali. Kupikir wanita feminin butuh waktu lama untuk berberes-beres."
Aku memutar bola mataku. "Yang benar saja, Retz. Nampaknya kau kurang kerjaan, ya? Daripada begitu lebih baik kita cepat-cepat turun. Perutku lapar."
Kami bergerak menuju ruang makan yang terletak di lantai 1. Ternyata ruang makan yang luas itu sudah penuh sekali! Aku tidak menyangka akan ada sebegini banyaknya peserta yang mengikuti pelatihan. Huft. Mendadak aku merasa rendah diri. Mereka yang ada di sini pasti orang-orang yang kuat. Hmph, bagaimana kalau ternyata aku lemah sekali dari mereka?
Oke, aku memang rajin berolahraga untuk menjaga kesehatan tubuhku. Seminggu tiga kali aku berolahraga. Dalam tiga hari waktuku untuk berolahraga itu, aku menggunakan hari pertama untuk jogging, hari kedua untuk berenang, dan hari ketiga untuk olahraga spesifik. Sebelumnya aku berlatih tenis lapangan, tapi akhir-akhir ini aku tertarik dengan olahraga panahan. Kau tahu, rasanya ada kepuasan tersendiri kalau bisa menancapkan anak panah di tengah target. Apalagi kalau dilakukan sambil membayangkan wajah orang yang kita benci sebagai target.
Kalian pasti tahulah siapa orang yang sedang kubicarakan di sini.
Eh, tapi serius. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan olahraga lain sebagai beladiri. Hanya panahan. Itu pun aku baru belajar. Benar-benar bahaya. Bagaimana aku bisa menjadi hunter kalau aku tidak punya senjata atau keahlian menyerang apa pun untuk berburu?
Aku melirik Retz yang sedang berjalan di sampingku dan sudah berniat menanyakan keahliannya. "Hei, Retz."
"Apa?" sahutnya.
Aku baru akan membuka mulut ketika mendadak sebuah suara pria bernada genit menyapa kami berdua.
"Hei, Nona-Nona cantik. Di sebelah sini masih kosong."
Retz dan aku menoleh. Oh, seorang laki-laki bersetelan hitam dan berkacamata hitam kecil yang memanggil kami tadi sedang melambai-lambaikan tangannya. Ugh, auranya betul-betul mengganggu. Dan, oh, tapi di sebelahnya duduk laki-laki yang selama ini wajahnya kubayangkan menjadi sasaran target panahanku. Hah. Jadi laki-laki genit itu temannya Kurapika. Kenapa aku tidak heran, ya? Mereka sama-sama memiliki aura yang mengganggu. Lalu ada anak laki-laki dengan rambut spike hitam dengan baju dan celana hijau. Juga seorang anak laki-laki berambut perak.
Baru saja aku akan menyahut untuk menolak ajakan mereka dengan malas ketika tiba-tiba tanganku digamit oleh Retz yang langsung menjawab dengan lantang sambil tersenyum, "Ya, tentu saja kami mau bergabung!"
Aku memutar bola mataku lagi. Duh, gadis ini tidak mengerti perasaanku. Retz begitu supel dan selalu tersenyum pada semua orang, sementara aku si pendiam. Dengan enggan aku melangkah menuju meja makan mereka.
