Hai hai. Kini balik lagi ke POV nya Kurapika ya. Hehehe. Dan plis komen! Senggakpenting apa pun dan sesingkat apapun. I need my readers' opinion, :)


BAB IV

Kurapika Kuruta

Tidak ada yang pernah tahu apa yang terjadi pada jantungku setiap kali melihat putri keluarga Nostrade itu. Dan tidak boleh ada yang tahu. Aku mendesah berat. Ini masih terasa tidak nyata. Aku masih belum bisa mempercayai perkataan Tuan Nostrade, meski ia mengatakannya padaku sejak delapan tahun yang lalu. Ia tidak tahu seberapa besar harapanku untuk menjadi pendamping putrinya. Dan harapan itu dipatahkan, hanya dengan satu kalimat terkutuk yang bahkan tidak mau kuingat-ingat lagi apa persisnya.

Sayangnya perkataan itu tetap ada dalam pikiranku. Seperti sebuah kaset audio yang diputar di kepalaku, aku masih bisa mendengar perkataan yang dilontarkan Tuan Nostrade yang mengubah nasibku selamanya.

Baiklah, mungkin kalian bertanya-tanya apa yang dikatakan Tuan Nostrade padaku hingga aku begini nelangsa. Nelangsa? Semenderita itukah aku?

Yah, kalau dipikir-pikir lagi, coba saja lihat. Semenjak Tuan Nostrade memintaku untuk tidak dekat-dekat dengan putrinya lagi, meski waktu itu aku masih bocah lugu, aku sudah mengerti pesan yang ia sampaikan padaku. Semenjak hari itu, aku mencoba melupakan Neon. Aku bahkan sempat menyakitinya pada detik-detik menjelang kepergianku dari hidupnya. Kematian orangtuaku membuatku akhirnya terputus kontak dengan keluarga Nostrade. Dan sejak hari itu, kuputuskan untuk pergi dari kehidupan gadis itu dan melupakannya untuk selamanya.

Tapi nasib memutuskan jalan yang lain. Di saat aku pikir aku tidak akan pernah berhubungan lagi dengan keluarga itu untuk selamanya, mendadak Tuan Nostrade meneleponku untuk menitipkan dan melatih putrinya. Dan ketika aku yakin bahwa aku tidak bakal punya perasaan apa pun lagi dengan gadis itu, hatiku malah berhasil diporak-poranda olehnya hanya dengan pertemuan pertama kami setelah delapan tahun. Menyadari bahwa ternyata aku tidak pernah melupakannya, aku betul-betul frustrasi. Ditambah fakta bahwa aku akan terus melihat mukanya selama 6 bulan ke depan setiap hari, andai aku bukanlah ketua acara pelatihan hunter ini, aku pasti sudah mencemplungkan diri saja dari lantai empat gedung ini (yang sudah pasti akan membuat tubuhku hancur berkeping-keping dan darahku bermuncratan).

Mencintai tapi tidak bisa memiliki, aku tidak yakin aku akan bisa tetap waras.

Sekarang saja rasanya kewarasanku sudah perlu dipertanyakan. Masa hanya dengan melihatnya berjalan ke arah meja makan kami saja jantungku sudah berdebar-debar tak keruan. Ditambah keringat dingin yang sudah mulai muncul dari pori-pori di pelipis dan tengkukku ini, padahal ruangan ini ber-AC. Yah, meski reputasiku adalah laki-laki dingin, aku bisa salah tingkah juga. Tapi hanya pada situasi khusus, yaitu ketika aku harus berhadapan dengan putri Nostrade, teman masa kecilku (atau harus kusebut mantan teman masa kecilku? Mengingat sambutannya yang sangat tidak ramah padaku tadi siang), dan gadis yang benar-benar kucintai sekaligus takkan pernah bisa kumiliki.

"Hai, Nona-Nona," seringai teman seperjuanganku di ujian hunter dua tahun lalu, Leorio, kepada Neon dan temannya yang baru saja tiba di meja kami. Omong-omong, aku benci sekali sifatnya yang senang ber-genit-genit ria dan sok akrab dengan wanita-wanita cantik. Well, tadinya aku memang tidak peduli. Masa bodoh dia mau flirting dengan gadis mana pun. Tapi kalau yang digoda adalah Neon, itu lain cerita. Saat ini saja aku sudah gatal sekali ingin menghadiahinya barang satu atau dua tinju yang bisa meninggalkan jejak memar biru atau apalah pada wajahnya, biar dia tidak pongah dan genit lagi pada wanita.

"Halo, semuanya," sapa gadis temannya Neon dengan girang. Berbeda sekali dengan gadis yang sedang berdiri di sisinya yang hanya mengangguk sekilas, bahkan tidak sudi melihat wajah kami sama sekali. Oh, ralat deh. Sepertinya dia hanya tidak sudi melihat kepadaku, karena dia masih sempat mengamati Gon dan Killua dari sudut matanya. "Boleh kami bergabung dengan kalian?"

Si pria mata keranjang di sampingku ini langsung menyahut dengan tampang yang mupeng banget, "Ya, tentu! Tentu saja kami akan dengan senang hati ditemani gadis-gadis cantik seperti kaliaaan."

Astaga, apa dia tidak sadar bahwa dirinya merupakan salah satu pengajar dalam pelatihan ini? Kalau dia mencoreng citra pengajar, nanti nama kami juga ikutan buruk. Bagaimana kalau sampai ada gosip merebak bahwa pengajar di pelatihan calon hunter ternyata mesum? Aku tidak bakalan sudi lagi menganggapnya sebagai temanku. Dengan segera akan kutendang dia dari lingkungan pelatihan ini, tidak peduli bahwa sebelumnya aku yang meminta jasanya untuk ikut membantu mengajar di sini.

"Lagipula kami akan senang mengenal teman-teman peserta pelatihan calon hunter di sini," sambung Gon ceria. "Benar kan, Killua?"

Gon yang ramah selalu berusaha melibatkan Killua dalam berbagai percakapan yang ia sedang lakukan. Gon mungkin melakukannya karena ia tahu sahabatnya itu agak sulit menyesuaikan dirinya untuk tetap nyaman ketika bertemu dengan orang baru. Gon yang supel, sementara Killua tertutup. Kedua sahabat itu benar-benar bertolak belakang dalam berbagai macam hal. Tidak hanya dari segi sifat, melainkan juga dari cara berpikir, di mana Gon lebih praktis sementara Killua lebih analitis, dan dari kemampuan akademis. Dan lagi, Gon adalah seorang anak hutan yang sehari-hari tinggal di Pulau Kujira yang terlalu sempit untuk dikategorikan sebagai sebuah pulau, sedangkan Killua putra sekaligus calon pewaris bisnis pembunuh bayaran keluarga Zaoldyeck dengan rumah laksana kastil kerajaan yang bahkan sampai menyabotase seluruh pegunungan dan lautan Republik Padokia, dan bahkan kamar mandinya saja lebih luas daripada pulau Kujira. Pertemuan kedua anak itu tentulah sangat magis sehingga meski berbeda luar-dalam mereka bisa begitu klop dan menjadi seperti saudara kandung.

Killua yang, seperti biasa, nampak tidak senang dengan kehadiran orang baru yang masuk ke dalam lingkaran pertemanannya yang nyaman dan tenteram, hanya membuang muka dan berkata, "Yah terserahlah."

Aku sudah menolehkan tatapanku kepada dua gadis yang sedang berdiri ini untuk menantikan mereka menampakkan reaksi-reaksi negatif seperti yang ditampakkan orang-orang lain yang baru mengenal Killua si anak angkuh, dan bahkan aku sudah bersiap-siap membuka mulut mewakili Killua untuk meminta maaf. Namun apa yang kulihat ternyata berbeda dari yang kupikirkan sebelumnya. Neon, yang meski menampakkan ekspresi yang sedikit heran bercampur dengan tampang tersinggung, tetap memasang wajah cuek dan aura jutek luar biasa, yang pastinya ditujukan padaku, karena dia kan tidak mengenal siapa pun lagi di meja makan ini selain aku. Tapi gadis yang di sampingnya ini, sambil tersenyum ia memandangi Killua dengan penuh minat, seolah-olah tingkah angkuh Killua barusan sangat istimewa dan menarik baginya. Ah, sebenarnya aku memang sudah melihat bahwa ketika Leorio berteriak padanya untuk bergabung dengan kami, tatapan gadis itu hanya mengarah pada Killua seorang. Tapi berhubung tadi aku sibuk menenangkan debar jantungku yang sudah seperti berada di arena balap liar, aku jadi tidak terlalu memerhatikan dengan saksama.

"Aku Gon. Gon Freecs." Gon mengulurkan tangan kanannya pada gadis yang berdiri di sebelah Neon ini. "Siapa nama kalian?"

Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya kepada Gon dan langsung menjabatnya dengan wajah ceria. Gadis ini seperti Gon dalam versi perempuan. "Aku Retz." Ia melepaskan tangan Gon dan melirik ke arah Neon yang berdiri di sebelahnya. "Dan ini teman sekamarku."

"Neon Nostrade." Neon berusaha memaksakan senyum, yang nampak lemah karena memang ia sedang tidak berminat untuk senyum. Tidak perlu kuulangi lagi kan bahwa penyebab berkurangnya minat gadis ini untuk tersenyum adalah karena aku? Bukannya aku percaya diri sekali sih, tapi kan memang itu kenyataannya. Aku sudah memerhatikannya semenjak ia menginjakkan kaki ke ruangan ini. Ia masuk dengan tampang biasa-biasa tapi lalu berubah menjadi sangat tidak biasa ketika Leorio memanggilnya dan ia menatapku.

Well, kecuali dia memang tidak suka diganggu oleh si laki-laki amoral, Leorio.

"Namaku Leorio." Dengan gesit laki-laki di sampingku ini mengulurkan tangannya juga ke depan Neon. Mau tak mau aku tersenyum geli melihat Neon yang terlihat ragu-ragu menjabat tangan Leorio si laki-laki dengan tampang asusila itu, seolah dia bakal ditarik dan diterkam hidup-hidup. Yah, kalau itu terjadi tentunya aku tidak akan diam saja dong.

Nah, nah, pikiran apa lagi itu? Kini mendadak aku mulai bersikap posesif padanya.

Eh, tapi kan Tuan Nostrade sendiri yang memintaku menjaga putrinya. Jadi menyelamatkan Neon dari jebakan laki-laki centil semacam Leorio ini juga menjadi salah satu tugasku, kan? Ya, benar. Jadi bukan karena aku posesif, ya. Tolong ingat itu.

Kemudian kami semua saling memperkenalkan diri, termasuk Killua, meski ia melakukannya dengan tampang tersiksa. Tapi tak dinyana, Retz menyeletuk ketika Killua memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama panggilannya yang hanya sepotong itu (dan bukannya memperkenalkan diri dengan nama lengkap seperti yang biasa dilakukannya pada orang-orang yang dianggap cukup menarik minatnya), "Jadi namamu Killua?"

Mendengar celetukan itu Killua langsung menatap ke arah Retz dengan tatapan apa-maksudnya-itu. Retz tertawa renyah, lalu seolah mengerti arti ekspresi wajah Killua, ia menjawab, "Tadi kau yang mengantarku ke kamarku, kau ingat? Aku lupa menanyakan namamu, tapi sekarang aku sudah tahu."

Setelah Gon, Killua, dan Leorio tiba di tempat ini dan berberes-beres, aku meminta bantuan mereka untuk menunjukkan kamar para peserta yang baru datang. Demikian juga yang dilakukan oleh Hanzo dan Pokkle ketika mereka tiba di sini. Ternyata Retz sudah bertemu dengan Killua ketika tiba di sini. Dan aku bisa langsung membuat kesimpulan berarti bahwa Retz menaruh perhatian lebih pada si anak angkuh, Killua.

Mendadak aku jadi kasihan pada Retz. Gadis yang ramah dan terlihat baik hati begini harus jatuh hati pada anak laki-laki yang, jangankan jatuh cinta, untuk diajak berteman saja sulitnya setengah mati. Tapi aku tidak bisa menyalahkannya juga. Terlahir sebagai putra pembunuh bayaran membuat Killua susah untuk punya teman, karena teman bisa jadi senjata makan tuan paling mengerikan bagi seorang pembunuh bayaran. Setidaknya itulah yang selama ini selalu dicekoki Ilumi, kakak Killua, pada adiknya ini. Kurasa satu-satunya orang di dunia ini yang bisa langsung diterima oleh Killua di kehidupannya hanyalah Gon. Aku dan Leorio juga otomatis diterima karena kami lebih dulu berteman dengan Gon, meski aku tahu bahwa Leorio dan aku tidak akan dianggap setara dengan Gon.

"Yah," Killua mengangkat bahu dengan cuek. "Ada banyak peserta yang kuantarkan ke kamarnya tadi." Dan aku tahu itu adalah cara terselubungnya untuk mengatakan bahwa ia sama sekali tidak ingat dengan Retz. Gadis malang.

Usai acara jabat-menjabat tangan itu, aku angkat bicara. "Sebaiknya kalian berdua segera duduk dan makan, karena setengah jam lagi akan diadakan briefing."

"Ya ampun, Kurapika. Kau tidak perlu mengingatkan kami seperti nenek-nenek nyinyir begitu. Kami ingat kok. Dua gadis ini bisa lari terbirit-birit melihat ketua pelatihan calon hunter yang galak sepertimu," ucap Leorio. Dasar laki-laki tua bangka genit. Giliran ada wanita cantik saja dia mencoba memprotesku soal aturan supaya bisa cari muka.

"Kalau hanya dengan ucapan begitu saja sudah lari terbirit-birit, lebih baik tidak usah jadi hunter saja sekalian," balasku ketus tanpa repot-repot memandang kepada lawan bicaraku, yang biasanya membuatku jadi terkesan dingin ketika sedang berbicara.

Tapi dari sudut mataku, diam-diam aku melihat si putri Nostrade memelototiku garang lantaran ucapanku yang lumayan menusuk tadi. Dan entah kenapa sebenarnya aku senang sekali membuatnya kesal dan jadi memerhatikanku.

"Ah, iya, kau benar Kurapika." Retz, alih-alih merespon negatif seperti teman sekamarnya itu, justru malah menyetujui omonganku. "Acara penting tidak boleh sampai tidak tepat waktu." Gadis itu cepat-cepat mengambil piring untuk dirinya dan Neon, lalu mengisinya dengan makanan yang tersedia di atas meja.

Aku hanya memperlihatkan tatapan puas karena Retz menyetujui omonganku.

"Omong-omong, Retz," ucap Gon seraya mengambil setusuk sate dan menggigitnya. "Namamu unik. Singkat dan mudah diingat."

"Namamu juga. Gon. Kurasa kita berdua punya satu kesamaan sekarang."

"Benar, benar!" Gon, masih dengan riang, menggigit sate dari tusukannya hingga dalam sesuap, sate itu habis.

Aku mendengar dengusan tertahan dari, siapa lagi kalau bukan si anak angkuh, yang aku yakin agak terusik dengan obrolan Gon dan Retz soal nama mereka barusan. Aku tersenyum geli. Bukannya aku tidak tahu kalau Killua sangat posesif terhadap sahabat satu-satunya itu. Mungkin dia khawatir kalau Retz akan merebut Gon darinya. Dia tidak tahu saja kalau Retz malah punya perhatian lebih padanya.

Tuh kan. Sekarang saja, Retz yang sedang tersenyum karena ucapan Gon langsung mengalihkan tatapannya—entah untuk yang keberapa kalinya—pada Killua malam ini.

Baiklah, mungkin kalian berpikir bahwa aku ini kepo. Aduh, maaf-maaf saja. Aku memang kepo, tapi sebenarnya aku tidak pernah kepo dengan urusan cinta monyet begini. Tapi mau bagaimana lagi? Bukannya aku mau menyombongkan diri, tapi dengan kemampuan observasiku yang memang di atas rata-rata, sangat sulit menyaring informasi yang harus kuperhatikan. Apalagi yang dengan terang-terangan terjadi di depan mataku begini. Mau tidak mau kunikmati sajalah tontonan yang sebenarnya lumayan seru ini, meski aku harus pura-pura tidak peduli.

Ya, dong. Sebagai ketua kan aku harus tetap menjaga wibawa.

Obrolan terus berlanjut di antara kami. Maksudku dengan kami adalah, Leorio dan Neon, serta Gon dan Retz. Sementara aku hanya menimpali kedua pasangan itu sesekali, sedangkan Killua tidak akan membuka mulut kecuali dilibatkan oleh Gon dalam pembicaraan atau ditanya oleh Retz.

Tiba-tiba bahuku ditepuk oleh seseorang yang, ketika kulihat saat menoleh adalah, seorang pria tanpa rambut yang kukenali selama ini sebagai Hanzo si ninja. Di sampingnya berdiri laki-laki bertopi ungu, Pokkle. Sejak tadi mereka memang tidak bergabung makan dengan kami dan baru muncul lagi sekarang. "Mau dimulai saja briefing-nya sekarang?"

Aku mengangguk. "Ini sudah pukul delapan. Sebaiknya kita segera mulai."

Aku segera berdiri dengan sendok dan gelas di tangan. Dengan irama cepat namun pasti, aku memukulkan sendok besi itu pelan pada gelas kaca yang kupegang dengan tangan kiri. Lima kali pukulan sudah cukup untuk didengar seluruh peserta di ruang makan yang jumlahnya tidak lebih dari 50 itu. Ketika semua mata sudah menoleh padaku dan suara-suara bising tidak terdengar lagi, aku berkata dengan penuh wibawa, "Para peserta pelatihan calon hunter, sekarang kita akan masuk ke dalam sesi briefing yang akan diadakan di dalam aula lantai empat. Silakan dengan tertib kalian mengikuti arahan kami menuju aula."

Usai berkata demikian aku meletakkan kembali gelas dan sendok yang kupegangi dan, bersama Leorio, Killua, dan Gon, memimpin jalan menuju aula di lantai empat, sementara Hanzo dan Pokkle mengawasi dari belakang para peserta. Pelatihan calon hunter sesaat lagi akan resmi dibuka, dan aku sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan perasaanku sendiri. Aku adalah ketua sekaligus orang yang bertanggungjawab untuk acara ini. Artinya, aku harus memastikan bahwa segalanya berjalan selancar mungkin. Dan artinya lagi, aku tidak akan sempat mengurus hatiku yang sudah hancur dan luluh lantak ini.

Aku mendesah berat. Ini tugas yang terlampau berat. Berada di dekat gadis yang kusukai nyaris seumur hidupku dan harus menjaganya tanpa jatuh cinta padanya. Mungkin sejak sekarang aku sudah harus mem-booking tempat di rumah sakit jiwa, karena sepertinya setelah pelatihan ini usai, aku tidak akan bisa bertahan dengan kewarasanku lagi.