Akhirnya! Ini POV perdananya Retz. Enjoy! Dont forget to Read and Review!


BAB V

Retz Omokage

Apakah kalian percaya akan cinta pada pandangan pertama?

Aku dulu tidak terlalu paham istilah cinta pertama. Atau mungkin lebih tepatnya dipaksa untuk tidak usah paham soal cinta-cintaan, terutama karena menurut kakakku, aku masih bocah ingusan yang seharusnya belum boleh berurusan dengan tetek bengek soal cinta begini.

Tapi sekarang aku percaya. Ya, aku percaya. Karena aku mengalaminya. Karena aku merasakannya. Orang-orang mungkin menertawaiku karena aku berlebihan menanggapi ini. Tapi serius. Ada yang bilang, jantung kita akan berpacu kencang setiap kali melihat orang yang kita sukai. Oke, hatiku berdesir setiap kali melihat sosoknya melintas di hadapanku, bahkan sejak kali pertama aku bertemu dengannya setelah sekian lama.

Laki-laki itu lucu. Dia, Killua-san maksudku, tadi hanya berdiri saja sambil memandangi secarik kertas sambil menahan kantuk. Wajahnya lusuh sekali karena sedang bosan, matanya yang sudah sipit itu jadi agak meredup, lalu dia menguap lebar sekali. Tapi ajaibnya, dalam keadaan begitu pun aku tetap melihatnya sebagai laki-laki yang tampan.

Kurasa karena inderanya sebagai pembunuh bayaran memberitahunya bahwa ia sedang diamati, dia langsung menatapku tepat di manik mata. Aku tertegun ketika ia mulai berjalan ke arahku dan berkata, "Kau peserta ya?"

Aku yang tidak sempat menyiapkan mentalku untuk diajak bicara oleh pujaan hati hanya bisa mengangguk kaku.

"Biar kutunjukkan kamarmu. Sebentar, ya." Tanpa menganalisis wajahku lebih dulu, tatapannya kembali mencermati secarik kertas yang dipegangnya sedari tadi. Oh, rupanya kertas itu adalah peta kamar para peserta.

Aku memandangi wajahnya yang rupawan dari samping. Dalam keadaan bosan pun dia tetap menawan. Dan aku menjerit dalam hati saat dia bertanya, "Siapa namamu?"

"Retz," sahutku pelan sambil berusaha mengumpulkan kesadaran yang sudah tercerai-berai. Aku masih saja memandangi wajahnya yang masih terpaku pada peta ruangan tersebut. "Retz Omokage."

Apakah itu hanya perasaanku atau memang barusan dia melebarkan matanya sedikit. Sekilas. Hanya sekilas, sampai-sampai aku meragukan perubahan air mukanya barusan. Kenapa? Ada apa dengan namaku? Atau ada yang salah dengan kamarku?

Dalam waktu sepersekian detik wajah tenangnya memandangku sambil tersenyum. "Ayo. Kutunjukkan kamarmu."

Mataku melebar. Jantungku serasa berhenti selama beberapa saat ketika menyadari dia tersenyum padaku, disusul dengan irama degup yang dua kali lipat lebih cepat. Aku mengikutinya sampai kami tiba di depan kamarku. Selama itu, aku berusaha merangkum apa saja yang telah terjadi barusan dan apa yang harus kuucapkan selanjutnya.

Setelah ia memeriksa petanya dan memastikan bahwa ia telah membawaku ke tempat yang tepat, dia berkata, "Yah. Ini kamarmu."

Dan aku yang begitu gugup hanya bisa menyahut singkat, "Terima kasih."

Idiot sekali kan aku ini?

Dan astaga! Tadi dia duduk semeja, berhadap-hadapan denganku dan aku bisa dengan bebas memandanginya. Aku bahkan berkenalan dengannya. Aku, Retz, si anak biasa-biasa saja, yang sehari-harinya mencari uang di jalanan dengan pertunjukan boneka, bisa kenal dengan Killua. Berkat Tuhan mana lagi yang mau kudustai hari ini?

Dan bukannya aku tidak pernah dengar soal Killua Zaoldyeck. Oke, ini rahasia ya. Killua adalah cinta pertamaku. Ya ya ya, kakakku memang selalu cerewet dan bilang bahwa aku belum pantas menyukai siapa pun di usiaku saat itu yang masih terbilang kecil, yang aku lupa tepatnya berapa.

Pertemuanku dengan Killua benar-benar menyihirku. Iya, aku tahu ini memang berlebihan. Tapi belum pernah aku melihat ksatria seperti dia. Dia orang yang menyelamatkanku ketika beberapa tahun yang lalu kakakku pernah diserang oleh beberapa anggota keluarga Zaoldyeck. Killua, yang saat itu tidak bertarung dan hanya menonton, kemudian melihatku yang tidak tahu apa-apa masuk ke arena pertarungan untuk melihat kakak. Tepat ketika salah satu keluarga Zaoldyeck akan menyerangku (meski sebenarnya mereka berniat untuk menyerang kakak), secepat kilat aku merasa tubuhku ditarik dan ditopang oleh sepasang tangan. Tangan anak laki-laki berambut perak. Dia meletakkan tubuhku dengan hati-hati ke tanah. Wajahnya murung, sangat aneh untuk ukuran anak seusianya yang biasanya lebih ekspresif. Saat itu wajahnya begitu dingin, sama sekali tidak tersenyum. Kepadaku ia hanya mengangguk seperti memberi pesan untuk berhati-hati. Detik berikutnya ia melesat menuju anggota-anggota keluarganya yang lain, meninggalkanku yang hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh.

Semenjak itu aku jatuh cinta padanya. Sesederhana itulah caranya hingga ia menghuni hatiku sampai detik ini.

Sejak saat itu juga aku berubah menjadi orang gila. Setiap hari menunggu di tempat yang sama dengan harapan seorang anak laki-laki pemurung berambut perak akan kembali ke tempat itu. Aku tidak pernah tahu namanya dan itu menyulitkanku untuk mencarinya. Setelah lima hari rengekan dan dua hari ancaman mogok makan, kakak akhirnya memberitahuku bahwa hari itu dia sedang diserang oleh pembunuh bayaran, keluarga Zaoldyeck, yang dikirim oleh musuhnya. Kakak mengatakan bahwa mungkin anak laki-laki yang menyelamatkanku itu adalah salah satu putra keluarga Zaoldyeck.

Aku nyaris frustrasi mencari cara untuk bertemu dengannya. Pekerjaan sehari-hariku adalah dalang boneka. Aku mengendalikan bonekaku untuk menari di jalanan mengikuti iringan musik setiap hari, dan berharap suatu saat anak laki-laki itu bisa memperhatikan dan menonton pertunjukan bonekaku. Bertahun-tahun aku berpindah-pindah tempat bersama kakak, melakukan pertunjukan boneka di mana pun aku singgah, sayangnya aku tetap tidak bisa menemukannya.

'Putra dari keluarga pembunuh bayaran, Retz? Yang benar saja!' Itu komentar kakak begitu tahu bahwa aku masih mencari dan menantikan anak laki-laki yang menyelamatkan hidupku. Tidak peduli seberapa sering kakak mengatakan bahwa anak pembunuh bayaran bukanlah levelku, atau bahwa anak itu mungkin menyelamatkan aku karena ada motif di baliknya, aku tetap harus mengucapkan terima kasih dengan cara yang pantas.

Dan ketika aku melihat pengumuman dari Asosiasi Hunter mengenai pelatihan calon hunter ini, dan juga melihat bahwa salah satu pelatihnya adalah anggota keluarga Zaoldyeck, aku tahu takdir mengarahkanku kepadanya. Tadinya kupikir, aku akan bertemu dengan salah seorang anggota keluarganya yang lain. Tapi tak kusangka, yang kutemukan adalah dia, anak laki-laki pemurung berambut perak yang pernah menyelamatkan nyawaku. Cinta pertamaku.

Orang bilang kau benar-benar sedang jatuh cinta kalau kehadirannya membuat hidupmu jumpalitan dan tidak pernah sama lagi seperti sebelumnya. Hidupku dijungkirbalikkannya hanya dengan satu peristiwa penyelamatan. Dan kini sekali lagi, napasku sesak karena bahagia, dadaku berdebam-debam kencang karena terlalu bersemangat, hanya karena melihat sosoknya yang kuyakin betul adalah cinta pertamaku.

Sebetulnya aku juga bingung bagaimana absennya seseorang dalam hidupmu selama beberapa tahun bisa membuatmu tetap ingat bagaimana wajahnya dan langsung bisa mengenalinya hanya dengan sekali pandang. Kurasa itulah yang disebut dengan kekuatan cinta. Tidak hanya karena rambut peraknya saja. Tapi mata sipit dan bibir yang jarang melengkungkan senyuman itulah yang membuatku menyadari cirinya yang khas.

Semesta benar-benar punya cara tak terduga untuk menuntun hidup ini. Alam semesta memiliki banyak rahasia di baliknya. Tapi aku memutuskan untuk percaya pada takdirnya. Dan kini aku bahagia sekali mengetahui bahwa takdir itu yang menyiapkan titik potong antara garis hidupku dan hidupnya. Masalahnya adalah, setelah semesta mempertemukan kami pada titik potong itu, bagaimana langkah selanjutnya?

Aku menggigit bibir bawahku. Kini dia tidak hanya ada dalam mimpiku. Dia berada tepat di depanku. Duduk di deretan kursi para pelatih calon hunter. Ia menumpukan dagu di atas tangannya. Jelas sekali terlihat dia sebenarnya tidak secara sukarela berada di tempat ini. Ya Tuhan, bagaimana bisa keberadaan satu orang sampai membuatku tidak ingin repot-repot mendeteksi keberadaan orang-orang lain di sekelilingku?

"Psst. Retz." Ugh. Kegiatanku yang menyenangkan akhirnya diganggu oleh teman sekamarku, gadis cantik berambut biru dengan pita berwarna putih. Namanya Neon, dan dia lebih tua daripadaku. Tadinya aku memanggilnya onee-chan, tapi atas nama persahabatan dan demi supaya kami berdua bisa memiliki tali pertemanan yang erat selama beberapa bulan ke depan, dia memintaku memanggil namanya saja. Namun sejujurnya, aku yakin kami akan tetap jadi sahabat baik, apa pun panggilan yang kami gunakan. Sekali lihat pun aku sudah tahu kalau dia gadis yang menyenangkan. Matanya menyorotkan sendu yang seolah tak ingin diusik siapa pun. Tipikal gadis yang tertutup, yang lebih senang menyimpan kesedihan dan berpura-pura tegar di hadapan orang lain.

Ah, sebenarnya Neon adalah hal kedua di pelatihan ini yang membuatku penasaran setengah mati (yang pertama tentu saja Killua!). Maksudku, kehidupan macam apa sebenarnya yang dijalaninya hingga membentuknya dengan karakter seperti ini?

"Apa?" Aku menelengkan kepalaku sedikit padanya sambil melirik tanpa merotasikan kepala.

"Apa kemampuanmu?" Neon bertanya dengan agak gugup.

Hah? "Apa?" ulangku tak paham. "Kemampuan apa maksudnya?"

"Ck," decak gadis itu tak sabar. "Kau ini memperhatikan penjelasan tidak sih? Kurapika bilang bahwa kita di sini akan mendapatkan latihan intensif setiap hari. Tuh lihat jadwal di proyektor depan. Apa sih yang sedang kau perhatikan?"

Gawat! Neon sedang mencari tahu siapa yang sedang kupandangi. Astaga, gara-gara Killua aku jadi tidak fokus. Ayo, Retz, fokus. Fokus. Aku langsung memperhatikan jadwal latihan intensif di depan.

Hmmm. Jadi setiap Senin kami akan melatih stamina dan kecepatan. Selasa latihan bertarung dengan tangan kosong. Rabu kami akan belajar pengobatan, racun, berbagai jenis tanaman herbal, pertolongan pertama, serta berbagai sejarah dan ilmu bumi. Kamis kami akan belajar seni bela diri ninja. Jumat adalah hari pilihan. Kami bisa memilih untuk mengikuti kelas seni pedang atau panahan.

"Jadi?" Neon kembali mendesakku. "Kemampuanmu apa, Retz?"

Aduh, kenapa dia harus menanyakan kemampuan di saat-saat begini sih? Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal sebelum menyahut, "Yah, sejujurnya, aku bisa bermain pedang sedikit-sedikit."

"Oh! Jadi kau akan mengambil kelasnya Kurapika, ya?"

Aku melihat ekspresi yang tak dapat dibaca pada wajah Neon. Entahlah. Aku kurang yakin, karena gadis ini tampaknya sudah biasa menyembunyikan perasaan.

Aku melongo ke depan, kembali membaca informasi yang tertera di proyektor depan. Di sana tertulis bahwa kelas seni pedang akan diajar oleh Kurapika dan panahan oleh Pokkle. Dan aku memekik tertahan (yang kuharap tidak didengar oleh siapa pun) sambil menutup mulut dengan tangan begitu melihat pertarungan dengan tangan kosong akan diajarkan oleh Killua. Hmmm, kurasa setelah ini Selasa akan menjadi hari favoritku.

"Ya," jawabku. "Untuk hari Jumat aku akan mengambil kelas Kurapika. Kau?"

"Baru-baru ini aku belajar panahan." Wajahnya kembali sendu, seperti biasa. Memangnya ada apa sih dengan panahan? Tapi beberapa saat kemudian ia mengulum senyum sambil menatapku. "Jadi aku akan mengambil kelasnya Pokkle. Pasti menyenangkan, ya."

Oke. Aku memang baru mengenal gadis ini. Tapi dengan mudahnya aku langsung bisa mengetahui bahwa kalimat terakhir yang dilontarkannya adalah kebohongan.

Dan pertanyaan itu terus mengusikku. Ada apa sih dengan panahan?