Halo semuanya! Ini update terbaru ya. Setiap kali ngepost, akan selalu ada dua chapter, hehe. Jadi tolong dimaklumi.

Aniwei, makasih banyak untuk YutaUke yang sudah kasih review di postingan sebelumnya. Makasih banyak, jadi terbantu akan review kamu. Maaf kalau di sini proporsi cerita Retz-Killu dan Kura-Neon masih belum seimbang. Di postingan sebelumnya akan diusahakan. Dan, iya, memang tokoh Killua ga akan dibuat OOC sih di sini. Tenang aja! Tapi kalo boleh tau kenapa ngga suka sama pair KuraNeon? :)

Oke, mina-san, selamat melanjutkan bacaannya ya! Jangan lupa untuk read and review, ok?


BAB VI

Neon Nostrade

Briefing yang terasa seperti selamanya itu akhirnya usai. Aku benar-benar tidak dapat memahami apa sebenarnya fungsi dari mendengar ceramah dan pidato basa-basi tidak berguna sampai berbusa-busa, beserta segala wejangan yang intinya itu-itu saja yang terus didengung-dengungkan sampai jam 10 malam.

Percayalah, inti dari briefing itu bisa disampaikan hanya dalam kurun waktu 20 menit.

Begitu diumumkan bahwa briefing itu selesai barulah aku bisa bernapas lega. Yah, sebetulnya kepenatanku tidak sepenuhnya diakibatkan oleh briefing itu sih. Kalian tahu kan, perasaan yang sudah kalian lampiaskan dengan cara mencaci maki, membanting barang, bahkan bersikap super judes kepada objek perasaan itu, namun masih tetap bercokol di dalam dada itu amat menyesakkan?

Kenapa semakin aku melampiaskan amarahku, aku justru semakin leleh hanya untuk menatapnya di depan aula, bahkan aula itu memerangkap diriku yang malang hingga tidak bisa ke mana-mana, dan dipaksa untuk mendengarkan suaranya. Ugh, yang benar saja. Hanya dengan suara tegas yang sayangnya, juga memikat itu, aku sudah luluh. Payah sekali sih aku ini.

Aku berusaha memutar-mutar ponselku di tangan sambil berbaring di atas ranjang tidurku. Ini kegiatan paling dasar yang selalu kulakukan setiap hari jika sedang tidak ada kerjaan. Memutar-mutar ponsel sambil berpikir apa yang sedang dilakukan orang-orang. Ayahku, misalnya? Atau temanku. Aku melirik Retz di atas tempat tidur di sisi lain ruangan ini. Matanya yang terpejam dan napas yang teratur di dadanya meyakinkanku bahwa ia sudah tertidur pulas dan terbang ke alam mimpi. Dia sudah begitu sejak satu jam yang lalu.

Sedangkan aku? Daritadi hanya menatap langit-langit kamar sambil mendengar detik jam tanpa bisa terpejam sekali pun. Serasa habis minum kopi segentong. Atau tidur siangku tadi yang terlalu lama ya? Padahal kan itu karena aku memang kelelahan setelah menangis.

Hah, yang benar saja nih. Besok pagi kami sudah harus bangun dan mengikuti kelas pelatihan stamina dan kecepatan. Dan tengah malam begini bahkan aku belum mengantuk sama sekali. Kubuka ponselku, mencari kontak Papa. Aku sempat menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku meneleponnya sekarang? Apa dia masih bangun? Setelah menimbang selama beberapa saat, kutekan tombol bergambar telepon hijau. Nada dering yang begitu familiar langsung terdengar di telinga.

"Halo?" Terdengar suara rendah wanita dewasa menyambutku setelah beberapa kali deringan, dengan latar belakang musik yang gaduh dan suara-suara bising banyak orang. Aaah! Aku langsung memejamkan mataku. Aku benar-benar lupa. Ini kan Papaku. Jam segini pasti dia sudah tertidur akibat mabuk di pub sampai-sampai teleponnya saja harus diangkat oleh teman kencannya. Aku menghela napas berat dan menyapa wanita itu terlebih dahulu. Setelah aku memberitahukan siapa aku, aku memintanya memberitahu Papa untuk menelepon putrinya yang sedang berusaha mencari uang dengan susah payah ini jika sudah sadar.

Lihat saja kelakuannya. Aku disuruhnya menjadi hunter supaya bisa mencari uang, sementara dia "dengan bijak" menghabiskannya. Ck.

Sayangnya, sekesal apa pun aku padanya aku tetap tidak bisa membencinya, karena dia anggota keluarga terakhir yang kupunyai di dunia ini. Aku mendesah. Segalanya akan baik-baik saja kan ya? Aku masih punya teman baik, Retz yang manis.

Kutelengkan kepalaku menatap gadis pirang di ranjang sebelah. Tapi mendadak kilasan ingatan masa lalu terputar bagai film lama di otakku. Ibu yang meninggal sewaktu aku masih kecil, ayah yang punya segudang teman kencan setelah ibu meninggal dan lebih suka bersenang-senang tanpa memikirkan aku.

Dan satu-satunya sahabat sekaligus cinta pertama yang mengkhianatiku, lalu pergi dari hidupku.

Aku langsung menyesal mengatakan poin terakhir, karena kenangan masa lalu itu langsung masuk ke otakku tanpa bisa kucegah, seperti divisualisasikan lagi dan lagi. Aku teringat momen-momen menyenangkan yang selalu kuhabiskan berdua dengannya. Beberapa saat kemudian mataku basah, menyadari bahwa perginya dia dari hidupku berarti tak ada lagi teman dekat untukku berbagi. Juga membuatku bangun dan dapat melihat bahwa sejak dulu, sejak kepergiannya, meski memiliki banyak pelayan dan pegawai yang menemaniku, aku tetaplah sendirian.


"Kura-kun. Kau sedang apa?" Neon menyapa anak laki-laki berambut pirang yang sedang duduk di atas pohon sambil membaca buku sejarah dunia. Anak laki-laki itu berpaling dari bukunya dan memandang ke bawah. Seulas senyum merekah di bibirnya.

"Sedang membaca buku. Kau mau ikut membaca bersamaku?"

Tatapan Neon menjelajah batang dan dahan-dahan pohon di hadapannya dengan ragu. Matanya yang bulat sedikit memancarkan sorot takut. Baginya yang masih sangat kecil, pohon itu memiliki tinggi yang setara dengan raksasa kejam yang ada di buku-buku dongeng.

"Ngg, aku… Ini… Ini tinggi juga, ya. Hehehehe." Neon menggaruk lehernya yang tentunya tidak gatal, berusaha mengatakan bahwa ia punya fobia ketinggian dengan cara tersirat.

Menyadari keraguan anak perempuan itu, Kurapika melompat turun dengan lincah. Beberapa detik kemudian, ia sudah menjejak tanah dengan sukses.

"Kau takut naik pohon ini?"

Gadis itu mengangguk.

"Kau takut ketinggian, ya?"

Gadis itu mengangguk lagi. Kali ini tatapannya menyiratkan malu dan perasaan tidak enak.

"Kenapa?"

Kali ini gadis itu menggeleng.

"Kenapa?" desak Kurapika.

Ada jeda beberapa saat hingga akhirnya gadis itu menunduk, lalu menjawab, "Aku pernah terjatuh saat mencoba naik."

Kurapika menatap Neon sejenak dengan ekspresi kaget. Beberapa saat kemudian dia mengulum senyum lebar. "Tidak apa-apa. Kau tidak perlu naik ke ketinggian. Kalau suatu saat ketinggian menakutimu, aku akan datang seperti pangeran menyelamatkan putri yang ada di kastel yang tinggi."

Neon mendongak, tampak sumringah. Mereka kemudian mengambil tempat di dekat batang pohon tempat Kurapika membaca tadi. Neon menyandarkan kepalanya ke bahu anak laki-laki itu selama Kurapika berusaha menceritakan kisah sejarah dunia.

Tak lama Kurapika sudah mendapati gadis itu mendengkur halus dengan napas teratur di pundaknya. Neon tertidur sepanjang Kurapika menceritakan kisah perang salib.

Kurapika memindahkan posisi kepala Neon ke atas pangkuannya. Ia mengamati wajah manis gadis yang tengah terlelap di hadapannya, menggeser rambut poni gadis itu untuk menyingkapkan wajahnya secara utuh.

Masih terpatri dengan jelas peringatan dari Tuan Nostrade beberapa hari yang lalu mengenai putrinya. Ia tidak boleh punya perasaan apa pun pada Neon. Logikanya mengerti alasan di balik peringatan itu, sungguh. Tapi hatinya bekerja sebaliknya. Tak urung perasaan bahagia bercampur pedih merayap di dada. Menyadarkannya bahwa gadis ini akan membuatnya candu karena terlarang.

Selama beberapa lama ia tidak bergerak, hanya menatap wajah gadis di pangkuannya tanpa bersuara. Namun lamat-lamat Kurapika menyatakan perasaannya di hadapan muka gadis yang tengah terlelap.

"Aku menyukaimu."


Aku menguap lebar-lebar di pagi hari yang, ugh, tidak bisa dikatakan cerah juga sih. Pasalnya, ini masih subuh dan baru saja aku terlelap selama beberapa jam, lalu bel pengumuman itu sudah berdentang keras, seolah tidak rela melihat kesejahteraan jam tidur umat manusia. Lebih parah lagi, aku tidak percaya aku menghabiskan waktu sejak tengah malam sampai pukul dua hanya untuk menangis. Coba tebak, itu rekor terlamaku menangis. Anak bodoh! Emosiku benar-benar menurun drastis sejak berada di camp pelatihan ini. Kenapa ya, meski logika sudah memerintahkan untuk berhenti menangisinya, hatiku masih tetap mengamini kehilangan ini?

Ah, sudahlah. Kalau menangis di malam hari bisa membuatku tegar di siang hari, ketika aku harus bertatap muka dengan orang lain dan laki-laki itu, kurasa itu tidak masalah juga. Daripada aku malah menangis di hadapan dia, atau lebih parah, semua peserta camp ini. Amit-amit. Lebih baik aku mengundurkan diri saja sekalian.

Profesional, Neon. Ingat, kejayaan keluarga Nostrade bergantung padamu.

Kutepuk pipiku dua kali dengan agak keras hingga menimbulkan semburat kemerahan. Ini akibat yang harus kutanggung karena menangis. Aku harus puas hanya dengan tidur tiga jam dan kantung mata tebal yang membuatku terlihat seperti zombie. Dan aku terus menguap setiap lima detik sekali sejak dimulainya pemanasan pagi ini. Semoga saja aku tidak didetensi karena hal sepele begini.

Gon sedang memimpin sesi pagi ini. "Oke semuanya, selamat pagi!" sapanya ceria.

"Selamat pagiiii…" balas para peserta di sekitarku dengan lemah, sisa-sisa muka bantal masih ada di wajah mereka.

"Selamat pagiiii!" Suara Retz yang bersemangat membuatku menoleh padanya. Anak ini masih saja mampu menyeimbangkan keceriaannya dengan Gon. Dia seperti….Gon dalam versi perempuan. Ia ikut menoleh karena tatapanku padanya.

"Selamat pagi, Neon," sapanya. Senyumnya selalu menular. Tanpa sadar aku sudah ikut tersenyum menanggapinya.

"Pagi," sahutku.

"Baiklah," Gon melanjutkan pidato subuhnya. "Apakah kalian tahu kenapa kalian dibangunkan jam segini?"

Tidak ada suara yang terdengar. Kurasa semua orang terlalu malas menjawab. Beberapa peserta yang cukup antusias, termasuk Retz, hanya menggelengkan kepala sebagai respon.

"Jawabannya adalah karena kita akan lari pagi!" sahut Gon sama antusiasnya, tanpa memedulikan bahwa sebagian peserta berdiri mendengarkannya dengan mata separuh terpejam, masih berharap untuk bisa bergelung di kasur yang nyaman. "Sebagai seorang calon hunter, tubuh dan stamina kita harus selalu bugar. Dalam ujian hunter dua tahun lalu, ujian babak pertamanya adalah lari selama berjam-jam tanpa berhenti sedetik pun. Jika kalian untuk berlari saja tidak kuat, tentunya kalian akan langsung gagal. Oleh karena itu…." Gon memberikan jeda pada kalimatnya, dan melanjutkan kalimat berikutnya dengan nada dramatis, "…demi suksesnya pelatihan ini dan kalian semua menjadi hunter yang tangguh, kita akan lari pagi setiap hari di jam ini!"

Mataku langsung mau copot mendengarnya. Pasti dia sudah gila kan? Masa kami diharuskan berlari sepagi ini setiap hari? SETIAP HARI?

Nada-nada protes kecil mulai terdengar, tetapi tak ada yang berani mengatakannya secara langsung. Huft. Aku juga tidak berani protes sih. Pasalnya, alasan yang dikemukakannya untuk menyiksa kami ini sangat kuat dan aku tidak bisa apa-apa selain menerima.

"Oke, semuanya! Sekarang kita akan mulai berlari selama satu jam. Ayoo, siapkan posisi masing-masing," perintahnya dengan penuh semangat kepada kami sambil memegang stopwatch. "Satu, dua, yak!"

Dengan malas aku mulai menggerakkan kakiku untuk berlari. Meski aku terbiasa jogging setiap seminggu sekali, aku mulai terengah-engah kira-kira pada menit ke-33 sejak kami berlari. Matahari mulai mengintip dari peraduannya dan menggoreskan semburat keunguan di langit, sampai akhirnya menjadi jingga dan akhirnya langit biru cerah terlihat di sana.

Namun pada bagian langit berubah cerah aku sama sekali sudah tidak peduli, karena konsentrasiku kini terpaku pada betisku yang pegal dan peluh yang tak habis-habisnya bercucuran meski sudah kuseka dengan saputangan yang bahkan kini sudah basah kuyup. Aku mulai sulit menarik napas. Bisa kurasakan jantungku yang berdebam-debam sedang bekerja keras memompa darah dengan kecepatan tiga kali pompa per detik!

Meski begitu, di tengah penyiksaan yang menyedot berjuta-juta energiku ini, aku masih bisa menyapukan pandangan ke arah teman-temanku. Well, sepertinya ada anak perempuan yang lebih parah daripada aku, meski sebagian juga sama terengah-engahnya denganku—termasuk Retz—tapi ada juga yang masih bugar dan sepertinya masih kuat kalau disuruh lari tiga jam lagi.

Setelah sejam yang terasa seperti sehari itu berlalu, penderitaan pertama kami akhirnya usai. Aku menarik napas lega ketika akhirnya mendengar pluit tanda berhenti berlari dibunyikan oleh Gon.

"Bagaimana larinya? Tidak sulit kan?" Gon bertanya dengan wajah ceria nan lugu. Pada situasi biasa mungkin aku akan ikut tersenyum melihat orang yang begitu ramah seperti Gon. Jarang kan, ada pelatih yang mukanya baik. Kebanyakan sih, yang galak seperti Kurapika. Atau yang sombong seperti Killua. Dengan situasi berpeluh, wajah semerah tomat, debaran jantung yang lebih mirip pacuan kuda, kini aku ingin sekali membentak-bentak Gon dan protes keras karena latihan yang tidak kenal rasa perikemanusiaan ini. Sayangnya, aku bahkan tak bisa berucap sepatah pun. Sambil memegang dadaku dengan tangan kanan, aku mencoba mengatur napas.

"Oke, semuanya." Gon bertepuk tangan sekali sambil menyapukan pandangan ke seluruh peserta yang nyawanya seperti sudah akan melayang. "Kalian boleh beristirahat terlebih dahulu selama lima menit. Nanti setelah ini kita akan berlatih kecepatan."

Aku ingin memprotes waktu istirahat yang tidak kenal belas kasihan itu. Aku menoleh ke arah Retz, meminta dukungan. Retz memandangku dengan tatapan tidak setuju yang sama denganku. Tapi Retz juga sama terengah-engahnya denganku. Jadi aku memutuskan untuk mengatakannya langsung. Sekarang juga.

Begitu aku hendak membuka mulut, tatapan Retz membeku pada sosok yang baru datang, disusul dengan kekehan yang terdengar dari samping.

Oh, itu si anak berambut perak. Dan… Kurapika Kuruta. Cih, seketika aku membuang muka darinya.

"Hoi Gon. Apa kau tidak kasihan melihat mereka yang sudah nyaris pingsan karena disuruh berlari begini?" Si anak rambut perak menepuk pundak Gon. Kurapika menyusul dengan wajah yang senantiasa dingin. Setelah ia berbisik sejenak ke telinga Gon, ia mengambil alih kelas ini dan menggantikan Gon berbicara.

"Semuanya. Kalian akan mendapatkan waktu istirahat terlebih dahulu untuk mandi dan berberes-beres. Setelah itu, pukul 7 kita akan sarapan dan berangkat pada pukul 8."

Kami semua melongo. "Berangkat?" Seorang peserta, gadis cantik berambut coklat yang diikat dan digulung ke atas yang tidak kukenal, membuka suara. Tapi… eww, kenapa nada bicaranya dibuat-buat manja begitu sih? "Kita akan pergi ke mana, Kura-kun?"

Aku meringis mendengar nama panggilan yang sedikit banyak membuka luka lama itu. Aku memalingkan muka, menahan rasa membakar di dada yang tidak menyenangkan. Apa pun perasaan itu, aku tidak tahu. Dan tidak mau tahu.

"Kalian akan tahu sendiri nanti," jawab Kurapika dengan nada diplomatis. "Sekarang kalian semua boleh kembali ke kamar masing-masing."

Kami semua berdiri dan mulai berjalan ke arah gedung di lantai dua. Baru saja aku ingin melangkahkan kakiku yang nyeri luar biasa itu, mendadak aku tersentak karena pergelangan tanganku ditahan seseorang. Aku menoleh, dan mendapati wajah tenang laki-laki berambut pirang tengah menatapku lekat-lekat.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya ragu-ragu. Aku menangkap simpati di matanya. Ada ekspresi khawatir tersimpan di sana.

Tapi sayangnya, aku tidak berniat sedikit pun untuk melonggarkan perasaan kesalku. Aku kembali membuang wajah.

"Lepaskan." Kutarik tanganku dengan paksa.

Masih menahan tanganku, ia berkata singkat, "Kau adalah tanggungjawabku di sini. Jadwal di sini padat. Makanlah yang benar, tidurlah yang cukup."

Ih. Siapa juga yang bakal peduli sih sama ocehan tidak jelasnya itu. Memangnya aku yang sengaja begadang semalaman apa? Memang dia pikir aku ini anak kecil yang bodoh, yang tidak bisa menjaga diri sendiri? Sekarang ketahuan kan kalau simpati dan khawatir itu karena dia tidak enak dengan Papa. Tidak tulus sama sekali.

Sekali lagi kutarik tanganku dengan agak kasar, tapi kali ini dia membiarkanku. Tanpa repot-repot menoleh lagi aku berjalan dengan kaku ke arah Retz yang menantiku. Ia menatapku dengan mimik ingin tahu.

"Ayo," ucapku singkat pada gadis itu sambil melewatinya.

Ia menjajari langkahnya dengan langkah kakiku. "Ada yang mau diceritakan?"

Aku menghela napas. "Nanti. Kita ke kamar dulu."

Sesampainya di dalam kamar, aku langsung berderap menuju kamar mandi. Hatiku serasa pedih sekali, tapi tak satu air mata pun keluar. Seolah sudah habis karena terlalu sering menangis di hadapannya.

Aku harus bagaimana? Kenapa aku tidak bisa bersikap tidak peduli dan menjalaninya seolah tidak ada yang terjadi?

Air dingin ternyata cukup bisa menyegarkan pikiranku yang kalut. Aku keluar kamar dan menatap Retz yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil mendengarkan earphone. Begitu melihatku ia cepat-cepat melepas earphone-nya. "Neon? Kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja," jawabku cepat, meski yang kurasakan adalah sebaliknya. "Mandilah dulu."

Tapi Retz tidak mendebatku. Meski wajahnya jelas-jelas menunjukkan rasa khawatir, ia hanya mengangguk dan berjalan ke kamar mandi.

Sudah dua orang menanyakan kabarku pagi ini. Memangnya aku kenapa sih? Seketika aku mencari cermin untuk melihat diriku sendiri.

Oh God, pantas saja daritadi mereka menanyakanku. Tidak hanya lingkar hitam di bawah mataku yang bengkak kemerahan. Tapi kini wajahku rada pucat.

Aku menghela napas keras, lalu duduk di pinggir ranjang sambil mencengkeram pinggirannya. Aku harus bisa kuat, harus bisa tahan.

Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Retz keluar sambil bersenandung kecil. Ia mengeringkan rambut pirang panjangnya dengan handuk kering. Lihat betapa kontrasnya mood di antara kami ini.

Untuk sesaat kami tenggelam dengan kesibukan kami masing-masing. Aku dengan perasaanku dan Retz, dengan rambutnya yang basah. Aku tahu aku seharusnya membuka percakapan dan bercerita, karena aku sudah janji tadi. Tapi rasanya sulit dan aku bingung darimana harus memulai.

Seolah memahami isi hatiku, Retz menoleh dan tiba-tiba bersuara, "Aku akan tawarkan penawaran menarik padamu. Tapi syaratnya, kau tidak bisa mengelak."

Aku terdiam sesaat, lalu mulai tersenyum sedikit. Kurasa gadis ini sedikit stres. Mana ada penawaran yang harus diterima tanpa dielakkan?

"Apa penawaranmu?" Aku penasaran juga akan tawarannya.

"Kuberitahu rahasiaku dalam tiga kalimat. Tapi kau juga harus menjawab tiga buah pertanyaan. Bagaimana?"

Aku mulai tersenyum geli sambil menimbang-nimbang keuntungan dan kerugiannya.

"Hei, darimana aku tahu rahasiamu itu sama berharganya dengan jawaban yang kau inginkan atau tidak?" Itu benar, kan? Aku bahkan tidak tahu apa rahasianya. Tapi dia sudah bisa menyimpulkan sesuatu dari kejadian di lapangan tadi.

"Ya, karena itulah. Supaya kau tahu rahasiaku, kau harus menjawab pertanyaanku dulu. Tapi kupastikan rahasia ini impas."

Aku memutar bola mataku. Gadis ini agak sinting. Aku menatap matanya nanar dan berusaha mengira-ngira, rahasia jenis apa yang dia miliki dan dikatakannya impas dengan rahasiaku.

Hmmmm. Eh? Sebentar. Sepertinya aku bisa menebak ke arah mana rahasia yang dimiliki gadis ini. Ya, ya, ya! Aku memejamkan mata, mulai mengumpulkan memori-memori semenjak aku berada di camp pelatihan ini. Memori tentang Retz dan segala tindak tanduknya, bagaimana reaksinya setiap kali ada kejadian tertentu.

Bibirku mulai mengembangkan senyum licik.

"Hei," seruku. "Apakah rahasiamu terkait dengan salah satu orang di camp ini?"

"Apa?!" serunya lebih sangar. Wajahnya mendadak merona, membuatku tersenyum makin lebar. Gadis ini sangat mudah dibaca. Tanpa dia harus menjawab pun aku sudah bisa menebaknya. "Curang! Tidak sesuai perjanjian! Mana boleh menanyakan pertanyaan tentang rahasiaku?"

Aku mengangkat bahu. "Kau sendiri sudah melihat kejadian di lapangan tadi. Setidaknya aku juga harus punya petunjuk tentang apa rahasiamu. Itu baru adil." Tanpa menunggunya berpikir lebih panjang aku menambahkan, "Tapi sudahlah. Sepertinya aku tahu jawabannya."

"Ehh?" Aku terkekeh. Retz terlihat panik.

"Ubah sedikit kesepakatannya, Retz," sergahku ringan, tanpa menggubris kepanikannya. "Kau menanyakan pertanyaan padaku dan aku juga akan bertanya padamu. Tidak ada batasan berapa pertanyaan. Tapi kita akan bertanya secara bergantian. Bagaimana?"

Ia kembali berpikir sejenak. "Boleh juga."

"Siapa yang bertanya lebih dulu?"

"Ayo kita hompimpa!" seru Retz riang, yang membuat mataku ikut berbinar. Keceriaan gadis ini menular. Aku bahkan sudah lama tidak memainkan permainan ini.

Aku dan Retz mengepalkan tangan ke udara, lalu sesuai aba-aba Retz, kami mengeluarkan pilihan gunting atau batu atau kertas pada hitungan ketiga.

"Tiga!" Aku tersenyum girang melihat tanganku yang tetap terkepal membentuk batu dan tangan Retz yang mengeluarkan gunting.

"Aaarghh," gerutu Retz. Sesaat kemudian aku sudah tergelak sambil bertepuk tangan. Nah, siapa yang sangka hanya dengan bermain hompimpa saja bisa meningkatkan mood-ku begini? "Baiklah, baiklah. Apa pertanyaanmu?"

Baru saja aku hendak membuka mulut, aktivitas kami yang damai dan tenteram diusik oleh bunyi bel neraka yang mengumandangkan waktu dimulainya sarapan. Oh, sarapan. Siapa juga sih yang butuh sarapan? Bermain dengan Retz jauh lebih penting untuk kesehatan mentalku dibandingkan semangkuk bubur dingin yang akan kami dapatkan nanti. Bukannya aku sok tahu, tapi makanan camp biasanya apa sih? Ini kan bukan hotel berbintang, mana mungkin mereka akan menyediakan steak.

"Ugh," gerutuku pelan. "Ayo turun. Mereka tidak pernah memahami asyiknya bermain. Pasti seumur hidup hanya berlatih soal disiplin, disiplin, dan disiplin."

Ya, kalimatku barusan memang untuk mendeskripsikan ketua acara pelatihan yang sok itu.

"Nanti malam akan kita lanjutkan." Retz berusaha menenangkanku. "Ayo, perutku lapar sekali."