BAB VII
Kurapika Kuruta
Kurasa aku punya kemampuan baru yang cukup akurat untuk mendeteksi orang yang berada dalam jarak radius tertentu dari diriku. Tapi kemampuan ini cuma berlaku untuk satu orang. Satu gadis, lebih tepatnya. Entah bagaimana kepalaku menoleh di saat yang bersamaan ketika ia memasuki ruangan ini. Ia melangkah bersama dengan Retz di sampingnya. Mereka mengobrol sambil sesekali tertawa. Entah apa yang dibicarakan.
Aku memperhatikan penampilannya secara keseluruhan. Ia masih nampak kacau. Setelah mandi pun, wajahnya masih pucat dan kantung matanya malah semakin jelas terlihat. Tapi kini penampilannya lebih baik dibandingkan ketika ia selesai berlari di lapangan tadi. Demi Tuhan. Apa dia tidak tidur semalaman atau bagaimana? Wajahnya seperti orang yang akan siap pingsan kapan saja.
Dan kini ia berpisah dengan Retz yang akan mengambil piring. Ia melangkah ke arah….. stand kopi! Dugaanku benar, dia pasti tidak tidur semalaman. Dan dia mau minum kopi dengan perut kosong? Tidak pernahkah ia belajar biologi? Tidak tahukah dia bahwa kopi mengandung asam yang justru meningkatkan asam lambung? Ditambah perut kosong, dia bisa maag!
Tanpa berpikir panjang aku melangkahkan kakiku ke arahnya. Aku tersadar ketika sudah mengulurkan tanganku untuk menyentuh pundaknya, tapi tanganku sudah tidak bisa dicegah dan ditarik lagi. Oh, aku sudah betul-betul kronis.
Sekali sentuhan itu mencapai pundaknya, ia menoleh dan kami bertatap-tatapan. Gadis itu mengangkat alisnya, sedikit terkejut. Tapi tak lama ekspresi wajahnya berganti dengan raut wajah tidak senang yang langsung membuat lututku lemas. "Ada apa?" tanyanya dingin.
Sekarang giliranku yang salah tingkah. Aduh, ada apa ya? Aku bodoh sekali memang. Sudah jelas-jelas dia membenciku. Oh ya, tidak perlu kutanyakan bagaimana perasaannya. Itu tergambar dengan jelas dari air mukanya. Kenapa aku harus cari gara-gara? Dan sekarang, bagaimana caraku menyampaikannya, ya? Hmmmm. Aku memutar otak habis-habisan dalam waktu beberapa detik, kemudian berdeham. "Bagi peserta yang belum sarapan, tidak diizinkan minum kopi."
Ha! Kalau kularang dengan menujukannya ke semua peserta, aku tidak akan terlihat seperti peduli sekali padanya kan? Bagaimana pun, posisiku adalah ketua camp, yang harus bisa bersikap adil ke semua peserta.
Tapi perkataanku disambut dengan kerutan di dahi. "Memangnya ada tulisannya di stand kopi ini kalau harus sarapan dulu?" Aku membungkam mendengar kata-katanya yang telak. Memang tidak ada sih, jawabku dalam hati. Tapi aku tidak mau kalau kau sampai sakit. Dan ia melanjutkan tanpa menungguku menyahutinya, "Lagipula aku juga berniat meminumnya setelah makan, kok." Dengan satu kalimat pamungkasnya, ia meninggalkanku berdiri sendirian di dekat stand kopi.
Ingat Kurapika. Tidak boleh lagi ada kesalahan.
Hmph, lagi-lagi kalimat mantra itu. Mantra yang langsung bisa membuatku mundur teratur dengan perasaan hancur lebur, habis tak bersisa. Oke, oke, aku tahu tidak boleh ada kesalahan. Demi Tuhan, aku tahu! Tapi sayangnya hatiku tidak mau menyetujui. Dan gawatnya, akhir-akhir ini tubuhku sepertinya lebih banyak diperintah oleh hati ketimbang logika.
Yang jelas ini berarti masalah.
Neon Nostrade bersenandung riang sambil membawa sebuah kue coklat berukuran sedang di kedua tangan mungilnya. Sejak tadi ia tidak sadar bahwa waktu sudah menjelang senja. Ia sudah bekerja keras untuk membuat kue ini, sampai-sampai hanya makan siang dengan roti. Konsentrasinya tercurah penuh pada kue yang akan ia hadiahkan pada Kurapika.
Hari ini hari spesial. Ulang tahun Kurapika yang ke-sembilan. Neon memutuskan untuk membuat sesuatu yang personal untuk anak laki-laki itu. Meski seorang anak berusia tujuh tahun masih belum diizinkan membuat kuenya sendiri, ia mendesain kue ini sendiri. Di dapur, ia memberitahukan kepala koki untuk membuat kue yang seperti apa dan dengan desain dan dekorasi seperti apa. Meski ia hanya membantu menuangkan tepung, gula, atau coklat cair ke dalam adonan kue dan mengaduk adonan, ia merasa puas dengan hasilnya. Kue coklat yang sudah matang dilapisi krim oleh kepala koki dan ia membantu menata buah-buahan di atas kue tersebut sebagai hiasan. Tak lupa dituliskannya Happy Birthday Kura-kun di atas kue, di samping sebuah lilin berbentuk angka sembilan.
Ini akan jadi kejutan yang menyenangkan, pikirnya.
Selain itu, Neon juga sudah memantapkan hati untuk menyatakan perasaannya pada anak laki-laki itu. Perasaan terdalam pada sahabatnya itu telah berubah menjadi perasaan yang dirasakan perempuan pada laki-laki. Ya, Neon akan mengatakan bahwa ia menyukai Kurapika. Dia akan mengatakannya sore itu juga.
Seperti biasa, Kurapika menghabiskan sore harinya di atas pohon besar di halaman belakang rumah Neon ditemani sebuah buku di tangannya. Kali ini sampul bukunya bertuliskan astronomi dan tata surya. Neon menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu. Asal sudah bersama buku, dia tidak akan mau repot-repot memperhatikan sekeliling.
Begitu sampai di bawah pohon, Neon berdeham-deham, berharap Kurapika menyadari kehadirannya. Tapi rupanya astronomi dan tata surya jauh lebih mendapatkan perhatian Kurapika dibandingkan dirinya. Neon mulai memperbesar volume dehamannya. Saat itu barulah Kurapika melongok ke bawah.
"Hei!" serunya gembira. "Apa itu di tanganmu?"
"Makanya sini turun dulu," tukas Neon sambil memberi isyarat dengan satu tangan yang tidak memegang kue.
"Oke," sahut Kurapika ringan. Kemudian ia menjatuhkan buku tebalnya dengan hati-hati ke tanah, baru setelah itu ia menuruni batang pohon dengan kecepatan mengagumkan.
"Oh! Kue! Kau yang membuatnya?" Tatapan Kurapika masih terpaku pada kue tart berukuran tanggung yang sedang dipegang Neon.
"Aku mau bilang iya, tapi bukan," kekeh Neon. "Aku hanya membuat desain dan membantu sedikit-sedikit. Ibu kepala koki yang membantuku membuatnya."
"Tunggu apa lagi," seru Kurapika. "Ayo kita segera cicipi." Jari telunjuknya sudah ia arahkan untuk mencolek krim kue, namun kuenya segera ditarik menjauh oleh Neon.
"Ucapkan permohonanmu dulu," desis gadis itu setengah jengkel. Anak laki-laki di mana-mana sama saja. Tidak tahu tata krama makan yang baik. "Sini, pegang kuenya. Biar kunyalakan dulu lilinnya."
Begitu kue tart itu berpindah tangan, Neon merogoh kantung roknya dan mengeluarkankan pematik api di sana.
"Hei, kau yakin?" Mata Kurapika membulat. "Itu kan bahaya. Biar aku saja yang nyalakan."
"Sudah jangan berisik. Biar aku," tandas Neon percaya diri. Ia mulai menyalakannya. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya muncul juga api kecil pada ujung pematiknya. Namun ketika ia mengarahkan api itu ke arah lilin, ia mulai merasakan ibu jarinya kepanasan. "Aduh," cetusnya sambil menarik ibu jarinya sehingga apinya padam.
"Astaga. Kemarikan tanganmu. Dasar bodoh." Kurapika langsung meletakkan kue tart di atas tanah dan menarik gadis di hadapannya menuju keran air di pinggir taman. Ia membasuh ibu jari Neon yang sedikit melepuh di bawah air.
"Sudah kubilang biar aku saja yang nyalakan. Kau tidak pernah mendengarkan aku sih." Sambil menggosok tangan Neon perlahan di bawah cucuran air, Kurapika masih meneruskan ceramahnya tentang bahaya api. Sementara yang diceramahi sudah tidak mendengarkan seratus persen kata-kata yang keluar dari mulut anak laki-laki itu. Ia sedang sibuk merasakan perasaan hangat yang menyenangkan ketika tangannya diusap oleh anak laki-laki yang disukainya itu.
"Nah, sepertinya sudah cukup." Kurapika mematikan keran air dan mengangkat tangan Neon ke udara sambil mengamat-amatinya. "Iya, sepertinya lukanya juga tidak serius. Tidak sakit lagi, kan?"
Ketika ia menatap mata Neon, gadis itu ternyata sedang memandanginya dengan tatapan penuh arti. Bibir gadis itu melengkung sedikit membentuk busur. Seketika Kurapika langsung salah tingkah dan melepaskan tangan Neon. Sambil berlagak seperti sedang memperhatikan tinggi setiap rumput di halaman ia berkata, "Eh, maaf ya. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Itu hanya…ehm...supaya tanganmu tidak sakit lagi. Jadi, aku pernah membaca di sebuah buku pertolongan pertama di bagian luka bakar. Katanya sebaiknya dialiri air biasa supaya tidak melepuh. Begitu."
"Kura-kun, aku…" Kurapika mengangkat mukanya. Matanya langsung menatap bola mata Neon yang indah. Mendadak ia merasa panas dingin, meski ia tidak tahu apa yang akan dikatakan gadis yang ada di hadapannya ini. "Aku…selama ini kita berteman baik. Bahkan ayah dan ibumu berteman baik dengan ayah dan ibuku. Aku cuma ingin bilang kalau sebetulnya, sejak beberapa bulan terakhir ini, aku merasa bahwa aku…menyukaimu, Kura-kun."
Kurapika terdiam dengan mata melebar. Tidak salah dengarkah ia tadi? Neon menyukainya? Menyukainya bagaimana maksudnya? Ia sungguh tidak memahami maksud gadis itu. Tidak, ia takkan berani berharap bahwa Neon menyukainya sama seperti perasaannya terhadap gadis itu. Tidak akan. Tuan Nostrade sudah mengatakan alasannya. Mereka tidak bisa bersama.
Alih-alih langsung menanggapi, Kurapika hanya bisa tertawa. Tawa sumbang yang sedang ia coba samarkan. "Kau ini bicara apa, Neon? Tentu kau menyukaiku. Aku pun menyukaimu. Kita ini kan sahabat. Tidak mungkin kita saling membenci, bukan?" tandasnya sambil memaksakan senyum.
"Tidak, kau tidak mengerti," tukas Neon sambil tersenyum sabar. Kurapika hanya bisa mengepalkan tangannya. "Perasaanku padamu bukan suka yang seperti itu."
'Jangan katakan. Tolong jangan katakan,' Kurapika memilih untuk tidak menyahut. Kalau bisa, ia hanya mau pergi sejauh-jauhnya dari sini. Supaya gadis ini tidak perlu memaksa mengungkapkan perasaannya. Dan ia tidak perlu menyakiti hati gadis ini. Dia harus menolak perasaan Neon. Itu pasti, karena ia tidak memiliki pilihan lain.
"Kau yang bilang mau menjagaku jika aku berada di ketinggian. Kau juga yang bilang mau membangun kastel kerajaan untuk kita tinggal bersama suatu hari nanti. Aku…bisakah…?"
'Tidak. Aku tidak bisa. Jangan katakan itu. Aku tidak mau menyakiti perasaanmu. Tidakkah kau mengerti?'
"Aku mencintaimu, Kura-kun. Bisakah…kau menerima itu?" Akhirnya Neon mengatakannya juga. Wajahnya kini sudah memerah hingga ke telinga dan tak berani memandang anak laki-laki itu sedikit pun.
Kurapika menggertakkan giginya. Untuk beberapa lama ia tetap tidak menyahut. Ia tahu dengan jelas yang dimaksud gadis ini. Tapi setiap kali melihat Neon, ia juga teringat sosok Tuan Nostrade. Teringat pula ucapannya. Atau mungkin lebih tepat bila disebut ancaman? Ia tidak tahu. Yang jelas, ia harus menuntaskan perkara ini secepatnya.
"Aku…" Akhirnya Kurapika membuka suara. "….tidak akan melindungimu, Neon. Aku juga tidak akan membangun kastel kerajaan itu. Aku…menarik kembali semua ucapan dan janjiku." Kurapika menundukkan kepalanya. Ia tidak sanggup berbohong sambil menatap mata lawan bicaranya. "Karena aku tidak sungguh-sungguh ketika mengatakannya. Aku tidak pernah serius mengatakan hal itu. Hanya ucapan biasa, kau tahu…? Aku…"
Dukk!
Sebuah tendangan mendarat mulus di tulang kering kaki kanan Kurapika dan membuatnya berhenti bicara seketika. Sedetik kemudian sejuta unit rasa sakit seperti menghantam saraf-saraf di kakinya. Sakit sekali sehingga ia terduduk di rerumputan sambil memegangi kakinya yang terasa amat sakit. Ia tidak menyangka beginilah reaksi yang akan ditampilkan gadis itu. Tapi ketika ia mendongak dan menatap mata biru Neon, rasa sakit di kakinya seperti tak ada apa-apanya. Kini hatinya seperti diremas-remas hingga lumer dan tidak berbentuk lagi. Tatapan berlumur kecewa di manik mata gadis itu, selamanya takkan pernah ia lupakan.
Ia baru saja akan membuka mulut untuk mengatakan maaf ketika gadis itu berbalik dan pergi. Kurapika tidak mengejarnya, pun tidak mencoba memanggil. Untuk apa? Semua ini memang tidak ada dalam kendalinya. Ia takkan bisa mengatakan perasaannya yang sebenarnya juga kepada gadis itu. Satu-satunya hal terbaik yang ia tahu akan dilakukannya untuk gadis itu adalah pergi selamanya dari kehidupannya. Pergi supaya ia tidak perlu menyakitinya lagi.
Setengah jam yang lalu, kapal udara milik pribadi asosiasi hunter yang kami pinjam sudah tiba di lapangan. Tanpa banyak menjelaskan, aku meminta seluruh peserta memasuki kapal udara tersebut. Briefing bisa dilakukan di dalam kapal. Begitu semua peserta dikumpulkan, aku mulai menjelaskan tujuan kepergian kali ini.
"Baiklah, semuanya. Terima kasih karena kalian semua sudah mengikuti pelatihan sejauh ini dengan baik." Aku mulai memberikan informasi kegiatan hari ini pada para peserta. "Hari ini adalah hari stamina dan kecepatan. Sekitar satu jam lagi, kita akan tiba di daerah pegunungan, tempat kita akan berlatih mendaki hari ini. Pada kesempatan ini juga, kita semua akan berlatih membaca peta. Sebagai seorang calon hunter, kalian harus terbiasa dengan segala kondisi, tempat, dan cuaca. Oleh karena itu, misi hari ini diharapkan dapat melatih hal tersebut pada diri kalian.
"Dan untuk misi hari ini, kalian akan melakukannya di dalam tim. Satu tim akan terdiri atas dua orang. Untuk partner kalian, karena hari ini adalah kali pertama kalian melakukan misi dalam tim, maka kalian bebas memilih partner yang kalian inginkan." Aku melihat beberapa peserta langsung saling menatap roommate masing-masing, karena mungkin sejauh ini hanya partner itulah yang mereka paling kenal. Tak terkecuali perempuan itu. Aku tersenyum melihatnya begitu girang karena bisa berpasangan dengan Retz. Andai saja aku juga bisa membuatnya tersenyum seperti itu. Sayangnya, sejauh ini yang kulakukan hanyalah menimbulkan amukan saja pada dirinya.
"Untuk keperluan misi ini pula, kalian akan dibekali dengan kompas, peta, dan senter. Setiap tim akan mendapatkan masing-masing satu dari ketiga benda itu." Aku memberi isyarat pada Gon dan Pokkle untuk membagikan benda-benda tersebut. "Selain itu, setiap peta yang kalian pegang adalah peta yang berbeda-beda, karena setiap tim akan diletakkan pada start point yang berbeda-beda pula. Tetapi tujuan akhir setiap tim tetap sama, yaitu air terjun terbesar yang terdapat di lereng pegunungan."
Aku tidak tahu bagaimana sekarang kemampuanku untuk melakukan berbagai hal sekaligus jadi meningkat. Sembari aku menjelaskan, dan tanpa ketahuan siapa pun aku tak berhenti memperhatikan bagaimana dua anak perempuan di pojok ruangan itu membicarakan misi dengan dengan raut muka yang sangat bersemangat. Ah, aku ingat, Neon memang selalu menyukai pemandangan alam. Sayangnya ia takut ketinggian. Jadi setiap kali berkunjung ke tempat pendakian, kami tidak pernah naik sampai terlalu jauh. Neon tetap harus puas dengan pemandangan alam yang dilihatnya dari bawah. Dia tidak pernah menatap keindahan alam dari puncak gunung.
Nah, omong-omong, bagaimana mungkin anak yang takut ketinggian begini ingin menjadi seorang hunter? Aku serius. Gadis ini sudah menjadi tuan putri sejak dari dalam kandungannya. Oke, dia memang tidak manja meski segala kebutuhannya selalu disediakan. Tetapi tetap saja, lingkungan tempat tinggalnya telah membuatnya terbiasa dengan segala macam kehidupan mewah. Dan sesungguhnya, aku cukup takjub melihatnya tidak mengalami masalah apa pun semenjak berada di sini. Yah kecuali masalah denganku sih. Tapi intinya, sebetulnya mungkin dia akan baik-baik saja.
Tapi aku tetap khawatir.
Wajar kan kalau aku khawatir padanya? Bagaimana pun juga dia itu kan… Ugh, menyebutkan kata itu saja aku tidak bisa. Maksudku, ayahku dan ayahnya adalah…. Hmmm. Aku benar-benar tidak bisa menganggapnya sebagai….
Ah, sudahlah. Sebaiknya kuselesaikan saja briefing ini.
"Setelah ini, begitu tiba di lokasi, kalian harus mencari start point masing-masing. Ambil bendera dari tempat itu, lalu telusuri jalan menuju air terjun besar yang ada di peta kalian. Setiap bendera akan memiliki nomor yang sama pada nomor yang tertera di peta kalian. Tapi nomor bendera antara kelompok yang satu dengan yang lainnya sudah pasti berbeda. Nomor itu yang menunjukkan identitas kelompok kalian. Misalnya, jika kalian memegang peta dengan angka satu. Maka kalian adalah kelompok satu. Dan kalian harus mengumpulkan bendera yang berangka satu. Pada setiap rute, telah disediakan lima bendera dari start point hingga air terjun, jadi kalian tidak boleh melalui rute yang berbeda dari yang telah ditentukan di peta. Apakah ada pertanyaan?"
Kalimat terakhirku ternyata sudah sepenuhnya diabaikan, karena setiap peserta kini sibuk berdiskusi dengan partner masing-masing atau membandingkan rute mereka dengan rute kelompok lain. Aku menghela napas.
"Semuanya!" seruku lebih keras dan kuusahakan memasang tampang dingin supaya mereka semua memperhatikanku. Dan aku benar, kini suasana langsung senyap dan semua mata terarah padaku. "Kalian punya waktu hingga matahari terbenam untuk menyelesaikan misi ini. Kita semua akan berkumpul di titik akhir air terjun raksasa. Nah, jika sudah tidak ada pertanyaan, kalian punya waktu satu jam bebas untuk melakukan apa saja sebelum kita tiba di lokasi misi. Silakan."
