Hai semuanyaaa. Oke, ini udah lewat 9 hari sejak hari terakhir aku update story di sini ya. Maaf bgt bgt bgt karena lama. Tapi aku berniat bikin fic yang emang layak baca. Yang the best yang aku bisa lah intinya. Dan untuk menghasilkan kualitas cerita yang baik, aku perlu cari2 ide utk scene di fic ini, cari dialog2 yang sekiranya menarik, sekaligus ngatur plotnya juga supaya gakk ngebosenin. Semoga hasilnya gak mengecewakan kalian~~
Oke, kini saatnya jawab review. Thank you so much buat yang udah kasih review. Review kalian sangat menyenangkan untuk dibaca, karena ngasih masukan ide dan kritik yang membangun. Maaf kalo author ga bisa kabulkan semua keinginan, tapi I do try my best to work on it.
Jawaban review
Amaya Kuruta : Hello newbie, semoga kamu suka kisah ini ya :) Hmm, mungkin bisa masuk nanti, akan kupikirin perannya dulu
YutaUke : Kurapika nya sangat OOC yah? Hahaha. Entah kenapa karakter tokohnya jadi seperti ini. Nah, di update-an ini, ada kisah Retz-Killu di ch 9. Hmmmph, aku belum kepikir masukin tokoh hxh yang lain, tapi mungkin akan ada penambahan tokoh di tengah cerita nanti. Dan mungkin (MUNGKIN, hahahaha) Hisoka juga akan ada :)
marciana : Hey, glad you like this fic that much. Dua pair di sini ini juga fave akuuuu XD.. Tapi maaf yaaa updatenya lama. Serius, soal waktu postingan, aku ga bisa menjanjikan apa pun. Aku mungkin bisa aja bikin sehari satu chapter. Tapi aku yakin hasilnya bakal singkat, banyak typo, banyak nggak jelasnya, kalimat ngawur, dan lain sebagainya. Dan aku menghindari terjadinya hal2 semacam itu. Tapi percayalah aku berusaha mengerjakan ini di setiap waktu luang yang aku punya. Jadii, mohon bersabarr. PALING CEPET aku bisa update seminggu sekali, tapi itu akan sangat jarang terjadi. Maaf, maaf, maaf sekali. Tapi kuusahakan yang terbaik di setiap update-annya.
Yak, ngoceh2nya selesai. Update kali ini 3 chapter sekaligus. Selamat membaca dan jangan pernah lupa untuk REVIEW, seenggak penting apapun komentar itu, I still wanna know what u think about this fic. Dan kalo ada hal yang bagian yang ganjil atau gak bagus menurut kalian, please let me know ok? Ja nee~~
BAB VIII
Neon Nostrade
Oke, harus kuakui pelatihan ini tidak sepenuhnya buruk. Yah, setidaknya kami tidak dikurung terus menerus di asrama dan berlatih di halaman yang itu-itu saja. Asramanya memang tidak buruk, tapi kalau tidak pernah keluar kan tetap saja terasa sesak. Sekarang aku dan Retz akan menjalankan misi di pegunungan ini. Aku tidak sabar lagi. Kalau sudah begini, satu jam saja bisa terasa seperti selamanya, ya. Sedari tadi aku dan Retz hanya duduk bersandar di sebuah lorong di kapal udara ini tanpa melakukan aktivitas berarti apa pun.
"Hei, Neon." Aku menoleh mendengar namaku dipanggil.
"Kenapa, Retz?"
"Kita mau melakukan apa selama satu jam begini? Aku bosan."
"Aku juga," senyumku padanya. "Ah! Bagaimana kalau kita lanjutkan permainan kita yang tertunda tadi pagi?"
Retz memandangku dengan wajah bingung sejenak. Tapi setelah teringat akan permainan yang kumaksud, raut mukanya langsung berubah sumringah dan mengangguk-angguk bersemangat. "Ayo! Ayo!"
"Oke. Aku yang bertanya lebih dulu ya." Aku terkekeh. Meski cemberut sedikit, Retz nampak tetap bersemangat.
Aku kini berpikir sejenak. Hmm, kini aku bingung bagaimana menanyakannya. Aku tahu rahasia anak ini terkait dengan Killua. Ya, sepertinya dia menyukai si anak angkuh berambut perak itu. Aku lalu menyeringai.
"Ya atau tidak. Di antara para pelatih kita di sini…" ucapku perlahan dengan nada dibuat-buat, menikmati ekspresi wajah Retz yang sudah seperti akan ketahuan mencuri ayam tetangga. "….kau menyukai si anak angkuh berambut perak itu?"
Wajah Retz memerah sampai ke daun telinga. Ini menarik sekali. "Dia tidak angkuh, ah," ucapnya sambil memalingkan muka.
"Kau menyukainya atau tidak? Jawab dulu pertanyaanku."
"Iyaaaa. Aku memang menyukainya." Wajah Retz masih agak cemberut, tapi tetap merona merah. Hahaha, lucu sekali sih anak ini.
"Giliranmu," ucapku.
"Sebentar, sebentar. Aku mau tanya dulu. Memangnya sikapku begitu kentara ya?"
"Semacam itulah." Aku mengangkat bahu. "Kini giliranku lagi."
"Heeeh? Aku kan belum bertanya tentang rahasiamu," protes Retz.
"Siapa suruh kau malah menanyakan hal lain? Pertanyaanmu tadi tetap dihitung. Sekarang giliranku lagi."
Wajahnya kembali cemberut namun tak bisa berbuat apa-apa. Dan aku cepat-cepat memikirkan pertanyaanku dan mengatakannya supaya dia tidak jadi mengamuk.
"Apa yang membuatmu….." Entah kenapa aku selalu senang membuat jeda ketika pertanyaan seperti ini. Sementara Retz menungguku menyelesaikan pertanyaanku dengan gugup. Ya ampun berlebihan sekali sih anak ini. Memangnya dia kira ini apa? Ujian kelulusan? "….menyukai Killua?"
Retz menelan ludah sekali, baru menjawab pertanyaanku dengan wajah malu dan pasrah sambil menatap ke arah dinding. "Dia cinta pertamaku. Waktu kecil dia pernah menyelamatkan hidupku. Semenjak itu aku jatuh cinta padanya."
"Ohh." Mendadak aku jadi tidak bersemangat, setelah kata 'cinta pertama' diungkit-ungkit. "Cinta pertama, ya? Hati-hati saja. Biasanya cinta pertama tidak berjalan sebaik itu. Kau ini kan masih muda sekali." Kini aku menceramahinya seolah-olah aku adalah wanita dewasa yang bijak. Kenyataannya? Hmph. Aku sendiri tidak kalah mengenaskannya dalam urusan cinta. Memang sih, tidak baik bersikap sok menasehati orang lain tentang cinta sementara kau sendiri juga sama buruknya. Tapi kan, sudah seharusnya aku memberitahunya pengalaman cinta pertamaku yang gagal dan hampir saja menghancurkan hidupku itu, supaya Retz bisa belajar dari sana dan tidak mengalami kisah seperti drama menyedihkan yang kualami.
"Kalau kau…" Aku menoleh padanya, baru sadar bahwa ini harusnya gilirannya untuk bertanya. "Apakah Kurapika-san itu cinta pertamamu?"
Aku langsung memelototinya. Dia hanya diam menanggapi pelototanku. Lalu aku menyerah. Ya sudahlah. Dia juga akan tahu cepat atau lambat.
Aku menunduk dan memandangi sepatuku. "Ya." Aku mendesah pelan. "Dia dulu sahabatku. Kami teman bermain di masa kecil. Kami dulu sangat dekat, karena orangtua kami berteman. Setiap sore kami selalu menghabiskan waktu bermain di halaman belakang rumahku. Lalu… yah, aku jatuh cinta padanya." Aku lalu mengangkat wajahku dan menatap dinding yang ada di hadapanku. "Sayangnya, dia tidak memiliki perasaan yang sama padaku."
"Karena itu kau begitu membencinya sekarang?" Retz bertanya hati-hati.
Aku berpikir sebentar. "Tidak. Waktu dia menolakku, aku memang marah sekali padanya. Tapi bukan itu yang membuatku sebal setengah mati padanya, melainkan karena dia mendadak menghilang dari hidupku. Dan tidak pernah menampakkan wajahnya lagi. Hanya karena aku menyatakan perasaanku, dia lantas tidak suka dan pergi. Waktu ibuku meninggal dan ayahku sering ke luar kota, aku tidak lagi punya teman bermain. Selama ini hidupku selalu sendiri. Singkat kata, dia mencampakkan aku sebagai sahabatnya."
Tidak ada tanda-tanda jawaban dari Retz. Lalu, "Pantas sikapmu begitu dingin padanya. Dan emosimu semenjak kau berada di sini juga…..yah, sangat terbaca."
"Benar. Hanya dengan kehadirannya saja bisa membuat emosiku naik sampai ke ubun-ubun. Lalu.." cetusku sambil menoleh pada Retz. "Apa rencanamu sekarang dengan Killua?"
"Aku?" Retz mengangkat alis. Meski reaksinya begitu, aku tahu bahwa dia sudah yakin akan jawaban dari pertanyaanku itu. "Tentu saja aku akan menyatakan perasaanku padanya."
Aku membelalakkan mata. "Apa?!"
Gadis itu hanya mengangkat bahu.
"Kenapa?! Kenapa secepat itu? Bagaimana kalau dia menolakmu? Atau yang lebih parah, bagaimana kalau dia sudah punya pacar atau gadis yang disukai?"
"Kurasa…" Retz menekuk kedua kaki dan memeluknya. "Ketika kita memilih untuk jatuh cinta, itulah resiko yang akan kita alami, bukan? Patah hati itu resiko. Saat kita mengutarakan perasaan kita, kita akan punya dua pilihan, diterima dan hidup bahagia dengan orang yang kita cintai atau ditolak dan patah hati yang mungkin bisa membekas bertahun-tahun. Tapi satu hal yang aku tahu, jika kita tidak melakukan apa pun, sudah pasti seratus persen kita takkan bisa bersama orang yang kita cintai."
Aku tertegun mendengar jawaban gadis itu. Entah dia memang arif bijaksana. Atau terlalu naif karena masih muda. Hhhh, andai saja aku bisa berpikir seperti caranya berpikir. Mungkin dulu aku bisa meminta penjelasan, alasannya menolakku, atau apalah, ketimbang bersikap kasar lalu pergi meninggalkannya di taman belakang. Tapi mau menyesal seperti apa pun sekarang sudah tak ada gunanya.
"Kau masih menyukai Kurapika-san?"
Aku menggigit bibir bawahku. Lagi-lagi pertanyaan yang enggan untuk kujawab. Tapi, "Bertahun-tahun hidup tanpanya membuatku bepikir bahwa aku sudah bisa menumpulkan perasaanku padanya, Retz. Begitu tiba di tempat ini, ketika pertama kali bertemu lagi dengannya setelah sekian lama, kupikir aku bisa bersikap biasa-biasa saja dan bertingkah bahwa segala yang dilakukannya di masa lalu tidak pernah terjadi. Sayangnya, aku masih tetap tidak bisa membiarkan otakku yang mengambil alih diriku dan aku malah menangis terus cuma karena orang itu." Suaraku bergetar saat mengatakannya. Dan aku mulai merasakan perih di kedua mataku. "Kau tahu, mati-matian aku membencinya, berusaha menganggapnya tidak ada. Tapi rasanya…semakin aku berusaha membencinya, perasaan itu semakin kuat. Aku jadi kesal pada diriku sendiri karena begitu bodoh dan senang menyakiti diri sendiri. Padahal aku sudah tahu, dari dulu sudah tahu, bahwa dia tidak akan punya perasaan apa pun padaku. Benar-benar…"
Mendadak aku merasakan sepasang tangan terulur dan mengelilingi pundakku. Retz memelukku sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. "Terkadang, tidak masalah untuk menunjukkan emosimu yang sesungguhnya di hadapan orang. Tidak perlu menggunakan topeng dan terus-menerus bersikap bahwa kau kuat. Karena setiap manusia punya batas pertahanannya masing-masing. Ketika batas itu sudah tak bisa lagi membendung emosimu, lepaskan saja. Kini kau punya sahabat baru. Aku akan selalu menjadi tempatmu bercerita dan menangis."
Aku tersenyum dan bersandar pada gadis ini. "Retz, sudahkah aku mengatakan kalau aku begitu beruntung bisa bertemu denganmu?"
Meski tidak melihat aku bisa merasakannya tersenyum. "Aku juga beruntung bisa bertemu denganmu."
"Omong-omong, Neon," Retz melepaskan pelukannya dariku. "Bagaimana ceritanya kau bisa sampai mengikuti pelatihan dan bertemu lagi dengan Kurapika-san di sini?"
Lalu aku mulai bercerita padanya tentang profesi lamaku sebagai peramal, bagaimana profesi itu merupakan sumber kejayaan keluarga Nostrade, mengenai kekuatan meramalku yang dicuri, juga keputusan ayahku yang meminta tolong Kurapika untuk mengadakan pelatihan ini demi mengembalikan kejayaan Nostrade. Aku bercerita panjang lebar tanpa menutupi satu pun dari gadis ini.
Retz juga bercerita mengenai profesi kakaknya sebagai pembuat boneka, lalu pertentangan dengan mafia hingga melibatkan keluarga Zaoldyeck, bagaimana Killua menyelamatkan hidupnya waktu mereka masih kecil, dan bagaimana ia bisa sampai berada di tempat ini. Dalam waktu satu jam, kami sudah melupakan giliran bertanya dan kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Demikianlah Retz dan aku semakin mempererat ikatan persaudaraan di antara kami.
Langit tak berawan menjumpai kami begitu kami tiba di lokasi pegunungan yang akan menjadi tempat misi kami masing-masing. Semua peserta mulai sibuk mengamati peta, keadaan lingkungan sekitar, dan mencoba-coba kompas yang mereka dapatkan. Demikian juga dengan aku dan Retz. Kami benar-benar berusaha agar bisa menjalani misi ini dengan baik, karena Retz dan aku sama-sama berasal dari kota. Kami hampir tidak pernah melihat pegunungan. Oleh karena itulah, ketika kami dibekali dengan kompas dan peta, rasanya seperti memberikan cangkul kepada kerbau untuk membajak sawah. Tidak akan bisa dipakai. Tapi bedanya, kami masih bisa belajar dan membiasakan diri menggunakan kompas, sementara kerbau tidak bisa belajar menggunakan cangkul. Yah, semoga saja.
"Kurasa di sana start point kita, Neon," ucap Retz sembari terus-menerus memperhatikan peta dan bendera yang tidak jauh di dekat kami berada secara bergantian.
"Ya," sahutku girang ketika melihat angka 7 pada bendera itu. "Itu memang bendera kita, Retz. Kelompok 7! Ayo jalan."
Retz dan aku mencabut bendera pertama yang kami temukan dan terus berjalan menyusuri jalan setapak yang ditunjukkan bendera tersebut. Namun, baru beberapa menit berjalan, kami menemukan dua percabangan. Kini kami harus memilih, tetap berjalan lurus atau berjalan di jalan yang mendaki.
"Wah, wah, belum apa-apa sudah harus memilih. Ayo, Retz. Coba lihat petanya," ujarku ringan. Entah kenapa mood-ku hari ini sedang bagus sekali. Pelatihan misi di pegunungan ini, siapa pun yang merancangkan idenya, dia hebat sekali. Aku bahkan tidak mengindahkan Kurapika sama sekali. Yah, sebenarnya aku cuma berusaha untuk tidak mengindahkannya sih. Tapi tetap saja kalau menyangkut dia, radarku akan terus bekerja dan selalu bisa menyadari keberadaannya di dekatku.
Akhirnya, setelah sekitar sepuluh menit membaca peta, menggunakan kompas, dan menimbang-nimbang, kami memilih jalan mendaki. Karena logikanya kan, air terjun raksasa pasti terletak di atas. Karena aku pernah mendengar pepatah kuno yang mengatakan, semakin tinggi sebuah gunung, maka semakin banyak sumber air yang bisa didapat. Ya tidak?
Ah, yang penting dijalani saja dulu.
Jalan mendaki ini terdiri atas tangga-tangga batu yang mungkin dulunya disusun seperti ini untuk tujuan wisata. Tapi kini bentuk tangganya sudah hampir tidak terlihat. Bebatuannya bahkan tersebar di mana-mana. Ditambah lagi, bebatuan-bebatuan besarnya dipenuhi dengan lumut. Jika tidak hati-hati mendaki, kami bisa tergelincir. Dan kuberitahu saja ya, jalan setapak ini tidak terlalu lebar. Jika kami tidak hati-hati, jurang yang ada di samping kami ini dengan senang hati akan selalu siap menelan kami hidup-hidup.
Aku menelan ludah seraya melongok ke dalam jurang tersebut. Dulu sekali, aku pernah takut dengan ketinggian. Alasannya sangat konyol sebenarnya. Dulu aku sok berani mencoba memanjat pohon. Kupikir, itu kan hanya pohon. Ayolah, pohon mana sih yang tidak bisa ditaklukkan? Tapi kurasa saat itulah aku dikutuk oleh dewa pohon karena berani meremehkan para pohon. Ketika aku sudah memanjat sampai ke tengah batangnya, aku mencoba menaiki salah satu dahan. Aku menjejakkan kaki dengan selamat di dahan tersebut, tetapi ketika aku menoleh, aku melihat serangga yang hanya berjarak dua senti dari mukaku. Aku memekik hingga peganganku terlepas. Detik berikutnya aku sudah terjatuh di atas rerumputan dengan kaki terkilir.
Jujur saja, semenjak itu aku jadi takut kalau harus pergi ke tempat-tempat yang tinggi. Meski aku suka pegunungan, tetap saja aku hanya bisa memandang dari bawah. Tapi lambat laun aku mulai bisa mengatasi ketakutanku akan ketinggian. Meski terkadang aku masih berdebar kalau harus melihat ke jurang seperti tadi. Tapi aku sudah bisa menaklukkan rasa takutku.
Meski jurangnya menakutkan, tak dapat kupungkiri bahwa pemandangan dari atas sini indah sekali! Ditambah lagi, udara sejuk yang juga menyejukkan hatimu hingga membuatmu lupa sesaat akan bisingnya perkotaan. Bukannya di sini tidak ada matahari. Tapi matahari pagi yang masih terhalang pepohonan tinggi ini membuat kami di sini tidak merasakan seinci pun hangatnya surya.
Kurasa menenangkan adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan tempat ini. Kalau kami mengheningkan cipta di sini, bisa terdengar samar-samar suara gemerisik dedaunan akibat pergerakan tupai atau entah binatang-binatang hutan lain yang senang beraktivitas di atas pepohonan itu, suara dengung bicara orang-orang, dan desau air terjun!
Aku sudah tidak sabar sampai di air terjun!
Mendadak aku mendengar suara tawa di sampingku. "Iya, Neon. Aku juga sudah tidak sabar ke air terjun. Tapi sebelumnya, kita harus memilih jalan yang akan kita lalui terlebih dulu."
Waw, ternyata kalimat terakhirku tadi benar-benar kuucapkan. "Oh lihat, Retz. Bendera lagi!" seruku penuh semangat sambil berlari-lari kecil ke dekat persimpangan untuk mencabut bendera berangka tujuh itu. Persimpangan yang ini sama dengan yang tadi. Pilihannya adalah jalan lurus atau jalan mendaki lagi. Kali ini kami tidak menghabiskan waktu selama di persimpangan sebelumnya untuk berpikir.
Dan lagi-lagi, berdasarkan logika semena-mena kami, kami memilih berjalan mendaki.
Jam sudah menunjukkan waktu tengah hari tapi kami masih juga belum menemukan bendera ketiga. Aku dan Retz mulai lelah. Kecepatan berjalan kami sudah mulai melambat lantaran terlalu lama berjalan mendaki sejak tadi. Mentari siang yang kini telah memosisikan dirinya di atas sedang begitu semangat mencurahkan segala daya sinarnya kepada segala umat di muka bumi. Wajah kami berdua sudah bersimbah peluh. Aku mengorek tas untuk mengambil sapu tangan dan mengusap wajahku. Hal yang sama juga dilakukan oleh Retz.
Tiba-tiba Retz mendahuluiku dan menghempaskan diri untuk bersandar di dinding pegunungan. "Aku capek," sungutnya. Aku mengikuti tingkahnya. Lalu mencoba mengambil persediaan air di dalam tas, tapi kuurungkan niat untuk minum. Karena kami belum ada setengah perjalanan sementara air ini sepertinya hanya cukup untuk tiga atau empat tegukan lagi. Botol air minum Retz malah sudah kosong sama sekali.
"Di saat-saat begini rasanya aku ingin menemukan air terjun dan minum sepuasnya dari sana," desah Retz yang melihat kondisi botol air minumku.
"Kita pasti akan menemukannya nanti Retz. Kita beristirahat saja dulu di sini sambil melihat peta. Apa kita tak salah jalan?" saranku.
Retz membentangkan kembali petanya untuk kami perhatikan. Hmmm, aneh, sepertinya tidak ada kesalahan. Atau aku saja yang tidak bisa membaca peta ya? Aku memperhatikan sekeliling. Jalanan yang kami lewati ini sudah tidak berbentuk jalanan setapak lagi. Aku bahkan tidak akan percaya kalau ada yang bilang bahwa ini dulunya jalan setapak, karena sekarang sudah tidak ada jejaknya sama sekali.
Ini gawat. Jangan-jangan kami salah memilih jalan?
"Aneh sekali," ujar Retz sambil memicingkan matanya melihat peta. "Seharusnya sih, rute yang kita ambil sudah benar. Lihat. Bukankah seharusnya garis hitam ini menandakan ke arah mana kita harus berjalan?"
Aku yang sama butanya akan peta tidak mendebat lebih jauh. "Kalau begitu, ayo kita jalan lagi. Sudah cukup istirahatnya?"
Retz mengangguk sebagai respon. Lalu wajahnya berubah sedikit terkejut begitu menatap ke arahku. "Neon, wajahmu pucat lho. Kau tidak apa-apa?"
"Masa?" Mataku melebar sedikit. Tanganku secara otomatis terangkat ke wajah. "Aku tidak apa-apa kok. Lihat nih. Aku bisa berdiri tegak…" Mendadak aku jadi limbung ketika mencoba berdiri. Untuk sesaat, pandanganku memburam hingga aku harus berpegangan pada dinding gunung.
"Eh, hati-hati." Retz langsung ikut menopangku. "Sudah kuduga kau sedang tidak sehat sejak pagi. Ini karena sarapan pagimu juga hanya kopi dan secuil nasi. Apa yang kau rasakan sekarang?"
"Aku tidak makan secuil nasi," tukasku tidak setuju. Kata-kata 'secuil nasi' itu terlalu berlebihan. "Aku hanya mengurangi setengah dari porsi biasaku. Kalau aku makan banyak-banyak nanti bisa mengantuk."
"Itu dia masalahnya. Porsi makanmu yang biasa saja sudah sedikit," protesnya.
"Tapi aku merasa sanggup kok. Ayolah, Retz. Mau lihat air terjun tidak?"
Retz tidak menjawab, hanya menatapku dengan sorot khawatir. tetapi mengikutiku kembali berjalan mendaki.
Satu jam… Dua jam… Kami tetap tidak menemukan bendera kami. Aku mulai putus asa. Sementara matahari tetap bersemangat mencurahkan segala daya dan upaya sinarnya kepada kami berdua.
Gawatnya lagi, tangan dan kakiku mulai gemetaran. Kepalaku mulai pusing dan aku merasa mual. Kenapa ini? Masa aku harus sakit di tengah misi begini? Yang benar saja. Mana mungkin aku meninggalkan Retz di tengah misi begini. Tidak, aku tidak mungkin menyerah dan membiarkan Retz menjalankan misi sengsara ini sendirian.
Mendadak aku mendengar teriakan Retz, "Neon, awas!" Dan di saat yang sama aku menyadari bahwa kakiku menginjak udara bebas. Detik selanjutnya aku mendapati diriku terperosok dan jatuh terguling ke bawah.
Aku merasakan tubuhku membentur sesuatu yang keras lalu terhenti. Segala rasa mual dan pusing tadi tergantikan oleh rasa lemas sekaligus rasa nyeri luar biasa akibat benturan itu, hingga aku tak bisa berkutik lagi. Di kejauhan aku seperti mendengarkan suara Retz memanggil-manggil namaku, tapi suaranya semakin samar dan aku semakin sulit untuk membedakan suaranya dengan suara di pikiranku sendiri.
Entah sudah berapa lama aku bertahan untuk tetap sadar, meski aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali lantaran tidak ada tenaga yang tersisa. Ketika kesadaranku semakin menipis, aku mendengar suara lain memanggil namaku. Kurasa aku mulai berhalusinasi karena aku seperti mendengar suara Kurapika dari kejauhan. Kemudian aku melakukan hal yang sedari tadi ingin kulakukan. Aku memejamkan mataku dan merasakan tubuhku melayang masuk ke alam bawah sadarku sendiri.
Maaf, Retz. Maaf karena meninggalkanmu.
