BAB IX

Retz Omokage

Aku betul-betul kaget menyaksikan temanku sendiri jatuh terperosok ke jurang. Tadi itu aku terlalu terlambat memberitahunya bahwa di depannya ada bekas tanah yang sudah ambruk. Benar-benar…

Lagipula, pegunungan ini benar-benar mengerikan. Tidak ada yang tahu kan kalau di sini ada perangkap untuk binatang atau ada hewan buas berkeliaran. Ketika sudah ada korban yang jatuh, baru para panitia mau repot-repot memperhatikan. Siapa sih sebenarnya yang merencanakan kegiatan misi di gunung begini?

Saking gugupnya aku menggigit bibir bawahku. Adegan tubuh Neon yang terguling ke jurang yang penuh ranting dan bebatuan masih terus berputar di benakku, membuatku bergidik ngeri dan kembali merasa khawatir. Kupejamkan mataku erat-erat sambil menggeleng-geleng, berusaha mengenyahkan adegan menakutkan yang terekam jelas di memori. Ya Tuhan. Sekarang bagaimana keadaan Neon? Apa dia sudah sadar? Apa ada luka serius? Ck. Teman macam apa sih aku ini? Tidak bisa menjaga sahabatnya sendiri.

"Hei bodoh! Di depanmu ada tali." Aku terkesiap sesaat mendengar bentakan barusan dan di saat yang sama aku merasa ada yang menahan ranselku hingga aku berhenti berjalan. Pandanganku tertuju ke bawah dan aku mendapati kakiku yang hampir tersandung tali secara reflek mundur selangkah. Selangkah lagi saja, aku pasti sudah jatuh tersungkur dengan penuh luka. "Kau mau menyusul temanmu kembali ke camp dengan penuh luka, ya?"

Aku menoleh mendengar omelan yang sudah pasti ditujukan padaku itu, dan kebingungan melihat ada Killua di sana. Tadi aku sempat melihat dia memang ada di lokasi kejadian, mendadak muncul entah dari mana, mencoba menolong Neon bersama dengan Kurapika. Tapi setelah Kurapika menyuruhku melanjutkan misi tanpa Neon, aku hanya berjalan tanpa arah sambil terus memikirkan kejadian nahas barusan, dan kupikir… Kupikir…

Entahlah. Sepertinya ketika Neon terjatuh aku sudah tidak memikirkan Killua sama sekali.

Ini aneh sekali. Kalau dipikir-pikir, kenapa tiba-tiba dia bisa muncul di depanku dan menolong Neon? Apakah para panitia memang menguntit kami selama misi ini berlangsung? Lalu ada Kurapika juga. Apakah mereka berdua mengawasi kami dari jauh secara bersamaan? Apa mereka sudah tahu bahwa kecelakaan seperti yang dialami Neon tadi akan terjadi? Tapi dari semua pertanyaan yang berputar di benakku itu, ada satu hal yang paling ingin kuketahui.

"Apakah kau mengikutiku?"

"Kenapa kau terlihat heran? Dengan tingkat kecerobohanmu dan gadis tadi, wajar saja kalau Kurapika menyuruhku untuk mengawasimu. Dan benar saja kan, kalau aku tidak menahan ranselmu, kau pasti sudah jatuh dan segera menyusul temanmu itu kembali ke camp."

Keningku berkerut mendengar kalimat yang diucapkannya, karena dia membuatku mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu. Mendadak aku tidak berniat melanjutkan misi ini lagi.

Bukan. Bukan karena aku tidak sanggup menjalaninya tanpa partner, tapi karena aku sudah tidak bisa fokus akan hal lain lagi selain Neon. Aku ikut lemas dan kehabisan tenaga setiap kali mengingat setiap luka dan lebam di sekujur badan gadis itu. Aku menghela napas lalu memutuskan untuk duduk di tengah jalan. Tidak peduli ada orang atau hewan mana pun yang akan lewat di situ.

"Hei, hei. Kau sedang apa? Bagaimana kalau ada yang lewat? Ayo cepat bangun." Anak laki-laki di hadapanku sekarang memerintahku sambil menunjuk-nunjuk padaku. Hal ini membuktikan kalau dia kebingungan melihat sikapku. Dalam keadaan biasa mungkin aku sudah tertawa karena ini Killua. Aku berhasil membuatnya bingung. Tapi kali ini aku hanya memasang senyum lemah. Teknisnya aku hanya mengangkat sedikit salah satu sudut bibirku. Senyumku pasti terlihat mengerikan.

"Kau tahu bagaimana kabarnya?" Aku memutuskan untuk menanyakannya saja, daripada aku depresi sendirian di sini. Aku harus tahu bagaimana keadaannya.

Alisnya terangkat, langsung mengetahui siapa '-nya' yang kumaksudkan di sini. "Kurasa aku bisa mencari tahu," ujarnya. Ia merogoh saku celana dan memencet beberapa tombol sebelum menempelkannya ke telinga.

"Ah. Kurapika?" Dahi Killua berkerut samar begitu mendengar suara Kurapika. Aku jadi bergidik mengantisipasi berita buruk yang mungkin akan kudengar. "Kenapa cara bicaramu tidak bersemangat begitu? Apa? Tidak. Aku tahu kau pasti bohong. Tidak mungkin tidak ada apa-apa. Hhh. Ya terserahlah. Aku ingin tahu bagaimana keadaan gadis yang tadi jatuh ke jurang."

Aku meringis mendengar pilihan kata yang digunakan anak ini. Sungguh, ia tidak tahu betapa ucapannya membuat orang lain merasa semakin bersalah karena tidak bisa menjaga partner misinya dengan baik.

"Oh, begitu." Killua mengangguk-angguk sambil terus mendengarkan. "Jadi dia sudah kembali ke kamarnya? Baiklah, baiklah. Temannya di sini mencemaskannya…..Aku juga tidak tahu…. Iya. Iya, aku mengerti. Sampai nanti." Dengan itu ia menghentikan pembicaraannya dan memasukkan ponselnya ke saku.

Aku menunggu dengan perasaan bercampur aduk. Rasa penasaran sudah pasti yang paling mendominasi. "Bagaimana?" desakku tak sabar.

"Dia baik-baik saja. Kakinya terkilir dan mungkin tidak bisa mengikuti pelatihan lapangan selama beberapa hari. Tapi selain terkilir dan lebam serta lecet, dia baik-baik saja."

Aku mengembuskan napas yang kutahan sejak tadi. Seonggok beban berat seperti baru saja terangkat hingga aku baru bisa mengambil napas dengan bebas. "Syukurlah kalau begitu," bisikku, lebih kepada diri sendiri.

"Kurapika bilang sekarang kau tetap harus menjalankan misi. Tentunya kau tidak mau mengecewakan temanmu kan? Buktikanlah bahwa kau bisa menjalankan misi ini."

Aku melongo sebentar menatap anak laki-laki di hadapanku. Lalu secara otomatis bibirku melengkungkan senyum, yang tulus dan bukan hanya ditarik paksa. "Aku tahu."

Killua hanya menatapku bosan, lalu ia menghela napas. "Hahh. Dan aku diwajibkan mengawasimu sampai di air terjun. Membosankan. Sekarang ayo cepat berdiri dan selesaikan misi ini tanpa banyak merepotkanku." Lalu tanpa menungguku ia langsung berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku. Sudahkah kukatakan bahwa Killua memiliki tampak belakang yang juga mempesona?

"Ya!" Senyumku semakin lebar. Cepat-cepat aku bangkit dan setelah membersihkan celana, aku segera berlari mengejarnya. Aku jadi sadar kenapa aku bisa jatuh cinta pada anak laki-laki ini.

Alasannya sederhana saja. Karena dia memberikanku alasan untuk melakukannya.

"Heeeei Killua. Tunggu aku."


Kami berjalan tanpa banyak bicara. Antara aku yang memang sudah kelelahan atau gugup lantaran kini hanya berjarak kurang dari semeter dengan orang yang kusukai. Aku hanya mengikuti di belakang sambil menatap sosok punggungnya. Lagi-lagi aku mendapati diriku tersenyum tanpa alasan yang jelas. Jatuh cinta memang membuat seseorang menjadi gila ya? Aku adalah buktinya.

Tiba-tiba aku terkesiap dan secara reflek memekik lantaran sosok punggung yang kutatap sejak tadi itu menghentikan langkahnya tanpa aba-aba, membuatku membentur punggungnya. Oke, kuakui aku tidak bisa protes padanya karena hal ini. Kalau boleh jujur, meski sentuhan barusan hanya sentuhan singkat, tetapi aku sangat menyukainya. Untuk sesaat aku mencium bau tubuh Killua yang khas. Bau tubuhnya tidak harum, tapi juga bukan bau yang tidak mengenakkan, melainkan langsung membuatku merasa nyaman.

Lalu, aku yang sedari tadi hanya mematung langsung membelalakkan mata ketika ia mendadak berbalik hingga wajah kami berdekatan sekali. Di saat yang sama aku bisa melihat dia juga terkejut, tak menduga wajahku akan berada sedekat ini dengannya. Tubuhku otomatis memundurkan tubuhnya, tapi keseimbanganku oleng sehingga aku merasakan tubuhku mengikuti gaya gravitasi dengan pasrahnya. Untuk sesaat aku sudah bisa membayangkan skenario tubuhku yang terjungkal memalukan ke belakang.

Tapi skenario itu lenyap, ketika sepasang tangan menahan pundakku dan menariknya kembali hingga aku tidak jadi terlihat memalukan. Aku kembali menjadi orang idiot yang tidak bisa mengatakan apa-apa, karena ketika Killua menarikku berdiri, kami kembali berhadap-hadapan seperti tadi.

Detik selanjutnya Killua mundur selangkah dan jari telunjuknya sudah terangkat dan menekan-nekan dahiku dengan kesal, "Bodoh! Kau ini cerobohnya kelewatan. Tadi mau tersandung, sekarang mau terjatuh ke belakang. Bisa kuyakinkan latihan fisikmu seharusnya ditambah beberapa kali lipat dibanding peserta lain." Sekarang ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau aku tidak mengawasimu, pasti sekarang kami sudah memiliki dua korban untuk ditangani di camp."

Aku memasang wajah cemberut karena omelannya, meski sebenernya aku tidak benar-benar kesal padanya. Dia tidak tahu saja bahwa penyebab sesungguhnya aku jadi tidak bisa konsentrasi dengan semua misi ini adalah karena dia. "Iya, iya. Lain kali aku tidak akan ceroboh lagi. Lagipula ini kan salahmu juga yang berhenti mendadak," ucapku sambil mengusap-usap dahi. Meski demikian dalam hati aku sudah bersorak kegirangan karena dia menyentuhku. Dia menyentuh bahu dan keningku!

Ya ampun. Hal baik apa lagi yang bisa terjadi hari ini?

Killua tidak mengindahkan ucapan terakhirku, lalu menunjuk jalan di depannya. Rupanya kami menghadapi percabangan lagi. Dan sepertinya itulah alasan Killua berhenti mendadak tadi. "Lewat mana sekarang?"

"Kau pasti kan sudah tahu jawabannya," cibirku sambil berjalan mendekati percabangan, mengambil bendera berangka tujuh di sana.

"Aku tidak tahu," sahutnya, membuat alisku terangkat heran.

"Kau kan panitianya. Masa tidak tahu rute jalan?"

"Yah, mungkin panitia lain tahu." Ia mengedikkan bahu. "Tadi aku tidak memperhatikan briefing."

Mataku memicing menatapnya. Orang ini betul-betul serampangan. Kalau aku dan dia tersesat berdua di hutan ini bagaimana coba?

Hmm, tapi kalau tersesatnya bersama Killua sih, kurasa aku sama sekali takkan keberatan.

"Heh?! Ada apa dengan mukamu?" Reaksi Killua yang terlihat kaget menyadarkan aku dari lamunan yang indah. "Beberapa saat yang lalu masih cemberut, sekarang tersenyum-senyum sendiri." Dan aku bisa membaca gerak bibirnya selanjutnya ketika mengucapkan kata 'mengerikan' dan 'gadis aneh'.

Cepat-cepat aku menggelengkan kepala, lalu menampar pipiku beberapa kali. Ingat Retz. Fokus!

"Tidak bisakah kau membantuku mencari jalan di sini? Anggap saja kau partnerku, menggantikan Neon. Toh kau juga tidak mendengarkan briefing panitia dan tidak tahu ke arah mana jalan yang seharusnya. Ya? Ya? Ayolaaah." Aku setengah merengek di hadapannya. Tapi ekspresi di wajahnya tetap memandangku bosan, kali ini ditambah ekspresi kekesalan sedikit.

"Tiiiiidak!" sahutnya dengan nada ditarik menyebalkan.

"Ehhh? Kenapa?" tanyaku muram.

"Karena itu melanggar aturan. Misi ini tetap harus kau jalani sendiri. Tugasku hanya memastikan bahwa kau tidak melakukan tindakan bodoh dan ceroboh yang berpotensi meregang nyawa seperti tadi."

Aku menghela napas, pura-pura tidak terima. Lalu aku kembali menekuri peta untuk melihat ke mana seharusnya kami berjalan. Keningku berkerut memperhatikan bermacam-macam variasi kontur yang tercetak di atasnya. Ini jadi lebih sulit tanpa bantuan dari orang lain. Ditambah lagi, sekarang aku punya tiga percabangan untuk dipilih. Yang mana? Yang mendatar, yang mendaki biasa, atau yang mendaki lebih tajam? Kerutan di dahiku makin dalam dan aku mulai merasa kepalaku panas.

Dari sudut mataku aku hanya melihat Killua merebahkan diri di dekat pohon dengan menggunakan kedua tangan sebagai bantalan kepala. Ia menguap lebar-lebar, lalu berkata, "Kalau sudah menemukan jalannya, bangunkan aku ya."

Mataku menyipit sedikit melihat kelakuannya. Ternyata dia bisa menyebalkan juga ya kadang-kadang. Ah, sudahlah. Semakin lama dilihat, peta ini jadi semakin membingungkan. Aku akan memilih yang mana saja.

Oh ya, gunakan logika Neon tadi. Kalau mau ke air terjun, pasti ke tempat yang tinggi. Maka jalanannya, adalah yang….mendaki tajam ini. Ya, pasti yang ini. Oke.

"Killua!" seruku. "Heeeeeii, banguuun. Aku sudah tahu ke mana jalannya."

Masih dalam posisinya semula, Killua membuka sebelah matanya dan menatapku. "Oh ya? Coba katakan padaku ke mana."

"Ke situ!" Aku menunjuk ke jalanan mendaki yang curam.

Killua menutup matanya dan menghela napas. Lalu ia melompat berdiri dan berjalan ke arahku.

Astaga, dia berjalan ke arahku! Aku sekarang harus bagaimana? Tersenyum malu-malu? Merentangkan kedua tangan untuk memeluknya? Aku harus…..

Aku menyipitkan mata. Ternyata dia melewatiku begitu saja. -_-

Killua tampak memperhatikan sekelilingnya, melihat ke jurang bawah, dan memperhatikan ketiga jalan tersebut. Lalu dia naik sedikit ke atas pohon untuk melihat jalan di bagian atas. Setelah dia melompat kembali ke tanah, barulah aku yakin kalau dia sudah menemukan jalan yang tepat, karena setelahnya dia langsung mengataiku kembali.

"Lewat sini, Bodoh." Aku melihatnya menunjuk jalanan yang mendaki biasa.

"Ehhhh? Ke situ?" Aku kembali membentangkan peta. "Tapi, tapi… tapi kan… Ini…"

Dan aku hanya bisa terpaku tatkala aku menyadari tubuh Killua sekali lagi berada dekat dengan radius penciumanku sehingga bau tubuhnya yang khas kembali terhirup. Ia juga menekuri peta yang sedang kulihat, membuat konsentrasiku kini sudah tidak pada peta sialan dan menyesatkan ini lagi.

Sungguh, kehadirannya berdampak besar bagi kondisi mentalku.

"Lihat ini." Jari telunjuknya menyusuri peta yang sedang kupegang dengan sedikit gemetaran. Semoga dia tidak menyadarinya. "Perhatikan saja garis hitam ini. Dan dia mengarah ke mana. Di sini juga tertera ketinggian tiap percabangan jalan kan? Harusnya kau bisa tahu yang mana jalanannya. Lihat, yang ini angkanya lebih besar, jadi ini jalanan yang lebih tinggi dan curam. Lalu…."

Sudah jelas kan ucapannya hanya masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan? Kurasa aku akan pingsan sebentar lagi.

"Sudah mengerti belum?"

Aku hanya mengangguk kaku meski tak ada satu pun yang kupahami di sini. Selain perasaanku sendiri, bahwa aku menyukainya. Sangat.

Lagi-lagi ia memandangku dengan tatapan bosan. "Hhh, kenapa aku bisa sampai terjebak denganmu begini sih. Sudah ceroboh, tidak bisa membaca peta, lagi." Seperti biasa, ia melangkah lebih dulu tanpa menungguku. Aku pun hanya mengikuti di belakang dan seperti tadi, hanya menatap sosok belakang laki-laki yang masih sedang menyerocos menyebutkan semua kekuranganku.

Anehnya, aku tidak merasa kesal sedikit pun. Karena, hei, itu artinya dia memperhatikanku, bukan?

"Killua." Mendadak aku memberanikan diri bersuara.

"Hmm?" Killua berhenti bicara dan hanya menoleh ke belakang sekilas.

"Kau punya orang yang kau sukai?"

"Haah? Pertanyaan macam apa itu? Aku tidak ada waktu untuk hal-hal seperti itu."

Aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya.

"Kalau cinta pertama, kau punya?" Aku bertanya sekali lagi tanpa bisa menahannya.

Kali ini dia terdiam sebentar sebelum menjawab. "Sejak kecil aku dilatih untuk menjadi pembunuh bayaran. Lalu semenjak aku memutuskan untuk berhenti jadi pembunuh, aku terus ikut dengan Gon. Intinya, sulit menemukan teman yang bisa cocok denganku. Aku juga jarang bergaul dengan anak perempuan. Jadi, yah, kurasa tidak ada."

Jawaban itu mengecewakanku sedikit. Meski aku tahu pasti kecil kemungkinannya bahwa dia masih mengingatku. Itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Ketika kami masih kecil. Mana mungkin dia ingat, ya kan? Bodohnya Retz.

Benar apa yang dibilang kakak. Menunggu cinta pertama itu perbuatan bodoh. Apalagi jatuh cinta dengan anak pembunuh bayaran. Dan kupikir kisah cintaku bisa berakhir seperti kisah dongeng? Hah! Sungguh naif.

Tapi tepat ketika aku ingin menyerah saja pada mimpi masa kecilku yang konyol, dia justru berkata, "Eh, tapi sebenarnya bukannya aku tidak pernah bertemu siapa pun sih. Aku pernah berteman sebentar dengan gerombolan anak-anak yang senang bermain bola di jalanan. Lalu aku juga pernah bertemu seorang anak perempuan yang nyaris dibunuh kakekku karena dia tidak melihat anak perempuan itu. Yah, tapi itu hanya pertemuan singkat, karena aku menyelamatkannya, sepertinya. Tapi sebelum aku bertemu dengan Gon, aku tidak pernah benar-benar punya teman. Apalagi cinta pertama."

Mataku melebar mendengarkan ucapannya. Apa katanya tadi? Anak perempuan yang nyaris dibunuh kakeknya? Bukankah itu aku?

"Kau pernah menyelamatkan anak perempuan? Kau masih ingat kejadian yang sudah berlangsung selama itu?" tanyaku dengan nada penuh harap.

Killua nampak berpikir. "Hm, sebetulnya aku juga diceritakan oleh kakek. Aku sendiri tidak ingat apa aja yang ada di memoriku sejak bertemu dengan anak itu."

Oh begitu. Begitu rupanya. Yah, kurasa aku masih bisa berharap, meski sedikit.

"Tapi kenapa kau menanyakannya?"

Giliranku yang gelagapan. "Apa? Tidak. Tidak apa-apa. Penasaran saja."

Mata Killua yang sudah sipit semakin mengecil karena melihatku sambil memicingkan mata. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya.

"Hei Killua."

"Hmm?"

"Kau tahu, ada banyak para peserta perempuan yang tergila-gila melihatmu."

Ia hanya mengangkat alisnya, tanpa berniat merespon. "Oh ya?" Ia nampak tidak tertarik.

"Ya," anggukku. "Kau tidak menyadarinya?"

"Tidak."

"Tidak?"

"Tidak."

"Tidak ingin tahu juga siapa saja gadis yang tergila-gila padamu?"

"Aku tidak berminat sama sekali," jawabnya datar.

"Tidak adakah gadis yang menarik perhatianmu di camp?"

Ia menghentikan langkahnya tiba-tiba. "Bisakah kau berhenti membicarakan hal-hal semacam ini? Bagiku perempuan itu mahkluk menyebalkan."

Oke, kuakui kini aku sedikit tersinggung. Dan ini pertama kalinya aku tersinggung karena ucapannya. "Oh ya? Kau pikir laki-laki tidak menyebalkan?" Nada suaraku meninggi tanpa bisa kukendalikan. "Kuberitahu ya, laki-laki itu menyeeebaaalkaan. Aku benci."

"Jadi kau membenci ayahmu?"

"Dan kau menganggap ibumu menyebalkan?"

"Ibuku memang menyebalkan dan suka ikut campur urusanku. Kau mau apa?"

"Dengar ya. Kalau kau memang menganggapku menyebalkan. Tinggalkan saja aku!"

Kami berdua bertatap-tatapan sengit selama beberapa saat. Lalu aku yang pertama kali membuang muka dan langsung berjalan cepat ke depan tanpa memperhatikan situasi sekeliling. Lalu, "Hei, awas!"

Aku terkejut, karena pada saat itu aku sudah menginjak jurang. Untuk sesaat aku sudah memejamkan mata, mengantisipasi skenario terburuk. Jatuh terguling sama seperti Neon, lalu kembali ke camp dengan penuh luka dan lebam. Namun mendadak aku merasakan tanganku ditarik ke belakang dengan kuat, membuatku terselamatkan dari jurang, tapi juga terlempar ke jalan setapak di belakangku. Sampai membuatku tersungkur menimpa sesuatu di hadapanku.

Bisa kulihat wajah Killua sama terkejutnya denganku ketika aku membuka mata. Cepat-cepat aku menyingkir dari tubuhnya. Begitu berdiri, dia sudah tidak mau menatap mukaku lagi.

Celaka. Dia pasti sudah sangat marah padaku.

"Killu-"

"Berisik. Karena ulahmu, nih. Aku jadi kotor dan susah begini."

Alisku terangkat saat dia menoleh kepadaku. Wajahnya…memerah?

Aku tertawa kecil melihatnya. Dia pasti tidak pernah berada dekat dengan perempuan, makanya jadi begitu.

"Jangan menertawaiku. Kau seharusnya berterima kasih." Ia memalingkan mukanya lagi. Lucu sekali.

"Terima kasih, Killua-kun," ucapku seraya tersenyum. Itu pertama kalinya aku memanggilnya begitu. "Dan aku minta maaf karena obrolan yang menyebalkan dan membosankan tadi."

Dan dia melihatku, lalu memalingkan wajahnya sambil mengatakan, "Yah. Aku juga minta maaf soal yang tadi."


Hari sudah senja ketika kami semua sampai di air terjun raksasa. Sepertinya kami bukan yang pertama sampai, tapi kami juga bukan yang terakhir. Huwaaaa! Aku tidak percaya aku benar-benar sampai di sini. Padahal beberapa saat yang lalu aku nyaris tersesat dan terjatuh ke jurang mengerikan.

Aku menoleh untuk mengatakan terima kasih pada Killua, tapi yang bersangkutan sudah menghilang entah ke mana. Sepertinya dia langsung memisahkan diri denganku begitu aku hampir tiba di sini.

Ah. Mendadak rasa kesepian menyergapku perlahan tapi pasti. Semua peserta lain di sini terlihat bahagia dan merayakan keberhasilan misi mereka dengan partner masing-masing. Aku memandangi air terjun yang mendengungkan suara bisingnya yang khas. Kurasakan percikan-percikan air yang begitu kecil menerpa wajah, tangan, bahkan hingga kakiku. Aku tersenyum muram. Sayang sekali Neon juga tidak ada di sini. Padahal dia begitu ingin menyaksikan air terjun raksasa ini.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku sambil menyerahkan sebuah kamera digital. "Pakailah. Dan tunjukkan pada temanmu di camp nanti."

Meski sedikit terkejut karena tidak tahu orang ini muncul dari mana, aku tersenyum dan meraihnya. "Terima kasih, Killua-kun."

Wajah anak laki-laki itu kembali memerah. Sepertinya ini terjadi setiap kali aku memanggilnya Killua-kun.

Well, baiklah. Kuputuskan bahwa aku akan terus memanggilnya begitu.