BAB X

Kurapika Kuruta

Aku cuma bisa memperhatikan wajah Neon yang masih tak sadarkan diri sejak tadi. Aku betul-betul tidak mengerti apa yang ada di pikiran gadis ini. Kalau sudah tidak kuat, kenapa memaksakan diri? Kenapa tidak istirahat dulu? Menurut Killua, mereka—Neon dan Retz—bahkan tidak makan siang sama sekali.

Untunglah hari ini aku membentuk tim backup yang mengawasi semua peserta. Seluruh pelatih membagi diri untuk mengawasi setiap kelompok. Dan kelompoknya Neon diawasi oleh Killua. Tapi aku berpesan pada Killua untuk melaporkan padaku jika ada yang tidak beres dengan kelompok ini. Tahu kan, soal fobia ketinggiannya Neon dan insiden kopi tadi pagi? Belum lagi gadis ini gadis paling keras kepala yang pernah kutemui seumur hidupku. Mana bisa aku membiarkan dia lepas dari pengawasanku?

Dan benar saja dugaanku. Aku betul-betul panik saat Killua mendadak menelepon dan mengatakan bahwa Neon jatuh terguling ke jurang. Aku langsung berlari ke tempat yang diberitahukan Killua. Dan di sanalah aku melihatnya. Tergores duri dan ranting di sekujur tubuh, wajah pucat tak sadarkan diri, dan lebam di tangan dan kaki.

Jika sampai terjadi apa-apa pada Neon, aku benar-benar bisa gila.

Dan semakin aku melihatnya, semakin aku menyadari bahwa gadis ini memiliki arti yang sangat besar bagi diriku. Aku mencintainya. Aku masih mencintainya. Tapi setiap kali aku mengatakan itu, aku juga teringat ucapan Tuan Nostrade. Aku memejamkan mata setiap kali mengingat kalimat mantranya itu.

Tidak. Tunggu dulu. Kurasa…aku masih bisa mengusahakannya. Kurasa masih ada kesempatan. Iya kan? Belum ada yang pasti di sini. Aku tidak pernah menemukan bukti dari perkataan Tuan Nostrade padaku. Bagaimana pun, aku harus mencoba mencari kebenarannya.

Dering telepon genggamku membuyarkan lamunanku yang sedang khusuk. Nomor Tuan Nostrade tertera di layarnya. Aku mendesah berat. Dia pasti sudah mendengar kabar terbaru tentang putrinya yang terperosok ke dalam jurang. Padahal dia sudah memperingatkanku untuk menjaganya. Belum bicara dengan Tuan Nostrade secara langsung saja kakiku sudah terasa lemas, membayangkan bagaimana akhir dari pembicaraan ini.

"Halo?" Aku menjawab telepon sambil berjalan menuju pintu keluar, karena tidak ingin mengganggu Neon dalam istirahatnya.

"Kurapika? Bagaimana Neon? Kenapa ini sampai bisa terjadi?" Terdengar nada khawatir yang kentara pada suara bariton pria yang sedang meneleponku.

"Ah, benar, Tuan Nostrade. Neon tak sengaja tergelincir ketika mendaki gunung, sehingga ia tak sadarkan diri sekarang." Aku memejamkan mataku, menanti sahutan dari seberang sana dalam bentuk bentakan, makian, dan lain sebagainya.

Tapi nyatanya aku hanya mendengar desah napas selama beberapa saat. Lalu, "Sudah diperiksa dokter?"

"Ya. Menurut dokter tidak ada luka yang serius. Dia hanya dehidrasi dan mengalami gejala hipoglikemik akibat kurang makan. Mungkin karena itu dia jadi lemas dan tergelincir."

Kesunyian mendominasi selama beberapa saat. Tidak ada di antara kami yang bersuara saat ini. Terus terang hal ini terasa janggal bagiku. Dia tidak marah-marah, tidak mencari-cari kesalahan siapa pun seperti biasanya. Kenapa?

"Aku memercayakannya padamu, Kurapika. Seharusnya kau bisa menjaga adikmu dengan lebih baik."

Aku otomatis mengertakkan gigi, seiring dengan rasa sesak yang menghujam di dada setiap kali kata itu disebutkan. Adik. Neon Nostrade adalah adik tiriku. Itu yang dikatakan Tuan Nostrade delapan tahun yang lalu padaku. Bahwa aku tidak boleh memiliki perasaan khusus pada Neon, karena kami memiliki ayah yang sama. Kami…kakak beradik.

Tapi, benarkah? Rasanya waktu delapan tahun tak cukup untuk meyakinkanku akan status persaudaraan itu.

"Tuan Nostrade," ucapku sehati-hati mungkin. Apakah aku akan berani mengatakannya? Ya. Aku harus memastikannya. "Apakah benar, bahwa Neon dan aku…bersaudara?"

Lagi-lagi tidak langsung terdengar jawaban di seberang sana. Lalu terdengar desahan napas. "Kita sudah membahas ini beberapa kali, Kurapika. Memang aku…pernah menjalin hubungan dengan ibumu."

"Tapi bagaimana Anda bisa yakin bahwa saya adalah anak Anda, dan bukannya ayah saya?" Kenyataan ini terlalu tidak masuk akal untuk kuterima. Bagaimana bisa ibuku dan Tuan Nostrade ternyata pernah memiliki hubungan dan ternyata menghasilkan seorang anak, yaitu aku?

"Kau lahir tidak lama setelah pernikahan ibu dan ayahmu. Tidak sampai sembilan bulan."

Aku tetap tidak bisa percaya. Dan aku sudah tidak bisa mengecek kebenarannya pada orangtuaku yang sudah tiada. Satu-satunya jalan adalah…. "Bagaimana kalau kita melakukan tes DNA saja untuk memastikannya?"

Alih-alih menjawabku ia malah bertanya, "Apakah kau masih menyukai Neon?"

"Hm," anggukku, meski tahu ia takkan bisa melihatnya. "Aku merasa bahwa dia orang yang sangat penting untukku. Tidak bisakah Anda mengabulkan permintaanku ini? Aku hanya ingin melihat apakah masih ada kesempatan dengan…"

"Lupakan Neon!" Ucapanku terhenti akibat bentakan itu. "Kalian kakak beradik, dan tidak bisa bersama. Titik."

"Kalau Anda begitu yakin bahwa Neon dan aku memang bersaudara, kenapa Anda menolak melakukan tes DNA?" sahutku frustrasi.

"Aku tidak ada waktu untuk itu." Jelas jawaban yang sangat mengada-ada, karena ia memiliki seluruh waktunya untuk bersama wanita, bagaimana bisa tidak ada waktu untuk ini?

Dan aku bukan orang yang mudah menyerah begitu saja. "Kalau begitu, bagaimana dengan golongan darah?"

"Apa?"

"Apa golongan darah Anda?"

"Aku benar-benar tidak ada waktu untuk ini, Kurapika," ucapnya dengan nada tajam. "Aku tidak mau kau membahas hal ini lagi. Cukup lakukan tugasmu dan jaga adikmu dengan baik."

Aku tidak langsung menyahut. Rasa sesak di dadaku membuat tenggorokanku tersumbat dan aku jadi sulit berkata-kata. Selama beberapa saat aku hanya membiarkan keheningan menyelimuti percakapan kami. Jeda singkat ini kumanfaatkan untuk menenangkan diri sekaligus mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kalimatku selanjutnya.

Karena tidak peduli disetujui atau tidak, aku sudah membuat keputusanku sendiri.

"Kurapika? Kau dengar aku? Kurapika?"

"Tuan Nostrade," ucapku sambil berusaha mengendalikan nada suara. "Aku memang lancang, tapi….aku mencintai putri Anda. Aku minta maaf, tapi rasanya sungguh aneh jika Anda mengatakan bahwa diri Anda sibuk padahal yang saya tahu, Anda memiliki sangat banyak waktu luang karena selama ini yang menghasilkan uang adalah putri Anda. Aku yakin Anda…menyembunyikan sesuatu. Dan selama tidak ada bukti meyakinkan bahwa aku adalah anak Anda, maka aku akan tetap mempertahankan perasaan ini pada Neon. Tapi Anda tidak perlu khawatir akan satu hal. Aku tetap akan melakukan tugasku dengan menjaga Neon sebaik mungkin."

Aku mengatakannya dalam satu tarikan napas. Dan ketika selesai, aku langsung mematikan telepon tanpa menunggu jawaban Tuan Nostrade. Ini keputusanku sendiri. Untuk sementara aku akan mencari informasi golongan darah dari Neon saja. Kuharap bisa memberikan bukti bahwa aku dan Neon tidak bersaudara. Semoga.

Aku melangkah masuk ke kamar tidur. Neon masih tertidur dengan wajah tenang seperti malaikat. Sungguh berbeda dengan saat ia sedang bersikap galak padaku. Aku duduk dan menghela napas. Seperti sedikit beban sudah terangkat. Hanya sedikit, tapi itu membuatku lega sekali. Aku menatap wajah Neon, seperti yang sering kulakukan dulu kalau Neon tertidur di tengah-tengah penjelasanku mengenai buku yang kubaca.

Aku tersenyum mengingatnya. Neon tidak pernah suka membaca bacaan yang berat seperti itu. Dia benci sejarah dan sains.

Cukup lama aku mengamati wajahnya sampai akhirnya bibirnya bergerak dan aku mendengar suara lenguhan. Wajahnya terlihat kesakitan dan ia masih memejamkan matanya. Dan belum pernah aku merasa selega itu ketika melihat matanya yang akhirnya membuka. Masih dengan kening mengernyit ia menyesuaikan matanya dengan kondisi cahaya di lingkungannya. Syukurlah dia sudah sadar.

"Neon?" panggilku hati-hati. "Neon, kau sudah sadar? Apa yang kau rasakan sekarang?"

Mendadak ia menutup matanya lagi. "Neon," panggilku sekali lagi, dengan nada yang sedikit panik. Apa dia tidak sadarkan diri lagi?

Matanya kemudian membuka lagi, lalu melirik padaku. "Kupikir barusan aku hanya mimpi buruk dipanggil-panggil olehmu. Ternyata kenyataan."

"Kau…" desisku pura-pura kesal. "Sekalinya bicara padaku kenapa selalu kasar sih?"

"Haahh, kenapa ya? Aku juga bingung. Berada di dekatmu selalu merasa mau marah-marah." sahutnya lemah. Setelah itu ia kembali memegangi kepalanya dan wajahnya meringis kesakitan.

"Kenapa? Kepalamu sakit?" Aku sudah tidak mengindahkan komentar sinisnya lagi. Biarlah, rasa sakit akibat kesinisannya sungguh tak sebanding dengan yang sudah kutimbulkan pada dirinya delapan tahun lalu.

Ia berusaha bangkit dari tempat tidur, lalu ia kembali menunduk sambil memegang kepalanya, lalu mendesis kesakitan.

"Kepalamu sakit?" tanyaku lagi. Kali ini jawabannya tidak sinis. Ia hanya menyahut lemah, "Ya."

Aku membantunya bersandar pada bantal, lalu mengambil teh herbal hangat yang sudah diberi tambahan gula di atas meja. "Minumlah," perintahku pelan.

Mungkin sakitnya benar-benar parah, sampai-sampai ia sudah tidak lagi memberontak seperti biasanya, melainkan hanya patuh akan hal yang kusuruh.

Ia mengambil cangkir teh di tanganku dengan gemetaran, lalu meminumnya hingga tandas. Kuambil cangkir dari tangannya dan kembali membawakannya semangkuk bubur panas yang telah kusiapkan.

"Masih sakit?" tanyaku. Ia sudah tak lagi memegang kepala, tetapi ia terduduk sambil memejamkan mata dan mengernyitkan kening. Ia mengangguk sebagai respon. Aku menunggu selama dua menit hingga ekspresi kesakitan tidak lagi nampak pada wajahnya dan akhirnya ia membuka mata.

Wajahnya masih pucat. Kantung matanya tetap parah dan ia terlihat sangat lelah. Ekspresi wajahnya nampak berpikir. "Omong-omong, di mana aku sekarang?"

"Ini di ruang perawatan klinik di asrama. Kau ingat apa yang terjadi tadi?"

Raut mukanya memperlihatkan ketidakberdayaan, tapi matanya selalu nampak berpikir, seperti saat ini. Ia sedang mencoba mengingat hal yang terjadi padanya tadi. Lalu tiba-tiba ia berseru, "Astaga. Retz!" Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Apa?" tanyaku tak paham.

"Aku meninggalkan Retz di gunung," jelasnya dengan nada yang terdengar panik. "Dan kami baru mendapat dua bendera. Aku malah meninggalkannya di sana. Bagaimana ini?"

Oh. Dia khawatir dengan sahabatnya. "Dia sekarang ditemani Killua. Kau tenang saja. Dia tetap akan menyelesaikan misi tanpamu. Jadi sekarang urus dulu dirimu sendiri. Aku tahu sejak pagi makanmu tidak banyak, lalu siang tadi sama sekali tidak makan. Sekarang sebaiknya kau makan dulu ini." Aku menyendokkan bubur dan mengarahkannya ke mulut Neon, tapi gadis itu menatapku dengan tatapan yang tak dapat kutebak.

"Aku bisa melakukannya sendiri," cetusnya dingin seraya mengambil alih mangkuk bubur dari tanganku. Lagi-lagi aku mengalami penolakan. Tapi aku tidak mendebat dan membiarkannya memakan buburnya sendiri.

Dan selama lima menit penuh kecanggungan, Neon dan aku sama sekali tidak berkata apa-apa. Dia sibuk dengan buburnya sedangkan aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

Kemudian tanpa terduga, Neon berkata, "Tadi aku tidak sarapan banyak karena takut akan mengantuk sepanjang hari ini."

"Kukira kau tergelincir karena fobia ketinggianmu merusak konsentrasi."

Neon tersenyum hambar, atau mungkin nyaris ke arah sinis? "Aku sudah lama bisa mengatasi fobia ketinggianku."

Alisku terangkat, tidak menyangka akan jawaban yang kudapatkan. Aku merasakan ususku melilit mendengar perkataan yang dibalikkannya padaku itu. Belum lagi gadis ini menekankan kata 'sudah lama', seolah-olah menyindirku yang sudah tidak mengetahui banyak hal lagi tentangnya seperti dulu.

Aku berdeham, berusaha menyamarkan kegugupanku dengan susah payah. "Jadi, apa yang membuatmu mengantuk seharian ini? Kau tidak tidur semalam?"

Aku yakin dia merasa risi akan pertanyaanku barusan. Hal itu tergambar dari bahasa tubuhnya. Dan jawabannya. "Aku tidur."

Mataku menyipit sedikit. "Berapa jam?"

Ia hanya mengolah bubur dalam mulut sambil memandangi selimut. Tapi aku tahu ia sedang menghindari pertanyaanku. "Neon? Kau dengar aku?"

Dia menoleh padaku. "Apa? Oh, jam tidurku cukup." Sekarang ia menunduk. Dan aku tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa itu adalah salah satu gelagat Neon ketika sedang tidak ingin menjawab dengan jujur. Tapi baiklah. Baiklah kalau dia tidak merasa nyaman untuk membicarakan jam tidurnya denganku.

"Ada yang ingin kau ceritakan padaku?" tanyaku hati-hati.

Tapi sepertinya aku salah bertanya, karena alisnya terangkat menatapku dengan tatapan memang-kau-pikir-siapa-dirimu-berani-bertanya-begitu-padaku dan jawaban gadis ini juga langsung berubah ketus terhadapku. "Kenapa aku harus bercerita padamu?"

"Yah. Karena aku ketua pelatihan ini dan kau adalah tanggungjawabku," sahutku dengan yakin, membuatnya langsung bungkam tapi tetap terlihat kesal. Alasan 'karena aku adalah ketua pelatihan' itu telah kuhafal mati dan selalu menjadi kalimat andalan di saat aku kebingungan harus menjawab apa pada gadis ini. Dan sebelum ini, alasanku yang sebenarnya menggunakan jawaban itu adalah karena aku ingin mengetahui kondisinya tanpa menunjukkan padanya bahwa aku menyukainya. Tapi sekarang, setelah aku merasa sedikit yakin bahwa aku dan Neon memang tidak bersaudara, aku tidak bisa menahan keinginanku untuk dia tahu bahwa aku sejak dulu memang selalu dan akan terus mencintainya. Jadi setelah kalimatku sebelumnya, aku menambahkan, "Dan karena aku tidak bisa melihatmu terluka seperti kejadian yang sudah terjadi hari ini. Jadi tolong, berhentilah membuatku khawatir."

Aku melihat perubahan emosi terjadi pada gadis ini. Tubuhnya menegang dan wajahnya…terkejut? Gadis ini cukup pandai menyembunyikan emosi, jadi aku tidak bisa mengambil kesimpulan lebih jauh dari reaksi yang ditampilkannya. Tapi aku juga tidak mau mundur setelah mengambil langkah sejauh ini. Aku ingin dia tahu betapa kehadirannya begitu penting untukku.

"Kau masih membenciku?" Aku memberanikan diri bertanya. Bertanya atau selamanya tidak akan pernah diluruskan.

Neon tidak langsung menjawab, ia memainkan keliman selimut dengan jemari tangannya. Lalu ia mendesah, "Sudah tidak penting lagi." Ia menatapku dengan raut wajah datar, seolah tidak peduli lagi akan hal-hal yang kuucapkan, seolah memang dia tidak pernah menyukaiku.

"Delapan tahun sudah berlalu, kau tahu. Itu waktu yang sangat lama." Oh ya, benar. Aku lupa akan fakta bahwa aku sudah menyakitinya jauh di masa lalu dan selama itu tentunya dia sudah tidak menganggapku lagi di dunia ini. "Lagipula sekarang aku juga baik-baik saja, jadi…" Ia mengangkat bahu tanpa menyelesaikan kalimatnya. Tapi aku tahu makna di balik gerakan itu kurang lebih adalah 'aku sudah tidak ada urusannya lagi dengan itu'.

Delapan tahun lalu, aku pun merasakan sakit karena menyakitinya, tapi sekarang aku juga merasakan sakit karena ternyata dia sudah tidak menganggapku lagi. Aku tidak tahu mana yang lebih buruk, tidak bisa bersama atau tidak dicintai lagi oleh kucintai.

Untuk sesaat aku kehabisan kata-kata. Yah, apa lagi yang bisa kau katakan pada gadis yang sudah dengan terang-terangan menolakmu? Meski aku juga tidak menyatakan perasaanku secara langsung sih. Tapi meski aku tahu harapannya sangat sedikit, aku tetap ingin tahu. Bisakah masa-masa delapan tahun lalu itu kembali lagi sekarang? Bisakah perasaan yang sama kembali lagi pada Neon dan aku?

Tapi setidaknya aku harus mengusahakannya terlebih dulu supaya bisa, bukan? Aku tidak mau situasi yang mengendalikan hidupku dan hubunganku dengan Neon. Akulah orang yang akan mengendalikan situasiku sendiri.

"Kalau begitu," ucapku dengan sedikit harapan. Aku masih memiliki sedikit harapan, dan satu-satunya hal yang tersisa pada diriku setelah aku ditolak secara terus terang. "Bisakah kita berteman?"

Neon hanya menatapku, seolah menilai setiap inci dari wajahku, menekuri setiap ekspresi mikro yang kutampilkan. Dan dia melengos saat menjawab, "Kurasa sebaiknya tidak."

Aku menelan ludah. Satu lagi harapanku yang gagal. "Kenapa tidak?" Suaraku mendadak berubah serak.

Gadis di hadapanku terlihat ragu sesaat. "Kau lihat, jauh di masa lalu kita pernah menjadi teman dekat. Tapi seperti yang kita berdua ketahui, pada akhirnya hal itu tidak berakhir dengan baik. Meski aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi, aku tetap tidak bisa kembali berteman denganmu." Jawabannya membuatku terpana sesaat, sebelum akhirnya ia melanjutkan, "Lagipula, mengutip kata-katamu tadi, kau adalah ketua pelatihan ini dan aku adalah peserta. Kurasa akan lebih baik kalau kita tetap menjaga hubungan secara professional saja. Tidakkah akan ada ucapan tidak enak jika orang lain malah melihat kita berdua yang akrab?"

Aku masih terpana mendengar jawabannya. Kejadian di masa lalu seperti terputar kembalii di pikiranku. Saat-saat aku masih bersama-sama dengan Neon. Saat di mana aku mulai menyukai Neon tanpa kusadari. Lalu saat Tuan Nostrade mengatakan padaku bahwa kami kakak beradik. Dan momen ketika aku menyakitinya dengan menolak perasaannya. Dalam kepenatan itu aku masih berusaha memikirkan cara untuk bisa bersama Neon kembali.

Melihatku tidak bergeming sama sekali, ia kemudian mencondongkan tubuh dan meletakkan mangkuk bubur yang sudah kosong di atas meja di dekat tempat tidur. Lalu ia mengangguk padaku. "Baiklah. Terima kasih karena telah menolong dan merawatku. Aku sangat menghargai kebaikan hati semua panitia di tempat ini." Ia terdiam, seperti memberikanku jeda untuk menjawab, tapi tak kulakukan lantaran pikiranku masih melayang-layang pada alasannya menolak berteman denganku barusan. "Yah. Kurasa sekarang sebaiknya aku kembali ke kamar. Aku akan menunggu Retz di sana."

Tanpa menungguku mengatakan apa pun (dan aku memang tidak bisa mengucapkan apa pun setelah semua harapanku dipatahkan oleh gadis ini), ia memakai alas kakinya. Meski kesakitan ketika hendak berdiri, ia mencoba menyamarkan ekspresi wajahnya.

Aku yang tidak dapat berpikir apa pun saat itu hanya bertindak seperti robot dengan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Tapi dengan dorongan lembut tapi tegas, dia mendorong tanganku menjauh, seperti tidak mau disentuh olehku. Kemudian dia keluar dari pintu dan meninggalkan aku sendirian dalam keheningan yang sesak.