Oke, nampaknya pengantar author ini harus dimulai dengan permintaan maaf dulu, karena aku sadar kok aku udah ngilang terlalu lama. Hmm, 3 minggu? Maaf ya semuanyaaa. Tapi sekarang, ada postingan terbaru dariku. Kali ini postingannya khusus momen Killu-Retz yaa. Dan di chapter 12, perdana POV Killua!

Tapi aku merasa percakapan antar keduanya kurang gimana gitu. Aku beberapa kali mengganti dialog dan adegan tapi ga ada yang cocok, hwhw. Coba kalian nilai sendiri aja di sini ya, hehe. Semoga ga mengecewakan2 amat :)

marciana : halow, ehhehe. makasih karena udah menyukai pair ini, sama seperti aku juga ga tega kok bikin Kurapika sengsara lama2, hehe.

YutaUke : Huaaaa menyebalkan yah Neon nya? Iya dia rada suka mengeluh sih. Sepertinya aku terlalu bikin tokohnya mengasihani diri sendiri, hahaha. Tapi bagi Neon, kesedihan karena ditinggal sahabat sekaligus orang yang dia suka bikin dia trauma, sampe2 nggak berani nyimpen perasaan lagi. :)

Amaya Kuruta : Hei, cek di chapter ini ya. :)

Oke teman2, selamat membaca dan terus komen yaaa. Jangan lupa kritik juga kalau memang dirasa perlu. Arigatou, minna. :D


BAB XI

Retz Omokage

Aku kini sedang duduk memandang matahari tenggelam yang indah dari jendela di kapal udara yang membawa semua peserta pelatihan kembali ke camp. Dan aku masih menikmati kesendirianku sambil memutar ulang kejadian yang terjadi sepanjang hari ini. Aku masih merasa berdebar setiap kali ingatanku melayang pada kejadian siang tadi. Menghabiskan waktu sepanjang siang dan sore bersama Killua jelas pengalaman paling berkesan yang akan selalu kuingat seumur hidupku sekaligus pengalaman paling membahagiakan yang harus terus kuingat hingga dewasa nanti. Aku akan menceritakannya kepada anak-cucuku kelak, bagaimana kisah romantis pertemuan pertama ayah dan ibu (atau kakek dan nenek) mereka. Fufufufu.

"Hhhh," Aku mendesah bahagia, membayangkan aku dan Killua menikah, lalu menjadi tua bersama-sama. Kutegakkan tubuhku dengan satu gerakan cepat, lalu kupukul telapak tangan kiri dengan kepalan tangan kananku. "Nah, oleh karena itu aku harus berusaha memenangkan hatinya dengan cepat! Hihihihi."

"Hei."

"Wuaaa…" Sedetik kemudian aku terlonjak hingga menempel ke kaca jendela. Dan manusia yang seenaknya mengagetkanku itu malah memandangku dengan tatapan apa-sih-yang-sedang-dilakukan-gadis-aneh-ini tanpa rasa berdosa. Aku tidak percaya beberapa detik yang lalu aku masih membayangkannya hidup bersama denganku hingga kakek-nenek. Bisa-bisa aku kena serangan jantung di usia dini, lalu pupus sudah impian menua bersama-sama itu.

Tapi bohong deh. Aku tetap ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya kok.

"Retz-chan. Kau baik-baik saja?" Tatapanku menoleh pada anak laki-laki satunya lagi. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku melihat betapa kontrasnya dua anak laki-laki yang melabeli diri mereka 'sahabat baik' ini. Aku segera menegakkan posisi tubuhku di hadapan mereka, lalu berdeham-deham sambil menyembunyikan rasa malu yang tidak terbendung lagi.

"Ah ya. Aku baik-baik saja, Gon. Tidak perlu khawatir," ujarku seraya tersenyum padanya. "Hanya, pastikan saja temanmu ini tidak mencoba mengejutkanku seperti tadi lagi atau aku akan menjadi pengidap penyakit jantung begitu keluar dari tempat pelatihan ini."

"Siapa yang mengagetkanmu?" tukas Killua sambil menyipitkan mata. "Kau sendiri yang bertindak mencurigakan. Tertawa-tawa sendirian. Aku tadi hanya menyapa."

Aku balas menyipitkan mata, ditambah dengan kedua tanganku yang kulipat di depan dada. Ini supaya aku terlihat sangar dan benar-benar marah. "Tapi kita semua tahu bukan begitu cara yang benar untuk menyapa orang lain kan?"

"Berisik. Caraku menyapa orang bukan urusanmu, Booodoooh." Ugh, aku mulai sebal jika dia mengataiku begitu, seolah dia orang paling cerdas di muka bumi ini. Tapi aku tidak bisa membalas kata-kata anak menyebalkan ini. Entah bagaimana sepertinya ia dikaruniai kemampuan yang tidak terkalahkan dalam hal mengatai sekaligus mendebat orang lain.

"Eh?" Gon mulai memandang aku dan Killua secara bergantian dengan raut wajah khawatir. Lalu ia menghadang pandanganku dengan tubuhnya dan berkata, "Sudahlah, Retz-chan. Killua terkadang memang begini. Jadi, maafkanlah dia. Sudah tidak usah bertengkar lagi."

"Gon, katakan padanya untuk berhenti bersikap aneh dan ceroboh, supaya dia tidak perlu merepotkan semua orang di sini lagi." Killua berkata sambil memandang ke arah jendela, seolah-olah aku tidak ada di sana. Oh, dia mau memainkan permainan ini? Baik, akan kuladeni.

Sebelum Gon sempat membuka mulutnya untuk menegur Killua, aku sudah terlebih dulu menyela dengan nada yang sengaja kubuat tetap datar. "Dan Gon, tolong sampaikan pada temanmu yang angkuh itu, bahwa tidak ada seorang pun yang membutuhkan bantuan dari orang yang congkak, dan hanya bisa mencari-cari kesalahan orang."

Usai aku mengatakan itu, Killua membalas tatapanku, tapi tetap menyampaikan pesannya melalui Gon sambil menunjuk-nunjuk padaku. "Gon! Bilang padanya bahwa aku begitu heran karena ini pertama kalinya aku menemui orang yang begitu bodoh dan ceroboh, yang pastinya hanya menyusahkan semua orang."

Selama beberapa saat aku hanya mengatupkan mulut sambil memelototinya, berusaha memikirkan kaa-kata untuk kubalas pada anak sok tahu ini. Kami tidak memedulikan kehadiran Gon yang sudah kebingungan di sini, sampai akhirnya ada seseorang yang menyela keheningan yang mencekam di udara.

"Eh, halo. Kalian sedang apa?" Gadis itu memperhatikan setiap ekspresi wajah kami dengan kening berkerut.

Kurasa Gon adalah orang yang paling bersyukur melihat kehadiran seorang gadis yang baru saja datang ke lorong ini. Sementara Killua memilih untuk tidak peduli, keningku ikut berkerut samar melihat kedatangan gadis ini. Ingat tidak saat kubilang bahwa banyak gadis yang tergila-gila pada si anak angkuh Killua? Yeah, gadis ini juga salah satunya.

Darimana aku tahu? Orang bilang, perasaan seseorang dapat diketahui dengan jelas oleh sahabat terdekat atau rivalnya sendiri. Mengerti kan? Karena aku selalu mendeteksi gelagat setiap orang saat berada di dekat Killua. Aku tidak perlu menghafal nama mereka, cukup mengingat wajahnya saja. Dan gadis ini adalah salah satu di antara mereka yang memiliki tatapan yang sama denganku ketika sedang menatap Killua.

"Ah, Amaya-chan, rupanya," sapa Gon riang seperti bertemu dengan kawan lama, dan disambut dengan senyum yang tidak kalah ramah oleh si gadis. Tapi kami semua tahu begitulah cara Gon menyapa semua orang yang dikenalnya.

Amaya. Oke. Akan kuingat itu. Aku sibuk menelusuri gadis yang baru datang ini dengan cepat dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Rambut hitam kecoklatan bergelombang sampai menyentuh pinggang, mata bulat yang bersinar ramah dan ceria, serta raut wajah yang—meski sangat tidak ingin kuakui—manis. Tingginya sama denganku, ditambah dengan pakaian modis dan trendy dan sangat feminin yang membalut tubuh rampingnya. Singkatnya, gadis ini memang cantik sekali.

Aku langsung menatap diriku sendiri yang memakai baju seperti tukang yang biasa memperbaiki ledeng dan menguncir rambut panjangku yang diselipkan di lubang topi petku. Untuk saat ini penampilannya denganku semacam langit dan bumi. Seketika aku merasakan rasa rendah diri yang amat sangat. Mana gadis ini sepertinya ramah dan baik, tidak galak dan selalu mencari perkara dengan Killua sepertiku.

Eh, ralat. Laki-laki itu yang selalu mencari gara-gara denganku kok, bukan aku yang mengajak bertengkar.

"Omong-omong kau sedang apa?" tanya Gon tanpa menghilangkan senyum ramah di wajah. Buat apa ditanya? Sudah pasti dia mau mencari Killua. Ugh. Aku tidak suka akan rasa sesak yang diam-diam merasuk di dada ini.

"Oh ini," sahut Amaya dengan nada yang, sialnya, terdengar imut dan feminin sekali, bahkan di telingaku sekali pun. "Sebenarnya aku mencari-cari panitia sejak tadi. Aku ingin tanya apa di sini aku bisa mencari makanan?"

"Tentu saja," sahut Gon tidak kalah riang. "Ada kafetaria di sayap utara kapal udara ini. Kau mau diantarkan ke sana?"

Aku memejamkan mataku. Kenapa Gon harus menawarkan diri mengantar segala? Bagaimana kalau Killua ikut mengantar? Dan bagaimana kalau gadis ini justru meminta diantar oleh Killua? Aku meringis meski tidak benar-benar merasakan sakit fisik. Rasa sakit yang kurasakan ini lebih tepat dinamakan cemburu.

"Aku akan senang jika bisa diantar oleh kalian berdua," ujar Amaya sambil menegaskan kata 'berdua'. Dia ingin Killua ikut mengantarkannya ke kafetaria. "Itu jika kalian tidak keberatan."

Tatapan mata Amaya melirik pada Killua dengan penuh arti. Dan aku tahu hanya aku satu-satunya di sini yang paham apa arti dibalik lirikan itu. Yang lebih gawat lagi, kini Killua juga sudah mulai menoleh dan memperhatikan Amaya. Meskipun aku tidak dapat mengartikan tatapan laki-laki ini.

Kumohon. Tolaklah ajakannya. Wahai semesta. Aku memohon padamu.

Lalu seolah semesta memang berpihak padaku, Gon menjawab, "Kurasa aku saja bisa mengantarmu, Amaya-chan. Killua masih punya urusan di sini yang belum terselesaikan."

Tatapan Amaya kini teralih padaku dengan wajah berpikir, mencoba menganalisis situasi di sini. Dan sebelum Killua sempat membuka mulut untuk memprotes, atau aku untuk menimpali, Gon sudah buru-buru menarik lengan Amaya dan berjalan menjauh dari kami. "Ayo."

Lalu kepada aku dan Killua ia hanya berkata, "Sampai nanti, Killuaaa!"

"Oi, Gon! Gon!" Killua mencoba memanggil, tapi Gon malah berjalan semakin cepat ke arah kafetaria. Saat ia melihat Gon yang memang tidak mau disusul, Killua terdiam sejenak. Ia seperti kebingungan ingin melakukan apa. Atmosfer di antara kami sudah tidak lagi penuh dengan aura permusuhan. Seolah perdebatan kami sebelumnya tidak pernah ada. Kini yang ada hanyalah aura kecanggungan yang merebak. Tak lama ia berkata, "Kurasa sudah tidak ada lagi yang ingin kulakukan di sini."

Ia tidak menungguku menjawab ucapannya, seolah dia memang hanya ingin memberitahuku. Itu saja. Tidak peduli apakah aku peduli atau tidak. Lantas ia mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapanku.

Selama beberapa detik aku hanya diam memandangi punggungnya. Sejujurnya aku juga tidak tahu apa yang harus kukatakan saat ini. Tapi ketika melihatnya melangkahkan kaki menjauh dariku, aku tak bisa menjelaskan kenapa aku mendadak merasa kehilangan. Padahal kami pastinya masih akan bertemu karena secara teknis kami tinggal di dalam gedung yang sama sekarang.

Logikaku tidak dapat menjelaskan, tetapi hatiku begitu ingin dia tetap di sini bersama denganku. Jadi kuputuskan untuk mengambil tindakan yang kurasa benar untuk kulakukan saat ini juga. Tidak peduli meski logikaku tidak berhenti menanyakan alasan dari keputusanku itu.

"Killua-kun," seruku pelan. Ia berhenti, lalu berbalik menatapku. Ia tidak mengatakan apa pun, tapi dari raut wajah dan bahasa tubuhnya, aku tahu ia menungguku menyampaikan apa yang ingin kusampaikan.

"Apa kau lapar?" tanyaku setelah jeda beberapa saat. "Aku belum makan sejak siang tadi. Dan…kupikir lebih menyenangkan jika ada teman saat makan."

Aku menantikan reaksinya dengan jantung berdetak cepat. Seusai melontarkan kata-kata itu, aku merasa seperti orang idiot. Kenapa alasan menahan Killua harus karena aku lapar? Bagaimana kalau dia menyuruhku menyusul Gon dan Amaya ke kafetaria? Atau yang lebih parah, bagaimana kalau dia tidak peduli padaku? Responnya benar-benar tak bisa diprediksi lantaran selama beberapa saat dia tetap memajang wajah dinginnya itu. Kegugupanku semakin bertambah seiring dengan detik waktu yang berjalan. Kini aku merasa begitu konyol karena bertanya.

"Yah. Kalau tidak mau menjawab tidak apa-apa. Lupakan saja apa yang kukatakan barusan. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bertanya." Akhirnya aku memutuskan untuk menyelamatkan harga diriku lebih dulu. Kemudian aku mengempaskan diriku di kursi dekat jendela, kembali menatap pemandangan kota dalam kegelapan dari atas. Aku sudah tidak bisa melihat apa pun selain kegelapan dan titik-titik cahaya lampu yang nampak seperti hamparan langit malam penuh bintang. Untuk sesaat, pemandangan menakjubkan ini menyita perhatianku sepenuhnya.

Lalu perhatianku mulai teralihkan dari pemandangan menakjubkan di jendela, ketika aku menyadari Killua justru menjalan mendekat ke arahku. Ia mengambil tempat di sebelahku, lalu merogoh saku dan menarik keluar sebuah kemasan kecil.

"Makanlah dulu saja ini," katanya sambil menyodorkan kemasan yang kini dapat kulihat dengan lebih jelas sebagai kemasan snack coklat. Chocolate balls. "Kuberitahu saja, makanan di kafetaria ini mengerikan. Waktu tiba di camp nanti, makan malam untuk semua peserta sudah akan tersedia. Bersabarlah sedikit."

Aku melongo sesaat mendengarkan apa yang baru saja kukatakan. Oke, meskipun ucapannya terdengar perhatian, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Ekspresinya tetap datar seperti biasa. Buru-buru kuambil kemasan itu lantaran aku sudah merasakan gemuruh di dalam perutku ini.

"Terima kasih." Nadaku mendadak terdengar ragu.

"Sekali menyusahkan tetap saja menyusahkan," bisiknya pada diri sendiri. Tapi aku mendengar dan menatapnya tajam, sadar bahwa membalas kata-katanya takkan membuatku menang. Sebagai ganti rasa kesal, aku membuka bungkus makanan yang ada di tanganku dan memasukkan isinya ke dalam mulut.

Beberapa saat setelah mengunyah, aku tertegun dengan mata sedikit melebar, menyadari betapa lezatnya bola-bola coklat itu. Begitu aku menggigitnya, seperti ada coklat cair yang meleleh dari dalamnya. Dan rasa manisnya terasa tepat sekali di lidah. Membuatku seperti menginginkannya lagi dan lagi. Bisa-bisa aku kecanduan coklat sekarang.

Menyadari perubahan ekspresi wajahku, Killua menoleh lalu merebut bungkusan chocolate balls dari tanganku. "Berikan padaku sedikit."

"Hei!" protesku, tapi tidak melakukan apa pun. Karena meski tindakannya barusan tergolong kasar, serampangan, dan tidak beradab, sebenarnya makanan itu kan miliknya juga.

Killua menuang beberapa butir coklat ke telapak tangannya, lalu memasukkannya sekaligus ke dalam mulut. "Kurasa aku mengerti kenapa kau begitu menyukai makanan ini," ucapku seraya memperhatikannya melahap bola-bola coklat itu.

Dengan mulut yang penuh coklat Killua menjawab, "Ini makanan favoritku di dunia."

Aku tersenyum geli melihat coklat berlumuran di sekitar mulutnya. "Ya sudah, makan saja sampai habis. Aku takkan meminta lagi. Sebentar lagi juga kita akan sampai di camp kan?

Masih sambil mengunyah, Killua menyodorkan bungkusan coklat itu lagi padaku. "Habiskan saja," ucapnya setelah menelan. "Masih ada dua kardus di kamarku."

"Wah, wah. Persediaan sampai akhir pelatihan ini ya?"

"Tidak juga," tukasnya sambil mengelap mulut dengan tangan. "Biasanya dua hari juga sudah habis."

Aku ternganga mendengar jawabannya. "Habis kau makan semua, maksudnya? Atau kaubagi-bagikan?"

"Kumakan semua," sahutnya.

"Kau bisa diabetes di usia muda nanti, Bodoh," ucapku sambil meninju lengannya.

Killua memegangi lengannya sambil melotot padaku. "Berisik. Itu juga bukan urusanmu. Dasar cerewet."

Hah. Cerewet? Berani benar dia mengataiku begitu, padahal aku hanya mau bersikap baik padanya.

"Baik. Terserah kau saja. Mungkin kau lebih senang jika diperhatikan Amaya-Amaya itu."

"Siapa?"

"Amaya."

"Maksudmu anak yang tadi pergi dengan Gon? Apa hubungannya dia dengan semua ini?"

Aku mendengus kesal. Orang ini terlalu polos. "Sudahlah, anggap saja aku tidak mengatakan apa pun."

Kulahap chocolate balls yang tersisa, lalu mendadak aku teringat sesuatu. "Hei. Kalau kau begitu suka chocolate balls, kurasa kau pasti suka choco lava cake. Ya tidak? Itu cake favoritku di dunia."

"Choco… apa?" Killua mengernyit mendengar rentetan kata yang asing di telinga.

"Choco lava cake. Kau tidak tahu? Itu kue coklat yang kalau dipotong, di dalamnya terdapat coklat cair lezat yang meleleh, seperti lava di gunung. Sama seperti snack chocolate balls ini, hanya saja ini dalam bentuk kue," jelasku panjang lebar. Dan sesuai dugaan, Killua melebarkan matanya mendengar penjelasanku tentang coklat, "Benarkah ada makanan semacam itu? Kedengarannya lezat." Ckck. Dasar Maniak.

"Di tempat asalku, makanan itu terkenal sekali. Semua pecinta coklat pasti tahu choco lava cake, " terangku lagi. "Kau benar-benar tidak pernah mencobanya?"

"Ini pertama kalinya aku mendengar nama itu. Tapi dari ceritamu, nampaknya itu makanan yang sangat enak." Killua lalu menghadapkan wajahnya ke jendela, memandangi hamparan titik-titik sinar kecil yang indah di bawah sana.

"Memang," sahutku. Aku terdiam sejenak, lalu sebuah gagasan terlintas di pikiranku. "Aku tahu! Bagaimana kalau kubuatkan satu untukmu di akhir pekan ini?"

Alisnya terangkat lagi, lalu melirikku sedikit, "Kau bisa membuatnya?"

"Ya," anggukku. "Aku pernah mencoba membuatnya beberapa kali."

"Bisa dimakan?"

Aku terkekeh. "Berdoa saja semoga choco lava yang kubuat kali ini bisa dimakan."

Tepat ketika Killua sudah akan membuka mulut untuk menyahutiku, interkom kapal udara berbunyi dan memberitahukan bahwa kapal udara akan segera tiba di camp dan seluruh peserta diminta berkumpul di kabin utama. Aku menghela napas. Waktu selalu terasa cepat berlalu setiap kali aku menghabiskan waktu dengan Killua. Dan saat ini, seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, aku selalu tidak rela untuk kembali berjauhan lagi dengannya.

Tapi pada akhirnya aku menangguk dan berusaha tersenyum. "Oke. Kurasa aku harus pergi sekarang. Nanti aku akan mengabarimu soal kuenya." Aku berdiri dengan enggan. Dan sangat lamban. Karena di dalam hati aku tengah berdoa supaya waktu bisa berhenti saat itu juga.

"Sampai nanti." Aku berbalik dan sudah mengarah ke kabin utama beberapa langkah, sampai akhirnya aku menghentikannya lagi karena sebuah suara memanggilku.

"Retz." Alisku terangkat, karena itu pertama kalinya Killua menyebut namaku. Jantungku berdebar mendengar suaranya yang memanggil namaku. Kurasa aku akan mengingatnya selamanya di memori, saat Killua memanggil namaku pertama kali.

Aku hanya menoleh, tanpa tahu harus mengatakan apa. Tapi memang tidak ada yang harus kukatakan, karena ia langsung mengatakan yang ingin ia katakan. "Terima kasih." Wajahnya terlihat risi saat mengatakan dua kata itu.

Aku memberinya seulas senyum paling manis yang bisa kuberikan. "Sama-sama, Killua-kun." Kemudian ia memalingkan wajahnya dengan cepat. Sayangnya aku masih bisa melihat dia berniat menyembunyikan rona merah di wajahnya lagi.

Kemudian ia berdiri dan melangkah ke arah yang berlawanan dengan arah jalan yang kuambil sambil mengangkat sebelah tangan, caranya untuk mengatakan sampai jumpa. Aku mendapati jantungnya masih berdegup kencang sambil memandang bagian belakang tubuhnya sampai ia berbelok ke tikungan. Setelahnya barulah aku bisa kembali bernapas. Nah kan, kenapa juga aku sampai menahan napasku barusan?

Astaga. Nampaknya aku sudah tidak tertolong lagi.


Aku berjalan sambil setengah melompat menuju kamar asramaku. Setelah bertemu Killua, lalu makan sampai kenyang, aku berada dalam kondisi mood yang seratus persen baik. Sekarang aku berniat melihat keadaan Neon dan menceritakan seluruh kejadian yang luar biasa indah yang kualami sepanjang hari ini.

"Neooon!" Aku membuka pintu dengan satu sentakan cepat. Dan dalam waktu sepersekian detik aku melihat Neon yang sedang melamun mendadak terkesiap di atas tempat tidurnya. Ia lalu mendelik ke arahku.

"Kau mau membuatku kena serangan jantung atau bagaimana, Retz?" ujarnya sambil menekan satu telapak tangan di bagian dada.

Aku terkekeh sambil melenggang masuk. "Ah, aku yakin kau gadis kuat. Tidak akan sakit apa pun."

"Yeah. Kau mengatakan itu pada orang yang baru saja terjatuh ke jurang dan melukai sekujur tubuhnya," cibir gadis itu, yang membuatku langsung ingat untuk menanyakan keadaannya.

"Bagaimana kakimu?"

"Sebenarnya hanya terkilir sedikit. Tapi aku baru diizinkan kembali mengikuti kelas praktik minggu depan."

Aku mengangguk-angguk prihatin mendengar jawabannya.

"Oh ya, bagaimana dengan misinya tadi?"

Aku tersentak sedikit, "Oh ya! Ada yang mau kutunjukkan padamu."

Kukeluarkan kamera digital dari ranselku dan menekan beberapa tombolnya. Aku duduk di samping Neon untuk melihat hasil foto dan beberapa video air terjun raksasa yang sempat kuambil tadi.

Neon memandangi setiap foto dan video itu dengan mata berbinar, seolah sedang meresapi dan ingin ikut merasakan suasana ketika ia benar-benar berada di sana. "Wahhh. Indah sekali, Retz. Kau beruntung bisa sampai di sana."

"Memang sangat indah. Kita ke sana lagi saja nanti. Kalau kakimu sudah sembuh," janjiku.

"Iya," sahut Neon antusias. "Kita harus ke sana. Hei, omong-omong, aku minta maaf jadi membiarkanmu menjalani misi ini seorang diri. Aku betul-betul ceroboh."

"Ah soal itu…" Aku terdiam sejenak. "Sebenarnya tadi aku tidak meneruskan misi sendiri."

"Oh ya? Lalu dengan siapa?" Neon sudah memasang mimik wajah penasaran yang tidak bisa dibantah. Aku ragu selama beberapa detik, tapi akhirnya tetap menjawab, "Dengan Killua."

"Hahhh? Bagaimana bisa?" Neon membelalak. "Aku ingin detilnya, Retz. Sekarang."

"Oke, oke. Santai. Setidaknya beri aku kesempatan untuk mandi dulu."

"Kau bisa mulai bercerita sambil mandi."

Aku tertawa. "Kau gila. Bersabarlah selama 15 menit, oke? Aku janji setelahnya aku akan menceritakan seluruh detilnya. Tanpa melewatkan apa pun."

Sesuai janji, aku menceritakan kejadian sepanjang siang hingga malam hari ini kepada Neon. Tentang bagaimana Killua beberapa kali menyelamatkanku, bagaimana wajahnya berubah merah begitu kupanggil Killua-kun, bagaimana kami sempat bertengkar tadi, bagaimana percakapan singkat kami di kapal barusan. Neon menimpali dengan gumaman, sesekali tawa, dan tatapan antusias.

"Nampaknya harimu menyenangkan. Aku ikut senang," senyum Neon usai aku menceritakan kisahku sepanjang hari itu.

"Bagaimana denganmu sendiri? Ya, aku tahu harimu tidak begitu baik, karena semua luka-luka ini. Tapi tadi Kurapika yang membawamu ke sini, kan? Ehmm, kalian tidak… Tidak bicara atau apa?"

Aneh. Ekspresi wajah Neon langsung berubah dingin begitu nama Kurapika disebut-sebut. Oke, sepertinya mereka masih belum juga berbaikan. Kenapa aku harus menyinggung-nyinggung nama Kurapika, sih?

"Tidak. Tidak ada yang spesial." Neon memaksakan senyum dan kini aku jadi bertanya-tanya. Apakah ini hanya perasaanku atau Neon sedang berusaha menyembunyikan sesuatu? "Dia hanya membawaku ke klinik asrama, lalu setelah aku sadar, dia hanya menanyakan beberapa hal tentang kondisiku. Itu saja. Lalu aku langsung kembali ke kamar untuk beristirahat."

Neon berusaha terlihat tenang. Sayangnya penjelasan yang diutarakan sambil menatap ke arah lain itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku mengambil kesimpulan bahwa gadis ini memang menyembunyikan sesuatu dariku.