BAB XII
Killua Zaoldyek
"Killuaaaa." Suara yang sedikit memekikkan telinga itu membuatku langsung tahu siapa pemiliknya.
"Hei, Gon," sapaku ringan sambil mengunyah chocolate balls. Entah bagaimana pembicaraan dengan Retz ketika berada di kapal udara tadi membuatku ingin makan chocolate balls lebih banyak.
"Waaah, chocolate balls, ya? Kuambil, ya." Tangan Gon sudah terulur ke arah kardus chocolate balls di samping meja di kamarku ketika aku secara reflek melonjak dari ranjang tidurku dan menarik lehernya ke belakang dengan satu tangan.
"Itu punyaku. Jangan sembarangan diambil," omelku sambil terus mencekik Gon. Ini tidak berarti aku senang menyakitinya. Hanya saja, terkadang kekerasan dapat menyelesaikan persoalan dengan lebih cepat. Seperti saat ini misalnya.
"Aduh, sakiit. Baiklah, baiklah. Aku menyerah. Tidak akan kuambil. Aku mengertii." Benar kan? Dia langsung menyerah meski aku belum menggunakan tiga puluh persen dari kekuatanku. Setelah pengakuan itu, barulah aku melepaskan tanganku dari padanya.
"Hhh, masih saja lemah. Nanti begitu ada lawan yang lebih kuat dariku, bagaimana bisa kau menghadapinya?" Aku berkacak pinggang sambil menatap wajahnya yang sedang meringis kesakitan akibat cekikan tadi.
Tapi kemudian Gon hanya menggaruk belakang tengkuknya sambil tersenyum merasa bersalah. "Tapi aku yakin jika kita menggabungkan kemampuan kita berdua, kita pasti bisa menang."
"Bodoh!" Kujitak kepalanya dengan sangat cepat. Hmm, sepertinya mengasari orang lain baik secara fisik maupun verbal memang sudah menjadi salah satu gerak reflek buatku. "Kau tidak ingat waktu kita di sarang Genei Ryodan? Apa kita berdua menang melawan mereka? Tidak kan? Kau tidak bisa terlalu naif. Dan bagaimana kalau kau bertemu ayahmu nanti, dengan kondisi kekuatanmu yang masih seperti ini? Kira-kira apa yang akan dia katakan? Pernahkah kau memikirkannya?"
"Ya, kau benar, Killua. Aku akan berlatih lebih baik lagi." Mendadak wajah Gon berubah serius. Ini selalu terjadi setiap kali ayahnya disinggung-singgung. Berarti ceramah panjang lebarku tidak sia-sia. "Bahkan besok aku sudah berencana mengikuti kelas pertarungan tangan kosong-mu itu. Jadi, sebaiknya aku tidur dulu sekarang. Selamat malam, Killua."
Aku cemberut melihatnya naik ke atas tempat tidur dan langsung mengambil posisi siap tidur nyenyak. Cih, tidak seru sekali. Padahal aku baru akan menanyakan beberapa hal padanya. Hmm, tapi mungkin lebih tepat kalau disebut meminta saran. Yah, apa pun itu, aku masih gusar karena dia tidur secepat ini. Kenapa dia tidak bisa berempati sedikit? Bukannya kami ini teman?
Sejenak aku berpikir untuk membangunkannya, tapi rupanya hanya dalam hitungan detik dia sudah lelap. Yah, baiklah. Mungkin sebaiknya aku tidak usah mengganggunya. Bagaimana pun, dia masih butuh tidur. Berbeda denganku yang sudah terbiasa dua-tiga hari tanpa tidur. Aku pun menaiki ranjangku dan menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih pucat.
Hhhh. Mendadak ingatan tentang gadis aneh itu muncul lagi di benakku. Ini soal si anak teledor Retz itu. Aku tidak mengerti akan diriku sendiri. Dia membuatku tidak mengerti akan diriku sendiri. Dua hari yang lalu aku masih merasa kesal padanya—atau mungkin lebih tepat kalau aku tidak suka akan keberadaannya—karena gelagatnya mengesalkan. Tindak-tanduknya seperti ingin membuat Gon tidak memedulikanku lagi. Kau tahu kan, ada orang-orang di dunia ini yang senang bersikap sok akrab dengan siapa saja, dan terus terang itu menyebalkan bagiku. Oke, Gon juga orang yang sok akrab dengan siapa saja, tapi dia berbeda. Dia teman pertamaku dan langsung menjadi teman baikku. Tapi bukan itu poinnya.
Masalahnya adalah, hari ini aku justru merasa aneh. Tadinya aku memang terpaksa menemaninya menyelesaikan misi di pegunungan. Ya, aku terpaksa. Kalau saja manusia sok alias Kurapika tidak mengancam akan melarang segala bentuk coklat ada di dalam asrama ini, tentu saja aku tidak mau menemaninya menyelesaikan tantangan misi di pegunungan itu, yang omong-omong sebenarnya sangat mudah, tapi karena dia ceroboh dan bodoh, ia sering mengalami berbagai hal buruk. Aku juga tidak paham bagaimana kesialan menimpanya begitu sering?
Tunggu dulu. Sebenarnya, kesialan yang senang menghampiri dia atau memang dia yang menciptakan kesialannya sendiri? Seperti jatuh ke jurang tadi misalnya. Kalau saja dia hati-hati, tentunya dia tidak akan terperosok begitu kan? Jadi, memang dialah yang mencari-cari nasib buruk itu sendiri. Kalau dia lebih hati-hati, aku kan tidak harus menolongnya, menariknya dan membuatnya jatuh menindihku dengan tubuhnya yang meski kecil, sepertinya menyimpan banyak otot sehingga terasa lebih berat.
Aku bisa merasakan sensasi aneh mengaliri perutku begitu mengingat kembali bagaimana secara reflek tanganku terulur menariknya hingga membuatnya jatuh menimpaku. Tapi aku tidak bisa mengartikan sensasi aneh ini. Segala hal yang terjadi hari ini membuatku merasa…aneh. Ya, segalanya terasa aneh, terutama aku. Akulah yang justru paling aneh di sini. Kini seperti ada begitu banyak pertanyaan 'kenapa' yang asing yang sedang menggerayangi pikiranku.
Kenapa aku repot-repot mau meminjamkannya kamera digital milikku saat di air terjun? Kenapa aku yang tadinya merasa tidak senang akan kehadirannya mendadak merasa tidak keberatan bertemu dengannya lagi di kapal udara tadi? Dan tanpa alasan yang jelas, kenapa aku akhirnya melangkah dan duduk di sampingnya, menemaninya serta memberinya chocolate balls milikku yang sangat berharga? Bahkan Gon saja jarang-jarang kubagi. Dan kenapa aku sedikit merasa kesal saat suara interkom menyela percakapan kami, dan membuatnya pergi ke kabin kapal tadi? Lalu, yah sebutlah aku gila, tapi aku gagal menemukan alasan kenapa aku merasakan wajahku memanas, setiap kali dia memanggilku Killua-kun? Maksudku, itu kan hanya panggilan biasa.
Aku berpikir dan terus berpikir kenapa aku melakukan semua hal itu.
Dan kalau bukan gila, aku tidak tahu lagi harus kunamakan apa semua perasaan aneh ini.
Aku terus terjaga hingga menjelang pukul lima subuh. Aku membangunkan Gon, karena dia yang akan membawakan sesi lari pagi. Sejujurnya sesiku nanti akan berlangsung jam 9, setelah sarapan bersama. Tapi aku merasakan dorongan kuat yang tidak dapat kumengerti, untuk…untuk melihat gadis itu lagi. Ya, sudah kubilang aku menjadi gila kan sekarang? Belum lagi kenyataan bahwa aku tidak dapat melenyapkannya dari benakku sepanjang malam tadi. Hhh, gadis itu benar-benar menambah kesusahan baru dalam hidupku. Bahkan kini ketidakhadirannya saja tetap menghantuiku.
Mendadak aku merasa seperti kena kutuk.
Aku mengikuti Gon turun ke lapangan bawah, yang ternyata sudah dihadiri oleh banyak peserta.
"Lihat! Itu Killua!" Aku mendengar beberapa pekikan anak-anak perempuan seusiaku, sambil menatapku dengan pandangan yang menurutnya, sangat menyeramkan dan mengintimidasi.
"Kyaaa. Pagi ini ada Killua! Kita beruntung tidak jadi membolos sesi lari pagi." Anak perempuan yang lain sedang membicarakanku dengan teman perempuannya.
"Ya, ya! Khusus hari ini, kurasa aku akan kuat diminta lari dua jam sekali pun."
Sungguh, aku tidak memahami apa inti dari percakapan yang menjurus ke arah gosip ini. Tapi saat kulihat kembali pakaian dan sepatuku, kurasa tidak ada yang aneh. Rambutku sudah kuperiksa dan baik-baik saja. Begitu juga dengan mukaku. Ada apa dengan mereka semua?
Lalu, seakan ada sebuah kekuatan yang mengendalikanku, kepalaku berputar ke arah pintu gerbang dengan sendirinya. Pikiran tentang gadis-gadis mengerikan itu pun terlupakan sementara. Dan di sanalah dia, sedang turun sambil memapah Neon yang kakinya masih pincang sambil membincangkan sesuatu yang menarik, karena mereka tertawa-tawa kecil ketika berbicara. Lalu entah bagaimana, detik berikutnya tatapan Retz terarah tepat ke mataku, seolah dia sudah memprediksi bahwa aku memang ada di sini.
Kami bertatap-tatapan selama beberapa saat, sampai akhirnya dia yang menyunggingkan senyum terlebih dulu padaku. Aku hanya mengangguk dan mengalihkan tatapanku ke arah lain. Gon mengatakan wajahku memerah setiap kali aku merasakan panas di wajahku, seperti saat ini. Untunglah matahari belum muncul sehingga wajahku yang memerah pasti takkan terlihat oleh siapa pun di sini.
Seperti biasa, Gon memulai sesinya dengan pemanasan. Setelah beberapa gerakan pemanasan, Gon menyiapkan stopwatch di tangannya dan mengangkatnya ke udara. Begitu aba-aba diberikan, para peserta mulai berlari mengitari lapangan luas ini. Aku terus memperhatikan Retz yang berlari tanpa jeda. Sesekali ia menyapa Neon yang duduk di dekat Gon ketika melewati kami. Tapi ia hanya tersenyum sekali padaku di putaran pertama, lalu tidak menyapaku lagi sampai ia selesai berlari.
Aku mengernyitkan dahi menyadari tingkah konyolku sendiri. Kenapa aku ingin dia menyapaku? Aku kan tidak ada urusan apa-apa dengannya, kenapa aku terus ingin tahu bagaimana kondisinya?
Choco lava cake. Mendadak tiga kata itu melintas di otakku. Ya, benar. Aku terus memperhatikannya karena aku ingin mencoba kue lezat yang ia ceritakan semalam, yang sudah dijanjikannya padaku akhir pekan ini. Ya, ya. Pasti karena itu alasannya. Dan itulah memang alasan yang paling masuk akal. Kalau tidak, apa lagi memangnya alasan yang benar? Kalau dia tidak menawariku kue itu, pasti aku sudah tidak akan susah payah mengingat-ingat dia lagi. Aku yakin pasti begitu.
Hmm, tapi sebenarnya memang ada hal lain yang membuatku penasaran padanya. Retz nampak tidak asing bagiku. Entah kenapa aku merasa pernah bertemu dengannya sebelum ini. Tapi tidak mungkin, karena kami juga baru berkenalan di tempat ini. Jadi, kenapa ya alasannya?
Sial. Semua hal ini membuatku tambah pusing. Tapi kalaupun kutanyakan ini dengan Gon, aku tidak yakin apa dia bisa mengerti. Rasanya dia nyaris tidak pernah mengalami masalah dalam hidupnya. Bisa dilihat sendiri kan dari lagaknya yang senantiasa ceria, dan menganggap seolah-olah dunia ini adalah sebuah taman ria dengan orang-orang baik dan ramah di dalamnya?
Aku memutuskan untuk beranjak pergi ke kamarku sebelum kegiatan lari pagi berakhir. Susah payah aku pun berusaha menghilangkan Retz dari isi pikiranku. Ah, maksudku, berusaha menghilangkan choco lava cake dulu untuk sementara waktu dari isi pikiranku.
Ketika sarapan dimulai aku melangkah lebih dulu ke kafetaria daripada Gon. Sekali lagi, alasannya bukan karena aku ingin bertemu dengan siapa pun di sana, melainkan karena aku sudah kelaparan karena hal lain. Namun aku tetap tak bisa menjelaskan kenapa mataku justru malah menyapu seluruh manusia yang sudah ada di kafetaria dan bukannya mendatangi meja makanan berada.
Sekarang aku merasa sangat munafik.
Ketika mataku sibuk menyapu seluruh ruangan, aku merasakan bahuku disentuh. Secara reflek aku menoleh dengan cepat dan mundur selangkah ke belakang. Dan tertegun melihat apa yang ada di depanku. Dan manusia yang tadi menyentuh bahuku pun ikut terkejut menyaksikan gerak reflekku barusan. Tapi di saat yang sama, intensitas kekagetan kami menurun sampai menjadi hilang sama sekali.
"Kau? Jangan menakutiku seperti itu!" ketusku, meski sebenarnya aku tidak benar-benar marah pada gadis ini. Malah, ada perasaan senang yang mendadak terdeteksi pada diriku. "Masih untung aku tidak langsung menghajarmu sampai pingsan."
"Pembunuh bayaran pun masih bisa takut rupanya?" Aku cemberut menanggapi kelakarnya. Bukan karena aku tidak punya selera humor lho. Soal selera humor, Kurapika masih jauh lebih payah dibandingkan aku. Gadis ini tidak pernah tahu saja, selama menjalani hidup sebagai pembunuh, aku selalu takut pada kakakku. Jadi leluconnya barusan sangat menyebalkan buatku. "Aku mau mengembalikan ini."
Ia mengulurkan sebuah kamera digital yang kukenali sebagai milikku, yang kupinjamkan padanya kemarin untuk mengambil gambar di air terjun raksasa. Kuulurkan tangan untuk menerimanya.
"Terima kasih, ya. Neon sangat senang dapat ikut menyaksikan air terjun raksasa itu juga. Meski secara tidak langsung." Gadis itu mengangkat bahu, lalu tersenyum ke arahku. Sial. Mendadak aku jadi tidak bisa memikirkan kata apa yang harus kulontarkan selanjutnya.
"Ehm, yah. Eh… Tidak masalah." Kumasukkan kamera itu ke dalam saku. Lalu aku tertunduk, tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Situasi yang canggung terus terjadi dan selama Retz dan aku saling menunggu untuk bicara, akhirnya Retz yang berkata duluan, "Aku sudah berpikir, mungkin sebaiknya aku membuatkan choco lava cake-nya Sabtu ini."
Itu bukan kalimat pertanyaan. Hanya pemberitahuan. Dan aku masih menantikannya mengatakan kalimat selanjutnya, yang entah kenapa sepertinya begitu ragu untuk dikatakan. Jadi aku tetap diam dan menunggu. "Ehm, dan… Dan kau tahu, kue ini sangat cocok dijadikan kudapan ketika sedang bersantai. Jadi aku juga berpikir apakah, eh, apakah mungkin sebaiknya kita sekalian pergi piknik saja di hari itu? Ehm. Apakah kau sibuk?"
Alisku terangkat, tidak menyangka akan apa yang dikatakannya. Tunggu. Apakah dia sedang mengajakku kencan?
"Jadi ini…apakah semacam kencan?"
"Tidak!" sahutnya cepat. Lalu disambung dengan tawa hambar. Aku bisa mendeteksi rona merah di pipinya. "Bukan, tentu saja bukan kencan. Aku hanya berpikir untuk menyajikan padamu cita rasa terbaik dari kue itu dan cara terbaik untuk mendapatkannya adalah sambil menyaksikan pemandangan alam yang indah dan bersantai."
Sebelum aku sempat menyahut dia cepat-cepat menambahkan, "Yah, tapi kalau kau tidak berminat juga tidak apa-apa. Akan tetap kuberikan kuenya hari Sabtu."
Kemudian ketika aku menyadari tubuhnya seperti hendak berbalik dan beranjak pergi, aku menyahut dengan cepat. "Sebenarnya aku tidak sibuk. Tidak juga." Sial, suaraku jadi terdengar panik. Dan aku tidak bisa menatap wajahnya, karena aku mulai merasakan pipiku memanas. "Jadi kurasa, aku bisa pergi hari Sabtu nanti."
Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya Retz berseru gembira. "Baiklah kalau begitu!. "Bagaimana kalau Sabtu pagi? Pukul sembilan?"
Aku berpikir sejenak sambil berusaha meredam rasa malu yang sudah akut ini, lalu menggeleng padanya. Sebuah ide lokasi bersantai yang menyenangkan melintas di pikiranku. "Kurasa jam sembilan bukan waktu yang cocok. Bagaimana kalau jam lima sore? Aku tahu tempat yang menyenangkan untuk kita pergi bersantai, seperti katamu tadi. Bagaimana?"
Matanya berbinar lebih lagi. "Ya! Tentu saja tidak masalah."
"Baiklah." Aku menggaruk belakang leherku yang tidak gatal, tidak tahu apa lagi yang mesti diucapkan. Aku benar-benar bodoh dalam hal semacam ini.
Tapi saat itu juga aku diselamatkan oleh Neon yang sudah mendatangi kami dan meminta izin untuk mengambil Retz kembali. Setelah aku mempersilakannya, aku kembali duduk di meja terdekat, lalu muncullah pertanyaan di benakku.
Kenapa laju jantungku terasa lebih cepat? Dan tentunya aku menunggu-nunggu hari Sabtu. Sungguh. Tapi aku yakin itu karena aku ingin mencicipi choco lava cake yang terkenal itu. Ya, aku yakin begitu.
