Halo teman-teman semua. Ini udah hampir 3 bulan semenjak terakhir kali aku ngepost ternyata! Sorry keterlambatannya yang amat sangat ini. Mungkin ada sebagian yang lupa sama alurnya. Aku sarankan baca kembali chapter 11-12 biar ngga terlalu bingung. Hehe. Ini postingan langsung dua chapter. Happy reading~~
BAB XIII
Neon Nostrade
Aku tidak mengerti apa maksud laki-laki yang ada di hadapanku ini. Sumpah. Bukannya aku bersikap peduli padanya. Tapi seingatku dialah orang yang secara tersirat ingin berbaikan denganku, ingin diberikan kesempatan kedua denganku kemarin. Dan sekarang lihatlah, apa yang ia lakukan. Duduk makan bersama gadis-gadis lain, dan tertawa-tawa bersama mereka. Memangnya ada yang lucu? Hihh.
Aku memutuskan untuk mencari Retz saja, daripada harus menyaksikan pemandangan yang tidak mengenakkan ini. Ketika kutemukan, ternyata dia sedang berbincang dengan si anak angkuh. Retz tampak sesekali tertawa kecil. Lebih sering mereka berdua nampak berdiam salah tingkah tanpa tahu apa yang mau dikatakan, atau dilakukan. Tapi yang jelas, Retz selalu tersenyum lebar-lebar ketika berhadapan dengan Killua Zaoldyeck. Meski aku tidak tahu apa sisi bagus dari anak itu, aku tetap menghargai keputusan Retz yang bilang mau mengajak anak laki-laki itu kencan. Dia berani sekali, ya. Well,kalau dilihat dari ekspresi dan bahasa tubuhnya ketika berbincang dengan Killua, sepertinya Retzsudah mengutarakan keinginannya dan mendapatkan respon yang baik.
Aku berdiri dan berjalan pelan-pelan ke arah mereka. Selain karena kakiku memang belum sepenuhnya pulih untuk bisa berjalan seperti manusia normal lainnya, aku juga cukup tahu diri untuk tidakmengacaukan momen kedua remaja yang sedang dilanda asmara itu. Mereka langsung menyadari keberadaanku ketika aku mendekat.
"Hei, kalian berdua. Sedang membicarakan apa?" sapaku pura-pura. Yah, karena kan sebenarnya aku sudah tahu apa kira-kira yang sedang mereka bicarakan.
"Ah, tidak. Bukan apa-apa," sahut Retz, sama pura-puranya. Padahal dia tahu bahwa aku pasti mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
Aku mengangguk-angguk sebagai respon, lalu berkata pada Killua, "Kalau kau tak keberatan, aku mau mengambil kembali anak ini untuk sarapan bersama."
"Ya, tidak masalah," sahutnya sambil mengedikkan bahu. "Sampai nanti di kelas." Ia mengangkat satu tangan kepada kami, lalu berjalan menjauh.
Ketika dia sudah agak jauh dari tempat kami, barulah aku mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan. "Jadi? Bagaimana? Apa yang kau katakan tadi? Apa jawabannya?"
Aku bisa melihat Retz menceritakannya dengan mata berbinar-binar. Kau tahu, seperti gadis yang sedang benar-benar jatuh cinta. Dia bercerita dengan semangat menggebu, seolah energinya baru saja terisi ulang. Ia bercerita bagaimana tadi ia menyapa Killua, betapa brilian idenya untuk mengajak Killua pergi piknik dan menyantap choco lava cake bersama-sama, lalu bagaimana Killua menjawabnya. Emosi itu menular, dan kini aku sudah sama bahagianya hanya dengan mendengar cerita dari Retz.
"Aku harus berlatih membuat choco lava cake, Neon. Kau bisa memanggang kue?"
Aku melongo sesaat. "Tunggu sebentar, Retz." Aku mengangkat satu tanganku."Maksudmu, kau menjanjikan Killua seloyang kue buatan tanganmu yang kau sendiri ragukan tingkat keberhasilannya?"
"Yah," Retz kini nampak salah tingkah. "Sepertinya aku terlalu ceroboh membuat janji, sampai-sampai aku lupa bahwa aku memang tidak pernah membuat kue coklat lezat itu sebelumnya."
Tidak pernah? Dia tidak pernah membuat choco lava cake tapi menjanjikannya satu di akhir pekan ini? Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran anak ini. Dan kenapa dia harus membuat janji di hari Sabtu? Itu kan empat hari lagi!
"Oleh karena itulah aku juga ingin meminta bantuanmu membuatnya. Kau kan pernah membuat kue coklat waktu kau kecil dulu. Ya kan?"
Aduh, rasanya ingin kupukul kepala anak ini, supaya otaknya bisa bekerja dengan lebih baik. "Kalau kau menyimak ceritaku dengan baik, kau tentu tahu bahwa waktu itu yang membuatkannya adalah kepala pelayan. Aku hanya menyumbang ide. Dan membantu sedikit-sedikit. Setelah insiden kue menyebalkan itu aku sudah tidak pernah membuat kue lagi."
Retz nampak baru menyadari situasinya yang sedang dalam bahaya. Mulutnya ternganga sedikit, lalu suaranya terdengar panik ketika berkata, "Astaga, aku sudah membuat keputusan yang salah. Sekarang aku harus bagaimana?"
Ya ampun. Anak ini benar-benar bahaya. Radar pendeteksi bahaya-nya bekerja lamban sekali. Ibarat seorang anak yang takut ketinggian dan diminta untuk melakukan bungee jumping. Dia tidak akan benar-benar merasa panik sebelum dia berada di atas tepat ketika ia akan melompat. Dan seperti itulah Retz. Aku menghela napas panjang melihatnya. "Kurasa kau tidak memiliki pilihan lain selain berlatih keras di sepanjang sisa empat hari ini, Retz. Kau harus mencoba membuat kuenya. Sampai terasa enak."
Retz mengangguk kaku mendengar ucapanku. Wajahnya kini terlihat amat khawatir. Jadi sebagai teman yang baik, aku mencoba menghiburnya. "Tidak apa-apa, Retz. Kalau kita bekerja keras, pasti kita bisa membuatnya. Ada banyak resep mudah di internet untuk membuat kue. Resepnya sangat mudah, bahkan untuk pemula sepertimu. Nanti akan kucarikan. Semangatlah."
Retz tersenyum padaku. "Kau benar. Aku masih punya empat hari untuk berlatih. Dan selama itu aku akan bekerja keras. Terima kasih, Neon. Kau yang terbaik."Ia memelukku sebagai ucapan terima kasih. Kuakui rasanya agak risi menerima perlakuan intim seperti ini dari orang yang baru kukenal selama beberapa hari. Waktu itu Retz juga memelukku saat aku menangis dan aku merasa aneh. Aku tidak pernah menerima perlakuan semacam ini selama sekitar delapan tahun, setelah almarhumah ibuku meninggal. Tapi kurasa aku memang harus terbiasa dengan perlakuan Retz, mengingat ia memang orang yang senang bersikap akrab dan hangat dengan semua orang.
"Sama-sama. Sekarang ayo kita lekas sarapan. Hari ini kelasnya Killua, bukan? Kau pasti sudah tidak sabar." Aku menyikut lengannya pelan dan ia terkekeh malu-malu.
Usai sarapan, kami semua dikumpulkan dalam sebuah aula besar dan luas. Aku bisa mengira, bahwa kelas hari ini pun akan langsung membuat kami melakukan praktik. Sesungguhnya, aku agak kecewa karena hanya diizinkan menonton dari pinggir aula, di bagian belakang. Tapi aku juga tidak dapat melakukan apa-apa selain bersikap realistis. Untuk berdiri saja susah, bagaimana bisa berlatih gerakan bertarung?
Aku melihat semua peserta dikumpulkan dan diminta membuat barisan U, dengan Killua berada di depan mereka semua. Aku menyaksikan para gadis seusia Retz menatap Killua dengan tatapan haus darah. Bukan berarti mereka mau memangsa Killua tidak akan bisa melakukan hal itu juga sih, mengingat Killua adalah mantan pembunuh. Maksudku, sangat terlihat bahwa mereka nampak terpesona dengan si anak angkuh. Beberapa di antara mereka saling berbisik dan cekikikan sambil sesekali berusaha menarik perhatian Killua dengan genit. Sayang, anak itu terlalu angkuh. Dan bodoh. Dia sama sekali tidak memedulikan perempuan-perempuan bodoh itu sekarang. Atau dia memang tidak sadar dirinya sedang menjadi pusat perhatian. Tapi ini semakin membuatku tidak mengerti apa yang mereka lihat dari anak ingusan itu. Yang jelas, Retz harus berhati-hati pada mereka semua. Kalau sampai ketahuan bahwa Retz berhasil mengajak kencan bocah itu, dia bisa dikeroyok massa, alias para penggemar fanatiknya Killua.
Killua menerangkan bahwa hari ini, aktivitas mereka adalah menyaksikan demonstrasi pertarungan sederhana dengan tangan kosong antara dia dan Gon. Kemudian, barulah semua peserta akan praktik dengan berpasang-pasangan.
Aku menggigit bibir, karena merasa tidak enak pada Retz yang kini tidak memiliki pasangan. Dan karena aku sekarang sedang cacat dan tidak bisa menjadi partner yang bisa diandalkan. Aku benci kondisi ini. Tapi mau semarah apa pun aku, tentunya takkan membuat kakiku langsung sembuh seketika, bukan? Aku sekarang hanya bisa pasrah, sambil memelajari gerakan-gerakan itu nanti dalam otakku.
Kini semua peserta telah duduk. Killua dan Gon kini ada di depan dan akan menunjukkan pertarungan dengan tangan kosong yang sederhana.
"Jadi intinya, pertarungan dengan tangan kosong hanya melibatkan seluruh anggota tubuh untuk bertarung, bertahan, dan menyerang. Sekilas terlihat mudah, tetapi kuncinya di sini bukan hanya soal kekuatan. Kalau kita tidak bisa menentukan akan menggunakan tangan, kaki, atau kepala untuk menyerang di saat yang tepat, maka sia-sia saja. Oleh karena itu, teknik yang digunakan untuk bertarung tanpa senjata juga menjadi penting. Karena ini baru awal, aku dan Gon di sini akan memperlihatkan jenis pertarungan tanpa senjata yang masih sederhana."
Kemudian Gon dan Killua berdiri berhadap-hadapan. Mereka lalu saling memberi hormat dengan cara membungkuk sedikit, lalu berdiri tegak kembali. Detik selanjutnya, mereka mulai bergerak. Cepat sekali! Gerakan tangan dan kaki mereka sudah nyaris tidak terlihat. Terlalu cepat untuk ditangkap oleh mataku. Mereka seperti menendang dan meninju sebanyak lima kali dalam kurun waktu satu detik. Aku tidak bisa melihat gerakan mereka dengan detil. Ini gila. Semua peserta lain tampak sama terpananya denganku. Mereka semua nampak shock menyaksikan pertarungan tanpa senjata yang disebut-sebut Killua sebagai "gerakan sederhana" tadi.
Setelah sekitar satu menit, mereka berhenti dan kembali berdiri berhadap-hadapan. Lalu mereka menyilangkan kedua tangan di depan dada, lalu menarik kedua siku ke belakang sambil berkata, "Osu!" dengan lantang yang langsung menggema di udara.
Beberapa detik kemudian, seluruh peserta di aula bertepuk tangan dengan keras. Ini membuatku ikut bertepuk tangan sekeras-kerasnya. Tadi itu benar-benar gila. Sementara Gon dan Killua sendiri nampak kebingungan mendapat tepuk tangan meriah seperti itu. Yang benar saja. Jadi mereka benar-benar merasa bahwa demonstrasi mereka barusan adalah hal yang sederhana?
Setelah semua berhenti bertepuk tangan, mereka diminta berdiri dan mencari pasangan masing-masing. Aku semakin merasa bersalah melihat Retz yang kebingungan mencari rekan yang bisa diajak berpasangan. Dan aku baru bisa bernapas legaketika akhirnya Gon menawarkan diri menjadi pasangannya, karena jumlah peserta menjadi ganjil tanpa adanya aku.
Kini aku melihat semua peserta sudah mulai berlatih gerakan menendang dan meninju secara "sederhana". Jadi pada dasarnya, yang dilakukan Gon dan Killua tadi hanyalah menendang dan meninju yang dilakukan secara berulang-ulang dan dilakukan dengan kecepatan tinggi. Karena seluruh peserta masih pemula, mereka melakukannya secara perlahan. Aku juga mencoba menggerakkan tanganku meniru tinju yang dipraktikkan Killua, sambil terus bertanya-tanya bagaimana mereka bisa melakukannya secepat itu.
"Sedang berlatih?" Aku menoleh ke arah asal suara yang sepertinya ditujukan padaku itu. Kurapika berdiri tegak di sana, tersenyum ke arahku dengan tatapan yang tak dapat kuartikan, karena ada berbagai emosi berkelebat di sana. Dan aku tak tahu emosi apa saja itu.
Aku mengangguk pelan sebagai respon, masih mendongak menatap matanya, dan tak bisa lepas. Seolah dia mengunci tatapanku dengan pandangan matanya. Ditambah dengan posisiku yang sedang duduk dan posisinya yang tetap berdiri, membuatku terlihat begitu kecil dan malang di hadapannya, seolah tak berdaya untuk melakukan apa pun.
Kemudian dia menghempaskan tubuhnya di sampingku yang bersandar di dinding. Sesaat kulit kami bersentuhan dan aku merasakan aliran listrik kecil di kulitku, membuatku susah bernapas tiba-tiba. Ada sepercik rasa senang yang berusaha kuabaikan mati-matian, tapi juga ada rasa nyeri di dada ketika teringat pembicaraan terakhir kami yang kurang menyenangkan. Secara reflek aku bergeser sambil tetap menatapnya dengan heran. Apa maunya sekarang?
"Kenapa kau menjauh begitu? Aku bukan wabah, kau tahu." Ia masih menatapku dengan tatapan matanya yang menghipnotis tadi. Meski aku tercengang, aku tetap tidak boleh menunjukkan hal itu di hadapannya.
"Apa maumu?" tanyaku masih dengan heran.
"Mauku? Aku hanya ingin duduk di sini sebentar. Aku ingin mengawasi semua peserta dan aku ingin menanyakan keadaanmu."
Sebelum aku sempat membuka mulut untuk berargumen dengannya, ia sudah menyahut kembali, "Bukankah ini salah satu tugasku sebagai ketua pelaksana pelatihan? Bukankah itu yang kau inginkan, berdasarkan pembicaraan terakhir kita kemarin?"
Aku tidak menjawab. Masih berusaha mengira-ngira maksud dari perbuatannya ini.
"Atau kau lebih suka kalau aku bersikap lebih dari ketua pelaksana pelatihan?"
Mataku melebar sedikit. Tanganku sudah terangkat untuk meninju lengannya, tapi segera ditahan olehnya. "Wow, mengerikan sekali. Kenapa kau marah padaku? Maksudku, apakah kau lebih suka kalau aku bersikap seperti temanmu?"
Aku menarik tanganku kembali dengan sedikit kasar dan mendengus pelan. "Lebih baik jika kau mengacuhkanku saja. Sama seperti aku mengacuhkanmu."
Ada jeda selama beberapa detik. Kemudian ia menjawabku, "Aku tidak bisa."
"Karena kau adalah ketua pelaksana pelatihan?" tanyaku meniru jawaban yang selalu didengung-dengungkannya itu sambil mencoba menenangkan debar jantungku. Di satu sisi aku lega karena dia menolak mengacuhkanku. Tapi di sisi lain, aku tahu jika aku meladeninya, masalah ini akan bertambah pelik. Cukup satu kali dia berkhianat padaku. Aku tidak butuh disakiti sekali lagi.
"Karena kau pusat semestaku," jawabnya. Aku diam, mencoba mencerna kembali makna di balik kata-katanya. "Karena segala yang kulakukan selalu berporos padamu. Karena apa pun yang kuperbuat, aku akan selalu mengingatmu. Karena seberapa pun kerasnya aku mencoba untuk mengabaikanmu, aku tidak bisa menahan diri untuk mengetahui bagaimana keadaanmu."
Entah bagaimana akibat kalimatnya itu, kini aku merasakan sakit di dada, yang langsung kupegangi dengan tangan kanan. Sementara mataku sudah terasa ditusuk-tusuk, air mata sudah mengancam akan keluar dari sana. Bisakah aku percaya pada kata-katanya? Pantaskah kata-katanya kudengarkan?
"Apakah alasan itu cukup bagimu? Dengar. Kau mungkin tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu."
Aku mengerjap. Sebulir air mata sudah terlanjur turun. Aku menyekanya dengan punggung tangan lalu membuang muka ke arah lain.
"Hei. Lihat aku." Sepertinya ia juga sudah melihat air mataku tadi. Ya Tuhan, apakah kejadian hari ini bisa lebih memalukan lagi? Aku mengisi paru-paruku dengan udara sampai penuh. Kenapa tiba-tiba ruangan ini jadi terasa sesak?
Aku menoleh dan mendapati tatapan matanya juga mengandung kepedihan. Kerutan di keningku bertambah dalam. Jadi, dia sungguh-sungguh mengucapkan kata-katanya?
Tapi aku yakin aku bisa melihat kesungguhan saat ia berkata, "Aku akan bertanya sekali lagi. Kalau kau menolak, aku berjanji aku tidak akan mengganggumu lagi."
Aku menunggunya mengungkapkan pertanyaan yang ia sebutkan tadi. Ia kemudian menarik napas, lalu mengatakannya dengan jelas dan lantang. "Bisakah kau memberiku kesempatan? Sekali lagi?"
Aku menelan ludah dengan gugup. Sungguh, aku sedang tidak berada dalam kondisi yang bisa memutuskan perkara semacam ini. Aku hanya menunduk, menimbang-nimbang apakah aku harus memberi diri celah untuk menerima resiko disakiti lagi.
"Ketika kita memilih untuk jatuh cinta, itulah resiko yang akan kita alami, bukan?" Ucapan Retz padaku waktu kami berada di dalam kapal udara terngiang kembali di pikiranku. "Patah hati itu resiko. Saat kita mengutarakan perasaan kita, kita akan punya dua pilihan, diterima dan hidup bahagia dengan orang yang kita cintai atau ditolak lalu patah hati hingga mungkin akan membekas selama bertahun-tahun. Tapi satu hal yang pasti, jika kita tidak melakukan apa pun, sudah tentu seratus persen kita takkan bisa bersama orang yang kita cintai."
Entah sudah berapa lama aku merenungkan ucapan Retz. Dan aku sudah tidak tahu berapa lama keheningan mendominasi percakapan kami, sampai hingga akhirnya karena aku ingin memberikan jawaban diplomatis, aku pun menjawab, "Beri aku waktu."
"Berapa lama?"
Aku menimbang sejenak sebelum menyebutkan rentang waktu. "Beri aku satu minggu. Semua ini terjadi terlalu cepat. Kau dan aku baru kembali bertemu beberapa hari. Dan aku tidak mau membuat keputusan yang…yang akan kusesali nanti."
"Ya." Kurapika kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding."Meski sebenarnya aku tidak bisa menerima itu, kurasa aku bisa mengerti."
Seonggok beban seperti terangkat dari tubuhku, digantikan dengan rasa lega yang amat sangat. "Terima kasih." Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun berlalu, aku bisa tersenyum ketika berada di dekatnya.
"Kembali. Omong-omong, bagaimana kakimu?" tanyanya dengan nada ringan.
"Masih pincang kalau harus berjalan. Kurasa saat ini aku harus sabar berlatih hanya dengan membayangkan dan mengira-ngira semua gerakan yang diajarkan."
"Sebenarnya aku juga mau memberikanmu ini." Ia meroggoh saku dan mengeluarkan sebuah botol plastik dengan tutup merah berisi cairan coklat pekat. Aku mengambil botol itu dari tangannya, lalu memperhatikan botol itu dengan saksama. Ada banyak huruf aneh yang tidak kumengerti tercetak di badan botol itu. Kalau dia berniat memberiku racun, sudah pasti aku tidak akan tahu.
"Aku memintanya dari Leorio. Itu obat untuk kakimu. Semprotkan saja setiap tiga kali sehari di kakimu yang terkilir. Cukup ampuh, katanya."
Aku memasukkannya ke dalam saku pakaianku. "Terima kasih. Kau baik sekali."
Ia tersenyum. "Kau tahu, itu hal baik pertama yang kau katakan padaku selama kita berada di camp."
"Eh, maksudku yang baik itu Leorio. Obat ini dari dia, bukan?"
Kurapika menampakkan wajah pura-pura tersinggung. "Tapi asal kau tahu saja, aku yang memintanya meraciknya khusus untukmu."
"Wah, ternyata Leorio memang benar-benar baik!"
Kini alisnya bertautan. Ia mulai tidak senang Leorio yang lebih dipuji dibanding dirinya. "Hei. Dengar ya…"
"Aku hanya bercanda." Aku terkekeh, sebelum dia benar-benar marah. Ego laki-laki bisa jadi sangat tinggi rupanya. "Terima kasih. Aku sangat menghargainya."
"Sama-sama," sahutnya. Ia menatapku dengan wajah yang terlihat seperti berpikir. Ada keraguan juga di sana. Tapi aku tidak yakin.
Dan aku tidak tahan untuk tidak menanyakannya. "Kau kenapa? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Aku mencintaimu." Ia menarik kedua sudut bibirnya.
Waktu seolah berhenti ketika ia mengungkap kalimat itu. Selama beberapa detik kupikir aku salah dengar. Tapi melihat raut wajahnya, aku semakin membeku.
Ini cepat sekali. Terlalu cepat. Sekarang aku harus menjawab apa? Aku harus mengatakan apa?
"Tidak perlu merasa terbeban," ucapnya, yang langsung membuatku menghela napas lega. "Aku hanya ingin kau tahu itu." Ia sempat menatapku intens sambil tersenyum sebelum berpaling dan berjalan ke arah para peserta dan bergabung dengan Gon dan Killua untuk melatih gerakan para peserta. Aku masih terpana selama beberapa saat, hingga akhirnya tidak fokus untuk memperhatikan pelajaran lagi. Berhubung sudah hampir jam makan siang, aku memilih untuk ke dapur kafetaria. Siapa tahu ada yang bisa kulakukan di sana. Dibandingkan aku hanya bengong menatap laki-laki itu tanpa ada gunanya, ya kan?
Ketika semua ini berakhir, aku menyadari betapa beruntungnya aku mengambil posisi di pojok belakang aula, jadi semua peserta tidak memperhatikan adegan murahan yang terjadi di sini sampai ada yang menyadari sikap kami selama latihan tadi, pastilah gosip ini akan menyebar dengan cepat layaknya epidemik menular.
Dering ponselku membahana di sepanjang lorong tempatku berjalan menuju dapur. Ternyata ada pesan. Dari Papa.
Neon sayang, apa kabarmu? Maaf Papa belum sempat mengabari sejak kau menelepon. Papa sudah mendengar berita kecelakaanmu dari Kurapika. Sayangnya Papa belum sempat menengokmu. Tapi Papa tahu kau baik-baik saja, kan? Putri Nostrade adalah yang terkuat. Papa selalu percaya itu. Nah, setelah ini Papa masih ada urusan, tapi ada hal penting yang ingin Papa sampaikan.
Ini semua tentang teman masa kecilmu. Tolong jangan dekati Kurapika. Jangan percaya semua ucapannya. Dan jangan pernah, jatuh cinta lagi padanya. Saat ini kau pasti bingung akan ucapan ini, tapi Papa punya alasan sendiri untuk mengatakannya padamu. Dalam waktu dekat Papa akan memberitahukan padamu alasannya. Saat segalanya siap. Sampai nanti, Neon. Jaga dirimu baik-baik. Papa sayang padamu.
Aku nyaris menjatuhkan ponsel dari tanganku yang membeku. Seluruh otot tubuhku serasa tidak bisa digerakkan. Ada apa? Apa yang terjadi? Pesan ini benar-benar membuatku penasaran. Selama delapan tahun Papa tidak pernah sekali pun menyebut nama Kurapika. Tapi mendadak sekarang Papa mengungkitnya kembali, bahkan menyuruhku menjauh. Kenapa dengan Kurapika, sampai Papa mau aku menjauh darinya?
"Hai!" Suara nyaring dan tepukan di pundak membuatku langsung terlonjak dan berbalik sambil membelalak.
