BAB XIV

Kurapika Kuruta

Sosok Neon yang menyelinap keluar aula tempat kami latihan tidak luput dari penglihatanku. Awalnya aku tidak tahu apa keputusanku bicara dengannya tadi benar. Tapi aku lega melihat hasilnya sekarang. Setidaknya aku sudah berhasil memecahkan kebekuan di dalam dirinya. Kini aku hanya perlu berusaha sebisaku dan berdoa sekuat yang kumampu, supaya Neon bisa menjadi milikku.

Yah, aku tahu betapa egois dan tidak tahu dirinya aku. Mendekati gadis yang pernah kusakiti dulu untuk kembali padaku. Belum lagi caraku mendekatinya bisa dibilang agak-agak memaksa. Aku tidak peduli kalau dia tidak menyukai tingkah lakuku yang seenaknya berkeliaran di dekatnya. Aku hanya melakukan apa yang hatiku ingin lakukan. Bukankah itu yang dilakukan semua orang yang sedang jatuh cinta?

Tapi, meski kelihatannya akulah manusia egoisnya di sini, sebenarnya tidak juga. Aku bisa saja memendam perasaanku sendiri dan membiarkannya bersama laki-laki lain. Dengan syarat, Neon bahagia bersama laki-laki itu. Selama persyaratan itu belum terpenuhi, aku takkan membiarkannya begitu saja. Bukannya aku terlalu percaya diri. Hanya saja, selama ini aku melihatnya muram setiap kali berada di dekatku. Tidak mungkin dia bisa merasakan sakit jika dia sudah berhenti menyukaiku, bukan?

Dan dari hasil pernyataan cintaku tadi padanya, aku bisa melihat keragu-raguannya. Selain itu, tadi dia menangis. Aku tidak tahu kenapa dia menangis, tapi aku tahu ketika akhirnya dia mau mempertimbangkan untuk memberiku kesempatan kedua, dia memang melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Tapi aku tetap akan merasa sakit jika jawaban yang diberikannya padaku seminggu lagi adalah tidak.

Ketika sesi latihan hari ini usai, aku duduk di pinggir aula dan mengambil sebotol air dari kardus yang memang disediakan untuk para pelatih. Tidak kusangka mengajar saja bisa menghabiskan energi dan suaraku sampai separah ini. Tapi mengingat perbandingan jumlah peserta dan pelatih di sini, kurasa wajar saja kalau suaraku sampai serak begini. Mungkin mulai sekarang seluruh panitia dan pelatih harus berpartisipasi membantu di setiap kelas. Ya, kurasa sebaiknya kuumumkan hal ini di briefing malam hari ini.

Ah, tapi mungkin bisa kumulai sekarang. Aku langsung membuka ponsel dan mengirimkan pesan kepada Leorio, Hanzo, dan Pokkle untuk meminta berkumpul di aula ini. Beberapa menit kemudian Leorio sudah muncul.

"Killua! Gon!" seruku pada kedua anak yang masih memeragakan teknik pertarungan sederhana setelah seluruh peserta bubar. Begitu mendengar seruanku, mereka berdua mendekat dan menyadari keberadaan Leorio di aula itu.

"Oi, ada apa memanggil kami semua di sini? Aku sedang mempersiapkan materi pelajaran untuk besok." Leorio langsung berucap tanpa sapaan atau apa pun. Sepertinya dia betul-betul mengerjakan tugas sebagai pelatih dengan baik.

"Waaa, Leorio, kau pasti bisa mengajar dengan baik besok. Kau mempersiapkannya dengan serius." Gon melontarkan pujian yang langsung membuat yang bersangkutan menjadi terlampau percaya diri.

"Tentu dong. Aku tidak mau terlihat bodoh di depan gadis-gadis," sahut Leorio, dengan jawaban yang tidak bermutu seperti biasa.

"Tumben kau rajin." Killua menimpali dengan kurang ajar, seperti biasa.

"Apa katamu?" Nada suara Leorio mendadak naik setengah oktaf. Disambut dengan tatapan menantang dari Killua yang memang tidak takut mati.

"Bicara soal gadis, sepertinya Killua punya banyak penggemar sekarang." Gon menyeringai menggoda sambil menyodok-nyodokkan sikunya ke lengan Killua.

"Kau bicara apa, Bodoh!" Apakah ini hanya perasaanku atau memang Killua selalu terlihat kesal setiap kali dirinya dikaitkan dengan persoalan gadis. "Lagipula kalau mau bicara soal gadis, lihatlah aksi ketua kita di belakang aula tadi."

Tubuhku menegak dan tatapan mata tajamku kuarahkan pada Killua yang kini menatapku dengan binar meledek lengkap dengan seringainya yang cukup menyebalkan. "Jangan kira kami tidak melihat drama yang terjadi di belakang sana, ya, Ketua," tambahnya lagi. Kini Gon ikut terkikik mengejekku.

"Apa sih yang sedang kalian bicarakan?" Hanya Leorio di sini yang kebingungan mendengar pembicaraan kami sambil bergantian menatapku, Gon, dan Killua.

Di sinilah aku merasa aku harus menghentikan percakapan tidak berbobot ini dan langsung masuk ke inti permasalahan yang ingin kubahas. Tepat ketika Leorio akan membuka mulut dan mulai menggali informasi apa pun, aku berkata, "Aku memanggil kalian karena ada hal yang ingin kudiskusikan dengan kalian semua."

"Hal ini berkaitan dengan teknis pelaksanaan pelatihan kita selama ini," tambahku.

"Kurapika, sebentar," sela Gon seraya mengangkat tangannya. "Apa kita tidak menunggu hingga Hanzo dan Pokkle tiba?"

"Kami sudah di sini." Secara serempak kami berempat menoleh ke asal suara. Hanzo dan Pokkle tengah berjalan dari pintu aula ke bagian depan tempat kami berempat duduk membentuk lingkaran.

"Baiklah. Kalau begitu akan kumulai." Aku berdeham dan memulai rapat panitia dadakan ini. "Pertama-tama, kuucapkan terima kasih pada seluruh panitia yang sudah menyediakan waktu untuk hadir mendadak di rapat kali ini. Aku tahu, agak terlalu cepat untuk melakukan review saat ini, sementara pelatihan baru berlangsung selama beberapa hari. Tetapi demi efektivitas pelatihan, aku akan menyampaikan usul dari kendala yang kulihat selama ini."

"Oi, Kurapika," sela Leorio dengan wajah bosan. "Lebih baik langsung ke inti pembicaraan saja. Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?"

Dasar kurang ajar. Hanya karena dia temanku tidak berarti dia bisa seenaknya menyela ucapanku yang sedang serius. "Bisakah kau tenang dulu sebentar? Aku berusaha menyampaikan ini se-efisien mungkin, supaya tidak sampai mengambil jam makan siang kita semua di sini."

Leorio akhirnya bungkam mendengar perkataanku, meski wajahnya sangat menunjukkan rasa tidak suka. Aku pun melanjutkan perkataanku tadi.

"Berdasarkan hasil pengamatanku akan kegiatan kemarin dan hari ini, pelatihan menjadi kurang efektif akibat kurangnya pengawas yang mementori peserta. Kemarin tiap-tiap kita mengawasi tiga hingga empat tim di pegunungan. Kalian tentu sudah mendengar kejadian jatuhnya salah seorang peserta ke jurang, bukan? Untungnya saat itu memang Killua sedang mengawasi tim tersebut. Tapi bayangkan jika salah seorang peserta jatuh tanpa ada panitia yang melihat.

"Lalu pelatihan barusan menjadi tidak efektif karena satu panitia harus mengajari sebegitu banyak peserta. Jadi kurasa, mulai dari sekarang seluruh panitia akan membantu mengajar di semua kelas, kecuali kelas teori Leorio. Bahkan, aku merasa kita akan membutuhkan tenaga pengawas tambahan untuk mengajar di sini. Tapi untuk saat ini kurasa cukup kita dulu yang terlibat di sini. Bagaimana menurut kalian?"

"Kau benar," timpal Killua. "Kelas tadi menjadi terlalu riuh karena sebagian peserta yang tidak diawasi justru jadi bermain-main dan tidak berlatih."

"Aku tidak masalah kalau harus mengajar di setiap kelas," sahut Gon.

"Aku keberatan," sela Hanzo. "Kelasku di hari Kamis membutuhkan cukup banyak persiapan. Hingga sekarang pun aku masih mempersiapkan semua keperluannya. Kalau aku harus mengajar juga, kurasa waktunya tidak akan cukup."

"Baik," anggukku. "Selain Hanzo, apakah di sini ada yang keberatan dengan usul ini? Atau memiliki saran yang lebih baik?"

"Aku tidak keberatan. Karena sebetulnya di sini, tugasku adalah yang paling ringan," ucap Leorio.

"Aku juga tidak masalah," sahut Pokkle.

"Yah, aku juga tidak keberatan." Killua membeo. Di sini aku memicingkan mataku, berusaha menekuri ekspresi wajah Killua secara saksama. Dari semua respon, yang paling mencurigakan adalah respon Killua. Biasanya dia akan menjawab dengan bosan, karena yang dilakukannya adalah mengikuti apa saja keputusan Gon. Tapi barusan dia menyatakan bahwa dirinya tidak keberatan. Kurasa aku perlu melihat lebih jauh tentang hal ini. Ada sesuatu yang membuat Killua tidak keberatan menghadiri seluruh kelas. Kenapa? Dia tidak terlalu senang mengajar. Aku tahu soal itu. Kalau begitu peserta. Apa ada peserta yang menarik perhatiannya? Kata Gon tadi banyak gadis yang menyukainya. Apakah dia menyukai salah seorang dari gadis itu?

Yah, tapi sebenarnya semua ini bukan urusanku juga. Buat apa aku peduli?

"Baik." Aku berdeham. "Kalau begitu sudah diputuskan. Semua panitia selain Hanzo akan menghadiri semua kelas untuk membantu mengawasi, kecuali kelas Leorio. Itu cukup aku atau ditambah dengan satu orang lain untuk membantu mengawasi."

Aku memberi jeda sejenak untuk sanggahan yang akan muncul sekiranya masih ada di antara peserta rapat yang ingin menyela atau mengkritik keputusanku. Tapi semua panitia diam menanti perkataanku selanjutnya. Oleh karena itu, aku pun melanjutkan, "Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, silakan kembali bertugas setelah makan siang nanti. Terima kasih semuanya."

Kami semua menuju kafetaria yang sudah ramai akan kehadiran seluruh peserta pelatihan. Hari ini kami mendapatkan bonus pudding mangga sebagai pancuci mulut, dan seluruh peserta ramai mengantri untuk pudding itu. Kurasa aku juga akan mencobanya nanti. Tapi sebelumnya…

Ah, itu dia. Gadis berambut biru yang berjalan dengan sedikit pincang tengah membawa nampan berisi piring makan dan segelas air menuju stan pudding mangga. Aku berjalan mendekatinya. Dan, oh, dia terlihat kesulitan memegang nampan dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengambil pudding mangga. Tanganku langsung terulur menahan nampannya tepat ketika ia akan menjatuhkan nampan piring makannya.

"Oh, maafkan aku." Gadis itu lalu mendongak, dan terkejut melihatku. Kenapa dia harus terkejut melihatku?

"Tidak apa-apa. Kau mau makan di mana? Biar kubawakan." Aku menarik nampan dari tangannya.

"Tidak!" serunya sambil menahan nampan di tangannya. "Aku bisa melakukannya sendiri. Tidak apa-apa."

Ia kini tersenyum sambil menatapku. Sudah tidak ada sisa-sisa keterkejutan yang tadi tergambar jelas di wajahnya.

"Boleh aku duduk bersamamu?" tanyaku penuh harap.

"Memang ke mana perginya teman makan siangmu yang biasa?" Aneh. Sekarang nada suaranya terdengar sedang kesal. Apa dia kesal kalau aku mengajaknya duduk semeja?

"Teman makan siang yang biasa? Maksudmu, Leorio dan lain-lain? Kami selalu membaur dengan peserta dan duduk dengan siapa saja. Dan hari ini aku ingin duduk semeja denganmu. Apakah boleh?"

Ia diam dan berpikir sejenak sebelum menjawab. "Ya. Kurasa begitu."

"Ada yang salah?" tanyaku hati-hati, karena ia nampak sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik. Dan ini juga keanehan lain yang kutemukan darinya sepanjang hari ini, karena beberapa saat yang lalu di aula, ia sudah bersikap baik denganku.

"Tidak ada," sahutnya tenang, dan agak sedikit dingin. Gadis ini kembali ke dirinya sendiri waktu pertama kali tiba di tempat ini. Tapi kali ini, ia sedikit menyamarkannya. Apa yang terjadi?

"Kau yakin?"

Ia mengangguk sekilas. "Aku akan duduk di meja itu," tunjuknya dengan gerakan bahu dan kepala. "Kalau kau sudah mengambil makananmu, temui aku di sana."

"Baiklah." Dan gadis itu lalu tanpa menjawab ucapanku. Oke, jadi dia sedang kesal, tetapi ia tetap ingin duduk denganku. Apakah ada sesuatu pada diriku? Apakah dia ingin mengatakan sesuatu padaku tentang masalahnya?

Aku tidak bisa menahan diri untuk terus memikirkan kondisi terburuk. Kurasa sebaiknya aku segera mengambil makan siang dan menemuinya supaya segera tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Aku bahkan sudah tidak berniat mengambil pudding mangga lagi saking penasarannya dengan Neon. Ketika aku meletakkan nampan makan siangku di atas meja, ia masih belum menyentuh makanannya dan menatapku dengan tatapan yang bagiku terlihat mengintimidasi.

"Omong-omong, di mana Retz? Dia sedang tidak bersamamu kali ini?" tanyaku basa-basi, berharap bisa mencairkan ketegangan yang sedang terjadi di antara kami.

"Tidak." Ia menyuap sesendok makanan ke dalam mulut. "Ia sedang ada urusan. Mungkin tidak akan ikut makan siang."

"Tidak ikut makan siang?" Aku mengernyit. Sekarang aku jadi lebih peduli akan masalah gadis yang kabur di jam makan siang ini. "Kau tentu tahu semua peserta harus makan siang, bukan? Memang apa urusannya sampai ia melewatkan makan siang?"

"Dia tetap akan makan siang. Kau tenang saja. Dia takkan makan siang di sini. Itu saja," sahut Neon tenang.

"Baiklah kalau begitu." Aku menghela napas. Percuma berdebat dengan gadis yang sedang berada dalam kondisi mood yang buruk. Yang penting Retz makan siang. Nanti akan kutanyakan apa urusannya saat bertemu.

"Di mana gadis yang kemarin makan siang denganmu?" tanya Neon tanpa menatapku. Gadis yang kemarin makan siang denganku? Oh, tunggu. Aku mendadak mengerti situasi yang sedang terjadi di sini. Tiba-tiba saja aku menjadi gembira akan kejutekan gadis ini. Aku tersenyum menatap Neon, dan gadis itu malah risi ditatap begitu olehku.

"Kenapa kau senyum-senyum begitu? Aneh sekali," ucapnya tanpa menatap mataku.

"Neon Nostrade. Coba lihat aku."

Dengan enggan ia melihat padaku. "Apa?"

"Apakah kau cemburu?"

"Apa? Tidak!" sahutnya galak. "Kenapa aku harus cemburu?"

"Aku makan siang dengannya karena dia mengajakku lebih dulu untuk duduk bersama," jelasku tanpa ditanya.

"Hah? Ya sudah. Lalu apa urusannya denganku?"

"Alasan lainnya adalah untuk membuatmu cemburu."

Ia mendengus.

"Dan ternyata rencanaku berhasil," godaku, yang langsung disambut dengan pelototan kesal.

"Aku tidak cemburu." Ia masih bersikeras. Aku tertawa senang.

"Neon, ketahuilah. Gadis yang kusukai, dari dulu hingga sekarang, cuma kau. Aku tidak pernah menyukai perempuan lain."

Ia menunduk tanpa menyahut. Dan aku penasaran ingin tahu apa yang tengah dipikirkannya.

"Kalau begitu…" Ia mendongak menatap mataku. "Kenapa dulu kau menolakku? Dan kenapa kau pergi dan lenyap selama delapan tahun? Bisakah kau menjelaskan itu?"

Tanpa sadar aku menghela napas. Aku masih berusaha memikirkan apa jawaban yang bisa kuberikan padanya. Tapi aku sadar aku tidak mungkin membohonginya. Hanya saja, aku belum siap untuk memberitahunya bahwa ayahnya lah yang melarangku menyukainya. Ayahnya lah yang membohongiku dan mengatakan bahwa kita bersaudara. Selain itu, aku juga masih perlu bukti yang menyatakan bahwa aku dan Neon tidak bersaudara. Bagaimana kalau ketika kukatakan ayahnya berbohong soal hubungan persaudaraanku dengannya, ia justru malah percaya pada ucapan ayahnya? Aku takkan bisa menyangkal apa pun tanpa bukti, bukan?

"Aku punya alasanku, Neon. Tapi aku tak bisa mengatakannya padamu. Tidak saat ini."

"Kenapa?"

"Karena kau mungkin takkan percaya pada ucapanku. Tunggulah ketika aku memiliki bukti, maka aku akan menceritakan semuanya padamu soal kejadian delapan tahun lalu. Tapi untuk saat ini, percayalah bahwa aku mencintaimu sejak dulu. Percayalah bahwa alasanku meninggalkanmu dulu, itu juga karena aku mencintaimu. Hingga saatnya aku bisa membuktikannya padamu, hingga saat itu tiba, bisakah kau percaya padaku?"

Ia memijit kepalanya perlahan dengan mata terpejam. Lalu ia menghela napas. "Aku tidak tahu, Kurapika."

Hatiku sakit mendengarnya mengatakan bahwa ia tidak tahu apakah ia bisa memercayaiku atau tidak. Aku bungkam hingga ia melanjutkan, "Ada banyak hal yang menekanku dan ada banyak hal yang dapat membuatku tidak bisa memercayaimu. Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak yakin akan diriku sendiri saat ini. Aku tidak yakin apakah pertemuan kita ini benar. Aku juga tidak yakin bahwa…memberimu kesempatan adalah hal yang tepat."

"Tidak apa-apa," jawabku. Delapan tahun ditinggalkan bukan hal mudah. Aku pun sudah bisa menduga takkan mudah mendapatkan gadis ini kembali. Ada banyak hal yang harus diungkapkan, ada banyak hal yang harus diyakinkan. Ada banyak hal yang harus kulakukan. Dan aku butuh kesabaran untuk melakukan semua itu. "Aku yakin semua hal ini begitu membingungkan bagimu. Aku juga tidak mau kau memberiku kesempatan karena terpaksa. Tapi, Neon, aku punya satu permintaan kecil, yang kuharap mau kaulakukan. Kalau bukan untukku, lakukan saja ini untuk kebaikanmu sendiri."

"Apa?"

"Nilailah segala sesuatunya dengan hati," sahutku tenang. "Kau bilang, ada banyak hal yang menekanmu, juga ada banyak hal yang membuatmu tidak yakin tentangku. Tapi buatlah segala keputusanmu berdasarkan kata hati. Ke mana hatimu mengarahkanmu, ikutilah itu. Bukan karena tekanan siapa pun, juga bukan karena fakta yang kau lihat. Karena fakta bisa saja salah, tapi memercayai hati takkan pernah bisa salah."

Ia mengangguk. "Akan kulakukan itu."

"Terima kasih."

"Mau pudding?"

Suasana sudah mencair kembali. Aku mengambil sendok yang dipegangnya dan mengambil sepotong kecil pudding untukku. Syukurlah. Dia sudah tersenyum kembali. Dan aku baru sadar, aku suka melihatnya tersenyum. Hari itu aku memutuskan, apa pun akan kulakukan, selama aku bisa terus melihat senyum itu.