Proudly present for you, all HunHan Shippers out there!

.

Gelap. Semuanya gelap. Dia tidak bisa melihat apa pun di sekitarnya. Pandangannya seolah tertutup oleh kain hitam tebal yang bahkan tidak secercah cahaya pun bisa menembusnya.

Tapi aneh. Meski semuanya gelap, meski ia tidak bisa melihat apa-apa, dia sama sekali tidak merasa sesak, tidak merasa takut seperti biasanya. Kegelapan yang menyelimutinya kali ini justru terasa begitu nyaman. Begitu damai. Begitu tenang.

Dia tidak ingat kapan terakhir kali ia bisa tidur dengan perasaan nyaman seperti ini. Kapan terakhir kali ia tidur senyenyak ini. Dia sama sekali tidak ingat. Dia bahkan tidak yakin kalau pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.

Sepertinya, ini adalah yang pertama.

Dan dalam kegelapan yang terasa begitu nyaman itu, sayup-sayup ia mendengar kicauan burung yang bernyanyi dengan begitu merdu di kejauhan. Apakah dia sedang bermimpi? Apa ini semua hanya mimpi? Karena jika benar kalau ini hanyalah sebuah mimpi, maka ia sama sekali tidak keberatan untuk berada di sini selamanya.

Pasti akan sangat menyenangkan. Jauh dari orang itu. Jauh dari semua penderitaannya. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada dirinya dan kegelapan yang menemani.

Saat serpihan-serpihan kesadarannya mulai terkumpul kembali, ia bisa merasakan sesuatu yang dingin dan basah di dahinya. Lalu beberapa saat kemudian, sebuah tangan hangat menyentuh keningnya. Bersamaan dengan kesadarannya yang semakin meningkat. Dan dia membuka matanya.

Hal pertama yang tertangkap oleh indera penglihatannya adalah sepasang mata tajam namun terkesan lembut yang juga tengah menatapnya. Dia mengernyit bingung. Ada perasaan takut yang menyeruak mendapati dirinya bersama dengan seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. Namun tatapan sepasang mata tajam itu seolah berkata kalau tidak ada yang perlu ditakuti. Kalau dia tidak akan menyakitinya. Dan entah bagaimana caranya, ia mempercayainya begitu saja. Dan rasa takut itu pun terkikis.

"Kau... siapa?" tanyanya pelan. Pemilik mata tajam itu sepertinya juga mengucapkan sesuatu di saat bersamaan. Tapi dia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan olehnya.

'Apakah dia adalah seorang malaikat?' pikiran konyolnya mulai mengada-ada.

Lalu memorinya mengajaknya untuk kembali mengingat potongan-potongan kejadian sebelum ia tak sadarkan diri. Saat ia kabur dari cengkraman lelaki tua itu. Saat ia dikejar-kejar. Saat ia bersembunyi. Saat seseorang datang menolongnya.

Sontak ia bangun dan terduduk. Pandangannya tertuju pada kasur empuk di bawahnya. Beralih pada kamar bersih dan rapi tempat ia berada. Kemudian pada jendela kaca dengan tirai yang terbuka lebar, menampilkan pemandangan indah di luar sana dengan matahari yang baru saja menyapa.

Apakah itu berarti dirinya telah berhasil?

Ia kembali menatap sosok pemuda bermata tajam yang duduk di sisi ranjang, di sampingnya. Dan sebuah senyum merekah indah di bibirnya.

Grepp

Tanpa sadar, ia berhambur memeluk pemuda itu. Merapalkan kata 'terima kasih' berulang-ulang, dengan airmata haru yang berlomba-lomba.

Ya! Dia berhasil. Dia selamat. Dan hidup.

Pemuda itu memang seorang malaikat. Malaikat yang telah menolongnya.

'Malaikatnya!'


.

Don't Say Goodbye

By: 0312_luLuEXOticS

Cast: Luhan, Oh Sehun, and others

Pair: HunHan

Genre: Sad, Romance

Rate: M (meski gak yakin *nyengir)

Lenght: Multichapter

Note: Semua cast di sini, Liyya cuma pinjem namanya aja. Cerita ASLI milik Liyya. Kalau ada kesamaan dengan cerita lain, itu murni hanya sebuah kebetulan.

Warning: Romance gagal, cerita abal, ide pasaran -_- typo(s) eperiwer, feel ngawang(?)

.

.

HAPPY READING^^

.

.


Chapter 2: Why?


.

Sehun mengetuk-ngetukkan jemari di atas konter dapur. Memikirkan apa yang telah dilakukannya. Tentang pemuda yang ia temukan tadi malam. Tentang pertanyaan demi pertanyaan yang terus bermunculan di dalam kepalanya. Tentang rasa penasarannya. Tentang siapa sebenarnya pemuda itu, dari mana asalnya, mengapa dan sudah berapa lama dia berada di tempat itu. Dan yang terpenting, bagaimana caranya ia menanyakan itu semua?

Hhhhhh. Ia memijat pelipisnya pelan. Mungkin sebaiknya tidak usah memikirkan itu dulu.

"Ehem!"

Sehun sedikit tersentak kaget saat mendengar suara itu. Terlalu larut dalam pertanyaan yang mengambang di dalam benaknya, ia sampai tidak menyadari kalau 'tamu-nya' sudah selesai dengan acara membersihkan dirinya. Ia berbalik dan menemukan pemuda itu berdiri di pintu dapur.

Sejenak, Sehun terpana saat melihatnya. Pemuda itu mengenakan setelan pakaian yang sudah ia sediakan tadi. Atasan kemeja putih miliknya yang terlihat sedikit longgar di tubuh mungilnya, serta short selutut yang justru jatuh tepat di bawah lutut pemuda itu. Dan untuk sesaat, Sehun benar-benar merasa kalau 'dia' telah kembali ke rumah ini.

Tapi itu tidak benar, Sehun meneriaki dirinya sendiri di dalam hati. Pemuda di depannya itu bukanlah orang yang selama ini ia cari. Pemuda itu adalah orang lain.

"Kau sudah selesai?" tanya Sehun setelah berhasil menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba saja menggila untuk beberapa saat tadi.

Pemuda itu menatapnya ragu. Ia mengangguk pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan Sehun. Sehun sendiri terlihat tak kalah canggung. Dia hanya terdiam di depan konter. Tangannya bergerak menggaruk tengkuk dan kepalanya yang tak gatal.

"Apa kau baik-baik saja? apa—"

Grrwwlll

Pemuda itu menggigit bibir bawahnya, tertunduk malu karena perutnya baru saja berbunyi cukup keras di depan Sehun.

Mata Sehun mengerjap, menyadari kebodohannya sendiri. "Ah~ maaf," ujarnya. "Tunggulah di meja makan. Aku akan membawakan sesuatu untukmu!"

Masih menunduk, pemuda itu beringsut ragu menuju meja makan. Ia duduk dalam diam di sana, menuruti apa yang dikatakan oleh Sehun. Dari balik poni rambutnya yang cukup panjang, ia bisa melihat Sehun yang tengah sibuk di depan konter, lalu berjalan ke arah meja makan dengan sebuah nampan yang sepertinya terisi penuh oleh makanan.

"Aku harap kau tidak keberatan dengan segelas susu dan beberapa potong roti," ujar Sehun seraya meletakkan nampan di tangannya ke atas meja. "Aku juga membuatkan bubur, karena semalam suhu tubuhmu sangat tinggi. Dan itu," Sehun menunjuk pada mangkuk mungil berisi beberapa pil. "Vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuhmu."

Pemuda itu menatap Sehun lekat. Memperhatikan setiap kata yang terucap dari bibir tipisnya. Pipinya merona hebat saat Sehun tersenyum tipis setelah mengakhiri penjelasan panjangnya. Kemudian ia beralih pada nampan di atas meja. Hatinya menghangat. Ini adalah pertama kalinya ia mendapat perlakuan seperti ini. Dan rasanya, ia seperti ingin menangis saja.

Beberapa saat setelah itu, suasana kembali hening. Sehun tidak tahu harus berkata apa, dan pemuda itu terlihat begitu menikmati makanannya. "Apa kau menyukainya?" Sehun memutuskan untuk memecah keheningan yang tercipta. "Aku tidak sering membuat bubur, jadi aku takut kalau rasanya mungkin akan sedikit aneh."

Pemuda itu tidak bersuara, hanya mengangguk pelan sebagai jawaban dan kembali makan dengan begitu lahap. Sehun pun tak berbicara apa-apa lagi setelah itu. Membiarkan pemuda itu menikmati makanannya dengan nyaman tanpa harus terganggu dengan pertanyaan konyolnya. Ia menyandarkan dagu pada sikutnya. Memperhatikan setiap pergerakan pemuda di depannya dengan seksama.

Pikirannya pasti benar-benar-benar sudah tak waras. Karena masih berharap kalau 'mereka' adalah orang yang sama. Ia bahkan tidak menyadari kalau saat ini pemuda itu telah menghabiskan semua makanannya dan tengah menatapnya bingung.

"Apa ada yang aneh di wajahku?"

Sehun terkesiap. Ia menarik wajahnya dan menegakkan posisi duduknya. "Maaf, aku melamun!" ujarnya salah tingkah. "Kau bisa istirahat lagi di kamar kalau kau mau," tawarnya. "Atau kau mau menonton televisi, mungkin? Aku akan membereskan ini, dan setelah itu aku akan menyusulmu. Oke?!" lanjutnya kemudian seraya bergerak untuk membereskan piring-piring kotor di atas meja dapur.

"Kau... tidak ingin bertanya apa pun?"

Pergerakan Sehun terhenti. Ia menatap pemuda yang juga tengah memandangnya itu. Tentu saja ada banyak sekali yang ingin ia tanyakan. Pertanyaan-pertanyaan itu bahkan sudah tertata rapi dan hanya tinggal disuarakan saja. Dan seharusnya dia memang menanyakan itu semua. Namun...

"Kau ingin aku bertanya?"

...entah apa alasannya, justru kalimat itu yang ia tanyakan. Mungkin karena binar harap di mata pemuda itu yang seolah memintanya untuk tidak bertanya. Atau mungkin justru karena dirinya sendiri yang belum siap untuk mendengar jawaban atas pertanyaannya. Karena ia tahu, khayalannya pasti akan hancur begitu pemuda itu memberikan jawaban.

Pemuda di hadapannya itu menunduk dalam. Dan Sehun tahu betul apa artinya itu. "Kalau begitu, aku tidak akan bertanya!" ujarnya kemudian. Itu benar! Dia tidak akan bertanya. Setidaknya untuk saat ini.

Mendengar hal itu, pemuda itu tampak sedikit terkejut. Tak menyangka kalau Sehun akan mengatakan hal itu. Ia mendongak dan menatap Sehun senang. "Terima kasih," ucapnya pelan. Itu berarti, dia tidak perlu menceritakan apa pun. Setidaknya untuk saat ini.

Sehun memberikan sebuah senyuman sebagai jawaban dan kembali membereskan piring kotor di meja. Ia membawa piring-piring kotor itu ke bak cuci piring dan bersiap untuk membersihkan semuanya. Namun setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya berbalik dan kembali menatap sang 'tamu'.

"Tapi aku punya satu pertanyaan, kalau kau tidak keberatan." Sehun sengaja menjeda kalimatnya cukup lama. Menikmati bagaimana ekspresi wajah pemuda mungil itu menjadi sedikit tegang menunggu apa yang akan ia tanyakan. "Boleh aku tahu namamu?"

Raut wajah pemuda itu berubah lebih rileks. Dan sebuah senyum tipis terulas di bibirnya. "Luhan," jawabnya pelan. "Namaku Luhan!"

"Luhan?" ulang Sehun.

Luhan

Luhan

Sehun kembali mengulang nama itu di dalam hati. Dia suka bagaimana lidahnya bergerak saat melafalkan nama itu. Dia suka bunyi nama itu.

"Jadi namamu Luhan?" Sehun kembali ke meja makan, di mana pemuda bernama Luhan itu masih duduk di sana. "Aku Sehun!" ia mengulurkan tangannya pada Luhan, dengan sebuah senyum yang begitu menawan.

Pemuda itu, Luhan, berdiri dan menyambut uluran tangan dari Sehun dengan senyum yang tak kalah menawan. Binar mata rusa-nya memancarkan rasa terima kasih yang begitu besar pada Sehun. Karena tidak bertanya apa-apa padanya. Karena telah menyelamatkannya.

Dan mungkin, sepertinya Sehun sedikit menyukai pemilik nama itu.

.

~HunHan~

.

Ting tong~

Suara bel itu terdengar begitu nyaring di apartemennya yang sepi. Menggema di dinding-dinding apartemen hingga akhirnya sampai di telinga Luhan. Ia menghentikan aktifitas yang tengah dilakukannya di dapur. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Ting tong~

Suara itu kembali terdengar. Luhan ingin sekali berlari ke sana dan membukakan pintu apartemen. Tapi ia tidak berani, takut jika Sehun marah. Karena ini bukan rumahnya. Dia hanya menumpang di sini. Apalagi ini belum genap seminggu dia berada di sini. Jadi dirinya sama sekali tidak punya hal untuk menyambut tamu Sehun.

Ting tong~

Sehun masih di kamar mandi, dan Luhan tidak tahu kapan dia akan keluar dari sana. Sedangkan seseorang di luar sana terus memencet bel apartemen dengan tidak sabar. Luhan menghela nafas berat. Mungkin tidak apa-apa jika itu hanya membuka pintu. Tidak mungkin Sehun akan memarahinya hanya karena hal sesepele itu, kan? Lagipula, bagaimana jika Sehun justru marah karena Luhan telah membiarkan tamu-nya menunggu lama di luar sana?

Luhan menggigit bibir bawahnya ragu. Ia akhirnya memutuskan keluar dari dapur untuk membukakan pintu. Namun saat ia berada di ruang tamu, Sehun juga keluar dari kamarnya. Dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana panjang. Selembar handuk tersampir di bahu untuk mengeringkan rambut basahnya. Mata Luhan terbelalak lebar sebelum kemudian ia berpaling dengan pipi yang merona hebat.

"Siapa yang datang?" tanya Sehun santai.

Luhan, masih tanpa menatap Sehun, menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu," jawabnya. "Aku baru saja akan membukakan pintu."

"Memangnya kau sedang apa tadi?" Alis Sehun terangkat. Ia menatap Luhan bingung. Bukankah bel sudah berbunyi sejak tadi? Mengapa dia baru akan membukakan pintu sekarang?

Luhan menatap Sehun takut. "Maafkan aku, Sehun. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengabaikan bunyi bel itu. Tadi aku sedang membuatkan sarapan untukmu di dapur. Dan tiba-tiba bel berbunyi. Tapi aku tidak berani membukakan pintu, karena ini bukan rumahku. Dan aku... aku..." jelas Luhan terbata dengan kepala tertunduk. Sehun marah. Dia pasti marah karena Luhan telah membuat tamunya menunggu. "Maafkan aku. Tolong jangan mengusirku dari sini. Aku akan melakukan apa pun yang kau perintahkan. Aku akan bekerja, membersihkan rumah, mencuci baju, aku akan melakukan semuanya. Aku—"

"Hei hei!" Sehun dengan cepat memotong kalimat Luhan yang seolah tiada akhir. Ia berjalan mendekat, dan menangkup wajah mungil Luhan di kedua telapak tangannya. Memaksa pemuda itu untuk menatapnya. "Apa yang kau katakan? Hmmm?" Ia menatap Luhan dengan begitu lembut. Ibu jarinya bergerak untuk menyeka air mata yang nyaris mengalir di sudut mata indah itu.

"Bukankah kita sudah membicarakan hal ini, Luhan?!" ujarnya lembut namun dengan penuh penegasan. "Kau akan tinggal di sini selama yang kau inginkan. Tidak ada satu orang pun yang akan mengusirmu. Kau mengerti?"

Luhan mengangguk.

"Kau juga tidak perlu bekerja, membersihkan rumah atau apalah itu. Kita akan melakukan semua itu bersama. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi, oke?!"

Luhan kembali mengangguk. Ia menggigit bibir bawahnya gugup. Matanya menatap ke arah lain menghindari tatapan Sehun. Dia bisa merasakan deru nafas segar Sehun yang menerpa wajahnya. Belum lagi keadaan Sehun yang topless. "Errm, aku mengerti. Tapi, Sehun... kau terlalu dekat," ujarnya malu. Ya Tuhan! Jantungnya berdetak kencang di dalam sana.

"Ah~ maaf!" Setengah ikhlas, Sehun menarik tangannya dari pipi lembut Luhan. Ia menggaruk tengkuknya salah tingkah dan tertawa pelan. Membuat Luhan ikut tertawa melihat tingkahnya.

Sehun menghela nafas lega melihat Luhan tertawa. Itu jauh lebih baik daripada melihatnya panik seperti tadi. Sampai sekarang, Sehun masih tidak mengerti mengapa terkadang Luhan masih begitu takut padanya setiap kali ia bertanya dengan nada yang sedikit tak bersahabat, meski sebenarnya ia tidak bermaksud seperti itu. Ia bahkan ingat sekalai bagaimana Luhan bergetar hebat dan menangis sambil terus meminta maaf padanya hanya karena tak sengaja memecahkan satu gelas, dan baru berhenti setelah benar-benar yakin kalau Sehun tidak marah. Dan kejadian itu, membuat daftar pertanyaan tak terjawab di dalam kepalanya semakin bertambah.

Sebenarnya, kehidupan seperti apa yang dijalani oleh pemuda manis itu sebelumnya?

Ting tong~

Ting tong~

Ting tong~

Suara bel yang sempat terabaikan cukup lama itu kembali terdengar. Kali ini dengan sedikit lebih tidak sabar dari sebelumnya. Dan untuk beberapa alasan, Sehun rasa ia tahu siapa yang berdiri di balik pintu apartemennya.

"Biar aku yang membukanya," Sehun menahan lengan Luhan yang baru saja akan bergerak ke pintu depan. "Bukankah kau bilang sedang membuatkan sarapan untukku tadi?"

Luhan tersenyum dan mengangguk paham.

Sehun memperhatikan pemuda itu beberapa saat sebelum menyambut sahabatnya yang pasti sedang berdiri tak sabar di luar sana. Hhhhh, entah apa yang akan dikatakannya nanti saat melihat Luhan di sini.

"Wu Shi Xun! Akhirnya kau membuka pintu apartemenmu!" Lao Gao melangkah masuk tanpa menunggu Sehun untuk mempersilahkannya. "Mengapa lama sekali? Apa kau harus menunggu sampai setengah jam hanya untuk membukakan pintu untuk sahabatmu?" Dan dia mulai mengoceh.

Sehun menutup pintu apartemennya pelan, lalu mengikuti Lao Gao di belakang. "Aku sedang mandi saat kau membunyikan bel pertama. Memangnya kau tidak lihat? Aku bahkan belum sempat memakai baju!"

"Pffft! Kau pikir aku tidak tahu? Kau memang suka bertelanjang dada jika di rumah. Memamerkan abs tidak seberapa itu pada benda-benda mati yang ada di dalam apartemen ini!" komentar Lao Gao. "Aku menjadi temanmu bukan hanya beberapa hari saja, Shi Xun!" cibirnya.

Terkadang, ingin rasanya Sehun menyumpal mulut ember Lao Gao dengan seember tteokbokki super pedas yang dijual di depan SMA-nya dulu. Jika saja pemuda berjambang cukup tebal itu bukan sahabatnya. Memilih untuk mengabaikan komentar sahabatnya, Sehun mengambil tempat duduk di depan pemuda itu. "Ada apa pagi-pagi datang ke sini?"

"Auch!" Lao Gao meringis, satu tangan mencengkram dada kirinya. "Tega sekali kau berbicara seperti itu pada sahabatmu ini, Shi Xun!" ujarnya mendramatisir.

Sehun memutar bola matanya malas. Tanpa menanggapi ucapan Lao Gao, ia menatap pemuda itu dengan tatapan datarnya.

"Ish! Dasar muka rata!" cibir Lao Gao. "Kau menghilang selama hampir seminggu. Tidak ke kampus, tidak membalas pesanku, tidak mengangkat teleponku, dan aku mulai berpikiran yang tidak-tidak. Jadi, apa aku punya pilihan lain selain datang kemari?"

"Tch! Ya! Apa kau ini ibuku?" Sehun mendecih pelan. "Bahkan ibuku tidak seperti ini saat aku kabur dari rumah selama satu minggu penuh!"

"Whoaaaaaaaaa! Wu Shi Xun! Kau benar-benar berlidah tajam pada seseorang yang telah dengan tulus mengkhawatirkanmu!" Lao Gao bertepuk tangan pelan. Dan seperti biasa, dia mulai mengoceh panjang. "Aku ini sahabatmu, kau sahabatku. Apa salah kalau aku mengkhawatirkanmu? Ditambah lagi, kesehatan psikismu masih belum stabil. Jadi—"

Tiba-tiba saja ocehan panjang Lao gao terhenti. Pemuda itu mengedarkan pandangannya kesana kemari seolah mencari sesuatu, sebelum kemudian kembali menatap Sehun. "Apa kau punya seorang pembantu sekarang?" tanyanya bingung.

Sehun membuka mulutnya untuk menjawab, namun Lao Gao kembali bersuara. "Karena aku mencium bau sesuatu yang sangat sedap dari arah dapur, tapi kau ada di sini bersamaku. Jadi jelas sekali kalau bukan kau yang sedang memasak di sana," jelasnya tak penting. "Apa kau menyewa seorang pembantu? Tapi Wu Shi Xun yang aku kenal cukup pintar memasak dan bukanlah seorang pemilih-milih makanan. Jadi tidak mungkin kau menyewa pembantu." Pemuda berkacamata itu menatapnya penuh selidik. "Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"

Sehun terkesiap. "Itu.. aku baru saja masak sesuatu untuk sarapan tadi," jawabnya terbata.

Mata sipit Lao Gao semakin memicing curiga. "Bukankah kau bilang tadi sedang mandi?"

"Errm, itu... maksudku pembantuku. Ya, pembantuku. Aku menyewa pembantu, karena kau tahu kan? Tugas-tugas kampus semakin menumpuk dan— Hei! Kau mau kemana?!"

"Wu Shi Xun! Kau memang sedang menyembunyikan sesuatu!" Lao gao berdiri dari duduknya. Ia berjalan cepat menuju dapur tanpa bisa dicegah oleh Sehun. "Dan aku harus tahu apa itu." gumamnya. Sehun yang ia kenal tidak akan membiarkan sembarang orang masuk ke dalam apartemennya. Apalagi sejak 'dia' menghilang setahun yang lalu. Sehun benar-benar menutup diri. Lagipula, si muka rata itu adalah seseorang yang perfeksionis. Dia bahkan lebih rapi dari Mama-nya, jadi buat apa menyewa pembantu?

"Apa jangan-jangan dia punya kekasih tanpa sepengetahuanku? Ah~ dasar sahabat tidak setia. Bagaimana bisa dia punya kekasih tanpa memberitahuku. Memangnya aku ini— Whoaaa!"

Langkah Lao Gao terhenti di pintu dapur. Pria chubby itu terkesiap. Matanya membola dengan bibir terbuka saat melihat siapa yang berada di sana. Seorang pemuda, lebih pendek darinya, dengan tubuh kurus, kulit seputih susu dan rambut pendek berwarna... apa itu warna merah jambu?

"Bai Xian?" lirihnya pelan. Masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Apa itu kau?"

Merasakan seperti ada yang memanggil, Luhan menoleh. Sedikit terkejut karena alih-alih Sehun, justru orang asing yang sama sekali belum pernah dilihatnya tengah berdiri di ambang pintu. Sama seperti dirinya, orang itu juga tampak terkejut. Luhan tidak tahu sebabnya, mungkin karena ini pertama kalinya mereka bertemu.

Atau mungkin ada alasan lain? Sepertinya orang itu mengatakan sesuatu tadi. Sebuah nama. Tapi itu bukan namanya.

"Kau siapa? Apa yang kau lakukan di rumah Shi Xun?!"

Mendapat pertanyaan dengan nada tak suka tiba-tiba, membuat nyali Luhan menciut. Sepertinya, dia adalah seseorang yang sangat dekat dengan Sehun. Dan orang itu terlihat tak begitu suka akan kehadirannya. Bagaimana jika dia mengusirnya dari sini? Bagaimana...

Plaakk

"AWW!"

"Berhentilah menatapnya seolah dia adalah seorang kriminal!" tegur Sehun yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang orang itu. Handuk yang tadinya tersampir di bahu berpindah ke tangan kanannya. Ia lalu beralih pada Luhan. "Ini Lao Gao, sahabatku!" ujarnya seraya memberi isyarat pada Luhan untuk mendekat.

"Namaku Luhan," ragu-ragu, Luhan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.

Orang itu, Lao Gao, mengubah ekspresi wajahnya. Ia tersenyum lebar dan menyambut uluran tangan Luhan. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk menakutimu tadi. Hanya sedikit terkejut. Hehehe," ujarnya menyesal. "Ah~ aku Lao Gao, sahabat Shi Xun!"

"Shi Xun?" Luhan mengernyit bingung.

"Ah~ maksudku Sehun. Di sini, kami biasa memanggilnya Shi Xun," jelas Lao Gao. Luhan mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu, kau lanjutkan saja apa yang sedang kau kerjakan tadi. Dan aku akan meminjam Sehun sebentar, oke! Sekali lagi maaf karena membuatmu terkejut."

Setelah mengatakan itu, Lao Gao menarik Sehun keluar dari dapur. Bahkan sebelum Luhan sempat memberikan respon apa-apa. Sehun hanya memberikan tatapan 'tidak apa-apa' saat ia menatapnya tadi. Dan seharusnya ia menelan mentah-mentah apa yang diucapkan oleh Sehun. Tapi untuk alasan yang ia sendiri tidak tahu, kali ini Luhan tidak bisa menerimanya.

"Kau harus menjelaskan ini semua padaku, Shi Xun!"

Luhan menggigit bibir bawahnya pelan, kebiasaan yang selalu ia lakukan saat sedang gugup atau menimang-nimang sesuatu. Dia tahu kalau tidak seharusnya dia melakukan ini. Menguping pembicaraan orang lain bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan. Apalagi ia melakukan hal ini pada Sehun, orang yang telah menyelamatkan hidupnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Kau menghilang selama hampir seminggu dan saat aku kemari, ada seseorang yang -untuk sesaat- aku mengira kalau itu adalah Bai Xian, tapi ternyata bukan. Siapa dia, Shi Xun?"

"Lao—"

"Dan jangan coba-coba berbohong padaku. Karena aku pasti akan langsung mengetahuinya!"

Sehun menghela nafas pelan. "Aku akan menjelaskannya. Semuanya. Tapi tidak di sini! Kita bicarakan di tempat biasa, oke! Kau pergilah ke sana dulu, aku akan menyusulmu sebentar lagi."

Setelah itu, Luhan mendengar suara pintu apartemen yang ditutup. Yakin kalau pria bernama Lao Gao itu sudah pergi, Luhan keluar dari persembunyiannya. Sehun duduk di atas sofa dengan tangan yang menangkup wajahnya. Membuat Luhan merasa bersalah tanpa alasan.

Sehun terlihat sangat lelah, dan Luhan tidak tahu mengapa. Apa karena dirinya? Apa keberadaannya di sini menyebabkan masalah bagi Sehun?

Tapi Luhan sama sekali tidak ingin menjadi masalah untuk Sehun. Pemuda itu telah menyelamatkan hidupnya, dan satu-satunya yang dia inginkan adalah agar bisa membalas semua kebaikannya. Sebagai bentuk rasa terima kasih karena telah menolongnya tanpa bertanya. Karena telah mengizinkannya untuk tinggal di sini, meski mungkin hanya untuk beberapa waktu saja.

Tapi, apa yang bisa ia lakukan untuk Sehun?

Dan nama itu. Bai Xian. Entah mengapa, sepertinya ia pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi dia tidak bisa mengingatnya. Mungkin itu hanya nama yang kebetulan sama, Luhan mengedikkan bahu, mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Tapi entah mengapa, ada sesuatu yang janggal di dalam benaknya.

Tiba-tiba saja Luhan teringat akan sesuatu. Ia menatap sebuah pintu di samping kamar Sehun yang selalu tertutup rapat.

Pemuda bernama Bai Xian yang dibicarakan oleh Lao Gao tadi, apa dia pemilik kamar itu? Kalau memang benar, lalu di mana dia sekarang?

.

~HunHan~

.

"Apa kau sudah gila?" teriak Lao Gao yang langsung mendapat hadiah tendangan keras di tulang keringnya karena membuat beberapa pelanggan kafe menatap mereka aneh. "Bagaimana bisa kau membiarkan seseorang yang tak jelas asal-usulnya masuk ke apartemenmu dan tinggal denganmu?!" desisnya tak habis pikir setelah mendengar apa yang diceritakan oleh sahabatnya.

Sehun memijit pelan pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut. "Namanya Luhan, Gao! Dan dia temanku sekarang!" ujarnya singkat.

"Apa itu penting? Apa kau bahkan yakin kalau itu memang namanya?" Lao Gao masih bersikeras. "Bagaimana kalau ternyata dia adalah buronan polisi?"

Alis Sehun terangkat.

"Oke oke, itu memang tidak mungkin. Dengan tubuh kurus kering dan wajah seperti itu, tidak mungkin kalau dia buronan polisi," ralatnya. "Tapi tetap saja. Jika dia tidak memiliki tanda pengenal apa pun, bukankah seharusnya kau membawanya ke kantor polisi? Bagamana bisa kau mempercayainya begitu saja? Bagaimana kalau ternyata dia ada hubungannya dengan para mafia? Kau bilang, dia berterima kasih karena kau telah menyelamatkannya, iya kan? Ini Beijing kawan! Mafia berkeliaran dan kau mungkin melewati mereka tanpa sadar. Dan jika benar kalau dia ada hubungannya dengan mereka, kau bisa membahayakan dirimu sendiri!" tukasnya berapi-api.

"Kau tahu? Berhentilah menonton film terlalu banyak, Gao! Kau membuat hidupmu menjadi rumit," komentar Sehun. "Dia sedang membutuhkan pertolongan, dan aku hanya ingin menolongnya. Apa ada yang salah dengan itu?" Ia menyeruput latte-nya pelan. Mencoba untuk terlihat tidak terpengaruh dengan ucapan sahabatnya itu.

Lao Gao terdiam cukup lama. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan melipat kedua tangan di depan dada. Untuk sesaat, Sehun berpikir kalau mereka telah selesai dengan percakapan ini. Namun kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir sahabatnya itu, membuktikan sebaliknya.

"Apa karena Bai Xian?"

Sehun terdiam.

"Wu Shi Xun! Kapan kau akan keluar dari lubang hitam itu, hmmm? Kau harus menghadapi kenyataan, Shi Xun! Mungkin Luhan terlihat mirip dengannya. Aku akui itu. Aku bahkan nyaris tertipu. Tapi tetap saja, Luhan bukan dia! Dan kau tidak boleh menggunakan tameng 'ingin menyelamatkannya' untuk menutupi alasan egoismu! Kau tahu itu kan?!"

Sehun menghela nafas berat. Sekilas mata, Lao Gao memang terkesan seperti pemuda bermulut besar yang suka bicara seenaknya. Tapi Sehun tahu lebih baik dari itu. Lao Gao, selalu bisa mengatakan sesuatu yang tepat di waktu yang paling tepat.

Mungkin Lao Gao benar, itu semua hanya karena alasan egoisnya. Tapi tetap saja, dia tidak bisa melepaskan Luhan. Dia sendiri belum pasti dengan alasan sebenarnya mengapa ia mau mengijinkan Luhan tinggal dengannya. Masih bertanya-tanya mengapa ia mau membantu pemuda mungil itu.

Namun untuk saat ini, tidak bisakah hati kecilnya menjadi alasan? Dia melihat Luhan yang begitu mirip dengan seseorang yang sangat dirindukan oleh hati kecilnya, tidak bisakah ia menjadikan itu sebagai sebuah alasan?

.

~HunHan~

.


To be Continued


A/N:

Yo Yo Maaaaaaaaaaaaaaaan! And Woman too!

Setelah beberapa minggu(?) kena WB, akhirnya apdet. Aduuuuuuh, ini feelnya masih ngawang banget, Liyya tau kok huhuhuhu. Ini alurnya emang kelihatan lambat, tapi seiring berjalannya waktu semua akan berubah kok :D

Yang tanya tentang endingnya, tenang aja. Ini PASTI Happy Ending kok ;)

Liyya ucapkan baaaaaaaanyak banyak terima kasih buat kamu, kamu, kamu yang udah mau baca. Terima kasih plusplus buat yang mau foll/fav. Dan terima kasih baaaaaaaaaanyak banyak yang plusplusplusplussss buat kamu, kamu, kamu yang mau review!


Balasan Review:

Na U-Young92: Yoooooooooooooooooong! Ai lop yuuuu! Makasih udah mau nyempetin diri buat baca dek.

Makasih udah ngereview^^

lulu ana: Hai deeeeeeeek. Kenapa gak komen banyak2? Bikin drabble gt dek do kotak review XD Lao Gao maksa maksa. Mw nemenin Luhan katanya XD XD XD

Makasih udah ngereview^^

Guest: Masa lalu Luhan akan diceritakan seiring berjalannya waktu yaaaa :D

Makasih udah ngereview^^

sehunhan: Bukan dek. Si anak(?) ilang(?) sama Luhan tuh dua orang yang berbeda kok. Dan pastinya mereka bakal ketemu lagi nanti :P

Makasih udah ngereview^^

Ludeer: Ceritanya Luhan nanti akan ada di , errrmmm, chap sekian sekian yaaa :) Yah, begitulah deeek. Bahkan maunya sih lebih tragis wkwkwkwkwk.

Makasih udah ngereview^^

Guest: Pacar Sehun? Tuh udah ada klu-nya di atas :)

Makasih udah ngereview^^

bambi: 'dia' itu, samwan XD

Makasih udah ngereview^^

Yang punya akun, bisa cek PM-nya yaa!See U, next chapter!

Salam XOXO dari Liyya