Figther Hati
Naruto © Masashi Kishimoto
Summary: Making a big life change is pretty scray. But, know what's even scarier? Regret. RnR
Warning : Typo maybe, gaje, abal.. dll
-Sasusaku-
"Sakura?"
"Gaara!"
"Astaga, apa yang sedang kau lakukan di Suna?"
"Berlibur, hehehe. Bagaimana kabarmu, Gaara?"
"Baik tentu saja. Kau?"
"Aku baik, Gaara. Menemani Temari-san? Aku ingin menyapanya!" Sakura meletakan keranjang buahnya di lantai dan menghampiri Temari.
"Temari-san! Hallo."
"Ah! Sakura! Sudah lama sekali tidak bertemu! Bagaimana kabarmu?"
"Baik! Bagaimana kabar Shikamaru?"
"Ah, tetap saja menjadi Shikamaru yang biasa. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku akan membuat makan siang special dan kankuro sedang tidak dirumah. Kau bisa menemani Gaara."
"Temari, jangan sembarangan!"
"Baiklah! Tapi aku harus kembali sebelum makan malam." Ujar Sakura sambil melirik ke jam di Telepeon genggamnya.
"Akan ku antar nanti," Sahut Gaara.
"Yosh! Kalau begitu Sakura, bantu aku memasak ya?"
"Hai!"
Sasuke menghempaskan dirinya di sofa empuk di ruang kerjanya. Badannya terasa sangat lelah setelah mengoperasi pasien selama 8 jam, dan waktu sudah menunjukan pukul 8.30 malam. Biasanya Sasuke akan mencari makan di restoran, melihat pasangan-pasangan bahagia yang makan malam bersama di restoran, kemudian pulang kerumah dengan keadaan lelah dan memecahkan cermin sebelum pergi tidur. Namun semenjak kedatangan Sakura kembali di hidupnya mau tidak mau semngat hidup Sasuke serasa kembali lagi. Padahal, Sasuke tau bahwa Sakura mungkin tidak akan kembali ke sisinya, namun melihatnya saja sudah membuat Sasuke bahagia.
Baru saja Sasuke akan pulang, sebuah telepon masuk dari telepon genggam Sasuke. Sasuke tidak mengenali nomor telepon tersebut, tapi takut-takut nomor tersebut nomor pasien, Sasuke mengangkatnya.
"Halo."
"Sasuke? Jam berapa kau pulang dari rumah sakit?"
"Sakura? Baru akan pulang."
"Baiklah, aku menunggu di apartemenmu. Kita harus bicara."
"Hn."
Telepon ditutup dan meninggalkan senyuman pada paras tampan Sasuke. Kapan ya terakhir kali Sasuke tersenyum hangat? Ne, Sasuke masihkah kau memakai egomu dan tidak bicara pada Sakura tentang perasaanmu? Cepatlah pulang dan temui gadismu, sebelum ia menghilang dan kau tidak bisa menemuinya lagi.
Sasuke bergegas mengambil kunci mobilnya dan berlari kecil menuju mobil sportnya. Sasuke, kau harus menjadi lelaki yang tegas. Kejarlah wanitamu sampai dapat, jangan ulangi kesalahan di masa lalu. Buktikan padanya, bahwa kau pantas untuknya! Teriak Sasuke dalam hati. Didepan lobby apartemen, Sasuke melihat sebuah mobil sport berwarna merah yang empunya baru saja masuk kedalam dan menyalakan mobil. Tunggu, bukankah itu Gaara? Apa yang dia lakukan disini?
Tanpa berpikir panjang, Sasuke memarkir mobilnya dan segera turun menghampiri Gaara yang baru saja masuk ke mobil. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke to the point.
"Memangnya itu urusanmu? Bagaimanapun juga ini tempat umum, Sasuke."
"Kau tidak akan kemari kalau bukan karena seseorang," Balas Sasuke dengan tatapan tajam.
"Heh, tentu saja tidak akan. Apartemenku lebih baik daripada Uchiha."
"Simpan omong kosongmu. Kau bertemu Sakura?"
"Ya, kami menghabiskan waktu bersama hari ini, Sa-su-ke. Sudah ya pembicaraan ini akan berakhir tidak damai, aku pergi," Gaara melesatkan mobil sport merah keluar wilayah apartemen Sasuke. Sementara tak satupun suara keluar dari bibir Sasuke selain gertakan halus dan kepalan tangan.
Sasuke menaiki ruang apartemen dengan gelisah, sebenarnya apa yang ingin di bicarakan Sakura malam-malam begini? Sasuke membuka pintu apartemen dan melihat sosok gadis bersurai merah muda sedang menata makan malam di meja makan. Bau harum bumbu dapur dapat dengan jelas tercium oleh hidung mancung Sasuke.
"Sakura."
"Ah! Sasuke, Okaeri.. aku menyiapkan makan malam. Ayo kita makan malam!" Sakura membuka celemek dan membuka jas Sasuke kemudian menggantungnya di gantungan baju. Sasuke sedikit syok dan tidak bereaksi apapun melainkan duduk di meja makan dengan diam menatap semua makanan dan jus yang ada di meja. "Sakura.. kau yang membuat semua ini?"
"Um, tentu saja. Perkataanmu bahwa aku tidak bisa masak harus kau tarik kembali. 5 tahun terakhir ini aku bekerja keras untuk membuktikan padamu," Sahut Sakura mantap. Sasuke tersenyum tipis dan mulai makan bersama dengan Sakura. Perjuangan Sakura 5 tahun terakhir untuk belajar memasak tentu saja tidak sia-sia. Benar-benar makan malam yang luar biasa, sahut Sasuke dalam hati.
"Sakura.."
"Hm?"
"Hari ini kau keluar dengan Gaara?" Dasar Sasuke bodoh yang tidak tau keadaan.
"Eh? Memangnya kenapa?"
"Jawab saja, Sakura."
"Kalaupun iya bukan urusanmu kan?" Sakura mengepalkan tangannya sembari memberanikan diri menatap Sasuke.
"Tentu saja urusanku!"
"Kau bahkan tidak peduli padaku semenjak dulu! Bagaimana bisa kau bilang itu urusanmu!" Sakura berdiri dan menatap Sasuke dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Apa sia-sia yang dilakukan Sakura hari ini?
"Sakura.."
"Jelaskan padaku, Sasuke!"
Sasuke menghela nafas kemudian menatap Sakura dengan lembut. "Sakura, maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi kata-kata ini lagi. Tapi, aku mengakui di masa lampau aku melakukan kebodohan yang melukaimu. Sekarang, malam ini juga aku mohon padamu untuk memberiku kesempatan sekali lagi. kumohon, Sakura."
Sakura diam ditempat tak bergeming. Bagaimana dia dapat memaafkan laki-laki yang sudah menyakitinya dulu? Apakah benar Sasuke sudah berubah? Haruskah ia kembali ke sisinya? Tidak Sakura! Sasuke pasti tidak akan berubah! Sasuke akan menyakitimu lagi! "Sasuke.. maaf.. aku harus per-"
GREP
"Baiklah, aku tidak akan memintamu kembali. Tapi tetaplah tinggal sebentar," Tangan kekar Sasuke berhasil menahan tubuh mungil Sakura dan membawanya kepelukan Sasuke. Keduanya hanya berpelukan dalam diam. Baik Sakura maupun sasuke tak dapat menyangkal bahwa mereka berdua memang sangat merindukan satu sama lain. Seakan sadar akan sesuatu, Sakura tersentak dan seketika menjauh dari Sasuke. Sakura terisak dan segera pergi meninggalkan Sasuke serta barang-barang Sakura dan keluar dari apartemen Sasuke. Sasuke turut keluar dan mengejar Sakura yang dengan bodohnya memilih tangga darurat untuk turun.
"HARUNO SAKURA BERHENTI SEKARANG JUGA!" Teriak Sasuke sambil membanting pintu darurat. Sakura tersentak dan terdiam sambil masih terisak, ia membungkukkan badan kemudian memeluk lutut dan menangis. Sasuke menghela nafas dan duduk di sebelah Sakura, perlahan ia menggenggam pundak Sakura dan mengelusnya, membawa Sakura kedalam pelukannya.
"Menangislah, Sakura. Aku tidak akan pergi lagi."
"Sasuke.. " Sakura tidak dapat membendung semua rasa sakit selama 5 tahun ini, Sakura memang tidak pernah bisa melupakan Sasuke sedikitpun sejak 5 tahun lalu. Sakura mencintai Sasuke, dan hal tersebut terbukti sekarang, Sakura hanya ingin memeluk Sasuke lebih lama lagi.
Percaya atau tidak suhu ruang di dalam pintu darurat cukup pans ditambah keduanya selesai berlarian, membuat Sasuke sedikit sesak nafas. "Sakura, lebih baik kembali ke kamar dulu, tidak baik berlama-lama di ruangan pengap seperti ini," Keduanya pun kembai ke kamar Sasuke dan Sasuke memberi Sakura sedikit air hangat untuk menenangkan diri.
"Sakura, ini saatnya kita bicara. Aku hanya berbicara sekali, jadi aku minta kau dengarkan baik-baik," Sakura meletakan gelas di atas meja dan menghela nafas.
"Pertama, aku minta maaf atas semuanya. Kedua, kau yang memutuskan aku. Ketiga, aku masih mencintaimu, kembalilah bersamaku," Singkat, padat, jelas seperti yang selalu diketahui dari Uchiha Sasuke, irit bicara.
"Menjalankannya tak semudah yang kau katakan, Sasuke."
"Kenapa tidak? Semua sudah masa lalu, Sakura. Demi Tuhan! 5 tahun yang lalu!"
"Tapi.."
"Kita berdua masih sangat muda, aku baru saja menghadapi sulitnya dunia baru. Kumohon mengertilah, Sakura."
Sakura tertegun. Apa selama ini Sakura memikirkan perasaan Sasuke? Apa 5 tahun lalu Sakura pernah bertanya keadaan Sasuke? Bagaimana kehidupannya sehari-hari? Apakah pelajarannya susah? Benar. Yang selalu Sakura pikirkan hanyalah dirinya. Sampai ia lupa bahwa hubungan harus didasarkan pada komunikasi dan kasih sayang kedua belah pihak. Sasuke benar, mereka berdua masih sangat muda 5 tahun lalu.
"Sasuke, maafkan aku sudah egois. Tidak pernah mau mendengarkan penjelasanmu atau segala cerita dari sisimu. Aku-" Belum selesai bicara, bibir ranum Sakura telah dikunci rapat oleh bibir Sasuke. Sasuke menciumnya dengan lembut dan hati-hati menyesap semua bagian bibir Sakura yang dihiasi oleh lipbalm stroberi. Keduanya tak saling melepaskan seperti terhanyut dalam nostalgia dan rasa rindu mendalam sampai akhirnya kebutuhan udara harus melepaskan tautan bibir mereka.
"Mulai hari ini kau tinggal bersamaku disini, Sakura. Dan, jangan coba-coba berani keluar dengan si rambut merah itu."
"Apa? Tidak bisa begitu! Aku harus bekerja! Rumahku bagaimana? lagipula, Gaara punya nama! dan kami hanya teman!"
"Aku akan mengurus semuanya. Tapi sebelum itu.."
"HEI! TURUNKAN AKU SASUKE NO BAKA!" hanya dengan satu tangan Sasuke mengangkat badan mungil Sakura dan membawanya ke kamar Sasuke serta menguncinya. Sepertinya keduanya akan sibuk sampai besok pagi saling melepas rindu satu sama lain.
OWARI
Bagaimana minna-san?
Agak teralu cepat atau garing mungkin (?)
Sudah lama Ai tidak bisa update karena Fanfiction terus kena internet sehat sedih
Ditambah kesibukan sebagai MABA itu cukup membuat hati kesal #curhat #bodoamat
Mungkin Ai akan lebih sering update dengan cerita-cerita baru mulai Februari mendatang
Jangan lupa di tekan tombol Follow Favorite and kolom Review ya!
Ai juga ingin bisa berkembang supaya bisa menghibur para readers yang baik hati
#SalamMaba #SalamAuthor
OMAKE
"Jadi.. biar aku luruskan.. Kau ingin mengadakn pesta di Longue milikmu yang ada di bawah itu?"
"Hn."
"Sasuke, apa kau masih hidup?" Pria berambut kuning jabrik tersebut mengguncang tubuh Sasuke berkali-kali memastikan bahwa telinganya tak salah dengar.
"Jangan berlebihan, Naruto. Datang saja."
"Ah, baiklah.. Aku akan datang dengan Hinata. Tapi kenapa tiba-tiba sekali?" Tanya Naruto sembari menyesap teh hangat yang disediakan Sasuke.
"Sasuke! Bisa tolong handukku? Aku lupa mengambilnya!" Teriakan manja seorang wanita sukses membuat Naruto menyemburkan seluruh isi teh yang baru saja akan sampai ditenggorokan Naruto. Sementara sebah seringai kemenangan muncul dari bibir seorang lelaki yang namanya baru saja dipanggil.
"TEME!"
