First Case.

.

.

.

.

"KALIAN BERDUA KEKANTOR SEKARANG JUGA!"

Begitulah isi pesan singkat dari yang masuk kedalam ponsel Chanyeol dan Baekhyun tepat pada jam 07:00 pagi. Baekhyun sendiri, ketika ponselnya berdering dan menampilkan isi pesan Kai maka Baekhyun dengan sigap bangun dan segera mandi. Selanjutnya setelah berpakaian rapih, Baekhyun bergegas pergi menuju kantor The Lightsaber dengan menggunakan bus.

Lain dengan Baekhyun, Chanyeol yang ketika ponselnya berdering mendapatkan pesan dari Kai, si pria bertelinga lebar nan panjang itu masih asik bergelut dengan selimut hangatnya ditemani dengan mimpi jatuhnya puluhan ribu lembar won yang sebentar lagi akan membuatnya kaya raya dan menikamati indahnya pasir pantai Hawaii. Bahkan saat tidur Chanyeol tersenyum sendiri, bisa dipastikan jika ia begitu menikmati mimpi indahnya. Hingga deringan ponsel Chanyeol yang terus berbunyi berhasil membuyarkan mimpi sang pria tinggi dan itu adalah telpon dari si pendek Baekhyun.

"Yeoboseyo" sapa Chanyeol yang masih setengah sadar.

" Kau sedang dimana Chan! sudah mencarimu daritadi!" marah Baekhyun dari seberang sana. Karena masih belum sepenuhnya sadar Chanyeol hanya menjawab..

"Hah?" Singkat Chanyeol. Membuat Baekhyun mendengus kesal.

"Kau sedang dimana Park Chanyeo!" Ulang Baekhyun.

"Hawaii.."

"Oh.. kau di Hawaii." Jawab Baekhyun lega lalu hening seketika. "Ya Tuhan Chan! Ini serius! Jika kau tidak datang ke kantor sekarang juga maka kau akan dipecat menjadi seorang detektif!"

Mendengar kata 'dipecat' membuat Chanyeol langsung terbangun dari tidurnya. Jujur ia sedikit trauma memdengar kata 'dipecat' semenjak pemecatannya dari cafe Kyungsoo beberapa waktu yang lalu.

"Oke!oke! Aku akan segera kesana Baek!" Jawab Chanyeol tergesa.

Seperti biasa, karena takut terlambat-walaupun sebenarnya memang ia sudah terlambat, Chanyeol melakukan semuanya dengan terburu-buru. Mulai dari ia mandi, sikat gigi, berpakaian, memakai sepatu, sampai keluar dari apartemen saja, Chanyeol melakukannya dengan sangat cepat. Sebenarnya Chanyeol sedang sakit perut dan ia ingin sekali buang air besar tapi tidak ada waktu untuk itu. Jika Chanyeol masih sempat buang air besar saat dia sedang diburu waktu maka bisa dipastikan Chanyeol akan terlambat tiba dikantor dan kemungkinan besar Chanyeol akan dipecat-Oh tidak!

Saat Chanyeol sedang berada didalam bus yang membawanya ke arah kantor, wajah Chanyeol berubah menjadi merah padam. Ini bukan karena ada seorang gadis yang duduk disebelahnya walau gadis itu memang terlihat sangat cantik dan err.. begitu seksi, namun sungguh bukan karena itu wajah Chanyeol menjadi merah. Melainkan karena karena saat ini Chanyeol sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan kentutnya yang ingin keluar. Dan sungguh itu sangat menyiksa Chanyeol.

Satu menit.. Chanyeol masih tetap menahannya.

Dua menit.. Ia masih mempertahankan angin nan busuk itu mendekam diperutnya.

Tiga menit..

Empat..

Li..

Prrreeeeeettttt...

Chanyeol akhirnya tidak mampu lagi melawan kentutnya sendiri dan suaranya sangat nyaring. Beberapa anak sekolah yang ada didalam bus bahkan saling menuduh temannya sebagai pelaku pengentutan didalam bus. Sialnya bus yang dinaiki Chanyeol memiliki fasilitas air conditioner dan peraturan jika kaca bus tidak boleh dibuka. Kalian bisa membayangkan bukan jika kentut Chanyeol terperangkap dalam bus dan tidak bisa keluar begitu saja? Dan perlu kalian ingat kentut Chanyeol itu-mematikan..

Seluruh penumpang bahkan termasuk Chanyeol berusaha menutup hidungnya dengan benda apapun yang bisa mengahalangi terhirupnya kentut Chanyeol. Ada yang menggunakan sapu tangan, dengan jari telunjuk dan ada juga yang menyumpal kedua lubang hidungnya dengan sumpit yang ia bawa. Oh oke ini berlebihan. Pemandangan yang sungguh menyeramkan didalam bus dan tak terpanah terbayangkan sebelumnya.

Bahkan seorang penumpang wanita memohon kepada sang supir bus dengan suara lirihnya dan napas yang tersenggal-senggal. " Aaaahhhjjuuusssiii.. ttttoooolllooonngggg. tuurruuunnkkkaaannn aaaakkkuuuhhh.. ssseekkkkaaarrraaannnggg."

Dan sang sopirpun menjawab dengan tak kalah lirihnya. "Mmmaaafff aaaaggaaassshhhiii... akkkkuuuhhh tttiiidddaakk bbiiisssaaa.. hhaaalllltttteennnyaaa mmaaassiihh jjjaauuuhhh..."

" tttttaaaappppii aakkkuu sssuuuddaahh ttiiidakk taahhhaann ddenngggaaann bbbaaauuu iiiiniiii." Sahut yang lain.

" aaakkkkuuu jjjuuugggaaa. Tttaapi hhaallteennyyaa maaasssiihhh jaaauuhhh.. beerrttaaahhaannllaah.. ssseebbeennntaaar lllaaggiii.. kkkiitttaa ppaassstii bbbisssaa bbbeeerrtttaaahhhan.." ucap si sopir bus dengan suara yang hampir habis.

Sungguh dramatis pemandangan yang dilihat Chanyeol. Semua penumpang berusaha bertahan hidup dari bau kentutnya yang benar-benar berbau busuk itu. Saat melihat kejadian dramatis didepannya dengan terkesima, didalam benak Chanyeol, ia sungguh ingin sekali memecahkan kaca bus agar bau kentut yang terperangkap bisa menguap ke udara, namun Chanyeol berpikir lagi karena pria pemilik bau kentut yang super itu tidak memiliki uang untuk mengganti kaca bus yang akan ia pecahkan.

Beberapa meter lagi, bus akan berhenti dihalte. Seorang wanita yang meminta sopir bus untuk berhenti tadi terbaring dilantai dengan keadaan lemah. Dengan tenaga yang tersisa sang sopir bus mengerem busnya dan menekan sebuah tombol agar pintu keluar bisa dengan cepat terbuka. Dan seluruh penumpangpun segera berhamburan keluar, tidak peduli itu halte tujuan mereka atau bukan, yang terpenting adalah mereka bisa bebas dari harumnya kentut Chanyeol.

"Aaaiiirr.. aaaiiirrr akuu butuh aiiirr!" Teriak salah seorang penumpang yang berhasil keluar dari dalam bus dengan keadaan selamat. Tak lama kemudian penumpang itu berbaring ditanah dan pingsan. Beberapa penumpang yang sedang menunggu bus dihalte, langsung membawanya kerumah sakit terdekat, begitupun dengan penumpang yang pingsan didalam bus termasuk sang sopir didalamnya.

Chanyeol yang juga sudah keluar dari dalam bus, berjalan menjauh meninggalkan halte. Dia tidak ingin tersangkut masalah akibat kentut mautnya. Sebagai seorang detektif pemula, seharusnya dia tau, jika Chanyeol harus mempertanggung jawabkan kentutnya yang menjadi sumber masalah, bukannya malah meninggalkan korban yang tidak berdaya akibat kentut dengan baunya yang menyengat itu.

Setibanya Chanyeol dikantor, raut wajah berubah merah. Matanya melotot tajam kearah Chanyeol yang sedang tertunduk lesu. Dan Kyungsoo, asisten Kai, keluar dari sebuah ruangan dengan membawa dua gelas minuman untuk Chanyeol dan Baekhyun.

"Park Chanyeol! Ini baru hari pertama kau bekerja, dan kau sudah terlambat? Apa kau menganggap pekerjaan ini main-main?!"gertak Kai.

"Ma.. maaf bos.. aku tau aku salah. Aku berjanji ini adalah hari terakhir keterlambatanku, bos." Jawab Chanyeol.

"Kau harusnya melihat partnermu Chan!" Ujar Kai sambil menunjuk Baekhyun. " Dia tepat waktu sampai ke kantor! Harusnya kau bisa mencontohnya!"

" iya.. Bos.. maafkan aku." Kaipun mendengus.

" Ya sudah kalau begitu. Kalian berdua akan aku berikan sebuah kasus hari ini." Ucap Kai memberitahu.

" Kasus, Bos? Kasus besar atau kasus kecil? Pembunuhan? Perampokan? Transaksi narkoba? Wuuuaahhh ini akan menyenangkan sekali!" Seru Baekhyun dengan sangat menggebu-gebu.

"Relax, Byun!" Ujar Kai seraya mengangkat telapak tangannya. " karena kalian masih baru, aku tidak akan memberikan kasus yang berat dan sulit. Semalam aku dimintai tolong oleh seorang nenek yang sedang kehilangan kucing kesayangannya. Dan tugas kalian adalah menemukan kucing kesayangan nenek itu!" Lanjut Kai menjelaskan.

Chanyeol dan Baekhyun saling menatap, meskipun kasus yang akan mereka tangani agak sedikit- aneh..namun mereka bersedia menjalankan tugas perdana mereka.

"Baik Bos!" Jawab Chanyeol dan Baekhyun serempak.

Kai lalu mengeluarkan sebuah kertas kosong dari dalam laci mejanya. Dia kemudian menuliskan alamat si nenek yang bernama Kim Taeyeon dengan lengkap. Setelah selesai dicatat, kertas yang berisi alamat rumah nenek Kim itu Kai serahkan kepada Chanyeol.

"Alamatnya ada didaerah Myeongdong, Baek." Seru Chanyeol saat ia melihat rentetan tulisan hangul didalam kertas.

"Itu berarti kita harus menaiki subway terlebih dahulu lalu melanjutkannya dengan menggunakan bus." Jawab Baekhyun yang juga telah melihat alamat nenek Kim yang diberikan .

" Baiklah.. ayo kita bergerak kesana sekarang juga detektif Byun!" Ajak Chanyeol.

" Oke detektif Park.. Kami pergi dulu Bos!" Pamit Baekhyun diikuti Chanyeol.

" good luck guys!" Seru sambil mengacungkan jempolnya. Dan dari luar kantor, tiba-tiba Baekhyun berteriak kencang.

"FIGHTING!"

"Kau kenapa Baek?" Tanya Chanyeol dengan perasaan sedikit aneh karena melihat Baekhyun yang tiba-tiba saja berteriak dengan suara cemprengnya.

"Tak apa Chan hehehe..aku hanya sering mendengar kata Fighting di acara Running man yang sering aku tonton. Dan aku menirunya.. jika sudah berteriak seperti itu aku akan menjadi lebih bersemangat." Jelas Baekhyun dengan senyum bulan sabitnya yang mulai sedikit Chanyeol sukai.

"Benarkah?" Ujar Chanyeol seraya mengganggukan kepalanya mengerti." Boleh aku menirunya juga, Baek?"

"Tentu Chan.. ayo kita lakukan bersama-sama. Aku akan menghitung mundur dan teriakanmu harus keras oke!"

"Oke!" Dan Baekhyun mulai menghitung mundur.

"Tiga! Dua! Satu!"

"FIGHTING!" Teriak Chanyeol dan Baekhyun bersamaan dengan mengepalkan tangan mereka dan mengangkatnya keudara. Mendengar ada teriakan yang tiba-tiba dan menggelegar, beberapa pejalan kaki berhenti dan menoleh ke arah mereka berdua membuat Chanyeol dan juga Baekhyun hanya bisa menunduk menahan malu. Mereka kemudian melangkahkan kakinya menuju halte untuk menaiki bus yang akan membawa mereka ke stasiun subway.

..

..

..

..

..

Mereka berdua akhirnya tiba di Myeongdong, setelah memakan waktu dalam perjalanan sekitar satu jam. Suasana di Myeongdong begitu ramai dengan aktivitas jual beli. Karena sesungguhnya, Myeongdong merupakan kawasan jual beli dengan harga miring yang ditawarkan penjualnya. Maka tidak heran, setiao harinya ada saja toko yang memberi diskon besar-besaran.

"Kita berbelanja dulu, bagaimana Baek?"tanya Chanyeol memberikan usul dengan mata yang berbinar-binar karena tidak tahan melihat diskon yang disajikan didepan matanya.

"Aku mau saja Chan. Tapi, aku tidak yakin jika kau sekarang punya uang." Tebak Baekhyun.

Chanyeol lalu segera memeriksa dompetnya dan.. TTTAAARRAAAA... tak ada selembar wonpun terselip didalam dompet sang detektif Park. Uang yang ia punya hari ini sudah Chanyeol gunakan untuk membayar bus dan subway. Chanyeol mendengus pasrah, ia begitu meratapi kesengsaraannya hari ini yang tidak memiliki selembar wonpun padahal barang-barang diskon sudah didepan mata. Sedangkan Baekhyun hanya tersenyum melihat tingkah Chanyeol yang menurutnya begitu menggemaskan hingga pria yang lebih pendek itu merangkul si pria tinggi walau Baekhyun harus menjijitkan lebih tinggi kakinya.

"Kita harus fokus dengan kasus ini, Chan."

" ya.. kau benar. Aku akan fokus." Jawab Chanyeol lalu disusul desahan napasnya yang panjang karena harus merelakan barang-barang murah itu begitu saja.

"Sudahlah, kau tak usah cemas. Aku yang akan membayar bus dan subwaymu saat kita kembali ke kantor nanti. Emmm dan nanti malam aku akan mentraktirmu makan malam juga. Bagaimana?"

Wajah Chanyeol yang tadi terlihat lesu, tiba-tiba berubah menjadi senang karena tawaran makan malam dari Baekhyun. "Baiklah.. terima kasih Baek."

Baekhyun membalas ucapan terima kasih dari Chanyeol dengan memberikan senyuman terbaik yang ia punya. Mendapat senyunan seperti itu lagi, Chanyeol menepuk dadanya yang bergetar karena sungguh senyuman si pendek Byun sangat indah. Mereka kemudian berjalan mencari alamat rumah nenek Kim Taeyeon, yang sudah Kai tuliskan didalam secarik kertas yang dipegang Baekhyun.

Hampir sepuluh menit mereka berdua mencari alamat nenek Kim, tapi mereka belum juga menemukannya. Chanyeol dan Baekhyun bahkan sampai berpencar untuk mencari alamat nenek Kim. Namun hasil yang mereka dapatkan adalah nihil.

Baekhyun yang sedang duduk disamping Chanyeol dibawag sebuah pohon rindang bangkit dari tempat duduknya. Dia menghampirj pejalan kaki yang kebetulan lewat dan menanyakan lokasi rumah nenenk Kim Taeyeon.

"Maaf, apakah anda tau alamat ini?" Tanya Baekhyun sambil menunjukkan alamat yang tertera dikertas.

"Aku tidak tau, maaf." Jawab salah seorang pejalan kaki yang ditanya Baekhyun.

"Ah baiklah.. terima kasih."

Ada lagi pejalan kaki yang lewat didepan Baekhyun, lalu ia kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepada si pejalan kaki tersebut tentang alamat rumah nenek Kim Taeyeon namun jawaban yang Baekhyun dapatkanpun masih sama. Mereka tidak tau alamat yang Baekhyun tunjukkan.

Chanyeol yang melihat aksi Baekhyun dari kejauhan, bangkit dari tempat duduknya. Dia lalu berlari kecil menghampiri Baekhyun yang terlihat masih sangat bersemangat menanyai para pejalan kaki yang lewat didepannya. Tanpa Chanyeol sadari, kaki panjang Chanyeol menginjak tali sepatunya sendiri hingga pria bertubuh tinggi itu terjatuh. Dan kebiasaan Chanyeol terjatuh karena kaki panjang sendiri kembali muncul.

"KKKOOOLLLOORRR IIIIIIJOOOOO!" umpat Chanyeol dalam dialeg busan setelah dia terjatuh menghempas ke tanah.

Melihat partnernya terjatuh, Baekhyun segera menghampiri Chanyeol yang meringis kesakitan.

"Kau tak apa, Chan?" Tanya Baekhyun khawatir.

"Sakit.." ringis Chanyeol manja. Karena terjatuh, luka disiku Chanyeol kembali terluka dan mengeluarkan darah segar.

"Tunggu disini, aku akan ke apotik sebentar." Baekhyun langsung berinisiatif mencari apotik terdekat untuk membeli kapas dan obat luka untuk Chanyeol.

Tak lama kemudian, Baekhyun kembali dengan membawa sebuah bungkusan plastik kecil yang berisikan obat luka, kapas dan sebotol air mineral. Baekhyun lalu meminta Chanyeol kembali duduk dibangku untuk membersihkan luka Chanyeol yang masih saja mengeluarkan darah.

"Tahan sebentar.. ini akan sedikit-menyakitkan." Ucap Baekhyun memperingati.

"Pelan-pelan, Baek."

Baekhyun lalu menumpahkan cairan obat merah pada kapas yang ia pegang. Kapas tersebut langsung Baekhyun tempelkan pada siku Chanyeol yang terluka. Kemudian Chanyeol berteriak keras saat ia merasakan perih yang luar biasa. "ANNNNDDWWEENNNDDDAAAA!."

Bekhyun mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti dengan arti teriakan Chanyeol barusan, karena Chanyeol berteriak menggunakan dialeg Busan yang Baekhyun tidak mengerti. " please Chan, Gunakan dialeg Seoulmu atau bahasa Inggris. Aku tidak mengerti dengan arti teriakanmu tadi."

"Oh.. oke Baek.. Aaaannnniiiiiiyyyooooo! Nnnnnoooooo!" Ulang Chanyeol.

"That't sounds good." Puji Baekhyun. " cah.. sudah selesai." Ucap Baekhyun setelah mengobati luka Chanyeol.

Chanyeol lalu melihat sikunya. Lukanya sudah tertutup rapat dengan kapas pengobatan yang dilakukan Baekhyun memang cukup rapih dan bersih.. dan Chanyeol berterima kasih untuk itu.

"Terima kasih, Baek."

Baekhyun kemudian membantu Chanyeiol berdiri. Mereka berdua harus segera menemukan alamat nenek Kim Taeyeon. Jika mereka tidak berhasil menemukan alamat rumah nenek kim dan kucingnya yang hilang, maka mereka akan gagal total dikasus mereka yang pertama. Dan itu pasti akan membuat kecewa pada mereka.

"Kita sudah berjalan jauh.. tapi kita belum juga menemukan rumah nenek Kim." Keluh Chanyeol dan Baekhyun mengangguk menyetujui.

"Bagaimana jika kita bertanya pada orang itu?" Tanya Baekhyun sambil menunjuk seorang pria tua yang sedang bersantai di sebuah taman.

"Baiklah." Chanyeol dan Baekhyun melangkahkan kaki mendekati pria tua yang mereka incar. Pria tua itu sedikit terkejut ketika melihat ada dua orang pria yang tak dikenalnya, berdiri tepat dihadapannya. Pria tua tersebut lalu mengenakan kacamata yang ia simpan di saku baju.

"Kalian siapa?" Tanya pria tua itu.

"Kami, detek..."

Baekhyun lalu menyikut Chanyeol. Hampir saja pria bertelinga peri itu membocorkan rahasia mereka jika mereka adalah seorang detektif. Chanyeol baru ingat jika pernah berpesan agar tidak ada satu orangpun jika mereka berdua adalah seorang detektif.

"Detek? Maksudmu?" Tanya pria tua itu meminta penjelasan.

"Kami adalah seorang detektor nyamuk, Harabeoji." Jawab Baekhyun asal memberikan alasan.

"Ohhh.." pria tua itu mengangguk paham dan Chanyeol harus berterima kasih pada Baekhyun untuk ini. " lalu ada perlu apa kalian dengan ku?"

Baekhyun lalu menyodorkan kertas yang berisi alamat rumah nenek Kim pada si pria tua. "Begini kek, apa kakek tau alamat ini?"

"Aku tau." Jawab pria itu cepat setelah melihat kertas yang disodorkan Baekhyun.

"Benarkah? Dimana?" Tanya Chanyeol.

Pria tua itu lalu berdiri. Dia merangkul pundak Chanyeol dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya bergerak bebas menunjuk arah kanan dan kiri seraya menjelaskan dimana alamat rumah nenek Kim berada.

"Terima kasih Kek!" Seru Chanyeol bahagia.

Chanyeol lalu menarik tangan Baekhyun dan mengajaknya berlari menuju arah yang baru saja ditunjukkan oleh si pria tua. Saat sedang berlari Baekhyun sempat bertanya pada Chanyeol. " apa kau yakin pada arah yang ditunjukkan oleh kakek tadi, Chan?"

"Aku yakin sekali!" Jawab Chanyeol dengan pasti.

"Baiklah.. tapi jangan jatuh lagi oke!"

"O..k.."

GUBRAK!

Chanyeol kembali terjatuh. Dan Baekhyun juga ikut terjatuh karena tangan Baekhyun masih digenggam erat oleh Chanyeol. Mereka berdua meringis kesakitan. Beruntung, Chanyeol dan Baekhyun tidak mengalami luka yang cukup parah. Mereka kemudian berdiri dan membersihkan tubuh mereka yang dipenuhi dengan pasir jalanan. Baekhyun terlihat kesal pada Chanyeol. Baru saja ia diingatkan, Chanyeol malah sudah terjatuh lagi.

"Sudah! Jangan berlari! Kita jalan saja!" Protes Baekhyun.

"Baiklah, Baek." Jawab Chanyeol memelas merasa bersalah.

" untung kacamataku tidak pecah karena jatuh tadi." Keluh Baekhyun seraya menahan sakit dibagian lututnya.

..

..

..

..

Sesuai dengan arah yang ditunjukkan si pria tua, akhirnya Chanyeol dan Baekhyun tiba disebuah rumah mewah besar bercat putih, dengab pagar tinggi yang mengitari rumah tersebut. Mulut Chanyeol menganga lebar, bisa dimaklumi, Chanyeol baru kali ini melihat rumah mewah layaknya sebuah istana yang ada di negeri dongeng.

"Hei Chan! Tutup mulutmu!" Ucap Baekhyun. " kau bisa mati jika ada keluarga lalat yang berimigrasi kedalam sana." Candanya.

Mendengar peringatan Baekhyun, seketika itu juga Chanyeol menutup mulutnya. Dia tidak ingin mati dengan cara yang terbilang tidak elit itu. Kemudian Chanyeol dan Baekhyun memutuskan untuk melangkah menuju pagar dan mencari bel rumah.

Ting Tong..

Chanyeol memencet bel rumah mewah itu.

"Sekali lagi, Chan." Perintah Baekhyun.

Ting Tong..

"Eh.. sebentar, Baek..jika si nenek atau si pemilik rumah keluar, kita hanya perlu menunjukkan tanda pengenal ini kan?" Tanya Chanyeol seraya menunjukkan tanda pengenalnya.

"Iya, Chan."

Tak berapa lama seorang penjaga rumah keluar dari tempatnya berjaga dan membukakan pagar yang menjulang tinggi itu.

"Kalian siapa?" Tanya si penjaga rumah.

Chanyeol dan Baekhyun mengeluarkan tanda pengenal mereka lalu menunjukkan tanda pengenal tersebut pada sang penjaga rumah. Dari gaya Chanyeol dan Baekhyin menunjukkan tanda pengenal, mereka terlihat seperti dua orang detektif yang sudah sangat berpengalaman.

"Kalian berdua sudah ditunggu nyonya.. silahkan masuk." Ucap si penjaga setelah melihat tanda pengenal Chanyeol dan Baekhyun.

Chanyeol dan Baekhyun menyimpan kembali tanda pengenal mereka, lalu mereka berdua masuk mengikuti langkah kaki si penjaga rumah. Si penjaga rumah lalu meminta Chanyeol dan Baekhyun duduk dan menunggu nenek Kim keluar dari kamarnya. Si penjaga rumah juga menyuruh pelayan dirumah itu untuk mempersiapkan minuman untuk Chanyeol dan Baekhyun. Dari raut wajahnya, Chanyeol dan Baekhyun sangat antusias menjalani kasus perdana ini, walau menurut mereka ini hanyalah kasus kecil untuk menemukan seekor kucing.

Saat minuman mereka telah disajikan, saat itu pula nenek Kim Taeyeon turun untuk menemui Chanyeol dan Baekhyun. Tanpa banyak berbasa-basi, nenek Kim langsung menunjukkan foto Sunny, kucingnya. Sunny adalah seekor kucing persia yang cukup terbilang mahal di pasaran. Bulunya yang lebat, putih dan bersih serta tubuhnya yang sedikit gemuk, membuktikan jika nenek Kim sangat merawat dan menyayangi kucing ini.

"Tolong temukan Sunny secepatnya." Pinta nenek Kim.

"Baiklah, nek. Tapi ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan." Ujar Baekhyun lalu mengeluarkan sebuah note dan bolpoin dari dalam saku kemejanya.

"Silahkan."

"Pertama, kapan Sunny hilang?" Tanya Baekhyun antusias dan bersiap mencatat pertanyaan dari nenek Kim.

"Kemarin."

"Sekitar jam berapa?" Tanyanya lagi.

"Sore. Tapi aku lupa tepatnya jam berapa."

"Baiklah, pertanyaan terakhir. Sebelum menghilang, dimana terakhir kali nenek melihat Sunny?"

Nenek Kim kemudian mengacungkan telunjuk tangan kirinya yang mengarah ke arah selatan rumah itu. "Kalau aku tidak salah.. Sunny ada didapur." Baekhyun dan Chanyeol mengangguk mengerti.

"Baiklah, nek. Kami berdua akan memulai penyelidikan. Apa kami boleh menelusuri rumah ini?" Ucap Baekhyun meminta izin.

"Silahkan.. jika kalian memerlukan sesuatu silahkan panggil pelayan disini." Jawab Nenek Kim mempersilahkan.

Melihat aksi Baekhyun, membuat Chanyeol benar-benar kagum. Gaya interogasinya pada nenek Kim, sering Chanyeol saksikan di film-film. Chanyeol lalu membatin, "Aku harus bisa sehebat Baekhyun! Wish me luck!"

..

..

..

Saat ini Chanyeol dan Baekhyun sudah berada didapur yang menurut mereka dapur ini sangat luas. Sangat banyak peralatan masak dari luar negeri menghiasi dapur nenek Kim. Kompor yang digunakannyapun termasuk modern dan model terbaru. Baekhyun terlihat sangat sibuk meneliti setiap detail yang dirasanya aneh. Sedangkan Chanyeol, memanfaatkan situasi ini untuk mengambil kue yang ada di dapur. Tindakan Chanyeol tersebut disadari pelayan nenek Kim. Tapi dia membiarkan Chanyeol memakan kue itu, karena dia yakin Chanyeol sedang lapar.

"Chanyeoll! Tolong serius!" Protes Baekhyun yang melihat Chanyeol malah asik memakan kue diatas meja.

"Oke, Baek, Oke!" Jawabnya dengan melahap kue terakhir.

Sebuah piring kotor yang tergeletak dilantai, membuat rasa penasaran Canyeol tiba-tiba muncul. Dia meminta pelayan yang sedari tadi berdiri didekat pintu menyediakan sarung tangan dan sebuah pinset. Piring yang Chanyeol dapati masih menyisakan beberapa serpihan makanan. Chanyeol menduga jika piring tersebut merupakan piring makan Sunny.

"Baek! Kesini sebentar!" Perintah Chanyeol.

Baekhyun yang sedang memeriksa laci-laci yang ada di dalam dapur menghampiri Chanyeol yang sedang duduk dilantai seraya sibuk memandangi piring yang berisi serpihan makanan. Beberapa Saat kemudian pelayan yang dimintai Chanyeol untuk menyediakan sarung tangan dan pinset sudah kembali dengan membawa kedua barang yang diminta. Mereka berdua lalu memasang sarung tangan yang sudah disediakan, kemudian Chanyeol menjepit beberapa serpihan makanan menggunakan pinset dan mencoba mengamati lebih dalam serpihan makanan tersebut.

Serpihan makanan yang mereka temukan berwarna merah kecoklatan. Dan makanan yang mereka temukan memang merupakan makanan kucing menurut penjelasan pelayan nenek Kim. Tapi ada yang aneh, dari serpihan makan tersebut terdapat sebuah serpihan lain yang berwarna kuning. Ketika Baekhyun mengambil serpihan makanan yang berwarna kuning itu, saat ia raba dengan tangannya, tekstur makanan itu tidak begitu lembut seperti makanan kucing pada umumnya. Terksturnya terkesan keras dan saat serpihan mencurigakan itu Baekhyun tekan lebih keras lagi maka warna kuning dari serpihan makanan itu akan menempel pada sarung tangan Baekhyun.

"Chan.. aku menduga jika serpihan berwarna kuning ini adalah obat. Bagaimana menurutmu?" Tanya Baekhyun pada Chanyeol.

Namun Chanyeol tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Baekhyun. Wajah Chanyeol tiba-tiba berubah menjadi merah. Keringat dingin juga mulai membasahi wajahnya. Baekhyun seketika terkejut ketika melihat perubahan yang sangat aneh pada diri Chanyeol.

" what happen with you, Chan?" Tanya Baekhyun lagi dengan mimik khawatir.

Namun Chanyeol masih belum mau menjawab pertanyaan Baekhyun. Dilihat dari gelagat Chanyeol yang ditunjukkan saat ini, bisa dipastikan jika pria idiot bertelinga itu sedang menahan kentutnya yang akan keluar. Chanyeol tidak ingin kentutnya yang harum bak bunga Raflesia Arnoldi itu keluar secara tiba-tiba pada suasana seperti saat ini. Jika kentutnya keluar dengan tiba-tiba maka dapurnya pasti akan terasa pengap dan Chanyeol mengkhawatirkan jika pernapasan Baekhyun akan terganggu nantinya.

"Aku harus mengeluarkan kentut ini perlahan dan tanpa suara." Ucap Chanyeol membatin.

Chanyeol lalu mengatur napasnya. Raut wajahnya pun yang sedari tadi tegang telah ia rubah menjadi lebih soft. Matanya terbuka dan tertutup beberapa kali. Lalu ada suara pelan yang mungkin hanya akan terdengar oleh anjing dan Chanyeol sendiri.

PSSSSTTTT...

Chanyeol berhasil kentut tanpa mengeluarkan suara yang nyaring. Dan desahan napasnya yang panjang menunjukkan rasa kelegaan karena telah berhasil meredam suara sang kentut. Sementara Baekhyun semakin bingung dengan mendadaknya perubahan wajah Chanyeol dari sebelumnya. Namun harus Chanyeol ingat bahwa semuanya belum berakhir, karena sebentar lagi aroma kentutnya itu pasti akan menguar keseluruh ruangan dapur.

"Aku mencium aneh," ucap Baekhyun seraya mengenduskan hidungnya layaknya anjing pelacak. "Chan.. kau menciumnya juga kan?"

"Aaahhh.. aku juga menciumnya" jawab Chanyeol dengan nada sedikit panik seraya menampilkan senyum idiotnya

"Sial! Bau ini dari mana asalnya!" umpat Baekhyun.

Sementara Chanyeol mengangkat bahunya memberi tanda bahwa ia tidak tau. Chanyeol masih belum berani jika bau ini bersumber dari arah bokongnya. Dan secara tiba-tiba ada suara berisik yang berasal dari sekitar mereka. Suaranya seperti suara plastik yang sedang digesek-gesekkan ke lantai dan suara berisik itu membuat Chanyeol dan Baekhyun penasaran. Lalu mereka berusaha mencari asal suara berisik itu.. dannn..

MMEEOOOWW! MEEOOOWW!

Ada suara seekor kucing yang mereka dengar dengan sangat jelas . Mereka berdua mulai yakin jika suara berisik dan suara kucing yang terdengar itu berasal dari Sunny, kucing kesayangan nenek Kim. Dan itu membuat Chanyeol dan Baekhyun semakin bersemangat untuk mencari sunny yang sebenarnya ada disekitar mereka.

Chanyeol memulai mencari asal suara itu, perlahan tapi pasti ia bergerilya disekitar dapur dan akhirnya Chanyeol menemukan Sunny yang ada dibawah meja makan, jarak antara meja dan lantai memang terbilang cukup pendek, ditambah kain panjang yang menitupi jaraknya, memungkinkan Sunny untuk bersembunyi disana.

"Aku menemukannya, Baek!" Seru Chanyeol bahagia.

"Dimana? Dimana?"

"Disinii! Dibawah meja makan Baek!" Baekhyunpun menghampiri Chanyeol yang masih memandang ke arah Sunny.

"Cepat ambil Chan!"

"Itu... emmm... bi.. bisakah kau saja yang mengambilnya? A..aku sedikit takut dengan kucing." Jujurnya dengan cengiran idiot. Baekhyunpun mendesah.

"Baiklah.." Baekhyun kemudian menjulurkan tangannya untuk menarik Sunny dari bawah meja makan. Bulunya yang putih ternyata menjadi sedikit kusam karena telah berjam-jam kucing manis itu berada dibawah meja makan yang berdebu. Baekhyun kemudian meminta pelayan untuk segera memanggilkan nenek Kim turun ke dapur.

Betapa senangnya nenek Kim saat ia mengetahui kucing kesayangannya telah ditemukan oleh Chanyeol dan Baekhyun. Dengan perasaan haru nenek Kim mengambil Sunny digendongan Baekhyun yang terlihat kotor dan lemah. Berkali-kali nenek Kim mengucapkan rasa terima kasihnya pada Chanyeol dan Baekhyun karena telah berhasil menemukan Sunny.

"Boleh ku tinggal sebentar?" Tanya nenek Kim pada Chanyeol dan Baekhyun.

"Silahkan, nek." Jawab mereka serempak.

Kemudian nenek Kim berjalan keatas, dia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil beberapa ratus lembar uang won yang sudah ia persiapkan. Nenek Kim kemudian kembali turun dengan beberapa lembar uang yang ia genggam lalu membagikannya pada Chanyeol dan Baekhyun. Masing-masing dari mereka mendapatkan uang 100,000 won.

"Thank you Grandma." Ucap mereka berbarengan.

"You're welcome."

Uang yang mereka dapatkan, mereka simpan dengan rapi didalam dompet. Mereka sudah bisa membayangkan untuk apa uang itu akan digunakan, Chanyeol mungkin akan membelanjakan uang itu untuk membeli baju diskon di Myeongdeong nanti atau Baekhyun akan menabung uang itu untuk mewujudkan mimpinya tinggal dikutub utara. Dan kini dompet Chanyeol yang tadinya kosong kini mendadak terisi penuh.

"By the way.. bagaimana bisa kalian menemukan Sunny?" Tanya nenek Kim.

" begini, nek.." jawab Baekhyyn membuka pembicaraan. "Tadi kami mendengar suara aneh dari arah dapur, dan ternyata suara itu berasal dari bawah meja makan, dan kami menemukan Sunny disana, wajar saja nenek Kim tidak dapat menemukannya."

"Ahhh begitu.." angguknya mengerti. "Lalu bagaimana Sunny bisa ada disana?"

Dan saat ini giliran Chanyeol yang menjawab. "Kami menemukan serpihan makanan kucing milik Sunny, didalam serpihan makanan itu kami menemukan serpihan lain yang kami duga itu adalah semacam obat sakit kepala atau obat tidur."

Nenek Kim lalu mengganggukan kepalanya mengingat sesuatu, ia menjelaskan pada Chanyeol dan Baekhyun jika sudah seminggu belakangan ini Nenek Kim mengalami insomnia yang parah. Jadi agar bisa tidur nenek Kim mengkonsumsi obat tidur yang ia dapat dari dokter pribadinya. Nenek Kim menduga ada obat tidur yang tanpa sengaja jatuh dipiring makanan Sunny dan kemungkinan besar saat Sunny memakan makanannya, obat tidur nenek Kim juga ikut termakan oleh Sunny.

"Baiklah.. sekali lagi aku berterima kasih pada kalian.. kalian memang benar-benar detektif handal yang dikirim oleh ." puji nenek Kim. " dan katakan pada jika biaya penyelidikan hari ini akan aku transfer ke rekening kantor kalian."

Chanyeol dan Baekhyun beradu pandang bingung, " jadi uang yang nenek berikan bukan biaya penyelidikan untuk hari ini?" Tanya Chanyeol tak mengerti.

"Bukan.. itu adalah uang bonus dariku." Jawab nenek Kim lalu tersenyum.

Chanyeol dan Baekhyunpun ikut tersenyum.. mereka sedikit berbangga hati karena berhasil menyelesaikan tugas perdana mereka. Ternyata perkerjaan seorang detektif terbilang cukup mudah dan menghasilkan banyak uang.

..

..

..

..

Setelah tugas mereka selesai, Chanyeol dan Baekhyun berpamitan pulang dari rumah nenek Kim. Mereka berdua harus segera kembali ke kantor dan melaporkan keberhasilan tugas mereka pada .

Dalam perjalanan pulang saat mereka didalam subway , Baekhyun tiba-tiba menanyakan sebuah pertanyaan yang berhasil membuat Chanyeol menahan napasnya untuk beberapa detik.

"Chan.. bisa ku pastikan jika kau yang tadi kentut kan?"

"Ba.. bagaimana ka..kau tau, ba..baek?" Chanyeol tergagap dan wajahnya memerah menahan malu, bagaimana Baekhyun bisa mengetahui jika aroma mematikan itu berasal dari angin yang Chanyell keluarkan dari lubang bokongnya.

"Naluri detektifku tajam, jika kau lupa, Chan.. aku tidak akan semudah itu bisa kau bohongi." Jawab Baekhyun sedikit menyeringai.

"Sial!" Umpat Chanyeol.. ini memalukan rutuknya.

Baekhyun lalu menepuk pundak Chanyeol, ia berbicara lembut untuk menenangkan kegundahan hati Chanyeol yang Baekhyun bisa lihat dari merahnya wajah si tinggi. " sudahlah, Chan.. tak perlu malu dengan kentutmu itu.. Justru karena kentutmu itu membuat Sunny bisa terbangun dari pengaruh obat tidur yang dia makan."

" kau punya pemikiran sepeti itu Baek? Aku juga demikian.." jawabnya menggaruk tengkuk.

Chanyeol memeluk Baekhyun.. mereka berpelukan didalam subway yang akan membawa mereka kembali ke kantor dan memberikan kabar gembira pada bahwa kasus pertama yang mereka tangani telah berhasil. pasti akan sangat bangga pada mereka.. Mereka berdua tersenyum bahagia.. menurut Chanyeol bekerja bersama Baekhhun ternyata lebih menyenangkan. Menjadi detektif pun tak sesulit yang mereka pikirkan. Namun mereka belum mengetahui bahwa akan ada kasus besar setelah ini. Sebuah kasus yang akan membuat mereka kehilangan sebuah nyawa..

..

..

T

B

C

..

..

..

..