Bisa jadi hari ini adalah hari yang paling tak terlupakan bagi Kyungsoo. Hari yang membuatnya bahagia luar biasa. Hari yang membuatnya tak mampu membendung rasa harunya.
Hari ini Kyungsoo wisuda. Gadis itu lulus dengan nilai cumloud nya. Dan mungkin Kyungsoo adalah satu-satunya dari sekian banyak mahasiswa yang lulus di umur dua puluh tahun.
Siapa yang tidak bahagia lulus dengan nilai terbaik? Orang tua Kyungsoo bahkan tak henti-hentinya tersenyum bangga melihat Kyungsoo berdiri memegang penghargaannya di atas panggung sana.
Kebahagiaannya bertambah saat mata bulatnya melihat Jongin tiba-tiba menghampirinya ke atas panggung dengan sebuket bunga dan satu kotak kecil berwarna merah maroon.
Awalnya gadis itu memang sempat bingung. Namun saat ia melihat kekasihnya itu berlutut di depannya sambil memegang kotak yang ternyata berisi cincin bermatakan berlian.
Terkejut? Jelas saja. siapa yang tidak terkejut dilamar di depan orang banyak seperti ini? Dalam hati Kyungsoo salut karna Jongin benar-benar menepati janjinya pada Kyungsoo.
Melamar Kyungsoo di hari wisuda sang gadis.
"Jongin.." lirih Kyungsoo.
Jongin tersenyum lembut. Bisa ia lihat kalau kedua mata Kyungsoo sudah berkaca-kaca.
"Jangan menangis sayang.." bisik Jongin pelan. Kyungsoo hanya mengangguk.
Tak lama berselang, seseorang naik ke atas panggung lalu menyerahkan sebuah mic kepada Jongin.
"Sebelumnya, aku minta maaf jika aku menganggu acara ini." Mulai Jongin lalu melirik ke arah mahasiswa lain yang menunggu untuk di wisuda juga.
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang tidak akan aku katakan pada perempuan lain." Lanjut Jongin.
Lalu setelah itu, Jongin menggenggam tangan sebelah kiri Kyungsoo masih dalam keadaan berlutut.
"Hari ini, aku ingin menyampaikan keinginan terbesarku. Aku mungkin bukan pria romantis seperti pria-pria diluar sana."
Kyungsoo hanya diam mendengarkan. Begitupun dengan mahasiswa dan tamu-tamu lainnya. Tapi ketahuilah, Kyungsoo sedang susah payah menahan air mata bahagianya saat ini.
"Aku tidak ingin sesuatu yang sementara. Aku ingin sesuatu yang mengikat. Aku ingin kau, Do Kyungsoo, menjadi pendamping hidupku. Menemani ku di saat susah maupun senang. Menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Dan menjadi rumah ku untuk pulang."
Satu tetes air mata sudah jatuh ke pipi gembil Kyungsoo. Satu tangannya yang lain sudah sibuk menutup mulutnya, menahan isakan.
"So, Do Kyungsoo. Will you marry me?" tanya Jongin mantap. Matanya sudah sejak tadi menatap dalam ke mata bulat Kyungsoo.
Gadis itu melirik sebentar ke arah kedua orang tuanya yang memperhatikan dari bawah panggung. Kyungsoo bisa melihat kedua orang tuanya itu mengangguk.
Jadi, setelah menarik nafas panjang satu kali, Kyungsoo menatap lurus ke mata elang Jongin lalu mengangguk.
"I do." Jawabnya mantap.
Sontak semua yang ada di aula itu bertepuk tangan sambil memasang senyum bahagia sekaligus iri mereka.
Jongin langsung melepas cincin bermata berlian itu lalu menyematkannya ke jari manis sebelah kiri Kyungsoo. Setelahnya, ia berdiri lalu memeluk Kyungsoo yang sudah menangis haru.
"Kenapa menangis?" tanya Jongin lembut. Kyungsoo mendengus. "Kau tidak tahu aku sedang menangis bahagia?" tanya Kyungsoo dengan suara paraunya.
Jongin tersenyum senang.
"Saranghae Kim Kyungsoo.." bisik Jongin.
"Ya! Marga ku masih Do. Jangan sembarang mengganti marga ku!" protes Kyungsoo. Jongin terkekeh pelan.
"Apapun itu, aku mencintaimu.." lirih Jongin lalu mengecup lama dahi Kyungsoo.
Sontak hal ini membuat para tamu semakin riuh. Mereka bertepuk tangan semakin meriah.
Kyungsoo sendiri sudah memejamkan matanya merasakan lembutnya kecupan Jongin di dahinya.
"Aku juga mencintaimu, Jongin..."
.
.
.
Tidak terasa dua tahun sudah berlalu. Jongin dan Kyungsoo sudah menikah tiga bulan setelah acara lamaran ala Kim Jongin itu.
Dua tahun ini, semuanya berjalan lancar. Walau terkadang pertengkaran kecil pasti menghiasi. Tapi semuanya bisa mereka selesaikan dengan baik-baik.
Di bulan ketiga pernikahan, pasangan ini mendapat kebahagiaan lain. Kyungsoo dinyatakan hamil tiga minggu. Jelas berita bahagia ini disambut baik oleh semua anggota keluarga.
Hingga sembilan bulan setelahnya, Kyungsoo melahirkan seorang putra tampan yang sekarang sudah berumur dua belas bulan.
Namanya, Kim Jongsoo.
"Jongsoo-ya, igeo mwoya?" tanya Jongin pada sang jagoan yang duduk di depannya. Anaknya itu sedang sibuk bermain robot dan berbagai macam lego yang terhampar kesana-kemari di ruang keluarga.
"Na..na!" jawab Jongsoo sambil menunjuk heboh ke arah pisang mainan yang sedang dipegang ayahnya.
"Hm? Apa sayang? Ini apa ya namanya?" tanya Jongin lagi.
"Nana!" jawab nya lagi kali ini dilengkapi dengan jeritan lucunya yang membuat Jongin tetawa sedikit keras.
"Aigoo. Ini namanya banana sayang. Bukan nana.." jelas Jongin.
"Nanaaa!" jeritnya lagi sambil tangannya yang mencoba menggapai-gapai pisang yang dipegang ayahnya.
Jongsoo memang belum terlalu lancar berjalan dan berbicara. Anak itu baru bisa menyebut 'appa' dan 'eomma'. Berjalan pun masih harus di tatih.
"Jongsoo mau banana?" tanya Jongin. seakan mengerti pertanyaan ayahnya, Jongsoo mengangguk keras sambil menjerit kembali menyebut kata 'nana'.
"Tapi harus makan dulu, oke?"
"Aaaahhh! Nanaa! Appa nanaa!" jeritnya lagi. Kali ini Jongin tergelak puas.
"Oke oke. Tunggu sebentar ya."
Jongin menolehkan kepalanya ke belakang lalu berteriak.
"Sayang, bawa satu buah pisang juga kesini ya!" teriaknya. Kyungsoo yang sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan siang Jongsoo balas berteriak.
"Iya!"
Sepuluh menit setelahnya, Kyungsoo muncul dari arah dapur dengan tangan membawa satu mangkuk nasi beserta sayur dan satu buah pisang kesukaan Jongsoo.
"Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Kyungsoo pada Jongin saat melihat suaminya itu tak henti-hentinya tersenyum.
"Hm? Tidak apa-apa. Hanya terlalu gemas dengannya. Oh! Hati-hati sayang!" Jongin langsung bergerak cepat mengambil Jongsoo yang sudah menangis kencang karna kepalanya terbentur meja saat ia ingin mengambil legonya.
"EOMMAAA!" jeritnya kencang. Kyungsoo langsung meraih anaknya itu kedalam gendongan.
"Oh kasihan.. sakit ya, hm?" tanya Kyungsoo sambil mengusap-usap punggung mungil Jongsoo.
"Eommaaa.." isak Jongsoo.
"Iya sayang.. sudah ya jangan menangis. Jagoan tidak boleh menangis.."
"po.." lirih Jongsoo sambil tangan mungilnya mengusap-usap dahinya sendiri. Kyungsoo yang mengerti lalu bertanya sedih. "Oh, apo? Eodi apo?"
Jongsoo menjawab dengan gerakan tangannya. Kyungsoo lantas mengecup dahi sang anak yang sedikit benjol dan membiru itu.
"Kita makan dulu, ya? Jongsoo belum makan, kan?" tanya Kyungsoo mengalihkan perhatian anaknya dari rasa sakit yang mungkin masih mendera dahinya. Jongsoo hanya mengangguk patuh.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Jongin sedikit khawatir saat melihat dahi Jongsoo membiru.
"Hm, tidak apa. Anak lelaki wajar jika ada lebam sedikit. Dia harus tumbuh menjadi pria yang kuat seperti ayahnya. Iya kan sayang?" tanya Kyungsoo pada Jongsoo yang masih asyik mengunyah makanannya di pangkuannya.
Kyungsoo yang gemas pun menghujani pipi tembam jagoan kecilnya dengan ciuman-ciuman gemas. Jongin yang melihat itu tak mau kalah. Pria itu juga mengecup dahi sang istri lalu mengecup gemas pipi jagoannya.
"Terima kasih.." ujar Jongin sambil memeluk dua malaikat hatinya dari samping. Kyungsoo menoleh, mengakibatkan hidung lancipnya menyentuh pipi Jongin.
"Untuk?"
"Untuk semuanya. Untuk kau, untuk Jongsoo. Untuk semua kasih sayang dan rasa cinta yang sudah kau berikan padaku. Terima kasih banyak, Kim Kyungsoo.." lirih Jongin lalu mengecup kilat bibir merah sang istri.
Kyungsoo tersenyum haru. "Tidak perlu berterima kasih, karena itu sudah kewajibanku. Terima kasih juga sudah menjadi pelindung terbaik untuk kami. Saranghae, appa.."
"I love you too.."
.
.
.
.
.
END
Nahhhh muncul kan sequel nyaaa! Banyak yang minta sequel dan aku kabulin. Semoga syukak yaaa maapkeun kalo feel nya kurang dapet. Mood lagi ilang karena tugas numpuk *asalways* *huh*
Last, Mind to riview?
*09-02-2016*
