Please, Make the Horror Come to Me!
A SEVENTEEN's Fanfiction, with Lee Jihoon and Kwon Soonyoung as the main cast
Characters belong to themselves, Story belong to alexssucchi
Lee Jihoon hanya seorang pemuda yang ingin merasakan kejadian yang menyeramkan. Jadi ia berusaha untuk mendapatkan kejadian itu. Doanya terkabulkan. Hanya saja ada seorang pemuda yang turut hadir bersamaan dengan kejadian menyeramkan yang mendatanginya. Siapa dia sebenarnya?
A romance-horror fiction story, not a common horror story, fyi. Few typos.
Enjoy the Story
.
.
.
Chapter 2 : The Dance Under Black Umbrella
Ada banyak kejanggalan yang bersarang dengan lekatnya di benak namja Busan bernama Lee Jihoon. Begitu banyak, hingga membuatnya bingung apa-apa saja hal yang mengganjal itu. Mungkin ia bisa menyebutkan beberapa, namun masih ada banyak yang lain tapi tidak bisa ia sampaikan karena dia sendiri tidak paham.
Jihoon sekarang sedang berjalan bersama seorang pemuda yang lebih tinggi darinya bernama Kwon Soonyoung. Berjalan menuju sekolah mereka, yang entah kebetulan atau tidak adalah satu sekolah yang sama. Melirik sekilas ke arah Soonyoung, Jihoon berusaha mengingat-ingat kembali setiap kalimat yang diucapkan oleh namja Kwon ini di rumahnya pagi tadi.
Tentang diri dan kemaniakan Jihoon terhadap makhluk halus. Tentang obsesinya yang membuat para makhluk halus tertarik kepadanya. Tentang keinginan kuat seorang Lee Jihoon yang menurut Kwon Soonyoung akan mendatangkan masalah kepada remaja dengan tubuh kecil itu.
Tentang seorang wanita―yang Jihoon belum lihat dengan jelas seperti apa rupanya―pembawa payung hitam besar yang ia lihat semalam melalui jendela kamar tidurnya, akan datang mengunjungi rumahnya malam ini. Paling tidak, itulah yang dikatakan Soonyoung kepadanya. Belum bisa dikonfirmasi benar atau tidaknya.
"Wanita itu akan datang, membawa penderitaan dan kesialan yang selama ini ia rasakan untuk diberikan kepadamu."
Sudah berapa kali bulu kuduk Jihoon meremang pagi ini, Jihoon sendiri tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah wanita yang dilihatnya semalam akan datang berkunjung dan sebuah fakta lain bahwa rumahnya dipenuhi oleh hantu.
Dahinya mengerut. Hal ini jadi membuatnya ingin bertanya, "Soonyoung?"
Yang dipanggil lekas menoleh. Seolah setiap suara yang dikeluarkan Jihoon adalah sebuah sinyal berfrekuensi tinggi yang dengan cepat ditangkap indra pendengarannya. "Ya?"
Bola mata beriris coklat milik Jihoon bertemu dengan milik Soonyoung. "Kau―" Jihoon memutuskan pandangannya. "Kau indigo?"
Soonyoung mengerjap sambil tetap menatap Jihoon selama beberapa detik. Kemudian mengalihkannya ke bawah―menatap trotoar yang dihias batu kerikil.
"Um―ya. Kamu bisa bilang begitu." Jawab Soonyoung apa adanya.
Tapi Jihoon kurang puas dengan jawaban itu. Ia masih ingin bertanya, tapi tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Ingin rasanya Jihoon melempar ransel merah marun yang disangganya, dirinya yang labil dan bingung sendiri ini seperti bukan dirinya saja.
Jihoon terus saja berkutat dengan pikirannya, tidak memedulikan Soonyoung yang sesekali berjalan dengan langkah aneh di depannya. Mengabaikan panggilan kecil Soonyoung serta tak menghiraukan Soonyoung yang bersenandung dengan nama Jihoon sebagai lariknya.
Jihoon juga tidak menyadari pose Soonyoung yang menirukan cara berjalan seekor penguin. Namja itu bahkan menggoyang-goyangkan bokongnya yang serta-merta membuatnya jadi perhatian para pejalan kaki yang melintas di sekitar mereka. Soonyoung yang jadi pusat perhatian tidak ambil pusing dan tetap menggerak-gerakkan tubuhnya dengan aktif.
Seorang lelaki yang menari dengan riangnya dan seorang lelaki mungil yang sedang terdiam―fokus dengan pikirannya. Lebih dari cukup untuk membuat orang berpikir tentang betapa bertolak belakang sifat keduanya.
Beberapa menit mereka habiskan dengan cara mereka masing-masing, hingga mereka mencapai pintu gerbang sekolah.
Dengan sangat mendadak, Soonyoung berhenti lima meter sebelum benar-benar melewati pintu gerbang, sedangkan Jihoon berjalan mendahuluinya masih dengan pose yang sama seperti sebelumnya―menekan bibir bawah menggunakan jari telunjuk, pose berpikirnya. Yang sedetik kemudian berpindah posisi dengan cepat ke samping Soonyoung yang menarik lengannya, lalu mundur beberapa langkah menjauh dari gerbang.
Tersadar, Jihoon memalingkan wajahnya ke arah Soonyoung. "Ada apa? Ini sekolah kita. Kau tidak salah tempat," Jihoon hampir melangkah sebelum Soonyoung menariknya lagi. Kali ini Jihoon melotot. "Apa, sih?"
Soonyoung yang matanya melebar menatap gedung sekolah, bertanya dengan nada pelan. "Ini―benar ini sekolah untuk manusia?"
Hampir saja Jihoon berkeinginan untuk menginjak kaki namja Kwon itu atas pertanyaan tidak masuk akalnya, sebelum ia teringat kalau Soonyoung memiliki indra keenam. Oke, hal ini jadi lebih menarik baginya. "Kau melihat―sesuatu?"
Soonyoung menggeleng. "Ini bukan hanya sesuatu," Ia menatap ngeri kepada Jihoon. "Ini lebih dari sesuatu."
Antusiasme kembali terpasang di mimik muka Jihoon. "Apakah berarti ada banyak? Bisa beritahu dimana sajakah mereka?"
Jihoon menarik ujung jaket abu-abu yang dipakai Soonyoung, menuntut jawaban. Membuat Soonyoung memusatkan perhatiannya pada si lelaki mungil. Campur aduk perasaan yang ada dalam diri Soonyoung sekarang. Khawatir, takut, panik, dan segala perasaan buruk lainnya. Ia memutuskan untuk menggeleng.
"Uh. Aku tidak bisa menjelaskan keberadaan mereka dengan tepat."
"Di rumahku tadi kau menyebutkan keberadaan para hantu itu dengan sangat detail, jika kau lupa." Kalimat yang Jihoon lontarkan membuat Soonyoung memaksakan senyum.
"Ung. Kelebihan ini hanya bisa digunakan beberapa menit?" Elakan Soonyoung yang super basi bagi Jihoon, membuat namja imut itu mendecakkan lidahnya.
Alasan yang sangat otaku sekali.
Jihoon melangkahkan kakinya dengan cepat kali ini―berusaha untuk tidak tertangkap tangan lagi oleh Soonyoung. Soonyoung sendiri sedang berjalan cepat menyusulnya. Pemuda itu dipenuhi aura yang sarat akan ketidaktenangan. Matanya yang melihat ke kiri dan ke kanan dengan cepat itu membuktikan bahwa pernyataannya beberapa detik yang lalu adalah kebohongan belaka.
Soonyoung melihat mereka. Melihatnya dengan jelas.
Walau Jihoon tidak memiliki kekuatan supernatural seperti Soonyoung, tapi ia tahu kalau kelebihan seperti itu tidak digunakan hanya untuk beberapa menit dan memiliki batas waktu. Kelebihan supernatural seperti itu akan terus membuat orang yang memilikinya untuk menggunakannya. Baik secara sengaja ataupun tidak sengaja.
Jihoon menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Senyum meremehkan. Memangnya Soonyoung pikir Jihoon sebodoh itu?
Bzzz, syat!
Jihoon mendadak pusing dan kehilangan keseimbangan. Bunyi dengungan memenuhi indra pendengarannya, membuatnya jengah. Hampir saja tubuh kecilnya terbanting dengan keras, kalau saja kedua tangan Soonyoung yang sigap tidak menahannya. Soonyoung merengkuh tubuh Jihoon dari belakang lalu mendudukkannya dengan kaki dan tangan kanan yang menahan punggung Jihoon.
"Jihoonie?!" Soonyoung memanggil. Namun respon Jihoon hanyalah mengerang. Seolah ingin mengekspresikan rasa sakit yang menderanya. Soonyoung terbelalak.
Ada luka di pipi halus Jihoon. Luka segaris dengan darah mengalir yang Soonyoung tidak tahu sejak kapan berada di sana. Ia tahu Jihoon tidak menabrakkan dirinya sendiri ke apapun yang sekiranya dapat membuat luka.
Mata Soonyoung bergerak liar. Mencari siapapun atau apapun yang membuat lelaki di rengkuhannya ini terluka. Visualnya menangkap sesuatu, kemudian. Berada beberapa langkah di tempat yang―entah kenapa bernuansa gelap, Soonyoung sadar setelahnya kalau ada pohon besar di sana.
Di bawah pohon itu sendiri ada seseorang―atau bukan. Soonyoung tidak sudi menyebut sosok itu seseorang. Makhluk itu, makhluk yang menyerupai perempuan dengan payung besar berwarna hitam yang menutupi setengah tubuhnya. Gaunnya melambai-lambai seolah tertiup angin, padahal tidak ada udara yang berhembus saat itu. Memperlihatkan sepasang kaki putih bersih.
Payung besar itu sendiri, berputar-putar di atas makhluk itu. Seakan ingin menunjukkan bahwa pemilik payung senang akan suatu hal dan menyampaikan perasaannya itu dengan memutar-mutar payung besarnya. Seperti sebuah tarian dengan payung sebagai propertinya.
Jihoon yang berada di pangkuan Soonyoung melenguh. Namja Kwon itu segera menatapnya khawatir. "Jihoonie! Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak ada yang tidak akan kenapa-kenapa."
Bisikan itu menghilang bersamaan dengan sosok yang Soonyoung lihat. Bisikan seorang wanita, dengan nada yang begitu dingin dan tajam. Rahang Soonyoung mengeras.
"Breng―"
"Soonyoung?" Umpatan yang akan dilontarkan Soonyoung terinterupsi dengan panggilan bingung Lee Jihoon. "Apa yang―"
Jihoon tidak meneruskan pertanyaannya karena kepalanya semakin terasa begitu berat dan pening. Ia memegangi kepalanya.
"Sssh. Mari kita cari tempat lain yang layak untukmu menenangkan diri." Soonyoung mengelus kepala Jihoon pelan, mengangkat tubuh lemas Jihoon untuk berdiri, lantas menggendongnya dengan gaya bridal, memposisikan kepala Jihoon senyaman mungkin dalam dekapannya.
Jihoon tidak mampu menolak. Soonyoung adalah satu-satunya orang yang dapat membantunya untuk saat ini. Ia merasa tidak mampu bergerak, jujur saja.
Sambil melangkah menjauh dari tempat kejadian yang tidak terduga tadi, Soonyoung menyadari masih sangat sedikit murid yang datang. Sekolah ini masih sepi. Atau sebaliknya? Melihat banyaknya makhluk yang harus dilihat dengan kemampuan khusus berkeliaran di sana-sini.
Soonyoung melirik jam tangan merah yang dikenakan Jihoon di pergelangan tangan kirinya. Jam delapan kurang lima belas menit masih sesepi ini? Sungguh. Murid macam apa sih, yang bersekolah di sini? Ia menggeleng dan menghela napas pelan.
Tiupan napasnya membuat poni Jihoon yang menutupi dahi tersibak sedikit. Soonyoung menatap wajah bulat dengan pipi gembung itu dengan cermat. Luka segaris namun tampak dalam itu tampak harus cepat diobati. Kelopak mata Jihoon sendiri membuka dan menutup dengan ritme yang tidak teratur, menandakan pemuda yang berada di gendongannya ini benar-benar linglung.
Merapatkan pegangannya, Soonyoung diam-diam menaruh perhatian yang besar terhadap Jihoon dan bertekad akan menjaganya dari makhluk-makhluk yang membahayakan manusia hanya dengan kehadirannya saja.
◦⁰⁰(≥◦≤)⁰⁰◦
"Dia menghilang kemudian setelah memperlihatkan kesenangannya dengan memutar payung hitam besar miliknya." Soonyoung mengakhiri ceritanya dengan helaan napas panjang.
Baru saja siuman, Jihoon langsung bangkit dan memaksa Soonyoung untuk bercerita dengan detail terkait apa sajakah yang terjadi saat ia dalam kondisi tak sadar. Soonyoung yang awalnya menolak, jadi harus bercerita dengan terpaksa setelah Jihoon mengancamnya tidak akan memperbolehkannya untuk menginap di rumahnya.
Benar-benar galak. Soonyoung mencibir dalam hati.
Jihoon sendiri sekarang sedang terdiam dalam duduknya―kepalanya masih berdenyut menyakitkan. Soonyoung membawanya ke ruang kesehatan sekolah―mungkin lelaki itu mencermati denah sekolahnya selagi berpikir tempat manakah yang tepat bagi Jihoon untuk mengistirahatkan kepalanya.
Jari-jarinya terulur ke pipinya yang terasa ditempeli sesuatu. Plester? Memang pipinya kenapa?
Menatap meminta penjelasan kepada Soonyoung, yang ditatap menjawab langsung tanpa perlu ditanya. "Dia sempat melukaimu. Lukanya cukup dalam. Jadi aku segera menempelkan benda itu." Ia menunjuk pipi Jihoon dengan gerakan berputar.
"Kau selalu membawa plester atau bagaimana?" Jihoon bertanya tanpa rasa penasaran sedikit pun.
Soonyoung menunduk sebentar untuk kemudian mengangkat kepalanya lagi dan menjawab pertanyaan Jihoon. "Untuk persiapan dan jaga-jaga."
Jihoon mengernyit. Soonyoung bangkit dari duduknya kemudian mendekat kepada Jihoon dan menempelkan punggung tangan kanannya di dahi Jihoon yang poninya tersibak. Lalu mengangkat tangan kirinya untuk ia letakkan di dahinya sendiri. Mengecek suhu tubuh Jihoon.
"Seharusnya baik-baik saja," Soonyoung mengelus pipi Jihoon yang diplester kemudian menjauhkan tangannya yang ditatap dengan tajam. "Tapi apakah kamu merasa tidak baik?"
Menggeleng, Jihoon menimpali, "Aku baik-baik saja."―baik-baik saja dengan pertanyaan yang bermunculan satu persatu dan membuat Jihoon ingin menjambak rambut hitam Soonyoung. Jihoon tersenyum tidak ikhlas.
Soonyoung menatap Jihoon sebentar kemudian mengulurkan tangannya dan menangkup pipi bulat Jihoon. Jihoon terkejut tentunya. Tapi tidak berkutik saat kedua iris coklat menghanyutkan itu memandanginya dalam-dalam.
"Jihoonie."
Jihoon bergumam tidak jelas. Entah kenapa ia merasa atmosfir di sekitarnya berubah menjadi―entahlah, ia sendiri tidak bisa menggambarkannya.
Tarikan dan tiupan napas Soonyoung menyentuh kulit wajah Jihoon saat lelaki itu mendekatkan kepalanya dengan perlahan. Jihoon bisa merasakan keinginan kuat untuk menampar Soonyoung sekencang-kencangnya, tapi entah kenapa ia tidak bisa.
Suasananya ini, membuat Jihoon terdiam dan tidak dapat berbuat apapun.
Jari-jari Soonyoung terangkat, mengusap kelopak mata Jihoon yang menutup―Jihoon refleks, karena ia tidak mau jari-jari kotor―padahal bersih―itu menusuk bola matanya.
"Ada kotoran di matamu." Soonyoung mengusap lagi kemudian meniup kelopak mata Jihoon dan memberi jarak yang cukup jauh di antara keduanya.
Jihoon tidak mau membuka matanya, membuat Soonyoung kebingungan. "Jihoonie?"
Masih tidak terbuka dan panik langsung menguasai Soonyoung. Apakah Jihoon tertidur dengan posisi duduk? "Jihoonie, buka matamu! Setidaknya kalau ingin tidur, berbaringlah!"
Tidak ada jawaban. Soonyoung terdiam.
"J-Jihooniiie~!" Soonyoung merengek sambil menggoyang-goyangkan bahu Jihoon, yang tidak kunjung membuka matanya.
Dan Soonyoung benar-benar serius sedang panik sekarang. Ia mendekatkan wajahnya dan menghilangkan jarak di antara keduanya. Berniat mengecek apakah masih ada hirupan napas di sana.
Jarak bisa diukur sejengkal dan―
"OMO!"
―Soonyoung terjatuh dari ranjang dengan jantung yang berpacu cepat. Jihoon tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan melotot kepadanya, tentu itu membuat Soonyoung kaget. Ia menarik napas sebanyak-banyaknya dengan tangan mengelus dada, sedangkan si pelaku hanya tertawa terpingkal-pingkal tanpa mau tahu bagaimana keadaan korbannya.
"Tidak lucu, Jihoonie! Bagaimana kalau mendadak aku terserang gangguan jantung?!" Soonyoung memekik dan itu membuat Jihoon tertawa semakin keras―merasa ekspresi yang dibuat Soonyoung itu benar-benar lucu.
Yang menjadi objek tawa hanya bisa merengut, yang kemudian digantikan oleh senyuman kecil. Entah kenapa, Jihoon yang tertawa lepas membuatnya merasa tenang. Ia membuang napas berat. Matanya tidak sengaja melirik jam dinding di ruangan itu. Sudah sepuluh menit terlewat sejak bel masuk berdering. Mereka harus segera ke kelas.
"Baiklah, baiklah. Pelajaran sudah dimulai, kita harus meninggalkan tempat ini dengan segera." Soonyoung berusaha menghentikan tawa Jihoon yang berkelanjutan.
Kalau bukan karena untuk mengikuti pelajaran, Soonyoung pasti sudah membiarkan Jihoon tertawa selama mungkin. Jarang-jarang, 'kan, bisa melihat orang galak tertawa terbahak-bahak?
Jihoon mengusap air matanya yang keluar karena tawanya. "Ahaha, ya, ya. Kita harus, haha," Sambil menahan tawanya, Jihoon bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Soonyoung yang memegangi tangannya. Tangan Jihoon yang bebas melepaskan pegangan Soonyoung. "Aku bisa berjalan sendiri, haha."
Menolak bantuan sambil tertawa geli. Soonyoung berekspresi datar sekarang.
Langkah kecil kaki Jihoon membawanya ke luar ruangan terlebih dahulu, meninggalkan Soonyoung di belakang―masih sambil menahan tawanya. Soonyoung buru-buru menyusul.
Saat menutup pintu, perhatian Soonyoung teralih ke arah cermin yang ada di dalam ruang kesehatan. Ia tersenyum dan berbisik pelan.
"Terima kasih telah meminjamkan tempat ini dengan sangat baik dan tidak mengganggu Jihoonie dalam istirahatnya."
Pintu tertutup sepenuhnya, kemudian terdengar suara terkunci. Soonyoung menguncinya dari luar.
Soonyoung sempat melihat sebuah senyuman muncul sebagai refleksi di cermin itu.
(•w•)"
Jihoon duduk di bangkunya dengan gelisah yang tidak bisa ia tutupi. Beberapa kali guru mata pelajaran yang sedang memberi materi memanggilnya untuk menanyakan apakah ia ingin ke toilet atau apa, tapi Jihoon hanya menggeleng.
Bahkan teman sekelasnya yang duduk di kursi belakang Jihoon mencoleknya terus-menerus sambil bertanya apakah Jihoon sedang tidak enak badan. Jawaban Jihoon tetap satu, tidak.
Memang tidak biasa bagi seorang Jihoon untuk merasa tidak nyaman saat pelajaran sedang berlangsung. Justru biasanya, ialah orang yang paling menikmati suara guru saat sedang menyampaikan materi di antara banyak murid di kelasnya.
Tapi untuk saat ini, Jihoon tidak bisa mendapatkan mood itu. Ia tidak bisa tenang sedari tadi, perasaan gelisah terus menderanya. Ia sudah mencapai lembar kelima bagian belakang buku tulisnya untuk dicoreti dengan tangga nada yang tidak jelas. Bahkan ada gambar pusaran di tengah-tengah gambar tangga nada itu.
Apa yang membuatnya seperti ini sekarang, tidak lain tidak bukan adalah karena perasaan mengganjal yang sedari tadi pagi mengganggunya. Ada banyak hal. Ada banyak hal yang membuat Jihoon terganggu.
Kebanyakan perasaan ini muncul setelah ia menyadari banyak hal yang terlewatkan olehnya.
Misalnya, mengenai siapakah yang menekan bel rumahnya semalam. Jihoon tahu ini aneh, tapi ia ingat, sangat ingat, kejadian tadi malam. Ia yang terus-menerus menatap wanita yang membawa payung itu, hingga berhenti di seberang rumahnya. Gerakannya yang seolah akan menyingkap payung besarnya, yang disusul dengan suara bel rumahnya. Ya, Jihoon mengakui setelah itu ia benar-benar melupakan sosok wanita itu dan berjalan meninggalkan jendela. Namun, yang mengganjal di sini adalah―Jihoon yang sama sekali tidak melihat Soonyoung keluar dari rumahnya sesaat sebelum bel rumahnya berbunyi.
Padahal jelas-jelas semalam yang berkunjung ke rumahnya adalah Kwon Soonyoung, dan rumah Soonyoung sendiri, berada di depan rumah Jihoon. Tepat di depan rumahnya dan Jihoon tidak melihat Soonyoung keluar dari rumahnya untuk bertamu ke rumahnya. Bukankah itu aneh?
Ada lagi, perasaan yang membuatnya sangat ingin tahu alasan sesungguhnya lelaki yang menjadi tetangga barunya itu bertamu pagi-pagi buta ke rumah para penghuni lingkungan rumah sekitar. Jujurkah Soonyoung saat mengatakan ia ingin mendekatkan dan mengakrabkan diri sendiri dengan para tetangga? Kalaupun memang benar, kenapa harus pagi-pagi sekali?
Dan yang lebih mengganggunya, adalah pernyataan yang keluar langsung dari mulut Soonyoung yang berbunyi, "Ketika aku bertanya beberapa hal mengenai dirimu, aku menemukan kabar kalau kamu bersekolah di tempat yang sama dengan sekolah baruku." Mungkin memang terlihat wajar, tapi tidakkah kamu merasa terganggu apabila orang asing menanyakan hal tentang dirimu kepada orang yang mengenalmu? Itu yang Jihoon rasakan.
Kenapa tidak bertanya langsung padanya? Dan apa beberapa hal yang lain itu? Jihoon yakin tidak hanya tempatnya bersekolah yang Soonyoung tanyakan.
Lalu ada pula perasaan mengganjal lainnya. Kali ini tentang siapakah Soonyoung sebenarnya. Siapa Kwon Soonyoung itu? Terakhir ia bertanya apakah ia seorang indigo, Soonyoung menjawab dengan kalimat paling tidak memuaskan yang pernah Jihoon dengar. Jawaban Soonyoung sama sekali tidak menuntaskan rasa penasarannya.
Apakah ini adalah salah satu cara Soonyoung untuk membuat Jihoon penasaran kepadanya dan membuat Jihoon semakin tertarik dengan pemuda itu? Kalau memang iya, mungkin Jihoon akan mencoba untuk berhenti penasaran.
Tapi apa perlunya Soonyoung mendekati Jihoon pula? Untuk apa Soonyoung melekat kepadanya yang notabene adalah orang yang baru dikenalnya? Untuk alasan seperti apakah Soonyoung terus saja bersamanya dan―Jihoon memegang plester di pipinya―kenapa Soonyoung bersikap begitu peduli terhadapnya?
Hal ini membuat Jihoon teringat pernyataan Soonyoung yang lain. Sesuatu yang berkaitan dengan obsesinya kepada para hantu dan makhluk halus telah membuat magnet pada diri Jihoon yang membuat para makhluk itu tertarik dan berdatangan padanya. Dan dugaan Jihoon berikutnya, mengejutkan dirinya sendiri. Tertarik padanya? Bolehkah Jihoon berpikir kemungkinan bahwa Soonyoung juga bukan manusia?
Jihoon menggeleng. Memikirkan perasaan mengganjal lainnya.
Normalnya, payung berukuran besar akan sangat berat untuk dibawa, apalagi diputar-putar. Jika Jihoon yang melakukannya, sudah bisa dipastikan tangannya akan terpelintir, atau paling tidak dahinya akan membengkak karena tidak bisa menyeimbangkan berat payung di tangan dan membuat benda itu lepas dari pegangan. Tapi mendengar cerita dari Soonyoung tadi, bahwa wanita yang semalam dilihatnya berdiri di bawah pohon besar di sekolahnya sambil memutar payung besar itu―Jihoon menyibak poninya.
Hei, Jihoon yang seorang namja saja tidak akan kuat melakukannya, apalagi seorang yeoja yang terkenal dengan perilaku lembutnya, 'kan? Hal ini membuatnya semakin yakin akan suatu hal―memang, sosok itu bukan seorang manusia. Dan yang bukan manusia itu, sedang mengincar Jihoon. Entah untuk alasan apa.
Jihoon sendiri merasakan dilemma. Haruskah ia senang karena ada hantu yang mengejar-ngejarnya setelah sebelumnya ialah yang harus mengejar-ngejar makhluk halus? Atau haruskah ia takut karena apabila makhluk halus itu berhasil menangkapnya, ia akan berada dalam bahaya―mengingat kejadian tadi pagi yang berjalan dengan cepat begitu berhasil membuat luka dalam pada pipinya. Apa yang akan terjadi kalau ia dikejar semalaman? Mati di pagi hari? Sembilan puluh lima persen.
Membuang napas dengan berat menjadi salah satu hobi yang sering Jihoon lakukan hari ini.
Oh, bicara tentang wanita hantu itu, Jihoon merasa banyak keganjilan pada dirinya. Sebelumnya, Jihoon tidak pernah bisa melihat hantu, kenapa sekarang ia tiba-tiba bisa? Dengan sangat jelas pula―walau hanya sebagian tubuhnya saja.
Karena itu, Jihoon tidak menaruh rasa curiga sedikitpun ketika matanya menemukan kehadirannya. Bahkan mungkin sampai sekarang ia tidak akan tahu, kalau saja Soonyoung tidak memberitahunya. Jihoon pikir dia adalah wanita biasa yang sedang ingin berjalan-jalan di malam hari.
Yang lagi-lagi membuat Jihoon ingin memukul kepalanya sendiri adalah ketika ia mengingat kembali sebuah fakta, bahwa tidak akan ada yang berani keluar rumah di lingkungan sekitar rumah Jihoon. Terutama saat jarum jam sudah menunjukkan angka setengah sepuluh. Selama Jihoon tinggal di sana, ia tidak pernah sekalipun mendapati tetangganya keluar dari rumah malam-malam.
Bagaimana ia bisa tahu? Karena setiap malam, Jihoon pasti akan terjaga sampai dini hari untuk memantau ada tidaknya makhluk halus yang berkeliaran. Karena itu Jihoon yakin akan penglihatannya yang tak pernah menemukan sesosok orang pun di tengah malam―walau hanya untuk berjalan-jalan.
Semakin tidak masuk akal saat Jihoon yang tidak merasa heran sama sekali saat melihat wanita hantu itu, dikelilingi pendar cahaya keputihan. Berpendar buram, tapi jelas di mata Jihoon―dan ia tidak merasa curiga. Rasanya ia seperti tidak pantas lagi menyandang nama Si Penganalisis yang Tepat―walau ia sendiri yang membuat panggilan itu untuk dirinya.
Jihoon menyerah dengan pelajaran kali ini. Ia meletakkan kepalanya yang masih memikirkan hal-hal lain di atas kedua lengannya yang terlipat. Ia mengantuk, bosan, dan lelah. Tapi juga merasa senang karena jantungnya yang berdegup kencang saat ini.
Ia tidak sabar menunggu nanti malam. Yang Soonyoung bilang akan datang mengunjungi rumahnya, wanita hantu itu, Jihoon masih penasaran dengan wajahnya. Keringat dingin muncul di dahi Jihoon, ia gugup. Tapi masih tidak bisa menyembunyikan senyum antusiasnya. Jihoon mengambil buku tulis untuk menutupi kepalanya.
Soonyoung. Kwon Soonyoung.
Jihoon ingin mengenalnya lebih. Pemuda itu―Jihoon merasa pemuda itu telah membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupannya. Kehadirannya pertama kali di hidup Jihoon saja sudah membawakan hal yang diinginkan Jihoon sejak lama.
Berpikir, Jihoon bertanya pada diri sendiri.
Kwon Soonyoung itu, bisa tidak membawakan hal yang menyeramkan kepadaku?
.
.
.
To be Continued...
A/N :
Story Words Count : 3.185 (Without Summary, Emoji, Dots, and A/N).
Saya kembali untuk fast update ff SoonHoon ini, karena mendapat respon positif yang cukup membuat saya bersemangat untuk mengetik kelanjutannya. Dan ya, bab ini lagi-lagi masih pembahasan. Konflik utama baru akan diungkap di bab selanjutnya. Semoga bab ini tidak mengecewakan dan membuat readers tetap menunggu bab selanjutnya.
Note 1: Perlu diketahui bahwa konflik ff ini akan selalu terbagi-bagi per 3 atau 4 bab. Dengan kasus baru di 3/4 bab tersebut. Namun konflik utama tetap akan melaju bersamaan dengan konflik lainnya.
Note 2: Seperti yang saya sebutkan di summary, ff ini tidak seperti cerita horor pada umumnya.
Note 3: Hantu, atau makhluk halus yang terdapat dalam cerita ini murni tercipta dari pikiran Alex. Yang sedikit terinspirasi oleh urban legend. Jadi yang berharap banyak akan adanya urban legend yang muncul di ff ini, saya sepertinya akan setengah mengecewakan Anda.
Note 4: Saya rela tidur 4 jam dalam 2 hari ini untuk melanjutkan ff demi kenyamanan para readers.
Note 5: Semoga bab ini tidak mengecewakan.
Special Thanks to : Paperoheart, , KittyJihoon, yayaerma1, mongyu0604, m2hyj, jihooney, fallen1004, dhantieee, bbihunminkook, aulialuthf27, aiayanaa, Ntaekookie, NadyaLee, DaeMinJae, Choiminkii923, sophiasoraya2, siscaMinstalove.
Terima kasih telah memberi tanda ceklis pada favorit dan follow. Terima kasih telah mengungkapkan pendapat Anda terhadap ff ini melalui kolom review, dan membeludaknya silent reader, saya sangat berterima kasih.
Masih perlu dilanjutkah? Atau cukup sampai di sini? Mungkin ada yang ingin mengekspresikan pendapat lagi atau memberi masukan?
Terima kasih.
alexssucchi.
Malang, 20150902
