DISCLAIMER: YunJae milik diri mereka sendiri. Penulis tidak memiliki kuasa apapun atas semua tokoh dalam ff ini. Tapi line story PURE milik author seorang.. hehehe, thank you.
TITLE: Oh My Lady?!
Author: ReDeviL9095
CAST:
Kim Jaejoong 30 y.o
Jung Yunho 27 y.o
Lee Howon/Hoya 17 y.o
Kim Heechul 32 y.o
Kwon Yuri 27 y.o
Hong Sukchun
Choi Siwon
OTC
Genre: Romance, Hurt, Komedi
Rate: PG – 17+
Lenght: Chapter
Warning: GS FOR UKE! DONT LIKE DONT READ.. OOC, AU, Typo(s)
.
.
Chapter 4
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunho sempat memberontak saat Heechul tiba-tiba datang dan langsung menyeretnya tanpa berucap satu kata pun. Tapi saat pandangan mereka bersirobok.. Yunho merasakan nyalinya menciut karena Heechul terlihat sungguh sangat menyeramkan.
Tak perlu dijelasakan pun semuanya seolah sudah terbaca; ada yang tidak beres. Dan yang tidak beres ini tentu saja berkaitan dengan Jaejoong.
"Sahabatku seharian ini menunggumu dan sampai sekarang yang ditunggu belum menampakkan batang hidungnya! Coba kau pikirkan itu Jung Yunho!"
Yunho merasa tidak terima mendapat kalimat semprotan seperti itu. "Nyonya pikir memangnya yang punya keperluan anda saja? Aku juga sama. Aku memiliki keperluanku sendiri. Dan asal nyonya tahu. Aku tidak pernah tahu jika Jaejoong sshi seharian ini menungguku."
"Sekarang kau berani melawan heh?"
"Aku tidak sedang melawan anda, nyonya Kim. Tapi setidaknya aku punya harga diri. Tak ada orang yang ingin harga dirinya direndahkan dengan cara seperti ini."
"Darimana kau berpikir jika aku sedang merendahkan harga dirimu Jung Yunho sshi?"
"Nyonya selalu ingin agar aku menuruti apapun yang nyonya inginkan. Tak pernahkah nyonya berpikir jika aku ini bukan robot kalian yang bisa siap sedia kapan saja?"
Heechul menoleh, memberikan tatap menusuk pada sosok yang sedang ia seret memasuki kediaman Jaejoong.
"Kau salah kalau kau berpikiran seperti itu tentangku Jung Yunho. Sesugguhnya aku pun tidak sudi lama-lama berurusan dengan orang sepertimu. Tapi sialnya kenapa wajah mendiang suami Jaejoong harus mirip dengan wajahmu? Kenapa tidak orang lain saja? Orang lain yang lebih bersabar.. Atau mungkin orang lain yang bisa sedikit berperasaan."
"Jika nyonya berbicara tentang perasaan, lantas dimana letak perasaan anda saat tahu jika aku ini hanya dijadikan sebagai bidak pengganti saja huh?! Yang Jaejoong sshi lihat itu adalah mendiang suaminya. Bukan aku."
Yunho menghempaskan tangan Heechul yang sedari tadi mencengkeram belakang kemejanya dengan brutal. Shit! Wanita ini benar-benar sadis.
"Baiklah Jung Yunho. Karena aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu yang jelas-jelas tidak ada gunanya, lebih baik kau masuk ke dalam dan lihat bagaimana kondisi Jaejoong saat ini!"
..
..
..
..
..
Perasaan sesak dan ngilu Yunho rasakan saat kedua mata musangnya menatap penuh iba pada sosok cantik Jaejoong yang tertidur dengan jejak air mata di wajah yang terlihat sangat merah akibat menangis dalam waktu yang lama.
"Mianhae Jaejoong sshi..." ucap Yunho seraya mengelus surai hitam Jaejoong yang tertidur diatas pangkuannya.
Yunho benar-benar tidak mempunyai bayangan jika Jaejoong sampai berekasi sedemikian rupa karena gagal menemui dirinya. Raut wajah terluka sungguh sangat terlihat jelas saat Yunho mendapati sosok si jelita yang meraung pilu di dalam dekapan Hoya.
"Yunho yah... saranghae.."
Jantung Yunho serasa berhenti berdetak saat bibir merah Jaejoong mengigau dalam tidurnya. Namun sebersit perasaan miris tidak dapat dia tampik. Fakta bahwa nama Yunho yang disebut Jaejoong belum tentu adalah namanya melainkan nama mendiang suaminya.
Dengan gerakan penuh kelembutan, Yunho berusaha membenarkan posisi tidur wanita cantik yang enggan menjauh dari pangkuannya itu.
..
..
..
..
"Aku sungguh tidak tahu lagi harus bagaimana jika akhirnya selalu seperti ini.." Heechul mendesah panjang.
"Jaejoong selalu berakhir dengan Yunho sebagai pengendali emosinya. Apa yang harus kita lakukan Howon ah? Jujur saja semakin kesini aku jadi merasa semakin tidak menyukai pemuda bermarga Jung itu. Dia sungguh keras dan tidak bisa diajak berkompromi," lanjut Heechul mengeluarkan semua kejengkelannya terhadap Yunho di depan Hoya.
"Tapi kita tidak punya pilihan lain, Chulie ahjumma. Satu-satunya orang yang bisa menenangkan eomma adalah Yunho hyung. Mungkin nanti aku akan berbicara serius kepadanya, dan semoga saja Yunho hyung bisa mengerti."
Heechul memutar bola matanya. Memang tidak ada jalan lain yang bisa mereka lakukan selain merayu Yunho agar mau sedikit lebih akrab dengan Jaejoong.
"Baiklah, aku harap kita benar-benar bisa menemukan jalan keluar yang baik."
Baik Heechul maupun Hoya, keduanya memandang Yunho yang masih setia mengelus rambut panjang Jaejoong dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Dengan gerakan sepelan mungkin mereka menutup perlahan pintu kamar milik si jelita.
..
..
..
..
..
Dua hari berlalu sejak kejadian itu. Dengan segala rayuan akhirnya Hoya berhasil membujuk Yunho untuk tinggal di kediaman mereka. Yang artinya untuk saat ini Yunho bekerja sebagai pengawas, pengasuh, pengawal... atau lebih jelasnya bisa disebut sebagai bodyguard Jaejoong.
Yunho meminta cuti yang entah tidak tahu akan berakhir kapan dari kedai jajangmyeon milik Hong Sukchun. Meski Sukchun awalnya mersa berat melepas pegawai badungnya itu, namun karena alasan Yunho adalah demi untuk Jaejoong akhirnya dia luluh dan mengijikan tanpa syarat.
Dan karena Hoya sadar jika Yunho hidup serba seadanya, dia menjanjikan gaji yang besar kalau Yunho mau menjadi bodyguard ibunya, menjaga dan melakukan yang terbaik untuk sang eomma.
"Yunnie yah... hihihihi..."
Jaejoong terkikik gembira karena sejak dari ia bangun tidur hingga sekarang hampir menjelang tengah hari Yunho selalu bersamanya. Sarapan bersama, menonton DVD Hello Kitty bersama, memberi makan ikan di kolam bersama, serta masih banyak lagi kebersamaan lain yang Jaejoong bahkan lupa menghitungnya.
"Mwoya ige?" heran Yunho ketika Jaejoong menyodorkan sebuah jepitan rambut berbentuk capung dengan warna pink ke arahnya.
"Eum... Yunnie yah, Yunnie bisa 'kan memasangkan jepit rambut ini di kepala Joongie," ujarnya malu-malu.
Dengan kikuk Yunho pun menuruti keinginan si jelita. Bisa ia cium dengan jelas betapa harum dan wanginya aroma rambut Jaejoong.
"S-sudah.." kata Yunho sedikit gugup.
"Gomawo ne, yeobo.." tanpa ragu Jaejoong pun mendaratkan sebuah kecupan kecil di pipi Yunho sebagai bentuk terima kasihnya.
..
..
..
..
..
Yuri tahu, kekasihnya memang sudah menjelaskan jika dia sudah tidak bekerja lagi di kedai milik lelaki botak bermarga Hong itu. Namun yang membuat Yuri penasaran adalah Yunho tidak mengatakan kepadanya dimana dia bekerja sekarang.
"Aish!" gerutunya sambil memandangi ponsel miliknya. Pasalnya sudah sejak tadi dia mengirim pesan kepada Yunho namun belum ada balasan juga.
Tidak biasanya Yunho mengabaikan dirinya seperti ini. Biasanya meski sibuk atau apapun Yunho pasti selalu sempat memberi kabar kepadanya. Namun sekarang laki-laki bermata sipit itu seolah entah bersembunyi dimana.
"Oppa kau ini sebenarnya kenapa?" ujar Yuri frustasi, gadis manis itu mengeluh dan berbicara pada dirinya sendiri.
Sementara itu di pihak lain, sosok yang dipikirkan Yuri sedang tertawa-tawa kecil menonton kelakuan unik Jaejoong.
"Yunnie yah... kkajja! Issssh, kenapa Yunnie jalannya lama sekali sih?!" Jaejoong menyeret tangan Yunho dengan gemas. Sekarang mereka berdua sedang pergi membeli es krim kesukaan Jaejoong. Dan karena Jaejoong sudah tidak sabar dia jadi merasa kesal pada Yunho yang menurutnya berjalan seperti keong.
"Jangan terburu-buru nyonya, nanti bisa jatuh."
Jaejoong merengut, degan bibir mencebil dia menggerak-gerakan jari telunjuknya tepat di depan wajah Yunho.
"No... No... No... Joongie kan sudah bilang, jangan panggil Joongie nyonya, arraseo!"
Yunho terkekeh, melihat tampang sang nyonya majikan yang berusaha untuk terlihat seram tapi gagal total karena keimutannya.
"Aish, baiklah emmm- Joongie.." ujarnya sedikit kikuk.
"Yeiy~ Yunnie memang yeobonya Joongie yang paling tampan.." riang Jaejoong sambil bergelayutan di lengan kekar pemuda tampan itu.
Tak sampai membutuhkan waktu sepuluh menit, keduanya pun sampai pada toko es krim langganan Jaejoong. Karena kebetulan saat itu toko sedang sepi, Yunho dan Jaejoong jadi bisa berheboh ria tanpa malu.
Dengan penuh sayang, sesekali Jaejoong mencoba untuk menyuapi Yunho dengan es krim miliknya. Lalu dengan manja dan genit Jaejoong menyuruh Yunho agar balik menyuapi dirinya.
Kkkkkkk persis seperti dua sejoli yang sedang mabuk asmara.
Mungkin aksi manis mereka akan berlangsung lama jika saja tidak ada suara teguran seorang wanita yang memanggil nama Yunho.
"Yunho oppa?"
Mata sipit Yunho melebar melihat yeojachingunya yang berdiri tidak jauh dari kursi yang dia dan Jaejoong duduki.
"Y-yuri yah..?"
..
..
..
..
..
Jaejoong memeluk Yunho erat-erat karena dia tahu, perempuan yang sejak tadi menatap mereka dengan aura cemburu yang membara itu berniat merebut Yunhonya.
"Yunnie..." cicit Jaejoong saat Yuri memelototinya.
"Jangan seperti itu Yuri yah... Kau menakutinya," kata Yunho.
Yuri semakin tidak suka. "Lihat. Kau benar-benar sangat peduli padanya Oppa."
"Aku sudah menjelaskan yang sebenarnya bukan? Jadi kumohon, tolong jangan membuatnya rumit." bela Yunho. Dia jadi merasa serba salah harus bagaimana.
"Awalnya aku mencoba mengerti Oppa, tapi setelah aku melihat degan mata kepalaku sendiri jujur aku merasa sangsi. Jaejoong sshi sangatlah cantik. Dan ditilik dari sikapnya yang senang sekali bermanja kepadamu, aku jadi khawatir suatu hari kau bisa jatuh cinta kepadanya."
Benar. Bukan hanya Yuri saja yang punya pikiran seperti itu. Yunho sendiri kerap kali memberikan wejangan kepada otaknya agar tidak sampai keluar jalur. Tigkah manja Jaejoong dengan segala pesona kecantikannya sering membuat debaran aneh di dada Yunho.
"Itu tidak mugkin Yuri yah.. Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya."
"Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya Oppa.. Aku tidak mau kehilanganmu."
Yunho mendesah. "Kau percaya padaku bukan?"
"Aku percaya padamu Oppa. Tapi aku ragu dengan hatimu." Yuri menatap Yunho dengan pandangan sendu.
..
..
..
..
..
Jaejoong sadar, sejak mereka pulang dari jalan-jalan, ada yang berubah dengan Yunho. Pemuda itu tidak seceria seperti beberapa jam sebelumnya. Yunho terlihat murung seperti sedang memikirkan sesuatu.
Meski Jaejoong dinyatakan bermasalah dengan otaknya, tapi hatinya memberi tahu jika perempuan yang sempat mereka temui itu pastilah seseorang yang berarti untuk Yunho.
"Eomma, kau sudah pulang?" sapa Hoya ketika malihat ibunya masuk sambil menggandeng Yunho.
Jaejoong tidak menjawab. Dia mengangguk lesu lalu kemudian melepaskan tangan Yunho dan bergegas melenggang ke kamarnya.
Hoya mengerutkan dahinya. "Ada apa hyung? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya memandang penuh ingin tahu ke arah Yunho yang terlihat kusut.
"Tidak ada apa-apa. Mungkin Jaejoong sshi hanya kelelahan. Sebab seharian ini dia terlalu bersemangat," ungkap Yunho. Dia memilih menutup masalah pribadinya sendiri.
"Oh... Kalau begitu sebaiknya hyung juga istirahat saja. Aku akan pergi ke pasar sebentar dengan bibi Hwang membeli daging untuk makan malam nanti."
"Arraseo.."
Saat makan malam, Yunho merasa lega karena Jaejoong tetap ceria seperti biasanya. Padahal dia sempat takut Jaejoong akan bertanya banyak hal tentang siapa itu Yuri.
Wanita cantik bermata bulat itu terkekeh saat dengan telaten Hoya menyuapkan daging panggang ke mulut mungil miliknya.
"Dagingnya enak sekali..." ujar Jaejoong dengan riang. Membuat bibi Hwang yang duduk di sampiangnya tersenyum bahagia.
"Masakan bibi memang selalu enak kan?!"
"Ne... dan Joongie suuukkkkaaaaa sekali sama apapun yang bibi masak. Hihihi."
Yunho dan Hoya yang serta merta duduk mengitari meja makan berbentuk persegi panjang itu pun tidak bisa menyembunyikan senyum mereka melihat tingkah menggemaskan sang nyonya.
Namun saat malam sudah beranjak dini hari, tak ada seorang pun yang tahu jika dibalik dinding kamar Jaejoong, sayup-sayup terdengar isakan pilu yang menunjukan betapa pedih hatinya.
"Yeobo... Junsu eonni...hiks.." diusapnya bingkai foto mendiang Lee Yunho dan Junsu penuh dengan kerinduan.
Bibir merah Jaejoong bergetar kecil. "Bogoshippo yo..."
Dengan pelan dan hati-hati Jaejoong beranjak mendekati sosok tampan Yunho yang tertidur lelap di atas sofa di sudut kamarnya. Untuk sementara Yunho memang masih tidur di atas sofa panjang nan empuk di dalam kamar Jaejoong. Selain karena itu permintaan Jaejoong sendiri, kamar tamu yang nantinya akan ditempati Yunho juga masih dalam tahap renovasi yang baru bisa dihuni beberapa hari lagi.
Jaejoong merundukan badannya tepat searah wajah Yunho. Dengan lembut dibenarkannya selimut yang membungkus badan si tampan itu.
"Yunho yah, mianhae.."
..
..
..
..
..
TBC
Hello~ ._.)/ apa kabar ffn?
Thank U and I Love U
ALL READERS :*
BearHug
ReDeviL9095
