DISCLAIMER: YunJae milik diri mereka sendiri. Penulis tidak memiliki kuasa apapun atas semua tokoh dalam ff ini. Tapi line story PURE milik author seorang.. hehehe, thank you.

TITLE: Oh My Lady?!

Author: ReDeviL9095

CAST:

Kim Jaejoong 30 y.o

Jung Yunho 27 y.o

Lee Howon/Hoya 17 y.o

Kim Heechul 32 y.o

Kwon Yuri 27 y.o

Hong Sukchun

Choi Siwon

OTC

Genre: Romance, Hurt

Rate: PG – 17+

Lenght: Chapter

Warning: GS FOR UKE! DONT LIKE DONT READ.. OOC, AU, Typo(s)

..

..


Chapter 5

...

...

...

...

...

Kim's Fashion adalah salah satu butik mewah yang masuk dalam jajaran kelas atas yang sesungguhnya adalah sebuah perusahaan bersama hasil dari penggabungan saham milik Jaejoong dan Heechul.

Semasa kuliahnya dulu, Jaejoong adalah junior Heechul. Mereka dikenal sebagai dua mahasiswi cantik yang menjadi primadona kampus. Keduanya bersahabat baik, bahkan meskipun mereka sudah wisuda, jalinan persahabatan mereka justru semakin dekat dan akrab.

Dulu, jika saja mata hati Jaejoong tidak terlalu buta dengan perasaan sayangnya terhadap Lee Yunho, mungkin dia sudah sejak dulu dilamar oleh para lelaki dari kalangan menengah sampai atas yang tergila-gila kepadanya.

Jaejoong cantik, pintar, baik, ramah dan murah senyum. Jadi siapapun teman bergaulnya pasti akan merasa suka berdekatan dengannya.

Pernah dulu, seorang flower boy kampus yang bernama Kang Moosuk dengan gamblang menyatakan cinta pada Jaejoong. Namun balasan yang dia dapat selalu penolakan.

Heechul yang kala itu adalah satu-satunya karib Jaejoong yang menjadi tempat curhat dan adunya merasa heran sendiri. Dengan setianya Jaejoong menjaga perasaan sayang kepada sang kakak ipar meski dia tahu sendiri jika yang bersangkutan tak pernah sedikitpun memiliki perasaan yang sama sepertinya.

Oleh sebab itu Heechul sempat membatin, betapa beruntungnya siapapun laki-laki yang bisa merebut hati Jaejoong kelak di kemudian hari. Karena Heechul tahu sahabatnya itu bukanlah orang yang gampang jatuh cinta. Dan Jaejoong juga bukan orang yang bisa dengan mudah melupakan orang yang dicintainya.

Jadi jika sekali Jaejoong jatuh cinta, maka dia akan membarikan sepenuh hatinya untuk orang tersebut. Dan akan sangat sulit untuknya jika sewaktu-waktu orang tersebut berniat untuk meninggalkannya.

.

.

.

"Mianhae Jaejoongie... mulai sekarang aku sepertinya akan jarang mengunjungimu lagi. Pelanggan dan pesanan di butik semakin hari menjadi semakin membludak dan tidak bisa dihandle lama-lama," tutur Heechul saat kala ini dia masih sempat memiliki waktu luang untuk mengunjungi sahabat terbaiknya.

"Lagi pula sekarang kan ada Yunho. Jadi joongie tidak akan kesepian lagi.." lanjutnya sambil melirik ke arah Yunho ogah-ogahan. Kesalnya masih belum hilang pada si pemuda Jung itu.

Sebenarnya, Heechul mengakui Yunho memanglah tampan. Dan andai saja Jaejoong bertemu dengan Jung Yunho terlebih dahulu, bukan dengan Lee Yunho mendiang suaminya. Heechul yakin Jaejoong pasti tidak akan pikir panjang untuk jatuh cinta pada si pemuda tersebut.

Bukan. Bukan karena sosok mereka yang dimirip-miripkan. Tapi jika dibandingkan dengan tingkah laku mendiang suami Jaejoong yang terkesan kaku dan sebodo amat, Jung Yunho ini sedikit jauh lebih hangat dan cukup pengertian.

Well, yeah... meskipun sikap meyebalkannya selalu ada. Tapi Yunho ini jauh lebih banyak poin plus daripada minusnya. Karena sesuai fakta yang ada... Jikalau Yunho yang dulu hatinya hanyalah milik Junsu seorang.

"Tapi... tapi Chulie, nanti kalau Joongie merindukan Chulie bagaimana?" rengek Jaejoong. Dia merasa tidak terima jika Heechul akan jarang mengunjunginya. Yang dengan begitu berarti dia juga akan jarang diajak pergi ke salon bersama Heechul seperti biasanya. Padahal Jaejoong sangat menyukai salon. Dia selalu senang jika Heechul mengajaknya melakukan berbagai macam ritual perawatan kecantikan.

Kkkkkkkkk... jangan ditanya. Meski acuh tak acuh Jaejoong paling peduli soal penampilannya.

"Joongie kan bisa melepon. Atau kalau Joongie merindukan eonni, Joongie bisa mendatangi eonni langsung ke butik."

"Kalau Joongie datang ke butiknya bersama Yunnie, boleh?" Jaejoong mengedip-ngedipkan matanya lucu. Membuat tangan Heechul gatal ingin sekali mencubit pipinya.

"Boleh Joongie... jangankan bersama Yunnie. Bersama Howonie, serta Bibi Hwang juga boleh.."

"Baiklah kalau begitu. Tidak apa-apa kalau Chulie tidak bisa sering lagi mengunjungi Joongie. Biar nanti Joongie sendiri yang akan mengunjungi Chulie. Hehehe.."

Heechul ikut tertawa sekilas, sebelum wajahnya berubah menjadi serius kembali. "Aku menitipkan Jaejoong padamu Jung Yunho. Dan aku harap aku bisa mempercayaimu untuk menjaganya dan jangan pernah sekali-kali kau coba untuk menyakiti sahabatku atau kau akan tahu sendiri akibatnya," ancamnya.

Yunho yang sejak tadi hanya berperan sebagai penonton dan pendengar yang baik langsung buka suara. "Nyonya tenang saja. Aku pasti akan menjaga Nyonya Jaejoong.."

Heechul berdecak. "Dan satu lagi Jung Yunho. Lebih baik kau memanggilku dan Jaejoong dengan panggilan Nuna. Rasanya konyol sekali jika kau terus-terusan memanggil kami dengan nyonya."

"Tapi kan kalian berdua memang nyonya majikan."

"Aish... tapi panggilan nyonya-nyonya seperti itu kesannya seolah aku dan Jaejoong sudah sangatlah tua." Heechul kembali memprotes.

Yunho menangguk-anggukkan kepalanya. Memang ada benarnya juga. Jika ditilik dari penampilan fisik, kedua wanita matang nan cantik bermarga Kim itu memang masih pantas dipanggil Nuna oleh lelaki seumurannya. Dan panggilan seperti nyonya malah justru terkesan tua dan terlalu formal.

"Baiklah, nuna.." kata Yunho pada akhirnya.

.

.

.

Malam ini Hoya tidak pulang. Dan sejak pagi tadi bibi Hwang sedang pulang ke kampung halamannya di Busan selama dua hari.

"Joongie bosaaaaaaaaan...!" dengan kesal Jaejoong melemparkan boneka beruangnya asal-asalan.

"Hu uh...!" bibir merahnya kembali mengerucut dan mendengus. Jaejoong merasa kesepian. Biasanya pada jam-jam setelah makan malam begini dia dan Hoya akan menonton televisi bersama di kamar anak tampannya itu. Lalu dengan patuh Jaejoong akan duduk manis menemani Hoya mengerjakan tugas kuliahnya.

Namun malam ini Hoya sedang menginap di rumah temannya. Pemuda itu bilang dia terpaksa harus menyelesaikan tugas di rumah Park Myungsoo yang katanya tugas itu harus selesai besok pagi.

"YUNNNNIIIIEEEEE...!" Jeritan Jaejoong yang tidak bisa dibilang kecil itu membuat Yunho yang sedang mandi langsung kelimpungan. Karena dia khawatir terjadi apa-apa dengan sang nyonya majikan, Yunho yang masih bugil langsung menyambar handuk dan berlari keluar menghampiri si cantik tersebut.

"Nuna... gwencahanayo? Ada apa? Nuna terjatuh?" tanya Yunho dengan beruntun.

Namun bukannya menjawab Jaejoong malah menunduk malu dengan wajah merona. Pemandangan Yunho yang bertelanjang dada dengan hanya handuk saja yang melingkari pinggangnya membuat pipi Jaejoong mendadak berubah warna menjadi merah muda.

"Nuna? Gwenchanayo?" Yunho menjulurkan tangganya bermaksud hendak menyentuh pundak Jaejoong yang masih menunduk tidak mau memandangnya.

Namun alangkah kagetnya Yunho karena begitu tangannya baru saja menempel, Jaejoong langsung berjingkat dan menjerit keras.

"HUWWWWAAAAAAAAAA YUNNIE MESUUUMMM...!"

.

.

.

Yunho menghela napas. Saat ini dia sudah berpakaian lengkap dan posisinya sekarang sedang duduk dengan jarak dua meter dari Jaejoong.

Sebenarnya Yunho ingin sekali meledak tertawa melihat kelakuan Jaejoong yang sejak tadi bertingkah seperti perawan yang hendak dipaksa melakukan malam pertamanya.

Coba saja, bagaimana tidak lucu jika saat Yunho hendak mendekat Jaejoong buru-buru beringsut menjauh dengan muka merah padam seperti tomat matang yang baru dipetik dari kebun.

Dan saat Yunho bertanya kenapa Jaejoong menjaga jarak dengannya, dengan malu-malu Jaejoong menjawab: "Joongie malu Yunnie yah.. soalnya saat tidak pakai baju tadi wajah Yunnie kelihatan mesum sekali," ujarnya dengan polos.

See..

Jaejoong selalu tidak pernah gagal membuat Yunho menjadi gemas sendiri. Keimutannya, keluguannya, kepolosan dan tingkah kekanakan yang apa adanya membuat Yunho semakin kagum dengan sosoknya.

Yuri benar. Jaejoong sangat lah cantik. Bahkan jika dibandingkan dengan kekasih Yunho itu Jaejoong unggul jauh sekali. Sebab bukan hanya cantik dan kaya, namun Jaejoong juga wanita matang yang penuh pesona.

Pernah sesekali dalam khayalannya Yunho sempat berandai-andai. Andai saja Jaejoong tidak mengalami tekanan psikis seperti itu pastilah sosok lugu nan kekanakan ini akan berubah menjadi wanita berkelas yang dipuja banyak pria.

Status Jaejoong yang janda... dengan segala harta warisan yang ada tentu banyak sekali para lelaki yang berlomba-lomba ingin menjadi pendampingnya. Sementara dirinya siapa? Yunho hanyalah pemuda miskin yang bekerja sebagai kuli dan tidak punya apa-apa. Yunho bahkan merangkap sebagai tulang punggung keluarga yang membantu keuangan ibunya di Gwangju sana.

Ya, dirinya hanyalah seorang anak yatim yang ditinggal ayah saat Yunho baru saja lulus sekolah menengah atas. Itulah kenapa dia memilih bekerja dan tidak meneruskan kuliahnya. Karena Yunho ingin membantu ibunya. Peran kepala keluarga sekarang berpindah ke pundaknya. Meski gaji saat bekerja di kedai Hong Sukchun tidaklah seberapa, namun Yunho selalu menyisihkan separuhnya untuk dia kirimkan ke Gwangju sana.

Jung Raesuk ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki bisnis kecil-kecilan membuat kimchi dari hasil panen kebun kubis yang dihasilkan dari lahan sepetak di belakang rumah mereka. Memang hasilnya lumayan dan cukup banyak pelanggan, hanya saja Yunho merasa kasihan melihat ibunya bekerja keras seperti itu. Jadi meski Raesuk menolak setiap kali Yunho mengirimkan uang kepadanya dan menyuruh agar uang itu digunakan untuk keperluan Yunho sendiri saja, namun Yunho tidak mengindahkannya.

.

.

.

"Joongie nuna, ya~" dengan iseng Yunho berniat menggoda Jaejoong saat mereka hendak memasuki kamar tidur.

"A-ada apa Yunnie?"

"Malam ini aku tidur dimana?" Yunho menarik turunkan alisnya dibuat-buat.

Melihat itu terus terang Jaejoong langsung merinding seketika. "Emmm... Yunnie tidur di kamar Howonie saja ne. Karena hari ini Howonie tidak ada, jadi Yunnie boleh menempati kamarnya."

Setelah berkata begitu Jaejoong langsung berlari masuk kamar dan mengunci pintu dengan terburu-buru.

Sementara Yunho malah terpaku. Sejurus kemudian dia tertawa terbahak-bahak melihat reaksi si cantik jelita itu. Aigo~

"Dasa bodoh!" Jaejoong memegangi dadanya yang sejak tadi berdebar keras tidak mau melambat.

Dengan senyum merekah dia membanting tubuhnya ke atas ranjang. Tak lama kemudian senyum itu pudar berganti menjadi seraut wajah sendu yang begitu mendung.

"Yunho yah.. mianhae. Aku harap kau tidak akan membenciku nantinya."

Jaejoong menarik napas panjang. Sepasang mata bulat jernihnya melirik pada bingkai foto pernikahan mendiang Junsu dan suami mereka.

"Eonni.. Oppa.. apa yang harus aku lakukan?"

.

.

.

Pagi harinya, layaknya maling Jaejoong sedang bergelut dengan perlatan dapur untuk sarapan tanpa menimbulkan suara. Namun ternyata dewi keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya. Karena meski dia bergerak sangat pelan bahkan nyaris tanya bunyi, tapi dengan ceroboh siku kanan Jaejoong menyenggol tutup panci yang kemudian jatuh ke atas lantai keramik dapur hingga menimbulkan musik pagi yang berbunyi:

GLOMBRANG~~~~~~~~

Dan karena kamar Hoya terletak tidak jauh dari dapur, otomatis saja kegaduhan itu membangunkan Yunho yang masih sempat terbuai alam mimpi.

Dengan tampang kusut, mata sipit yang setengah terbuka, serta tatanan rambut yang acak adul, Yunho keluar dari kamar bergegas mengampiri Jaejoong yang berdiri di samping rak alat makan dengan mulut ternganga melihat penampilan bodyguardnya.

"Jaejoongie, gwenchana?" ceplos Yunho entah sadar atau tidak dia membuang embel-embel nona di belakang nama Jaejoong.

Jaejoong masih sempat tertegun melihat penampilan Yunho. Ditambah lagi panggilan manis di pagi hari yang entah kenapa terasa merdu sekali di telinganya.

"Nuna, kau kenapa? Ada yang terluka?" tanya Yunho lagi. Kali ini dengan menambahkan title nuna. Mungkin saja arwah Yunho yang sempat melanglang buana ke alam mimpi sudah mulai terkumpul kembali.

Jaejoong menggeleng, lalu kemudian matanya berubah menjadi berkaca-kaca. "Hiks... Yunnie, Joongie lapar.." adunya.

..

..

..

..

..


Setiap orang memiliki rahasia yang dia pendam sendiri dalam hati tanpa berniat membaginya kepada yang lain.

Mungkin Jaejoong adalah salah satunya. Dia memiliki rahasia yang tidak ingin dia beberkan pada siapapun.

Namun, jangan berburuk sangka dulu. Karena dibalik setiap tidakan selalu ada alasan.

Tidak apa-apa, jika dengan Jaejoong bertingkah konyol hal itu bisa membuatnya dilimpahi kasih sayang dan perhatian dari banyak orang, tak apa.. Sungguh!

Tidak apa-apa, jika dengan berpura-pura seperti ini orang-orang yang ia sayangi selalu berada disisinya dan tak pernah mau meninggalkan dirinya.

Sebab, dulu dia pernah bersikap apa adanya namun yang dituai hanya pahit semata.

Yang dia cintai menolaknya, yang dia sayangi meninggalkannya, yang dia kasihi mengabaikannya, yang dengan setulus hati dia puja justru malah tidak pernah meliriknya.

Dan sekarang dia memilih egois. Karena dia tidak mau hal yang sama terulang kembali untuk yang kedua kalinya.

Lee Yunho dulu menolaknya karena dia memilih Junsu. Dan sekarang... Akankah Jung Yunho juga ikut meninggalkannya karena dia lebih mencintai Yuri-nya?

Tentu tidak! Jaejoong tidak akan membiarkannya.


..

..

..

..

..

Waktu bergulir dengan sendirinya, hari-hari berlalu tanpa terasa dan bahkan hampir tanpa disadari oleh Yunho. Mungkin semua itu karena jauh di dalam hatinya dia mulai diam-diam menikmati kebersamaan dengan Jaejoong. Sebab bagaimanapun juga dirinya hanyalah lelaki normal biasa yang bisa terhanyut dengan buaian pesona seorang wanita.

Sikap sembrono Jaejoong, pelan tapi pasti mulai mengikis hatinya. Menggeser posisi wanita lain – Yuri – yang berstatus sebagai kekasihnya.

Yunho termakan omongannya sendiri. Dulu dia berucap tidak akan jatuh cinta pada Jaejoong. Namun sekarang perkataan itu harus dia telan kembali. Baru saja satu bulan lebih dia tinggal satu atap dengan wanita cantik itu hati Yunho sudah ketar-ketir begini. Bagaimana nanti pada bulan-bulan berikutnya?

Dia sendiri tidak menduga, jika sosok menawan Jaejoong akan hadir dalam tiap-tiap mimpi liarnya di malam hari. Sungguh! Padahal sedikit pun Yunho tidak pernah membayangkan hal tersebut. Tapi dengan sendirinya, gairah itu menyusup masuk melalui celah-celah bunga tidurnya.

Adai kata Yunho sekelas bajingan, mungkin sudah sejak kemarin dia memanfaatkan keadaan Jaejoong. Tapi tidak. Dia sama sekali tidak punya pikiran seperti itu. Pertama karena dia sadar dia punya kekasih, dan kedua mungkin...

Mungkin karena dia mulai menyayangi Jaejoong.

.

.

.

"Oppa, bagaimana kabarmu?" tanya Yuri di seberang sambungan sana.

Hari ini hari sabtu, dan seperti rutinitas para pasangan sejoli lainnya, setiap akhir pekan Yunho akan menelpon kekasihnya meski hanya untuk bersapa ria semata.

"Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana kabarmu, Yuri yah?" kata Yunho. Dia melirik kesana kemari, bermaksud mencari keberadaaan Jaejoong di sekitarnya. Karena entah kenapa dia malah memilih menelpon secara sembunyi-sembunyi seperti ini.

"Aku juga baik-baik saja Oppa.. oh iya, kapan kau ada waktu luang? Aku rindu sekali berkencan denganmu," ujar si yeojachingu dengan nada bersemangat.

"Entahlah,... Aku tidak tahu. Tapi sepertinya aku tidak akan mempunyai waktu libur untuk pekerjaan yang satu ini," balas Yunho apa adanya.

Memang sejak kesepakatan awal Hoya pernah bilang padanya jika Yunho harus bekerja full menjaga Jaejoong. Jikapun sewaktu-waktu dia hendak berlibur atau memiliki keperluan, Yunho harus mendapat persetujuan Jaejoong terlebih dahulu. Karena dikhawatirkan jika Yunho sehari saja menghilang, maka Jaejoong akan mengamuk seperti dulu lagi.

"Apa? Bagaimana bisa begitu? Tidak boleh seperti itu juga Oppa, kau kan disana untuk bekerja bukan di penjara. Jadi bagaimana mungkin kau tidak diijinkan untuk beristirahat sehari saja." Yuri memekik kesal.

Apa-apaan itu? Jika Yunho tidak diberi libur, lalu kapan dia bisa memiliki waktu berdua dengan kekasihnya? Bagaimana kalau seandainya dia merindukan Yunho dan ingin bertemu dengannya? Tidak mungkin kan jika dia harus datang langsung mencarinya ke kedaiman Jaejoong? Yang benar saja!

Yunho tertawa, "Baiklah, nanti jika ada waktu yang tepat aku akan meminta libur pada mereka.." putusnya.

Sosok cantik itu bersembunyi di samping lemari yang terletak persis di belakang Yunho. Dia menguping dan mendengar apa saja yang Yunho bicarakan dengan pacarnya di seberang telepon sana. Meski Jaejoong hanya mendengar perkataan Yunho saja tanpa tahu apa yang diomongkan oleh si lawan bicara, namun Jaejoong tahu... mereka sedang melepas rindu.

Jaejoong cemburu... dia memegangi dadanya yang tiba-tiba saja merasa ngilu. Selalu seperti ini. Apa yang dia suka sudah menjadi milik orang lain.

.

.

.

Mobil berwarna hitam itu melaju pelan membelah jalanan padat kota Seoul. Meski tidak mempunyai mobil sendiri, jika hanya sekedar menyetir Yunho tentulah bisa. Terima kasih untuk Hong Sukchun yang sudah mengajarinya mengemudikan mobil saat dia dipaksa menjadi tukang supir mobil pick up pengangkut belanjaan kedai milik bosnya dulu.

"Yunnie kita mau kemana?" Jaejoong menolehkan kepalanya pada sosok Yunho yang sedang sibuk menyetir di sebelahnya.

Hari minggu ini, mereka berdua hendak pergi keluar.. pergi jalan-jalan... kemana saja yang penting Jaejoong senang.

"Nuna maunya pergi kemana?" tanya balik Yunho. Dia hanya melirik sekilas pada Jaejoong.

Demi Tuhan! Di mata Yunho hari ini Jaejoong terlihat sungguh cantik sekali. Tak ada dress seperti biasanya. Namun celana jeans gelap dipadu jaket katun putih dengan dalam kaos tipis berwarna senda dengan celana jeans, ditambah sepasang sepatu sport berwarna putih yang menghiasi kaki mulusnya, membuat Jaejoong terlihat seperti remaja tanggung yang hendak berkencan dengan pacarnya.

Tak ketinggalan, rambut hitam lurusnya yang lembut dan panjang sebahu dia gelung tinggi-tinggi, menyisakan poni pendek pada bagian depan yang menutupi sebagian mata indah miliknya.

Perfect! Sempurna! Jaejoong benar-benar menjelma menjadi gadis muda dengan dandanan seperti ini.

Jika saja ada yang melihat dan tahu bahwa usia Jaejoong sudah tiga puluh tahunan, dijamin tidak ada yang percaya. Bahkan Yunho sendiripun merasa tertipu dengan apa yang dia lihat pagi ini.

"Joongie tidak tahu Yunnie... Menurut Yunnie kita sebaiknya pergi kemana?"

"Eummm.. Bagaimana kalau pergi ke taman hiburan?"

"Tidak mau ah... disana ramai Yunnie, banyak orang. Joongie sudah bosan pergi ke taman hiburan karena sering kesana bersama Howonie sebulan sekali," tolak Jaejoong.

"Oh... bagaimana kalau kita pergi menonton film di bioskop?" tanya Yunho lagi.

"Memangnya disana ada film apa saja, Yunnie? Apakah ada film Barbie juga?"

Yunho terkekeh. "Disana tidak ada film Barbie, nuna... tapi disana ada film yang romantis," ujarnya.

"Film romantis? Film romantis itu film yang seperti apa Yunnie yah?" dengan pertanyaan polosnya Jaejoong menekuk alis kebingungan.

Sementara Yunho, dia ingin menjawab namun tenggorokannya merasa gatal tiba-tiba. "Errrr.. film romantis itu... ekhm. Film romantis itu... film yang menceritakan tentang perempuan yang menyayangi seorang laki-laki dan laki-laki itu juga sama-sama menyayangi si perempuan.. Yah, kira-kira seperti itu.." jawab Yunho asal-asalan.

Dia tidak tahu harus memberikan penjelasan yang bagaimana karena dia sendiri tidak begitu paham dengan arti film romantis. Biasanya kan yang menyukai film sejenis itu adalah kaum perempuan. Sementara dirinya daripada yang romantis-romantis seperti itu, Yunho lebih suka menonton film horror atau action.

"Jinjjayo?" mata bulat jernih Jaejoong berkilat gembira.

"Kalau begitu apakah Joongie dan Yunnie bisa dibilang romatis juga? Soalnya Joongie sayang sekali sama Yunnie. Apakah Yunnie juga sayang sama Joongie?"

Yunho hampir spontan menginjak pedal rem saking terkejutnya dengan apa yang Jaejoong katakan.

Mworago?! Apakah wanita cantik itu sedang membuat pengakuan kepadanya? Namun kemudian Yunho sadar. Tentu saja Jaejoong menyayangi dirinya. Karena yang ada dalam pengelihatan Jaejoong saat ini, dirinya adalah sosok kedua mendiang sang suami. Jika Jaejoong mengatakan dia mencintainya pun kalimat itu semata-mata ditujukkan tidak untuk dirinya. Tapi untuk Lee Yunho.

Ya.. seperti itulah asumsi Yunho...

Tanpa pernah sadar jika sudah lama Jaejoong tidak memanggilnya dengan panggilan yeobo.

Tanpa pernah tahu jika Jaejoong tidak pernah memanggil nama mendiang suaminya dengan panggilan Yuunie.

Semuanya luput...

Luput dari telinga Yunho.

.

.

.

Yuri marah. Dia sedang kesal kepada Yunho. Hal itu terjadi karena sudah hampir satu minggu lamanya Yunho tidak pernah menelponnya lagi. Saat dirinya yang hendak menelpon pasti yang dia dapat ponsel Yunho selalu dalam keadaan tidak aktif. Dan ketika jari-jarinya tidak pernah lelah mengetik kalimat pesan. Tak ada satupun pesan yang mendapat balasan.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan namjachingunya itu? Apakah Yunho mengganti nomor ponselnya? Ataukah dia justru sedang sengaja menghindarinya? Tapi Yuri salah apa? Seingatnya dia tidak melakukan hal apapun. Karena jangankan dia melakukan hal yang tidak-tidak, bertemu Yunho saja sudah tidak sempat. Aishhhhhh...

"Huweeeee Yunnie mianhae... hiks.. hiks.." Jaejoong menangis tersedu-sedu.

Pasalnya, ketika dia sedang meminjam ponsel Yunho untuk berfoto-foto, berselfie ria saat dia sedang memberi makan ikan, benda mungil bermerk Samsung itu terlepas dari tangan Jaejoong dan jatuh meluncur ke dalam kolam. Alhasil ponsel Yunho rusak total karena telah ikut berenang dengan sekumpulan ikan Koi warna-warni.

"Joongie nakal, Joongie bodoh, Joongie ceroboh... mianhae Yunnie ya.." bibir merah nan mungil itu kembali mengeluarkan bujuk rayuan.

"Tidak apa-apa nona, yang penting nona tidak terluka. Ponsel tercebur, aku bisa membelinya lagi. Tapi jika nona yang tercebur, aku pasti akan di marahi Hoya karena sudah lalai menjaga eommanya." Yunho mengelap air mata Jaejoong dengan tissue. Mata berair dan hidung merahnya terlihat sangatlah lucu.

"Tapi Yunnie... tetap saja Joongie merasa bersalah. Bagaimana kalau nanti Joongie mengganti ponsel Yunnie dengan yang baru? Nanti Joongie akan membeli ponsel Yunnie dengan uang tabungan Joongie sendiri. Tenang saja Yunnie.. Joongie punya celengan gajah yang besar sebesar bola basketnya Hoya."

Yunho meledak tertawa. Oh my! Kenapa Jaejoong bisa seimut ini?

.

.

.

Setahap demi setahap, segalanya mengalami proses perubahan. Hubungan Yunho dan Yuri semakin membeku dan menjauh. Tidak ada lagi telepon rutin di akhir pekan, tidak ada lagi pesan cinta sebelum tidur... semuanya membeku. Sebeku hati Yunho.

Karena mengaku atau tidak, ruang hatinya sekarang sudah dipenuhi oleh sosok yang lain.

"Howon ah, hari minggu ini bolehkah aku mengambil libur? Jika tidak boleh sehari, setengah hari pun tak apa.." pinta Yunho saat dia sedang bercengkrama dengan Hoya.

Keduanya sudah seperti kakak adik.. karena Yunho sendiri tidak punya adik laki-laki dan kebetulan Hoya adalah anak tunggal, jadi tidak memerlukan waktu yang lama untuk mereka bisa saling mengakrabkan diri..Apalagi setelah Hoya tahu jika Yunho bukanlah sosok angkuh seperti awal pertemuan mereka dulu. Malah, Hoya merasa kagum saat mengetahui betapa sayangnya Yunho pada ibunya di Gwangju sana.

"Hyung sudah mengatakannya pada eomma?"

"Belum.."

"Aku tidak keberatan dan tidak melarang jika Hyung ingin libur di hari minggu nanti. Karena kebetulan hari itu aku juga tidak ada acara. Jadi mungkin aku akan mengajak eomma untuk berkunjung ke makam appa dan Junsu eomma."

"Terima kasih Howon ah, setelah urusanku selesai aku akan langsung segera kembali," kata Yunho.

Terus terang hari minggu nanti dia ingin mengunjungi kekasihnya. Meski dia sendiri tidak tau entah reaksi apa yang akan Yuri tujukkan. Akankah dia marah karena Yunho sudah sering mengabaikannya? Entahlah Yunho tidak tahu.

...

...

...

...

...


Kejujuran adalah salah satu kunci sukses sebuah hubungan.

Langgenganya kisah kasih dua sejoli adalah karena adanya kejujuran dari masing-masing yang bersangkutan.

Namun, bagaimana Jaejoong ingin memulai hubungan dengan Yunho jika dia memilih bohong pada awalnya?


...

...

...

...

...


TBC

Hello~ ^^)/ akhirnya bisa update cepet #wink

Oh iya, untuk kemarin yang sempat heran kenapa nama authornya beda-beda?

Sebenarnya ini akun bersama say ^^)v authornya ada 4 orang. Yaitu ReDeviL9095 yang bikin akun, Namdongsaengie PhantoMirotic, Editor IchigoMin yang remake ff, dan UnoCum yang baru nongol. Kkkkkk XD

Terus kenapa tidak bikin akun sendiri-sendiri saja?

Ibaratnya rumah, kalau dihuni sendiri yang punya lagi pergi otomatis rumahnya sepi. gelap. Tapi kalau ngontaknya rame-rame jika yang satu pergi masih ada penghuni yang lainnya. Satu hiatus satu nulis :) jadi, tolong maklum jika sewaktu-waktu nulis satu nulis semua lalu updatenya keroyokan. kkkkkkk XD

Thank u and i love u

ALL READERS :*

BearHug

ReDeviL9095