DISCLAIMER: Yunjae milik diri mereka sendiri. Penulis tidak memiliki kuasa apapun pada tokoh dalam fanfic ini. Penulis hanya meminjam nama-nama mereka untuk kepentingan cerita semata. Hanya ide dan plot yang murni hasil dari pemikiran/imajinasi si penulis ^^
Terima kasih
Oh, My Lady!
Author: redevil9095
Cast:
Kim Jaejoong 30 y.o (yeoja)
Jung Yunho 27 y.o
Lee Howon/Hoya 17 y.o
Kim Heechul 32 y.o (yeoja)
Kwon Yuri 27 y.o
Dan peran pendukung lainnya
Genre: Romance, Hurt
WARN: AU, OOC, GS for UKE! Typo(S) DONT LIKE DONT READ! thank you~
Chapter 7
..
..
..
Yunho terdiam sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu apa yang harus lakukan melihat Yuri sedang menangis di depannya. Awalnya dia pikiran keputusan yang telah dia buat adalah yang terbaik untuk mereka berdua, yaitu melepaskan Yuri yang artinya mengakhiri hubungan mereka.
"Yuri-yah.. uljima.. maafkan aku," kata Yunho. Dia menatap sosok perempuan di depannya dengan pandangan penuh rasa bersalah. Dia tidak ingin menyakiti gadis itu lebih jauh lagi.
"Kau egois oppa.."
"Tidak, kau jangan berpikir seperti itu. Aku hanya ingin ingin terbaik untuk kita berdua.."
"Terbaik menurut oppa belum tentu baik menurutku,"sangkalnya lagi. Yuri tidak habis pikir dengan jalan pikiran Yunho. Kekasihnya yang setelah cukup lama tidak pernah menemuinya karena sibuk, sekarang dia tiba-tiba datang untuk mengakhiri hubungan mereka. Yang benar saja! Memangnya apa yang sudah dia lakukan?
"Aku bukan kekasih yang baik untukmu. Karena mulai sekarang aku sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Aku sibuk harus bekerja dan akan sangat sulit bagiku untuk menemuimu. Jadi, daripada aku menggantung hubungan kita menjadi tidak jelas, lebih baik aku melepaskanmu. Kau adalah perempuan yang cantik, kau berhak menentukan kebahagiaanmu sendiri. Bukan malah terlarut dalam hubungan tidak jelas dengan laki-laki yang bahkan tidak memiliki sedikit waktunya untuk dibagi denganmu," papar Yunho panjang lebar.
Tapi sepertinya Yuri masih tidak bisa menerima alasan yang Yunho katakan. "Kalau begitu kenapa oppa tidak berhenti bekerja dari sana saja? Oppa kan bisa bekerja di kedai tuan Hong lagi. Dengan begitu kau tidak akan sesibuk ini dan kita tetap bisa berhubungan seperti dulu.."
"Aku tidak bisa Yuri-yah. Aku tetap akan mempertahankan pekerjaanku yang sekarang karena sejak awal aku sudah sadar memang akan seperti ini jadinya. Aku selalu sibuk dan tidak memiliki waktu untuk berkencan denganmu. Bagaimanapun nyonya Jaejoong sekarang sudah menjadi tanggung jawabku."
"Jadi kau tetap memilih pekerjaanmu daripada kekasihmu sendiri, begitu?"
"Ya.."
"Aku paham, kau bukannya tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu tapi kau tidak bisa meninggalkan wanita itu kan? Kenapa oppa, apa sekarang kau sudah mulai mencintai janda kaya raya itu?"
Yunho menatap Yuri dalam-dalam, di sana dia bisa melihat jelas ada kecemburuan besar dalam tatapan gadis itu. "Kau jangan berbicara seperti itu Yuri-yah.. kumohon, tolong maafkan aku."
"Sejak dulu aku sudah pernah bilang padamu kan oppa? Jaejoong-sshi itu cantik. Tidak mungkin jika kau tidak akan tertarik dengannya. Lihatlah sekarang, ketakutanku menjadi kenyataan karena kau sudah melupakanku dan kau jatuh cinta kepadanya."
Melihat air mata yang mengalir di wajah Yuri, Yunho yang berniat membantah terpaksa menelan kembali kalimatnya. Yang dikatakan gadis itu mungkin ada benarnya, bahwa dia sudah jatuh cinta pada Jaejoong. Akan tetapi jika pun seandainya ia benar-benar jatuh cinta, Yunho tidak akan dengan mudah mengekspresikannya. Karena akan lebih baik jika dia memilih untuk memendamnya saja. Sebab dia sadar dirinya siapa... fakta bahwa Jaejoong sama sekali tidak menginginkannya melainkan menginginkan sosok bayangan Lee Yunho adalah kenyataan pahit yang menampar telak khayalannya.
Perasaan Yunho adalah bentuk cinta yang bertepuk sebelah tangan. Jaejoong tidak pernah menganggapnya sebagai Jung, karena sebagaimana yang Yunho pikir, cinta nyonya majikannya itu sejatinya tetap untuk sang mendiang suami yang telah tiada. Bukan untuk sosok pemuda kampung sepertinya.
Jadi keputusannya untuk membiarkan Yuri pergi ia pikir adalah hal yang tepat. Tidak mungkin dia bisa mengkhianati gadis itu. Tetap berhubungan namun hanya sekedar status karena hatinya sudah terbagi untuk Jaejoong. Biarkan Yuri bahagia dengan orang lain, dan Yunho akan memanfaatkan kesempatan yang masih dia punya untuk mengukir kenangan singkat bersama Jaejoong. Karena jika satu hari nanti kewarasan Jaejoong sudah kembali, Yunho tidak akan dibutuhkan lagi.
"Baiklah kalau memang seperti itu yang oppa harapkan. Aku tidak akan menahanmu. Terima kasih karena sudah mau menyayangiku selama ini. Dan... jika satu saat kau menyesal dengan apa yang sudah kau pilih lebih baik oppa tidak usah mencariku lagi. Selamat tinggal!" sambil mengusap air mata di wajahnya, Yuri bangkit berdiri dari posisi mereka yang sedang duduk bersebelahan pada bangku taman yang menjadi tempat kencan terakhir mereka saat ini.
"Yuri-yah mianhae.." Yunho menatap sendu mantan kekasihnya yang beranjak pergi meninggalkannya.
Perlahan setelah sosok Yuri menghilang dibalik kerumunan, Yunho mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak boleh ragu, ini sudah pilihannya. Dia tidak mau menyakiti gadis itu. Semakin sering Yunho memikirkan gadis yang sudah menjadi mantan kekasihnya tersebut, semakin kerap bayangan sosok Jaejoong mengganggu pikirannya.
"Aisshh... apa yang harus aku lakukan?"
..
..
..
..
..
Hoya terus mencuri-curi pandang ke arah ibunya yang sejak pagi tadi terus mengerucutkan bibirnya karena tidak menemukan keberadaan sosok bodyguard kesayangannya.
"Eomma.."
"Eung,"
"Jaejoongie Eomma.."
"Euuuung..."
Tawa pemuda itu pecah mendengar suara gerungan ibunya yang kentara sekali sedang merajuk. "Kenapa sejak pagi aku perhatikan wajah Eomma kok kusut sekali? Apakah Eomma lupa mencuci muka?"
Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aniyo.. Joongie tidak pernah lupa untuk cuci muka setiap pagi," sangkalnya masih dengan bibir yang mencebil.
"Benarkah? Atau Eomma sedang marah denganku ya?" pancing Hoya lagi. Saat-saat berdua dengan ibunya seperti inilah Hoya paling suka menggoda sosok cantik yang menjadi istri muda mendiang ayahnya dulu.
Hoya sangat menyayangi Jaejoong. Masa kecilnya yang tidak memiliki ayah dan ibu tentu sangatlah gelap dan suram untuk bocah kecil seumurannya dulu. Kalau saja tidak ada Jaejoong, kalau saja Jaejoong itu bukan orang yang baik, ia pasti sudah menjadi penghuni panti asuhan. Jika dipikir-pikir lagi, Hoya akhirnya paham bahwa Jaejoong adalah sosok wanita yang paling ia kagumi dan hormati. Di masa remajanya Jaejoong sudah menjadi sosok ibu yang baik untuknya. Meskipun saat itu Jaejoong masih kuliah namun wanita itu tidak pernah mengabaikannya, ia tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang seorang ibu. Bahkan setelah mendapat sikap yang tidak adil dari ayahnya pun Jaejoong tidak pernah mengurangi rasa cinta kepadanya. Jaejoong tetap mencintai Hoya.
Jaejoong akan marah jika Hoya salah memanggilnya dengan panggilan bibi Joongie, karena seperti yang selalu Jaejoong katakan jika dia bukanlah bibinya, Jaejoong adalah ibunya yang kedua, ibu dari Lee Howon. Junsu memang tetaplah ibu Hoya karena dia yang melahirkannya, namun Jaejoong menjadi ibu Hoya karena dialah yang mengasuhnya.
"Howoooonnnieeeee..."
Hoya sedikit tersentak saat mendapati Jaejoong berteriak tepat di telinga kirinya. "Aigo eomma..."
"Melamun eoh? Kenapa eum?"
"Kalau eomma berteriak lagi seperti tadi aku pasti bisa tuli mendadak."
Jaejoong terkekeh. "Memangnya Howon sedang memikirkan apa sih? Pacarnya yah?"
"Bukan... aku tidak punya pacar kok eomma. Sepertinya tidak ada satu gadis pun yang mau menjadi pacarku," adu Hoya.
"Sungguh? Kenapa bisa begitu? Howonie kan tampan, bagaimana bisa tidak ada gadis yang mau denganmu?" kening Jaejoong menjadi berkerut-kerut.
Mendengar pujian dari ibunya mendadak muncul ide dalam kepala Hoya. "Benarkan aku ini tampan?"
Jaejoong mengangguk dengan cepat. "Tampan sekali.."
"Bagaimana jika dibandingkan dengan appa... apakah aku lebih tampan daripada appa?"
"Tentu saja. Howonie jauh lebih tampan daripada yeobo," jawab Jaejoong dengan pasti.
"Kalau dengan Yunho hyung?"
"..."
"..."
"Emmm..." wajah Jaejoong langsung merona. Mendadak dia jadi melirikkan pandangan ke sana kemari karena gugup.
Melihat tingkah menggemaskan ibunya yang seperti itu, Hoya jadi semakin gencar menggoda. "Jadi bagaimana eomma? Apakah aku lebih tampan daripada Yunho hyung?"
Jaejoong mengigit bibirnya. "Joongie tidak tahu.."
"Sungguh?" pemuda itu menaik turunkan alisnya sambil menyeringai. "Eomma, aku mau bertanya sesuatu pada eomma, dan Joongie eomma harus menjawabnya dengan jujur arraseo?!"
Jaejoong membuang arah pandangan ke mana saja asal tidak kepada sepasang mata milik anaknya itu. Kenapa posisi dia jadi seperti maling yang hendak ditangkap polisi begini. "Memangnya Howonie mau bertanya apa?"
"Apakah.. apakah eomma menyukai Yunho hyung?"
Jaejoong menelan ludah. Apa yang harus dia katakan? Apakah dia harus menjawab seperti biasanya? Kenapa juga Hoya mendadak bertanya hal seperti ini kepadanya. "Ne, tentu saja Joongie menyukai Yunho.."
"Suka yang seperti apa itu eomma? Apa yang eomma sukai dari Yunho hyung?"
Jika saja Hoya cukup sadar bahwa sikap ragu-ragu Jaejoong ini adalah sikap murni dan alami, mungkin Hoya tidak akan percaya jika wanita cantik yang sedang duduk gelisah ini adalah orang yang sedang mengalami gangguan jiwa.
"Emmmm.. tentu saja Joongie menyukai Yunho karena wajah Yunho itu mirip dengan yeobo.." cetusnya. Sebenarnya Jaejoong bisa saja memberikan jawaban yang lain. Namun tidak tahu kenapa dia jadi kesusahan merangkai kalimatnya.
"Ohhhh... Jadi karena wajah Yunho hyung mirip dengan appa, jadi eomma menyukainya begitu kan?! Lalu bagaimana jika seandainya wajah Yunho hyung tidak mirip dengan wajah appa? Apakah eomma tetap akan menyukainya juga?" Hoya masih terus menggoda. Dia tidak percaya dengan jawaban ibunya.
Jaejoong memiringkan kepalanya dengan aksi dibuat seimut mungkin. "Entahlah Howonie... Joongie tidak tahu. Kalau wajah Yunho tidak mirip dengan yeobo tapi mirip dengan paman petugas keamanan yang ada di kantor Chulie, Joongie pasti tidak menyukainya. Hihihihihi paman itu kan ada kumisnya.."
Hoya tertawa. Dia jadi teringat seorang petugas keamanan yang bekerja di butik milik Jaejoong dan Heechul. Ibunya memang selalu ketakutan jika bertemu dengan laki-laki berbadan gempal dengan kumis lebat itu. "Aish... dia itu bukan paman loh eomma. Umurnya itu satu tahun di bawah umur eomma dan eomma memanggilnya paman? Hahaha..."
Keduanya terkekeh bersama tanpa tahu jika ada seseorang yang bersembunyi dibalik pintu yang mendengar seluruh percakapan mereka. Dan dia adalah Yunho yang baru saja kembali setelah pergi menemui Yuri.
Yunho tersenyum kecut. Dia sudah menduga jika Jaejoong tidak akan pernah melihatnya secara nyata. Yang dianggap wanita cantik itu benar-benar bukan sosoknya. Jadi, akan kurang ajar sekali jika Yunho masih berharap yang muluk-muluk. Keluarga itu berani membayarnya mahal-mahal adalah untuk menjaga dan menyenangkan sang nyonya majikan. Bukan malah untuk jatuh cinta kepadanya.
Sekarang dia sudah tahu, tanpa ditanyakan pun dia sudah mendapat jawabannya. Haruskah Yunho membuang semua perasaan terlarang ini, atau justru tetap menikmatinya dalam keterdiaman. Toh Jaejoong juga tidak tahu tentang perasaannya bukan?
..
..
..
Masih adakah yang ingat fanfic ini?
Author minta maaf karena tidak pernah update dalam waktu yang lama. T_T Note/catatan/konsep ide fanfic ini ilang, raib, buyar, wassalam, jadi buat ngelanjutinnya author harus membaca ulang tiap chapter dari awal lagi Y_Y dan buat ngelakuinnya tuh ternyata tidak gampang U_U *pundung*
Tapi author akan berusaha untuk mengais(?)ide sampai ff ini tamat
Terima kasih
