Aloha~ Sebelum lanjut ke chapter 2, mari kita balas review terlebih dahulu satu per satu~ ^^

Hoshigami Sheia: Ya ampun kami tersunjang (?). Nambahin gore? Hmmmm... *pose berpikir-yang-tidak-kelihatan-seperti-berpikir Levi*

Lee Kibum: Kenapa mesti tbc? Supaya lebih greget dong :3 *dilempar sendal Titan*

NabilaAgain: Sip, sudah dilanjut qaqaaaa *wink* (Hyocchin: "Ah, aku merasa familiar dengan nama itu ya Titaaaan.")

Naru Frau Rivaille: Supaya ga mainsetrum qaqa *wink* nanti kalo Levi yang jadi vampirenya dan Eren yang digigit... kita bisa berpikir yang 'iya-iya' /loh

ayulopetyas11: Sudah update qaqaaa~

Rizanami: Pastinya dong :3 *bangga* AAAAAH YA TITAAAAAN! MAU DENGEEER! *nafsu* Maaf kami memang penulis script sinetron, sebentar lagi sinetron "Titan Yang Tertukar", "Scouting Legion Naik Dinding", dan "Cinta Titan" yang scriptnya kami buat akan segera tayang di TV rusak terdekat

Sekian balasan review dari kami, maaf kalau tiba-tiba terjadi alayness karena... Levi menyebarkan virus ini pada kami /ditabokLevidenganpenuhcinta Enjoy ya qaqa-qaqa semua~

==o0o==

[Mont Amant est Un Vampire]

A collaboration fanfiction of chyorimentum and Tomoko Takami

.

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

.

Warning(s): possibly typo(s), shounen-ai, alternate age, vampire!AU, school life, reincarnation.

Siapkan snack, karena chapter ini panjang. #plak

Pairing: Levi X Eren

Enjoy this chapter minna!

==o0o==

Eren betul-betul tidak tahu kesialan apa yang menimpanya hari ini, telat masuk sekolah di saat ada ujian Bahasa Inggris yang diadakan oleh Shardis-sensei; guru tersadis si SMA Shigashina, ciuman pertamanya yang direbut oleh orang yang bergender sama dengan dirinya dan kali ini dia harus bertemu dengan makhluk bertaring panjang yang sering dia lihat di TV saat dia masih kecil.

"Vampire…"

Dengan gerakan cepat, vampire itu segera menarik kaus coklat Eren untuk mengincar bagian leher Eren. Rupanya Eren memiliki refleks yang cepat sehingga dia bisa terbebas dari cengkraman vampire yang mengincar dirinya. Pemuda bersurai coklat itu kembali memacu kakinya untuk pergi menjauh dari makhluk itu—masa bodoh dengan bahan makanan yang sudah dia beli tadi, nyawanya jauh lebih penting.

Eren menoleh ke belakangnya, berharap jika vampire itu tidak mengikutinya tapi perkiraannya meleset. Vampire itu justru mengejarnya dengan kecepatan di atas rata-rata sehingga dengan mudahnya Eren tersusul dan terpojok, "Mau kemana kau?" kekeh vampire itu senang, bola matanya berkilat senang saat melihat keadaan Eren yang terpojok. Dia mencengkram kedua lengan Jaeger muda di hadapannya dengan tangan kirinya dengan mudah.

Pemuda Jaeger itu menelan ludahnya dengan susah payah, apa hidupnya harus berakhir seperti ini? Dimangsa vampire? Eren berusaha melepaskan dirinya namun usahanya sia-sia saja—cengkraman itu terlalu kuat.

Pasrah dengan keadaannya, Eren memejamkan matanya. Membiarkan gigi-gigi tajam itu menancap di lehernya sebentar lagi. Mendadak—

DOR!

Terdengar desing peluru di udara, Eren membuka matanya dan shock bukan main, vampire yang memangsanya kini menjerit kesakitan akibat peluru perak yang menembus jantungnya . "GAAAAAAAAAAAAAAHHHH!" jerit makhluk itu kesakitan, suaranya terdengar begitu mengerikan, tidak butuh waktu lama hingga vampire itu lenyap ditelan api, Eren langsung ambruk setelah makhluk itu hilang dari hadapannya.

"A—Ah… " Eren tidak mampu berkata-kata, tubuhnya masih bergetar hebat akibat kejadian tadi—butuh waktu beberapa menit dia menstabilkan keadaannya hingga tenang kembali, setelah kembali tenang dia memutuskan untuk segera beranjak dari tempatnya sebelum seekor vampire menyerangnya lagi. "Bahan makananku… aku harus mengambilnya…" ucapnya.

==o0o==

Meanwhile in other place

"Di sini Levi, misiku sudah selesai." Levi berbicara lewat headset yang terpasang di kedua telinganya.

"Bagus, kembalilah ke HQ dan laporkan misimu kali ini, Levi. Kutunggu," ucap suara di seberang sana, kemudian sambungan terputus. Levi membereskan alat komunikasi yang menempel di telinganya dan memeriksa isi peluru Smith & Wesson Model 29 miliknya, ya, inilah pekerjaan Levi tiap malam. Dia bekerja sebagai vampire hunter untuk sebuah organisasi misterius bernama Scouting Legion, pekerjaan ini dilakukannya selama hampir tiga tahun.

"Isinya masih banyak, baguslah," gumam Levi kemudian dia segera menuju HQ untuk melaporkan misinya malam ini.

==o0o==

Scouting Legion HQ.

Sesosok pria atletis sedang duduk di sebuah kursi berwarna coklat di ruangan yang terbilang besar, kini di hadapan pria itu sudah hadir sosok Levi, manik biru langit miliknya menatap hunter muda di depannya dengan seksama. "Baiklah, laporkan misimu hari ini," kata pria itu.

"Seekor vampire tipe abnormal muncul di daerah perumahan bagian selatan, untungnya vampire sial tidak menyerang manusia di daerah itu." Levi menjelaskan misinya tadi, entah kenapa di dalam hatinya mengatakan bahwa dia tidak boleh mengatakan kepada Erwin jika di misinya tadi ada manusia yang diserang. Tapi Levi amat bersyukur melihat keadaan Eren yang baik-baik saja tadi.

Pria bersurai light gold itu mencatat laporan Levi di buku miliknya, "Begitu… baiklah, terima kasih atas laporanmu, kau boleh kembali," ucap pria itu sambil menutup bukunya dan menyimpannya di rak buku yang ada di sampingnya.

Levi membungkuk, "Terima kasih, selamat malam, Erwin." Dan pemuda bersurai eboni itu segera pergi dari hadapan sang Pemimpin Scouting Legion untuk kembali ke apartemen yang ditinggalinya. Sesampainya di apartemen Levi segera melepas coat hitam yang dikenakannya untuk segera membersihkan dirinya dari kotoran dan debu yang menempel di tubuhnya selama misi tadi, setelah selesai membersihkan dirinya Levi segera pergi tidur.

==o0o==

"Huahhhh…." Eren menguap, akibat kejadian kemarin malam Eren sama sekali tidak bisa tidur. Untung saja hari ini Eren tidak terlambat masuk sekolah. Sesosok pemuda manis berambut pirang mengambil tempat di sisi kanan Eren.

"Tumben sekali kamu tidak terlambat, Eren?" Tanya pemuda manis yang bername-tag Armin Arlert itu dengan nada heran, teman masa kecil Eren ini sudah tahu benar kebiasaan Eren yang amat sering datang terlambat, jika Eren datang pagi ke sekolah berarti itu patut dipertanyakan.

Eren menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Yeah… aku sendiri juga bingung kok." Eren berdalih.

Merasa ada yang salah dengan kondisi teman masa kecilnya, Armin mengamati wajah Eren dengan seksama, "Mukamu pucat sekali, kamu tidak apa-apa? Kamu mau istirahat di UKS dulu sebelum pelajaran dimulai?" tawar Armin perhatian. Eren menggeleng.

"Aku baik-baik saja, aku hanya kurang tidur." Eren berdalih lagi, mana mungkin dia bilang ke Armin jika tadi malam dia diserang oleh vampire? Ah iya, Eren sedikit mengingat kejadian tadi malam saat dia bertemu dengan Levi di sebuah mini market dekat rumahnya, kenapa dia berlari menjahui Levi saat itu? Eren menggelengkan kepalanya sedikit, mungkin aku hanya takut kalau mendadak Levi akan menciumku lagi seperti kemarin, batin Eren. "Ah, ngomong-ngomong. Jam pertama pelajaran apa?" Tanya Eren.

"Sejarah, Miss Nanaba."

"Baguslah, aku bisa tidur selama dua jam kalau begitu," kata Eren.

"Pfft… dasar," kekeh Armin, bel masuk pun berbunyi menandakan kegiatan mengajar sudah dimulai, maka murid-murid kelas 10-5 segera masuk kelas dan memulai pelajaran.

==o0o==

Ruang OSIS terlihat sepi, hanya ada Levi yang sedang mengurus tumpukan kertas dan map-map untuk kegiatan festival kebudayaan yang akan diadakan bulan depan, "Dasar, banyak maunya…" keluh Levi sambil membubuhkan tanda tangannya berikut stempel di atas kertas yang sedang diperiksanya.

Petra Ral, wakil ketua OSIS SMA Shigashina memasuki ruangan OSIS sambil membawa sebuah map di tangannya, "Selamat pagi, Levi." Petra menyapa, Levi mendongak ke arah Petra. Gadis berambut ginger itu menyerahkan map yang dipegangnya ke atas meja Levi. "Kali ini misi spesial, Sir Erwin menyuruh kita untuk berpasangan malam ini," jelasnya.

Levi menautkan alisnya, dibukanya map yang tadi diberikan oleh Petra dan melihat keterangan yang tertulis di kertas itu, "Hohhh… tujuh ekor vampire terdeteksi di taman Stohess? Banyak juga…" gumam Levi.

"Dua diantaranya itu vampire tipe abnormal, sisanya tipe normal," kata Petra.

"Aku mengerti." Levi memasukkan kertasnya kembali ke dalam map. "Aku akan bersiap-siap nanti malam."

==o0o==

"HEICHOU! BERIKAN PERINTAH ANDA! HEICHOU!" seru seseorang. Dahi Eren berkerut ketika ia mendengar suara ini.

"SATU LAGI TEWAS, MUNGKIN SAJA KITA BISA MEMBANTUNYA TADI!" kali ini seseorang juga ikut berseru. Ah, Eren mengenali suara ini, ini suaranya. Tapi, kapan dia bicara seperti ini?

"HEICHOU! SEBAIKNYA KITA MENGGANTI KE 3DMG MANEUVER UNTUK MENGHINDARI KEJARAN TITAN WANITA ITU!" pria berwajah tua di samping Eren berseru. Tunggu, bukankah ini Auruo-senpai? Kenapa bisa Auruo muncul di mimpinya?

"Semuanya, tutup telinga kalian." Kali ini Eren mengenal suara ini, tapi… ini suara siapa? Pandangannya kabur—dia tidak bisa melihat sekitar dengan jelas, mendadak sebuah pistol terangkat ke udara dan—

DOR!

"GUAHHHH!" Eren menjerit keras sehingga seisi kelas menoleh ke arah Eren dengan pandangan heran. Miss Nanaba segera mendekati Eren setelah mendengar Eren menjerit dengan keras.

"Jaeger? Ada apa?" Tanya Miss Nanaba khawatir.

Napas Eren masih terputus-putus, masih berusaha mengatur napasnya, dia tidak menghiraukan gurunya yang menatapnya dengan pandangan khawatir, apa-apaan mimpi itu? Rutuk Eren dalam hati, kini pelipisnya terasa amat sakit sehingga Eren memijit pelipisnya, perlahan-lahan Jaeger muda itu mulai mengingat mimpinya, ya. Kini dia ingat siapa yang berbicara terakhir kali di mimpinya tadi.

Suara itu milik Levi. Tapi, kenapa Levi bisa muncul di mimpinya?

"Jaeger?" suara Miss Nanaba membuat Eren kembali ke dunia nyata.

"Ah, ada apa, Miss Nanaba?" Tanya Eren dengan wajah polos.

"Wajahmu pucat sekali, kau mau istirahat di UKS?" Tanya Miss Nanaba.

Eren menghela napasnya, ya benar. Kini dia benar-benar butuh istirahat total akibat kejadian-kejadian aneh yang terjadi dua hari ini, kepalanya terasa begitu berat, "Baiklah." Eren mengangguk. Miss Nanaba mengerti, maka ia memanggil Mina Carolina untuk mengantar Eren ke UKS.

==o0o==

"Nah, Eren. Kamu mau diambilkan apa?" Tanya Mina saat mereka sampai di UKS, Eren segera berbaring di salah satu kasur UKS yang tersedia.

"Ah, tidak usah. Aku hanya butuh tidur saja, Mina," tolak Eren halus, dia tidak ingin merepotkan temannya.

Mina hendak buka mulut untuk menanyakan hal lain yang kiranya dibutuhkan oleh Eren, sayangnya Mina tidak bisa menanyakannya karena pintu UKS mendadak terbuka dan menampilkan sosok laki-laki pemilik tinggi 160 cm. Yap, itu Levi. "Le—Levi-senpai!" Mina membungkuk hormat terhadap Levi selaku seniornya.

"Sedang apa kalian disini?" Tanya Levi dengan nada selidik.

Eren memutar bola matanya, "YA MENURUTMU NGAPAIN, PENDEK KUNTET MESUM?!" Eren memaki dalam hati, rupanya dia masih dendam dengan perbuatan Levi kemarin. Tapi diurungkannya kalimat itu karena dia masih sayang dengan nyawanya yang hanya satu.

"A—ano senpai, dia butuh istirahat sebentar, dia kurang tidur." Mina menjelaskan. Levi melihat Eren yang sedang duduk di atas ranjang UKS.

"Begitu…" gumam Levi, sejenak dia melihat Eren dan Mina secara bergantian, "Kau, kembalilah ke kelasmu, biar aku yang merawat bocah ini," ucap Levi.

"Ta—tapi, bukankah senpai masih ada tugas untuk festival kebudayaan bulan depan?" Tanya Mina tapi pertanyaannya dibalas dengan tatapan kesal dari sang ketua OSIS SMA Shigashina—meski tidak kelihatan akibat wajahnya yang datar layaknya papan penggilingan. Mina mengerti maksud tatapan Levi, segera gadis berkuncir dua itu membungkuk dan pergi dari UKS.

Grakkk!

Dan pintu ruang UKS tertutup, meninggalkan Eren dan Levi berdua di ruangan UKS, kalau mau jujur sih—suasananya sangat awkward. Maksudku, apa kamu bisa tenang satu ruangan dengan orang yang merebut ciuman pertamamu? "Mampus, mampus, mampus! Satu ruangan dengan iblis kontet mesum!" Eren hanya bisa merutuk dalam hati, bulu kuduk Eren makin berdiri setelah melihat Levi mendekati ranjang Eren dan duduk di kursi samping Eren kemudian menyentuh tepi ranjang.

Eren sudah berpikiran macam-macam, takut jika mendadak Levi menciumnya seperti kemarin namun kali ini perbuatan Levi sungguh diluar dugaan Eren, "…Bocah, kau sakit?" Tanya Levi. Eren sedikit gugup mendengar pertanyaan Levi. Ia sering dengar kalau orang yang satu ini tidak memiliki perasaan, namun tindakan Levi kali ini membantah semua gosip yang beredar.

"Un… aku hanya kurang tidur kok, senpai," jawab Eren sedikit kaku.

Levi tidak membalas Eren, dia beranjak dari kursi yang tadi ditempatinya dan menuju sebuah dapur kecil yang terletak di samping ruangan UKS untuk membuatkan minuman. Setelah selesai meracik minuman, Levi menyerahkan minuman buatannya ke tangan pemuda brunette yang terduduk di kasur, "Minum ini, kamu pasti haus," ucapnya.

Eren hanya bisa mengangguk, dia tidak bisa menolak minuman yang sudah dibuatkan oleh Levi—aromanya begitu harum dan membuat tenggorokannya sedikit kering, dengan patuh dia meminum teh herbal hangat beraroma campuran antara mint dan madu kemudian meneguknya dan—wow, Eren harus bertepuk tangan, rasanya lezat dan tak terasa pahit sama sekali.

"Dari raut wajahmu mengatakan kalau kamu tidak menyangka bahwa minumanku akan terasa begitu enak. Bukan begitu, bocah?" tebak Levi.

Eren mengangguk, setelah selesai minum Eren meletakkan gelasnya di samping meja, "Terima kasih atas minumannya, senpai."

Tanpa diduga, Levi tersenyum—meski amat tipis, dia mengacak-ngacak surai brunette Eren pelan, "Istirahatlah," ucap Levi, dia memajukan badannya secara perlahan untuk—

Cup!

—mencium dahi Eren lalu pergi dari UKS supaya si surai coklat itu bisa istirahat, Eren yang masih dalam keadaan 'lola' tadi masih memproses kejadian yang berlangsung selama beberapa detik dan—

Wusshh!

Wajah Eren langsung memerah layaknya kepiting rebus setelah dia selesai memproses kejadian tadi, "Uhhh! Apa-apaan itu maksudnya tadi?" Eren berseru dalam hati, malu dengan kejadian tadi.

==o0o==

Setelah selesai menyelesaikan urusannya di ruang UKS, Levi berniat kembali ke ruang OSIS untuk menyelesaikan proposal festival kebudayaan, namun di tengah lorong lantai dua dia bertemu dengan seorang gadis berkacamata yang sedang bersandar di dinding. "Leviiii~ aku lihat kejadian tadi lohhhh~, ternyata ya~," ucap gadis berkuncir itu senang seperti sedang mendapat mobil Lamborghini secara cuma-cuma.

Levi berdecak kesal, dia menatap teman masa kecilnya itu dengan tatapan jengkel, "Kau melihatnya ya. Hanji," ucap Levi dengan wajah datar namun terselip nada jengkel di kalimatnya.

Hanji nyengir melihat reaksi teman masa kecilnya yang sedikit salah tingkah, "Tentu~." Hanji terkekeh senang. Levi menghela napas, dia sudah terbiasa dengan sikap Hanji yang terkenal dengan sifat 'nyentrik' dan penggila BL atau biasa disebut fujoshi. Well, memang sedikit aneh melihat hubungan Levi dan Hanji dikarenakan sifat mereka yang berbeda 180 derajat, yang satu bermuka datar tapi memiliki temperamen yang tinggi—yang satunya nyentrik dan sedikit hyper.

"Diam kau, Mata Empat. Sekarang jangan berkeliaran di lorong sekolah dan bantu aku menyelesaikan tugas proposal untuk festival, kau juga anggota OSIS 'kan?" Levi menarik kerah seragam Hanji dengan kasar dan menyeret gadis bermarga Zoe itu untuk membantunya menyelesaikan tugas proposal.

"What? HEI, LEVI! AKU KAN BUKAN ANGGOTA OSIS!?" Hanji berseru, mencoba untuk mengelak dari tumpukan tugas yang menantinya di ruang OSIS.

Levi menatap Hanji dengan ekspresi kanibal, "Mata Empat, aku tahu kalau kau anggota OSIS. Jangan coba mengelak tugas dariku atau aku akan menambah tugasmu 10 kali lipat," ancam Levi, Hanji langsung mati kutu mendengar ancaman Levi, teman masa kecilnya ini memang tak tanggung-tanggung kalau mengancam.

==o0o==

Eren membuka kelopak matanya dan menguap,"Lumayan lama juga tidurku," pikir Eren, dia melihat jam digital yang terpasang di dinding.

13.37 PM

"Selama itukah aku tertidur?" gumam Jaeger muda sedikit tidak percaya, "—Dari awal pelajaran hingga pulang sekolah?" Eren kembali menguap, mendadak pintu UKS terbuka dan sesosok gadis berambut hitam pendek masuk sambil membawa tas milik Eren.

"Eren, kudengar kau sakit? Kau tidak apa-apa sekarang? Sudah minum obat?" Tanya gadis itu bertubi-tubi.

"Mikasa, aku baik-baik saja, aku hanya kurang tidur, ngomong-ngomong. Kenapa kamu tahu kalau aku di UKS?" Tanya Eren curiga.

Mikasa menggaruk kepalanya, "Yahhh, barusan aku tanya Armin, dia bilang kalau kamu di UKS karena sedang sakit," jawab Mikasa. Eren menggelengkan kepalanya, maklum dengan sifat teman masa kecilnya yang sedikit overprotective dengannya.

"Syukurlah, ah, Eren. Apa boleh aku hari ini ke apartemenmu?" Tanya Mikasa. Eren mengangguk.

"Tentu, jangan lupa masak nasi kari ya nanti."

==o0o==

Sesuai dengan janjinya tadi, Mikasa berkunjung. Kini terlihat sosok Mikasa di apartement milik Eren yang sedang asyik memotong bahan-bahan untuk nasi kari kesukaan Eren sementara pemuda pemilik iris emerald itu sedang duduk di kursi ruang makan menunggu masakan selesai. "Sudah lama aku tidak makan masakan buatan Mikasa." Eren tersenyum.

"Aduh!" seru Mikasa mendadak, gadis bermarga Ackerman itu menjatuhkan pisau yang dipegangnya ke lantai.

Eren berdiri dan mendekati Mikasa, "Ada apa?" tanyanya, Mikasa menunjukkan jari telunjuknya yang berdarah akibat kecerobohannya. "Makanya hati-hati, sebentar. Akan kuobati dulu." Eren memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulutnya untuk membersihkan cairan pekat yang terus mengucur dari jari Mikasa, Eren terus menghisap cairan merah pekat itu tanpa sadar—ada sedikit sensasi aneh yang muncul ketika cairan itu melewati tenggorokannya.

"…Eren?" suara Mikasa berhasil mengembalikan Eren ke dunia nyata, Eren tersentak dan melihat kearah Mikasa yang sedikit kebingungan.

"Ma—Maaf." Eren sedikit tergagap, "Akan kuambilkan P3K di kamarku."

==o0o==

Sore kini sudah berganti menjadi malam, maka Mikasa pun memutuskan untuk pulang dari apartement Eren, "Iya, hati-hati ya, Mikasa." Eren melambai ke arah Mikasa, setelah Mikasa pulang Eren memutuskan untuk kembali ke apartemennya, mendadak—

"—Ugh!" mendadak kepala Eren terasa begitu sakit, padahal tadi dia sudah tidur cukup lama di UKS. Eren memijat kepalanya—berharap sakit di kepalanya sedikit reda, namun sayangnya sakit kepala yang dialaminya malah semakin parah, kepalanya seakan dihantam oleh palu dari dalam. "Hahhhh..." pemuda bersurai coklat itu menghela napas, dia memutuskan untuk tidur lebih awal—berharap besok sakit kepalanya sudah hilang.

==o0o==

Jarum jam sudah menunjukkan tengah malam, terlihat dua orang berjubah hitam sedang berjalan di tengah taman Stohess sambil membawa sebuah senjata api di tangan mereka masing-masing, "Petra, tempatnya di sini kan?" Tanya Levi sambil mengecek Smith & Wesson Model 29 miliknya.

"Aku yakin di sini, Levi." Petra menjawab. Ya, sama seperti Levi, Petra juga seorang vampire hunter, meski dari luarnya dia terlihat manis dan mungil rupanya dia memiliki keahlian di bidang pertempuran jarak jauh—atau lebih dikenal sebagai seorang sniper. Bidikannya hampir tidak pernah meleset, selama hampir tiga tahun dia bertempur di sisi Levi—seorang vampire hunter terbaik di Scouting Legion membuatnya mendapat julukan vampire hunter kedua terbaik setelah Levi.

"Begitu…" Levi duduk di sebuah bangku panjang dekat ayunan.

Krskk…

Mendadak sesemakan di dekat papan jungkat-jungkit bergerak sedikit, Levi dan Petra langsung memasang mode siaga, "Petra, segera bersiap di tempatmu. Tampaknya 'tamu' kita sudah datang." Dengan segera Levi mengisi peluru senjata api miliknya sementara Petra menembakkan kabel yang terpasang di ikat pinggangnya ke sebuah atap gedung sekolah yang ada di dekat taman.

Dengan gerakan cepat, 'tamu' mereka segera menampakkan dirinya berserta temannya di hadapan pemuda pemilik gelar 'The Most Strongest Soldier'. "Hoooo, rupanya kamu sudah mengendus pergerakan kami ya." Vampire yang berada paling depan memasang seringai meremehkan.

"Diam kalian," desis Levi tajam. Keheningan menyapa mereka selama beberapa saat. "Tunggu, bukankah Petra bilang kalau ada tujuh vampire yang terdeteksi? Kenapa hanya tiga yang muncul?" batin Levi setelah menyadari sesuatu.

"Levi, bisa aku menembak vampire yang ada di belakang?" Tanya Petra melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya, dia mengeratkan genggamannya terhadap semi automatic 22 rifle kesayangannya. Levi berbisik 'ya' dengan pelan agar vampire yang dihadapinya tidak mendengar, Dengan perlahan jemari Petra mulai menarik pelatuk riflenya setelah dia mendapat perintah dari rekannya.

DOR!

Bunyi letusan pistol terdengar di udara, spontan kedua vampire itu menoleh ke belakang dan menemukan rekan mereka tertembak di bagian punggungnya, "A—APA?! DIA TIDAK SENDIRIAN! DIA MEMBAWA TEMAN!" seru vampire bersurai emas itu tidak percaya.

"CARI TEMANNYA! CEPAT!" seru vampire yang menjadi pemimpin kawanan makhluk penghisap darah tersebut dengan murka, seketika vampire pemilik surai emas itu berlari dengan kecepatan yang luar biasa untuk mencari Petra—sementara empat vampire tipe normal yang sedari tadi bersembunyi di pepohonan mendadak melompat dari persembunyiannya dan berlari menuju Levi untuk menyerang, sayangnya Levi jauh lebih cepat ketimbang mereka. Dia menarik empat bilah pisau yang terselip di balik jubahnya kemudian melemparkan keempat bilah pisau yang dipegangnya ke arah vampire yang menyerangnya, cara itu cukup efektif untuk menghentikan mereka namun tidak efektif jika untuk membunuh mereka maka sebelum para vampire tadi kembali bangkit dan menyerangnya—Levi segera mundur dari tempatnya berdiri semula dan mengambil sebuah bom cahaya lalu melemparkannya ke arah makhluk yang tersungkur kesakitan. Levi menutup matanya—sebagai perlindungan dari cahaya yang akan di keluarkan bom cahaya nantinya.

DUAR!

Bom tersebut meledak dan menjadikan empat vampire tadi menjadi kerangka yang hangus kemudian perlahan-lahan jadi tumpukan abu. "Nah, teman-temanmu sudah lenyap, sekarang giliranmu," ucap Levi sambil melihat pimpinan kawanan yang kini ketakutan.

Vampire yang tadinya memasang wajah angkuh kini diselimuti ketakutan, "B—BRENGSEK!" serunya, dia berlari menghindari Levi, dengan cepat Levi mengejar vampire itu— meski kecepetan Levi tidak sebanding dengan vampire bersurai biru yang sedang ia kejar namun sebuah kesalahan fatal bagi makhluk itu, dia melewati tempat di mana Petra bersiaga.

Petra menyeringai ketika mangsa yang dia tunggu sudah masuk ke dalam wilayahnya, "Be a good boy…" ucapnya sambil menarik pelatuk.

DOR!

Peluru senjata milik Petra menembus kaki vampire bersurai biru yang sedari tadi berlari, makhluk itu segera tersungkur kesakitan, "Kerja bagus, Petra," puji Levi tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok vampire yang tersungkur di hadapannya. "Nah, kau sekarang tidak bisa kabur kan?" Tanya Levi dingin, senjata miliknya kini sudah teracung tepat di depan mata makhluk penghisap darah yang dilanda ketakutan yang hebat.

"Ku—kumohon… ampuni aku…" lirih vampire itu dengan tatapan memohon, sayangnya tatapannya sama sekali tidak mempan untuk Levi.

"Maaf." Hanya itu yang terlontar dari mulut Levi dan hal selanjutnya adalah vampire tadi sudah menjadi tumpukan abu, Levi segera mengontak Petra, "Petra, misi sudah selesai. Kita kembali ke HQ," ucap Levi.

"Baiklah, aku akan segera ke tempatmu, dan Levi…" ucap Petra, nadanya sedikit menggantung di akhir kalimatnya.

Levi mengangkat alisnya, "Ada apa, Petra?" tanyanya.

"Tidak ada apa-apa," ucapnya sebelum sambungan terputus, Levi memutuskan untuk menunggu Petra di sebuah pohon. Setelah beberapa saat Petra pun datang, napasnya agak tersengal-sengal menandakan dia sedikit berlari dari tempatnya tadi menuju tempat Levi, "Tempatmu jauh sekali rupanya," kata Petra, "Ngomong-ngomong, kerja bagus, Levi. Kemampuanmu selalu sukses membuatku takjub." Petra memuji.

"Terima kasih, kau juga, Petra," balas Levi.

"Heh, traktir aku besok, oke?" Petra menggoda Levi sambil meninju lengan kekar Levi pelan.

"Boleh, tapi kamu bayar sendiri ya." Levi terkekeh pelan sambil mengacak rambut pirang strawberry Petra dengan pelan sehingga menimbulkan sedikit protes dari sosok mungil di sampingnya.

"Hei, itu sama saja dengan aku beli sendiri!" serunya sambil mengejar Levi.

==o0o==

-To be continued-

A/N: hai semua~ di sini Tomoko~ #waves# seperti yang sudah dijelaskan oleh Hyocchin di chapter awal kalau penulisan cerita ini akan ditulis secara bergantian dan aku kebagian chapter dua :D, yah, aku nggak bisa banyak omong bagian battle dan endingnya X_X, soalnya akhir-akhir ini aku juga banyak urusan jadi terkesan agak 'rush'. Ah, di sini aku munculin 3DMG Maneuver seperti yang dipakai Petra, Nah~ chapter depan akan kembali ditulis sama Hyocchin~ tunggu ya~ eniwey, jangan lupa untuk memberi saran, kritik, dan review kalian di kotak review~

NOTES:

Supaya para readers nggak bingung soal tipe vampires di sini, aku bakal jelasin di sini:

Vampire tipe abnormal:

Tipe ini memiliki kecerdasan seperti manusia pada umumnya, tapi mereka juga memiliki superhuman strength seperti kecepatan di atas rata-rata. Jenis ini biasanya muncul sendirian namun terkadang mereka muncul berpasangan, dalam kasus tertentu mereka juga ditemani oleh vampire tipe normal.

Vampire tipe normal:

Tipe ini memiliki karakteristik vampire seperti umumnya, tidak memiliki kecerdasan apapun dan haus darah, tipe ini biasanya menyerang dalam kelompok yang besar, rata-rata 3-9 vampire dalam satu kelompok. Bisa dibilang ini seperti vampire tipe E di Vampire Knight.