A/N: hai semua~ sebelum lanjut ke chapter 3, kita mau bales review dulu~
mikunisama: makasihh~ ikutin donk Mon Amant est Un Vampire biar tahu gimana :3 #plak
Eqa Skylight: tebak donk! #dor
Rizanami: makasih udah direview~ #kasih Levi pake baju maid# /ditebas
Dark Flame: TATAKAEEE! SUSUMEEE! #aduh, apa-apaan nih.
Naru Frau Rivaille: Iya nih! Levi harusnya langsung 'nyerang' Eren! #WOI.# maaf, itu kerjaannya Tomoko ;3, dia emang suka pair RiveTra, makanya sama dia dimasukkin adegan itu :3.
Lee Kibum: ini dia~
Rei2518: enjoy~
Sekian balasan review dari kami, so, enjoy this chapter~
—oOo—oOo—oOo—
[Mont Amant est Un Vampire]
A collaboration fanfiction of chyorimentum and Tomoko Takami
.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
.
Warning(s): possibly typo(s), shounen-ai, alternate age, vampire!AU, school life, reincarnation
Pairing: Levi X Eren
.
Actually not-for-profit work. So, enjoy!
—oOo—oOo—oOo—
Sesuai ramalan cuaca yang tayang kemarin malam; pagi ini langit terlihat cerah. Hangatnya mentari pagi menyejukkan siapapun yang disinarinya. Awan menggantung di atmosfer, membuat terik pusat tata surya itu tak begitu menyilaukan mata. Benar-benar pagi yang indah untuk memulai kegiatan hari ini—seharusnya sih begitu.
Badan yang terasa lemas terpaksa membuat Eren harus menyeret langkahnya menuju ke sekolah. 'Sial,' umpatnya dalam hati. 'Kenapa hari ini panas sekali? Rasanya seluruh tubuhku terasa terbakar. Aneh.'
Tidak. Eren salah. Justru Eren-lah yang aneh. Setelah kejadian yang dialaminya saat Mikasa tak sengaja melukai jarinya kemarin sore, apa yang terjadi padanya selalu saja aneh. Pusing yang tidak biasa ia alami—oke, ini mungkin bisa ditoleransi karena bisa saja ia terkena flu, ia juga berencana untuk tidur lebih awal walaupun yang didapatinya hanya insomnia yang membuatnya terjaga hingga pagi, lalu nafsu makan yang hilang entah kenapa—padahal biasanya ia langsung melahap sarapan dengan nikmat, tapi pagi ini ia tak menyentuh sedikit pun makanan bahkan merasa mual saat memikirkannya, selain itu tenggorokannya juga terasa terbakar—ia sudah mencoba minum air sebanyak-banyaknya hingga air di dispenser yang semula penuh nyaris habis, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Entahlah, Eren sendiri juga tidak mengerti apa yang terjadi pada sistematis tubuhnya.
'Semoga ini hanya gejala flu biasa.'
—oOo—oOo—oOo—
Mikasa dan Armin saling memandang bergantian, saling melemparkan kode dari tatapan mata masing-masing dan mengangguk, lalu kembali memandang Eren yang berada di depan mereka.
"Ada apa, Eren?" tanya Armin membuka pembicaraan, tentunya dengan nada simpatik. "Tampaknya hari ini kau tak bersemangat."
Eren tetap tak menjawab dan hanya menatap makanan di depannya dengan tatapan kosong walaupun itu adalah nasi kari kesukaannya yang tampak menggiurkan. Beberapa detik berselang hingga tubuh pemilik emerald itu bergidik, sadar dari lamunannya. Ia mengangkap wajahnya lalu menatap Mikasa dan Armin bergantian dengan mata yang sedikit membulat, lalu tatapan itu kembali menjadi hampa bersamaan dengan helaan nafas lelahnya. "Aku tak apa-apa. Serius." Eren menekan ucapannya di bagian akhir. Tapi suaranya yang lesu hampir tenggelam oleh suasana kantin yang sangat ramai dan sangat berisik.
"Wajahmu juga pucat, Eren. Apa kau sakit?" Kali ini Mikasa yang bertanya, tapi dengan rasa khawatir yang jauh lebih tinggi dari Armin.
"Aku hanya sedang tidak enak badan." Eren menjawab dengan singkat dan sekenanya. Tenggorokannya yang terasa terbakar membuatnya merasa tak nyaman untuk berbicara.
Mikasa dan Armin saling berpandangan, lagi. Armin memberikan kode, apa yang harus kita lakukan sekarang? Mikasa hanya mengangkat bahu, tak tahu pemecahan dari permasalahan ini. Pemuda pirang itu lalu melemparkan pandangannya pada seisi kantin SMA Shiganshina yang cukup luas untuk menampung tiga angkatan yang jumlah muridnya nyaris menyentuh angka seribu. Iris biru itu terus mencari topik pembicaraan yang bagus di balik para penjual makanan dan banyak deretan meja yang bisa terisi hingga delapan orang tersebut. Pemuda Arlert itu nyaris menyerah dan membiarkan keadaan terus seperti ini kalau saja ia tak menemukan sesuatu yang menarik di pojok kantin sana. Well, Armin memang bukan tipe penggosip, tapi ini terpaksa ia lakukan agar suasana di antara mereka bertiga tidak canggung. "Hey, kalian lihat Levi-senpai dan Petra-senpai yang duduk di sana itu?"
Emerald Eren dan obsidian Mikasa otomatis menatap ke arah jari Armin menunjuk dengan antusias—terutama Eren karena baru saja ia mendengar nama 'Levi' disebut, tapi ia tak begitu mengerti mengapa tubuhnya langsung menengok seperti itu adalah sebuah gerakan refleks. Oh tidak, wajah Eren mulai memanas sekarang—ia berani bertaruh kalau wajahnya berubah seperti tomat. Ia bisa merasakan lega dan perutnya terasa aneh saat melihat wajah dengan mata tajam itu. Salah satu sudut bibir Levi terangkat, dan tanpa sadar membuat bibir Eren terangkat juga, membuat sebuah lengkungan yang disebut dengan senyuman. Tapi, kenapa Eren malah tersenyum? Lagipula, senyum itu bukan ditujukan untuknya, tapi untuk Petra.
Di kejauhan sana Petra ikut tersenyum—tertawa lebih tepatnya. "Oh, Petra-senpai tertawa." Mikasa berujar. Tak usah dikatakan pun kami sudah tahu, gadis Ackerman.
"Benar, tampaknya asyik sekali." Armin berkomentar. "Apa mereka berpacaran?"
Perkataan Armin barusan bagai petir di siang bolong bagi Eren, membuat dada sang Jaeger terasa dibebani oleh batu besar dan nafasnya terasa sesak. Tunggu sebentar, kenapa rasanya sesakit ini? Rasanya seperti seluruh tubuhnya memanas juga ada suatu perasaan aneh yang mengganjal dan ingin melepaskannya tanpa kontrol.
"Eren..?" Mikasa memanggil temannya itu. Yang dipanggil lalu menoleh. "Kenapa kau menangis?"
"Eh?" Jari-jari itu merayapi pipinya yang kecoklatan lalu mendapati aliran air mata yang sedikit hangat. Ia lalu menyeka sisanya yang masih menggenang di pelupuk mata dengan telapak tangannya yang—entah mengapa—mulai bergetar. Mikasa dan Armin terlihat sangat panik dan mulai menenangkan Eren, tapi hasilnya percuma saja. Sebelum isakan itu pecah menjadi tangisan yang menjadi, Eren berdiri dari tempat duduknya lalu beranjak dari sana, berlari dengan cepat untuk keluar dari kantin tanpa memedulikan murid-murid lain yang ditabraknya, meninggalkan Armin dan Mikasa yang masih diam karena berpikir apa yang sebenarnya pada sahabat karib mereka tersebut.
Uh-oh, Armin. Sepertinya pertanyaan polosmu barusan malah membuat suasana semakin runyam.
—oOo—oOo—oOo—
Eren terus berlari, tak peduli jika kini banyak orang yang memandangnya dengan penuh tanya di sepanjang koridor. Biarlah, ia tak peduli. Wajahnya yang semakin panas dan basah akibat air mata membuatnya berlari semakin kencang tak tentu arah sambil menutupi wajahnya yang dipenuhi air mata.
Bruk. Tanpa sadar tubuhnya bertabrakan dengan sesuatu—atau lebih tepatnya seseorang. Eren menurunkan tangannya dari wajahnya, hendak membungkuk meminta maaf saat menyadari kalau ia menabrak seorang gadis yang tak dikenalnya. "Ma-Maaf!" Ia berseru dengan suara yang sedikit bergetar.
Tapi gadis yang tampak setahun lebih tua itu tak merespon dan hanya tersenyum. Ia membetulkan letak kacamatanya lalu berkata, "Kau Eren Jaeger, 'kan?"
"Eh?" Eren mengangkat wajahnya, menatap wajah gadis berambut ekor kuda itu dengan bingung. "Senpai tahu namaku?"
Lagi, gadis itu tidak menjawab dan tetap melayangkan senyumnya. "Ayo kita ke ruang OSIS."
—oOo—oOo—oOo—
Secangkir coklat hangat yang digenggamnya membuat Eren merasa sedikit nyaman setelah puas menangis di depan seorang gadis yang mengenalkan dirinya sebagai Hanji Zoe tersebut. Dengan wajah yang pias, emerald itu melemparkan pandangan ke seluruh ruangan, mengobservasi ruang OSIS yang baru pertama kali dilihatnya. Meja rapat di ruangan ini ditata dengan sangat rapi dan teksturnya halus nyaris mengilap. Lantainya berubin kemarik putih susu berpadu dengan biru dongker yang sangat kontras. Jendela lebar bertirai satin di salah satu dinding di seberang pintu masuk membiarkan sinar matahari menyinari sosok Eren yang tengah duduk di salah satu kursi. Di sisi dinding yang lain tampak sebuah foto besar di mana beberapa murid SMA Shiganshina beratribut lengkap berdiri membentuk barisan ke samping dan ke belakang dengan tulisan 'The Sina' pada bagian atasnya (yang Eren tahu, 'The Sina' adalah nama OSIS angkatan tahun ajaran yang baru—setiap tahun ajaran nama OSIS berganti), Levi berdiri di tengah foto tersebut dengan wajah yang datar dan terlihat sedikit angkuh, di sebelah kiri dan kanannya terlihat Petra dan seorang murid seangkatan yang tak terlalu Eren kenal selaku ketua 1 dan ketua 2—atau bisa disebut juga wakil ketua OSIS. Hanji berada di barisan belakang tempat para ketua sekbid berada, ia tersenyum dengan sangat lebar dan ceria dibanding murid lainnya. Entah mengapa melihat foto itu Eren merasa berada di derajat yang sangat... jauh berbeda.
Suara ketukan antara gelas melanin dan meja membuat sang Jaeger berhenti memperhatikan foto ukuran besar yang dipajang dan balik memperhatikan Hanji yang tengah membuka kaleng kecil berbentuk silinder berisi permen butterscotch. "Mau?" tawar Hanji seraya menyodorkan kaleng itu pada Eren yang dibalas dengan gelengan kepala. Gadis itu lalu menaruh kaleng tersebut dan mengambil salah satu permen butterscotch yang ditaburi gula bubuk putih dan mengemutnya. "Sayang sekali, padahal ini enak lho."
"Maaf, tapi aku tidak suka makanan manis." Eren tersenyum kikuk.
"Hm... I see..." Gadis berkacamata bingkai hitam itu mengangguk. Tangannya yang kecil sibuk menggoyangkan gelas putih berisi susu full cream kesukaannya, hazelnya menatap emerald Eren dengan seksama. "Hei, aku ingin minta pendapatmu dengan jujur. Boleh?"
"A-Ah, iya... Tentang apa?"
"Aduh Eren~! Jangan gugup seperti itu dong~! Aku tidak menggigit kok~!" Hanji tertawa terbahak melihat tingkah Eren yang begitu canggung lalu menepuk pundak pemuda itu berkali-kali dengan keras, bermaksud membuat Eren untuk rileks dan santai. "Kita bisa bercerita apa saja, tak masalah kalau kau mau membicarakan kejelekan OSIS—aku bisa menjaga rahasia dengan baik. Oke, oke?"
Seulas senyuman terpatri di wajah Eren. "Baiklah." Ia lalu terkikih pelan, canggungnya sedikit hilang berkat pembawaan Hanji yang heboh.
"Nee, Eren~ Bagaimana pendapatmu tentang—" Gadis Zoe itu menghentikan ucapannya, menunjuk pigura foto 'The Sina' dengan dagunya—juga mata yang berbinar senang dan senyum lebar yang nyaris membentuk huruf V.
"Uhm, well..." Emerald itu berputar. Pemiliknya menaruh cangkir yang semula digenggamnya sementara tangannya yang lain mengetuk dagu. "Menurutku The Sina bekerja dengan sangat baik, peraturan baru yang mereka buat dan peraturan lama yang mereka ubah tidak terlalu mengekang dan fleksibel, acara yang mereka adakan juga lebih seru dan lebih banyak—begitu yang kudengar dari beberapa senpai yang aku kenal, lalu—"
"Eits! Bukan, bukan!" Kedua tangan Hanji digerakkan ke depan wajah Eren, membuat perkataannya terhenti. Ia lalu menghela nafas dan berkata, "yang kumaksud bukan 'The Sina', tapi pemilik sah dari kursi yang kau duduki itu—" hazel itu kembali menatap pigura, tepatnya sosok mungil namun garang bermuka papan yang berdiri paling depan dibanding murid yang lain, "—Levi. Aku meminta pendapatmu tentang Levi."
"H-Hah?!" Eren sontak terkejut. Di wajah yang semula kecoklatan itu kini muncul semburat kemerahan yang membuat wajahnya terlihat manis. Mendadak ia merasakan panas di seluruh bagian tubuh yang tersentuh kursi—yang kata Hanji—milik Levi. "Ke-Kenapa kita tiba-tiba membicarakan Levi-senpai?"
Senyum nakal mengembang di wajah Hanji bersamaan dengan mata yang menyipit (beberapa orang yang dekat dengannya mengenal ekspresi itu sebagai pertanda bahwa ia dalam mode fujoshi). "He~ kenapa wajahmu jadi seperti itu saat aku membicarakan Levi? Eh, eh~? Apa ada yang salah~?" Lubang hidung miliknya mulai kembang kempis dalam tempo cepat, seakan-akan menyiratkan degup jantungnya yang berdebar cepat akibat penasaran berlebihan. "Lagipula aku juga melihat kalian sering bersama akhir-akhir ini~"
"Um... A-Ah, i-itu..." Eren meneguk ludahnya kasar. Dalam hati ia berdoa semoga Hanji benar-benar bisa menjaga rahasia ini. "Menurutku dia itu sangat aneh, aku juga tidak mengerti kepribadiannya. Kadang dia dingin, kadang dia—er... mesum, kurasa."
Sorot mata Hanji semakin menyilaukan. Atmosfer yang terasa di ruang OSIS terasa menjadi absurd dengan munculnya bunga-bunga fantasi. "He~ mesum~?" Nada suara itu semakin meninggi.
Eren mengangguk dengan cepat. Seolah tertarik oleh semangat membara Hanji, hati kecilnya terus berteriak meminta Eren mengeluarkan segala keluh kesahnya. "Ya! Bayangkan saja, Hanji-senpai! Tempo hari lalu aku pernah terlambat masuk sekolah lalu dia yang tiba-tiba muncul malah menciumku!" Penjelasan itu membuat sebuah seruan dengan nada yang jauh lebih tinggi menggema di ruangan tersebut. "Lalu, kemarin saat aku merasa tidak enak badan dan beristirahat di UKS, dia datang dan memberikan perhatian lalu mengecup keningku!"
Teriakan fangirl gila Hanji semakin menjadi, bahkan semakin ekstrim saat ia mengguncang tubuh semampai adik kelasnya. "For God's sake, Eren! Demi Tuhan! Ini hal terhebat yang pernah kuketahui dari Levi! Ahahahaha!" Ia lalu tertawa sinting, puas bisa mengetahui satu sisi—atau mungkin rahasia—dari sahabatnya yang bahkan orangnya sendiri pun belum menceritakan hal ini secara langsung padanya.
Sementara itu yang menjadi objek pelampiasan puncak kebahagiaan seorang fujoshi hanya tertawa renyah. "Sepertinya senpai puas sekali? Hubungan kalian sedekat itukah?" Eren bertanya. Sedikit terdengar nada menginterogasi walau si pemilik suara tak menyadarinya.
Hanji sedikit mengurangi porsi tawanya, lalu menggaruk kepala yang tak gatal. "Yah~ kalau dibilang dekat, kami memang cukup dekat. Rumah kami bersebelahan, jadi sejak kecil kami bermain dan pergi ke sekolah bersama. Well, aku juga senang menggodanya—maksudku bukan seperti yang dilakukan beberapa siswi yang mencoba mendekatinya, mungkin lebih tepat jika aku mengatakan aku senang mengejeknya. Dia juga sering curhat padaku, dan setahuku hanya aku teman terdekatnya. Aku senang sekali menjadi sahabat si cebol itu dan menyimpan banyak rahasianya~ Ahahahaha~"
"Oh, rupanya dia punya banyak rahasia juga. Tak kusangka." Mata itu membulat, sekilas memperlihatkan kilat takjub.
"Yup, begitulah~" Sang gadis Zoe memundurkan kursi beroda tempatnya duduk lalu berputar-putar di kursi tersebut, membuat bagian lengan dari jas SMA Shiganshina yang diikatkan di pinggangnya sedikit bergoyang tertiup angin. "Percaya atau tidak, sejak kecil dia seorang clen-freak. Ruangan ini saja dia sendiri yang membersihkannya—aku serius! Dia beranggapan bahwa orang lain tidak sejenius dia dalam hal bersih-bersih. Bahkan saat pertama kali kami bertemu saja dia malah mengomeliku habis-habisan karena bajuku yang tidak rapi! Dia bahkan jauh lebih berisik dibanding ibuku!"
Sebuah senyum miris terpatri di wajah Eren, menyampaikan rasa duka cita mendalam untuk seniornya itu dalam diam. Hanji yang malang.
"Ah!" Hanji menghentikan putaran kursinya lalu mendorong kursi tersebut menggunakan kakinya hingga dekat dengan sosok Eren di sana. "Ngomong-ngomong hari ini kau lihat Levi tidak? Seharusnya dia ada di sini untuk membantuku menyusun denah stand."
Hening kemudian. Sorot emerald itu sesaat menghitam. Pemiliknya menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menyembunyikan pandangannya yang mengabur akibat air mata yang menggenang. Wajah itu memanas beriringan dengan mengumpulnya cairan pekat penuh haemoglobin di kedua pipi tersebut. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa kesal dan marah dan entah apa pun itu. Rasa sesak dan sakit mulai menyeruak di dada, membuat Eren meremas bajunya kuat-kuat seolah meminta hatinya untuk tak merasakan perasaan menyakitkan ini lagi. Saksi dari perubahan drastis ini berseru panik, merasa bersalah karena telah menanyakan pertanyaan macam itu. "A-Aku melihat Levi-senpai di kantin tadi..." Ucapannya berhenti sebentar akibat sebuah isakan. "Dia... be-bersama Petra-senpai dan tertawa bersama, a-aku... aku—"
Kriet. Pintu ruang OSIS dibuka dengan sangat pelan, bahkan tidak bersuara sama sekali.
"—aku juga ingin bisa bersama Levi-senpai seperti itu!"
"Apa?"
Eren dan Hanji berbalik ke arah pintu dengan gerakan sangat cepat—terutama Eren karena ia sangat mengenal suara bariton itu. Mulutnya menganga lebar tatkala melihat sosok pemuda berambut eboni juga seorang gadis berambut ginger di sana.
Obsidian itu memincing. "Kau serius, Eren Jaeger?"
Uh-oh.
.
.
—to be continued—
—oOo—oOo—oOo—
a/n: Hai, haaaai~ bertemu lagi dengan Hyocchin~ Ya Tuhan kenapa chapter ini berasa sinetron banget 눈_눈 Ah tolong maklumi lah ya lagi melankolis (?) akhir-akhir ini
Oh ya, sedikit pemberitahuan untuk kalian yang menggunakan TV kabel, berbahagialah karena tanggal 3 Mei nanti Shingeki no Kyojin akan tayang di Toonami dengan english dubbing (ini jadwal untuk Eropa, Hyocchin tidak tahu kapan waktu untuk Indonesia~)
Yah, singkat saja dari Hyocchin. Nantikan chapter selanjutnya yang akan ditulis kembali oleh Tomoko~ XD jangan lupa untuk memberikan kritik, saran, dan komentar via review~ sankyu and stay tuned~
