Sebelum lanjut ke chapter 5, ayo kita bales review~! 'v')/

Raicho19: Next chap rated M? Walah... pengennya sih gitu /eh Ahaha~ Mikasa over-protective karena ada alasannya kok~ silakan baca chapter ini ohoho xD Twitter? Ada kok. Silakan dilihat di bio kami, chyorimentum dan Tomoko Takami, silakan juga untuk PM kalau ada yang ingin ditanyakan ;)

Charlotte Calisle: Yah... kurang lebih begitulah... hehehe ^^ Tenang, bagian itu sudah kami siapin ;) Request adegan vampirnya dibanyakin? Siap siaaaap xD

makisukii: Aye aye sir! Sudah update! ^^

Sekian balasan review dari kami. So, enjoy this chapter~

—oOo—oOo—oOo—

[Mont Amant est Un Vampire]

A collaboration fanfiction of chyorimentum and Tomoko Takami

.

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

.

Warning(s): possibly typo(s), shounen-ai, alternate age, vampire!AU, school life, reincarnation

Pairing: Levi X Eren

.

Absolutely not-for-profit work. Enjoy!

—oOo—oOo—oOo—

Mata itu membulat sempurna. Emeraldnya memancarkan sorot kaget sang pemilik—redup, dan terguncang. Tubuhnya mulai limbung dan kepalanya serasa ingin pecah. Wajah Eren pucat pasi seakan telah merasakan langit runtuh. Pertanyaan-pertanyaan muncul begitu saja di dalam kepalanya.

(Bagaimana sepatuku bisa ada di sana? Apa aku ada di sana waktu itu? Apa aku yang menyerangnya? Apa yang sebenarnya terjadi?!)

Tangannya mengais udara, lalu meraih meja untuk dijadikan pegangan agar tubuhnya tidak jatuh. Ia duduk di kursi meja makan dan membenamkan wajahnya di atas meja. Pandanganya telah buram oleh air mata yang menggenang di pelupuk mata, kemudian cairan bening itu mengalir melewati pipi si pemuda dan menghapusnya dengan lengan bajunya. "Sial! Sial! Sial!" rutuknya di sela isakan.

"Sudah kuduga kau akan bereaksi seperti itu, Eren."

Suara gadis yang familier menggema di gendang telinga Eren. Pemuda itu sedikit terlonjak, sesaat merasakan oksigen menjauh darinya hingga ia sulit bernafas. Ia menengadah dengan cepat, bersamaan dengan tatapan yang penuh rasa tak percaya akan apa yang berada di depannya saat ini. "Mi-Mikasa?" Eren mencicit. "Ke-Kenapa kau ada di sini? A-Ada apa ini sebenarnya?"

Sebuah seringai muncul di wajah gadis cantik itu. Entah bagaimana, aura mencekam terpancar darinya. "Eren, Eren yang malang. Sepertinya kau masih belum ingat juga."

Eren menatap temannya yang tengah mengenakan long sleeve sweater berwarna kelabu dan rok selutut berwarna merah darah yang serupa dengan syal yang melilit di lehernya. Tatapannya begitu mengintimidasi layaknya karnivor yang telah menemukan mangsa. Di mana tatapan lembut yang penuh perhatian seperti biasanya itu? "Apa maksudmu... Mikasa?"

Mikasa menepuk dahi. "Ah, bodohnya aku." Ia terkekeh, kakinya melangkah mendekati tempat Eren berada dan mendudukkan diri di atas meja dengan kaki menyilang. "Aku 'kan belum membuka segel ingatanmu."

"A-Aku tidak mengerti..." Suara itu terdengar sedikit terguncang. "Ingatanku? Ingatan apa?"

"Sssst." Mikasa meletakkan jarinya di kedua belah bibir pucat Eren, menyuruhnya untuk diam sejenak. "Berhenti bertanya. Kalau kau terus bertanya, aku jadi tidak bisa menjelaskan semuanya, 'kan?"

Kemudian Eren diam, mencoba menyimak dalam rasa takut yang mulai muncul.

Mikasa beranjak dari tempatnya duduk dan mengambil remote televisi di atas sofa. Ia berjalan mendekati jendela lalu menutup tirai berwarna lembut tersebut. Tangannya yang lain menekan salah satu tombol pada remote hingga televisi mati. Kini rumah Eren menjadi gelap. Sekilas pancaran merah yang asing terlihat dari kedua iris milik si gadis.

Bulu kuduk Eren mulai meremang. Ia takut.

"Kau sudah lihat berita tentang penemuan mayat yang diserang oleh binatang buas di sekitar sini?" tanya Mikasa. Suaranya terdengar begitu dalam dan rendah.

Eren mengangguk.

"Dia tewas bukan karena diserang oleh anjing liar atau serigala atau apalah itu, dia—" mata Mikasa menyipit dan senyumnya sangat lebar, "—mati karena kau, Eren."

"A... pa..?" Eren kembali terhenyak. Tangannya mencengkeram dada yang semakin sesak, mungkin jantungnya berhenti berdegup sekarang. "Aku? Membunuh? I-Itu tidak mungkin!"

"Sangat mungkin, Eren. Kalau tidak, bagaimana mungkin sepatumu ada di TKP? Jangan mengelak lagi, kaulah yang menyerang orang itu. Aku menemukanmu yang tengah di luar kendali dan aku juga yang membawamu ke sini." Tawa jahat dan gila terdengar di seisi rumah. "Darah merah dan kental yang mengalir dari daging segarnya sangat membuatku tergoda... Tapi kutahan semua nafsu itu agar kau bangkit. Aku tak boleh menghancurkan waktu yang selama ini terbuang untuk menunggu jati dirimu yang sebenarnya muncul dari alam bawah sadarmu. Aku sengaja menunggumu dalam kondisi mental breakdown dan semakin memperburuknya dengan konflik di antara kita kemarin untuk menekan sisi lainmu itu keluar.

"Dan kau harus tahu taring-taringmu itu begitu menggemaskan, mata merahmu sangat mempesona—menyala dalam kegelapan, dan hasrat membunuhmu yang membara itu membuatku bersemangat!" Tawanya semakin lantang dan tak terkendali. Rona pipinya tampak memerah. "Eren... kau adalah—"

Eren menutup telinga dengan kedua tangannya rapat-rapat. "Hentikan... Mikasa... Aku sudah tidak mau dengar lagi..."

"—vampir. Kau adalah vampir, Eren!"

Sesosok mengerikan yang tempo hari hendak menyerang dan membunuhnya terlintas di pikirannya. "AKU BUKAN VAMPIR, MIKASA!"

Brak! Barang-barang di dalam rumah serempak berjatuhan. Vas antik yang semula berada di tengah meja makan pecah berkeping-keping, membuat bunga aster yang semula menghiasi ruangan itu berserakan. Lampu gantung yang berada di dekat pantry bergoyang. Kursi dan meja bergeser dan melayang ke segala arah—bahkan salah satunya nyaris mengenai Mikasa. Bola lampu berkedip mati-hidup dalam tempo cepat hingga pecah dalam hitungan detik. Suara melengking yang berasal dari Eren terdengar sangat nyaring dan memekakkan telinga, membuat Mikasa harus menutup indra pendengarannya rapat. Keadaan seisi rumah menjadi kacau balau saat Eren memekik—terlihat seperti angin topan dan gempa bumi di saat yang bersamaan.

Sebuah kejadian tak terduga terjadi. Di saat Eren terus memekik, fisiknya mulai berubah. Matanya yang semula hijau terang kini menjadi merah gelap—seperti darah pekat yang mengalir di sepanjang arteri, gigi-gigi taringnya tumbuh semakin panjang walau sedikit. Sebuah senyum mengembang di wajahnya, matanya membesar dan berkilat—siap membunuh kapan saja.

Sorot mata Mikasa menghangat dan terlihat sangat senang. "Akhirnya pangeran mahkota kita telah kembali..." Gadis itu membentuk sebuah simbol di udara—terlihat seperi bintang terbalik di dalam lingkaran dengan aksara asing di setiap ruangnya. Ia lalu berlari mendekat pada Eren, membawa simbol itu dengan sangat cepat hingga membelah angin yang berhembus ke arahnya, dan mendorong simbol itu tepat menuju dahi sang Jaeger.

Kemudian semuanya menjadi gelap bagi Eren.

—oOo—oOo—oOo—

Tawa seorang anak kecil membahana di ruang tidur bergaya renaisans itu. Tangan-tangan mungilnya memainkan dua buah boneka—satunya Barbie, dan satu lagi boneka beruang. Ia dekatkan boneka beruang tersebut pada Barbie. "Aum! Aku akan menghisap darahmu, nona kecil!" Anak itu berseru, seakan itu adalah suara si beruang. Lalu ia letakkan moncong si beruang lucu pada leher Barbie, berperan seolah beruang berbulu coklat itu adalah vampir.

Pintu ruangan terbuka, menyita perhatian sang bocah yang semula tertuju pada mainan-mainannya kini tertuju pada sesosok wanita berpakaian serba hitam di sana.

Ekspresi ceria menghiasi wajah tembam anak berkulit pucat itu. Ia berdiri, lalu dibuangnya mainan di kedua tangannya tersebut dan berlari menghampiri si wanita. "Mama!" Bocah itu memeluknya erat. "Mama dari mana saja? Eren kangen Mama!"

Wanita itu terkekeh pelan dan berlutut. Dipeluknya Eren dengan penuh kasih sayang. "Mama habis berburu bersama Papa, sayang. Eren sudah makan?"

Bocah bernama Eren itu menggeleng. "Eren tidak mau makan makanan manusia, Ma. Eren juga ingin meminum darah manusia seperti Mama dan Papa."

Sang wanita berhenti memeluk anaknya, ia lalu mengusap pucuk kepala putra semata wayangnya tersebut. "Nanti kalau Eren sudah dewasa, ya?"

"Kapan Eren menjadi dewasa, Ma?"

"Kalau Eren sudah mendapatkan kekuatan vampir seperti yang dimiliki Mama dan Papa. Jadi, Eren harus menjadi anak baik sampai saat itu tiba, mengerti?"

Eren mengangguk semangat. "Ya!"

Tiba-tiba suara teriakan seseorang terdengar dari lantai bawah. Tentu itu membuat mereka berdua kaget setengah mati. Dengan cepat wanita berambut hitam itu merangkul Eren dalam dekapannya. "I-Itu suara apa, Ma?" tanya Eren takut.

"Tenanglah, sayang. Mama ada di sini." Ia menengok ke sekeliling dengan sangat waspada. Iris merahnya terlihat mematikan di tengah kegelapan.

"NYONYA CARLA! TUAN GRISHA! CEPAT BERLINDUNG! ADA PEMBURU VAMPIR YANG MENYUSUP—"

DOR! Kemudian terdengar suara tembakan yang sangat keras dari tempat yang sama. Carla—ibu Eren, memeluk anaknya semakin erat. Ia lalu menggendong anaknya dan berdiri, kaki-kakinya segera tergerak untuk pergi dari sana. Dengan cepat wanita itu segera berlari ke lantai atas melewati tangga melingkar dengan obor yang menerangi jalan mereka, bahkan cahaya bulan purnama di luar sana tak cukup membantu memperjelas penglihatannya.

"Mama... Eren takut..." Bocah bersurai brunette yang tengah berada dalam dekapan Carla itu semakin mengeratkan pegangan pada pundak ibunya. Sebuah isakan mulai terdengar dari bibir mungilnya.

"Berhenti menangis, Eren! Kalau tidak para pemburu vampir akan tahu di mana kita berada!" Carla berseru dengan tatapan tajam dan suara tinggi, membuat Eren tersentak dan berhenti menangis saat itu juga.

Mereka telah sampai di lantai paling atas kediaman mereka—puncak paling atas dari menara kastil yang terletak di hutan angker paling dalam. Langkah Carla terhenti tepat saat melihat apa yang berada di depannya saat ini; seorang gadis kecil sepantaran Eren yang tengah menangis dalam kegelapan sedang meratapi sesosok tubuh yang perlahan berubah menjadi butiran abu.

Gadis kecil itu menatap Carla dan Eren yang baru saja tiba. Tangisannya semakin menjadi tatkala melihat wajah syok yang ditunjukkan oleh Carla maupun Eren. "Nyonya Carla... saat saya hendak kemari untuk melindungi Tuan, beliau sudah—" ia terisak, tak sanggup melanjutkan kata-katanya. "Maaf saya tidak bisa melindungi Tuan Grisha..."

Diturunkannya Eren dari gendongan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Mata merahnya merefleksikan amarah yang membara dan kesedihan yang menyesakkan secara bersamaan. "Mikasa, cepat bawa Eren pergi dari kastil ini ke tempat yang aman dengan jalan rahasia di sana." Ia menunjuk salah satu sudut tembok di ujung ruangan, tempat jalan rahasia yang disebutkannya disembunyikan.

Mikasa—gadis kecil yang tengah meratapi kegagalannya melindungi Tuannya—terbelalak kaget. Kedua iris merahnya membesar. "Tapi bagaimana dengan Anda, Nyonya? Anda tidak ikut melarikan diri?"

Carla menggeleng. "Tidak. Aku harus membalas kematian suamiku." Bulir bening mulai mengalir melewati pipi pucatnya. "Aku percaya kau bisa melindungi anakku."

Eren, yang melihat kesedihan sang ibu, akhirnya ikut menangis. Ia mencengkeram ujung jubah Carla. "Tidak, Mama... Eren tidak mau pergi tanpa Mama..." isaknya.

Wanita itu kembali berlutut di depan putranya. Digenggamnya kedua tangan itu. Ia tersenyum, walaupun terlihat getir. "Eren, saat Mama tak ada nanti turuti apa yang Mikasa dan paman juga bibi Ackerman katakan, ya? Jadilah anak baik dan latihlah terus kemampuanmu agar kau bisa melawan para pemburu vampir dengan baik. Mengerti?"

Tapi Eren hanya menangis. Ia tak mengerti mengapa ibunya memilih meninggalkannya untuk bertarung melawan para pemburu vampir dibanding berlari bersamanya dan Mikasa ke tempat yang aman. Dan mengapa perpisahan selalu sesakit ini?

"Mama melakukan ini karena Mama menyayangi Eren. Mama akan melakukan apa saja untuk melindungimu, nak, walaupun nyawa taruhannya." Carla memeluk Eren erat, sangat erat hingga anak itu merasa bernafas dengan sesak selama beberapa detik. Ia lalu meregangkan pelukannya, menepuk kedua pundak kecil Eren dan menatap iris emeraldnya. "Dengar, Eren. Mama akan mengunci ingatanmu tentang kejadian malam ini dan kehidupanmu sebagai vampir dan menanamkan ingatan palsu tentang kehidupan sebagai manusia biasa di dalam dirimu. Sampai kekuatanmu bangkit, Mikasa akan melindungimu. Tapi jangan khawatir, walau Mikasa seumuran denganmu tapi ia sudah mendapatkan kekuatannya beberapa tahun yang lalu. Selain itu, dia adalah prajurit terkuat kita."

Carla membentuk sebuah simbol di depan wajah Eren. Simbol itu bersinar di dalam gelap dengan bentuk bintang terbalik di dalam lingkaran dengan aksara asing di tiap ruangnya.

"Tapi Ma—"

"Ingatanmu akan kembali saat Mikasa membuka segelnya. Dan jika saat itu tiba, ingatlah siapa dirimu sebenarnya, ingatlah peristiwa ini, ingatlah betapa kejamnya para pemburu vampir yang telah membunuh orang tuamu, ingatlah dendam kami pada mereka. Bunuh mereka tanpa sisa dan teruslah hidup..." Carla membawa simbol itu tepat ke dahi Eren.

.

(Mama menyanyangimu, Eren...)

—oOo—oOo—oOo—

Kursi di ruang OSIS kini terisi penuh oleh para panitia festival kebudayaan. Raut serius masih terpampang jelas di wajah mereka berkat rapat alot yang dipimpin oleh Levi. Sang ketua OSIS merapikan tumpukan kertas berisi laporan, proposal, dan contoh surat izin yang berada di depannya dan diketuknya di atas meja. "Baiklah, kalau begitu kita akhiri rapat hari ini. Silakan bubar."

Murid-murid yang masuk dalam jajaran The Sina berdiri dari tempat duduk mereka. Beberapa ada yang masih duduk di tempat guna berdiskusi tentang festival kebudayaan nanti, beberapa ada juga yang tetap berada di sana dengan alasan malas kembali ke kelas.

Pemuda berambut eboni dengan wajah datar itu berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan melewati panitia yang masih berada di dalam ruangan. Seorang gadis berambut ginger sebahu yang baru saja ia lewati segera menoleh ke arah si pemuda dengan wajah yang terlihat sedikit cemas. Ia segera berdiri dari tempat duduknya dan mendekati pemuda itu. 'Lev—'

"YO LEVIII~!"

Belum sempat Petra memanggil Levi, sebuah suara lain memanggilnya terlebih dahulu dengan nada yang lebih tinggi. Seorang gadis yang terbilang cukup tinggi menabrak pundaknya dan membuat Petra meringis pelan. Ia menggeram kesal, ia tahu siapa pemilik suara yang juga menabrak tubuhnya tadi. Hanji Zoe. Ia tahu itu.

"Mata Empat Sialan, mau apa kau?" tanya Levi penuh sarkasme. Ia kemudian keluar dari ruang itu dengan langkah cepat hingga Hanji tertinggal di belakangnya. "Tinggalkan aku sendiri."

"Hoi, tunggu!" Hanji segera berlari menyusul sang teman. Meninggalkan beberapa anggota OSIS yang heran dengan keanehan dua orang itu. Sudah aneh, yang satu berisik pula.

Dan Petra hanya menghela nafas di sana. Mungkin segelas susu hangat dari penyimpanan rahasia OSIS bisa menenangkan pikirannya—juga melupakan kenyataan bahwa mendekati Levi sangatlah sulit.

—oOo—oOo—oOo—

Koridor pada siang itu sangat sepi. Maklumlah, sekarang masih di tengah jam pelajaran. Hanji berlari ke arah Levi yang tak menanggapi panggilan sang teman, gadis itu lalu merangkul pundak pemuda yang sedikit lebih pendek darinya tersebut tanpa sungkan saat ia berhasil menyusulnya.

"Ada apa denganmu, sih?" tanya Hanji to the point. "Rasanya akhir-akhir ini kau aneh sekali."

"Apa maksudmu dengan 'aneh', Mata Empat?" tanya balik Levi dengan nada sinis. "Aku baik-baik saja, tak ada yang aneh denganku."

Hanji melepaskan rangkulannya, membuat temannya dan dirinya kini bisa bergerak denga bebas dan berjalan beriringan. Jari telunjuknya menunjuk wajah datar Levi. "Ada. Akhir-akhir ini kau terlihat murung, lho."

Levi memutar bola matanya. Ia berusaha tak peduli, namun pada akhirnya telinganya itu tetap mendengarkan.

"Mungkin orang lain tidak terlalu menyadarinya karena ekspresimu yang selalu sama itu. Tapi kita sudah berteman sejak lama, jadi aku cukup tahu suasana hatimu." Hanji berucap. "Jadi apa hal yang membuatmu murung itu, eh?"

Pemuda itu terdiam sejenak lalu menjawab, "Tidak ada."

Hanji menghela nafas lelah. Memang susah membuat pemuda yang satu ini untuk berkata jujur tentang perasaannya, selalu begitu sejak dulu. "Apa jangan-jangan Eren yang membuatmu lesu seperti ini? Dua minggu lalu kalian dan Petra sedang dalam 'intrik', 'kan?"

Langkah Levi terhenti. Gadis di sebelahnya pun ikut berhenti berjalan. Ia lalu menoleh ke arah gadis bermarga Zoe itu dan menatapnya tajam. "Bukan urusanmu." Kemudian ia kembali berjalan dengan langkah yang jauh lebih cepat, nyaris berlari.

Ding dong! Tepat pada sasaran rupanya! Sebuah senyum super lebar tak bisa dielakkan dari wajah gadis itu, tawa gila bernada tinggi yang khas juga turut menemani. Langkah lebar segera ia ambil guna kembali menyusul Levi. "Ohohoho~ Sudah kuduga kau galau gara-gara itu! Ohohohoho~"

"Berisik. Sialan."

"Kalau kuperhatikan, akhir-akhir ini Eren tidak ada di sekitarmu. Apa kau jadi begini karena tidak melihat wajahnya? Oh, atau jangan-jangan kau malah bermasalah dengan temannya yang bernama Mikasa? Sepertinya dia menjaga Eren agar tidak dekat-dekat denganmu. Atau—!" Ia memukulkan kepalan tangan kanannya pada telapak tangan kirinya. "Atau, kau merasa bersalah karena sudah mencium Eren dengan paksa waktu ia langsung kabur dari ruang OSIS? Ya, 'kan?!"

Suara mendecih terdengar dari bibir pemuda berkulit pucat itu. Hanji tahu, tesisnya yang terakhir itu tepat pada sasaran.

"Ayolah, jawab dengan jujur kali ini, Levi! Please!" Hanji mengguncang-guncang pundak sahabat masa kecilnya itu dengan ekstrim. Bahkan, Levi sampai memekik. Sangat jarang dilihat, bukan? "Apa kau ingin membuat hubunganmu dengan Eren membaik?"

"Apa maksudmu, hah?"

"Sudah, jawab saja pertanyaanku!"

"Baiklah, baiklah!" Ia segera menarik diri dari guncangan bertenaga maut Hanji yang disebabkan oleh semangat fujoshi gadis itu yang membara. Dibetulkannya bajunya yang berantakan itu lalu menjawab dengan suara rendah, "kalau ya, lantas kenapa?"

"Ohohohoho~!" Tawa sinting kembali menggema. Untunglah di koridor tak ada siapa pun jadi mereka bukanlah pusat perhatian kini. "Aku punya solusinya! Kau benar-benar beruntung memiliki teman yang bisa membantu sepertiku!"

(Beruntung? Bukan sebaliknya, 'kan?)

Tapi, yah, setidaknya ada yang membantu (walau entah apa jadinya nanti) daripada tidak sama sekali.

—oOo—oOo—oOo—

Jam istirahat siang tengah berlangsung sekarang. Saat makan siang bersama Mikasa dan Armin, Eren meminta izin ke toilet—berkata bahwa ia mendapat panggilan alam. Tapi saat ia berada di dalam bilik kamar mandi, ia malah menangis tersendu (dan untunglah tak ada orang selian dirinya karena toilet di lantai ini jarang dipakai, jadi ia bisa menangis dengan puas).

Dan lagi, sebenarnya ia berbohong soal ingin ke toilet. Eren hanya ingin melepas beban hidup yang sudah bertumpuk selama dua minggu ini. Mengetahui dirinya adalah pangeran dari para vampir saja sudah membuatnya stres hebat, terlebih harus hidup di bawah peraturan juga beberapa latihan berat seperti cara bertarung dan cara mempertahankan diri yang diberikan oleh Mikasa selaku prajurit kepercayaan orang tuanya sejak dulu.

Ada tiga peraturan dari Mikasa yang selalu diingatnya sejak hari itu, hingga hari ini; satu, hindari kondisi mental breakdown seperti kesedihan yang luar biasa. Itu bisa membuat kekuatannya berada di luar kendali. Dua, pada dasarnya vampir hampir sama seperti manusia yang mengidap anemia. Jadi Eren harus mengkonsumsi makanan manusia yang bisa meningkatkan kadar darah setiap harinya. Dan tiga, ada kalanya nafsu makan sisi vampir Eren akan muncul. Maka, Mikasa akan menyediakan suplai darah segar untuk Eren konsumsi di akhir minggu—karena sangat berbahaya bagi Eren yang belum berpengalaman untuk turun langsung ke lapangan (lagipula Eren juga bersikeras tidak mau memburu manusia).

Penggalan lagu milik Skrillex yang terdengar dari handphone Eren berbunyi dengan nyaring, meminta sang pemilik untuk segera menjawab telepon. Ia pun segera mengambil gadget tipis itu dari kantung belakang celana, dahinya berkerut saat mendapati nomor yang tertera adalah nomor tak dikenal. Tapi ia angkat telepon itu, bisa saja ada urusan penting, 'kan?

Eren menghapus air mata dan mendehem, berusaha membuat suaranya tidak terdengar seperti habis menangis. "Halo?" Ia menyapa duluan.

"Hei. Eren?"

Matanya melebar tatkala mendengar suara seseorang di sana. Jantungnya serasa seperti berhenti berdegup dan tiba-tiba saja ia lupa bagaimana caranya bernafas. "Le-Levi... senpai..? Bagaimana kau tahu nomorku?"

"Itu tidak penting." Levi menjawab di seberang sana. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Mata Eren melebar, ia terkejut. Jantungnya serasa berhenti berdegup, sekilas ia tiba-tiba melupakan bagaimana caranya untuk bernafas. Wanti-wanti yang pernah dikatakan Mikasa terbesit di benaknya begitu saja.

("Jangan pernah berurusan lagi dengan si cebol mesum itu. Dia berbahaya.")

Eren meneguk ludahnya kasar. Ia takut jika ia berbicara lebih jauh lagi dengan ketua The Sina itu, ia akan mendapat sesuatu yang lebih dibanding kemarin. Maka ia menjauhkan handphone itu dari telinganya, bermaksud untuk memutuskan hubungan telepon.

"Tunggu."

Satu kata itu menghentikan pergerakan Eren.

"Aku tahu kau berniat memutuskan teleponnya. Tapi kumohon sekali ini saja, tolong dengarkan aku dulu."

Si Jaeger bimbang untuk sesaat. Tapi mendengar Levi mengatakan 'kumohon', mungkin ia harus memberinya kesempatan. Jadi ia dekatkan kembali gadget berlambang apel tersebut dan mendengarkan.

"Aku ingin meminta maaf soal beberapa minggu yang lalu dan saat pertama kali kita bertemu karena sudah menciummu tanpa izin. Aku menyesal, maafkan aku."

Eren hanya diam. Ia tak menjawab apa pun.

"Minta maaf saja pasti tidak cukup, aku tahu. Kalau begitu sebagai permintaan maaf maukah kau pergi ke festival kebudayaan denganku minggu depan?"

Rona kemerahan tak bisa disembunyikan dari wajah pemuda bercardigan biru itu. Tunggu sebentar, apa ini ajakan kencan? Levi yang banyak bicara seperti ini juga rasanya begitu asing. Apa kepalanya terbentur sesuatu sehingga pikirannya menjadi sedikit terganggu?

"Apa kau mau? Kalau kau ikut denganku, kau tidak perlu mengikuti antrian dan bisa langsung masuk, kau juga bisa mendapat jajanan dengan setengah harga. Bagaimana?"

Kalau dilihat dari cara membujuk, sepertinya Levi memeng benar-benar serius mengaja Eren ke festival kebudayaan sebagai tanda permintaan maaf.

Eren menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan berat. Semoga saja jawabannya ini tidak salah. "Baiklah. Aku ikut."

"Oke, kalau begitu temui aku di depan gerbang saat festival jam dua belas siang."

Lalu hening, tak ada yang saling berbicara.

"Ada urusan yang harus kuselesaikan. Jadi... sampai jumpa depan, Eren."

Tit! Hubungan telepon terputus. Tapi Eren masih menempelkan handphone di telinganya—ia tak bisa bergerak, seluruh tubuhnya terasa seperti membeku. Seluruh wajahnya menjadi merah merona. Kaki-kakinya terlalu lemas untuk menopang beban tubuh, maka ia jatuh terduduk, memeluk kakinya dan membenamkan wajahnya di sana.

Entah bagaimana ia merasa seperti ada percikan kembang api dalam rongga dadanya juga kabut gelap di dalam kepalanya secara bersamaan.

—oOo—oOo—oOo—

Hari festival kebudayaan telah tiba. Banyak murid SMA Shiganshina bahkan beberapa warga sekitar yang menghadiri festival. Tentu saja, alasannya karena ada banyak sekali standee jajanan yang disediakan oleh setiap kelas dan banyak permainan berhadiah yang diadakan oleh tiap ekstrakulikuler. Selalu seperti itu setiap tahun.

Eren sudah berdiri di gerbang depan sekolah selama dua puluh menit. Well, ia memang datang lebih cepat dibanding waktu yang dijanjikan. Entah karena ia adalah orang yang sangat menepati janjinya, atau memang sedang bosan sendirian di rumah.

Mungkin kalian bertanya-tanya di mana keberadaan Mikasa sekarang. Mengapa ia tak bersama Eren? Yah, gadis itu kemarin berkata terlalu lelah dan terluka cukup parah karena bertarung dengan seorang pemburu vampir paruh baya berambut pirang, jadi ia tidak bisa mengikuti ke mana Eren pergi untuk beberapa hari ke depan karena memerlukan waktu untuk memulihkan diri. (Sepertinya Eren 'memanfaatkan' situasi ini untuk melakukan hal yang ingin ia lakukan tanpa pengawasan ketat Mikasa.)

Pemuda Jaeger itu sekilas melirik jam di tangannya dan menghela nafas. Jam 12.25 siang. Ia lalu menaikkan pandangannya dan memperhatikan sekitar, menatap setiap pengunjung yang tengah menikmati perhelatan festival. Jujur saja, Eren tak begitu suka berada di tengah keramaian, tapi melihat rona kebahagiaan di setiap orang membuatnya merasa sedikit nyaman.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Eren dari belakang dan membuat pemuda itu terlonjak kaget. Ia segera menoleh. Ekspresinya jauh lebih kaget dibanding saat ditepuk pundaknya. "Levi-senpai?" Lagi, suara itu terdengar tertekan di tenggorokan. Tangan kecilnya yang mulai mendingin saling bertaut, memperlihatkan rasa gugup yang mulai muncul. Matanya menatap sosok itu dari ujung rambut hingga ujung kaki; Levi mengenakan seragam lengkap dengan blazer khusus SMA Shiganshina dan sepatu pantofel seperti biasa, sebuah badge bertuliskan 'panitia' melingkar di lengan kiri dan rambutnya terlihat sedikit tidak terurus—sangat aneh, mengingat ia adalah seorang clean freak. Jangan lupakan juga kantung mata yang mulai muncul di wajah ketua OSIS itu akibat kurang tidur.

"Hai, Eren." Levi menyapa. Dua sudut bibirnya sedikit naik dan melengkung—tidak terlalu terlihat, memang. "Terima kasih sudah datang."

Eren mengangguk sebagai balasan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari tempo normal, tidak tahu karena merasa sedikit takut atau senang karena dua rasa itu kini saling berpadu. Emeraldnya membuat kontak dengan obsidian di depannya, tapi ia segera menatap ke arah lain karena darah merah mulai berkumpul di seluruh wajahnya. "Apa tidak merepotkan kalau senpai mengajakku berkeliling festival? Maksudku, senpai panitia, 'kan?"

"Nah, that's okay. Jumlah kami ada banyak dan Si Mata Empat itu bersedia menggantikan tugasku sebagai pengawas umum." Levi mengangkat bahu. "Lagipula aku melakukan ini sebagai permintaan maafku. Yah, memang belum cukup, tapi kuharap itu bisa sedikit menutupi."

Keduanya saling terdiam, menjadikan riuh khalayak ramai menjadi musik latar belakang. Tangan Levi mengangkat, menawarkan tangannya di hadapan Eren. "Shall we go?"

Awalnya Eren ragu dengan tawaran itu, tapi pada akhirnya ia meraih tangan itu. Lagipula ini hanya antisipasi agar mereka tidak terpisahkan oleh arus manusia, Eren terus menyakinkan dirinya sendiri dengan kalimat itu. Levi menyambut sentuhan kecil di antara jari-jari mereka dengan genggaman erat. Pemuda bersurai eboni itu pun membawa si brunette ke dalam kerumunan pengunjung tanpa menyadari sosok di belakangnya tersebut tengah mengikuti sambil menutupi sebagian dari wajahnya yang semakin memerah.

Apa ini hanya perasaan Eren saja, atau memang tangan Levi terasa hangat?

.

"Ah, permainan menembak bebek!"

Tanpa sadar Eren berseru saat melihat salah satu dari banyak stand yang berjajar di sepanjang lapangan SMA Shiganshina. Suaranya terdengar ceria, sehingga membuat Levi menghentikan langkahnya dan ikut memperhatikan stand yang dimaksud oleh Eren.

"Mau mencoba? Hadiah utamanya boneka beruang, lho," tawar Levi.

Sekedar informasi, Levi sudah hafal seluruh stand makanan beserta permainan juga hadiah utamanya. Itu adalah hal wajib yang harus dilakukan bagi seorang pengawas umum yang perfeksionis seperti Levi.

"Ehm..." Eren bergumam. Jari telunjuknya yang bebas menggaruk pipi dengan canggung. Ia bingung karena di satu sisi ia menginginkan itu, sementara di sisi yang lain boneka beruang mengingatkannya akan memori saat Carla mengunci ingatannya—dan itu membuatnya sakit luar biasa.

"Aku anggap itu sebagai jawaban 'ya'."

Ajakan lembut membawa Eren menuju stand yang beberapa detik lalu membuatnya terpukau. Levi kemudian melepaskan genggamannya, membiarkan Eren menerima senapan mainan untuk menembak bebek karet. "Uh... kurasa tak usah, senpai," kata Eren.

Levi mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"

"Aku tidak tahu cara memegang senapan."

Eren berbohong, Mikasa sudah mengajarinya berbagai macam senjata dan cara menggunakannya dengan sistem pembelajaran yang sangat ketat dan keras. Jadi, setidaknya ia tahu bagaimana caranya menembak walau tidak tepat sasaran—jauh, malah.

Pemakai badge panitia itu menghela nafas lelah. "Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang memainkannya untukmu." Levi mengambil senapan mainan dari murid penjaga stand. Ia lalu memposisikan diri—sama seperti yang pemburu vampir itu lakukan di kala malam datang, di bawah nama Scouting Legion—agar benda imitasi laras panjang yang mengkilap tersebut menembak tepat sasaran. Levi siap membidik, melihat sasaran melewati scoop dan menempatkan jarinya pada pelatuk.

Tembak lima bebek sasaran dari lima peluru mainan yang diberikan. Itulah peraturan untuk mendapatkan hadiah utama—si beruang putih berbulu lembut yang sangat besar.

Tembakan pertama, tepat sasaran. Membuat Eren dan murid penjaga stand terkesan karena tembakan itu tepat mengenai kepala bebek karet. Headshot.

Tembakan kedua. Headshot—lagi. Kali ini keduanya menganga. Beberapa orang yang lewat melewati stand tersebut berhenti untuk memberi atensi.

Tembakan ketiga, keempat, kelima. Semuanya headshot. Tak sampai hitungan menit stand menembak bebek karet sudah dipenuhi oleh orang-orang yang sekedar ingin melihat kehebatan Levi. Kejituannya mengundang decak kagum, tepukan tangan membahana di kala menerima hadiah utama.

Levi lalu memberikan boneka pada Eren yang masih memandangnya dengan binaran di mata, sambil tersenyum. Sekali lagi, tersenyum. Murid-murid SMA Shiganshina yang melihatnya merasa ingin sujud syukur, melihat ketua OSIS garang miskin keramahan yang memberi senyum dengan lembut sama seperti melihat mukjizat terhebat Tuhan. Oke, ini sedikit berlebihan.

Eren Jaeger membawa benda berbulu lembut itu ke dalam dekapan. Sebagian wajahnya bersembunyi di balik pucuk kepala beruang untuk menyembunyikan rona merah. "Te-Terima kasih banyak, senpai." Emeraldnya memandang ke arah lain, ke mana saja asal bukan ke obsidian di hadapannya.

Sepertinya Mikasa salah, Levi sudah tidak bersikap seenaknya layaknya tempo hari. Dan tentu saja, Eren menyambut perubahan itu dengan baik (well, ia memang selalu positive thinking, sebenarnya—ditambah kelewat polos).

Pemuda dengan rambut eboni itu menawarkan tangannya kembali, namun kali ini Eren menyambutnya tanpa ragu. Ia akan ikut ke mana pun Levi membawanya.

Kemudian sensasi hangat mulai menjalar dari tangan, lalu menuju hati si brunette.

Seandainya momen ini berlangsung selamanya.

.

Beberapa saat yang lalu Levi berkata dengan ekspresi serius, festival kebudayaan akan diakhiri dengan pesta kembang api. Eren menanggapi dengan antusias. Salah satu alasan utamanya adalah karena ia belum pernah melihat indahnya kembang api secara langsung. Tragis, memang. Tapi itulah kenyataannya.

Eren telah selesai menunaikan tugasnya dari panggilan alam. Ia melihat jam tangannya sebentar dan matanya langsung melebar. Tidak sampai tiga menit dari waktu yang diberikan Levi hingga pesta kembang api dimulai. Sekeluarnya dari toilet pria di dekat lapangan sekolah, Eren segera berlari menuju lahan kosong di belakang sekolah. Tempat itu sepi dan sangat strategis untuk menonton kembang api nanti, ditambah hanya orang-orang tertentu yang boleh berada di tempat itu—seperti ketua OSIS yang telah diberi izin kepala sekolah, misalnya.

Tiap kali jarum berdetak, lari Eren semakin cepat menuju tempat perjanjian. Sebuah senyum tak bisa ia sembunyikan begitu mengingat sosok Levi yang berkata akan menunggunya di satu-satunya pohon besar di lahan itu, tersenyum dengan sorot mata lembut sambil memegangi boneka beruang putih.

Langkah si pemuda Jaeger terhenti di dekat gerbang lahan kosong, tepatnya di dekat semak-semak yang tumbuh cukup tinggi. Ia refleks bersembunyi di sana saat melihat sosok dua orang di bawah pohon yang telah dijanjikan oleh Levi. Berkat terang bulan malam itu, Eren bisa melihat dengan jelas walau tanpa bantuan cahaya lampu. Satu orang yang berada di sana adalah Levi, dan yang satunya lagi terlihat begitu familier. Sosok itu seorang gadis dengan tinggi setara dengan Levi, rambutnya berwarna ginger dan terlihat terawat.

Entah bagaimana, Eren mulai merasa sesak di dadanya. Ia tak bisa mendengar percakapan mereka, tapi dari sorot wajah keduanya, sepertinya percakapan itu cukup serius. Apa ini pembicaraan tentang kepanitiaan? Atau mungkin—

Emerald itu melihat kesedihan di wajah Petra, dan ekspresi Levi yang masih datar. Bulir air mata turun melewati pipi gadis itu, matanya berkilat marah dan sendu. Petra lalu merebut beruang milik Eren yang dipegang oleh Levi dan membantingnya ke atas tanah. Levi terlihat hendak membuka mulut untuk protes, tapi dihentikan oleh Petra.

Dengan sebuah kecupan di bibir.

(Ada tiga peraturan dari Mikasa yang selalu diingatnya sejak hari itu, hingga hari ini; satu, hindari kondisi mental breakdown seperti kesedihan yang luar biasa. Itu bisa membuat kekuatannya berada di luar kendali.)

Eren merasakan adanya amarah, kesedihan, kekalutan, dan perasaan lain yang tidak terdifinisi di dalam dirinya. Semuanya bercampur aduk menjadi satu, membentuk suatu perasaan yang disebut dengan cemburu. Panas. Dan langit seperti melebur.

Bersamaan dengan kembang api yang mulai memperlihatkan keindahannya di langit malam, angin mulai berhembus, berpusat dari tempat Eren Jaeger berdiri. Emosi jiwa Eren mulai tak terkendali. Ia memasuki kondisi mental breakdown. Pemuda itu memeluk dirinya, suara tawa terkikik juga terdengar darinya. Matanya memerah, menyiratkan kebencian dari sisi vampirnya—bahkan dari sisi manusianya. Taringnya memanjang, siap mencabik dan menghisap cairan merah mangsa terdekat.

Sebuah seringai menyeramkan terpatri di bibir Eren. "Bunuh... manusia sialan itu..."

.

.

to be continued—

—oOo—oOo—oOo—

a/n: Hai haiiii~ jumpa lagi dengan Hyocchin di chapter ini ;) jangan bosen-bosen ya sama kita /plak Duuuh maaf banget lama ga update, maklum udah kelas 3 :'( Chapter ini saya buat panjang deh sebagai permintaan maaf ;')

Em... pengen ngomong apa ya... Oh iya, ada yang pergi ke AFA ID tanggal 15-17 Agustus kemarin? Kalau iya, mungkin kalian melihat saya di antara lautan manusia itu hahaha /plak

Ah ga sabar nunggu live action Shingeki no Kyojin tahun depan -_- /udahnak

Segitu aja kali ya dari Hyocchin. Nantikan chapter selanjutnya yang akan ditulis oleh Tomoko~ XD Jangan lupa untuk memberikan kripik, santan, dan komeng-tar (?) via review~ sankyu and stay tuned~