Sebelum lanjut ke chapter 6, yuk bales review dulu~
Kim Arlein 17: Ahahaha~ tengkyu berat~ well, actually, silakan baca chapter ini muehehehehe /udehnak
talithabalqis: Wah, tengkyu~ XD sip, udah diupdate nih muehehe
makisukii: Udah diupdate kok hehe, maaf ya jadwalnya agak renggang, maklum kita-kita ini anak kelas 12 penuh kegalauan (?)
Namida Kurusu: Nah, makanya baca chapter ini biar ga penasaran hehehe XD
Chloelen: Salam kenal juga dari Hyocchin dan Tomoko :D Wah, seriusan? Tengkyuh beuradh~ XD Boleh kok, makasih buat requestnya :) Once again, tengkyuh~
Levee: Udah dilanjut huehehe, tengkyu~ aduh sampe direview dua kali, kita sampe terharu TvT
RaineSkyfall: Iya nih... udah 'bangkit' (Hyocchin sedang berusaha ambigu di sini haha #IYKWIM) tengkyuh~ siap kak :D
Sekian dulu balasan dari kami. Enjoy this chapter, minna! ^^
[Mont Amant est Un Vampire]
A collaboration fanfiction of chyorimentum and Tomoko Takami
.
Shingeki no Kyojin Isayama Hajime
.
Warning(s): possibly typo(s), shounen-ai, alternate age, vampire!AU, school life, reincarnation.
Pairing: Levi X Eren
Enjoy this chapter minna!
==o0o==
"Bunuh… Bunuh manusia sialan itu!"
Eren berdesis marah, darahnya mendidih ketika melihat Petra mencium Levi dengan paksa. Giginya mulai menajam seiring kuku-kuku di jarinya memanjang. Tujuan utamanya kini hanya membunuh Petra, mencabik-cabik daging dan meminum darah gadis ginger itu. Ketika Eren hendak menyerang kakak kelasnya yang dia temukan hanyalah sekelebat scarf berwarna merah yang melintas di depannya untuk beberapa detik dan kemudian semuanya jadi gelap.
==o0o==
Yang Levi ingat adalah dia sedang bertengkar hebat dengan Petra soal hubungannya dengan Eren, tanpa diduga, Petra menarik boneka yang ada di pelukan Levi dan menciumnya dengan cepat. "Ap—?!" mata oniks Levi membesar melihat kelakuan wakil OSIS-nya yang amat di luar dugaan. Murka dengan kelakuan Petra, Levi mendorong gadis bertubuh mungil itu dan menatapnya dengan penuh kebencian, "APA-APAAN KAU, PETRA?!" bentak Levi sambil menyeka mulutnya dengan seragamnya. Tidak peduli dengan suaranya yang mungkin bisa menarik perhatian yang lain.
Petra yang tak pernah melihat amarah Levi tentu sangat kaget oleh perbuatan laki-laki yang disukainya, "Justru aku yang tanya." Petra menarik napas, dadanya terasa sesak akibat amarah dan kesedihan yang tertahan, "APA-APAAN MAKSUDMU, HAH?! KENAPA KAU LEBIH MEMILIH EREN, BOCAH KELAS 1 YANG TIDAK TAHU APA-APA?! KENAPA? KENAPA, LEVI?! PADAHAL AKU YANG MENGENALMU LEBIH DULU! AKU YANG LEBIH LAMA BERSAMAMU! KENAPA?! KENAPA HARUS DIA, DAN BUKAN AKU?!" teriaknya dengan suara yang semakin bergetar akibat tangisannya yang makin menjadi-jadi, amarah gadis berambut ginger tersebut kini berganti jadi isak tangis yang begitu pilu, pertahanannya runtuh begitu saja di depan Levi.
Levi masih memasang wajah stoicnya namun jelas kilatan amarah yang jelas tergambar di kedua bola mata steel miliknya, "Setidaknya Eren tidak sepertimu, sekarang menyingkirlah dari hadapanku, Petra Ral," ucapnya dengan suara sedingin es—tak peduli dengan keadaan Petra yang menangis kencang.
==o0o==
"Di mana? Di mana dia?"
Levi berlari menerobos keramaian, tidak peduli jika orang-orang yang dia tabrak menatapnya dengan penuh pandangan bertanya-tanya, Levi bersumpah bahwa tadi dia sempat melihat Eren di dekat sesemakan. "Kamu di mana, Eren..?" gumamnya. Dia berhenti di pinggir stand menembak bebek dan merogoh HPnya untuk menelepon Eren.
'Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silakan coba beberapa saat lagi.'
"Brengsek!" umpatnya sambil mematikan sambungan teleponnya.
==o0o==
Hal pertama yang Eren sadari saat membuka matanya ialah aroma manis yang menguar dari dapur, Eren segera bangun dari kasurnya dan menyeret tubuhnya ke dapur. "Oh, selamat pagi, Eren. Apa tidurmu nyenyak?" tanya Mikasa.
"...Mikasa?" suaranya terdengar sangat parau, tenggorokannya terasa terbakar hanya dengan bicara sepatah kata. "…Sedang apa kamu di sini?" tanya Eren. Dia masih berdiri di depan kamarnya.
Mikasa membuat gestur 'duduk-di sini', Eren menuruti perintah temannya untuk duduk di kursi dapur. "Makan ini dulu." Gadis Ackerman itu menyodorkan sepiring nasi kare dan segelas minuman yang berwarna merah pekat dan berbau sedikit manis yang Eren ketahui kalau itu adalah sari darah yang sudah dicampurkan oleh minuman racikan Mikasa. "Baru aku jelaskan kenapa kamu bisa berada di sini," titahnya dengan aura mengerikan di belakang tubuhnya.
Eren mendadak keringat dingin.
==o0o==
Eren membersihkan mulutnya dengan tisu yang sudah disediakan oleh Mikasa. "Kemarin aku menemukanmu dalam kondisi breakdown, kamu hampir menyerang Petra-senpai saat itu. Yang ingin kutanyakan, kenapa kamu bisa dalam kondisi mental breakdown? Bukannya aku sudah mewanti-wanti supaya tidak dalam kondisi breakdown di sekolah?" tanya Mikasa.
Eren gelagapan, bingung mau menjawab bagaimana.
"Well?" Mikasa bertanya dengan nada sedikit mendesak.
"Kurasa aku hanya sedikit lelah kemarin," kilahnya cepat.
Yang mendengarkan merasa tidak puas dengan jawaban pemuda bernama Eren Jaeger tersebut, namun gadis itu memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaannya. "Hari ini istirahatlah di rumah, aku sudah menelepon sekolah kalau kamu sedang sakit," katanya sebelum beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Ah, Mikasa? Bukannya kamu kemarin bilang padaku kalau kamu sedang memulihkan diri seharian penuh?" tanya Eren. Mikasa yang tadinya berada di dekat jendela menoleh dengan pandangan yang sulit dijelaskan. "Kenapa kamu bisa berada di sekolah?" tanya Eren lagi.
Mikasa membuang wajahnya. "Kebetulan saja aku berada di sekolah saat itu," jawab Mikasa, kalimatnya terdengar sedikit menggantung di akhirannya.
Eren tak membalas jawaban Mikasa meski alasan dan nada bicara gadis bersyal merah itu terdengar agak aneh di telinganya. Eren melanjutkan makannya sambil ditemani Mikasa dalam sunyi yang aneh.
==o0o==
Suasana di Ruang OSIS mencekam bukan main.
Levi Ackerman selaku ketua OSIS yang memimpin rapat hari ini terlihat sangat bad mood, dia menatap Thomas Wagner yang menjabat sebagai sekertaris dengan tajam dan menyentaknya dengan keras ketika adik kelasnya itu salah menulis angka budget yang dipakai selama festival kebudayaan berlangsung. "BODOH! MASA BEGINI SAJA SALAH! KAMU UMUR BERAPA SIH?! 10 TAHUN?!"
Thomas berjengit ketakutan. "Ma—maafkan aku, Levi-senpai. Akan aku perbaiki laporanku," katanya ketakutan. Kemudian dia menunduk lalu mengambil selembar kertas yang ada di meja Levi.
Pemuda berwajah datar itu kembali menyentak salah satu adik kelasnya ketika dia melakukan suatu kesalahan yang amat minor, gadis yang bernama Nifa itu sampai menangis ketakutan dan harus ditenangkan oleh Petra dan Hanji.
Rapat masih berjalan dengan alot, mata Hanji memincing ke arah Petra dan Levi yang menjaga jarak antara satu sama lain. 'Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka terlihat saling menjaga jarak?' batin Hanji penasaran karena biasanya mereka berdua sering mendiskusikan laporan berdua. Tapi, kali ini mereka seperti tidak mengenal satu sama lain.
Rapat sudah selesai, sekarang hanya ada Levi dan Hanji yang ada di ruangan OSIS itu. "Hei, Levi," panggil Hanji ragu-ragu.
Pemuda berwajah papan itu tidak menoleh—sibuk dengan laporan dan dokumen yang ada di depannya, Hanji menarik napas panjang lalu memanggil temannya sekali lagi. Dia berdiri dari tempatnya semula dan duduk di kursi milik Petra—dia menowel pipi pucat Levi supaya dia menoleh. "Levi, ada apa denganmu hari ini?" tanyanya perlahan. Jujur saja, terkadang dia agak takut berhadapan dengan teman masa kecilnya jika dia sedang bad mood luar biasa seperti saat ini.
Levi menoleh. "Tidak ada apa-apa," jawabnya singkat lalu kembali mengurusi tumpukan kertas.
"Seharian ini kamu membentak Thomas dan Nifa karena mereka melakukan hal yang minor. Padahal biasanya kamu tidak pernah membentak mereka. Kamu kenapa hari ini?" tanya Hanji perlahan namun sedikit memaksa. "Dan hari ini kulihat kamu menjauh dari Petra, apa kamu ada masalah dengan Petra?"
Levi akhirnya mulai melunak dan menghela napas panjang—toh hanya Hanji teman wanitanya yang dia bisa ajak bicara soal ini. "Berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan menyebarkan rahasia ini," kata Levi serius.
"For sure, now tell me what happened, dude." Hanji menepuk pundak Levi dengan keras—meyakinkan pemuda bertubuh 160 cm itu bahwa dia akan menjaga rahasianya.
==o0o==
"Mikasa," panggil Armin.
Gadis yang bersangkutan menoleh. "Ada apa?" tanya gadis itu sambil menyuapkan sepotong tamagoyaki ke mulutnya.
"Eren ke mana dua hari ini? Apa dia sakit?" tanya pemuda manis itu penasaran.
"Yah, begitulah. Penyakit anemia Eren kumat lagi," kata Mikasa singkat.
Pemuda pemilik marga Arlert itu menautkan alisnya, bingung dengan pernyataan Mikasa—setahunya teman masa kecilnya itu tidak pernah mengidap penyakit kurang darah.
"Eren memang tidak pernah memberitahu siapapun soal penyakit anemianya selain aku dan Jean," ucap Mikasa kemudian, seolah bisa membaca pikiran Armin Arlert.
"Oh, begitu…" gumam Armin ragu, kemudian menyantap roti coklatnya.
==o0o==
"Hehhhhh? Masaaa?" seru Hanji membulatkan mata coklatnya tidak percaya.
Levi mengurut dahinya lelah. "Maka dari itu…" gumamnya pening.
"Wow… aku tak menyangka Petra akan berbuat seperti itu…"
Levi memincing ke arah kelas Petra melalui jendela ruang OSIS—kebetulan kelas wakil ketua OSIS itu berseberangan dengan ruang OSIS. "Hahhh… dan sekarang aku tidak bisa menghubungi Eren sejak dua hari lalu," keluh Levi. Dia membenamkan kepalanya ke tumpukan kertas di hadapannya dengan lelah sebagai bentuk pelampiasan frustasi. Hanji mengusap punggung temannya sebagai bentuk support dengan pelan.
"Kudengar dia sedang anemia." Levi mengangkat kepalanya. "Aku mendengarnya dari Jean yang sekelas dengan Eren," kata Hanji.
"Anemia, eh?"
Baiklah, Levi akan mengunjungi juniornya sepulang sekolah nanti. Dia juga akan meluruskan permasalahannya sewaktu festival.
==o0o==
DING DONG! DING DONG!
Hening.
Pemuda berkulit pucat itu mendecakkan lidahnya. "Lama sekali sih. Apa Eren sedang tidur, ya?" Levi menekan bel pintu nomor 238 sekali lagi.
Krieeet…
Pintu coklat terbuka pelan. "Kuntet sialan, mau apa kamu ke sini?" tanya seseorang yang ternyata adalah Mikasa. Aura gelap berkobar di belakang gadis bersyal merah itu ketika dia melihat musuh bebuyutannya.
Levi makin bad mood, maksud hati mau bertemu Eren yang sedang sakit, tapi kenapa… dia harus bertemu dengan gadis bermanik onyx ini? Aura gelap ikut menguar di belakang pemuda bernama Levi Ackerman. Mikasa dan Levi sambil menatap satu sama lain dengan intens, oke. Bayangkan saja ini manga dan ada petir kecil yang berkilat di antara mata mereka kemudian ada tulisan VS yang membara di belakang mereka sedangkan Eren menunggu sebagai grand prize. "Mana Eren?" tanya Levi.
"Eren di kamar, dia sedang tidur." Mikasa menjawab singkat.
"Biarkan aku menemuinya," kata Levi to the point.
"Enak saja, lu siapa?" Mikasa mendadak OOC.
"Gue pacarnya! Ups… maksudku aku kakak kelasnya yang artinya aku juga kakak kelasmu, gadis barbar," tukas Levi pakai urat.
"Tidak sudi aku punya kakak kelas super cebol sepertimu, wahai iblis cebol kuntet nan mesum."Mikasa mencibir, dan pintu ditutup dengan keras tepat di wajah Levi.
Kampret.
Levi naik darah seketika, pintu apartemen Eren mau digedornya hingga jebol tapi nantinya dia yang bakal disuruh ganti rugi sama pemilik apartemen ini. Ogah banget lah. Maka dia meletakkan bungkusan berisi roti kare yang dia bawa di depan pintu apartemen dan meninggalkan tempat Eren.
"Mikasa…? Barusan ada siapa?" panggil Eren dengan lemah.
"Cuma ada tuyul numpang lewat kok, kembalilah tidur, Eren. " Mikasa berkata dengan polos.
"O—oke..?"
==o0o==
Dua hari tidak masuk sekolah rupanya sudah membuat Eren banyak ketinggalan pelajaran. Karena itulah, dia memutuskan untuk segera meminjam catatan milik Armin.
"Yo, Muka Titan! Kenapa dua hari ini tidak masuk? Patah hati?" punggung Eren mendadak ditepuk dengan tenaga kuda oleh seseorang. Adalah Jean Kirstein yang menepuk punggung pemuda berdarah blasteran Jerman-Turki dengan tenaga kudanya, keduanya sudah mengenal satu sama lain dan menjadi rival sejak SMP dan hubungan itu terus berjalan hingga mereka duduk di bangku SMA.
"Jean… bisa tidak sih tidak memukulku dengan tenaga kudamu? Dasar Muka Kuda!" desis Eren marah.
"Oke, maaf." Jean mengangkat kedua tangan tanda meminta maaf. "Jadi, kenapa dua hari ini kamu tidak masuk? Anemiamu kumat?" tanya Jean sambil mengambil tempat di sisi kanan Eren.
"Begitulah, selama aku tidak masuk ada tugas tidak?" tanya Eren.
"Hanya ada tugas dari Keith-sensei, jangan khawatir. Keith-sensei tidak akan memberimu tugas tambahan kok," kata Jean kembali menepuk pundak Eren keras yang menyebabkan si pemuda bermata hijau daun itu naik darah untuk kedua kalinya.
"Jean, sudah kubilang jangan memakai tenaga kuda milikmu!" katanya dengan penekanan di 'tenaga kuda' yang jelas, didorongnya bahu temannya yang berambut coklat susu itu hingga terjerembab ke lantai dengan posisi Eren di atas.
"KAU APA-APAAN SIH?! SEPERTI CEWEK YANG DATANG BULAN SAJA, BUKANNYA KAMU SERING KUPUKUL YA?!" seru Jean kesal sambil tetap bergulat di lantai, berusaha mendorong Eren hingga seragamnya kacau balau.
Glep.
Eren mendadak menelan ludahnya sendiri ketika melihat jenjang leher Jean yang terekspos sempurna, mata hijau beningnya perlahan berubah menjadi hijau tua yang bercampur dengan warna biru muda, tidak menghiraukan seruan dan makian Jean yang berada di bawahnya. Dia mendekatkan kepalanya ke leher rivalnya dan membuka mulutnya yang sekarang dipenuhi gigi yang mulai tajam.
GRAUK!
"KYAAAAA!" Jean menjerit kaget ketika sadar kalau lehernya digigit dengan keras oleh Eren, "BOCAH MESUM, APA YANG KAMU LAKUKAN?! MINGGIR!" seru Jean menggelegar tapi tidak didengar oleh Eren yang terlanjur keasyikan menggigit Jean. Beberapa anak perempuan seperti Sasha, Krista, Ymir dan Hitch yang dikenal sebagai antek-antek fujoshi langsung merekam kejadian itu dengan kamera HP dan tablet yang mereka bawa. "KENAPA KALIAN MALAH MEREKAM?! BANTU AKU MENYINGKIRKAN BOCAH MESUM INI!" Jean memaki sambil tetap berusaha mendorong Eren dari tubuhnya.
Tiba-tiba Eren mengangkat kepalanya, keadaannya tak kalah jauh berantakan dengan keadaan Jean. "Jean…?" panggilnya ragu bercampur tidak percaya saat melihat kondisi leher Jean yang membiru dan nyaris berdarah karena dia gigit dengan keras, mata hijau tua yang bercampur biru muda tadi itu sudah menghilang dan kembali digantikan oleh warna emerald. Dia menoleh kebingungan melihat situasi di kelas yang sudah dipenuhi oleh anak perempuan yang tengah menonton mereka dengan pandangan ala fujoshi kesurupan.
"Ternyata Eren itu seme ya, aku tidak menyangka," kekeh Ymir.
"Iya, kukira Jean yang seme, padahal kan Eren cantik," komentar Sasha sambil mengunyah sebungkus kentang rebus dengan nikmat.
"Penampilan bisa menipu, teman. Buktinya yang di bawah kan Jean~." Kali ini Krista berkomentar dengan enteng.
Tidak mempedulikan komentar miring teman-temannya, Eren segera mengambil langkah seribu—tidak peduli dengan keadaan di sana.
Tanpa sadar, ada sepasang mata coklat yang mengawasinya dari kejahuan.
==o0o==
"Tch! Sial! Apa-apaan itu tadi?!" seru Eren sambil membasuh mulutnya di wastafel kamar mandi. Dia juga menyiram wajahnya dengan air dingin sebelum kembali ke kelas.
"Eren." Suara berat milik seseorang memanggilnya. Eren mendadak bergidik ngeri mendengarnya. Bukan karena beratnya suara itu, tapi dia amat mengenal suara tersebut. "Eren, bisa kita bicara sebentar?" pinta suara itu lagi. Pemuda berdarah Jerman-Turki itu mempercepat langkahnya, berusaha untuk tidak terkejar oleh pemilik suara itu.
Grep.
Tangan pemilik suara itu menangkapnya, sebelum Eren dapat memproses apa yang terjadi dia sudah mendapati wajah Levi. tengah berada tepat di hadapannya, mata kelabu sang Ketua OSIS menatapnya dengan intens. "Eren… dengarkan aku sebentar…" kata Levi dengan nada memohon.
"Apa maumu, senpai?" Eren bertanya dengan nada ketus.
"Soal festival beberapa hari lalu, kamu melihatnya 'kan?" tanya Levi hati-hati.
"Aku tidak melihatnya." Eren menjawab singkat
"Jangan berbohong, Eren. Jika kamu tidak melihatnya, kenapa reaksimu begini?" kata pemuda pucat itu.
Eren melepas tangan Levi dengan kasar. "Aku tidak melihat apapun, senpai. Jadi jangan khawatir. Aku hanya sedikit lelah karena baru saja sembuh." Eren kemudian berjalan kembali menuju kelas. Meninggalkan sosok Levi sendirian di lorong.
"SIAL!" umpatnya.
==o0o==
Malam hari, gedung Hermiha.
"Tidak ada yang aneh disini," gumam Erwin Smith sambil tetap mengitari kolam ikan. "Tapi kenapa Gelgar belum kembali juga…?" katanya. Sang komandan kembali memutari gedung tua itu. Ketika dia mencapai tempat penyimpanan barang-barang di belakang gedung. matanya membulat sempurna saat melihat pemandangan yang tersaji di depannya.
Tubuh Gelgar yang sudah terkoyak dan digantung dengan pengait daging, ditambah dengan kepala Gelgar yang nyaris putus membuat Erwin hampir memuntahkan isi perutnya. "GELGAR!" seru Erwin.
"Ohhh, jadi nama orang ini Gelgar?" gumam seorang gadis berambut hitam kelam. Erwin menoleh. "Halo, Erwin-san." Gadis itu tersenyum tipis.
"Kau… kau Mikasa Ackerman?" tanya Erwin.
Mikasa tertawa. "Senang Anda bisa mengenaliku, Erwin-san. Ada urusan apa hingga sang Erwin Smith turun tangan ke lapangan?" tanya Mikasa sambil membungkuk hormat, tak lupa sebuah seringai terpasang di wajahnya.
Erwin meraih Glock 17 miliknya secara perlahan. "Apa yang kamu lakukan terhadap Gelgar?"
Lagi, gadis itu tertawa mencemooh. "Aku hanya menyapanya, dia sendiri yang cari masalah denganku," lanjutnya.
Tanpa aba-aba, Mikasa maju dengan cepat ke arah Erwin, Erwin yang terkejut dengan serangan mendadak Mikasa tidak sempat menghindar. Mikasa melayangkan pukulannya ke ulu hati Erwin dengan kuat hingga pemimpin vampire hunter itu melayang dan mendarat di tumpukan balok kayu dengan keras. "UHUK!" Udara di paru-paru Erwin seakan dipaksa keluar ketika dia mendarat. Tidak puas dengan serangannya barusan, Mikasa kembali menyerang Erwin dengan kembali menyarangkan tinju di perut pria berusia 37 tahun itu.
"Tidak seru, bukannya kamu dulu sudah berhasil membunuh Ayah Ibuku? Kenapa kamu jadi lembek begini?" tanya Mikasa mencemooh, kakinya menginjak tangan kanan Erwin yang berusaha meraih senjatanya.
Erwin menatap sosok Mikasa dengan bengis. "Dasar vampire brengsek…!" maki Erwin. Dengan cepat Erwin meraih sebilah pisau di dekatnya dengan tangannya yang masih bebas, lalu mengayunkan benda tajam itu ke kaki Mikasa hingga gadis vampire itu berteriak kesakitan. Tidak hanya itu, Erwin berhasil meraih senjatanya dan mengambil kuda-kuda bersiap untuk menembak Mikasa.
Sayangnya Mikasa bereaksi lebih cepat dari dugaan Erwin, dia kembali menerjang Erwin hingga tubuh Erwin berbenturan dengan dinding dingin, dicengkramnya leher pucat Erwin dengan kuat. "Saat ini aku sudah membuka segel ingatan Eren, aku yakin pasti Eren bisa menghancurkan kalian semua nantinya." Mikasa berkata demikian, tangannya masih mencekik Erwin.
"Bermimpilah semaumu, Ackerman!" kata Erwin dengan napas tersengal-sengal, dia mengarahkan pistolnya ke arah paha Mikasa dan menekan pelatuknya.
DOR!
"Urgh!" seru Mikasa kesakitan, dia melepaskan tangannya dari leher Erwin, melihat kesempatan itu Erwin meraih pisau yang digunakannya tadi. Dilemparnya pisau itu ke wajah Mikasa tapi Mikasa berhasil menghindar ke atas balok kayu jadi hanya pipinya yang tergores. Peluru kembali dimuntahkan oleh moncong Glock 17 Erwin dan mengenai bahu kiri Mikasa. "Sial!" seru Mikasa, diraihnya sebuah kursi tua dan melemparnya ke Erwin.
"AHH!" Erwin berteriak kesakitan ketika dihantam kursi.
Merasa tenaganya hampir habis, Mikasa segera mundur dari gedung itu dan berlari di tengah kegelapan—meninggalkan sosok Erwin yang terkapar. "Ahh.. sial…! Aku harus memberi tahu yang lain kalau kerajaan vampire sudah kembali…" Erwin berdiri dengan susah payah dan berjalan menuju markas.
==o0o==
BRAK!
Pintu oak mendadak terbuka keras, mengagetkan Mike yang tengah kebagian jaga malam, "Erwin…! ERWIN! Hei, bertahanlah!" seru Mike histeris ketika dia melihat sosok temannya yang memasuki markas dengan susah payah.
Beberapa anggota yang tengah melintas di dekat gerbang langsung berlari menghampiri Erwin dan Mike. "Ada apa ini?" tanya Henning.
"Aku tidak tahu! Panggil tim medis ke sini!" seru Mike panik.
"M—Mike… ak—aku punya berita—buruk, UHUK!" kata Erwin terbata-bata.
"Simpan tenagamu, Erwin!"
"Kerajaan vampire sudah kembali—" dan Erwin pingsan ketika dia menyelesaikan kalimatnya.
"Hei, Erwin! Erwin!" seru Mike panik saat pria itu pingsan.
TBC.
Tomoko: halo #muka polos #ditabok pembaca.
Maafkan saya karena lama banget apdetannya ;A; maklum. Anak kelas 12 kaya aku sama Hyocchin jadwalnya sibuk kaya artis -_-. Tugas dimana-mana. #pingsan.
DAN SAYA JUGA MINTA MAAF KARENA MASUKIN ADEGAN ERENJEAN DISINI, HAHAHAHAHAGS. #gomen I'm not gomen. #melipir cantik.
Adegan fight antara Erwin dan Mikasa itu kelihatannya maksa sekali ya? Gomen, saya tidak pro soal action scene ._..
Nantikan chapter selanjutnya yang bakalan ditulis Hyocchin ya~
Berikan review dan kritik kalian jika sempat~
