[Mont Amant est Un Vampire]

A collaboration fanfiction of Kirill Lecter (chyorimentum) and Luke Volkov (Tomoko Takami)

.

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

.

Warning(s): possibly typo(s), shounen-ai, alternate age, vampire!AU, school life

Pairing: Levi X Eren

a/n: ciaaa author-authornya pada ganti pen name cia cia ciaaaaaa /dor

.

Absolutely not-for-profit work. Enjoy!

—oOo—oOo—oOo—

Pria paruh baya itu menarik satu nafas berat, lalu menghembuskannya diselingi dengan satu sedakan. Dadanya terasa begitu sesak hingga ia terbatuk karenanya. Pria pirang yang sedari tadi berada di sebelahnya pun segera membangunkan si paruh baya dari tempatnya tidur—sofa bermotif kulit sapi, satu-satunya benda yang bisa ditiduri di Scouting Legion HQ. Ia memerhatikan sekitar, hanya ada Henning dan Mike di sana.

Oh ya, sekarang 'kan waktunya Scouting Legion memburu vampir.

"Minum ini, Erwin." Mike berkata seraya menyodorkan segelas air mineral pada si paruh baya. Erwin menghabiskannya dalam tiga tegukan. Setelah habis, ia mulai mengatur nafas dan ritme jantungnya agar kembali normal. Tangan besarnya menyentuh sesuatu yang membuat kepalanya terasa tak nyaman. Perban telah terlilit rapi guna menutupi luka di dahi.

"Tidak biasanya kau seperti ini, Erwin." Henning berkata.

Erwin terdiam sebentar. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum getir tak lama kemudian. Ia lalu terkikih sinis. "Ya, karena kerajaan vampir telah kembali."

Satu tarikan nafas kasar terdengar dari Mike maupun Henning.

"Bukankah... dulu kita telah menghabisi seluruh anggota kerajaan vampir?" Henning bertanya. Nadanya dipenuhi kegelisahan.

"Benar. Dan tugas Scouting Legion sekarang adalah memusnahkan sisa vampir-vampir sialan itu." Mike menambahkan.

Erwin menggelengkan kepala. "Cih, kupikir juga begitu. Tapi... aku kenal gadis vampir itu, Mikasa Ackerman, dia adalah tangan kanan kepercayaan keluarga Jaeger—keluarga kerajaan vampir. Ia berkata bahwa putra mahkota mereka telah kembali."

"Jadi kita perlu membunuh putra mahkota mereka? Siapa nama—"

"Eren. Eren Jaeger. Nama putra mahkota mereka adalah Eren Jaeger."

"Ya, kupikir kita harus menghabisinya secepat mungkin."

"Tidak, Mike, itu sangat beresiko. Masih ada Mikasa di sisinya, ingat? Dia jauh lebih kuat dibanding kita!" Suara Erwin meninggi. Faktor emosi.

"Lantas apa yang harus kita lakukan, Erwin?" tanya Henning setwlah memijat dahinya yang pening. "Apa kita harus menurunkan 'dia' ke lapangan?"

"No. We shouldn't," jawab Erwin. "Biarkan 'dia' bekerja seperti biasa. 'Dia' adalah intelijen kita yang paling berharga. Bahkan tak semua anggota Scouting Legion mengetahui keberadaannya di tim ini. 'Dia' adalah pion terakhir kita. By the way bisa ambilkan aku minum lagi? Tenggorokanku masih kering."

"Baiklah, tapi setidaknya biarlah dia tahu informasi ini." Mike mengambil gelas kosong yang tadi digunakan Erwin untuk minum, lalu mengisinya kembali dan memberikannya pada Erwin.

"Oke, aku akan memberitahunya nanti." Erwin kembali meneguk minumannya. "Untuk saat ini, sepertinya—"

BRAK!

Pintu utama Scouting Legion dibanting oleh seseorang. Dua pria dengan seragam lengkap itu segera melakukan posisi bertahan dan mengambil senjata mereka, bersiap untuk menarik pelatuk mereka. Diam-diam Erwin mengambil pisau yang diletakkan di samping sabuknya.

Sebuah kepala muncul dari balik pintu. Rambut ginger miliknya melambai ditiup angin malam. "Ah, maaf. Aku tidak sengaja. Anginnya cukup kencang dan pegangan pintunya terlepas karena tanganku yang licin." Ia tertawa kikuk.

"Astaga, Petra Ral, kau mengagetkan kami." Mike menurunkan senjatanya dan mengurut dada.

Petra membungkuk tanda meminta maaf berkali-kali. Ia terlihat sedikit panik, takut para anggota senior itu memarahinya.

"Omong-omong, ke mana partnermu? Si Levi itu?" tanya Mike.

Raut wajah tak senang terlihat di wajah gadis itu sedetik kemudian. "Dia mangkir dari tugasnya hari ini. Maaf."

"Wah, tumben sekali. Ada apa dengan kalian berdua?" Henning mengomentari.

'Tim andalanmu, Levi dan Petra, sedang dalam konflik.'

Kata-kata 'dia', sang intelijen, menggema dalam ingatan. Sebuah ide melintas begitu saja di benak Erwin. Pria pirang itu menyunggingkan seringai penuh kemenangan. Ia harus melakukan ini, tak peduli walau harus mempermainkan perasaan anak buahnya. Ini semua untuk kebaikan bersama.

Demi Scouting Legion. Juga demi umat manusia.

Lantas sang komandan memanggil Petra untuk mendekat, yang lalu disambut tatapan penuh tanda tanya dari si gadis ginger. "Petra Ral, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."

—oOo—oOo—oOo—

Siang hari kala jam istirahat, kantin SMA Shiganshina telat dipadati oleh murid-muridnya. Banyak yang duduk bergerombol dalam satu meja, namun ada juga orang lain dalam meja itu yang bahkan tidak saling mengenal. Biasanya orang-orang seperti ini duduk karena tak ada teman atau kehabisan tempat, dan duduknya agak sedikit menjauh dari gerombolan yang sedang asyik merumpi sambil menyantap makan siang di meja yang sama.

Pada hari ini, bisa diambil contohnya Petra. Tidak seperti hari-hari biasa ketika ia makan bersama Levi seraya diam-diam membicarakan misi di sela percakapan tentang OSIS, ia duduk dan memakan bekalnya dalam diam.

Tidak benar-benar diam sebenarnya. Tapi mencoba terlihat diam dan tenang saat dua maniknya tertuju pada sosok yang jauh di sana. Seorang pemuda dengan wajah sedikit lesu—walau terus menyunggingkan senyumnya, juga dua temannya yang sedang ia ajak bercanda.

'Aku ingin kau mengawasi Eren Jaeger. Perhatikan gerak-geriknya dan catat apapun yang mencurigakan darinya.'

'Kenapa, Komandan Erwin?'

'Mungkin kau tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan, tapi... Eren Jaeger adalah seorang putra mahkota dari kerajaan vampir.'

Petra menyeruput milk tea yang ia pesan dari salah satu penjual minuman di kantin. Matanya masih mengamati setiap inchi pergerakan Eren. Komando dari Erwin kemarin malam masih mendominasi benaknya.

'Satu lagi, jangan pernah beritahu informasi ini pada Levi. Apapun alasannya.'

Benar juga, Levi 'kan menyukai dedemit itu, Petra mengiyakan dalam hati. Bisa-bisa semuanya menjadi runyam jika itu bersumpah akan menyimpan rahasia ini.

"Yahoo~! Kenapa kau sendirian saja hari ini~?"

Petra nyaris saja menyemburkan minuman dingin itu saat seseorang menepuk punggunya dengan tenaga kuda dan membabi buta. Sebal, ia segera menoleh dengan tatapan tajam ke arah si pelaku. "Kenapa sih, Hanji Zoe? Dendam padaku, ya?" cibir Petra.

Hanji tertawa—mungkin puas mengerjai orang di depannya ini. "Tumben sendirian? Ke mana Levi?" tanya si kuncir kuda. Ia menempatkan diri untuk duduk di sebelah rekan sesama anggota OSISnya itu.

"Aku tidak tahu." Petra memangku dagu, sepertinya masih kesal. "Bukannya kau yang lebih sering bersamanya? Atau, kau sengaja ingin mengejekku?"

Hanji tertawa lagi. Dua tangannya melambai-lambai kecil di depan badannya, mungkin membentuk perlindungan diri dari amarah Petra yang mulai tampak. "Bukan begitu, hanya saja si cebol itu sejak kemarin tak bisa kuhubungi. Salah satu anak OSIS yang tadi kutemui bilang kalau dia masuk, tapi saat aku ke kelasnya aku malah tak menemukannya sama sekali."

"Oh." Satu respon dan Petra langsung membuang muka. Diam-diam kedua matanya mendelik, masih mengamati Eren.

"Duh, segitu sebalnya denganku?" Hanji tertawa, untuk yang kesekian kalinya. Ia bergumam sebentar lalu berkata, "by the way, aku lupa kalau harus menyalin pr temanku sebelum bel berbunyi lagi. So... aku duluan, ya?"

Petra tak bergeming, membiarkan Hanji berdiri dari tempatnya duduk. Saat melewati si ginger, Hanji diam sebentar dan menepuk pundanknya pelan. "Hati-hati. Pikirkan baik-baik langkah yang ingin kau pijak."

Sebelah alis Petra mengangkat, bingung dengan ucapan Hanji. Alih-alih menjawab tatapan penuh tanda tanya itu, Hanji hanya menyunggingkan senyum dan berlalu.

Petra Ral benar-benar penasaran apa maksud dari ucapan gadis itu.

—oOo—oOo—oOo—

Bel tanda pulang sekolah telah berdentang. Usai murid-murid memberi salam dan guru mata pelajaran terakhir keluar dari kelas, Petra merapikan barang-barangnya dengan gesit. Tas ia tenteng dengan sebelah bahu lalu segera meninggalkan ruangan. Ia melangkah cepat, namun tak sedikit pun suara nyaring terdengar dari hentakan kakinya. Sepertinya eksekusi lapangan sebagai pemburu vampir cukup banyak mempengaruhi kebiasaan sehari-hari. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, mengamati halaman depan dan belakang sekolah dari balik jendela.

Kemudian beberapa anak mulai bermunculan di halaman depan. Tampaknya mereka murid-murid yang kelasnya berada di lantai satu. Petra terus mencari dengan jeli hingga indera penglihatannya menangkap sesosok brunette di bawah sana, menggunakan sebuah payung sebagai penghalang pancaran sinar matahari langsung.

Itu Eren Jaeger.

Tidak mau kehilangan jejak, Petra segera menuruni tangga. Semakin dikejar waktu, berlari di anak-anak tangga sudah dianggap tidak efektif. Ia berseluncur di pegangan tangga dengan bokongnya. Biasanya cara ini yang ia pakai saat menuruni gedung bertingkat tinggi kala berburu vampir. Tak dipedulikannya tatapan syok beberapa murid yang kebetulan juga sedang menuruni tangga.

Semoga tak ada yang meniru aksi ekstremnya. Yah, semoga.

Petra telah sampai di halaman depan. Kedua matanya masih mengunci si pemuda tan. Ia mengikutinya dengan langkah yang sama, pelan dan berhati-hati, mencoba tidak membuat kecurigaan yang signifikan.

Menit demi menit telah berlalu. Petra masih terus membuat jarak, dalam sunyi terus mencari tahu ke mana Eren akan pergi. Ke rumahnya? Atau malah sarang vampir untuk melancarkan invasi besar-besaran?

Tanpa terasa Petra sudah mengikuti Eren hingga mereka berada di daerah perumahan sepi. Untuk beberapa blok rumah yang Eren lewati, Petra harus mengendap dan bersembunyi di balik tembok rumah terdekat dan mengintip pergerakan targetnya tersebut.

Eren kemudian berhenti di depan sebuah rumah. Petra menyeringai puas dari balik tempat persembunyian. Sepertinya itu rumah Eren, pikirnya. Gadis itu segera mengeluarkan ponsel miliknya untuk melaporkan hal ini pada Erwin. Kepalanya menyembul lagi untuk melihat .

Oh, sial.

Tidak sengaja kedua pandangan mereka bertemu. Pemilik emerald di seberang sana telah mengetahui sosoknya. Alisnya meninggi, dari kedua kematanya terpancar kemarahan yang mengebu. Persembunyian Petra terbongkar sudah.

Ia harus pergi dari sini. Sekarang juga.

Saat pikiran itu baru saja terbesit, badannya didorong dengan sangat keras hingga terbanting ke dinding. Napasnya tercekat, selain karena trauma di punggungnya, lehernya juga dicekik oleh seseorang. Ia memakai jubah panjang, sedikit menutupi wajah sang pelaku, tapi Petra dapat melihat surai hitamnya. Wajah cantiknya memancarkan kengerian dari sepasang obsidian yang ia miliki. Sekilas ia dapat melihat seragam SMA Shiganshina dari balik jubah hitam yang dikenakannya. Gadis itu menyeringai lebar, memperlihatkan taring-taring yang berderet rapi. Kuku menancap di kulit Petra sementara ia mencoba mengais udara. Ponselnya terjatuh, layarnya retak menjadi dua bagian.

Gawat, ia lupa dengan wanti-wanti terakhir dari,Erwin sebelum ia melaksanakan misinya.

'Berhati-hatilah dengan Mikasa Ackerman. Ia adalah tangan kanan Eren yang nyaris membunuhku kemarin malam.'

"Aku menangkapmu, tikus got kecil yang nakal."

.

.

—to be continued—

—oOo—oOo—oOo—

a/n: Gileee udah berlumut aja ini fic hahaha /dor

Maaf banget ya updatenya lama, kita waktu itu lagi fokus UN sih, maklum anak kelas 12 (walaupun sekarang udah bisa dianggap jadi alumni sih) maafin Hyocchin ya jadi mandek di saya chapternya, banyak urusan sih maklum ngeembat beberapa usm universitas swasta juga nyahaha /sok sibuk lo/

Btw, makasih buat yang sudah sabar menunggu updatean chapter (ga jelas) ini :) Hyocchin sayang kalian semuaaa :* /kecup satu-satu/

Oh iya, kita berdua udah ganti pen name loh, jadi jangan bingung ya ;)

Yak, chapter selanjutnya akan dilanjutkan oleh Tomoko. Stay tune nee~

Review and concrit?

Pojok review:

RaineSkyfall: qaqa Levi galau nih :(, kacian banget #dilindes

Levee: keep reading biar tau makanya :3

Noir Llandudno: *ikut kissbye juga* Gelgar itu nama orang, lebih tepatnya nama prajurit Scouting Legion yang terlibat di Kastil Utgard kalo Noir-chan baca chapter Kastil Utgard pasti ada salah satu prajurit yang namanya Gelgar :3. #eh, inispoilerya? Kita lihat aja ya~

B-Rabbit Ai: lihat saja kemana kita akan membawa takdir mereka. #dikeplak

Charlotte Carlisle: makasih udah baca~

Yandere Heart: entah, itu terserah sama Tomoko XD #dor

Macaroon waffle: ah masa sih? #lirik fandom yang dimaksud. Here you go~

Sieg2013: gimana ya ^_^", makasih udah baca~