Hallo mina ...

Akhirnya siap juga ujiannya dan cerita ini bisa diselesaikan. Semoga Author mendapat nilai-nilai hasil ujian yang memuaskan, Amin.

Oh iya, walaupun masih sedikit bingung untuk buat ceritanya agar tidak membosankan dan tidak seperti cerita pada umumnya, maka Author menempuh langkah "Nekat" untuk gak buat cerita yang setengah-setengah.

Pojok Balasan :

Youzumaki dobe : ada kog tenang aja. Ok sip .

altadinata:hahaha, menurut ku Sasuke bukan tipe orang yang bukan dengan mudah mengakui sesuatu gan. Ya bisa dibilang nanti naruto punya pairing.

Uzumaki Nawawi & Sora no aoiro : wah makasih banyak gan atas sarannya. Sangat, sangat membantu

Nanase Akira: iya bisa dibilang Neji masih terikat dengan "Takdir" nya itu.

: Itachi dan Sasuke nanti kejadiannya hampir sama gan. Di chapter ini terjawab. Pair Naruto? Bukan Mito gan

Naruchigo2403: hahaha...

: hahah ... untuk Sasuke dan Mito bisa dimasukin gan, sip ...

:haha oke bro , maaf karena terlalu banyak perubahan disana-sini .. thx

, , aby tottenham, ahmadbima27, nr9999, dao dong , Rinnegan, m. , mantafcb92, monkey D nico, sentrok, Varian Andika, ,yogapurnama80, , Saladin no jutsu, Topeng Retak, all : OK. Thank you minaaa ...

Naruto © Masashi Kishimoto

Author : ( Rimbow )

Genre : Adventure & Family

Rating : T

Summary :

Naruto yang mimiliki nama klan Tou-sannya dan tidak menggunakan nama klan ibunya dan memiliki seorang Imouto bernama Namikaze Mito yang tidak disukai sebagian besar penduduk Konoha. Seiring berjalannya waktu apakah Naruto akan membawa perdamaian atau kehancuran dunia.

Pair : ?

Warning : OOC, Gaje, Typo, Abal-abal, alur cerita suka-suka, etc

Oke langsung aja kita masuk ke ceritanya ...

Tanpa banyak basa-basi lagi ...

100 ...

99 ...

98 ...

97 ...

96 ...

95... ( Author dikejar-kejar dan kena gebukin karena terlalu lama menghitung mundur# Ampun)

..

1..

Mulai ...

Chapter 6

Naruto POV

Aku melihat empat orang yang berada di tempat yang gelap itu. Dan salah satu dari mereka adalah seorang ninja yang sangat ku kenal. Ya, dia adalah ninja dengan kulit putih yang pucat dengan pupil mata yang menjijikkan yang beberapa saat yang lalu melarikan diri saat bertarung, Orochimaru! dan beberapa ninja yang pernah bertarung melawanku. Aku berusaha sekuat mungkin untuk bergerak, tetapi tetap saja aku tidak memiliki kekuatan bahkan menggerakkan satu jaripun aku tidak mampu. Ku perhatikan lagi lebih seksama ninja-ninja yang ada di hadapanku itu seolah tidak menyadari bahwa aku telah sadar.

Mereka terus saja membicarakan sesuatu yang tidak bisa kudengar karena keberadaanku di dalam sebuah tabung yang berisi dengan cairan yang tidak ku ketahui. Awalnya aku berusaha untuk bergerak karena menyangka kekuatan yang kumiliki cukup untuk menghancurkan tabung laknat yang mengurungku, namun segala usahaku sia-sia belaka.

Banyak selang-selang yang tidak kuketahui menempel di tubuhku yang membuat seluruh tubuhku merasakan suatu kesakitan yang tidak pernah ku alami selama ini. Aku akhirnya menyadari bahwa hal yang terbaik yang bisa ku lakukan untuk saat ini adalah aku harus menyembunyikan kesadaranku dari keempat ninja kurang ajar yang saat ini berdiri membelakangi tidak jauh dari tempatku. Pada akhirnya aku begitu lelah untuK mempertahankan kesadaranku sampai akhirnya aku kembali tak sadarkan diri.

Aku kembali tersadar saat kulihat keempat ninja kurang ajar itu tampak gelisah, tempat dimana aku berada ku rasakan bergoncang dan ninja dengan pupil mata yang menjijikkan itu memalingkan wajahnya yang terlihat sangat kesal ke arahku beberapa saat, sebelum ia kembali melihat ninja berkacamata itu dan mengucapkan sesuatu yang tidak bisa ku dengar dan ku pahami.

Sesaat aku melihat mereka keluar dari ruangan dimana aku berada dengan keadaan yang sangat tergesa-gesa. Aku berontak berusaha menggerakkan tubuhku karena instingku sebagai ninja yang terlatih berteriak untuk segera keluar dari tabung laknat ini sampai ku dengar suatu ledakan yang sangat kuat yang mengoncangkan tempat itu dengan hebatnya sehingga beberapa batu yang besar menghancurkan tabung laknat dimana aku terkurung hancur serta membuatku terseret.

Rasa sakit yang ku rasakan bertambah berkali-kali lipat, semua bagian tubuhku terasa seperti ditusuki dan disayat-sayat oleh sebilah pedang. Aku ingin berteriak kesakitan namun tidak berhasil. Yang bisa ku lakukan untuk saat ini adalah memandang dengan lemah daerah dimana sekarang aku terbaring lemah tak berdaya. Beberapa saat kemudian aku mendengar derap langakah beberapa orang dan akhirnya aku melihat mereka memasuki ruangan dimana aku berada. Lima orang ninja dengan memakai ikat kepala yang menandakan mereka adalah ninja dari Kirigakure.

" Tampaknya di sini pun tidak ada siapapun, tapi tunggu!, di sana tampaknya ada tubuh seseorang." Ku dengar suara ninja Kirigakure berbicara dengan teman-temannya. Mereka mendekatiku dan memeriksa keadaanku dan melepaskan seluruh selang-selang laknat itu dari tubuhku. Aku berusaha menahan rasa sakit saat mereka mencabuti selang-selang itu dari tubuhku dan berusaha menyembunyikan kesadaranku.

"Kita harus membawanya ke markas dan memeriksa keadaannya. Mungkin dia salah satu dari kita yang tertangkap." Ujar salah satu dari mereka. Mereka membawaku ke suatu tempat yang tidak ku tahu dimana tempatnya. Aku berusaha agar tetap menjaga kesadaranku tanpa diketahui oleh mereka, namun ternyata itu sia-sia. Aku kembali tidak sadarkan diri.

Ku kira aku sudah mati saat itu, namun ternyata aku masih diberikan kesempatan. Ninja-ninja dari Kirigakure itu membawaku ke suatu ruangan dimana aku juga melihat beberapa ninja yang sama sepertiku sedang terbaring tak sadarkan diri. Aku merasakan tubuhku sudah mulai membaik, tidak seperti waktu pertama kali aku sadar, cakraku mulai terasa mengalir di setiap bagian tubuhku. Dari ruangan ini aku bisa mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di luar. Setelah beberapa saat akhirnya aku menyadari dari pembicaraan ninja yang ada di luar ruangan ku bahwa ninja Kirigakure yang membawaku ke sini merupakan pasukan dari Mizukage Yagura yang terkenal dengan kelalimannya.

Aku segera mengumpulkan seluruh kemampuanku untuk mengumpulkan cakraku karena aku tahu bahwa cepat atau lambat mereka akan menyadari identitasku. Dan apabila mereka sudah tahu pasti mereka akan membunuhku, mengingat entah beberapa saat yang lalu aku dengan beberapa temanku di dalam Anbu menghabisi pasukan dari pasukan Mizukage Yagura.

Sejenak aku membayangkan bagaimana bila identitasku diketahui oleh mereka, pasti aku akan mati. Aku mulai mengingat semua hal yang ku lakukan di dalam hidupku, Tou-san, Kaa-san, Mito-chan imouto ku yang sangat ku sayangi. Tunggu!, aku tidak boleh mati sekarang!, aku masih harus menjaga adikku itu.

Aku berusaha keras untuk mengumpulkan cakraku, sampai beberapa ninja Kirigakure yang membawaku memasuki ruangan itu. Ku perhatikan meraka dari sudut ruangan, mereka ada sekitar lima orang. Dan mereka sekarang berjalan menuju ke arah ku dengan sebuah kunai di tangan kanan mereka.

"Jadi dia merupakan Anbu Konoha yang telah membunuh beberapa pasukan kita, sebaiknya kita menghabisinya sekarang daripada nanti dia akan menimbulkan masalah." kudengar salah seorang dari mereka berbicara. Satu orang maju ke arah dimana aku terbaring, mengangkat kunainya ke atas lalu dengan cepat menggerakkannya ke arah leherku. Aku berontak membuka mataku lebar, dan menahan kunai yang tinggal beberapa sentimeter lagi mengenai leherku. Mereka terlihat begitu panik saat melihat ku telah sadar. Aku mengerakkan kakiku kanan menghantam leher ninja yang berniat membunuhku itu walau tendanganku berhasil ditahan dengan kedua tangannya. Tapi, tendanganku itu berhasil membuatnya terpental beberapa meter dan menghantam tembok hingga hancur.

"Sialan, dia telah sadar rupanya." Ucap salah satu dari mereka.

Aku mengumpulkan cakraku di tangan kanan dan menghancurkan dinding yang ada di belakangku karena ku pikir pada saat ini yang terbaik yang bisa ku lakukan adalah melarikan diri karena melihat kondisiku pada saat ini dan karena jumlah mereka yang mungkin ada di markas itu lebih dari sepuluh orang. Belum lagi bila ku perkirakan tingkat dari kekuatan mereka, bila mereka memiliki level setingkat Jounin, pasti mereka dengan mudah menghabisiku.

Aku berhasil menghancurkan dinding itu dan mengerakkan kaki ku untuk berlari. Beberapa puluh meter aku telah berlari menelusuri lorong-lorong di tempat itu sampai pada akhirnya aku berhasil sampai di tempat yang terbuka. Dan aku melihat daerah di sekelilingku, Sebuah Benteng !. aku masih sulit melihat karena cahaya matahari sampai beberapa saat kemudian aku tersadar bahwa aku sudah terkepung. Ku perhatikan bahwa jumlah mereka yang mengepungku lebih dari dua puluh orang ninja.

Aku bersiap menggunakan jurus Jikkukan atau Hiraishin milikku, namun entah kenapa aku tidak bisa menggunakannya untuk saat ini. Mungkin konsentrasiku yang tidak bagus karena keadaan ku yang sedang panik, atau mungkin chakra milikku yang terganggu atau mereka memasang Kekai di tempat itu, aku tidak tahu. Mereka maju serentak menyerbu ku, batinku berteriak dan ingatan ku selama ini berputar di otakku dengan cepatnya sampai aku teringat bahwa masih ada yang harus ku kerjakan di dunia ini, masih ada yang harus ku lindungi, aku tidak boleh mati, aku harus bertahan, aku harus berjuang, aku harus bertarung demi Imoutoku! Sedetik kemudian saat tinggal beberapa meter lagi mereka mencapai tubuhku, aku merasakan suatu kekuatan aneh yang muncul dari dalam tubuhku secara tiba-tiba.

Sesuatu dari bagian kanan tubuhku seperti ada yang bergerak keluar. Ku perhatikan apa yang bergerak cepat itu semakin lama semakin besar dan menghabisi sekitar tujuh orang ninja yang menyerangku itu dalam sekejap, mereka terbunuh oleh sesuatu yang menyerupai akar-akar pohon yang keluar dari dalam tubuhku!.

Ku perhatikan sisa dari ninja yang masih ada mengepungku sedikit gentar setelah melihat sesuatu yang kulakukan yang menyebabkan rekan mereka mati dalam sekejap. Namun, akhirnya mereka semua tersadar dan mengeluarkan ninjutsu milik mereka secara serentak ke arah ku. Suatu serangan dari empat belas ninja menerjang ke arahku.

Saat itu juga dari dalam tubuhku ku rasakan suatu sensasi yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya, cakra yang sangat kuat dan meluap-luap!. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah merasakan sensasi itu, sampai setelah beberapa menit setelahnya, aku melihat daerah sekelilingku sudah berubah menjadi kolam darah dengan suatu akar-akar pohon yang menghabisi semua ninja tersebut mengarah ke berbagai arah. Tak ada satu ninja pun yang tersisa, semuanya hancur dalam keadaan yang sangat mengenaskan.

Aku menarik tubuhku ke depan dan melepaskan tubuhku dari akar-akar yang sebelumya menyatu dengan tubuhku. Aku berjalan beberapa langkah sampai ku rasakan tempat itu berguncang, dan beberapa saat kemudian aku melihat seorang ninja wanita yang ku kenal, seorang Kunoichi dengan rambut merah kecoklatan dengan beberapa ninja lainnya.

"Naruto-kun?" itu lah kata terakhir yang ku dengar sampai akhirnya kesadaranku kembali hilang.

Entah sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri, sampai akhirnya kesadaranku kembali pulih. Dan aku melihat bahwa aku berada di ruangan yang putih dan aku mencium udara yang sepertinya terkontaminasi oleh bau obat-obatan, Rumah Sakit! Itulah yang pertama kali muncul di pikiranku. Ku lihat perawat yang datang mengampiriku dengan tersenyum dan memberi salam. Aku hanya diam tak membalas salamnya walau sebenarnya aku membalas salamnya itu dengan berusaha untuk duduk di atas ranjang ku. Selang beberapa saat setelah dia memeriksa keadaanku dan mengatakan beberapa hal yang tidak bisa masuk ke otakku, akhirnya dia meninggalkanku di ruangan itu. Setelah beberapa saat aku pun berdiri dari tempat tidurku, memandangi ruangan itu dan beberapa orang yang terbaring disitu sampai aku kembali duduk di ranjangku, memperhatikan kedua tanganku yang terlihat sedikit memucat. Beberapa saat kemudian aku melihat seorang Kunoichi yang pernah bertemu denganku memasuki ruangan dan memberi salam sampai akhirnya kami berbicara banyak hal.

Cukup lama aku berada di Kirigakure sampai akhirnya aku kembali menunju Konoha, Monster Tanuki, penyerbuan Orochimaru, Edo Tensei, tunggu dulu! Ada apa dengan ku?, kenapa aku kembali berada di dalam tabung! Apa aku kembali tertangkap?. Akhirnya aku tersadar dari lamunanku di dalam tabung ini. Sial, aku mencoba memperhatikan sekelilingku, mencoba mengingat apa yang terjadi walau hanya sia-sia, semakin aku mengingat kepalaku seperti ingin meledak. Aku berusaha mendorong tabung itu sampai akhirnya terbuka sehingga aku berhasil keluar dari dalamnya.

Naruto POV : END

Sementara itu di Pinggir desa Konoha.

"Haha, tak kusangka Jinchuriki Kyuubi memiliki kekuatan yang lumayan kuat, kau berhasil menghindari banyak Jutsuku bocah." Seorang ninja dengan ikat kepala yang menandakan bahwa dia berasal dari Kirigakure dengan jubah berwarna hitam dengan motif awan merah a.k.a Kisame menenteng pedang besar Samehada miliknya yang di tutupi oleh perban putih dengan sedikit mengalami luka di sekitar tubuhnya.

Sedangkan tidak jauh dari sana tampak seorang pria dengan menggunakan topeng dan jubah yang sama dengan Kisame sedang duduk melihat pertarungan antara seorang anak perempuan dengan temannya. Orang ini terlihat memiliki badan yang dikategorikan seperti seorang anak berusia remaja. Dia saat ini duduk bersila dan seperti menjaga sesuatu di belakangnya yang tampak seperti penghalang, dia membuat penghalang agar pertarungan antara temannya dan anak perempuan itu tidak ada yang mengetahui.

"Kau tahu, dengan melawan bocah ini aku sungguh terlihat seperti seorang pecundang. Sebenarnya aku tidak mau melawannya, karena seharunya kau lah yang melawannya mengingat usia kalian yang tidak terpaut terlalu jauh." Ucap kisame pada rekannya yang menjaga Kekai itu. Namun rekannya tersebut tidak meresponi apa yang didengarnya.

Terlihat seorang anak perempuan dengan rambut oren kemerahan yang masih tergolong sangat mudah sedang menghadapi bahaya maut di depannya. Dia yang masih sangat mudah untuk menghadapi suatu bahaya kematian yang harusnya datang berpuluh-puluh tahun kemudian, dimanakah keadilan di dunia ini !. Namun, nyatanya dia harus menghadapi bahaya itu pada saat ini juga.

Dia sendirian, tidak ada orang yang bersamanya saat ini, Nii-sannya yang selama ini menjaganya tidak ada di sampingnya untuk saat ini, hatinya yang sebenarnya sangat dalam ketakutan tidak ditunjukkannya, hari ini merupakan hari yang paling buruk di hidupnya, merupakan mimpi yang sangat mengerikan, begitu gelap perasaannya, kegentaran mulai menyelimuti setiap tubuhnya, tubuhnya mulai gemetar merasakan ketakukan yang selama ini belum pernah dirasakannya, dan matanya mulai terasa panas dan memerah, ujung matanya sudah mengeluarkan air mata ketakutan namun tersamarkan oleh air yang membasahi dari ujung rambut hingga ujung kakinya, anak perempuan ini menahan tangisnya, hidungnya mulai memerah, dan jantungnya berdetak sangat cepat karena rasa takut yang menjalari seluruh tubuhnya, dia sendirian saat ini, dia sendirian dan tak ada yang menolongnya, seakan tidak ada harapan lagi di dunia ini untuknya, dua orang yang ada di depannya seperti malaikat pencabut nyawa baginya, orang yang tidak memiliki belas kasihan sedikitpun. Ninja yang dihadapinya saat ini adalah Ninja dengan level yang sangat jauh diatasnya. Anak ini sudah menghadapi manusia kurang ajar itu sekitar lima belas menit, membuat chakra miliknya hampir lenyap.

Semua harapannya untuk dapat bertahan sudah pudar, dia benar-benar ketakutan pada saat ini. Tubuhnya juga terasa sangat sakit, luka lebam dan di ujung pelipisnya dan sedikit darah yang keluar dari ujung bibirnya dan beberapa luka di tangan dan kakinya membuatnya semakin tertekan dan membuat dirinya bergetar. Dia mempertanyakan kenapa dirinya begitu dibenci oleh banyak orang, bahkan orang-orang dari desa lain juga membencinya dan sekarang berniat mengambil nyawanya saat ini.

"Kau seharusnya tidak usah melawan bocah, kau cukup menyerahkan dirimu agar kami segera membawamu. Apa yang kau harapkan sekarang, mengulur waktu untuk mendapatkan bantuan?, asal kau tahu saja Kekai yang di pasang rekanku itu merupakan kekai yang sangat kuat sampai keberadaan cakra kami yang ada di sini tidak akan bisa dirasakan oleh ninja dengan kemampuan sensor sekalipun." Kisame berusaha mematahkan semangat bertarung Mito yang sebenarnya sudah mulai lenyap akibat rasa sakit di sekujur tubuhnya dan akibat dari rasa takutnya .

Memang benar kata ninja kurang ajar ini karena Mito sendiripun tidak bisa merasakan chakra dari ninja-ninja yang berada di luar Kekkai itu walau dengan sisa chakranya dia berusaha melacak chakra, namun sia-sia saja, ini suatu Kekkai yang menakutkan.

"Jadi bagaimana, apa kau masih mau bertarung?, kalau kau masih bersikeras bertarung maka aku akan segera mematahkan kakimu saat ini juga, dan memotong tanganmu!" Kisame mulai memasang kuda-kuda menyerang. Mito yang melihat itu berusaha mengerakkan tubuhnya yang mulai kaku dan membuat dua Kagebunshin.

Kisame maju menyerang menggunakan pedang besarnya melawan Mito dan dua Kagebunshinnya. Namun tidak perlu waktu lama bagi Kisame sampai dua Kagebunshin Mito sudah dikalahkan dan menyisakan Mito seorang diri. Kisame yang melihat Mito seperti kehabisan tenaga hanya menyeringai lalu membuat beberapa segel dan mengeluarkan sebuah Jutsu.

*Suiton : Suiryuudan no Jutsu

Jutsu itu melaju dengan cepat ke arah Mito, namun Mito berhasil menghindarinya tapi serangan pertama Kisame itu merupakan serangan pengalihan karena ternyata dia juga mengeluarkan Jutsu yang sama sampai empat kali berturut-turut. Walaupun Mito mengetahui Kisame menggunakan Jutsu itu secara berurutan dengan merasakan chakra Kisame yang keluar untuk menggunakan Jutsu itu, namun tetap saja Mito tidak bisa menghindarinya karena tubuhnya yang sudah terasa sangat lelah dan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuh kecilnya.

BLAAAAR ...

Tiga serangan Kisame berhasil mengenai Mito dengan telak sehingga membuat Mito terseret dan menghantam jembatan kecil yang ada di tempat itu. Mito tidak dapat lagi menggerakkan tubuhnya, chakranya sudah terkuras habis, dan rasa takutnya membuat tubuhnya bergetar hebat, air matanya keluar dengan jelas dan tubuhnya yang saat ini mengambang di atas air tanpa dapat digerakkan lagi. Dia melihat ninja mengerikan dan tanpa perasaan itu sudah berdiri di dekatnya dan mengangkat pedangnya ke atas dan siap mengayunkannya ke arah kaki Mito dengan satu gerakan cepat. Dia saat ini sangat ketakutan, benar-benar ketakutan melihat ninja yang mengincar nyawanya itu.

Mito menutup matanya, sudah siap menerima kematiannya karena merasa sudah tidak ada lagi harapan.

"Naruto Nii-Chan." Hanya satu kata itu yang terakhir di ucapkannya dan itu membuat Kisame menghentikan ayunan pedangnya.

"Hah?, sepertinya aku tadi mendengar sesuatu dari mulutmu. Kau mengatakan " Naruto"?, kudengar dia memiliki kekuatan yang lumayan hebat, dia adalah kakakmu bukan?, tapi saat ini tak ada yang bisa menghentikanku, dan ku harap itu adalah ucapan terakhir darimu, bocah!"

Kisame kembali mengayunkan pedang samehada miliknya setelah mengucapkan kata-kata itu ke arah kedua kaki Mito yang tak bisa bergerak sedikitpun sampai pedang itu hampir mencapai kaki sang Putri Yondaime ...

*Hakke Kuushou

Suatu serangan hampa udara yang begitu sangat kuat menembus Kekkai yang dipasang oleh rekan Kisame seperti tanpa hambatan dan berhasil mengenai Kisame dengan telak hingga terpental beberapa meter ke depan.

"Ap, APA, bagaimana mungkin?! Seorang Anbu?!" Kisame dan Rekannya tersebut terkejut karena kehadiran Hinata yang tidak terdeteksi dan mampu menembus Kekkai yang dipasang mereka dan berhasil membuat Kisame terpental jauh.

Hinata langsung bertindak cepat layaknya seorang Anbu pada umumnya, dia mendarat dengan cepat dan membawa tubuh Mito yang tak berdaya menjauh dari tempat pertarungan itu.

"Hinata Onee-chan ." gumam Mito pelan saat Mito melihat Hinata mengangkatnya ke punggungnya lalu menghilang menggunakan shunsin.

Hinata yang menyadari bahwa Kisame dan rekannya mengejarnya dan Mito langsung mengambil tindakan membuat bunshin dan memidahkan Mito pada Bunshinnya dan menyuruh bunshin tersebut membawa Mito ke tempat yang aman, sedangkan Hinata sendiri menghadang Kisame dan rekannya saat ini.

Namun Kisame dan Rekannya itu seolah tidak menaggapi dan memperdulikan Hinata yang berdiri menghadangnya dan melaju sangat cepat ingin melewati Hinata yang asli dan mengejar bunshin Hinata yang membawa Mito pergi. Namun sebelum mereka sampai melewati Hinata.

*Hakke Kuushou

Kembali Hinata dengan sangat cepat melancarkan serangan hampa udara yang sangat kuat sehingga dapat membuat Kisame dan rekannya terseret ke belakang.

"Heeh, kau memiliki kemampuan yang lumayan bocah. Sepertinya anak muda di Konoha memiliki kemampuan yang sangat bagus." Kisame kembali bangkit dan menghapus darah dari ujung mulutnya. Sedangkan rekannya pada saat ini berdiri di sebelahnya tanpa kuda-kuda seolah tidak memiliki niat untuk bertarung.

"Berani sekali kalian memasuki wilayah Konoha dan berniat membunuh dan menculik Kunoichi terbaik dari Konoha. Ku pastikan kalian harus membayar semua perbuatan yang telah kalian lakukan." Chakra Hinata merembes keluar dan tampak chakra itu terfokus di kedua tangannya yang membentuk seperti kepala singa.

*Juuhou Soushiken

Hinata melajukan kedua tangannya secara bergantian dengan sangat cepat ke arah Kisame dan rekannya, sehingga kedua chakra raksasa berbentuk kepala singa itu terlepas dari tangan Hinata dan melaju sangat cepat ke arah Kisame dan rekannya, sebuah serangan jarak jauh.

"Serangan jarak jauh, heh?" Kisame yang tidak sempat menghindar karena cepatnya serangan itu melaju, mengarahkan pendangnya ke arah serangan pukulan Chakra jarak jauh Hinata berniat menghisap chakra itu, sedangkan rekannya yang terkena serangan cepat itu terpental ke belakang. Pedang Samehada Kisame berlahan menyerap Pukulan Chakra raksasa itu, namun Hinata membuat suatu segel dan ...

BLARR

Ledakan yang sangat keras terjadi saat Kisame mulai menyerap Pukulan itu sehingga dia terpental dan menubruk lantai jalan dan terseret beberapa meter ke belakang.

"Jadi begitu, mata byakugannya sudah mengetahui bahwa pedang Samehada Kisame merupakan pedang yang memiliki kemampuan menyerap chakra dan dia membuat bom chakra di dalam serangannya. Tampaknya itu juga dilakukannya terhadap Kekkai yang berhasil diterobosnya, dia pasti melihat titik lemah dimana Kekkai yang ku pasang. Hmm, hebat juga." Gumam teman Kisame yang sudah berdiri dan tampak topeng yang di pakainya sudah hancur di bagian kepala sebelah kiri sehingga menunjukkan mata ungu terang dan suatu tanda bekas luka dengan jahitan yang membujur dari bawah mata kirinya sampai ke ujung wajahnya.

"Dasar sialan, ternyata kau memiliki kemampuan yang lumayan hebat bocah Anbu. Tapi, kali ini aku akan menghancurkanmu dalam sekejap." Tampak jubah akatsuki Kisame hancur sebagian, lalu Kisame yang geram menaikkan tingkat kekuatannya sehingga Hinata cukup terkejut melihat aliran chakra Kisame.

Kisame mulai membuat beberapa segel, namun terhenti saat dia merasakan chakra dan melihat seseorang muncul di sebelah Hinata. Seseorang dengan mata dengan warna merah darah dengan tiga tomoe menatapnya dan rekannya dengan tatapan membunuh dan penuh dendam.

"Sasuke-kun, bagaimana kau tahu di sini terjadi pertarungan?" tanya Hinata sambil tetap mengawasi Kisame dan rekannya.

"Tadi aku sedang mencari Mito-chan, dan aku bertemu dengannya yang sedang dibawa bunshinmu yang menjelaskan semuanya. Sampai akhirnya aku tiba disini."

" DAN KAU MANUSIA DENGAN TAMPANG HIU, AKU AKAN MEMBUNUHMU, KURANG AJAR." Geram Sasuke dengan mengaktifkatn mangenkyou Sharingan miliknya.

Kisame dan rekannya terkejut dan tertegun sesaat setelah melihat mata yang dimiliki Sasuke, mereka tahu itu adalah mata mangenkyou sharingan. Dan itu menciptakan suatu seringai muncul di mulut mereka.

"Menarik, ini pasti akan menyenangkan." Batin Kisame dan Rekannya

"Aku akan memasang Kekkai." Pikir rekan Kisame tersebut. Namun mereka berdua terkejut saat merasakan suatu chakra yang sangat kuat datang mendekat dan dalam sekejap sudah berdiri di depan Hinata dan Sasuke.

" Ji, Jiraya-sama." Ucap Hinata dan Sasuke bersamaan.

"Tak kusangka kalian akan bergerak secepat ini, berani memasuki daerah kekuasaan Konoha, merusak fasilitas dan yang paling tidak bisa diampuni karena berniat menculik aset paling berharga milik Konoha." Jiraya memandang datar Kisame dan rekannya.

"Tak kusangka misi kami akan terhenti disini karena kehadiran sang legenda Sennin Konoha, Jiraya-sama." Kisame sedikit memancarkan mimik khawatir di wajahnya.

"Ini buruk Kisame, kita mundur untuk sementara." Rekan Kisame yang berdiri di sebelahnya memberitahu.

"Seorang legenda Sennin, Uchiha, dan Hyuuga ini tidak menguntungkan kami. Dan sudah pasti sebentar lagi bala bantuan yang lain akan datang." Kisame memandang rekannya dan membuat anggukan. Dengan Tiba-tiba di bawah jalan dimana Kisame dan rekannya berdiri tersebut tampak sebuah cermin air setelah rekan Kisame itu membuat beberapa segel dan Kisame beserta rekannya berlahan-lahan masuk ke dalam cermin air tersebut.

"Jangan harap kalian bisa kabur setelah apa yang telah kalian lakukan!" Geram Sasuke.

*Amaterasu

Jiraya dan Hinata terkejut melihat mata kiri Sasuke berlahan mengeluarkan darah, dan tiba-tiba muncul api hitam di depan Kisame dan rekannya, tapi api hitam itu seakan terhenti di depan mereka hingga akhirnya Kisame dan rekannya sepenuhnya menghilang dari hadapan ketiga ninja Konoha.

"Kenapa seranganku tidak mengenai mereka, dasar sial." Geram Sasuke .

"Cermin Air ?!" gumam Jiraya heran.

"Apa maksud Anda, Jiraya-sama?" tanya Sasuke bingung dengan menghapus noda darah dari mata kirinya.

"Musuh tadi, menahan seranganmu dengan menggunakan cermin air yang memantulkan dan membuat copyan dari seranganmu. Sehingga Api hitammu beradu dengan api hitam dari pantulan cermin itu." Jelas Jiraya lalu mendekati letak dimana Kisame dan rekannya tadi menghilang. Jiraya mengeluarkan sebuah gulungan dan menyegel cermin air tersebut dan api hitam yang semakin membesar itu.

"Bekas luka itu, jutsu, tubuh, dan suara, mungkinkah?" gumam Jiraya.

"Jiraya-sama, aku sudah mengecek keberadaan mereka dengan Byakugan dan sepertinya mereka sudah melarikan diri." Ucap Hinata.

"Begitu ya." Balas Jiraya. Tak beberapa lama kemudian beberapa Anbu dan Jounin datang ke tempat itu. Sasuke mendapat jeweran di telinga dari Jiraya karena dengan gegabah menggunakan Amatersu, dan setelah bertemu dengan Itachi di ruangan Rumah Sakit dimana Mito dirawat, kembali Sasuke mendapatkan jitakan penuh kasih sayang Itachi setelah mendengar pujian dari Jiraya karena Sasuke menggunakan Amaterasu dan tentu saja membuat Sasuke mencak-mencak tidak senang.

Naruto melangkahkan kakinya dengan sangat pelan dengan perasaan tidak tenang sama sekali, dia mengalami gelisah yang tidak diketahuinya disebabkan oleh apa dan akhirnya dia melewati sekumpulan orang di dalam suatu kedai makanan yang tampak ribut membicarakan sesuatu yang baru saja terjadi di Konoha. Sekilas dia medengar suatu kabar yang membuat jantungnya seakan lepas dari tempatnya. Dan untuk memastikan hal itu, dia akhirnya memutuskan untuk memasuki kedai itu. Semua ninja yang ada di situ tampak tercengang melihat siapa yang sedang berdiri di hadapan mereka.

"Coba ulangi apa yang tadi kalian bicarakan." Ucap Naruto dingin.

"Apa maksud anda Naruto-sama?" salah seorang Ninja yang ada di situ pura-pura tidak mengerti.

Lalu Naruto menjelaskan hal yang tadi sekilas terdengar oleh telinganya, namun tidak ada ninja yang membicarakan hal itu yang mau mengakui dan menjelas kan ulang apa yang tadi sempat di dengarnya dari pembicaraan mereka. Karena sang Ketua Anbu dan Hokage Ketiga menyuruh semua nInja yang mengetahui hal itu untuk merahasiakan hal itu dari Naruto dan orang lain yang tidak mengetahuinya. Naruto terus mendesak ninja-ninja yang membicarakan hal itu sebelumnya, namun tetap saja mereka berpura-pura tidak tahu sampai Naruto melukai beberapa orang dari mereka. Tapi mereka tetap tidak mau mengakui dan menjelaskan. Akhirnya Naruto memutuskan pergi dari sana ke tempat yang sempat di tangkap telinganya.

.

.

.

Sasuke saat ini sedang duduk di atap terbuka paling atas gedung rumah sakit tempat Mito dirawat mengingat kejadian yang baru saja hampir membuatnya mati ditempat.

Flash Back : On

" Kemana sebenarnya dia, padahal harusnya kami dengan Jiraya-sama harus menemui Sandaime untuk pergi mencari Tsunade yang merupakan salah satu Legenda Sennin Konoha." Batin Sasuke sambil melihat dengan tampang bodoh Jiraya yang ada di depannya sedang menggoda seorang gadis.

"Sasuke kau tidak boleh melihat apa yang ku lakukan, kau belum cukup umur untuk hal ini. Dan satu hal yang penting yang harus kau camkan, kau jangan sampai melakukan apa yang telah ku lakukan ini." Ucap Jiraya dengan tampang yang di buat serius.

Sasuke yang mendengar itu dengan kesal menjawab kata-kata Jiraya.

"Memangnya siapa yang mau melakukan hal bodoh seperti itu." Kesal Sasuke.

"Kalau kau tidak mau melakukannya, sebaiknya kau cepat mencari Mito." Jiraya kembali memasukkan beberapa kue danggo ke mulutnya sambil melakukan aksinya menggoda wanita lain.

"hnn, baiklah." Jawab Sasuke sedikit kesal.

Sasuke pun berjalan meninggalkan kedai Danggo yang menjadi tempat dimana mereka akan bertemu. Berjalan terus hingga Sasuke bertemu dengan Sakura dan menanyakan keberadaan Mito yang dijawab dengan kesal oleh Sakura bahwa Mito berada di atas Jembatan Kecil di pinggir Konoha. Setelah menerima Informasi itu, Sasuke langsung meninggalkan Sakura tanpa memperdulikan kata-kata yang dikeluarkannya. Setelah beberapa ratus meter lagi sampai ke tempat yang dikatakan Sakura, perasaan Sasuke tiba-tiba menjadi gelisah. Dan dari jauh dia melihat sosok Hinata yang berlari ke arahnya dengan menggendong seseorang. Hinata semakin dekat dengan jarak Sasuke dan akhirnya Sasuke dapat melihat sosok yang digendong Hinata dengan jelas.

Mata hitam kelam Sasuke seketika langsung membulat melihat Seorang gadis yang masih sangat muda dan sangat dikenal oleh Sasuke sekarang sedang bergetar di gendongan Hinata, penuh luka, dan yang paling membuat Sasuke ingin mati rasanya adalah tatapan kosong yang menyiratkan suatu ketakutan yang seakan tidak akan pernah terhapus dari mata biru Mito yang selama ini memancarkan keceriaan dan harapan. Mata yang memiliki sumber kehidupan dan harapan itu seakan hilang tanpa bekas. Ingin rasanya Sasuke mati saja daripada harus melihat keadaan Mito saat ini. Bahkan Mito seolah tidak menyadari kehadiran Sasuke karena dampak dari peristiwa yang menimpanya.

Hinata menjelaskan semuanya, sampai membuat tubuh Sasuke bergetar hebat, matanya terasa panas sehingga merah seketika, dan tanpa disadarinya dadanya terasa sesak dan berat sehingga membuat ujung matanya mengeluarkan cairan bening kecil. Rasanya jantung yang dimilikinya seakan diremas tanpa ampun. Seketika naluri Sasuke berteriak. Dalam sekejap mata Sasuke menghilang dari hadapan Hinata menuju tempat yang dikatakan oleh Bunshin Hinata tersebut dengan perasaan yang berkecamuk, amarah yang tak terbendung lagi sampai dia tiba di tempat Hinata yang berhadapan dengan orang-orang yang tidak akan pernah di lupakannya sampai mati sekalipun.

Flash Back : Off

.

.

Naruto sekarang melihat dimana adiknya sekarang terbaring dengan tatapan kosong. Hatinya mau hancur rasanya melihat adik yang sangat disayanginya dalam kondisi saat ini. Tidak pernah dia melihat Mito dalam keadaan seperti ini sebelumnya, luka di pelipis dan tubuh yang penuh dengan perban, dan yang paling membuatnya sangat ketakutan adalah mimik wajah Mito yang masih memancarkan suatu ketakutan di dalam ketidaksadarannya. Naruto hanya tertunduk pilu, dia tidak bisa melindungi adik yang sangat disayanginya, dia tidak bisa melindungi satu-satunya keluarga yang dimilikinya, dan dia tidak bisa menepati janjinya untuk melindungi Imoutonya itu. Jantunganya seperti diremas, sangat sakit rasanya, dadanya sesak dan terasa berat, matanya seketika memerah, tubuhnya bergetar hebat dan tanpa disadarinya dia mengeluarkan cairan bening dari kedua kedua iris birunya lalu dia mengalihkan pandangan keluar jendela kamar Imoutonya itu, memikirkan sesuatu...

.

.

"Aku pasti akan membunuh kalian BRENGSEK!" Ucap Naruto dan Sasuke pada waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda.

.

.

Setelah kejadian buruk yang terus saja terjadi di Konoha akhirnya Hokage Ketiga berniat mengangkat Jiraya menjadi Hokage kelima. Dan di adakan suatu rapat yang terdiri dari Sandaime Hokage, Jiraya, Itachi Uchiha ketua Anbu, Danzou, para tetua Konoha, para kepala Klan di Konoha, dan daimyo. Namun Jiraya menolaknya karena dia merasa tidak cocok dengan posisi Hokage. Danzou ingin mencalonkan dirinya menjadi Hokage selanjutnya, namun langsung Hokage Ketiga mencalonkan Uchiha Itachi untuk diangkat sebagai Hokage Kelima, namun Itachi juga menolaknya dengan mengatakan bahwa dirinya belum siap dan dia merekomendasikan Sennin lain sebagai Hokage namun karena sang Sennin tidak ada di Konoha maka Hokage Ketiga menugaskan Jiraya untuk mencarinya.

" Itachi seharusnya kau yang menjadi Hokage Kelima, sesuai dengan amanat Yondaime menjelang kematiannya, namun kau malah meminta bantuanku agar aku kembali menjadi Hokage karena kau bilang kau belum siap. Namun karena kondisi ku yang sekarang ini, seharusnya kau mengerti bahwa aku sudah tidak bisa lagi menjadi Hokage. Maka dari itu jika Jiraya gagal membujuk Tsunade menjadi Hokage, maka kau harus menyiapkan diri." Terdengar suara Sandaime di antara semua orang yang ada di situ.

Danzou yang mendengar itu cukup terkejut, namun dia akhirnya berhasil menutupi rasa kagetnya itu. Dan tanpa ada yang menyadari dia tersenyum sedikit karena merasa kesempatannya menjadi Hokage masih ada dan memikirkan suatu rencana busuk di dalam pikirannya.

"Untung saja anak ayam Uchiha ini tidak menerima tawaran menjadi Hokage Kelima, setelah ini aku akan menggagalkan misi Jiraya dalam membawa Tsunade."

Flash Back : On

Terlihat di suatu tempat yang terletak di atas gedung hokage menunjukkkan seorang ninja dengan memakai suatu jubah berwarna putih dengan kobaran api merah dibawahnya serta terdapat suatu tulisan " Yondaime Hokage " di belakangnya berdiri menatap rentetan bangunan yang ada di hadapannya. Beberapa meter di belakangnya tampak seorang pemuda berambut hitam panjang dengan mengenakan pakaian Anbu sedang berlutut dengan menatap ke bawah.

" Itachi, tampaknya saat bagiku untuk menjadi Hokage sebentar lagi berakhir. Melihat keadaanku semakin hari semakin buruk. Dan untuk itu mengingat di desa saat ini hanya kau yang memiliki kemampuan yang mampu menjaga desa ini. Maka dari itu maukah kau menjadi Hokage Kelima menggantikanku. Aku akan membicarakan hal ini juga dengan Sandaime , para penasihat konoha, Daimyo dan juga para petinggi Konoha lainnya." Terdengar suara sang Yondaime Hokage memecah keheningan tempat itu.

" Yondaime-sama saya masih belum mampu untuk memikul tanggungjawab sebesar itu,lagipula masih ada Kakashi." Jawab Itachi sambil mengangkat kepalanya dan memandang punggung dari sosok yang ada di depannya.

" Kakashi untuk saat ini masih belum bisa untuk memikul tanggungjawab ini dan melihat pergerakan dari Danzo saat ini aku akan berjaga-jaga dan membicarakan pengangkatan Godaime Hokage dengan para petinggi Konoha lainnya." balas Yondaime lalu memutar badannya dan berjalan meninggalkan Itachi yang masih pada tempatnya.

Flash back : Off

Uchiha Itachi, dia adalah sang Ketua Anbu yang menmiliki kekuatan yang tidak usah dipertanyakan lagi. Yondaime Hokage tidak hanya sembarang dalam menentukan pilihannya karena dia selalu memperhatikan perkembangan dari kekuatan Itachi dan soal loyalitas?, tidak usah dipertanyakan lagi. Itachi Uchiha adalah shinobi Konoha dengan tingkat loyalitas yang sangat tinggi dengan kemampuan yang dimilikinya, dan setiap pemikirannya membuat sang Yondaime pada waktu itu menjatuhkan pilihan padanya.

Inilah sekarang dia sedang duduk dalam sebuah ruangan dimana saat ini bersama para tetua dan Sandaime Hokage. Pandangan mata yang ada di ruangan itu semuanya tertuju pada sang Uchiha Sulung dari Fugaku Uchiha dan Mikoto Uchiha. Keheningan di ruangan itu terpecahkan saat seorang dengan rambut berwarna putih, sang sennin Konoha membuka mulutnya untuk berbicara.

" Seperti keinginanmu Itachi kami akan membawa Tsunade ke Konoha, namun jika kami gagal membujuknya untuk menjadi Hokage maka kau harus mempersiapkan dirimu untuk menjadi Hokage Kelima. Apa kau paham Itachi?" tanya Jiraya pada Itachi yang berdiri disamping Hokage Ketiga di dalam rapat itu.

" Ya, saya paham Jiraya-sama." balas Itachi sambil tersenyum.

"Dasar kurangajar, aku harus memikirkan suatu cara agar aku bisa naik ke kursi Hokage, HARUS!" batin Danzou.

Dan akhirnya rapat pun selesai dan semua yang hadir dalam rapat itu kembali ke tempatnya masing-masing.

.

.

Dan beberapa hari setelah rapat itu disinilah sekarang di depan pintu gerbang besar Konoha berdiri Hokage Ketiga, Jiraya, Itachi, Naruto, Sasuke, dan Sakura untuk mengantarkan kepergian dari Jiraya dan Naruto. Rencana awal mereka yang terdiri Jiraya, Sasuke, dan Mito untuk membawa Tsunade agar bisa mengobati Naruto menjadi berubah karena sekarang tujuan utama untuk membawa Tsunade adalah untuk menyembuhkan Mito dan menjadikan Tsunade sebagai Godaime Hokage.

" Jadi, Itachi nii-san akan jadi Hokage kelima?, apa maksudnya?" Terdengar suara Sakura sedikit bingung dari pembicaraan singkat yang terjadi sebelumnya di depan pintu gerbang Konoha.

"HAAA... Jadi, Itachi Sensei akan menjadi Hokage?" kali ini suara Naruto yang berdiri di sebelah kiri Jiraya mengomentari kata-kata Jiraya dan Itachi sebelumnya. Walau mereka yang ada di situ mendengar suara Naruto yang seakan penuh keceriaan, namun mereka tahu bahwa itu hanya kepalsuan. Mereka tahu dari pandangan mata Naruto yang terlihat Kosong yang di dalamnya seolah-olah tidak ada tanda kehidupan.

" Bukan seperti itu Naruto, ini urusannya hampir sama seperti yang kau bilang tapi sebenarnya tidak bisa dibilang seperti itu." Kata Itachi sambil menunduk dan mengusap-usap puncak kepala Naruto.

" Hnn, Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Itachi nii-san tadi dan kenapa dia tidak memberitahukan hal itu pada ku, tapi ya sudahlah." batin Sasuke sambil tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada Jiraya dan Naruto yang ada di depannya.

" Naruto, jangan terlalu memaksakan diri .. oke ?" kata Itachi saat Jiraya dan Naruto pergi berjalan menjauh meninggalkan Konoha. Naruto yang mendengar itu berbalik lalu tersenyum, Itachi yang melihat itu pun jadi tersenyum.

"Hati-hati Naruto-kun dan Jiraya tolong jaga dia." Hokage Ketiga sedikit mengeraskan suaranya agar bisa di dengar oleh Naruto dan Jiraya yang sudah berjalan di depan.

"Naruto serahkan semua yang ada di sini padaku." Ucap Sasuke setengah berteriak dan di balas anggukan oleh Naruto.

" Dia jadi sedikit berubah semenjak kejadian beberapa hari yang lalu. Itu benar-benar membuat kondisinya jadi tidak stabil." Itachi tersenyum kecut.

"Hati-hati Naruto-kun." Ucap Sakura sambil melambai-lambaikan tangannya.

Naruto memaksakan dirinya yang belum pulih akibat menghawatirkan Mito dan ingin Imoutonya itu segera sadar. Mereka berdua akhirnya berangkat dari Konoha untuk membawa kembali Tsunade. Jiraya tahu keadaan mental dan fisik yang sedang dialami Naruto saat ini. Dan alasan Jiraya membawa Naruto adalah untuk melatihnya di tengah perjalanan mereka dan sekaligus mempermudah membujuk Tsunade agar pulang ke Konoha karena Jiraya tahu bahwa Naruto sangat mirip dengan adik laki-lakinya Tsunade. Karena Jiraya sangat mengetahui bahwa Tsunade sangat menyayangi adiknya yang telah tiada itu.

Huaaa...

Akhirnya chapter ke 6 selesai.

Bagaimana menurut kawan-kawan sekalian?

Saya harap chapter kali ini tidak membosankan.

Dan summimasen bila banyak kesalahan dalam penulisan ceritanya ...

Summimasen, summimasen, summimasen ...

.

.

Oke, buat kawan-kawan yang mau meninggalkan jejak, kasih komentar, saran, kritik, berbagi ide, semuanya pokoknya, berbagi kebahagiaan, ucapan selamat ulang tahun, titip pesan, doa-doa , surat panggilan, harapan kedepannya, undangan pernikahan (mulai gak nyambung ...wakakakakak..# Author kena bidik sniper ...) .

Saya ucap kan banyak terimakasih atas perhatian kawan-kawan sekalian ...

Ok ..

Sampai disini dulu ya

Jaa naa...

R

E

V

I

E

W