[Mon Amant est Un Vampire]
A collaboration fanfiction of Kirill Lecter (chyorimentum) and Luke Volkov (Tomoko Takami)
Shingeki no Kyojin belongs to Isayama Hajime
Warning: possibly typo(s), Vampire!AU, shounen-ai, alternate age, reincarnation.
Levi X Eren.
Enjoy.
==o0o==
"Aku menangkapmu, tikus got kecil yang nakal."
Suara Mikasa yang dingin terdengar senang ketika ia berhasil menjebak Petra sesuai rencananya. Ia sudah menyadari bahwa Scouting Legion pasti akan menurunkan salah satu anak buahnya ketika mengetahui Eren adalah putra mahkota kerajaan vampir. Ujung kuku panjangnya bergesekan dengan leher pucat gadis bermata amber itu, siap menancap dengan kuat dan mencabiknya hingga potongan terkecil. Dengan cepat Mikasa membanting tubuh mungil Petra ke jalanan aspal yang memanas karena terpapar sinar matahari siang dengan amat keras. Petra terbatuk saat tubuhnya terbanting ke jalan, udara di paru-parunya dipaksa keluar dengan sekali bantingan.
"Selamat tinggal, Petra Ral!" seru gadis berambut hitam itu seraya mengayunkan kuku-kuku tajamnya menuju jantung Petra.
Petra memejamkan mata. Bersiap untuk menerima serangan yang mengarah ke jantungnya. Bersiap untuk hal yang terburuk—mati.
Tiba-tiba saja terdengar suara dawai senar yang kemudian disusul oleh suara hujaman. Mungkin lebih mirip seperti koyakan daging.
Petra membuka matanya perlahan untuk menyaksikan apa yang terjadi. Matanya membulat seketika saat ia melihat sebuah panah menembus bahu kiri Mikasa. Dan yang lebih membuatnya terkejut, di ujung panah tersebut terdapat lambang Scouting Legion. Belum sempat Petra berpikir siapa pemilik panah itu, pikirannya sudah dibuyarkan oleh teriakan kesakitan Mikasa. Melihat kesempatan, Petra segera bangkit dan angkat kaki dari tempat tersebut, meninggalkan Eren, juga Mikasa yang meronta kesakitan. Ia terus berlari. Salah satu tangannya menyentuh luka kecil di leher, keringat dingin turut terasa mengucur di sana. Gadis itu kemudian menoleh lagi ke belakang guna melihat keadaan, tapi Eren dan Mikasa—juga sosok penolongnya sudah tidak ada di sana.
==o0o==
Eren lagi-lagi berada di sebuah tempat asing. Tempat yang terasa dingin dan begitu menyakitkan. Mata hijau terang pemuda itu membulat ketika ia mendapati sosok berupa siluet di hadapannya—bukan hanya satu, tapi dua orang. Dan lagi, ia merasa amat familier dengan kedua sosok itu.
"Heichou…?" Siluet seorang pemuda bertubuh tinggi dengan wajah serupa dirinya menunduk, menyamakan tingginya dengan sosok di depanya tersebut.
Pemuda dengan postur lebih pendek itu tak menjawab. Mata elangnya menatap sang lawan bicara dengan seulas senyuman sendu. Entah apa penyebab senyuman sedih itu, namun pemuda bertubuh 160 cm itu mendekatkan dahinya ke dahi sosok lainnya dan mulai membisikkan sesuatu dengan pelan. Eren tak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh pemuda tersebut. Namun, satu hal yang bisa diingat olehnya adalah air mata yang mengalir di pipi pemuda bertubuh 170 cm.
Kemudian, semuanya menjadi gelap bagi Eren.
.
Dengan sekali tarikan napas kasar Eren terbangun dari tidurnya, terkejut dengan mimpi barusan. Apa itu memang mimpi? Ah, tapi kenapa rasanya begitu nyata? Kenapa perasaan sedih itu begitu membekas? Dan lagi, kenapa ia merasa pernah berada di situasi seperti itu? Rasanya ini bukan sebuah mimpi biasa, tapi semacam... flashback?
Benarkah?
Tapi kenapa harus ada pemuda yang serupa dengan Levi di sana?
Eren mengalihkan pandangannya pada jendela yang terbuka di kamarnya. Bulan menggantung dengan indah di mega hitam. Sebulir air mata turun dari manik hijau Eren tanpa sadar. Ah, apa ia baru saja menangis mengingat flashback barusan?
Lupakan.
Sekarang ia harus bersiap-siap untuk berburu sebelum Mikasa datang atau gadis itu akan memarahinya lagi seperti yang sudah-sudah.
"Aku pulang." Suara Mikasa terdengar dari ruang makan.
Eren segera berlari ke asal suara untuk menyambutnya. Rasa khawatir membuatnya melangkah dengan lebih cepat. Dan benar saja, saat ia sampai di ruang makan, Mikasa telah masuk melalui jendela ruangan yang dibiarkan terbuka. Jubah bertudungnya berkibar dihembus angin. Lubang di jubah bagian bahu kiri masih nampak, begitu pula dengan noda darah yang telah mengering.
Salah satu lengan tan itu mengangkat, telapaknya mengambang di atas bahu mungil sang pemilik kulit porselen. "Lukamu... masih sakit?" Eren mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin sudah diketahui jawabannya. Tapi, ia ingin Mikasa tahu jika ia khawatir.
Dengan cepat Mikasa menepis tangan Eren. "Jangan pedulikan aku, Eren. Fokus saja pada perburuan kita malam ini." Ia kemudia beranjak, tak ingin mendengar bantahan juga alasan dari sang putra mahkota, meninggalkan si pemuda yang kini menyiratkan rasa sakit di hati melewati pancaran manik emeraldnya.
==o0o==
Levi meneguk segelas coklat panas seraya mengerjakan laporan OSIS. Sudah beberapa hari ini ia tidak mendapat misi dari Erwin. Hal itu dikarenakan si Tua Bangka (well, itu julukan yang ia beri sendiri kepada Erwin) sedang istirahat akibat luka-luka hasil pertarungannya dengan salah satu vampire. Lagipula, hubungannya dengan Wakil Ketua OSIS—yang tak lain adalah Petra—juga sedang kurang baik. Merasa lelah dan penat menghadapi tumpukan kertas dan laptop yang berisi data-data OSIS, Levi memutuskan untuk keluar sebentar agar kepalanya jernih lagi.
"Hawanya dingin sekali, padahal sudah mau memasuki musim panas…" keluh Levi ketika dia membuka jendela balkon. Ia merapatkan jaket hitamnya seraya meneguk segelas coklat yang masih hangat. Jalanan sudah begitu sepi—maklum saja, apartment Levi terletak di daerah yang cukup sepi.
Sebesit pertanyaan muncul dalam benak. Sudah berapa lama ia tidak menikmati udara malam? Semenjak ia bergabung dengan Scouting Legion 'kah? Atau semenjak Ibunya meninggal karena penyakit yang belum diketahui sampai sekarang?
Perlahan pemuda bersurai eboni itu tersenyum sedih mengingat sang Ibu yang meninggal saat ia masih berumur empat tahun. Dan semenjak saat itu, ia dirawat oleh pamannya hingga sekarang. Meski ia tinggal sendiri, tak jarang pamannya berkunjung ke apartemennya.
Langit malam dipenuhi bintang yang bersinar redup. Pemandangan ini sudah lama tidak ia nikmati. Ketika Ibunya masih hidup, ia pernah berkata pada Levi bahwa roh orang mati akan menjadi bintang dan mengawasi keturunan mereka dari atas sana. Apa sekarang Ibunya tengah mengawasi dirinya saat ini? Levi kembali tersenyum. Sebuah senyum sendu. "Ibu…" bisiknya penuh kerinduan. Ia memeluk jaket hitam milik Ibunya yang melekat di tubuhnya dengan rindu yang amat sangat menusuk relung jantung. Air mata Levi mulai mengalir perlahan.
Krsk… plash!
Ada suara gaduh di taman dekat apartemennya. Levi melongok ke sumber suara dengan raut wajah penasaran. Sosok dua bayangan keluar dan bergerak cepat. Levi menarik napas kasar ketika mata elangnya tak sengaja menangkap sosok-sosok yang menjauh itu.
Vampire, dan salah satunya bermata hijau bening.
Tanpa sadar kedua tangan Levi mengepal.
==o0o==
Esok harinya, sekolah berjalan seperti biasa. Di tengah pelajaran matematika yang diajarkan oleh Mr. Pixis, Eren mulai dilanda kantuk parah. Seberapa keras usaha yang dilakukan Eren untuk tetap fokus oleh angka-angka dan rumus-rumus integral, semuanya sia-sia. Ia malah semakin mengantuk olehnya. Baiklah, kalau begini terus, lebih baik ia tidur saja dibanding tidak konsentrasi dengan pelajaran.
.
"…Ren …ri… la... ri..."
Sayup-sayup Eren membuka matanya. Lagi-lagi sebuah tempat asing menyambut penglihatannya. Kali ini sebuah desa. Eren kembali kebingungan. Sejak kapan dia berada di sebuah desa?
"Tidak! Mikasa, ayo kita angkat reruntuhan ini! Kita pasti bisa melakukannya!" seru seorang anak kecil yang—tampak seperti—berumur tujuh tahun. Tangan mungilnya mengangkat reruntuhan yang menimpa seseorang.
Tunggu, orang yang tertimpa reruntuhan itu adalah Ibu Eren—Carla! Kenapa bisa Ibunya tertimpa reruntuhan?! Eren ingin mengangkat reruntuhan yang menimpa Ibunya namun sesosok raksasa berjalan menuju ke arah mereka. Raksasa itu mengambil sosok Ibu Eren dan meremukkan tubuh Ibunya.
"TIDAAAK!" seru Eren histeris ketika ia melihat Ibunya dimakan raksasa itu.
Mendadak pemandangan berubah. Kali ini ia berada di sebuah hutan yang cukup gelap. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh hutan tersebut. Sejak kapan ia berada di hutan ini? Bukankah tadi ia berada di desa?
"Tuan Muda, saya mohon larilah dari sini! Ini perintah dari Nyonya Carla!" seru seorang laki-laki dengan susah payah.
Dahi Eren berkerut. Tempat ini… bukankah tempat di mana ia tinggal sewaktu masih kecil? Mendadak dua bayangan bergerak cepat melewati Eren. Eren mengenal kedua bayangan yang baru saja lewat.
Dirinya dan Mikasa.
"Mikasa, lepaskan aku! Kita selamatkan Ibu, Mikasa! Lepaskan aku!" seru Eren kecil.
"Tidak ada waktu lagi! Menurutlah untuk terakhir kali, Eren! Untuk sekali saja dengarkan Ibumu!" Mikasa mengeratkan genggamannya di kerah baju Eren, menahan agar Putra Mahkota mereka tidak kabur.
Ibu? Apa? Jangan-jangan… Eren berlari ke arah Mansion dimana dia tinggal. Sesampainya di Mansion, Eren segera mendobrak pintu utama dan sebuah pemandangan mengejutkan menyambutnya. Kepala sosok wanita yang telah mengandungnya selama sembilan ulan, kini menggelinding tepat ke kakinya.
.
"TIDAAAAAAAAAAK!"
Dan sebuah spidol merah berhasil melayang tepat ke dahi mulus Eren. Coretan spidol nampak cukup jelas karena ujungnya secara tak sengaja mencoret kulit si pemuda. "DIAM, JAEGER! JANGAN BERTERIAK DI TENGAH PELAJARAN!" bentak Mr. Pixis tajam. Kedua mata yang biasanya terlihat lembut, kini menjadi horor—mungkin seperti hantu?
"Ma—maaf…" Sadar menjadi tontonan kelas, Eren segera meminta maaf dan kembali duduk. Ia mencoba kembali mengikuti pelajaran, namun kepalanya terasa begitu saki. Apakah ini efek dari mimpi buruknya tadi? Semuanya terasa begitu nyata.
Namun ada satu yang dia tidak mengerti—kenapa ada makhluk raksasa di dalam mimpinya? Dan desa yang baru saja ia mimpikan, entah mengapa itu terasa familiar.
Nyuuut!
Lagi, kepalanya terasa begitu sakit saat memikirkan mimpi barusan. Pandangannya kabur, kepalanya pun pening. Eren baru ingat kalau akhir-akhir ini ia kurang mendapat istirahat yang cukup. Tiap malam ia harus berburu dengan Mikasa sehingga waktu istirahatnya berkurang drastis. Gawat, ia butuh istirahat atau ia akan kolaps.
"Maaf, saya izin ke UKS, saya tidak enak badan, sensei." Eren berkata. Tanpa menunggu aba-aba sang guru Matematika, ia segera pergi dari ruangan.
==o0o==
Sesampainya di UKS, Eren segera menjatuhkan diri di atas kasur putih polos. Belum sempat dia memejamkan mata, pintu UKS kembali terbuka; menampilkan sesosok iblis kuntet—ehm, pemuda pemilik tinggi 160 cm.
Yap, Levi Ackerman.
Dan Eren mengutuk nasibnya pada hari itu.
Levi tampak terkejut dengan keberadaan pemuda brunette itu—meski raut wajahnya tak menunjukkan apa yang tengah dirasakannya. Alis matanya bertaut saat melihat Eren. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Levi.
"Ya menurutmu ngapain kalau orang lagi di UKS? Hentai-an?" batin Eren kesal sambil memutar matanya saat mendengar pertanyaan Levi yang konyol.
Awkward situation.
"Kau sakit lagi, Jaeger?" tanya Levi datar. Ia berjalan menuju laci obat-obatan untuk mencari obat yang ia perlukan.
Jaeger, tanpa sadar jantung Eren terasa nyeri saat menyadari Ketua OSIS itu memanggilnya dengan nama keluarga. Levi tidak memanggil nama kecilnya seperti biasanya. "Aku hanya kelelahan, aku kurang tidur beberapa hari ini." Eren menjawab ketus untuk menutupi perasaan aneh yang mengganjal di dadanya.
Levi tidak membalas, masih sibuk mencari obat.
Merasa tidak dijawab, Eren menanyakan alasan kenapa Levi bisa berada di UKS. "Aku sedang sakit kepala karena pekerjaanku di OSIS semakin menumpuk," jawabnya tanpa menoleh ke Eren.
Tidak ada jawaban dari Eren.
Levi menoleh ke arah Eren. Rupanya pemuda itu sudah tertidur dengan posisi duduk. Wajahnya sedikit pucat dan berkeringat dingin. Apa sedari tadi Eren berkeringat dingin seperti ini? Levi menempelkan dahinya ke dahi adik kelasnya yang tengah tertidur itu guna mengecek suhu tubuhnya. 'Sedikit hangat,' batin Levi. Tanpa pikir panjang, Levi segera memperbaiki posisi tidur Eren dan menyelimutinya dengan selimut tipis.
Cup.
Sebuah kecupan ringan mendarat di dahi Eren. Siapa yang lagi yang melakukannya kalau bukan Levi? Namun terbesit sebuah keraguan di mata obsidian Levi setelah mengecup dahi pemuda yang lebih muda darinya tersebut.
Tidak. Tidak mungkin sosok yang ia lihat kemarin malam adalah Eren. Ia menolak untuk percaya. Di dunia ini tidak hanya Eren yang memiliki mata zircon—ya, ia pasti salah lihat kemarin malam. Levi terus meyakinkan dirinya hingga tak sadar ada sepasang bola mata coklat tua yang tengah mengawasi dirinya dari luar UKS.
==o0o==
Eren terbangun satu jam kemudian. Hal itu disebabkan karena ia merasakan sepoi angin yang membelai wajahnya dengan lembut. Namun, ia juga mempunyai alasan lain kenapa ia bangun. "Barusan itu apa…?" gumamnya. Ia mengangkat selimut putih yang menyelimuti dirinya dengan pandangan heran. Seingatnya, ia tidak menggunakan selimut sewaktu ia tertidur. Pandangannya kemudian mengarah ke arah meja kecil dan menemukan dua butir obat berwarna putih juga kuning berikut segelas air di samping obat.
"Siapa yang menyiapkan obatnya? Apakah Levi?" Tanpa disadari, nama Levi langsung terbesit di pikirannya ketika melihat obat-obatan itu. Namun dengan cepat ia menyingkirkan pikiran itu dan segera meminum obat tersebut tanpa banyak tanya dan kembali tidur.
==o0o==
Jam istirahat berdering keras. Kantin pun mulai dipenuhi oleh murid-murid yang kelaparan dan mereka yang nyaris mati kebosanan selama pelajaran berlangsung. Kedua hal itu juga berlaku bagi Wakil Ketua OSIS SMA Shiganshina yang tak lain adalah Petra. Ia memutuskan untuk makan siang di kantin karena ia lupa membawa bekal makan siangnya. Setelah memesan makan siang yang berupa nasi omelette dan sebotol milk tea dingin, Petra memutuskan untuk duduk di tempatnya yang biasa—ujung ruangan. Selagi gadis itu menikmati makan siangnya, tiba-tiba saja Hanji duduk di depan Petra sambil membawa makan siangnya yang berupa udon dan air dingin. "Halo, Petra. Kamu tidak keberatan kalau aku duduk di sini 'kan?" tanya gadis berkuncir kuda itu seraya menyuapkan udon ke mulutnya.
Petra menggeleng. Udara berhembus kencang akhir-akhir ini, cukup wajar karena musim gugur segera tiba. Maka pagi ini Petra memilih untuk mengenakan jaket yang memiliki kerah turtleneck agar lehernya tertutupi. Ada dua alasan utama mengapa Petra memakai jaket berkerah tinggi; satu, udara cukup dingin di luar sana; dan dua, luka bekas tancapan kuku Mikasa membekas cukup kentara di lehernya.
"Udaranya dingin ya, coba saja aku bawa syal atau jaket." Hanji memulai pembicaraan di antara mereka untuk memecah kesunyian yang terasa aneh.
Petra mendongak, mengalihkan perhatiannya dari botol minuman miliknya ke wajah Hanji. "Yah… maka dari itu aku pakai jaket hari ini," balas Petra datar, tidak sadar kalau suaranya agak pecah.
"Tumben sekali pakai jaket. Bukannya biasanya kau pakai syal, ya?"
Pertanyaan Hanji membuat Petra sedikit terhenyak, namun ia segera menjawabnya dengan alasan bahwa tenggorokannya sedikit bermasalah.
Tanpa Petra sadari, bibir Hanji menyeringai. "Begitu ya, kalau begitu cepat sembuh. Kusarankan kau minum teh madu bercampur lemon setelah ini," ucap Hanji.
"Terima kasih atas saranmu, nanti aku akan beli," kata Petra tersenyum sopan.
"Ngomong-ngomong sepertinya hari ini kau harus hati-hati. Aku mencium sesuatu yang berbau busuk di sekitarmu sejak tadi pagi." Hanji menyuapkan udonnya lalu beranjak pergi dari tempat duduknya.
Petra mengerutkan keningnya, apa maksud perkataan Hanji barusan?
.
.
—to be continued—
==o0o==
A/N: maaf kalau ini apdetannya lama, maaf banget soalnya akhir-akhir ini saya sedang mengalami masalah berat jadinya mempengaruhi mood saya untuk menulis. Chapter selanjutnya akan ditulis oleh hyocchin so wait for it.
A/N 2: Hyocchin aka Kirill: doain ya supaya tugas kuliah saya ga macem kerja rodi jadi bisa kuliah sambil ngelanjutin wkwkwk /plak
Pojok review:
Bananad: bisa, asal makanan yang mengandung zat besi, macem buat orang anemia gitu :v tapi tetap ga sebagus efek minum darah manusia
Hiroki Kuro: awww makasiiih hyocchin jadi terharu :") /plak
Akashi Seisa: siaaaap kakaaaak updatean sudah tiba :3
Soraru Ru Neko: weh makasih loh ya :) salam fujoshi cap tiga jari *salam ala hunger games* /heh
Carmella Lilac: ga hiatus kok, author-authornya cuma lagi sibuk sama urusan rl masing-masing :) kalo ga gantung kan ga to be continued :") /wut jangan, petra kesian :") apa dosa mbak petra :") /stahp
